BAB I PENDAHULUAN
E. Definisi Istilah
1. Peran Tokoh Agama
Peranan berarti tidakan yang dilakukan oleh seseorang dalam suatu peristiwa. Peran juga dapat disebutkan sebagai aspek dinamis kedudukan (status). Apabila seseorang melakukan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya, maka dia menjalankan suatu peranan.
Sedangkan tokoh adalah orang yang terkemuka/terkenal atau orang yang berhasil dibidangnya yang ditunjukkan dengan karya-karya monumental dan mempunyai pengaruh pada masyarakat sekitarnya serta dapat dijadikan sebagai panutan.
Untuk menentukan kualifikasi sang tokoh, kita dapat melihat karya dan aktivitasnya. Misalnya tokoh berskala regional dapat dilihat dari segi apakah ia menjadi pengurus organisasi atau pemimpin lembaga ditingkat regional, dengan pikiran dan karya nyata yang semuanya itu mempunyai pengaruh yang signifikan bagi peningkatan kualitas masyarakat regional.
Disamping itu, ia harus memiliki keistimewaan tertentu yang berbeda dengan orang lain yang sederjat pada tingkat regional, terutama perbedaan keahlian dibidangnya. Dengan kualifikasi seperti itu, maka ketokohan dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.
Dalam bahasa Indonesia pada umumnya “agama” berasal dari bahasa sansekerta yang artinya tidak kacau, diambil dari dua suku kata a berarti tidak dan gama berarti kacau. Secara lengkapnya agama ialah peraturan yang mengatur manusia agar tidak kacau.
23
Dari pengertian diatas, maka dapat di simpulkan, pengertian peran tokoh agama adalah seseorang yang berperan dalam suatu peristiwa yang berkaitan dengan agama tertentu dan mempunyai keahlian tertentu yang berbeda dengan orang lain yang sederajat dalam bidang agama tertentu.
2. Multikulturalisme Agama
Multikulturalisme adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan pandangan seseorang tentang ragam kehidupan di dunia, ataupun kebijakan kebudayaan yang menekankan tentang penerimaan terhadap adanya keragaman, dan berbagai macam budaya (multikultural) yang ada dalam kehidupan masyarakat menyangkut nilai-nilai, sistem, budaya, kebiasaan, dan politik yang mereka anut.
Multikulturalisme dapat juga dipahami sebagai sebuah filosofi — terkadang ditafsirkan sebagai ideologi yang menghendaki adanya persatuan dari berbagai kelompok kebudayaan dengan hak dan status sosial politik yang sama dalam masyarakat modern. Istilah multikultural juga sering digunakan untuk menggambarkan kesatuan berbagai etnis masyarakat yang berbeda dalam suatu negara.
Jadi multikulturalisme agama adalah suatu sudut pandang tentang kesediaan menerima kelompok lain secara sama tanpa memperdulikan perbedaan nilai-nilai, sistem, budaya, kebiasaan, dan politik suatu agama tertentu. Maka sebagai bangsa Indonesia kita perlu menerapkan paham multikulturalisme untuk menjaga kehidupan berbangsa dan bernegara, sehingga tercipta pola hidup yang harmonis antar suku, ras, dan agama.
F. Sitematika Pembahasan
Secara keseluruhan penelitian ini membahas Peran Tokoh Agama Dalam Menjaga Multikulturalisme Agama Di Desa Sukoreno Kecamatan Umbulsari Kabupaten Jember. Adapun sistematika penulisan pada penelitian ini adalah:
BAB I: menerangkan bab pendahuluan dengan subbab tentang latar belakang pemilihan topik penelitian, fokus penelitian, tujuan penelitian, serta manfaat penelitian yang terdiri dari manfaat teoritis dan manfaat praktis.
BAB II: menjelaskan tentang kajian pustaka yang terdiri dari kajian terdahulu yang relevan dengan judul penelitian yang di dalamnya termuat persamaan serta perbedaan antara penelitian yang bersangkutan dengan penelitian terdahulu. Selanjutnya, menerangkan tentang kerangka teori.
BAB III: murupakan metode penelitian yang memuat tentang pendekatan dan jenis penelitian, lokasi penelitian, subjek penelitian, sumber data, teknik pengumpulan data, analisis data, dan keabsahan data yang diperoleh.
