• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teknik Analisis Data

Dalam dokumen skripsi - Universitas Muhammadiyah Makassar (Halaman 42-45)

BAB III METODE PENELITIAN

F. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan dalam mengelola data adalah menggunakan teknik analisis data hasil observasi dan wawancara.

Setelah data dikumpulkan, maka selanjutnya dilakukan analisis data menyusun dan memiliph sampel, dimana memiliki table kriteria dan frekuensi dan presentase secara sederhana, baik data observasi, wawancara, ataupun informan dari maupun data kuesioner dari responden/masyarakat.

G. Pengabsahan Data

Validasi data sangat mendukung hasil akhir dari penelitian ini, oleh kareanya diperlukan teknik untuk memeriksa keabsahan data, keabsahan data dalam penelitian ini diperiksa dengan menggunakan teknik trigulasi, adapun yang dimaksud dari teknk trigulasi yaitu sebagai berikut :

a. Triangulasi sumber

Triangulasi sumber adalah merupakan cara yang dilakukan untuk meningkatkan kepercayaan penelitian dengan mencari data dari sumber yang beragam yang masih terikat satu sama lain, dalam hal ini peneliti perlu melakukan eksplorasi untuk mengecek kebenaran data dari berbagai sumber.

b. Triangulasi teknik

Triangulasi teknik adalah penggunaan beragam teknik pengungkapan data yang dilakukan kepada sumber data, menguji kredibilitas dengan trigulasi teknik yaitu mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda. Misalnya, setelah peneliti memperoleh data wawancara yang diperoleh dari informan maka data tersebut akan di cek kebenarannya dengan mengecek langsung ke lapangan sesuai data uang di peroleh

c. Triangulasi waktu

Triangulasi waktu adalah menguji kredibilitas data dengan dengan tringulasi waktu dilakukan dengan cara mengumpulkan data pada waktu yang berbeda, dimana peneliti akan melakukan wawancara pada malam hari dan bisa mengulangi di pagi hari dan mengeceknya kembali disiang hari atau begitu pula sebaliknya dimulai pada pagi hari atau siang hari.

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Kabupaten Bulukumba adalah merupakan salah satu Kabupaten di bagian selatan Sulawesi Selatan yang berjarak kurang lebih 153 Km dari ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan terletak diantara 05° 20´ - 05° 40´ Lintang Selatan (LS) dan 119° 58´ - 120° 28´ Bujur Timur (BT) dengan batas-batas administrasi:

 Sebelah Utara : berbatasan dengan Kabupaten Sinjai

 Sebelah Selatan : berbatasan dengan Laut Flores - Sebelah Barat : berbatasan dengan Kabupaten Bantaeng

 Sebelah Timur : berbatasan dengan Teluk Bone

Luas wilayah Kabupaten Bulukumba sekitar 1.154,67 Km² atau sekitar 1,85 % dari luas wilayah Sulawesi Selatan, terbagi dalam 10 kecamatan yang meliputi 126 desa/kelurahan yang terdiri dari 24 kelurahan dan 102 desa.

Ditinjau dari 10 Kecamatan terdapat 2 kecamatan yang luas, yaitu Kecamatan Gantarang dan Kecamatan Bulukumpa, masingmasing 173,51 Km² dan 171,33 Km², sekitar 29,87 % dari luas Kabupaten Bulukumba, kemudian kecamatan yang terkecil adalah Kecamatan Ujung Bulu yang berlokasi Ibukota Kabupaten (Kota Bulukumba) dengan luas wilayah 14,44 Km² atau 1,25 % dari luas wilayah Kabupaten Bulukumba.

Jumlah Penduduk Kabupaten Bulukumba pada tahun 2012 tercatat 400.990 Jiwa yang terdiri dari laki-laki sebanyak 187.439 jiwa dan perempuan sebanyak 211.092 jiwa, dengan rasio jenis kelamin (perbandingan laki-laki dan perempuan) adalah 89, tersebar di 10 Kecamatan. Dengan konsentrasi penduduk di (4) empat kecamatan yaitu Kecamatan Gantarang, Kecamatan Ujungbulu, Kecamatan Kajang dan Kecamatan Bulukumpa sedangkan Kecamatan yang kurang penduduknya adalah terdapat enam Kecamatan yaitu Kecamatan Bontobahari, Herlang Ujungloe, Rilau Ale, Kindang, dan Bontotiro

B. Profil Pengadilan Negeri Agama Bulukumba

1. Sejarah Terbentuknya Pengadilan Negeri Agama Bulukumba a) Masa Sebelum Penjajahan

Sejarah pembentukan Pengadilan Agama di seluruh Indonesia pada masa penjajahan (Portugis, Belanda dan Jepang) harus dikaji berdasarkan sejarah masuknya Islam ke Indonesia pada abad X.

