i
SKRIPSI
Di ajukan kepada Institut Agama Islam Negeri Jember untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh
gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Program Studi Pendidikan Agama Islam
Oleh:
ACHMAD KHOLIF ROSYIDI NIM: 084141266
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) JEMBER
JULI 2019
i
PERAN TOKOH AGAMA DALAM MENJAGA NILAI-NILAI PENDIDIKAN MULTIKULTURALISME AGAMA DI DESA SUKORENO KECAMATAN UMBULSARI
KABUPATEN JEMBER
SKRIPSI
Di ajukan kepada Institut Agama Islam Negeri Jember untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh
gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Program Studi Pendidikan Agama Islam
Oleh:
ACHMAD KHOLIF ROSYIDI NIM: 084141266
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) JEMBER FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
JULI 2019
iv
Artinya: Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki- laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.1
1 Tim Penyusun, Mushaf Al-‘Alim (Bandung : Al-Mizan Publising, 2010), 515
v
PERSEMBAHAN
Kupersembahkan kepada:
Kedua orang tuaku Bapak (Wijiyanto), ibu (Miasih), kakak (Umi Khusnilah, Asnawan dan Abdul Rohim, Megaria) kakek, nenek, dan saudara-saudaraku yang senantiasa memelukku hangat dalam doanya, memberiku semangat yang tiada henti-hentinya, dan mendorong untuk menyelesaikan studi ini.
Guru, ustad dan dosenku yang telah mengajariku bagaimana memandang positif setiap permasalahan, membuatku lebih percaya diri menghadapi tantangan, dan motivasinya yang selalu menghidupkan inspirasiku.
Sahabat-sahabatku kelas A6 yang telah banyak membantuku berusaha menyelesaikan tugasku.
Tak lupa juga beribu terima kasih kepada teman-teman mblotong kontrakan yang senantiasa menemani saya sampai semester 10 ini. Tentunya saya tidak akan bisa sampai semester 10 dan dapat menyelesaikan tugas akhir perkuliahan tanpa kalian.
Siapa saja yang telah memberiku kesempatan untuk berkembang. Dulu, kini, dan esok.
Almamaterku tercinta IAIN Jember.
vi
Multikulturalisme bukan hanya soal identitas dan perbedaan identitas semata, tetapi tentang segala sesuatu yang tertanam didalam kultur, yakni susuna kepercayaan dan praktek-praktek sosial, dimana suatu kelompok dapat memahami siapa mereka, dunia, serta dapat menata kehidupan mereka, bak kehidupan individual maupun sosial. Di desa Sukoreno, ada beberpa perbedaan agama yaitu agama Islam, Hindu, dan Kristen. Keragaman bukanlah hal yang harus dimonokulturalkan melainkan sebuah kekayaan budaya yang harus kita sikapi secara multikulturalisme. Karena dengan pandangan multikulturalisme ini suatu desa yang memiliki beragam budaya dan agama akan dapat menciptakan kehidupan yang harmonis. Dalam penelitian ini difokuskan pada : pertama, peran tokoh agama dalam menjaga nilai persaudaraan di Desa Sukoreno Kec. Umbulsari Kab. Jember, kedua, Peran tokoh agama dalam menjaga nilai toleransi di Desa Sukoreno Kec. Umbulsari Kab. Jember, ketiga peran tokoh agama dalam menjaga nilai gotong royong di Desa Sukoreno Kec. Umbulsari Kab. Jember, keempat, peran tokoh agama dalam menjaga nilai kerukunan di Desa Sukoreno Kec.
Umbulsari Kab. Jember
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Disebut kualitatif karena merupakan penelitian yang bermaksud memahami fenomena tentang apa yang dialami subyek penelitian. Disebut deskriptif karena penelitian ini bertujuan untuk menguraikan tentang sifat-sifat (karakteritik) suatu keadaan dalam bentuk kata-kata dan bahasa. Jenis penelitian ini adalah termasuk studi lapangan (field reaserch) yaitu dengan menggunakan sumber-sumber informan, catatan lapangan, hasil observasi dalam menggali dan mepertajam analisis penelitian ini. Adapun tujuannya dengan menggunakan jenis penelitian ini yaitu guna mendapatkan metode, teknik, atau cara pendeketan pemecahan yang digunakan serta mendapatkan hasil yang maksimal sesuai dengan hasil dari peneliti dilapangan.
Setelah dilakukan observasi, dokumentasi, wawancara dan analisis terhadap data yang diperoleh dari lapangan, peran tokoh agama dalam menjaga multikulturalisme agama di Desa Sukoreno yaitu: pertama, menjaga nilai persaudaraan dengan ikut kedalam berbagai kegiatan yang ada di Desa Sukoreno Kecamatan Umbulsari Kabupaten Jember, kedua menjaga nilai toleransi dengan menyampaikannya melalui kegiatan-kegiatan keagamaan tertentu yang ada di Desa Sukoreno Kecamatan Umbulsari Kabupaten Jember, ketiga, menjaga nilai gotong royong dengan terjun langsung pada berbagai kegiatan baik yang diselenggarakan oleh desa, umat agama tertentu maupun warga masyarakat di Desa Sukoeno Kecamatan Umbulsari Kabupaten Jember, keempat, menjaga nilai kerukunan dengan memberi arahan terhadap warga Desa Sukoreno Kec.
Umbulsari Kab. Jember diberbagai kesempatan.
Kata Kunci: Tokoh Agama, Nilai-nilai Pendidikan Multikulturalisme Agama.
vii
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT. yang telah melimpahkan rahmat, taufiq hidayah serta inayah-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesakan tugas dan kewajiban akademik dalam bentuk skripsi dengan baik. Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW. sebagai pembawa kabar gembira bagi umat yang bertaqwa.
Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW. Selaku pengemban amanat berupa wahyu Ilahi yaitu agama Islam yang menjadi petunjuk bagi seluruh umat manusia di dunia.
Dengan selesainya penulisan skripsi ini, maka kami sepatutnya menyampaikan terima kasih dan rasa hormat kepada :
1. Rektor IAIN Jember (Prof. Dr. H. Babun Suharto, SE. MM) yang telah memfasilitasi selama proses kegiatan belajar mengajar di lembaga yang dipimpinnya.
2. Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Jember (Dr. Hj.
Mukni’ah, M.Pd.I) yang telah memberikan kesempatan kepada peneliti untuk melaksanakan penelitian.
3. Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kelembagaan IAIN Jember (Dr.
H. Mashudi, M.Pd)
viii
5. Dosen Pembimbing Skripsi (Hafidz, S.Ag., M.Hum) yang telah banyak berkontribusi dan membimbing dengan sabar hingga selesai penulisan skripsi ini.
6. Segenap dosen pengajar di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan yang telah memberikan ilmu pengetahuan dan pengalaman selama proses perkuliahan.
7. Seluruh Civitas Akademik IAIN Jember, kepada pimpinan, para dosen, karyawan dan seluruh mahasiswa yang telah membantu dalam kelancaran proses penyelesaian tugas akhir ini.
8. Semua pihak yang telah membantu proses penyusunan skripsi.
Semoga amal yang Bapak/Ibu berikan kepada penulias mendapatkan balasan yang terbaik oleh Allah SWT. Semoga karya ilmiah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan Untuk Kampus IAIN tercinta, serta untuk bangsa dan negara Indonesia. Amin ya Robbal alamin.
Jember, 28 Juni 2019 Penulis
ACHMAD KHOLIF ROSYIDI NIM. 084 141 266
ix
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
MOTTO ... iv
PERSEMBAHAN ... v
ABSTRAK ... vi
KATA PENGANTAR ... vii
DAFTAR ISI ... ix
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Fokus Penelitian ... 19
C. Tujuan Penelitian ... 20
D. Manfaat Penelitian ... 20
E. Definisi Istilah ... 22
F. Sistematika Pembahasan ... 24
BAB II KAJIAN KEPUSTAKAAN A. Penelitian Terdahulu ... 25
B. Kajian Teori ... 29
BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian... 53
B. Lokasi Penelitian ... 54
x
F. Analisis Data ... 56 G. Keabsahan Data ... 57 H. Tahap-tahap Penelitian ... 58 BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS
A. Gambar Obyek Penelitian ... 59 B. Penyajian Data dan Analisis... 79 C. Pembahasan dan Temuan ... 101 BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan ... 109 B. Saran ... 110 DAFTAR PUSTAKA ... 111
Lampiran-lampiran 1. Matrik Penelitian
2. Surat Pernyataan Keaslian Tulisan 3. Pedoman Penelitian
4. Jurnal Kegiatan Penelitian 5. Surat Izin Penelitian
6. Surat Izin Selesai Penelitian 7. Dokumentasi
8. Biodata Penulis
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Istilah multikulturalisme akhir-akhir ini mulai diperbincangkan diberbagai kalangan berkenaan dengan merebaknya konflik etnis di negara ni.
