• Tidak ada hasil yang ditemukan

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN HARIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN HARIAN "

Copied!
121
0
0

Teks penuh

Judul Skripsi: Penerapan Metode Sosiodrama dalam Meningkatkan Keterampilan Berbicara di TK Tompo'na Desa Tonrorita Kecamatan Biringbulu Kabupaten Gowa. Penerapan metode Sosiodrama dalam meningkatkan keterampilan berbicara pada Kelompok B di TK Tompo'na Desa Tonrorita.

Rumusan Masalah

Metode sosiodrama merupakan suatu cara mengajar melalui permainan yang melibatkan siswa mampu memainkan peran dan mampu menghubungkan peran yang satu dengan peran yang lain. Metode sosiodrama sangat baik untuk meningkatkan keterampilan berbicara anak karena dalam sosiodrama terdapat dialog drama yang dapat digunakan untuk melatih siswa mengulang kalimat sederhana dan kegiatan berbahasa terjadi melalui dialog atau percakapan yang dilakukan atau diikuti oleh siswa, sehingga guru dapat melatih siswa dalam berekspresi. pikiran mereka dengan jelas, ajukan pertanyaan kepada siswa.

Tujuan Penelitian

Manfaat Penelitian

Penelitian Relevan

Sukmawati (2016) melakukan penelitian tesis dengan judul “Pengaruh Penggunaan Metode Sosiodrama Terhadap Kemampuan Bercerita”. Ni Made Wahyuni ​​​​melakukan penelitian tesis dengan judul “Penggunaan Metode Sosiodrama untuk Meningkatkan Keterampilan Bercerita”.

Teori Bahasa

Menurut Gardner (Ahmad Susanto), fungsi bahasa di taman kanak-kanak adalah sebagai alat pengembangan kemampuan dasar anak, (c) sebagai alat pengembangan ekspresi anak, dan (d) sebagai alat untuk berekspresi. emosi dan pikiran kepada orang lain.

Kemampuan Berbicara

Sama halnya dengan keterampilan lainnya, kemampuan berbicara anak dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Dari hasil penelitian, metode pembelajaran adalah cara atau teknik penyajian bahan pembelajaran yang akan digunakan guru pada saat penyajian bahan pembelajaran, baik secara individu maupun kelompok. Dari pemikiran di atas dapat disimpulkan bahwa metode sosiodrama merupakan suatu kegiatan penafsiran peran dalam sebuah cerita yang memerlukan kerjasama antar aktor.Sosiodrama diwujudkan dengan teknik dramatisasi dimana anak memainkan perannya sesuai dengan masing-masing tokoh yang diperankan.

Dalam sosiodrama bebas, anak juga bebas menentukan peran dan menghindari dialog atau aktivitas yang dapat mengganggu aktivitas sosiodrama. Dalam kegiatan ini guru menyiapkan cerita untuk ditafsirkan oleh anak berdasarkan tema atau subtema kegiatan yang dibahas pada minggu tertentu. Guru juga dapat membuat sosiodrama berdasarkan keadaan tertentu, misalnya pada tema hari pendidikan, guru memprogram sosiodrama dengan judul “terima kasih guruku” untuk menampilkan sosiodrama terbimbing, guru menyiapkan cerita yang akan anak-anak buat. bertindak. di luar, dalam bentuk dialog sesuai dengan isi cerita dan tokoh yang akan dimaknai oleh setiap anak.

Dalam sosiodrama bebas, anak juga bebas menentukan peran dan menghindari dialog atau aktivitas yang mengganggu aktivitas dramatisasi.

Kerangka pikir

Pendekatan Penelitian

Metode campuran dipilih untuk menggambarkan aktivitas yang dilakukan siswa dan guru dalam proses pembelajaran. Perangkat yang digunakan dalam penelitian ini adalah guru memberikan kostum kepada anak yang akan berperan dalam media sosiodrama.

