• Tidak ada hasil yang ditemukan

Deskripsi Hasil Belajar Pre-Test

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Deskripsi Hasil Belajar Pre-Test

Pre-test adalah tahap awal dalam penelitian eksperimen ini.Setelah melalui tahap uji validitas, reliabilitas dan uji coba di SD Negeri Minasaupa, peneliti kemudian melaksanakan pre-test pada kelas eksperimen.Hasil pre-

46

test kemudian diolah dan dijadikan pedoman untuk melaksanakan tahap penelitian yang selanjutnya.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan peneliti di SD Negeri Minasaupa, maka diperoleh data-data yang dikumpulkan melalui instrumen tes sehingga dapat diketahui prestasi belajar siswa berupa nilai dari hasil tes yang dilakukan pada siswa kelasV SD Negeri Minasaupa.

Berdasarkan data perolehan skor pre-testprestasi belajar siswa kelas V SD Negeri minasaupa dapat dilihat pada tabel 4.2 diketahui bahwa pre- test prestsi belajar ilmu pengetahuan sosial kelas V diperoleh nilai rata-rata sebesar 66.6 Nilai rata-rata 66.6 masuk dalam kriteria kurang. Skor tertinggi adalah 85 dan skor terendah adalah 46.2.

Jika hasil tes siswa dikelompokkan ke dalam skala 5 kategori, maka diperoleh hasil belajar frekuensi dan persentase sebagai berikut :

Tabel 4.1 :Hasil belajar ilmu pengetahuan sosial sebelum test (pre- test) resitasi kelas V SD Negeri Minasaupa

NO. SKOR KATEGORI FREKUENSI PERSENTASE

1. 0 - 34 Sangat Rendah 0 0

2. 35 - 54 Rendah 6 27.3 %

3. 55 - 64 Sedang 3 13.6 %

4. 65 - 84 Tinggi 10 45.5 %

5. 85 - 100 Sangat Tinggi 3 13.6 %

Jumlah 22 100 %

Sumber : Hasil Instrumen Penelitian

47

Berdasarkan tabel 4.2 tampak bahwa dari 22 orang responden penelitian pada saat pre-test telah diketahui bahwa ada 6 orang atau 27,3%, yang berada pada kategori hasil belajar rendah, sedang ada 3 orang atau 13,6%, yang berada pada kategori hasil belajar tinggi ada 10 orang atau 45,5% dan yang berada pada kategori hasil belajar sangat tinggi ada 3 orang atau 13,6% yang berada pada kategori hasil belajar sangat tinggi(Lampiran 4.4).

2. Deskripsi hasil belajar Post-test Ilmu Pengetahuan Sosial SD Negeri Minasaupa

Selama penelitian berlangsung terjadi perubahan terhadap hasil Murid setelah diberikan perlakuan (Treatment).Perubahan tersebut berupa hasil belajar yang datanya diperoleh setelah diberikan post-test, perubahan tersebut dapat dilihat dari data perolehan skor post-test hasil belajar siswa kelas V SD Negeri Minasaupa pada lampiran . Dapat diketahui bahwa post- test hasilbelajar ilmu pengetahuan sosial kelas V diperoleh nilai rata-rata sebesar 92.4. Nilai rata-rata 92.4 masuk dalam kriteria baik (tuntas) . Skor tertinggi adalah 100 dan skor terendah adalah 72.6

Jika hasil tes siswa dikelompokkan ke dalam skala 5 kategori, maka diperoleh hasil belajar frekuensi dan persentase sebagai berikut :

48

Tabel 4.2 : Hasil belajar ilmu pengetahuan sosial (post-test) resitasi kelas V SD Negeri Minasaupa