Multikultural yang di miliki Indonesia dianggap sebagai faktor utama terjadinya konflik. Konflik berbau SARA yaitu suku, agama, ras, dan antargolongan yang terjadi di Aceh, Papua, Kupang, Ambon, Maluku, dan berbagai daerah lainnya adalah realitas yang dapat mengancam integrasi bangsa di satu sisi dan membutuhkan solusi konkret dalam penyelesaiannya.
Hingga muncullah konsep multikulturalise yang di jadikan acuan utama terbentuknya masyarakat multikultural yang damai.
Indonesia adalah suatu negara multikultural yang memiliki keragaman budaya, ras, suku, agama, dan golongan yang kesemuanya merupakan kekayaan tak ternilai yang dimiliki bangsa Indonesia. Founding father (pendiri bangsa) menyadari bahwa keragaman yang dimiliki merupakan realitas yang harus dijaga eksistensinya dalam persatuan dan kesatuan bangsa. Keragaman merupakan suatu kewajaran sejauh disadari dan dihayati keberadaannya sebagai sesuatu yang harus disikiapi dengan toleransi. Kemajemukan ini tumbuh dan berkembang ratusan tahun lamanya sebagai warisan dari nenek moyang bangsa Indonesia.
Di Indonesia sendiri tulisan-tulisan mengenai multikulturalisme mulai marak beberapa tahun terakhir dengan seringnya isu ini diangkat menjadi tema
penelitian yang diperebutkan oleh berbagai perguruan tinggi dalam ghibah penelitian oleh lembaga-lembaga pemerintah, yang melihat arti penting gagasan ini dalam konteks kehidupan bangsa dan negara Indonesia yang sangat multikultur dan juga multireligius. Gagasan multikulturalisme, meski memiliki banyak kesamaan dengan konsep yang lebih dahulu lahir, yakni pluralitas (plurality) dan keragaman (diversity), namun memiliki perbedaan titik tekan. Konsep pluralitas mengandaikan adanya ‘hal-hal yang lebih dari satu’ (many); keragaman menunjukkan bahwa keberadaan yang lebih dari satu itu berbeda-beda, heterogen, dan bahkan tak dapat disamakan.2
Sebelum berbicara terlalu jauh mengenai multikulturalisme, perlu diketahui istilah terdekat dengan multikulturalisme itu sendiri yaitu pluralisme. Pluralisme merupakan teori yang mengemukakan realitas terdiri dari banyak substansi. Menurut asal katanya, pluralisme berasal dari bahasa inggris yaitu pluralism yang berarti seluruh kerangka interaksi yang mana setiap kelompok menampilkan rasa hormat dan toleran satu sama lain, berinteraksi tanpa konflik atau asimiliasi/pembiasan.
Jadi pluralisme adalah sebuah paham yang menekankan pada aspek- aspek positif dalam sebuah realitas keberagaman, toleransi, dan mengakui keberadaan golongan (agama) lain yang berbeda dengan upaya preventif dalam menanggulangi konflik antaragama. Maka, pluralisme seharusnya diterima dan dipahami secara positif, bukan digugat secara negatif apalagi
2 M, Zainal, Abidin, Islam dan Tradisi Lokal Perspektif Multikultualisme, Vol VIII no 2 Th 2009, 299
3
sampai dklaim sebagai paham yang merusak akidah, khususnya bagi umat Islam.3
Multikulturalisme bukan hanya soal identitas dan perbedaan identitas semata, tetapi tentang segala sesuatu yang tertanam didalam kultur, yakni susuna kepercayaan dan praktek-praktek sosial, dimana suatu kelompok dapat memahami siapa mereka, dunia, serta dapat menata kehidupan mereka, bak kehidupan individual maupun sosial. Pada level ini perbedaan tidak lagi hanya berada di level-level pilihan individual saja, tetapi juga pda level perbedaan kultural juga. Perbedaan yang ada di level kultural memiliki logoka yang lebih rumit, karena perbedaan itu terkait dengan otoritas kultural, yang dibentuk dan tertanam didalam suatu sistem makna yang memiliki historitas serta diwariskan turun temurun. Dengan demikian multikulturalisme adalah tentang perbedaan kultural atau apa yang biasanya disebut culturally embedded differences.4
Setelah mengenal istilah pluralisme diatas, berikut ini adalah ulasan mengenai pengertian multikulturalisme. Kata multikultural merupakan kata sifat yang dalam bahasa Inggris berasal dari dua kata, yaitu multi dan culture.
Secara umum kata multi berarti banyak, ragam atau aneka, sedangkan kata culture berarti kebudayaan, kesopanan dan pemeliharaan.
Berangkat dari definisi etimologis diatas, beberapa tokoh kemudian mengembangkan pemaknaan tersebut dalam bentuk istilah. Akar kata yang
3 Ali, Maksum, Pluralisme dan Multikulturalisme Paradigma Baru Pendidikan Agama Islam di Indonesia, (Malang: Aditya Media Publishing, 2011), 79
4 Reza, Wattimena, Multikulturalisme Untuk Indonesia: Sebuah Pendekata Multidisipliner Teori Politik, Eksistensialisme, Dan Psiko Sosial, (Yogyakarta: Kanisius Yogyakarta, 2010), 46
dapat digunakan untuk memahami multikulturalisme adalah kultur. Walaupun pengertian kultur sedemikian beragam, tetapi ada beberapa titik kesamaan yang mempertemukan keragaman definisi yang ada tersebut. salah satunya dapat dilakukan lewat pengidentifikasian karakteristiknya.5
Lawrence A Blum, mengemukakan definisi multikulturalisme sebagai berikut: “ multikulturalisme meliputi sebuat pemahaman, penghargaan dan penilaian atas budaya seseorang, serta sebuah penghormatan dan keingin tahuan tentang budaya etnis orang lain. Ia meliputi sebuah penilaian terhadap budaya-budaya orang lain, bukan dalam arti menyetujui seluruh aspek dari budaya tersebut, melainkan mencoba mencoba melihat bagaimana sebuah budaya yang asli dapat mengekspresikan nilai bagi anggota-anggotanya sendiri.6
Conrad P. Kottak, seperti yang dikutip Ainul Yaqin, menjelaskan bahwa kultur memiliki beberapa karakter khusus. Karakteristik tersebut antara lain: 1) kultur adalah sesuatu yang general dan spesifik sekaligus, 2) kultur adalah sesuatu yang dipelajari, 3) kultur adalah sebuah simbol, 4) kultur dapat membentuk dan melengkapi sesuatu yang alami, 5) kultur adalah sesuatu yang dilakukan secara bersama-sama yang menjadi atribut bagi individu sebagai anggota dari kelompok masyarakat, 6) kultur adalah sebuah model. Dan 7) kultur adalah sesuatu yang bersifat adaptif.
5 Ngainun, Naim dan Achmad, Sauqi, Pendidikan Multkultural Konsep dan Aplikasi, (Yogyakarta:
Ar-Ruz Media, 2008), 121
6 Lawrence, A Blum, Antirasisme, Multikulturalisme, dan Komunitas Antar Ras: Tiga Nilai yang Bersifat Mendidik bagi Sebuah Masyarakat Multikultural. Terjemahan oleh Sinta Carolina dan Dadang Rusdiantoro (Yogyakarta: PT Tiara Wacana, 2001), 16
5
Berdasarkan beberapa karakteristik kultur di atas maka secara umum dapat dijelaskan bahwa kultur adalah ciri-ciri dari tingkah laku manusia yang dipelajari, tidak diturunkan secara genetis dan bersifat sangat khusus sehingga kultur pada masyarakat “A” berbeda dengan kultur masyarakat “B” atau “C”
dan seterusnya. Dengan kata lain, kultur dapat diartikan sebagai sebuah cara dalam bertingkah laku dan beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Poin penting yang digarisbawahi dari ciri-ciri kultur di atas adalah masing-masing kelompok masyarakat mempunyai keunikan dan kelebihannya sendiri-sendiri sehingga tidak bisa dikatakan bahwa kultur yang satu lebih baik dari kultur yang lainnya.7
Berangkat dari pemahaman terhadap karakteristik kultur tersebut maka pemaknaan terhadap multikulturalisme pun mulai tergambar jelas. Secara ringkas, penulis memahami bahwa multikulturalisme merupakan paham tentang keragaman budaya dan dalam keragaman inilah mulai lahir pemahaman-pemahaman tentang toleransi, kesetaraan, keadilan, kebersamaan, perdamaian dan sejenisnya. Paham-paham ini yang kemudian mempunyai tujuan mulia, yaitu untuk menciptakan sebuah kehidupan yang aman, tentram, damai dan sejahtera serta terhindar dari berbagai konflik yang tak kunjung usai.