Fokus Penelitian

Setting dan Subjek Penelitian

Desain dan Prosedur Penelitian

Pada saat pelaksanaan tindakan, observasi dilakukan dengan menggunakan lembar observasi yang telah disusun dan mencatat kejadian-kejadian yang tidak dimasukkan dalam lembar observasi. Yang diamati pada saat pelaksanaan tindakan adalah kegiatan pelaksanaan metode sosiodrama. Pada fase ini peneliti dan guru melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan tindakan pada Siklus I yang meliputi analisis, sintesis, pemaknaan, penjelasan dan kesimpulan dari data dan informasi yang dikumpulkan. Data dan informasi tersebut digunakan sebagai bahan pertimbangan perencanaan pelaksanaan metode sosiodrama pada siklus berikutnya.

Apabila pada tindakan siklus pertama sudah tercapai hasil, maka akan terus dilaksanakan siklus kedua untuk membuktikan bahwa hasil tersebut bukan suatu kebetulan, melainkan merupakan hasil penerapan metode sosiodrama. Tindakan Siklus II dimaksudkan sebagai hasil refleksi dan perbaikan pelaksanaan program pada Siklus I, dimana pada Siklus I peningkatan keterampilan berbicara anak melalui metode sosiodrama belum berhasil. Tema tanah airku dengan subtema kehidupan di kota dan desa pada siklus I tidak meningkatkan kemampuan berbicara anak.

Teknik dan Prosedur Pengumpulan Data

Teknik Analisis Data 1. Teknik Analisis Data

Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Setting ini cukup strategis karena lokasinya memungkinkan anak-anak aman karena lokasinya jauh dari jalan utama. TK Tompo'na mempunyai 3 gedung yaitu 1 ruang direktur dan ruang kelas yaitu Grup A dan Grup B. Lokasi TK Tompo'na berada di pedesaan, lokasinya cukup memungkinkan karena anak-anak aman karena lokasinya yang jauh. dari jalan utama.

Dari uraian di atas mengenai gambaran umum lokasi peneliti, maka yang menjadi sasaran peneliti dalam hal ini adalah para tenaga pengajar atau pendidik kelompok B yang berjumlah 12 orang siswa yaitu 5 laki-laki dan 7 perempuan dengan didampingi 1 orang. pengajar.

Tabel 4.2 Kualifikasi Pendidikan Tenaga Pengajar TK Tompo’na
Tabel 4.2 Kualifikasi Pendidikan Tenaga Pengajar TK Tompo’na

Deskripsi Hasil Penelitian

Rekapitulasi hasil observasi dan evaluasi aktivitas siswa untuk meningkatkan keterampilan berbicara anak sebelum tindakan adalah 37%. Oleh karena itu, perlu dilakukan tindakan lebih lanjut yang dapat meningkatkan keterampilan berbicara anak, yang akan dilaksanakan pada siklus I. Berdasarkan tabel rekapitulasi dan hasil kegiatan serta penilaian siswa untuk meningkatkan keterampilan berbicara anak pada Siklus I pada pertemuan pertama dan pertemuan kedua terdapat sedikit peningkatan.

Observasi dan keterampilan berbicara anak pada siklus II menunjukkan adanya peningkatan sebagai hasil dari proses perbaikan tersebut. Terlihat bahwa pencapaian peningkatan keterampilan berbicara anak kelompok B pada siklus II menggambarkan bahwa dari 12 anak terdapat 7 anak yang mempunyai kriteria perkembangan sesuai harapan (BSH) yaitu karena pada saat bermain peran. bermain dan permainan berantai. dengan berbisik mereka mampu menunjukkan sikap percaya diri dalam memilih kegiatan. . Rangkuman hasil observasi dan evaluasi aktivitas siswa untuk meningkatkan kemampuan berbicara anak pertemuan pertama dan kedua siklus II.

Berdasarkan tabel rekapitulasi data hasil aktivitas siswa dan evaluasi peningkatan keterampilan berbicara anak pada siklus II pada pertemuan pertama dan kedua terjadi peningkatan.