Penyebaran agama Islam ke Indonesia melalui saudagar Arab dan Gujarat yang pada saat itu membuat kelompok masyarakat yang akhirnya berkembang menjadi Kerajaan Islam. Meskipun sudah ada hukum Islam, akan tetapi secara kelembagaan belum dikenal dengan istilah Pengadilan Agama.

Lambat laun proses hukum Islam mempengaruhi adat kebiasaan setempat yang pada akhirnya hukum Islam sebagai Hukum Adat yang

sulit dan kompleks untuk dikaji. Untuk menemukan istilah atau nama Pengadilan Agama di Indonesia pada masa Pra-Penjajahan.

b) Masa Penjajahan Belanda

Dengan adanya hak pelimpahan hak Octroi dari Pemerintah Belanda kepada VOC (Verenidge Ooeste Copagnie) untuk berdagang sendiri di Indonesia. Dalam pasal 35 Octroi, VOC mendapat kekuasaan Officieren Van Justitie (Pegawai Penuntut Keadilan) pada waktu pengangkatan dari Gooverneor General (Wali Negeri) serta Raad Van Indie (Dewan Hindia) tanggal 17 Nopember 1609 diberi perintah kepada Pemerintahan Tinggi Belanda (Hooge Regring Van Indie) supaya badan ini menjadi hakim dalam hal lembaga Perdata/Pidana. Pada masa pemerintahan G.G. Daendels (1808 – 1811) masyarakat beranggapan bahwa hukum asli terdiri dari hukum Islam yang memutuskan perkara perkawinan dan kewarisan.

Dalam Instruksi Bupati-Bupati (Regentan Instructie) pasal 13 disebutkan bahwa perselisihan mengenai pembagian waris dikalangan rakyat Indonesia harus diserahkan kepada Alim Ulama. Pada tahun 1930 pemerintah Belanda mengatkan Pengadilan Agama dengan dibawah pengawasan Landraad. Dalam Stbl. 1835 No.58 dinyatakan :

“Wewenang Pengadilan Agama di Jawa dan Madura apabila terjadi persengketaan perkawinan, harta benda perkawinan, maka yang menjatuhkan putusan betul-betul Ahli Hukum Islam (Priesters)/Penghulu dari Pejabat Agama.

Pada tanggal 19 Januari 1882, Raja Belanda mengeluarkan Putusan No.152 tentang Pembentukan Pengadilan Agama di Jawa dan Madura yang berisi antara lain ; “Dimana ada Pengadilan Negeri, diadakan Pengadilan Agama" (daerah hukum yang sama) dan Pengadilan Agama terdiri atas Penghulu yang diperbantukan pada Pengadilan Negeri.

Pada tahun 1937 keluar Keputusan Gubernur Jenderal Nomor 9 Tahun 1937 merubah kekuasaan Pengadilan Agama yang berbunyi :

“Pengadilan Agama hanya berwenang untuk memeriksa dan memutuskan perselisihan hukum antara suami isteri yang beragama Islam.

c) Masa Penjajahan Jepang.

Dalam pasal 3 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1942 Tentara Jepang (Osamu Saeire) tanggal 7 Maret 1942, bahwa : “Semua Undang- Undang Peraturan tetap berlaku selama tidak bertentangan dengan Pemerintahan Jepang”.

Sebagai langkah lanjutnya pemerintah Jepang membentuk KUA di Pusat (Maret 1943) dengan nama Shumbu dimana Penghulu mempunyai jabatan sebagai : Imam Masjid, Kepala Kantor Urusan Agama, Wali Hakim, Penasehat Urusan Agama, Penasehat Pengadilan Negeri, dan Hakim Agama.

