F. Teknik Analisis Data 1. Teknik Analisis Data
2. Deskripsi Hasil Penelitian
a. Data Hasil Pra Tindakan Penerapan Metode Sosiodrama dalam Meningkatkan Kemampuan Berbicara
Untuk mengetahui kondisi awal untuk meningkatkan kemapuan berbicara anak dengan menerapkan metode sosiodrama dilakukan penelitian.
Peneliti melakukan pengamatan terlebih dahulu terhadap kemampuan berbicara pada kelompok B di TK Tompo’na Kel. Tonrorita. Untuk meningkatkan kemampuan berbicara anak dengan menerapkan metode sosiodrama yang diamati terdiri dari 3 kemampuan yakni memiliki perilaku sikap percaya diri, menununjukkan reaksi emosi diri secara wajar dan mengungkapkan kebutuhan, keinginan dan minat diri dengan cara yang tepat.
Hasil observasi dan evaluasi anak didik peningkatan Kemampuan berbicara anak pada pra tindakan disajikan dalam Tabel di bawah ini:
Tabel 4.4. Hasil Observasi dan Evaluasi Aktivitas Anak Didik Penerapan Metode Sosiodrama dalam Meningkatkan Kemampuan Berbicara Anak pada Pra Tindakan
No
Nama Anak Didik
Kemampuan Berbicara
Skor Presen tase
Kriteria K 1 K2 K3 K4 K5
1 Aulia 1 1 1 1 1 5 25% BB
2 Rifqi 1 1 1 1 1 5 25% BB
3 Fathur 1 1 1 1 1 5 25% BB
4 Alif 1 1 1 1 1 5 25% BB
5 Rahmat 1 1 1 1 1 5 25% BB
6 Naila 1 1 1 1 1 5 25% BB
7 Adis Ufaira 2 1 1 1 1 6 30% BB
8 Sabrina 1 1 1 1 1 5 25% BB
9 Aisyah 1 1 1 1 1 5 25% BB
10 Dinara 2 1 1 1 1 6 30% BB
11 Farrel 2 1 1 1 1 6 30% BB
12 Qaila 1 1 1 1 5 25% BB
Rata-rata Persentase Aktivitas Anak Didik Peningkata Kemampuan Berbicara
26,25% BB
Keterangan:
Kegiatan 1 (K.1) : Kegiatan yang mengungkapkan bahasa anak secara verbal
Kegiatan 2 (K.2) : Kegiatan yang mengungkapkan bahasa anak secara non verbal
Kegiatan 3 (K.3) : Kegiatan yang mengungkapkan keinginan anak Kegiatan 4 (K.4) : Kegiatan yang mengungkapkan perasaan anak Kegiatan 5 (K.5: Kegiatan yang menunjukkan anak mampu
melakukan permainan seperti bermain peran.
Dari tabel di atas dapat dikatakan bahwa pencapaian peningkatan kemampuan berbicara anak belum berkembang karena dilihat dari hasil rata-rata yaitu 37% dengan menunjukkan kriteria tidak baik. Dari 12 anak didik 2 anak yang memiliki kriteria kurang/mulai berkembang dan ada 10 anak yang memiliki kriteria tidak baik atau belum berkembang.
Tabel 4.5 Rekapitulasi Hasil Observasi dan Evaluasi Aktivitas Anak Peningkatan Kemampuan Berbicara pada Pra Tindakan
No Kriteria Jumlah
Anak Didik
Presentase Skor
1 Belum Berkembang (BB) 12 26,25% 315
2 Mulai Berkembang
3 Berkembang Sesuai Harapan 4 Berkembang Sangat Baik
Rata-Rata Persentase Aktivitas Anak Didik Peningkatan
Kemampuan Berbicara 26,25%
Adapun hasil rekapitulasi hasil observasi dan evaluasi aktivitas anak didik untuk meningkatkan kemampuan berbicara anak sebelum tindakan yaitu 37%
masih banyak peserta didik belum mencapai nilai kriteria yang ditentukan yaitu kriteria baik/berkembang sesuai harapan (BSH). Dengan begitu perlu adanya tindakan selanjutnya yang akan meningkatkan kemampuan berbicara anak yang akan dilaksanakan pada siklus I.