Dalam perspektif multikulturalisme, tampak jelas bahwa keberadaan tradisi lokal dipandang sangat penting dalam memperkaya khazanah peradaban keIslaman. Masing-masing tradisi lokal itu berada pada posisi yang
7Ainul, Yaqin, Pendidikan Multikultural: Cross-Cultural Understanding untuk Demokrasi dan Keadilan, (Yogyakarta: Pilar Media, 2005), 6
absah untuk diakui keberadaannya sebagai bagian dari Islam, yang posisinya setara, sederajat. Karena itu, gagasan semisal pribumisasi Islam dalam konteks Indonesia sebagaimana diungkapkan Gus Dur menjadi sesuatu yang sealur dan seirama dengan ide multikulturalisme.8
Sejarah multikulturalisme tidak dapat dilepaskan dari realitas masyarakat dunia yang memilki corak keragaman dan kebhinekaan. Pada satu sisi, keragaman dalam masyarakat dianggap sebagai sebuah aset yang dapat memperkaya budaya suatu masyarakat dalam sebuah komunitas (negara).
Indonesia merupakan negara yang terdiri dari masyarakat majemuk baik itu dari segi suku, budaya adat istiadat maupun agama. Kemajemukan tersbut apabila dapat dikelola dengan baik maka akan menjadi aset atau modal sosial untuk memperkuat kerukunan, persatuan dan kesatuan, serta kebesaran bangsa. Namun sebaliknya, apabila kemajemukan tersebut tidak dikelola dengan baik, akan rentan terhadap terjadinya disharmoni dan bahkan akan menimbulkan perpecahan dikalangan masyarakat.9
Selanjutnya, dalam upaya membangun hubungan sinergi antara multikulturalisme dan agama, setidaknya ada dua hal yang bisa dilakukan: (1) perlunya penafsiran ulang atas doktrin-doktrin keagamaan ortodoks yang sementara ini dijadikan dalih untuk bersikap eksklusif dan opresif. Penafsiran ulang itu harus dilakukan sedemikian rupa, sehingga agama bisa lebih bersikap reseptif terhadap kearifan tradisi lokal; (2) perlunya terus
8Abdurrahman, Wahid, Pergulatan Negara, Agama, dan Kebudayaan, (Jakarta: Desantara, 2001), 111.
9 Dadang Kahmad, Sosiologi Agama (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2002), 147.
7
mendialogkan agama dengan gagasan-gagasan dan tantangan modernitas. Saat ini, umat beragama memasuki suatu fase sejarah baru di mana mereka harus mampu beradaptasi dengan peradaban-peradaban besar yang tidak didasarkan pada agama, seperti peradaban Barat modern. Ide-ide dan teori-teori sekular tidak mungkin bisa dihindari dan diabaikan begitu saja. Dan ini merupakan tugas paling menantang yang dihadapi kaum muslim pada zaman modern ini.10
Melihat pola hubungan antara agama universal dan tradisi lokal, setidaknya ada dua hal yang bisa dikemukakan. Pertama, sebuah agama universal (semisal Islam dan Kristen) memang sangggup memberikan lompatan kesadaran yang semula terpasung pada wilayah lokal menuju kesadaran universal, namun tidak dapat memberikan petunjuk menghadapi persoalan-persoalan lokal. Kesejarahan agama universal yang terkait dengan kelokalannya masing-masing membuat agama universal pada beberapa sisi tetap menjadi milik wilayah asalnya masing-masing.
Wilayah asal agama universal bukanlah wilayah prototipe bagi seluruh wilayah penyebarannya. Universalisasi segala unsur agama dengan demikian tidak dapat diberlakukan, kecuali jika wilayah asal agama merupakan wilayah prototipe semisal dunia idea Plato yang memuat segala hal ihwal kehidupan di wilayah mana pun. Kedua, tradisi lokal tidak pernah sepenuhnya bisa dilenyapkan. Ada bagianbagian dari tradisi lokal (ikon atau konsep) yang terus bertahan dipelihara dan tidak tergantikan oleh ajaran universal. Dengan cara
10Shabbir, Akhtar, Islam Agama Semua Zaman (Faith for All Seasons: Islam and western Modernity), Penerjemah Rusdi Djana, (Jakarta: Pustaka Zahra, 2002), 7.
ini dapat dikemukakan bahwa ajaran universal diapropriasi untuk mengisi ruang konsepsi yang pada tradisi lokal masih bersifat terbatas, sedangkan cara- cara hidup di ruang lokal tetap menggunakan tradisi lama.11
Ada beberapa kasus yang melatar belakangi peneliti mengambil judul ini, salah satunya yang terjadi di Banyuwangi sebagaimana yang di kabarkan salah satu media online yakni Kompas. “seorang pelajar perempuan calon peserta ddik SMP 3 Genteng Kabupaten Banyuwangi yang memilih menarik berkas karena merasa ada diskriminasi di sekolah tersebut yakni menerapkan aturan menggunakan jilbab bagi siswinya, sedangkan siswi tersebut (NWA) sendiri beragama non Islam”.12
Selain kasus diatas, ada juga kasus diskriminasi agama yang baru-baru ini muncul di kota istimewa Yogyakarta. Pasalnya ada kesepakatan komunal menolak seseorang tinggal di daerah tertentu atas dasar agama. seperti yang terjadi terhadap seorang nonmuslim di Yogyakarta, dinilai bisa dicegah jika pemerintah konsisten mewujudkan asas kebhinekaan. Di sisi lain pemerintah mengklaim memiliki prosedur pengawasan konflik sektarian, walau tidak ada sanksi untuk pejabat yang lalai memelihara persatuan masyarakat. Kasus ini terjadi pada tanggal 3 April 2019.
Direktur ketahanan Ekonomi, Sosial, Budaya kementrian dalam negeri, Syarmadani mengungkapkan “Ada aturan untuk memastikan kehidupan bernegara berjalan dengan baik. Kan juga ada forumkerukunan umat
11Ulil, Abshar-Abdalla, Menimbang Islam Pribumi, dalam Tashwirul Afkar, Edisi No. 14 Tahun 2003, 129.
12 https://regional.kompas.com/read/2017/07/16/23005061/ad-diskriminasi-terhadap-siswi-non- muslim-di-banyuwangi-bupati-anas-marah
9
beragama, tidak boleh ada pelarangan sepihak seperti di Bantul. Tetapi sementara ini kami hanya bisa mengingatkan. Pendekatan kami tidak dalam konsep reward and punishmen (penghargaan dan sanksi).”
Kepala Dukuh Karet, Pleret, Bantul, Yogyakarta mengaku mengetahui keberadaan aturan itu telah berlaku sejak tahun 2015. Belakangan ia membatalkan aturan itu karena seorang warga bernama Slamet Juniarto yang beragama katolik mempersoalkannya. Slamet tidak diizinkan tinggal di dukuh itu karena tidak mau memeluk agama Islam.13
Ada juga kasus diskriminasi yang terjadi di Jakarta, Widyaningsih adalah salah satu dari puluhan jemaat Gereja Kristen Indonesia (GKI) Yasmin yang rutin menggelar kebaktian didepan istana negara setiap dua pekan sekali.
Mencoba mengetuk hati Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk menyelesaikan persoalan mereka.
Selama lebih lima tahun terahir jemaat GKI Yasmin terombang- ambing dalam ketidak pastian hukum atas penyegelan dan penutupan gedung gereja mereka oleh pemerintah Bogor. “Hak kami dipasung. Negeri ini negeri hukum, tapi kami merasakan hukum tidak ada.” Kata Widyaningsih.