BAB IV: merupakan isi tentang hasil penelitian dan analisis yang secara umum pada subbab ini menjelaskan tentang peran tokoh agama Islam, Kristen, dan Hindu dalam menjaga multikulturalisme agama di desa sukoreno kecamatan umbulsari kabupaten jember, dalam subbab ini peneliti menguraikan hasil penelitian yang telah didapatkan dengan berlandaskan teori-teori yang telah Peneliti uraikan dipembahasan awal.
BAB V: merupakan penutup, yang menjelaskan tentang kesimpulan dari hasil penelitian, dan sebagai akhir dari penelitian ini ditutup dengan saran-saran.
25 BAB II
KAJIAN KEPUSTAKAAN A. Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu adalah upaya peneliti untuk mencari perbandingan dan selanjutnya untuk menemukan inspirasi baru untuk penelitian selanjutnya.
Dalam hal ini peneliti mencoba untuk menggali terhadap beberapa skripsi atau karya ilmiah lain yang relevan dengan penelitian yang dilakukan, diantaranya sebagai berikut:
1. Nailul Irmayanti Khotimatul Afifah Mahasiswa STAIN Jember (2013): “Model Toleransi Hubungan Sosial antar Umat Beragama di Dusun Kaliagung Desa Kendalrejo Kecamatan Tegaldlimo Kabupaten Banyuwangi”
Skripsi tersebut menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif.
Sementara hasil penelitian tersebut ialah: 1) Secara konseptual, landasan teologi atau pemahaman keagamaan masyarakat dusun Kaliagung desa Kendalrejo kecamatan Tegaldlimo kabupaten Banyuwangi termasuk kategori agree in disagreement yaitu antara umat Islam dan Hindu secara tanpa diperintah telah menyetujui kerukunan dengan berprinsipkan pad pemeliharaan eksistensi semua agama yang ada di dusun Kaliagung. 2) dalam menjaga hubungan sosial yang rukun dan harmonis dalam kehidupan masyarakat di dusun kaliagung adalah dengan menanamkan sikap yang dipengaruhi oleh etika jawa, yaitu sikap terbuka (extrofet), tepo sliro, serta lebih bersikap suka mengalah dan pengertian untuk
menghindari konflik antar agama. 3) secara umum hubungan sosial di dusun Kaliagung telah mengarah pada bentuk interaksi asosiatif yang diwujudkan dalam bentuk kerjasama dan akomodasi.25
Persamaan dan Perbedaan
Persamaan dari penelitian sekarang dengan penelitian yang terdahulu adalah sama-sama membahas tentang multikultural agama, dalam metod penelitiannya juga sama-sama penelitian kualitatif dan menggunakan pendekatan lapangan atau field research. sedangkan perbedaannya adalah pada penelitian sekarang lebih memfokuskan pada peran tokoh agama dalam menanamkan nilai-nilai multikultural baik agama Islam, Kristen, maupun Hindu. Sedangkan penelitian terdahulu lebih memfokuskan dari sisi konsep, dan cara menjaga hubungan antar umat beragama.
2. Yunia Muhtar Dewi, Mahasiswa IAIN Jember (2016): “Peran Tokoh Agama dalam Meningkatkan Harmoni Antara Umat Islam dan Hindu di Desa Kandangtepus Kecamatan Senduro Kabupaten Lumajang”
Penelitian ini merupakan kualitatif dengan jenis etnografi.
Sementara hasil penelitiannya yaitu: 1) Peran tokoh agama dalam meningkatkan kerukunan umat Islam dan Hindu di desa Kandangtepus. 2) Peran tokoh agama dalam meningkatkan toleransi antara umat Islam dan Hindu di desa Kandangtepus diantaranya melalui peran sosial dan keagamaan meliputi ajakan kepada masyarakat untuk bersikap damai dan
25 Nailul Irmayanti Khotimatul Afifah, “Skripsi : Model Toleransi Hubungan Sosial antar Umat Beragama di Dusun Kaliagung Kendalrejo Tegaldlimo Banyuwangi 2013” (STAIN Jember: Tidak diterbitkan, 2013).