NO. SKOR KATEGORI FREKUENSI PERSENTASE

1. 0 - 34 Sangat Rendah 0 0

2. 35 - 54 Rendah 0 0

3. 55 - 64 Sedang 0 0

4. 65 - 84 Tinggi 16 27.3 %

5. 85 - 100 Sangat Tinggi 6 72.7 %

Jumlah 22 100 %

Sumber : Hasil Instrumen Penelitian

Sedang pada penelitian pada saat post-test diketahui bahwa siswa yang berada pada kategori belajar sangat rendah, rendah dan sedang tidak ada atau 0% sedangkan siswa yang berada pada kategori tinggi ada 6 orang atau 27,3% dan siswa yang berada pada kategori sangat tinggi ada 16 orang atau 72,7% (Lampiran 4.4)

Tabel 4.3 t-test Hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial sebelum dan sesudah penggunaan metode scramble

Rumus t-tes yang digunkan adalah rumus yang dikemukakan oleh Arikunto (2002: 272) yaitu:

=

( )

49

1. Tentukan Gain (d) seperti pada tabel berikut!

Responden Pre-Test Post-Test Gain (d)

1 2 3 4

1 66,6 85,8 19,2

2 59,4 92,4 33

3 72,6 92,4 19,8

4 85,6 92,4 6,8

5 85,6 92,4 6,8

6 72,6 72,6 0

7 66,6 66,6 0

8 72,6 100 27,4

9 72,6 100 27,4

10 52,6 100 47,2

11 66,6 100 33,4

12 52,8 66,6 13,8

13 52,8 79,2 26,4

14 79,2 92,4 13,2

15 59,4 85,8 26,4

16 59,4 79,2 19,8

17 52,8 66,6 13,8

18 79,2 100 20,8

19 46,2 100 53,8

20 72,6 100 27,4

21 46,2 100 53,8

22 59,4 100 7,6

N=22 1466,6 Mean=97,77

1964,4

Mean=100,00 = ,

2. Tentukan Md

=∑

=497,8

22 = 22,63

50

3. Tentukan ∑ seperti pda tabel berikut!

Responden

1 19,2 -3,43 11,7649

2 33 10,37 107,5369

3 19,8 -2,83 8,0089

4 6,8 -15,83 8,0089

5 6,8 -15,83 512,1169

6 0 -22,63 512,1169

7 0 -22,63 512,1169

8 27,4 4,77 22,7529

9 27,4 24,77 22,7529

10 47,2 24,57 603,6849

11 33,4 10,77 115,9929

12 13,8 -8,83 77,9689

13 26,4 3,77 14,2129

14 13,2 -9,43 88,9249

15 26,4 3,7 13,69

16 19,8 -2,83 8,0089

17 13,8 -8,89 79,0321

18 20,8 -1,83 3,3489

19 53,8 31,17 971,5689

20 27,4 4,7 22,09

21 53,8 31,17 971,5689

22 7,6 -15,08 227,4064

N=22 , ∑ =4914,6747

4. Uji hipotesis

=

( )

51

= 22,63

( , )

( )

= 22,63

, =22,63

,

= 22,63

√10,63=22,63 3,26

= 6,94

5. Konsultasikan dengan t tabel.

thitung =6,94 > ttabel=2,08 thitung> ttabel

jadi kesimpulannya adalah perbedaan antara hasil pre-test dengan post-test signifikan, dengan kata lain bahwa data atau hipotesis “ada Pengaruh Metode Scramble Terhadap Minat Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial Kelas V SD Negeri Minasaupa Kecamatan Rappocini Kota Makassar” diterima.

Hipotesis penelitian ini adalah ada Pengaruh Metode Scramble Terhadap Minat Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial Kelas V SD Negeri Minasaupa Kecamatan Rappocini Kota Makassar”

Berdasarkan hasil perhitungan t-test (lampiran 5.1) diperoleh nilia thitung

sebesar 6,94 sedangkan nilai ttabel pada taraf signifikansi 5 persen dengan dk=21 sebesar 2,08, hal itu berarti bahwa nilai thitung lebih besar dari ttabel. Karena nilai thtung lebih besar daripada ttabel, maka sebagai konsekuensinya adalah hipotesis

”ada Pengaruh Metode Scramble Terhadap Minat Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial Kelas V SD Negeri Minasaupa Kecamatan Rappocini Kota Makassar”

dinyatakan diterima.