Tabel 4.5 Rekapitulasi Hasil Observasi dan Evaluasi Aktivitas Anak  Peningkatan Kemampuan Berbicara pada Pra Tindakan
Tabel 4.5 Rekapitulasi Hasil Observasi dan Evaluasi Aktivitas Anak Peningkatan Kemampuan Berbicara pada Pra Tindakan

PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

Hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya (pratindakan) menunjukkan bahwa anak kurang mempunyai keterampilan berbicara ketika melakukan aktivitas percakapan dalam kegiatan bermain peran. Oleh karena itu dilakukan kegiatan untuk menunjang keterampilan berbicara anak yaitu dengan melaksanakan kegiatan sosiodrama. Dilakukan 2 kali siklus. Pada siklus pertama yang dilaksanakan terlihat bahwa pembiasaan, motivasi dan keteladanan sangat diperlukan pada anak untuk meningkatkan keterampilan berbicaranya melalui kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan. Peran guru sangat diperlukan dalam kegiatan-kegiatan untuk menunjang dan menumbuhkan semangat serta motivasi rasa percaya diri anak ketika datang ke kelas, baik dalam kegiatan sosiodrama maupun dalam kegiatan bermain peran dan lainnya.

Pada Siklus 1 guru berusaha memberikan motivasi dan memperbanyak variasi lagu agar anak menjadi lebih semangat dalam melakukan kegiatan pembelajaran. Sebagaimana dikemukakan oleh Djamarah, motivasi adalah energi yang dimiliki setiap orang atau individu dalam bentuk berbagai emosi dan interaksi untuk mencapai suatu tujuan tertentu.

Pembahasan Penelitian

Peningkatan Keterampilan Berbicara Anak Setelah Penerapan Metode Sosiodrama Pada Anak kelompok B di TK Tompo’na Kal. Tonrorita Kab

Pada siklus II kegiatan pendidikan yang dilakukan mengalami peningkatan, hasil tindakan pada siklus II mengalami peningkatan. Anak yang memiliki kriteria Perkembangan Sesuai Harapan (BSH) berjumlah 7 orang yang memperoleh nilai 600 dengan rata-rata persentase 52%. Kriteria perkembangan sangat baik (BSB) terdapat 5 anak yang memperoleh nilai 360 dengan rata-rata persentase 28%. Hasil tersebut dapat dikatakan bahwa penggunaan metode sosiodrama mampu meningkatkan keterampilan berbicara anak.Keberhasilan siklus II disebabkan adanya peningkatan kegiatan pada siklus I yaitu guru mengikuti kegiatan sosiodrama dari waktu ke waktu dengan memantau penonton dari waktu ke waktu, agar ada dorongan dan motivasi bagi anak-anak.

Dengan penerapan metode sosiodrama sebagai tindakan yang diberikan kepada siswa oleh guru dan peneliti, tidak terjadi perbaikan pada siklus I, meskipun ada beberapa yang sudah mulai berkembang. Pada siklus II, siswa lebih menikmati permainan sosiodrama; ada pula yang mampu berpartisipasi dalam permainan tanpa dibujuk, berbeda dengan proses pada siklus pertama, dimana anak-anak belum percaya diri dan berani untuk berpartisipasi. permainan sosiodrama. Setelah dilakukan tindakan pada siklus I terjadi peningkatan dengan jumlah skor 535 dengan persentase 44,58% memenuhi kriteria.

Selain itu tindakan pada siklus II mengalami peningkatan dengan jumlah skor 960 dengan persentase 80% dengan kriteria baik.

Saran

Penerapan Metode Sosiodrama untuk Meningkatkan Kemampuan Berbicara Bahasa Indonesia Siswa Kelas V MIN Lampanah Leungah Aceh Besar [Disertasi PhD]. Penggunaan Metode Sosiodrama untuk Mengembangkan Keterampilan Berbahasa Anak Kelompok A Semester II Tahun Pelajaran 2010/2011 TK Minhajut Thullab Kecamatan Beji Kabupaten Pasuruan. Pengaruh penerapan bermain dengan media gambar serial terhadap pengembangan keterampilan berbicara dan penguasaan kosakata pada anak usia dini.