27
tidak mendoktrin kepada siapapun untuk tokoh agama Hindu. 3) Media pendidikan yang digunakan tokoh agama dalam meningkatkan kerukunan antara umat Islam dan Hindu di desa Kandangtepus meliputi media televisi, melalui kegiatan yasinan, pengajian, dan muslimatan untuk tokoh agama Islam.26
Persamaan dan Perbedaan
Persamaan dari penelitian sekarang dengan penelitian yang terdahulu adalah sama-sama membahas tentang multikultural antar agama.
Sedangkan perbedaannya adalah pada penelitian sekarang lebih memfokuskan pada peran tokoh agama dalam menanamkan nilai-nilai multikultural baik agama Islam, Kristen, maupun Hindu, Sedangkan penelitian terdahulu lebih memfokuskan pada agama Islam dan Hindu saja, dilihat dari ojek penelitiannya penelitian terdahulu meneliti di Desa Kandangtepus Kecamtan Senduro abupaten Lumajang sedangkan penelitia yang sekarang menelti di Desa Sukrno Kecamatan Umbulsari.
3. Jamilah, Mahasiswa IAIN Jember (2017): “ Peran Tokoh Agama Islam dalam Menanamkan Pendidikan Agama Islam Berbasis Multikultural di desa Sukoreno kecamatan Umbulsari kabupaten Jember”
Penelitian ini merupakan kualitatif dengan jenis penelitian fenomenologis. Sementara hasil penelitiannya yaitu: 1) Peran dan fungsi tokoh agama Islam dalam menanamkan pendidikan agama Islam berbaasis
26 Yunia Muhtar Dewi, “Skripsi : Peran Tokoh Agama dalam Meningkatkan Harmoni Antara Umat Islam dan Hindu di Kandangtepus Senduro Lumajang 2016” (IAIN Jember: Tidak diterbitkan, 2016)
multikultural dalam kehidupan masyarakat di desa Sukoreno kecamatan Umbulsari diantaranya sebagai motivator, instruktif, dan partisipasi. 2) Persepsi tokoh agama Islam tentang pendidikan agama Islam di desa Sukoreno kecamatan Umbulsari pendidikan agama Islam berbasis multikultural yaitu dikenal dengan istilah toleransi dalam Islam. Di mana dalam toleransi ini kita saling menghormati, menghargai dan membiarkan orang lain untuk menganut kepercayaan masing-masing. 3) Faktor pendukung dan penghambat tokoh agama Islam dalam menanamkan pendidikan agama Islam berbasis multikultural di desa Sukoreno kecamatan Umbulsari, yaitu : a) faktor pendukung meliputi sikap tasamuh dan menciptakan kedamaian. b) Faktor penghambat meliputi masuknya aliran baru dan eksklusifisme.27
Persamaan dan Perbedaan
Persamaan dari penelitian sekarang dengan penelitian yang terdahulu adalah sama-sama membahas tentang multikultural agama dan dari sisi objek penelitiannya juga sama-sama meneliti di Desa Sukorno Kecamatan Umbulsarai Kabupaten Jember. Sedangkan perbedaannya adalah pada penelitian sekarang lebih memfokuskan pada peran tokoh agama dalam menanamkan nilai-nilai multikultural baik agama Islam, Kristen, maupun Hindu. Sedangkan penelitian terdahulu lebih
27 Jamilah, “Peran Tokoh Agama Islam dalam Menanamkan Pendidikan Agama Islam Berbasis Multikultural di desa Sukoreno kecamatan Umbulsari kabupaten Jember,” (IAIN Jember: Tidak diterbitkan, 2017).
29
memfokuskan dari sisi penanaman pendidikan Agama Islam berbasis multikulturalisme.
Dari ketiga penelitian terdahulu tersebut melihat persamaan dan perbedaan yang ada jelas penelitian yang sekarang berbeda dengan penelitian terdahulu. Oleh karena itu peneliti mengambil topik yang berjudul “Peran Tokoh Agama Dalam Menjaga Multikulturalisme Agama di Desa Sukorno Kecamatan Umbulsari Kabupaten Jember”.