B. Pembahasan

Pada umumnya proses pembelajaran IPS di kelas, siswa tidak jarang mendapatkan kesulitan atau hambatan demi kesuksesannya dalam belajar yang

52

sering kali menyebabkan rendahnya hasil belajar seorang siswa. Misalnya dalam kelas terkadang seorang siswa mengalami kesulitan mengerjakan tugas yang diberikan pada mata pelajaran yang bersangkutan. Hal ini bisa jadi disebabkan oleh faktor ketidak mampuan seorang guru atau pendidik dalam memberikan pemahaman yang benar kepada siswa terhadap suatu pelajaran yang diberikannya, tingkat kerumitan mata pelajaran tersebut yang cukup tinggi serta faktor psikologis siswa itu sendiri. Sementara itu, factor penghambat yang dapat menyebabkan rendahnya perestasi belajar siswa dapat dipengaruhi hal-hal sebagai berikut:

1. Pembatasan terhadap rasa ingin tahu peserta didik khususnya di kelas rendah

2. Terlalu banyak larangan sehingga peserta didik merasa tertekan 3. Takut dan malu

4. Penekanan yang salah kaprah terhadap keterampilan verbal tertentu 5. Memberikan keritikan yang bersifat desktruktif

Sudah tidak salah jika banyak hal yang menyebabkan rendahnya nilai hasil belajar Bahasa Indonesia, hal ini yang menjadi penyebab rendahnya nilai itu bisa datang dari siswa, guru atau sarana dan prasarana belajar yang tidak mendukung. Dari berbagai variabel dalam strategi pelaksanaan pendidikan di sekolah, variabel guru merupakan variabel yang paling dominan. Sayangnya, para pendidik tidak menyadari sepenuhnya akan hal-hal yang menunjang perestasi belajar siswa. Jika nilai siswa rendah, mungkin guru akan menyalahkan siswanya, karena malas belajar atau dianggap memiliki

53

intelektualitas yang rendah. Tanpa menyadari Guru tidak melakukan instropeksi diri, kegagalan seakan jauh dari dirinya namun karna siswa sendiri yang menjadi factor utama, dan dibiarkan siswa tenggelam dalam nilai yang tidak signifikan.

Dalam kehidupanya guru selalu berpandangan bahwa siswa belum atau tidak tahu apa-apa ibarat kertas yang masih dalam keadaan tanpa ada goresan tinta.

Apalagi dalam pembelajaran berpuisi, guru lebih banyak berceramah atau bercerita tampa memberikan contoh nyata didepan peserta didik secara langsung. Pandangan guru yang demikian, menyebabkan guru hanya mengeluarkan satu ‘jurus’ saja, yaitu ceramah.Para guru memandang bahwa metode ceramah sangat efektif digunakan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia khusunya kelas rendah namun itu Salah, karena sifat materinya yang dianggap hanya bersifat informatif. Sehingga pembelajaran di sekolah diwarnai oleh satu macam metode saja tanpa menerapkan metode yang lainkarna bisa jadi metode yang lebih efektif di banding dengan metode ceramah. Metode Ceramah ini dianggap oleh guru sangat efektif, karena materi IPS sifatnya informatif. Karena proses belajar mengajar di dalam kelas, sangat dibatasi oleh ruang dan waktu. Oleh karena itu, untuk mengembangkan potensi dan menanamkan kognitif, afektif dan psikomotorik secara meyakinkan, tidak cukup hanya dengan proses belajar mengajar di dalam kelas, Oleh karena itu pula, kita harus mengembangkan proses belajar mengajar di luar kelas, salah satunya dengan memberikan tugas belajar di luar kelas.