Berdasarkan data di atas keadaan tersebut menjadi landasan peneliti untuk melakukan tindakan untuk meningkatkan kemampuan berbicara anak dengan menerapkan metode sosiodrama yang sudah disediakan oleh peneliti. Dengan menerapkan metode sosiodrama diharapkan dapat meningkatkan kemampuan berbicara anak di kelompok B TK Tompo’na Kelurahan Tonrorita.
b. Data hasil tindakan siklus I penerapan metode sosiodrama dalam meningkatkan kemampuan berbicara di TK Tompo’na Kelurahan Tonrorita
Penelitian dalam siklus I terdiri dari 4 tahap yaitu tahap perencanaan, pelaksanaan, pengamatan (observasi) dan refleksi, di mana pada siklus ini dilaksankan dua kali pertemuan. Pertemuan yang pertama dilaksanakan pada hari Senin tanggal 12 Oktober 2020, pertemuan yang kedua dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 15 Oktober 2020. Berikut merupakan deskripsi pelaksanaan penelitian siklus I.
a. Tahap Perencanaan 1) Menentukan Tema
Peneliti dalam menentukan tema yang akan digunakan dengan menyusaikan tema yang ada di TK Tompo’na Kel. Tonrorita. Tema yang digunakan adalah tema “Tanaman”.
2) Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian (RPPH)
Rencana pelaksanaan pembelajaran harian (RPPH) ini disusun oleh peneliti yang bekerja sama dengan pendidik
3) Menyiapkan media
Sebelum melakukan penelitian, peneliti mempersiapkan media untuk kegiatan pembelajaran yaitu bermain peran.
4) Mempersiapkan Instrumen
Peneliti ini menggunakan lembar observasi berbentuk ceklis. Lembar
observasi digunakan untuk mengukur peningkatan kemampuan intrapersonal anak pada proses pembelajaran.
b. Tahap Tindakan
Proses tindakan siklus I terdiri dari pertemuan 1 dan pertemuan 2 yang terdiri dari kegiatan awal, inti dan ahkir. Siklus I menggunakan tema Tanaman.
Deskripsi tiap pertemuan sebagai berikut:
1) Siklus I pertemuan 1
Pelaksanaan tindakan dilakasankan pada hari Kamis, 12 Oktober 2020 dengan menggunakan tema tanaman, sub tema buah, dan sub-sub tema macam- macam buah.
a) Kegitan Awal
Langkah pertama anak-anak berbaris di depan kelas setelah bel berbunyi, dilanjutkan dengan kegiatan motorik dengan jalan di tempat serta bernyanyi (lagu Lonceng berbunyi dan ayo berbaris). Pada tahap awal pelaksanaan kegiatan pembelajaran didahului dengan mengucapkan salam terlebih dahulu dan berdoa bersama (doa sebelum belajar) kemudian guru mengajak peserta didik membaca surah-surah pendek (surah Al-Fatihah, Al-Ikhlas ,dan An- Naas), selanjutnya guru mengajak peserta didik menyebutkan (Pancasila), selanjutnya guru mengajak peserta didik bernyanyi (macam-macam buah) guru mengkomunikasikan sub-sub tema yaitu: “Macam-macam buah”.
b) Kegiatan Inti
Pada kegiatan inti guru sudah melakukan kegiatan proses belajar mengajar dengan pendekatan metode sosiodrama dengan kegiatan permainan bermain peran, Langkah yang dilakukan guru dan peneliti untuk melihat kemampuan berbicara anak yaitu:
1. Anak-anak diberi penjelasan tentang permainan yang akan dilakukan, yaitu bermain peran dengan sub tema macam-macam buah.
2. Guru memberikan kesempatan kepada anak untuk memilih peran yang ingin di mainkan, anak-anak memilih bermain peran tentang sosok buah.tahap 1 ada 6 anak yang ingin memainkan dan tahap 2 ada juga 6 anak yang memainkan peran.