B. Kajian Teori
1. Peran Tokoh Agama
Dalam memelihara harmoni antar umat beragama, peranan tokoh agama dalam kerukunan umat beragama sangat besar pengaruhnya hal ini karena tokoh agama yang berhubungan langsung dengan para pemeluk agama (grassroot), segala bentuk petuah ataupun anjurannya akan sangat diperhatikan dan dilaksanakan karena para pemeluk agama sangat yakin bahwa apa yang disampaikan merupakan salah satu ajaran agama yang diyakininya. Diantara peran tokoh agama akan dijelaskan secara singkat pada pembahasan berikut ini :
a. Tokoh Agama Sebagai Motivator
Tidak dapat disangkal bahwa peran para tokoh agama sebagai motivator sudah banyak diakui dan terbukti di masyarakat. Dengan keterampilan dan kharisma yang dimilikinya, para pemimpin agama telah berperan aktif dalam mendorong suksesnya kegiatan-kegiatan kerukunan umat beragama. Dalam pandangan para pemimpin agama,
kegiatan kerukunan umat beragama merupakan suatu kebutuhan yang tak terelakkan. Pandangan seperti inilah yang juga mereka tanamkan kepada masyarakat dalam rangka mendorong partisipasinya terhadap kegiatan kerukunan antar umat beragama.
b. Tokoh Agama Sebagai Pembimbing Moral
Peran kedua yang dimainkan para pemimpin agama di masyarakat dalam kaitannya dengan kegiatan pembangunan adalah peran yang berkaitan denagan upaya-upaya menanamkan prinsip- prinsip etik dan moral masyarakat. Dalam kenyataannya, kegiatan pembangunan umumnya selalu menuntut peran aktif para pemimpin agama dalam meletakkan landasan moral, etis, dan spritual serta peningkatan pengalaman agama, baik dalam kehidupan pribadi maupun sosial. hal ini dimaksudkan agar kegiatan pembangunan memperoleh kesejatiannya dengan cara berpijak pada landasan etis dan moral. Berangkat dari landasan etis dan moral inilah, kegiatan pembangunan lalu diarahkan pada upaya pemulihan harkat dan martabat manusia, harga diri dan kehormatan individu, serta pengakuan atas kedaulatan seseoarang atau kelompok untuk mengembangkan diri sesuai dengan keyakinan dan jati diri serta bisikan nuraninya. Disinilah kemudian nilai-nilai religius yang ditanamkan para pemimpin agama memainkan peranan penting dalam kegiatan pembangunan.
31
c. Tokoh Agama Sebagai Mediator
Peran lain para pemimpin agama yang tidak kalah pentingnya, juga dalam kaitannya dengan kegiatan pembangunan dimasyarakat adalah sebagai wakil masyarakat dan sebagai pengantar dalam menjalin kerja sama yang harmonis diantara banyak pihak dalam rangka melindungi kepentingan-kepentingannya di masyarakat dan lembaga-lembaga keagamaan yang dipimpinnya. Untuk memebela kepentingan-
kepentingan ini, para tokoh agama biasanya memposisikan diri sebagai mediator diantara beberapa pihak dimasyarakat, seperti antara
masyarakat dengan elit penguasa dan antara masyarakat miskin dengan kelompok orang-orang kaya.28
2. Pengertian Multikulturalisme
Walaupun multikulturaisme itu telah digunakan oleh pendiri bangsa ini untuk mendesain kebudayaan indonesia, bagi pada umumnya orang Indonesia masa kini multikulturalisme adalah sebuah konsep yang masih asing. Karena itulah, perlu adanya tulisan-tuliasan yang lebih banyak oleh para ahli yang berkompeten mengenai multikulturalisme di media massa daripada yang sudah ada selama ini. Hal ini di maksudkan untuk membumikan wacana multikulturalisme yang masih menggantung tinggi dilangit.
Konsep multkulturalisme tidak dapat di samakan dengan konsep keanekaragaman suku bangsa atau kebudayaan yang menjadi ciri
28Dadang Kahmad. Sosiologi Agama (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya2002). 138.
masyarakat majemuk (plural society). Karena meltikulturaisme menekankan keanekaragaman dalam kesederajatan. Mengkaji multikulturalisme tidak bisa dilepaskan dari permasalahan yang mendukung ideologi ini, yaitu politik dan demokrasi, keadilan dan penegakan hukum, kesempatan kerja dan berusaha, HAM, hak budaya komuniti dan golongan minoritas, prinsip prinsip etika dan moral, juga tingkat dan mutu produktivitas.
Secara etimologi, multikultural berasal dari kata multi, yang artinya banyak/beragam dan kultural, yang berarti budaya dan isme yang berarti aliran atau paham. Keragaman budaya itulah arti dari multikultural.