Juru bicara GKI Yasmin, Bona Sigalingging menjelaskan penyegelan gedung GKI Yasmin bukan karena gereja tidak punya izin mendirikan bangunan. GKI Yasmin menurut Bona telah mengantongi IMB sejak tahun 2006, yang diberikan oleh Wali Kota Bogor saat itu, Diani Budiarto. Namun pada 2008, Diani kemudian membekukan dan mencabut IMB GKI Yasmin
13 https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-47801818
karena berbagai alasan yang kerap berubah-ubah dari waktu ke waktu. Kasus ini diberitakan oleh CNN pada tahun 2014.14
Beberapa kasus diatas merupakan tindakan diskriminasi yang menyalahi semboyan bangsa Indonesia, yakni Bhineka Tunggal Ika. Sudah sejak lama Indonesia memiliki keragaman suku, ras, budaya, dan agama, maka sudah sepatutnya kita dapat hidup dalam sikap saling toleransi terhadap keberagaman tersebut. Dari berbagai macam agama yang ada di dunia maupun di Indonesia pada khususnya, Desa sukoreno memiliki tiga agama yang berbeda, yaitu agama Islam, Hindu, dan Kristen begitu juga berbagai budaya yang muncul dari agama-agama tersebut.
Hal ini yang menjadi alasan peneliti untuk mengetahui secara mendalam, seperti apa keadaan Desa Sukoreno yang mempunyai beragam agama dan budaya tersebut. Karena menurut informasi yang peneliti dapatkan di desa ini belum pernah terjadi konflik apalagi kerusuhan yang mengatas namakan agama, semua warga dapat hidup rukun dan berdampingan sekaligus saling tolong menolong terhadap sesamanya. Hal ini tentunya tidak dapat lepas dari peran para aparatur desa serta tokoh agama yang ada disana.
Multikulturalisme merupakan ideologi baru yang akhir-akhir ini kerap diperbincangkan karena maraknya kasus diskriminasi yang terjadi di Indonesia. Namun tidak dengan Desa Sukoreno ini, justru di desa ini multikulturalisme sepertinya sidah dijalankan dengan baik oleh warga masyarakat desa.
14 https//m.cnnindonesia.com/nasional/20141020072549-20-6862/diskriminasi-agama-yang-tak- kunjung-henti
11
Dengan adanya berbagai keragaman tersebut, sebenarnya pendiri bangsa sudah sejak lama menggunakan konsep multikulturalisme untuk mendesain kebudayaan bangsa Indonesia. Konsep multikulturalisme tidak dapat disamakan dengan konsep keanekaragaman secara suku bangsa atau kebudayaan suku bangsa yang menjadi ciri masyarakat majemuk, karena multikulturalisme menekankan keanekaragaman kebudayaan dalam kesederajatan. Multikulturalisme merupakan sebuah ideologi yang harus diperjuangkan karena dibutuhkan sebagai landasan bagi tegaknya demokrasi, HAM, dan kesejahteraan hidup masyarakat. Multikulturalisme membutuhkan seperangkat konsep untuk dijadikan acuan guna memahami dan mengembangluaskannya dalam kehidupan bermasyarakat. Bebagai konsep yang relevan dengan multikulturalisme antara lain adalah demokrasi, keadilan dan hukum, nilai-nilai budaya dan etos, kebesamaan dalam perbedaan yang sederajat, sukubangsa, keyakinan keagamaan, HAM, hak budaya komuniti, dan konsep-konsep lainnya yang relevan.15
Sedangkan pengertian multikulturalisme adalah sebuah filosofi atau ideologi yang menghendaki adanya persatuan dari berbagai kelompok kebudayaan dengan hak dan status sosial politik yang sama dalam masyarakat modern. Istilah multikultural juga sering digunakan untuk menggambarkan kesatuan berbagai etnis masyarakat yang berbeda dalam suatu negara.16
Dengan adanya keberagaman tersebut, negara mengambil peran untuk melindungi keberagaman tersebut, yang diimplementasikan mulai dari dasar
15 Parsudi Suparlan, Menuju Masyarakat Indonesia yang Multikultural (Jakarta: Universitas Indonesia, 2002), 99
16 Choirul Mahfud, Pendidikan Multikultural. cet. 1 (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006), 75.
Negara yaitu Pancasila serta aturan hukum tertinggi yaitu UUD 1945.
Pancasila sila 1 yang berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa, menjabarkan keberagaman agama dan kepercayaan dalam 7 butir nilai yaitu:
1. Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2. Manusia Indonesia percaya dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, sesuai agama dan kepercayaan masing-masing atas dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
3. Mengembangkan sikap saling hormat-menghormati dan bekerja sama antara pemeluk agama dan kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
4. Membina kerukunan hidup antar sesama umat agama dan berkepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
5. Agama dan kepercayaan adalah masalah yang menyangkut hubungan pribadi dengan Tuhan Yang Maha Esa
6. Mengembangkan sikap saling menghormati menjalankan kebebasan beribadah sesuai agama dan kepercayaan masing- masing.
7. Tidak memaksakan suatu agama atau kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain.
Pancasila sila ke 2 yaitu Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, pada butir ke dua juga memuat tentang perlindungan terhadap keberagaman beragama. Butir ke 2 dari sila tersebut menyatakan bahwa mengakui
13
persamaan derajad, hak dan kewajiban asasi setiap manusia tanpa membeda- bedakan suku, keturunan, agama, jenis kelamin, warna kulit, dan sebagainya.
Undang-Undang Dasar 1945 pasal 28 dan 29 dengan tegas menyatakan tentang keberagaman dan kebebasan hidup beragama. Secara jelas pasal 28 E menyatakan sebagai berikut: ayat (1) Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali. Ayat (2) Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya. Ayat (3) Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat.17
Sebagai seorang muslim, dalam menerima ideologi multikultural ini tentulah memerlukan landasan terutama dari al-qur’an dan hadits, menurut al- qur’an disebutkan dalam Q.s al-Hujurat ayat 1318:
Artinya: “Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.
Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”
Secara eksplisit (jelas) ayat di atas menunjukkan adanya kesadaran yang tertuang dalam al-Qur’an bahwa manusia sejak awal penciptaannya
17 https://www.fkubsidoarjo.com/opini/indonesia-masyarakat-multikultural/. (02 Desember 2018)
18 Al-Qur’an, 49:15.
memang sengaja dirancang oleh Allah terdiri dari beragam suku dan bangsa.
Tujuannya adalah agar terjadi interaksi dan komunikasi diantara mereka (taaruf) serta berkompetisi menjadi yang terbaik disisi Allah, yaitu orang yang bertaqwa. Sehingga dapat pula dipahami adanya pesan dibalik ayat tadi yang menunjukkan bahwa Islam mengakui adanya pluralitas dalam masyarakat.
Sebagaimana uraian diatas, keragaman budaya, adat istidat dan agama tidak dapat dihindari. Sebagaimana yang terjadi di desa Sukoreno, adanya perbedaan agama antara agama Islam, Hindu, dan Kristen bukanlah hal yang harus dimonokulturalkan melainkan sebuah kekayaan budaya yang harus kita sikapi secara multikulturalisme. Karena dengan pandangan multikulturalisme ini suatu desa yang memiliki beragam budaya dan agama akan dapat menciptakan kehidupan yang harmonis.
Karena bukan hanya Islam, agama Hindu dan Kristen juga mengajarkan ajaran kedamaian dan kerukunan antar umat beragama.
Bersumber dari kitab susastra Hindu yang mengajarkan bahwa agama Hindu menganjurkan untuk senantiasa hidup rukun dan damai (mewujudkan kedamaian) antar sesama manusia dan bahkan antar sesama ciptaan-Nya.