3. Guru menyiapkan media yang relevan tentang buah yaitu apel, semangka, melon.
4. Anak mengambil alat dan bahan yang akan digunakan untuk bermain peran.
5. Anak melakukan permainan bermain peran.
Kegiatan selanjutnya, yaitu anak mengerjakan lembar kerja dengan kegiatan mengurutkan gambar buah semangka dari gambar kecil ke yang terbesar. Sebelum melaksanakan kegiatan guru menjelaskan cara mengurutkan kemudian guru membagikan kertas, lem, gambar semangka yang di acak-acak.
c) Kegiatan Akhir
Kegiatan akhir dilakukan setelah proses belajar di mana anak diajak duduk melingkar kemudian dilanjutkan dengan guru mengajak anak untuk melakukan diskusi tentang pembelajaran hari ini dan menanyakan bagaimana perasaanya saat melaksanakan kegiatan tersebut. Selanjutnya guru mengajak anak bernyanyi (lagu macam-macam buah) membaca doa sebelum pulang (doa kedua orang tua, do’a kebaikan dunia dan akhirat, surah Al-Asr, doa keluar rumah/ruangan, doa naik kendaraan), salam dan pulang.
2) Siklus I Pertemuan II
Pelaksanaan tindakan dilakasankan pada hari kamis, 15 Oktober 2020 dengan menggunakan tema tanaman, sub tema buah, dan sub-sub tema manfaat buah.
a) Kegiatan Awal
Langkah pertama anak-anak berbaris di depan kelas setelah bel berbunyi, dilanjutkan dengan kegiatan motorik dengan jalan di tempat serta bernyanyi (lagu Lonceng berbunyi dan ayo berbaris). Pada tahap awal pelaksanaan kegiatan pembelajaran didahului dengan mengucapkan salam terlebih dahulu dan berdoa bersama (doa sebelum belajar) kemudian guru mengajak peserta didik membaca surah-surah pendek (surah Al-Fatihah, Al-Ikhlas ,dan An- Naas), selanjutnya guru mengajak peserta didik menyebutkan (Pancasila), guru mengkomunikasikan sub-sub tema yaitu: “Manfaat buah”.
b) Kegiatan Inti
Pada kegiatan inti guru sudah memberikan waktu kepada peneliti untuk melakukan kegiatan proses belajar mengajar dengan metode sosiodrama dengan kegiatan permainan bermain peran, Langkah yang dilakukan guru dan peneliti untuk melihat kemampuan berbicara anak yaitu:
1. Anak-anak diberi penjelasan tentang permainan yang akan dilakukan, yaitu bermain peran dengan sub-sub tema manfaat buah.
2. Guru memberikan kesempatan kepada anak untuk memilih peran yang akan dimainkan, anak-anak memilih bermain peran sebagai penjual dan pembeli buah. 4 anak memilih peran sebagai penjual buah dan 8 anak memilih sebagai pembeli buah.
3. Guru menyiapkan media atau alat yang digunakan untuk bermain peran
yaitu berbagai jenis buah, keranjang dan uang mainan.
4. Anak mengambil alat dan bahan yang akan digunakan untuk bermain peran.
Kegiatan selanjutnya, yaitu anak mengerjakan lembar kerja dengan kegiatan mengunting buah melon menggunakan. Sebelum melaksanakan kegiatan guru menjelaskan cara mengunting dengan baik dan benar kemudian guru membagikan lembar kerja dan gunting.
c) Kegiatan Akhir
Kegiatan akhir dilakukan setelah proses belajar di mana anak diajak duduk melingkar kemudian dilanjutkan dengan guru mengajak anak untuk melakukan diskusi tentang pembelajaran hari ini dan menanyakan bagaimana perasaanya saat melaksanakan kegiatan tersebut. Selanjutnya guru mengajak membaca doa sebelum pulang (doa kedua orang tua, do’a kebaikan dunia dan akhirat, surah Al-Asr, doa keluar rumah/ruangan, doa naik kendaraan), salam dan pulang.
c. Tahap Pengamatan (observasi)
Tahap ini merupakan tahap di mana peneliti dapat menilai tujuan pembelajaran yang telah dicapai. Pengamatan dilakukan oleh peneliti di dalam kelas, yakni pada saat penyelenggaraan proses pembelajaran oleh guru. Pada saat guru menjelaskan beberapa anak berusaha memahami yang di sampaikan oleh pendidik dan terdapat anak tidak fokus hal ini terbukti ada beberapa anak sibuk ngobrol dengan teman kelompoknya. oleh karena itu ada 6 anak belum berkembang, 5 anak mulai berkembang. 2 anak berkembang sesuai harapan oleh karena itu pendidik lebih menekankan untuk memberikan pengaruh tentang
peraturan dalam melaksanakan kegiatan dengan menerapkan metode sosiodrama agar anak mulai paham setiap aturan pelaksanaa kegiatan pembelajaran meskipun belum seluruhnya optimal.