Keragaman budaya mengindikasikan bahwa terdapat berbagai macam budaya yang memiliki ciri khas tersendiri, yang saling berbeda dan dapat dibedakan satu sama lain. Paham atau ideologi mengenai multikultural disebut dengan multikulturalisme. Multikulturalisme pada dasarnya adalah pandangan dunia yang kemudian dapat diterjemahkan dalam berbagai kebijakan kebudayaan yang menekankan penerimaan terhadap realitas keagamaan, pluralitas, dan muktikultural yang terdapat dalam kehidupan masyarakat.
Multikullturalisme secara etimologis digunakan pada tahun 1950- an di Kanada. Menurut Longer Oxford Dictionary istilah
“Multiculturalism” maerupakan deviasi dari kata “Multicultural”. Kalimat ini menyitir dari surat kabar Kanada, Montreal times yang
33
menggambarkan masyarakat Montreal sebagai masyarakat “multicultural”
dan ”multi-lingual”.29
Untuk memahami Multikulturalisme dibutuhkan alternatif pemaknaan tentang ideologi. Ideologi merupakan sistem kepercayaan yang komprehensif yang diikuti oleh berbagai kelompok sosial dan dengan berbagai macam alasan. Mutikulturalisme dalam pengertian yang lebih sesuai dan diterima untuk kebutuhan kontemporer adalah bahwa orang- orang dari berbagai kebudayaan yang beragam secara permanen hidup berdampingan satu dengan lainnya; banyak versi multikulturalisme menekankan pentingnya belajar tentang kebudayaan-kebudayaan lain, mencoba memahami mereka secara penuh dan empatik; multikulturalisme mengimplikasikan suatu keharusan untuk mengapresiasi kebudayaan- kebudayaan lain dan menilainya secara positif.30
Multikulturalisme dikalangan orang cendekiawan dianggap sebagai kebijaksanaan untuk mencapai tatanan masyarakat dimana warga yang berasal dari berlain-lain agama, suku, ras, adat atau kebudayaan dapat hidup bersama-sama dan membaur dalam pergaulan sehari-hari dengan damai dan sejahtera tanpa mengorbankan ciri-ciri khasnya masing- masing.31
29 Mundzier Suparta, Islamic Multicultural Education: Sebuah Refleksi atas Pendidikan Agama Islam di Indonesia (Jakarta: Al-Ghazali Center, 2008), 25
30Zakiyuddin Baidhawi, Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural (Jakarta: Erlangga, 2005), 2
31Hasna, Mufaida, Menumbuhkan Sikap Multikultural Melalui Internalisasi Nilai-Nilai Multikultural Dalam Pembelajaran, Vol 4 (Bandung: UPI Bandung, 2014), 15
Sebenarnya, ada tiga istilah yang kerap digunakan secara bergantian untuk menggambarkan masyarakat yang terdiri keberagaman tersebut –baik keberagaman agama, ras, bahasa, dan budaya yang berbeda- yaitu pluralitas (plurality), keragaman (diversity), dan multikultural (multicultural). Ketiga ekspresi itu sesungguhnya tidak merepresentasikan hal yang sama, walaupun semuanya mengacu kepada adanya
“ketidaktunggalan”. Konsep pluralitas mengandaikan adanya ’hal-hal yang lebih dari satu’ (many); keragaman menunjukkan bahwa keberadaan yang
’lebih dari satu’ itu berbeda-beda, heterogen, dan bahkan tak dapat disamakan. Dibandingkan dua konsep terdahulu, multikulturalisme sebenarnya relatif baru. Secara konseptual terdapat perbedaan signifikan antara pluralitas, keragaman, dan multikultural. Inti dari multikulturalisme adalah kesediaan menerima kelompok lain secara sama sebagai kesatuan, tanpa memperdulikan perbedaan budaya, etnik, jender, bahasa, ataupun agama. Apabila pluralitas sekadar merepresentasikan adanya kemajemukan (yang lebih dari satu), multikulturalisme memberikan penegasan bahwa dengan segala perbedaannya itu mereka adalah sama di dalam ruang publik. Multikulturalisme menjadi semacam respons kebijakan baru terhadap keragaman. Dengan kata lain, adanya komunitas- komunitas yang berbeda saja tidak cukup; sebab yang terpenting adalah bahwa komunitas-komunitas itu diperlakukan sama oleh negara. Oleh karena itu, multikulturalisme sebagai sebuah gerakan menuntut pengakuan
35
terhadap semua perbedaan sebagai entitas dalam masyarakat yang harus diterima, dihargai, dilindungi serta dijamin eksisitensinya.32
Azyumardi Azra mengemukakan bahwa multikulturalisme adalah pandangan dunia yang dapat diterjemahkan dalam berbagai kebijakan kebudayaan yang menekankan tentang penerimaan terhadap realitas keagamaan, pluralitas, dan multikultural yang terdapat dalam kehidupan masyarakat. Multikulturalisme dapat juga dipahami sebagai pandangan dunia yang diwujudkan dalam kesadaran politik.