54

Metode Scremble, bertujuan untuk merangsang siswa agar aktif belajar baik secara individu maupun kelompok. Alasan penggunaan metode Scremble yaitu agar siswa dapat belajar sendiri atau berkelompok mencari pengayaan atau sebagai tindak lanjut dari kegiatan sebelumnya.

1. Pembahasan Hasil Analisis Deskriptif

Dari hasil analisis deskriptif diperoleh bahwa bahwa hasil belajar siswa kelas V SD Negeri Minasaupa yang sebanyak 22 orang mengalami peningkatan nilai rata-rata (mean), yakni 97,77 dengan jumlah siswa yang lulus sebanyak 13 orang atau hanya 59,0% saat pre-test dan meningkat menjadi 130,96 dengan jumlah siswa yang lulus sebanyak 22 orang atau 100,% saat post-test.

Peningkatan nilai rata-rata hasil belajar siswa terlihat sangat signifikan yaitu meningkat sebesar 33,4%. Saat pre-test nilai tertinggiadalah 92,4 dan terendah 46,2 namun setelah pemberian perlakuan berupa pemberian tugas rumah pada pembelajaran maka saat dilakukan post-test nilai tertingginya adalah 100 dan nilai terendah adalah 66,6.

Dari hasil analisis deskriptif pula diperoleh bahwa hasil belajar saat pre- test siswa kelas V SD Negeri Minasaupa Kecamatan Rappocini Kota Makassar yang dilaksanakan pada hari kamis 20 Juli 2017, dalam kategori sangat rendah dengan persentase sebesar 0% atau tidak ada siswa yang tergolong nilai sangat rendah, pada kategori rendah 27,3% dengan jumlah siswa 6 orang, pada kategori sedang 13,6% dengan jumlah siswa 3 orang, pada kategori tinggi 45,5% dengan jumlah 10 orang dan pada kategori sangat tinggi 13,6% dengan jumlah 3 orang.

Hal ini berarti bahwa hasil belajar siswa siswa kelas V SD Negeri Minasaupa

55

Kecamatan Rappocini Kota Makassar masih tergolong rendah karena dari 22 siswa hanya 13 siswa yang dinyatakan memiliki nilai tuntas atau mencapai nilai KKM sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Kemudian siswa kelaV SD Negeri Minasaupa Kecamatan Rappocini Kota Makassar diberi perlakuan berupa pemberian tugas rumah dalam kegiatan pembelajaran.Perlakuan yang berupa penerapan metode Scremble dilaksanakan sebanyak tiga kali pertemuan. Pertemuan pertama dilaksanakan pada hari yang sama dengan pemberian pre-test yaitu pada hari Kamis, 20 Juli 2017 dengan menerapkan metode pemberian tugas kelompok/berpasangan yang dikerjakan di dalam kelas. Metode ini sangat cocok untuk diterapkan di kelas V Sekolah Dasar, mengingat siswa kelas tersebut telah memiliki kreativitas untuk mengembangkan keilmuannya melalui kerja mandiri atau kelompok tanpa bimbingan dari guru, sehingga memungkinkan untuk bisa menyelesaikan tugas dari guru tepat pada waktunya dengan benar serta mengikuti aturan dari guru. Dari hasil wawancara yang dilakukan peneliti bersama guru, diketahui bahwa guru belum menerapkan metode scremble atau pemberian tugas dengan sempurna, khususnya untuk pembelajaran IPS. Hasil tanya jawab antara peneliti dengan siswa, sebagian besar atau 70% tidak menyenangi adanya pemberian tugas dari guru yang dikerjakan di sekolah maupun di rumah. Oleh karena itu pada kesempatan ini, siswa sangat respontif sekali saat ditawarkan untuk mencoba menerapkan metode scremble pada pembelajaran IPS.Dan setelah pembelajaran selesai, siswa kembali diberikan tugas untuk dikerjakan di rumah secara berkelompok.