Pada masa pemerintahan Jepang tidak mengalami perubahan yang berarti dalam segi kewenangan, hanya dari namanya saja Pengadilan Agama menjadi Soor Yoo Hoo Ien.

d) Masa Kemerdekaan Republik Indonesia

Melalui penetapan Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 1946 urusan Mahkamah Islam Tinggi dan Pengadilan Agama yang semula di bawah Departemen Kehakiman diserahkan kepada Departemen Agama, kemudian lebih jauh lagi dengan adanya Maklumat Menteri Agama yang kedua tanggal

23 April 1946 ditentukan aturan-aturan sebagai berikut :

1) Kekuasaan jawatan agama daerah menjadi wewenang Departemen Agama;

2) Hak untuk mengangkat Penghulu Pengadilan Negeri, Penghulu dan Anggota Pengadilan yang dulu ditangan Residen diserahkan kepada Departemen Agama;

3) Hak untuk mengangkat Penghulu Masjid diserahkan kepada Departemen Agama.

Pada tahun 1952 Biro Peradilan Agama dibentuk menjadi Dirbinbapera Islam dengan tujuan agara Peradilan Agama Islam di luar Jawa, Madura dan Kalimantan segera dibentuk. Kemudian disusul pada tahun 1957 terbit Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 1957 tentang Pembentukan Peradilan Agama/Mahkamah Syari‟ah untuk luar Jawa, Madura, dan Kalimantan Selatan.

Peraturan Pemerintah tersebut merupakan landasan hukum bagi pembentukan Peradilan Agama di Indonesia yang secara yuridis berlaku sejak tanggal 5 Oktober 1957. Sebagai landasan yuridis formal dan

materiil --- Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 --- memberi andil cukup besar untuk terbentuknya Peradilan Agama di Indonesia sebagai tercantum dalam pasal 63 ayat (1).

e) Masa Berlakunya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974

Dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan --- wewenang Pengadilan Agama di bidang Perkawinan, maka keberadaan Pengadilan Agama semakin kuat, akan tetapi menurut Surat Edaran Mahkamah Agung Republik Indonesia tanggal 20 Agustus 1975 menyatakan bahwa peraturan-peraturan dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974, dalam hal ini pencatatan perkawinan, tata cara perkawinan, pembatalan perkawinan, waktu tunggu dan izin poligami telah dapat pengaturan dan diberlakukannya secara efektif. Mengenai yang lainnya meskipun sudah tercantum dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 harta benda dalam perkawinan, kedudukan anak, hak dan kewajiban orang tua serta walinya ternyata tidak diatur dalam Undang- Undang tersebut.

Dalam memutus perkara bagi Hakim Pengadilan Agama hanya sekedar memberi jasa-jasa sebagai seorang tenaga tata usaha negara dan lebih jauhnya lagi setiap putusan Pengadilan Agama tidak dapat dijalankan sendiri harus mendapat pengukuhan dari Pengadilan Umum (pasal 65 ayat 2 Undang- Undang Nomor 1 Tahun 1974).

Pada pokoknya secara khusus tentang Pengadilan Agama sebelum lahirnya Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 antara lain :

1) Hakim masih diangkat oleh Menteri Agama;

2) Putusan Pengadilan Agama harus dikukuhkan;

3) Produk perceraian yang sudah memiliki kekuatan hukum tetap (inkrach) harus ditukarkan ke Kantor Urusan Agama Kecamatan.

4) Pengadilan Agama belum mempunyai lembaga Kejurusitaan.

f) Masa Berlakunya Undang Undang Nomor 7 Tahun 1989.

Dengan telah berlakunya Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama, secara teknis peradilan dilaksanakan oleh Mahkamah Agung Republik Indonesia, sedangkan secara teknik pembinaan organisasi, administrasi dan keuangan Pengadilan Agama dilakukan oleh Menteri Agama.

Berkenaan dengan hal tersebut di atas, keberadaan Pengadilan Agama sebagai lembaga pelaksana kekuasaan kehakiman bagi masyarakat pencari keadilan yang beragama Islam mengenai perkara perdata tertentu.

"Namun setelah berlakunya Undang-Undang Nomor : 4 Tahun 2004 tentang kekuasaan Kehakiman, Peradilan Agama menjadi satu atap, dalam arti baik secara teknik maupun pembinaan organisasi berada di bawah Mahkamah Agung Republik Indonesia”.

Melalui Undang-Undang No. 03 Tahun 2006, Pada 20 Maret 2006 Undang-Undang Nomor : 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama mengalami perubahan (Perubahan I) dan pada 29 Oktober 2009 melalui Undang-Undang No. 50 Tahun 2009 merupakan Perubahan yang kedua.