Sedangkan Lawrence A Blum, mengemukakan definisi multikulturalisme sebagai berikut: “ multikulturalisme meliputi sebuat pemahaman, penghargaan dan penilaian atas budaya seseorang, serta sebuah penghormatan dan keingin tahuan tentang budaya etnis orang lain. Ia meliputi sebuah penilaian terhadap budaya-budaya orang lain, bukan dalam arti menyetujui seluruh aspek dari budaya tersebut, melainkan mencoba mencoba melihat bagaimana sebuah budaya yang asli dapat mengekspresikan nilai bagi anggota-anggotanya sendiri.33
Selanjutnya Suparlan memaparkan multikulturalisme merupakan sebuah ideologi yang mengakui dan mengagungkan perbedaan dalam kesederajatan, baik secara individual maupun secara kebudayaan.
A. Rifai Harahap menjelaskan pengertian multikulturalisme, yaitu mencakup gagasan, cara pandang, kebijakan, penyikapan, dan tindakan oleh masyarakat suatu negara yang majemuk dari segi etnis, budaya,
32 Scott Lash dan Mike Featherstone (ed.)., Recognition And Difference: Politics, Identit, Multiculture (London: Sage Publication, 2002), 3.
33 Lawrence, A Blum, Antirasisme, Multikulturalisme, dan Komunitas Antar Ras,16
agama, dan sebagainya, tetapi memiliki cita-cita untuk mengembangkan semangat kebangsaan kemajemukan tersebut.34
Jadi multikulturalisme merupakan paham atau ideologi yang menekankan pada penerimaan terhadap realitas keagamaan, pluralitas, dan multikultur yang terdapat dalam kehidupan masyarakat.
3. Nilai-Nilai Multikulturalisme
Dalam kamus besar bahasa Indonesia, nilai diartikan sebagai sifat- sifat yang penting dan berguna bagi kemanusiaan.35 Umi Khumaidah menyebutkan setidaknya ada empat nilai inti dalam multikulturalisme, yaitu a) apresiasi terhadap adanya pluralitas, budaya dan masyarakat, b) pengakuan terhadap harkat dan martabat manusia atau toleransi, c) memiliki rasa persaudaraan, d) pengembangan tanggung jawab.36
Sementra itu, Zakiyuddin mengemukakan karakteristik multikultural yaitu, a) belajar hidup bersama dalam perbedaan, b) membangun sikap saling percaya, c) berpikir terbuka, d) saling menghargai atau kerukunan, e) saling pengertian, f) apresiasi terhadap budaya lain, g) resolusi konflik.
Selanjutnya dibawah ini akan dijelaskan tentang nilai-nilai multikulturalisme, yaitu:
34 Yaya Suryana dan Rusdiana, Pendidikan Multikultural Suatu Upaya Penguatan Jati Diri Bangsa Konsep, Prinsip, Dan Implementasi. (Bandung: CV Pustaka Setia, 2015), 100
35 Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta:
Depdiknas, 2008) 1074
36 Adre, Atta Ujan, Multikulturalisme Belajar Hidup Bersama Dalam Perbedaan (Jakarta: PT Indeks Permata Putri Media, 2011), 14
37
1. Persaudaraan
Persaudaraan menghimpun seluruh prinsip kemanusiaan, manusia menyati dengan yang lain melalui hubungan keluarga kemudianhubungan umat dan akhirnya pada hubungan kemanusiaan.