56

Pertemuan kedua dilaksanakan pada hari selasa, 25 Juli 2017 dengan menerapkan metode pemberian tugas dengan tugas mandiri dikerjakan di sekolah. Sebelum penerapan metode ini, siswa diminta untuk mempresentasikan tugas yang telah diberikan saat pertemuan pertama. Pada saat peneliti melakukan pemeriksaan terhadap tugas siswa ternyata seluruh siswa memperoleh nilai pada level tinggi, tidak seperti hari-hari sebelumnya sebelum metode scremble diterapkan. Diakhir pembelajaran, siswa kembali diberikan tugas mandiri untuk dikerjakan di rumah.

Kemudian pertemuan ketiga dilaksanakan pada hari kamis, 27 Juli 2017 dengan menerapkan metode pemberian tugas mandiri di kelas. Namun sebelum pembelajaran berlangsung terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan terhadap tugas mandiri yang dikerjakan di rumah atau PR (Pekerjaan Rumah). Kembali seperti pertemuan sebelumnya, nilai siswa berada pada level tinggi bahkan beberapa diantaranya memperoleh nilai sangat tinggi. Hal ini membuktikan bahwa metode pemberian tugas cocok diterapkan dalam pembelajaran dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Setelah siswa diberikan perlakuan dengan penerapan metode scremble maka diketahui bahwa hasil belajar IPS Kelas V SD Negeri Minasaupa mengalami peningkatan. Hal ini sesuai dengan hasil post-test yang dilaksanakan pada hari selasa 1 Agustus 2017, bahwa dari 22 orang yang diteliti ternyata ada 16 orang atau 72,7% responden dengan hasil belajar IPS sangat tinggi, Selain itu, pada kategori tinggi juga mengalami peningkatan hasil belajar IPS yakni ada 6 orang atau 27,3. Selanjutnya sedangkan pada kategori sedang, rendah dan sangat

57

rendah setelah perlakuan tidak ada lagi siswa yang hasil belajarnya berada pada kategori ini.

2. Pembahasan Hasil t-tes

Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap masalah penelitian yang kebenaranya masih harus di uji secara empiris.Jadi suatu hipotesis masih merupakan jawaban sementara terhadap suatu permasalahan yang kebenarannya masih perlu adanya pembuktian lebih lanjut.

Hipotesis yang penulis ajukan adalah ”ada Pengaruh Penggunaan Metode Scremble Terhadap Prestasi Belajar IPS kelas V SD Negeri Minasaupa Kecamatan Rappocini Kota Makassar”.

Berdasarkan hasil perhitungan t-test (lampiran 5.1) diperoleh nilia thitung

sebesar 6,94 sedangkan nilai ttabel pada taraf signifikansi 5 persen dengan dk=21 sebesar 2,08, hal itu berarti bahwa nilai thitung lebih besar dari ttabel. Karena nilai thtung lebih besar daripada ttabel, maka sebagai konsekuensinya adalah hipotesis

”ada ada Pengaruh Penggunaan Metode Scremble Terhadap Minat Belajar IPS Kelas V SD Negeri Minasaupa Kecamatan Rappocini Kota Makassar” dinyatakan diterima.

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian sebagaimana yang telah dikemukakan pada bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa:

1. Prestasi belajar IPS Kelas V SD Negeri Minasaupa Kecamatan Rappocini Kota Makassar mengalami peningkatan dengan nilai rata-rata yakni 97,77sebelum perlakuan atau pre-test dan setelah diberi perlakuan atau post- test rata-rata hasil belajar siswa mengalami peningkatan nilai menjadi 100,00.

2. Metode Scramble sangat berpengaruhi terhadap minat belajar siswa kelas V SD Negeri Minasaupa Kecamatan Rappocini Kota Makassar pada mata pelajaran IPS.

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian, maka implikasi dari kesimpulan tersebut dikemukakan saran sebagai berikut:

1. Bagi guru, diharapkan sesering mungkin memberikan metode scramble dalam proses pembelajaran agar lebih meningkatkan minat belajar siswa terkhusus pada mata pelajaran IPS.