Tabel 4.6. Hasil Observasi dan Evaluasi Aktivitas Anak Didik
Peningkatan Kemampuan Berbicara Pada Pertemuan 1, dan 2 Pada Siklus I
No Nama Anak Didik
Skor P.1
Presentase Skor P.2
Presentase Kriteria
1 Aulia 8 40% 10 50% MB
2 Rifqi 8 40% 10 50% MB
3 Fathur 5 25% 5 25% BB
4 Alif 8 40% 10 50% MB
5 Rahmat 7 35% 10 50% MB
6 Naila 7 35% 10 50% MB
7 Adis Ufaira 10 50% 10 50% MB
8 Sabrina 5 25% 6 30% BB
9 Aisyah 5 25% 8 40% BB
10 Dinara 9 45% 10 50% MB
11 Farrel 10 50% 10 50% MB
12 Qaila 5 25% 8 40% BB
Rata-Rata Persentase Aktivitas Anak Didik Peningkatan Kemampuan Berbicara Anak
Pada Siklus I
44,58% MB
Keteranga:
Skor pertemuan 1 (Skor P.1) Skor Pertemuan 2 (Skor P.2)
Dapat diketahui pencapaian peningkatan kemampuan berbicaraa anak di kelompok B pada siklus I menggambarkan bahwa dari 12 anak ada 4 anak yang memiliki kriteria belum berkembang karena pada saat kegiatan pembelajaran dalam bermain peran belum menunjukkan sikap percaya diri dalam menentukan sendiri peran yang ingin dimainkan serta belum mampu menunjukkan reaksi emosi, senang, marah, dan ingin tahu serta belum mampu mengungkapkan keinginan dan minat dengan cara yang tepat. 8 anak memilki kriteria mulai berkembang karena di mana pada saat kegiatan pembelajaran dalam bermain peran anak mulai mampu menunjukkan sikap percaya diri dalam menentukan sendiri peran yang ingin dimainkan walaupun masih dalam bantuan.
Dari tabel hasil observasi dan evaluasi aktivitas anak didik peningkatan kemampuan berbicara pada pertemuan pertama dan pertemuan kedua pada siklus I di atas dapat disajikan melalui tabel dibawah ini:
Tabel 4.7 Rekapitulasi Hasil Observasi dan Evaluasi Aktivitas Anak Didik Peningkatan Kemampuan Berbicara Anak pada Pertemuan Pertama dan Pertemuan Kedua Pada Siklus I
No Kriteria Jumlah
Anak Didik
Presentase Skor
1 Belum Berkembang (BB) 4 19% 55
2 Mulai Berkembang (MB) 8 25,58% 480
3 Berkembang Sesuai Harapan (BSH)
- - -
4 Berkembang Sangat Baik (BSB) - - -
Rata-Rata Persentase Aktivitas Anak Didik Peningkatan
Kemampuan Berbicara 44,58%
Berdasarkan tabel rekapitulasi dan hasil aktivitas dan evaluasi anak didik untuk meningkatkan kemampuan berbicara anak pada siklus I di pertemuan pertama dan pertemuan kedua mengalami sedikit peningatan. Dari 12 anak ada 4 anak yang memiliki kriteria Belum Berkembang karena pada saat bermain peran belum mampu menunjukkan sikap percaya diri dalam memilih kegiatan, belum mampu menunjukka reaksi emosi senang, marah, ingin tahu serta belum mampu mengungkapkan kebutuhan, keinginan dan minat dengan cara yang tepat, 8 anak yang memiliki kriteria Mulai Berkembang karena dalam bermain peran sudah mampu menunjukkan sikap percaya diri dalam memilih peran yang ingin dimainkan walaupun masi dibantu oleh guru.
Berdasarkan pelaksanaan sebelum tindakan menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan berbicara anak belum seharusnya optimal karena masih terdapat anak memiliki kriteria Belum Berkembang (BB) sebelum tindakan memperoleh rata-rata presentase 26,25% yang diperoleh dari keseluruhan rata- rata yang dimiliki oleh anak. Sedangkan pada siklus I memiliki kriteria mulai berkembang (MB) dengan memperoleh hasil rata- rata yang persentase 44,58%
yang diperoleh dari pertemuan terakhir yaitu pertemuan kedua karena pertemuan kedua memperoleh hasil rata-rata presentase tertinggi dari pertemuan pertama.