Umat Hindu dalam berdoa sehari-hari memanjatkan pulpa mantra yang universal untuk kebahagiaan semua mahluk, “sarva pirani hitankarah”, semoga semua mahluk (yang bernafas) senantiasa sejahtera, demikian pula santi mantra atau subashita mantra berikut “sarve sukhino bhavantu, sarva santu niramayah, sarve bhadrani psyantu, ma kascid duhkha bhag bhavet”, tegas menyatakan semoga semuanya memperoleh kedamaian, semoga tumbuh
15
saling pengertian dan semoga semuanya bebas dari penderitaan. Pandangan ini dilandasi oleh ajaran suci Veda yang menyatakan bahwa “semua mahluk sesungguhnya bersaudara“ (vasudhaiva kutumbhakam). Kesadaran terhadap persaudaraan dan persatuan semesta ini menuntut kepada umat umat manusia untuk senantiasa mengembangkan kerukunan hidup yang dinamis.19
Dalam menjaga kehidupan yang damai dan toleran, agama Kristen juga mengajarkan tentang ajaran tersebut. Bersumber dari suatu cerita ketika Yesus dan murid-muridnya terkepung di taman Getsemane, Petrus (seorang dari murid Yesus) menghunus pedang dan mengayunkannya kepada seorang prajurit yang mengepung mereka, hingga telinga prajurit itu terputus. Dengan keras Yesus menegur Petrus “masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barang siapa yang menggunakan pedang akan binasa dengan pedang.” Berdasarkan cerita diatas dapat kita pahami bahwa Yesus melarang pengikutnya untuk melakukan kekerasan, bahkan kepada musuhnya sendiri, hal ini merupakan salah satu alasan Yesus di sebut sebagai “Raja Damai”. Selain cerita diatas ada juga salah satu khotbah Yesus di bukit mengenai upaya mengatasi kekerasan tanpa kekerasan. Dikatakan: “kamu telah mendengar firman: mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi aku berkata kepadamu: janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, malainkan siapapun yang menampar pipi kananmu berilah juga kepadanya pipi kirimu. Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapapun yang
19 Muhaimin, Damai di Dunia, Damai untuk Semua Perspektif Berbagai Agama (Jakarta: Proyek Peningkatan Pengkajian Kerukunan Umat Beragama, Puslitbang Kehidupan Beragama, Badan Litbang Agama Dan Diklat Keagamaan, Departemen Agama RI, 2004), 43
memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Dari ayat diatas ada yang menafsirkan bahwa maksud dari ucapan
“tampar pipi kanan berikan pipi kirimu” adalah bahwa ada batasan dalam kesabaran. Bahwasannya boleh membalas kekerasan dengan kekerasan dengan bersyarat, yaitu apabila sudah melampaui batas kesabaran.20
Selanjutnya peneliti melakukan pra penelitian untuk mendalami apa yang hendak di teliti dan untuk mengetahui seperti apa situasi yang tergambar di Desa Sukoreno. Sesuai arahan dari bapak Kepala Desa, peneliti bertanya kepada bapak Habib Ansori. Menrut beliau, desa Sukoreno ini memang unik, apalagi dalam hal beragama. Banyak sekali kejadian yang mencerminkan sikap toleransi dan kesadaran akan pentingnya nilai-nilai multikulturalisme antar umat beragama, sebagaimana yang sudah narasumber alami. Suatu ketika pernah ada kejadian tetangga saya yang beragama Hindu meninggal dunia, dan untuk acara selamatan bukan hanya warga yang se-agama, ada beberapa orang muslim yang diundang untuk mengikuti acara selamatan tersebut, dan tuan rumah tidak mengharuskan saya untuk mendoakan si mayit sesuai dengan ajaran agama yang mereka anut (Hindu) tetapi kita dipersilahkan untuk mendoakan si mayit dengan ajaran agama kita masing- masing. Bahkan untuk urusan penyembelihan hewan yang digunakan untuk merayakan selamatan, warga yang nonmuslim meminta tolong kepada warga muslim untuk menyembelihkan hewan tersebut, tentulah hal seperti ini didasarkan atas kesadaran warga dan demi menjaga solidaritas kerukunan
20 Muhaimin, Damai di Dunia, Damai untuk Semua Perspektif Berbagai Agama, 136
17
antar umat beragama. Selain itu ada juga sebuah keunikan yang tergambar di Desa Sukoreno yakni sepasang suami istri yang terbentuk dari seorang yang beragama Islam dan Kristen, keluarga ini di karuniai 3 orang anak, anak pertama dan terahir menganut ajaran agama Kristen sedangkan anak kedua beragama Islam.21 Selain itu peneliti juga melakukan obrolan ringan dengan Ibu Sulis penjual es campur di Desa Sukoreno, menurut Bu Sulis Sukoreno ini desa yang tentram. Tidak pernah ada konflik atau permusuhan meskipun ada beberapa agama yang dianut oleh warga, tidak seperti di TV-TV ungkap beliau. Dan beliau kebetulan mempunyai saudara yang beragama Hindu, jadi ketika ada selamatan seperti mau puasa atau hari besar Islam lainnya beliau juga mengantarkan makanan kepada saudaranya yang beragama Hindu tersebut. Begitu juga saudaranya, ketika ada selamatan pada hari besar Hindu atau yang lainnya Ibu sulis juga di beri makanan sebagai tanda tasyakuran atau selamatan. 22
Desa Sukoreno memang desa yang mempunyai julukan sebagai desa pancasila, hal ini disampaikan oleh Bupati Jember yaitu Dr. Hj. Faida, MMR
“karena Jember ini adalah masyarakat yang bhineka tunggal ika kegiatan dari kebudayaan seperti ini adalah hal penting di Kabupaten Jember. Saya minta stasiun TV yang meliput disini persiapkan bahwa Desa Sukoreno ini memang luar biasa, pawai ogoh-ogoh ini memang luar biasa. Kalau boleh disebut, inilah yang namanya Desa Pancasila”.23
21 Habib Ansori, Wawancara, Sukoreno, 5 Desember 2018.
22 Sulis, Wawancara, Sukoreno, 6 Mei 2019
23 Dokumentai, Sukoreno, 2018.
Apa yang disampaikan oleh Bupati ini tentunya bukan sekedar omong kosong belaka, karena jika kita telaah lagi Desa Pancasila memang julukan yang tepat untuk salah satu desa yang ada di ujung barat Kabupaten Jember ini. Berawal dari keragaman Agama sampai pada keragaman budaya ada di Desa Sukoeno ini, contoh sederhana budaya untuk merayakan hari besar agama tertentu, seperti Natal untuk umat Kristen, Pawai Ogoh-ogoh untuk umat Hindu, dan Hari raya Idul Fitri untuk umat Islam. Beragam budaya yang peneliti sebutkan diatas telah sama-sama diikuti oleh warga masyarakat baik yang seagama maupun yang berbeda agama, dan tidak pernah salah satu acara kebudayaan dari salah satu agama yang mendapatkan kecaman dari warga agama lain atupun dari pemerintah desa itu sendiri.
Selanjutnya untuk memperbanyak wawasan peneliti dipersilahkan untuk mengikuti acara kunjungan dari sekolahan SMA Pahlawan dan SMK Sunan Ampel di desa Sukoreno dengan tema “diskusi lintas agama” yang dilaksanakan pada hari Minggu, 9 Desember 2018. Dalam acara tersebut banyak yang kami dapatkan khususnya sebagai bahan penelitian, karena bukan hanya tokoh agama Islam yang menjadi narasumber dari acara tersebut, tetapi juga ada perwakilan dari agama Hindu, Kristen, dan Sapta Dharma.
Memang benar kalau desa Sukoreno disebut sebagai miniatur Indosesia sebagaimana yang dikatakan oleh bapak Sucipto24 selaku tokoh adat di desa Sukoreno yang beragama Hindu, beliau memaparkan bahwa alasan keharmonisan hubungan antar umat beragama di desa ini karena berbagai
24 Sucipto, Wawancara, Sukoreno, 9 Desember 2018.
19
macam kegiatan itu di lakukan berdasarkan kepentingan persatuan dan kerukunan antar warga, tidak ada yang membeda-bedakan hak lain agama.
Sejalan dengan yang disampaikan bapak Sucipto, bapak Sur sebagai perwakilan dari tokoh agama Islam menegaskan bahwa perbedaan itu merupakan sunnatullah dan tidak dapat dihindari, dan dalam Islam juga diterangkan bahwa tidak ada paksaan dalam beragama, maka sebagai hamba kita harus saling menjaga dan menghormatinya. Bahkan salah satu tokoh agama Hindu yakni bapak Suroto, beliau bercerita bahwa anaknya sejak usia dini tidak pernah dilarang untuk bergaul dengan siapapun yang berbeda agama, menurut beliau semua agama pasti mengajarkan nilai-nilai kehidupan yang baik, dan sampai dalam hal pendidikan beliau tidak mewajibkan anaknya untuk menempuh di lembaga yang berbasis Hindu dan anak beliau merupakan sarjana lulusan UIJ (Universitas Islam Jember) tanpa tergoyahkan keyakinannya.