Sejarah Pembentukan Pengadilan Agama Bulukumba

Tanggal berdirinya 1 September 1958 berkantor masing-masing di : a. Rumah Abd. Kahar Dg. Macora, Jl. Abd. Jabbar No. 3 Bulukumba.

b. Rumah K.H. Zainuddin Dg. Mangati (Ketua I), Jl. Hertasning No. 1 Bulukumba

c. Rumah Hj. Abdullah, Jl. Pelabuhan No. 14 Bulukumba

d. Kantor Distrik Ujung Bulu, Jl. Jenderal Sudirman No. 1 Bulukumba e. Kantor Palang Merah, Jl. Jenderal Sudirman No. 2 Bulukumba f. Gudang Dolog Caile Matajang, Jl. Ahmad Yani No. 4 Bulukumba g. Rumah K.H. Andi Abdul Karim (Ketua II), Jl. Masjid Raya No. 33

Bulukumba

h. Rumah Dinas Depag Matajang, Jl. Teratai No. 4 Bulukumba i. Balai Nikah Ujung Bulu, Jl. Ahmad Yani No. 5 Bulukumba

j. Kantor Pengadilan Agama Tahun 1978, Jl. Teratai No. 6 Bulukumba

k. Dan pada tahun 2009 s/d sekarang di Jalan Lanto Dg. Pasewang No.

18 Bulukumba

Surat Keputusan Pembentukan Pengadilan Agama Bulukumba Pancasila

Undang-Undang Dasar 1945

Peraturan Pemerintah No. 45 TH 1957 tentang pembentukan Pengadilan Agama/Mahkamah Syariah di luar Jawa dan Madura.

Surat edaran biro Peradialn Agama Jakarta Nomor B/1/735 tanggal 18 Pebruari 1958 tentang pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 45 tahun 1975.

Penetapan Menteri Agama Nomor 5 tahun 1958, tanggal 6 Maret 1958 tentang Pembentukan Pengadilan Agama/Mahkamah Syari'ah di Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Irian Barat.

2. Visi Misi Visi

“Terwujudnya Pengadilan Agama Bulukumba yang Agung”

Misi

a) Menjaga Kemandirian Pengadilan Agama Bulukumba

b) Memberikan pelayanan Huku berkeadilan kepada pencari keadilan;

c) Meningkatkan kualitas kepimpinan Pengadilan Agama Bulukumba;

d) Meningkatkan kredibilitas dan Transparansi Pengadilan Agama Bulukumba

3. Tugas dan Fungsi Pengadilan Negeri Agama Bulukumba a) Tugas Pokok

Tugas Pokok Pengadilan Agama Bulukumba sebagaimana tugas Peradilan Agama pada umumnya, yaitu sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 3 tahun 2006 Tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama pasal 49 menyatakan, “Pengadilan Agama bertugas dan berwenang

memeriksa, memutus dan menyelesaikan perkara di tingkat pertama antara orang-orang yang beragama Islam di bidang:

1) Perkawinan 2) Waris 3) Wasiat 4) Hibah 5) Waqaf 6) Zakat 7) Infak 8) Sedekah

9) Ekonomi Syari‟ah.

Dalam penjelasan Undang-Undang ini pada alinea II disebutkan para pihak sebelum berperkara dapat mempertimbangkan untuk memilih hukum apa yang dipergunakan dalam pembagian warisan dinyatakan dihapus dengan demikian tidak ada lagi pilihan hukum untuk menyelesaikan permasalahan hukum bagi masyarakat muslim untuk memilih antara Pengadilan Agama dan Pengadilan Negeri, Jadi seluruh permasalahan hukum yang dihadapi oleh orang-orang Islam Indonesia dalam kaitan dengan kewenangan tersebut diselesaikan di Pengadilan Agama. Selanjutnya dalam kewenangan lain yang didasarkan pada Pasal 52 Undang-undang tersebut bahwa Pengadilan Agama dapat memberikan keterangan, pertimbangan, nasehat, tentang Hukum Islam kepada Instansi di daerah hukumnya apabila diminta, dan

pada pasal 52 A disebutkan bahwa Pengadilan Agama memberikan istbat kesaksian rukyatul hilal dalam penentuan awal bulan tahun hijriyah. Selain melaksanakan tugas pokok tersebut Pengadilan Agama Bulukumba juga melaksanakan tugas-tugas penunjang lainnya yaitu menyelenggarakan administrasi umum, yaitu administrasi kepegawaian yang meliputi organisasi dan tata laksana, administrasi keuangan yang meliputi perencanaan, penggunaan dan pelaporan, serta bidang perlengkapan umum;

b) Fungsi

Berdasarkan tugas pokok dan tugas penunjang tersebut, Pengadilan Agama Bulukumba melaksanakan beberapa fungsi yang meliputi:

 Fungsi Peradilan, dalam hal ini Pengadilan Agama Bulukumba merupakan salah satu pilar pelaksana kekuasaan kehakiman untuk menerima, memeriksa mengadili, dan menyelesaikan setiap perkara yang diajukan kepadanya berdasarkan wilayah hukum (kompetensi relatifnya):

 Fungsi Administrasi, dalam hal ini Pengadilan Agama Bulukumba sebagai pelaksana administrasi dalam rumah tangganyadanbertanggungjawabmelaksanakantertib administ rasi baik menyangkut administrasi perkara maupun administrasi umum;

 Fungsi Nasehat Dan Pembinaan, dalam hal ini Pengadilan Agama berfungsi dan berwenang memberi nasehat dan

pertimbangan mengenai hukum Islam di instansi pemerintah di daerah hukumnya bila diminta, dan memberikan isbat kesaksian rukyatul hilal dalam penentuan tahun hijriyah;

 Fungsi Pengawasan, dalam hal ini Pengadilan Agama Bulukumba. berkewajiban melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap tingkah laku aparaturnya.

4. Wilayah Yuridiksi

Kecamatan Ujung Bulu, Kecamatan Ujung Loe, Kecamatan Bonto Bahari, Kecamatan Bonto Tiro, Kecamatan Herlang, Kecamatan Kajang, Kecamatan Bulukumpa, Kecamatan Rilau Ale, Kecamatan Gantarang, Kecamatan Kindang.

5. Struktur Organisasi

C. Manajemen Pelayanan Perceraian Di Kantor Pengadilan Agama Di Kabupaten Bulukumba

1. Fungsi Perencanaan (Planning)

perencanaan adalah suatu keharusan dalam setiap usaha untuk mengembangkan usaha atau mengembangkan lembaga tersebut. Karena perencanaan bersifat vital, seharusnya hal itu dibuat lebih awal.

Perencanaan dapat dianggap sebagai suatu kumpulan keputusan- keputusan, dalam hubungan mana perencanaan tersebut dianggap sebagai tindakan untuk mempersiapkan tindakan-tindakan untuk masa yang akan datang dengan jalan membuat keputusan sekarang. Robbin (2001: 3) menyatakan bahwa fungsi perencanaan meliputi menetapkan tujuan organisasi, menetapkan suatu strategi keseluruhan untuk mencapai tujuan dan mengembangkan suatu hirarki rencana yang menyeluruh untuk memadukan dan mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan.

Dengan indikator diatas adapun pertanyaan wawancara yang dilakukan peneliti kepada narasumber yakni, Kepala Pengadilan Negeri Agama Bulukumba, Panitera muda gugatan dan kasubag perencanaan IT dan Pelaporan serta beberapa masyarakat.

a) Berdasarkan indikator perencanaan pada manajemen pelayanan perceraian di Kantor Pengadilan Agama Kabupaten Bulukumba terkait dengan perencanaan dalam pelayanan yang diberikan, peneliti kemudian melakukan wawancara bersama ketua pengadilan agama Bulukumba mengatakan bahwa:

“…untuk perencanaan pada pelayanan yang diberikan itu ya sesuai dengan pedoman dan standar operasional pada pelayanan yang akan mengajukan perceraian, sebelum melayani kita memastikan ada perencanaan yang bersifat vital dan memang harus benar-benar dipersiapkan tapi tidak perlu yang bagaimana sekali cukup kita jalan sesuai prosedur saja dek…” (Hasil wawancara MS pada tanggal 15 Februari 2021 )

Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat diketahui bahwa perencanaan pada pelayan yang diberikan yakni berdasarkan pedoman pelayanan pada kantor pengadilan agama Kabupaten Bulukumba, dan berdasarkan standar operasional yang telah ditetapkan. Kemudian selanjutnya dilakukan wawancara dengan Panitera Muda Gugatan mengatakan bahwasannya :