Namun hal ini belum mencapai kriteria yang diharapkan yaitu kriteria berkembang sesuai harapan (BSH), maka peneliti ingin memperbaiki hasil pada pelaksanaan penelitian ke siklus II.
d. Tahap Refleksi Siklus I
Refleksi dalam penelitian ini adalah evaluasi yang dilakukan yang terhadap pelaksanaan kegiatan pada siklus I. Hasil refleksi selanjutnya dijadikan pedoman untuk pelaksanaan kegiatan penerapan metode sosiodrama dalam meningkatkan kemampuan berbicara pada siklus II. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa proses kegiatan pembelajaran menggambarkan dalam menerapkan sosiodrama atau bermain peran melalui dapat memberikan stimulasi untuk meningkatkan kemampuan berbicara anak.
Dan refleksi dilakukan untuk mengetahui kendala-kendala selama proses pembelajaran berlangsung pada siklus I. pada tindakan siklus I terlihat anak kurang kondusif terutama pada anak yang suka mengganggu temannya dan sibuk dengan dirinya sendirinya. Adapun kendala– kendala pada siklus I sebagai berikut:
1) Saat permainan berlangsung terdapat anak tidak mampu mengingat peran yang akan dimainkan.
2) Terdapat anak yang tidak bersemangat, hanya diam atau melakukan kegiatan sendiri.
3) Beberapa anak yang cenderung menutup diri atau pemalu.
Berdasarkan hasil yang diperoleh pada siklus I terajadi peningkatan dalam kemampuan berbicaral namun masih banyak belum mencapai indikator yang ditentukan, sehingga perlu dilakukan tindakan siklus II.
c. Data hasil tindakan siklus II penerapan metode sosiodrama dalam Meningkatkan kemampuan berbicara di TK Tompo’na Kelurahan Tororita a. Tahap Perencanaan
3) Menentukan Tema
Peneliti dalam menentukan tema yang akan digunakan dengan menyusaikan tema yang ada di TK Tompo’na Kel. Tonrorita. Tema yang digunakan adalah tema “Tanaman”.
4) Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian (RPPH)
Rencana pelaksanaan pembelajaran harian (RPPH) ini disusun oleh peneliti yang bekerja sama dengan pendidik
5) Menyiapkan media
Sebelum melakukan penelitian, peneliti mempersiapkan media untuk kegiatan pembelajaran yaitu bermain peran.
6) Mempersiapkan Instrumen
Peneliti ini menggunakan lembar observasi berbentuk ceklis. Lembar
observasi digunakan untuk mengukur peningkatan kemampuan intrapersonal anak pada proses pembelajaran.
b. Tahap Tindakan
Proses tindakan siklus II terdiri dari pertemuan 1 dan pertemuan 2 yang terdiri dari kegiatan awal, inti dan akhir. Siklus I menggunakan tema Tanaman.
Deskripsi tiap pertemuan sebagai berikut : 1. Siklus II Pertemuan I
Pelaksanaan tindakan dilakasankan pada hari Senin, 19 Oktober 2020
dengan menggunakan tema tanaman, sub tema sayur, dan sub-sub tema macam- macam sayur.
a) Kegiatan Awal
Langkah pertama anak-anak berbaris di depan kelas setelah bel berbunyi, dilanjutkan dengan kegiatan motorik dengan jalan di tempat serta bernyanyi (lagu Lonceng berbunyi dan ayo berbaris). Pada tahap awal pelaksanaan kegiatan pembelajaran didahului dengan mengucapkan salam terlebih dahulu dan berdoa bersama (doa sebelum belajar) kemudian guru mengajak peserta didik membaca surah-surah pendek (surah Al-Fatihah, Al- Ikhlas, dan An-Naas), selanjutnya guru mengajak peserta didik menyebutkan (Pancasila), guru mengkomunikasikan sub-sub tema yaitu: “Macam-macam sayur”.
b) Kegiatan Inti
Pada kegiatan inti guru melakukan kegiatan proses belajar mengajar dengan pendekatan metode sosiodrama dengan kegiatan permainan bermain peran, Langkah yang dilakukan guru dan peneliti untuk melihat kemampuan berbicara anak yaitu:
1. Anak-anak diberi penjelasan tentang permainan yang akan dilakukan, yaitu bermain peran dengan sub tema macam-macam sayur.