Membahas keunikan desa Sukoreno akan memerlukan waktu yang lebih panjang dan kertas yang lebih banyak untuk menuliskan, maka dari itu melalui berbagai informasi diatas peneliti ingin mengetahui sejauh mana
“Peran Tokoh Agama dalam Menjaga nilai-nilai pendidikan Multikkulturalisme Agama di Desa Sukoreno Kecamatan Umbulsari Kabupaten Jember”
B. Fokus Penelitian
1. Bagaimana peran tokoh agama dalam menjaga nilai persaudaraan di Desa Sukoreno Kecamatan Umbulsari Kabupaten Jember?
2. Bagaimana peran tokoh agama dalam menjaga nilai toleransi di Desa Sukoreno Kecamatan Umbulsari Kabupaten Jember?
3. Bagaimana peran tokoh agama dalam menjaga nilai gotong royong di Desa Sukoreno Kecamatan Umbulsari Kabupaten Jember?
4. Bagaimana peran tokoh agama dalam menjaga nilai kerukunan di Desa Sukoreno Kecamatan Umbulsari Kabupaten Jember?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan fokus penelitian diatas, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan:
1. Peran tokoh agama dalam menjaga nilai toleransi di Desa Sukoreno Kecamatan Umbulsari Kabupaten Jember.
2. Peran tokoh agama dalam menjaga nilai kerukunan di Desa Sukoreno Kecamatan Umbulsari Kabupaten Jember.
3. Peran tokoh agama dalam menjaga nilai gotong royong di Desa Sukoreno Kecamatan Umbulsari Kabupaten Jember.
4. Peran tokoh agama dalam menjaga nilai persaudaraan di Desa Sukoreno Kecamatan Umbulsari Kabupaten Jember.
D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pemikiran terkait peran tokoh agama dalam menjaga multikulturalisme agama.
21
2. Manfaat Praktis
Penelitian ini memiliki beberapa manfaat praktis bagi beberapa pihak yaitu:
a. Bagi Peneliti
1) Menambah pengetahuan tentang penelitian dan karya tulis ilmiah yang baik sebagai bekal penulisan karya ilmiah selanjutnya.
2) Menambah wawasan dan pengetahuan baik secara praktis maupun teoritis terkait peran tokoh agama dalam membina multikulturalisme agama pada masyarakat multikultur.
b. Bagi Tokoh Agama
1) Hasil penelitian ini di harapkan dapat menambah referensi bagi tokoh agama dalam meningkatkan kerukunan antarumat beragama di Jember.
2) Dapat di gunakan sebagai sumber informasi pengembangan wacana segar tentang peningkatkan kerukunan antarumat beragama di Jember.
c. Bagi Mahasiswa IAIN Jember
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai tambahan literatur atau referensi dan memberikan kontribusi bagi mahasiswa, khususnya fakultas tarbiyah dan ilmu keguruan yang ingin mengembangkan kajian tentang peran tokoh agama dalam menjaga multikulturalisme agama.
E. Definisi Istilah
1. Peran Tokoh Agama
Peranan berarti tidakan yang dilakukan oleh seseorang dalam suatu peristiwa. Peran juga dapat disebutkan sebagai aspek dinamis kedudukan (status). Apabila seseorang melakukan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya, maka dia menjalankan suatu peranan.
Sedangkan tokoh adalah orang yang terkemuka/terkenal atau orang yang berhasil dibidangnya yang ditunjukkan dengan karya-karya monumental dan mempunyai pengaruh pada masyarakat sekitarnya serta dapat dijadikan sebagai panutan.
Untuk menentukan kualifikasi sang tokoh, kita dapat melihat karya dan aktivitasnya. Misalnya tokoh berskala regional dapat dilihat dari segi apakah ia menjadi pengurus organisasi atau pemimpin lembaga ditingkat regional, dengan pikiran dan karya nyata yang semuanya itu mempunyai pengaruh yang signifikan bagi peningkatan kualitas masyarakat regional.
Disamping itu, ia harus memiliki keistimewaan tertentu yang berbeda dengan orang lain yang sederjat pada tingkat regional, terutama perbedaan keahlian dibidangnya. Dengan kualifikasi seperti itu, maka ketokohan dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.
Dalam bahasa Indonesia pada umumnya “agama” berasal dari bahasa sansekerta yang artinya tidak kacau, diambil dari dua suku kata a berarti tidak dan gama berarti kacau. Secara lengkapnya agama ialah peraturan yang mengatur manusia agar tidak kacau.
23
Dari pengertian diatas, maka dapat di simpulkan, pengertian peran tokoh agama adalah seseorang yang berperan dalam suatu peristiwa yang berkaitan dengan agama tertentu dan mempunyai keahlian tertentu yang berbeda dengan orang lain yang sederajat dalam bidang agama tertentu.
2. Multikulturalisme Agama
Multikulturalisme adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan pandangan seseorang tentang ragam kehidupan di dunia, ataupun kebijakan kebudayaan yang menekankan tentang penerimaan terhadap adanya keragaman, dan berbagai macam budaya (multikultural) yang ada dalam kehidupan masyarakat menyangkut nilai-nilai, sistem, budaya, kebiasaan, dan politik yang mereka anut.
Multikulturalisme dapat juga dipahami sebagai sebuah filosofi — terkadang ditafsirkan sebagai ideologi yang menghendaki adanya persatuan dari berbagai kelompok kebudayaan dengan hak dan status sosial politik yang sama dalam masyarakat modern. Istilah multikultural juga sering digunakan untuk menggambarkan kesatuan berbagai etnis masyarakat yang berbeda dalam suatu negara.
Jadi multikulturalisme agama adalah suatu sudut pandang tentang kesediaan menerima kelompok lain secara sama tanpa memperdulikan perbedaan nilai-nilai, sistem, budaya, kebiasaan, dan politik suatu agama tertentu. Maka sebagai bangsa Indonesia kita perlu menerapkan paham multikulturalisme untuk menjaga kehidupan berbangsa dan bernegara, sehingga tercipta pola hidup yang harmonis antar suku, ras, dan agama.
F. Sitematika Pembahasan
Secara keseluruhan penelitian ini membahas Peran Tokoh Agama Dalam Menjaga Multikulturalisme Agama Di Desa Sukoreno Kecamatan Umbulsari Kabupaten Jember. Adapun sistematika penulisan pada penelitian ini adalah:
BAB I: menerangkan bab pendahuluan dengan subbab tentang latar belakang pemilihan topik penelitian, fokus penelitian, tujuan penelitian, serta manfaat penelitian yang terdiri dari manfaat teoritis dan manfaat praktis.
BAB II: menjelaskan tentang kajian pustaka yang terdiri dari kajian terdahulu yang relevan dengan judul penelitian yang di dalamnya termuat persamaan serta perbedaan antara penelitian yang bersangkutan dengan penelitian terdahulu. Selanjutnya, menerangkan tentang kerangka teori.
BAB III: murupakan metode penelitian yang memuat tentang pendekatan dan jenis penelitian, lokasi penelitian, subjek penelitian, sumber data, teknik pengumpulan data, analisis data, dan keabsahan data yang diperoleh.
BAB IV: merupakan isi tentang hasil penelitian dan analisis yang secara umum pada subbab ini menjelaskan tentang peran tokoh agama Islam, Kristen, dan Hindu dalam menjaga multikulturalisme agama di desa sukoreno kecamatan umbulsari kabupaten jember, dalam subbab ini peneliti menguraikan hasil penelitian yang telah didapatkan dengan berlandaskan teori-teori yang telah Peneliti uraikan dipembahasan awal.
BAB V: merupakan penutup, yang menjelaskan tentang kesimpulan dari hasil penelitian, dan sebagai akhir dari penelitian ini ditutup dengan saran-saran.
25 BAB II
KAJIAN KEPUSTAKAAN A. Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu adalah upaya peneliti untuk mencari perbandingan dan selanjutnya untuk menemukan inspirasi baru untuk penelitian selanjutnya.
Dalam hal ini peneliti mencoba untuk menggali terhadap beberapa skripsi atau karya ilmiah lain yang relevan dengan penelitian yang dilakukan, diantaranya sebagai berikut:
1. Nailul Irmayanti Khotimatul Afifah Mahasiswa STAIN Jember (2013): “Model Toleransi Hubungan Sosial antar Umat Beragama di Dusun Kaliagung Desa Kendalrejo Kecamatan Tegaldlimo Kabupaten Banyuwangi”
Skripsi tersebut menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif.