2. Diharapkan kepada siswa agar dapat menerima segala jenis tugas yang diberikan oleh guru karena ini dilakukan guru semata-mata untuk meningkatkan kualitas dan hasil belajar bukan untuk menyiksa atau menyusahkan siswa.

Bagi peneliti selanjutnya, disarankan untuk meneliti variabel-variabel lain seperti metode pembelajaran lain, model pembelajaran, media pembelajaran, fasilitas

59 belajar, ruang belajar, gaya belajar dan lain-lain yang dapat mempengaruhi hasil belajar IPS.

60 DAFTAR PUSTAKA

Djuanda, Dadan. 2006. Pembelajaran Bahasa Indonesia yang Komunikatif danMenyenangkan.Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan TinggiDepartemen Pendidikan Nasional.

Gulo,W. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Grasindo.

Jahja, Yahya. 2011. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Kokom Komalasari.2010.Pembelajaran Kontekstual Konsep dan Aplikasi. Bandung: Refika Aditama.

Mendiknas.2011. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah.Jakarta: Mendiknas.

N.K, Roestiyah. 2001. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Bina Aksara

Sanjaya, Wina. 2007. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar ProsesPendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Sapriya. 2009. Pendidikan IPS. Bandung: Rosd

Shoimin, Aris. 2014. 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013.

Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Slameto. 2013. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi. Jakarta: Rineka Cipta.

Sugiharti, Pipit. Pembelajaran Penggunaanfisika Met untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa.Jakarta Barat: BPK Penabur.

Sugiyono. 2016. Metode Penelitian Pendidikan.Bandung: Alfabeta.

Suyatno. 2009. Menjelajah Pembelajaran Inovatif. Jakarta: Masmedia Buana Pustaka.

Susanto, Ahmad. 2013. Teori Belajar dan Mengajar di SD. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Soeparno.(1988). Media Pengajaran Bahasa. Klaten: PT Intan Pariwara Syah, Muhibbin. 2005. Psikolagi Belajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada Winkel, W S. 1996. Psikologi Pengajaran. Jakarta: Tarsito

http://www.eurekapendidikan.com/2015/02/kelebihan-dan-kekurangan-metode- scramble.html.(di akses tanggal 27/3/2017).

61 https://www.psikologiku.com/pengertian-metode-scramble/.(di akses tanggal

27/32017).

62

LAMPIRAN

63 RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

( RPP ) Mata Pelajaran : IPS

Kelas / semester : IV / I Pertemuan ke : 1 Alokasi waktu : 2 x 35 A. Standar Kompetensi

1.Memahami letak daerah kabupaten/ kota dan propinsi pada peta kawasan Indonesia

B. Kompetensi Dasar Membaca

1.2 Membaca peta lingkungan setempat (kabupaten, kota, provinsi) C. Indikator :

1. Menunjukkan letak provinsi dan ibu kotanya D. Tujuan Pembelajaran

1. Siswa dapat mengenal 5 pulau besar

2. Siswa mampu mengenal nama-nama provinsi dan ibu kotanya.

E. Materi Ajar

 Mengenal pulau dan provinsi yang terdapat di kawasan Indonesia F. Pendekatan Dan Metode Pembelajaran

 Metode : ceramah G. Kegiatan Pembelajaran

1. Kegiatan Awal (± 10 menit ) a. Mengkondisikan kelas

 Absensi

 Berdoa

 Apersepsi :pembelajarandiawali dengan tanya jawab tentang kepedulian sosial.