2. Guru memberikan kesempatan kepada anak untuk memilih peran yang ingin dimainkan, anak-anak memilih bermain peran tentang juru masak/koki.
Anak-anak memilih bermain peran tentang rumah makan. 3 anak memilih peran sebagai juru masak/koki, 2 anak memilih peran sebagai pelayan dan 7
anak memilih peran sebagai pengunjung.
3. Guru menyiapkan media atau alat yang digunakan anak untuk bermain peran yaitu alat-alat masak, alat makan dan berbagai macam sayuran.
4. Anak mengambil alat dan bahan yang akan digunakan untuk bermain peran.
Kegiatan selanjutnya, yaitu anak mengerjakan lembar kerja mewarnai gambar wortel. Sebelum melaksanakan kegiatan guru menjelaskan cara mewarnai yang benar.
c) Kegiatan Akhir
Kegiatan akhir dilakukan setelah proses belajar di mana anak diajak duduk melingkar untuk membaca doa sesudah makan. Kemudian dilanjutkan dengan guru mengajak anak untuk melakukan diskusi tentang pembelajaran hari ini dan menanyakan bagaimana perasaanya saat melaksanakan kegiatan tersebut. Selanjutnya guru mengajak anak bernyanyi (lagu nama-nama sayuran), membaca doa sebelum pulang (doa kedua orang tua, do’a kebaikan dunia dan akhirat, surah Al-Asr, doa keluar rumah/ruangan, doa naik kendaraan). salam dan pulang.
2. Siklus II pertemuan 2
Pelaksanaan tindakan dilakasankan pada hari Kamis, 22 Oktober 2020 dengan menggunakan tema tanaman, sub tema sayur, dan sub-sub tema manfaat sayur.
a) Kegiatan Awal
Langkah pertama anak-anak berbaris di depan kelas setelah bel berbunyi, dilanjutkan dengan kegiatan motorik dengan jalan ditempat serta
bernyanyi (lagu Lonceng berbunyi dan ayo berbaris). Pada tahap awal pelaksanaan kegiatan pembelajaran di dahului dengan mengucapkan salam terlebih dahulu dan berdoa bersama (doa sebelum belajar) kemudian guru mengajak peserta didik membaca surah-surah pendek (surah Al-Fatihah, Al- Ikhlas ,dan An-Naas), selanjutnya guru mengajak peserta didik menyebutkan (Pancasila), selanjutnya guru mengajak peserta didik bernyanyi (lagu ayo makan sayur) guru mengkomunikasikan sub-sub tema yaitu: “Macam-macam sayur”.
b) Kegiatan Inti
Pada kegiatan inti guru melakukan kegiatan proses belajar mengajar dengan penerapan metode sosiodrama dengan kegiatan permainan bermain peran, Langkah yang dilakukan guru dan peneliti untuk melihat kemampuan berbicara anak yaitu:
1. Anak-anak diberi penjelasan tentang permainan yang akan dilakukan, yaitu bermain peran dengan sub tema manfaat sayur.
2. Guru memberikan kesempatan kepada anak untuk memilih peran sebagai penjual sayur
3. Guru menyiapkan media atau alat yang digunakan untuk bermain peran yaitu penjual sayur. 4 orang anak sebagai penjual 8 anak sebagai pembeli.
4. Anak mengambil alat dan bahan yang akan digunakan untuk bermain peran.
5. Anak melakukan permainan bermain peran.
Kegiatan selanjutnya, yaitu anak mengerjakan lembar kerja dengan kegiatan menjiplak gambar terung. Sebelum melaksanakan kegiatan guru menjelaskan cara menjiplak gambar terung dengan benar kemudian guru membagikan kertas, dan gambar terung.
c. Tahap Pengamatan/Observasi
Pengamatan dan kemampuan berbicara anak pada siklus II menunjukkan adanya peningkatan sebagai hasil dari proses perbaikan.