Sementara hasil penelitian tersebut ialah: 1) Secara konseptual, landasan teologi atau pemahaman keagamaan masyarakat dusun Kaliagung desa Kendalrejo kecamatan Tegaldlimo kabupaten Banyuwangi termasuk kategori agree in disagreement yaitu antara umat Islam dan Hindu secara tanpa diperintah telah menyetujui kerukunan dengan berprinsipkan pad pemeliharaan eksistensi semua agama yang ada di dusun Kaliagung. 2) dalam menjaga hubungan sosial yang rukun dan harmonis dalam kehidupan masyarakat di dusun kaliagung adalah dengan menanamkan sikap yang dipengaruhi oleh etika jawa, yaitu sikap terbuka (extrofet), tepo sliro, serta lebih bersikap suka mengalah dan pengertian untuk
menghindari konflik antar agama. 3) secara umum hubungan sosial di dusun Kaliagung telah mengarah pada bentuk interaksi asosiatif yang diwujudkan dalam bentuk kerjasama dan akomodasi.25
Persamaan dan Perbedaan
Persamaan dari penelitian sekarang dengan penelitian yang terdahulu adalah sama-sama membahas tentang multikultural agama, dalam metod penelitiannya juga sama-sama penelitian kualitatif dan menggunakan pendekatan lapangan atau field research. sedangkan perbedaannya adalah pada penelitian sekarang lebih memfokuskan pada peran tokoh agama dalam menanamkan nilai-nilai multikultural baik agama Islam, Kristen, maupun Hindu. Sedangkan penelitian terdahulu lebih memfokuskan dari sisi konsep, dan cara menjaga hubungan antar umat beragama.
2. Yunia Muhtar Dewi, Mahasiswa IAIN Jember (2016): “Peran Tokoh Agama dalam Meningkatkan Harmoni Antara Umat Islam dan Hindu di Desa Kandangtepus Kecamatan Senduro Kabupaten Lumajang”
Penelitian ini merupakan kualitatif dengan jenis etnografi.
Sementara hasil penelitiannya yaitu: 1) Peran tokoh agama dalam meningkatkan kerukunan umat Islam dan Hindu di desa Kandangtepus. 2) Peran tokoh agama dalam meningkatkan toleransi antara umat Islam dan Hindu di desa Kandangtepus diantaranya melalui peran sosial dan keagamaan meliputi ajakan kepada masyarakat untuk bersikap damai dan
25 Nailul Irmayanti Khotimatul Afifah, “Skripsi : Model Toleransi Hubungan Sosial antar Umat Beragama di Dusun Kaliagung Kendalrejo Tegaldlimo Banyuwangi 2013” (STAIN Jember: Tidak diterbitkan, 2013).
27
tidak mendoktrin kepada siapapun untuk tokoh agama Hindu. 3) Media pendidikan yang digunakan tokoh agama dalam meningkatkan kerukunan antara umat Islam dan Hindu di desa Kandangtepus meliputi media televisi, melalui kegiatan yasinan, pengajian, dan muslimatan untuk tokoh agama Islam.26
Persamaan dan Perbedaan
Persamaan dari penelitian sekarang dengan penelitian yang terdahulu adalah sama-sama membahas tentang multikultural antar agama.
Sedangkan perbedaannya adalah pada penelitian sekarang lebih memfokuskan pada peran tokoh agama dalam menanamkan nilai-nilai multikultural baik agama Islam, Kristen, maupun Hindu, Sedangkan penelitian terdahulu lebih memfokuskan pada agama Islam dan Hindu saja, dilihat dari ojek penelitiannya penelitian terdahulu meneliti di Desa Kandangtepus Kecamtan Senduro abupaten Lumajang sedangkan penelitia yang sekarang menelti di Desa Sukrno Kecamatan Umbulsari.
3. Jamilah, Mahasiswa IAIN Jember (2017): “ Peran Tokoh Agama Islam dalam Menanamkan Pendidikan Agama Islam Berbasis Multikultural di desa Sukoreno kecamatan Umbulsari kabupaten Jember”
Penelitian ini merupakan kualitatif dengan jenis penelitian fenomenologis. Sementara hasil penelitiannya yaitu: 1) Peran dan fungsi tokoh agama Islam dalam menanamkan pendidikan agama Islam berbaasis
26 Yunia Muhtar Dewi, “Skripsi : Peran Tokoh Agama dalam Meningkatkan Harmoni Antara Umat Islam dan Hindu di Kandangtepus Senduro Lumajang 2016” (IAIN Jember: Tidak diterbitkan, 2016)
multikultural dalam kehidupan masyarakat di desa Sukoreno kecamatan Umbulsari diantaranya sebagai motivator, instruktif, dan partisipasi. 2) Persepsi tokoh agama Islam tentang pendidikan agama Islam di desa Sukoreno kecamatan Umbulsari pendidikan agama Islam berbasis multikultural yaitu dikenal dengan istilah toleransi dalam Islam. Di mana dalam toleransi ini kita saling menghormati, menghargai dan membiarkan orang lain untuk menganut kepercayaan masing-masing. 3) Faktor pendukung dan penghambat tokoh agama Islam dalam menanamkan pendidikan agama Islam berbasis multikultural di desa Sukoreno kecamatan Umbulsari, yaitu : a) faktor pendukung meliputi sikap tasamuh dan menciptakan kedamaian. b) Faktor penghambat meliputi masuknya aliran baru dan eksklusifisme.27
Persamaan dan Perbedaan
Persamaan dari penelitian sekarang dengan penelitian yang terdahulu adalah sama-sama membahas tentang multikultural agama dan dari sisi objek penelitiannya juga sama-sama meneliti di Desa Sukorno Kecamatan Umbulsarai Kabupaten Jember. Sedangkan perbedaannya adalah pada penelitian sekarang lebih memfokuskan pada peran tokoh agama dalam menanamkan nilai-nilai multikultural baik agama Islam, Kristen, maupun Hindu. Sedangkan penelitian terdahulu lebih
27 Jamilah, “Peran Tokoh Agama Islam dalam Menanamkan Pendidikan Agama Islam Berbasis Multikultural di desa Sukoreno kecamatan Umbulsari kabupaten Jember,” (IAIN Jember: Tidak diterbitkan, 2017).
29
memfokuskan dari sisi penanaman pendidikan Agama Islam berbasis multikulturalisme.
Dari ketiga penelitian terdahulu tersebut melihat persamaan dan perbedaan yang ada jelas penelitian yang sekarang berbeda dengan penelitian terdahulu. Oleh karena itu peneliti mengambil topik yang berjudul “Peran Tokoh Agama Dalam Menjaga Multikulturalisme Agama di Desa Sukorno Kecamatan Umbulsari Kabupaten Jember”.
B. Kajian Teori
1. Peran Tokoh Agama
Dalam memelihara harmoni antar umat beragama, peranan tokoh agama dalam kerukunan umat beragama sangat besar pengaruhnya hal ini karena tokoh agama yang berhubungan langsung dengan para pemeluk agama (grassroot), segala bentuk petuah ataupun anjurannya akan sangat diperhatikan dan dilaksanakan karena para pemeluk agama sangat yakin bahwa apa yang disampaikan merupakan salah satu ajaran agama yang diyakininya. Diantara peran tokoh agama akan dijelaskan secara singkat pada pembahasan berikut ini :
a. Tokoh Agama Sebagai Motivator
Tidak dapat disangkal bahwa peran para tokoh agama sebagai motivator sudah banyak diakui dan terbukti di masyarakat. Dengan keterampilan dan kharisma yang dimilikinya, para pemimpin agama telah berperan aktif dalam mendorong suksesnya kegiatan-kegiatan kerukunan umat beragama. Dalam pandangan para pemimpin agama,
kegiatan kerukunan umat beragama merupakan suatu kebutuhan yang tak terelakkan. Pandangan seperti inilah yang juga mereka tanamkan kepada masyarakat dalam rangka mendorong partisipasinya terhadap kegiatan kerukunan antar umat beragama.
b. Tokoh Agama Sebagai Pembimbing Moral
Peran kedua yang dimainkan para pemimpin agama di masyarakat dalam kaitannya dengan kegiatan pembangunan adalah peran yang berkaitan denagan upaya-upaya menanamkan prinsip- prinsip etik dan moral masyarakat. Dalam kenyataannya, kegiatan pembangunan umumnya selalu menuntut peran aktif para pemimpin agama dalam meletakkan landasan moral, etis, dan spritual serta peningkatan pengalaman agama, baik dalam kehidupan pribadi maupun sosial. hal ini dimaksudkan agar kegiatan pembangunan memperoleh kesejatiannya dengan cara berpijak pada landasan etis dan moral. Berangkat dari landasan etis dan moral inilah, kegiatan pembangunan lalu diarahkan pada upaya pemulihan harkat dan martabat manusia, harga diri dan kehormatan individu, serta pengakuan atas kedaulatan seseoarang atau kelompok untuk mengembangkan diri sesuai dengan keyakinan dan jati diri serta bisikan nuraninya. Disinilah kemudian nilai-nilai religius yang ditanamkan para pemimpin agama memainkan peranan penting dalam kegiatan pembangunan.