 Guru memotivasi siswa

 Guru menyampaikan tujuan pembelajaran 2. Kegiatan Inti ( ± 45 menit )

Guru memperlihatkan gambar peta kepada siswa

Guru memberi tugas kepada siswa untuk menyebutkan 5 pulau terbesar di Indonesia, serta nama provinsi dan ibu kotanya

Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengajukan pertanyaan

64

Guru menjelaskan hal – hal yang belum dipahami siswa

Guru memberikan motivasi kepada siswa yang kurang atau belum berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran

3. Kegiatan Akhir ( ± 15 menit )

 Guru dan siswa bersama – sama membuat rangkuman/kesimpulan dari materi yang telah dipelajari

 Memberi refleksi

 Guru menyampaikan pesan – pesan moral H. Media Dan Sumber Belajar

 Media : gambar peta,

 Sumber belajar : Buku Ilmu Pengetahuan Sosial kelas 4 Kurikulum 2006 KTSP

I. Penilaian

 Teknik penilaian yang digunakan pada pembelajaran ini adalah proses di akhir pembelajaran ( produk )

 Bentuk penilaian melalui pengamatan dan produk

Makassar, 24 Juli 2017

Nip. 19600404 198203 1 024 Guru Kelas V

Mintarsiah, S.Pd

Nip.196205 20 198203 2 008

Mahasiswa

Andi fadilah Nim 10540 8573 13

Mengetahui Kepala Sekolah

Drs. Agus darwin

65 Gambar Peta di Indonesia

Gambar peta 5 pulau besar di indonesia 1. Pulau Sumatera

sumatera

Kalimantan

Sulawesi

Papua

Jawa

66

2. Pulau Kalimantan

3. Pulau Sulawesi

67

4. Pulau Jawa

5. Pulau Papua

68

Berikut adalah gambar kartu dengan kata yang terpisah. Sebagaiman dalam metode scramble siswa diberi tugas untuk merangkai nama provinsi dan ibu kotanya yang telah terpisah. Setelah dirangkai kata tersebut, siswa lalu menempelkan nama provinsi dan ibu kotanya pada gambar peta sesuai letak provinsi tersebut.

SULA WESI SELA

KA SSAR SULA

RA T SUL

TAN MA

WESI

ESI AW

BA

TENG AH KA LIMAN TAN

R AT

BA MUR

TI

KA LIMAN TAN

SAMA RIN

PA LU

DA Pa pua

Ja wa BA

Ban dung

RA T

69

Berikut gambar peta yang tidak mempunyai identitas nama pulau, provinsi beserta ibu kotanya. Siswa yang memberikan nama di peta ini dengan merangkai nama pulau, provinsi dan ibu kotanya yang teracak dan kata terpisah sebelumnya.

70 Media Pretest

Materi Ajar

PULAU-PULAU BESAR DI INDONESIA BESERTA NAMA PROVINSI DAN IBU KOTA PROVINSI

Indonesia memilki banyak pulau namun ada lima pulau besar yang terdapat di negeri kita ini. Berikut nama lima pulau besar di indonesia

1. Sumatera 2. Kalimantan 3. Sulawesi 4. Jawa 5. Papua

Nah sekarang kita sudah mengetahui nama pulau besar di Indonesia.

Selanjutnya kita akan membahas tentang provinsi yang terdapat pada pulau-pulau tersebut. Berikut ini adalah nama-nama provinsi yang terletak di pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Jawa dan Papua.

Pulau Sumatera terdapat 8 provinsi. berikut di bawah ini nama provinsi yang terdapat di pulau Sumatera beserta ibu kotanya:

1. Sumatera Utara : Medan 2. Sumatera Selatan : Palembang 3. Sumatera Barat : Padang

4. Bengkulu : Bengkulu

5. Riau : Pekanbaru

6. Jambi : Jambi

7. Bangka Belitung : Pangkal Pinang 8. Kepulauan Riau : Tanjung Pinang

Pulau Kalimantan terdapat 5 provinsi. Berikut di bawah ini nama provinsi yang terdapat di pulau Kalimantan beserta ibu kotanya:

1. Kalimantan Barat : Pontianak

2. Kalimantan Timur : Samarinda

71

3. Kalimantan Selatan :Banjarmasin 4. Kalimantan Utara :Tanjung Selor 5. Kalimantan Tengah : Palangkaraya

Pulau Sulawesi terdapat 5 provinsi. Berikut di bawah ini nama provinsi yang terdapat di pulau Sulawesi beserta ibu kotanya:

1. Sulawesi Barat : Mamuju 2. Sulawesi Selatan : Makassar 3. Sulawesi Tengah : Palu 4. Sulawesi Utara : Manado 5. Sulawesi Tenggara : Kendari

Pulau Jawa terdapat 6 provinsi. Berikut di bawah ini nama provinsi yang terdapat di pulau Jawa beserta ibu kotanya:

1. Jawa Barat : Bandung 2. Jawa Timur : Surabaya 3. Jawa Tengah : Semarang

4. Jakarta : Jakarta

5. Banten : Serang

6. Yogyakarta : Yogya

Pulau Papua terdapat 5 provinsi. Berikut di bawah ini nama provinsi yang terdapat di pulau Papua beserta ibu kotanya:

1. Papua : Jayapura

2. Papua Barat : Monokwari 3. Papua Timur :Marauke 4. Papua Utara : Timika 5. Papua Selatan : Sorong

SELAMAT BELAJAR

72 RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

( RPP ) Mata Pelajaran : IPS

Kelas / semester : IV / I Pertemuan ke : 1 Alokasi waktu : 2 x 35 J. Standar Kompetensi

1.Memahami letak daerah kabupaten/ kota dan propinsi pada peta kawasan Indonesia

K. Kompetensi Dasar Membaca

1.1 Membaca peta lingkungan setempat (kabupaten, kota, propinsi) L. Indikator :

2. Membaca peta dengan memperhatikan letak 5 pulau terbesar di Indonesia beserta nama-nama provinsi.

M. Tujuan Pembelajaran

3. Siswa dapat mengenal 5 pulau besar

4. Siswa mampu mengenal nama-nama provinsi dan ibu kotanya.

N. Materi Ajar

 Mengenal pulau dan provinsi yang terdapat di kawasan Indonesia O. Pendekatan Dan Metode Pembelajaran

 Metode : Scramble P. Kegiatan Pembelajaran

4. Kegiatan Awal (± 10 menit ) a. Mengkondisikan kelas

 Absensi

 Berdoa

 Apersepsi :pembelajarandiawali dengan tanya jawab tentang kepedulian sosial.

 Guru memotivasi siswa

 Guru menyampaikan tujuan pembelajaran 5. Kegiatan Inti ( ± 45 menit )

 Guru memperlihatkan gambar peta kepada siswa

 Guru memberi tugas kepada siswa untuk menyebutkan 5 pulau terbesar di Indonesia, serta nama provinsi dan ibu kotanya

73

 Guru menerapkan metode scramble dengan cara mengacak kata nama pulau, nama provinsi, nama ibu kota provinsi kemudian siswa merangkainya dan melekatkan di gambar peta yang telah ditempel di papan tulis.

 Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengajukan pertanyaan dan pendapatnya.

 Guru menjelaskan hal – hal yang belum dipahami siswa

 Guru memberikan motivasi kepada siswa yang kurang atau belum berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran

6. Kegiatan Akhir ( ± 15 menit )

 Guru dan siswa bersama – sama membuat rangkuman/kesimpulan dari materi yang telah dipelajari

 Memberi refleksi

 Guru menyampaikan pesan – pesan moral Q. Media Dan Sumber Belajar

 Media : gambar peta, kartu kata.

 Sumber belajar : Buku Ilmu Pengetahuan Sosial kelas 5 Kurikulum 2006 KTSP

R. Penilaian

 Teknik penilaian yang digunakan pada pembelajaran ini adalah proses di akhir pembelajaran ( produk )

 Bentuk penilaian melalui pengamatan dan produk

Makassar, 24 Juli 2017

Mengetahui Kepala Sekolah

Drs. Agus darwin Nip. 196004 04 198203 1024 Guru Kelas V

Mintarsiah, S.Pd

Nip.196205 20 198203 2 008

Mahasiswa

Andi fadilah Nim 10540 8573 13

Dokumen terkait