Pengaruh Penggunaan Metode Sosiodrama Terhadap Keterampilan Berbicara Anak Usia 4-5 Tahun Di TK Sandhy Putra Telkom Kecamatan Marpoyan Damai Pekanbaru [Disertasi PhD]. Penggunaan metode role play dengan media gambar berseri untuk meningkatkan keterampilan bercerita anak kelompok B di TK Dharma Kusuma. Penulis masuk SD pada tahun 2003 di SDN Tonrorita dan lulus pada tahun 2009, lulus SMPN 1 Biringbulu pada tahun 2012 dan lulus MA Al-Mubarak Tonrorita pada tahun 2015.

Pada tahun yang sama, penulis melanjutkan pendidikannya di Program Sarjana (S1) Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Makassar.

KISI-KISI INSTRUMEN PENELITIAN GURU DAN ANAK

3 Buatlah daftar alat dan bahan yang akan digunakan dan tugas atau peran masing-masing anak.

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN HARIAN

RPPH)

KEGIATAN PENUTUP

Diskusikan aktivitas apa yang dia mainkan sepanjang hari, mainan apa yang paling dia sukai.

RENCANA PENILAIAN 1. Sikap

  • KEGIATAN PENUTUP
  • RENCANA PENILAIAN 1. Sikap

Alat dan bahan : Gambar buah melon, gunting, media terkait. Menceritakan cerita pendek yang mengandung pesan 4. Bersyukurlah bahwa kamu adalah buah ciptaan Tuhan d. Menggunakan kata-kata yang sopan saat bertanya 2. Materi kegiatan: - Menyebutkan macam-macam sayuran - Menyanyikan lagu dengan menyebutkan nama-nama sayuran - Pengenalan bentuk-bentuk sayuran - Permainan peran. Alat dan bahan: Menggambar wortel, krayon 3. Menyanyikan lagu yang menyebutkan nama-nama sayur-sayuran 3. Membahas tentang penciptaan sayur-sayuran oleh Tuhan 4. Mengenalkan kegiatan dan aturan-aturan yang digunakan dalam bermain 7. Membahas macam-macam buah-buahan 2. Menyusun alat-alat yang ada telah digunakan.

Bercerita singkat disertai pesan 4. Bersyukurlah bahwa kamu adalah sayur ciptaan Tuhan f. Gunakan kata-kata yang sopan ketika mengajukan pertanyaan. 2. Topik/subtopik/subtopik: Manfaat tumbuhan/sayuran/buah. Bicara tentang sayuran ciptaan Tuhan. 4. Perkenalkan aktivitas dan aturan yang digunakan dalam permainan tersebut. 7. Singkirkan peralatan bekas. Dia suka menambahkan banyak garam saat memasak. Jadi Chef Tito adalah favorit Raja Kelvin.

Raja Kelvin kembali marah pagi ini tentang masakan Chef Tito Chef Tito: Tapi rasa asin pada masakan ini pas.

HASIL OBSERVASI ANAK DAN DOKUMENTASI

1 : BB (Belum Berkembang) yaitu jika persentase nilai yang dicapai anak antara 30-40 2: MB (Mulai Berkembang) yaitu jika persentase nilai yang dicapai anak antara 41-60 . 3 : BSH (Berkembang sesuai harapan) yaitu jika persentase nilai yang diraih anak antara 61-80 4: BSB (Perkembangan sangat baik) yaitu jika persentase nilai yang diraih anak antara 81 -100 . .

Pertemuan 1 Dan 2

Pertemuan 1 dan 2

Gambar

Gambar 3.2 Prosedur Penelitian Tindakan Kelas oleh Arikunto dkk. (2010: 16)  1.  Tahap penelitian siklus 1
Tabel 4.1 Alat Permainan Di Luar Ruangan Kelas
Tabel 4.2 Kualifikasi Pendidikan Tenaga Pengajar TK Tompo’na
Tabel 4.4. Hasil Observasi dan Evaluasi Aktivitas Anak Didik Penerapan  Metode  Sosiodrama  dalam  Meningkatkan  Kemampuan  Berbicara Anak pada Pra Tindakan
+6

Referensi

Dokumen terkait

Keadaan yang diterima oleh anggota Tokkoutai yang tidak gugur di medan perang karena beberapa alasan yang telah disebutkan di atas merupakan salah satu bentuk marginalisasi terhadap