31
c. Tokoh Agama Sebagai Mediator
Peran lain para pemimpin agama yang tidak kalah pentingnya, juga dalam kaitannya dengan kegiatan pembangunan dimasyarakat adalah sebagai wakil masyarakat dan sebagai pengantar dalam menjalin kerja sama yang harmonis diantara banyak pihak dalam rangka melindungi kepentingan-kepentingannya di masyarakat dan lembaga-lembaga keagamaan yang dipimpinnya. Untuk memebela kepentingan-
kepentingan ini, para tokoh agama biasanya memposisikan diri sebagai mediator diantara beberapa pihak dimasyarakat, seperti antara
masyarakat dengan elit penguasa dan antara masyarakat miskin dengan kelompok orang-orang kaya.28
2. Pengertian Multikulturalisme
Walaupun multikulturaisme itu telah digunakan oleh pendiri bangsa ini untuk mendesain kebudayaan indonesia, bagi pada umumnya orang Indonesia masa kini multikulturalisme adalah sebuah konsep yang masih asing. Karena itulah, perlu adanya tulisan-tuliasan yang lebih banyak oleh para ahli yang berkompeten mengenai multikulturalisme di media massa daripada yang sudah ada selama ini. Hal ini di maksudkan untuk membumikan wacana multikulturalisme yang masih menggantung tinggi dilangit.
Konsep multkulturalisme tidak dapat di samakan dengan konsep keanekaragaman suku bangsa atau kebudayaan yang menjadi ciri
28Dadang Kahmad. Sosiologi Agama (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya2002). 138.
masyarakat majemuk (plural society). Karena meltikulturaisme menekankan keanekaragaman dalam kesederajatan. Mengkaji multikulturalisme tidak bisa dilepaskan dari permasalahan yang mendukung ideologi ini, yaitu politik dan demokrasi, keadilan dan penegakan hukum, kesempatan kerja dan berusaha, HAM, hak budaya komuniti dan golongan minoritas, prinsip prinsip etika dan moral, juga tingkat dan mutu produktivitas.
Secara etimologi, multikultural berasal dari kata multi, yang artinya banyak/beragam dan kultural, yang berarti budaya dan isme yang berarti aliran atau paham. Keragaman budaya itulah arti dari multikultural.
Keragaman budaya mengindikasikan bahwa terdapat berbagai macam budaya yang memiliki ciri khas tersendiri, yang saling berbeda dan dapat dibedakan satu sama lain. Paham atau ideologi mengenai multikultural disebut dengan multikulturalisme. Multikulturalisme pada dasarnya adalah pandangan dunia yang kemudian dapat diterjemahkan dalam berbagai kebijakan kebudayaan yang menekankan penerimaan terhadap realitas keagamaan, pluralitas, dan muktikultural yang terdapat dalam kehidupan masyarakat.
Multikullturalisme secara etimologis digunakan pada tahun 1950- an di Kanada. Menurut Longer Oxford Dictionary istilah
“Multiculturalism” maerupakan deviasi dari kata “Multicultural”. Kalimat ini menyitir dari surat kabar Kanada, Montreal times yang
33
menggambarkan masyarakat Montreal sebagai masyarakat “multicultural”
dan ”multi-lingual”.29
Untuk memahami Multikulturalisme dibutuhkan alternatif pemaknaan tentang ideologi. Ideologi merupakan sistem kepercayaan yang komprehensif yang diikuti oleh berbagai kelompok sosial dan dengan berbagai macam alasan. Mutikulturalisme dalam pengertian yang lebih sesuai dan diterima untuk kebutuhan kontemporer adalah bahwa orang- orang dari berbagai kebudayaan yang beragam secara permanen hidup berdampingan satu dengan lainnya; banyak versi multikulturalisme menekankan pentingnya belajar tentang kebudayaan-kebudayaan lain, mencoba memahami mereka secara penuh dan empatik; multikulturalisme mengimplikasikan suatu keharusan untuk mengapresiasi kebudayaan- kebudayaan lain dan menilainya secara positif.30
Multikulturalisme dikalangan orang cendekiawan dianggap sebagai kebijaksanaan untuk mencapai tatanan masyarakat dimana warga yang berasal dari berlain-lain agama, suku, ras, adat atau kebudayaan dapat hidup bersama-sama dan membaur dalam pergaulan sehari-hari dengan damai dan sejahtera tanpa mengorbankan ciri-ciri khasnya masing- masing.31
29 Mundzier Suparta, Islamic Multicultural Education: Sebuah Refleksi atas Pendidikan Agama Islam di Indonesia (Jakarta: Al-Ghazali Center, 2008), 25
30Zakiyuddin Baidhawi, Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural (Jakarta: Erlangga, 2005), 2
31Hasna, Mufaida, Menumbuhkan Sikap Multikultural Melalui Internalisasi Nilai-Nilai Multikultural Dalam Pembelajaran, Vol 4 (Bandung: UPI Bandung, 2014), 15
Sebenarnya, ada tiga istilah yang kerap digunakan secara bergantian untuk menggambarkan masyarakat yang terdiri keberagaman tersebut –baik keberagaman agama, ras, bahasa, dan budaya yang berbeda- yaitu pluralitas (plurality), keragaman (diversity), dan multikultural (multicultural). Ketiga ekspresi itu sesungguhnya tidak merepresentasikan hal yang sama, walaupun semuanya mengacu kepada adanya
“ketidaktunggalan”. Konsep pluralitas mengandaikan adanya ’hal-hal yang lebih dari satu’ (many); keragaman menunjukkan bahwa keberadaan yang
’lebih dari satu’ itu berbeda-beda, heterogen, dan bahkan tak dapat disamakan. Dibandingkan dua konsep terdahulu, multikulturalisme sebenarnya relatif baru. Secara konseptual terdapat perbedaan signifikan antara pluralitas, keragaman, dan multikultural. Inti dari multikulturalisme adalah kesediaan menerima kelompok lain secara sama sebagai kesatuan, tanpa memperdulikan perbedaan budaya, etnik, jender, bahasa, ataupun agama. Apabila pluralitas sekadar merepresentasikan adanya kemajemukan (yang lebih dari satu), multikulturalisme memberikan penegasan bahwa dengan segala perbedaannya itu mereka adalah sama di dalam ruang publik. Multikulturalisme menjadi semacam respons kebijakan baru terhadap keragaman. Dengan kata lain, adanya komunitas- komunitas yang berbeda saja tidak cukup; sebab yang terpenting adalah bahwa komunitas-komunitas itu diperlakukan sama oleh negara. Oleh karena itu, multikulturalisme sebagai sebuah gerakan menuntut pengakuan
35
terhadap semua perbedaan sebagai entitas dalam masyarakat yang harus diterima, dihargai, dilindungi serta dijamin eksisitensinya.32
Azyumardi Azra mengemukakan bahwa multikulturalisme adalah pandangan dunia yang dapat diterjemahkan dalam berbagai kebijakan kebudayaan yang menekankan tentang penerimaan terhadap realitas keagamaan, pluralitas, dan multikultural yang terdapat dalam kehidupan masyarakat. Multikulturalisme dapat juga dipahami sebagai pandangan dunia yang diwujudkan dalam kesadaran politik.
Sedangkan Lawrence A Blum, mengemukakan definisi multikulturalisme sebagai berikut: “ multikulturalisme meliputi sebuat pemahaman, penghargaan dan penilaian atas budaya seseorang, serta sebuah penghormatan dan keingin tahuan tentang budaya etnis orang lain. Ia meliputi sebuah penilaian terhadap budaya-budaya orang lain, bukan dalam arti menyetujui seluruh aspek dari budaya tersebut, melainkan mencoba mencoba melihat bagaimana sebuah budaya yang asli dapat mengekspresikan nilai bagi anggota-anggotanya sendiri.33
Selanjutnya Suparlan memaparkan multikulturalisme merupakan sebuah ideologi yang mengakui dan mengagungkan perbedaan dalam kesederajatan, baik secara individual maupun secara kebudayaan.
A. Rifai Harahap menjelaskan pengertian multikulturalisme, yaitu mencakup gagasan, cara pandang, kebijakan, penyikapan, dan tindakan oleh masyarakat suatu negara yang majemuk dari segi etnis, budaya,
32 Scott Lash dan Mike Featherstone (ed.)., Recognition And Difference: Politics, Identit, Multiculture (London: Sage Publication, 2002), 3.
33 Lawrence, A Blum, Antirasisme, Multikulturalisme, dan Komunitas Antar Ras,16