Sebagian besar anak mampu memainkan pera yang dia pilih serta anak yang tadinya tidak bersemangat, kurang aktif, suka main sendiri dan cenderung diam, jauh lebih berkurang. Sudah mampu mengikuti tahap demi tahap dari seluruh rangkaian permainan. Terbukti hampir semua anak mampu menunjukkan sikap percaya diri dalam memilih kegiatan, menunjukkan reaksi emosi, senang, marah, rasa ingin tahu serta mengungkapkan kebutuhan, keinginan, dan minat diri dengan cara yang tepat. Semua anak mengikuti seluruh permainan dengan aturan selama proses pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan berbicara dengan menerapkan metode sosiodrama/bermain peran.
Tabel 4.8. Hasil Observasi dan Evaluasi Anak Didik Peningkatan Kemampuan Berbicara Pada Pertemuan 1, dan 2 Pada SiklusII No Nama Anak
Didik
Skor P.1
Presentase Skor P.2
Presentase Kriteria
1 Aulia 14 70% 17 85% BSB
2 Rifqi 14 70% 17 85% BSB
3 Fathur 10 50% 12 65% BSH
4 Alif 13 65% 16 80% BSH
5 Rahmat 13 65% 16 80% BSH
6 Naila 12 60% 14 70% BSH
7 Adis Ufaira 15 75% 19 95% BSB
8 Sabrina 11 55% 14 70% BSH
9 Aisyah 11 55% 15 75% BSH
10 Dinara 16 80% 19 95% BSB
11 Farrel 16 90% 19 95% BSH
12 Qaila 11 55% 14 70% BSH
Rata-Rata Persentase Aktivitas Anak Didik Peningkatan Kemampuan Berbicara Anak
Pada Siklus II
80% BSH
Keterangan:
Skor pertemuan 1 (Skor.P.1) Skor Pertemuan 2 (Skor.P.2)
Dapat diketahui pencapaian peningkatan kemampuan berbicara anak di kelompok B pada siklus II menggambarkan bahwa dari 12 anak ada 7 anak yang memiliki kriteria Berkembang Sesuai Harapan (BSH) yaitu karena pada saat melakukan permainan bermain peran dan bisik berantai sudah mampu menunjukkan sikap percaya diri dalam memilih kegiatan. Mulai mampu menunjukkan reaksi emosi senang, dan ingin tahu. Akan tetapi belum mampu menunjukkan reaksi emosi marah serta belum mampu mengungkapkan kebutuhan, keinginan dan minat diri dengan cara yang tepat.
Anak yang memiliki kriteria Berkembang Sangat Baik (BSB) ada 5 anak karena pada saat melakukan permainan bermain peran dan bisik berantai sudah mampu menunjukkan sikap percaya diri dalam memilih kegiatan
Dari tabel hasil observasi dan evaluasi aktivitas anak didik peningkatan kemampuan berbicara pada pertemuan pertama dan kedua pada siklus II di atas dapat disajikan melalui tabel di bawah ini:
Tabel 4.9. Rekapitulasi Hasil Observasi dan Evaluasi Aktivitas Anak Didik Peningkatan Kemampuan Berbicara Anak Pada Pertemuan Pertama dan Pertemuan Kedua Pada Siklus II
No Kriteria Jumlah
Anak Didik
Presentase Skor 1 Belum Berkembang (BB)
2 Mulai Berkembang (MB)
3 Berkembang Sesuai Harapan
(BSH) 7 52% 600
4 Berkembang Sangat Baik (BSB) 5 28% 360
Rata-Rata Persentase Aktivitas Anak Didik Peningkatan
Kemampuan Berbicara 80%
Berdasarkan Tabel rekapitulasi data hasil aktivitas dan evaluasi anak didik untuk meningkatkan kemampuan berbicara anak pada siklus II di pertemuan pertama dan pertemuan kedua mengalami peningkatan. Hasil tindakan yang diperoleh pada pertemuan kedua lebih tinggi dan memiliki kriteria Berkembang Sangat Baik, hal ini sesuai dengan tingkat keberhasilan yang akan dicapai.
Hasil tindakan pada siklus II meningkat, Anak yang memiliki kriteria Berkembang Sesuai Harapan (BSH) terdapat 7 anak yang memperoleh skor 600 dengan rata-rata presentase 52%. Anak yang memiliki kriteria Berkembang Sangat Baik (BSB) terdapat 5 anak yang memperoleh skor 360