Makna dari persaudaraan ialah kemampuan manusia untuk dapat menghilangkan batas-batas kultural yang ada dalam masyarakat.
Dimensi persaudaraan lebih menekankan pada sikap mengakui adanya pluralitas dan keragaman budaya, sehingga dapat mengarah pada persatuan dan kesatuan.37
2. Toleransi
Sikap ini merupakan sikap yang paling esensial bagi keberhasilan koeksistensi dan proeksistensi dalam keragaman agama.
Adapun pengertian dari toleransi itu sendiri adalah kemampuan untuk menghormati sikap dasar, keyakinan, dan perilaku yang dimiliki orang lain.38
3. Tolong Menolong
Sebagai mahluk sosial, manusia tidak dapat dapat hidup sendirian meski segalanya ia miliki. Meskipun harta benda berlimpah sehingga setiap apa yang ia mau dapat mudah terpenuhi, tetapi ia tidak bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain dan kebahagiaan pun tidak dapat ia rasakan.
37 https://.lyceum.id/indikatir-nilai-nilai-multikultural/, (31 Mei 2019)
38 Ngainun, Naim dan Achmad, Sauqi, Pendidikan Multikultural, 77
4. Kerukunan
Nilai ini mengakui terhadap pluralisme dalam suatu komunitas dan kelompok sosial. Dengan nilai kerukunan, maka setiap perbedaan akan menjadi suatu hal yang disifati dengan positif, sehingga kecil kemungkinan terjadinya konflik dalam masyarakat yang mepunyai berbagai keragaman.39
Dari berbagai penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa beberapa nilai yang ada dan melekat pada multikulturalisme yaitu, nilai toleransi, nilai persaudaraan, nilai tolong menolong, dan nilai kerukunan.
Dengan keempat nilai tersebut, multikulturalisme akan dapat di implementasikan dengan baik oleh warga masyarakat yang mempunya berbagai keragaman, baik keragaman suku, ras, bahasa, budaya, dan agama.
4. Perjalanan Multikulturalisme di Indonesia
Secara historis, sejak jatuhnya Presiden Soeharto dari kekuasaannya yang kemudian diikuti dengan masa yang disebut sebagai
“era reformasi”, kebudayaan Indonesia cenderung mengalami disintegrasi.
Dalam pandangan Azyumardi Azra, bahwa krisis moneter, ekonomi, dan politik yang bermula sejak akhir 1997, pada gilirannya juga telah mengakibatkan terjadinya krisis sosio-kultural di dalam kehidupan bangsa dan negara. jalinan tenun (fabric of society) masyarakat tercabik-cabik akibat berbagai krisis yang melanda masyarakat.
39
Krisis budaya yang meluas itu dapat disaksikan dalam berbagai bentuk disorientasi dan dislokasi banyak kalangan masyarakat kita, misalnya: krisis sosial-politik yang bersumber dari euforia kebebasan yang nyaris kebablasan, lenyapnya kesabaran sosial (sosial temper) dalam menghadapi realitas kehidupan yang semakin sulit sehingga mudah mengamuk dan melakukan berbagai tindakan kekerasan dan anarki, merosotnya penghargaan dan kepatuhan terhadap hukum, etika, moral, dan kesantunan sosial, semakin meluasnya penyebaran narkotika, dan penyakit-penyakit sosial lainnya, berlanjutnya konflik dan kekerasan yang bersumber atau sedikitnya bernuansa politis, etnis, dan agama seperti terjadi di Aceh, Kalimantan Barat dan Tengah, Maluku Sulawesi Tengah, dan lain-lain.
Secara restropektif, politik mono-kulturalisme atau monokulturalitas yang dilaksanakan pemerintah Orde Baru atas nama stabilitas untuk developmentalism telah menghancurkan local cultural geniuses, seperti tradisi “pela gandong” di Ambon, “republik nagari” di Sumatera Barat dan lain-lain. Padahal, sistem atau tradisi sosio-kultural lokal seperti ini merupakan kekyaan kultural yang tidak ternilai harganya bukan hanya bagi masyarakat sendiri, tetapi juga bagi masyarakat- masyarakat lain40
Terlepas dari perbedaan pendapat tentang multikulturalisme apakah menjadi faktor perpecahan ataukah justru menjadi pemersatu
40 Choirul Mahfud, Pendidikan Multikultural, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2016), 81