“…pada perencanaan pelayanan ini sebenarnya tidak perlu terlalu mempersiapkan diri karena kitakan sudah ada aturan sudah ada bagaimana proses pada pelayanan pengajuan gugatan perceraian itu sendiri jadi kita tinggal menjalani sesuai dengan sebagaimana alurnya saja…” (Hasil wawancara NWH pada tanggal 15 februari 2021)

Jadi berdasarkan hasil wawancara diatas menyatakan bahwasannya perencanaan pada pelayanan yang diberikan hanya berdasarkan aturan dan pedoman proses pelayanan pengajuan gugatan perceraian sehingga tidak memerlukan perencanaan yang sangat matang. Kemudian juga dilakukan wawancara bersama Kasubag Perencanaan IT dan pelaporan:

“…untuk perencanaan pelayanan pada proses perceraian ini karena sekarang kita berada dimasa pandemic dan mengurai pelayanan langsung jadi kita mempersiapkan pelayanan online, merencakan pada system informasi dan memberikan kemudahan pada pelayanan itu sendiri…” (Hasil wawancara AAM pada tanggal 16 Februari 2021)

Dari hasil wawancara diatas menyatakan bahwasannya perencanaan pada pelayanan pengajuan permohonan perceraian saat ini bersifat online sehingga kantor pengadilan agama Bulukumba memberikan kemudahan dengan merencanakan pelayanan berbasis online.

Selanjutnya dilakukan beberapa wawancara bersama masyarakat mengenai hal ini yang menyatakan bahwasannya:

“…kalau untuk perencanaannya mereka tentang seperti apa pelayanan yang diberikan kedepan saya kurang tau, karena hanya mereka yang tau bagaimana planning mereka kedepan…” (Hasil wawancara NN pada tanggal 16 Februari 2021)

Dari wawancara dengan masyarakat dapat diketahui bahwasannya masyarakat tidak mengetahui terkait dengan perencanaan yang hendak dilakukan pengadilan, dikarenakan perencanaan hanya diketahui pihak pengadilan dalam mempersiapkan pelayanan.

Jadi berdasarkan hasil wawancara berdasarkan indikator perencanaan (Planning) mengenai rencana pengadilan agama Kabupaten Bulukumba dalam memberikan pelayanan dapat disimpulkan bahwasanya sehubungan dengan kondisi pandemi saat ini yang tengah berlangsung pengadilan agama Kabupaten Bulukumba memberika pelayanan online bagi proses pengajuan perceraian untuk mengurai kegiatan fisik dan penularan kasus covid 19 saat ini, memberikan pelayanan pada system informasi dengan baik.

b) Berdasarkan indikator perencanaan pada manajemen pelayanan perceraian di Kantor Pengadilan Agama Kabupaten Bulukumba terkait dengan persiapan pelayanan kedepan pada proses pelayanan online,

peneliti kemudian melakukan wawancara bersama ketua pengadilan agama Bulukumba mengatakan bahwa:

“…kalau untuk persiapan kedepan mengenai pelayanan online alhamdulilah kita sudah siap, dan sudah memang harus dijalankan dilihat dari traking pandemic ini luar biasa kita tidak tau sampai kapan berakhir…” (Hasil wawancara MS pada tanggal 15 Februari 2021 )

Dari hasil wawancara diatas dapat diketahui bahwasannya persiapan pengadilan agama Kabupaten Bulukumba dalam memberikan pelayanan online sudah siap dan sudah digunakan pada pemberian pelayanan. Kemudian selanjutnya dilakukan wawancara dengan Panitera Muda Gugatan mengatakan bahwasannya:

“…persiapan kedepan ya tentu harus siap baik itu pada perubahan jaman dan kondisi apa lagi kondisi kita saat ini tidak bisa seperti biasanya semua serba terbatas jadi saat ini kita sudah harus mampu mempersiapkan semuanya agar kedepan kita sudah siap total memberikan yang terbaik kepada masyarakat…” (Hasil wawancara NWH pada tanggal 15 februari 2021)

Dari wawancara diatas dapat dilihat bahwasannya pengadilan negeri agama harus siap dalam menghadapi berbagai polemik yang terjadi kedepan sehingga persiapan dan perencanaan dilaksanakan sedini mungkin agar mampu memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Kemudian juga dilakukan wawancara dengan Kasubag Perencanaan IT dan pelaporan:

“…sudah siap saat ini kita sudah mempersiapkan semuanya khususnya dibidang informasi teknologi tinggal kalau ada kekurangan kita terus lakukan perbaikan untuk memenuhi standar kualitas yang sebagaimana mestinya..” (Hasil wawancara AAM pada tanggal 16 Februari 2021)

Dari hasil wawancara diatas diketahui bahwasannya persiapan oleh bidang perencanaan informasi dan teknologi sudah dipersiapkan untuk menghadapi situasi kondisi kedepan agar fungsi dari pengadilan agama khususnya pada permohonan gugatan perceraian tetap mampu berjalan dengan baik. Selanjutnya dilakukan beberapa wawancara dengan masyarakat mengenai hal ini yang menyatakan bahwasannya:

“…untuk hal demikian saya tidak tau, dan kita masyarakat kurang tau seperti apa persiapan pengadilan agama dalam menjalankan tugasnya karena memang tidak dijelaskan yang diinginkan masyarakat pelayanan yang baik dan mudah itu saja…” (Hasil wawancara TJA pada tanggal 16 Februari 2021) Dari wawancara diatas dapat dilihat bahwasannya masyarakat tidak mengetahui tentang seberapa besar persiapan dan bagaimana, masyarakat hanya menginginkan mudahnya pelayanan dan pelayanan yang baik bagi masyarakat yang membutuhkan pengadilan agama.

Jadi berdasarkan wawancara pada indikator perencanaan (Planning) sehubungan dengan persiapan kedepan pengadilan agama dalam mengahadapi proses pelayanan online yakni dapat disimpulkan bahwasannya persiapan pengadilan agama demikian sudah siap menjalani proses pelayanan online dan di iringi dengan kemajuan teknologi dan perbaikan system informasi pada pengadilan negeri agama Bulukumba.

c) Berdasarkan indikator perencanaan pada manajemen pelayanan perceraian di Kantor Pengadilan Agama Kabupaten Bulukumba terkait dengan persiapan pelayanan di Masa Pandemi Covid 19 serta seperti

apa rencana solusi yang diberikan, peneliti kemudian melakukan wawancara dengan ketua pengadilan agama Bulukumba mengatakan bahwa:

“…seperti tadi yang saya katakan persiapan kedepan apa lagi pada situasi kondisi kita terjebak ditengah pandemic covid 19 kita memberikan pelayanan online baik itu pelayanan permohonan sampai putusan pengadilan secara virtual masyarakat tidak perlu lagi datang mengantri cukup mengisi formulir online tunggu antrian sidang putusan dan lain sebagainya semua sudah bisa dilakukan online ini adalah bentuk pengadilan agama untuk mengikuti aturan pemerintah namun tetap memberikan pelayanan dengan baik…” (Hasil wawancara MS pada tanggal 15 Februari 2021)

Dari wawancara diatas dapat diketahui bahwasannya pengadilan agama Bulukumba mempersiapkan diri dengan pelayanan online yang prima ditengah pandemic covid 19 memaksimalkan proses virtual sebagai penawaran solusi ditengah pandemi ini. Kemudian selanjutnya dilakukan wawancara dengan Panitera Muda Gugatan mengatakan bahwasannya:

“…ditengah situasi yang sulit dihadapi saat ini bukan hanya kebanyakan orang diluar sana melainkan juga pengadilan agama terkena dampak dengan terhambatnya pelayanan, namun tidak lantas membuat kami berhenti dengan memberikan pelayanan online kepada masyarakat terhadap pelayanan pengadilan agama masyarakat tidak perlu lagi datang cukup dri rumah sudah mampu mendapatkan pelayanan yang di inginkan di pengadilan agama.” (Hasil wawancara NWH pada tanggal 15 februari 2021) Dari wawancara diatas menunjukkan dengan situasi covid 19 saat ini tidak menjadi hambatan bagi pengadilan agama memberikan layanan terhadap masyarakat yang membutuhkan, dengan system informasi virtual masyarakat tetap bisa menjalankan aktivitasnya walaupun tidak

Dalam dokumen skripsi - Universitas Muhammadiyah Makassar (Halaman 42-45)

Dokumen terkait