• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kemampuan Berbicara

Dalam dokumen RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN HARIAN (Halaman 35-48)

D. Manfaat Penelitian

3. Kemampuan Berbicara

a. Pengertian Kemampuan Berbicara

Berbicara merupakan kepandaian manusia untuk mengeluarkan suara dan menyampaikan pendapat dari pikirannya (Wikipedia bahasa Indonesia). Banyak pakar memberikan batasan tentang bicara, diantaranya Tarigan (1981:15) mengatakan bahwa berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan dan perasaan.

Sejalan dengan Tarigan (Subhayni 2017: 114), mengatakan bahwa berbicara adalah berkata, bercakap, berbahasa, melahirkan pendapat dengan perkataan. Demikian juga Djago Tarigan (Subhyani 2017:34), mengatakan bahwa berbicara adalah kemampuan seseorang menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan dengan menggunakan bahasa lisan.

Berbicara bukan hanya sekedar pengucapan bunyi-bunyi atau kata-kata.

Berbicara adalah suatu alat untuk mengkomunikasikan gagasan-gagasan yang disusun serta dikembangkan sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan sang pendengar atau penyimak. Berbicara adalah ekspresi kreatif yang dapat memanifestasikan ide belakang, tetapi juga alat utama untuk menciptakan dan menformulasikan ide baru.

Slamet berpendapat bahwa salah satu bentuk kemampuan berbicara adalah percakapan. Dalam pembelajaran percakapan ini sebenarnya dapat

menggunakan tehnik percakapan terbimbing dan bebas. Percakapan terbimbing di sini bukan berarti siswa diarahkan untuk menghafal teks, melainkan dibimbing dengan sebuah kerangka petunjuk dan kerangka pola bahasa. Melalui tehnik ini siswa dapat menciptakan bahasanya sendiri (Slamet, 2007).

Menurut Solchan (2008: 11.9) “Berbicara merupakan ungkapan pikiran dan perasaan seseorang dalm bunyi-bunyi bahasa”. Menurut Henry Guntur Tarigan (Solchan, 2008: 11.9), menjelaskan berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atas kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan, serta menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan, dari dua pendapat di atas maka disimpulkan kemampuan berbicara adalah sebagai bentuk atau wujudnya berbicara disebut sebagai suatu alat untuk mengkomunikasikan gagasan-gagasan yang disusun serta dikembangkan sesuai dengan kebutuhan- kebutuhan sang pendengar atau penyimak (Mutiari et al., 2008).

Santrock mengemukakan kemampuan berbicara merupakan suatu kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain, di mana pikiran dan perasaan individu dinyatakan dalam bentuk lambang atau simbol seperti lisan, tulisan, isyarat, bilangan, lukisan, maupun mimik yang digunakan untuk mengungkapkan sesuatu kepada orang lain (Santrock, 2009).

b. Pentingnya Kemampuan Berbicara

Kemampuan berbicara sangatlah penting. Melalui berbicara anak mampu mengekspresikan pikirannya dan menyampaikannya kepada orang lain. Selain itu, kemampuan berbicara juga memiliki banyak fungsi.

Menurut Salimah (2011:187), menyatakan bahwa kemampuan berbicara adalah “Suatu ketentuan yang dimiliki seseorang dalam mengucapkan bunyi atau kata-kata, mengekspresikan, menyampaikan pikiran, gagasan serta perasaannya kepada orang lain secara lisan”. Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kemampuan berbicara merupakan kemampuan yang dimilki seseorang dalam mengucapkan bunyi-bunyi atau kata-kata dengan tepat jelas dan baik, untuk menyampaikan maksud (ide, pikiran, gagasan atau isi hati). Seseorang kepada orang lain menggunkan bahasa lisan sehingga maksud tersebut dapat dipahami oleh orang lain (Salimah, 2011).

Dhieni (2007:3.8) yang berhubungan serta dengan perkembangan berpikir anak yakni: tahapan eksternal, terjadi ketika anak berbicara secara eksternal di mana sumber berpikir berasal dari luar diri anak. Sumber berpikir ini sebagian berasal dari orang dewasa yang memberikan pengarahan, informasi, dan melakukan tanya jawab dengan anak, selanjutnya tahap egosentris, anak berbicara sesuai dengan jalan berpikirnya dan pembicaraan orang dewasa bukan lagi persyaratan. contoh “ini baju, ini celana, ini sepatu”. Dan tahap internal, di mana dalam proses berpikir anak telah memiliki penghayatan sepenuhnya.

Menurut Dhieni (2007:3.9) karakteristik berbicara pada anak usia 4-6 tahun adalah kemampuan anak untuk dapat berbicara dengan baik, melaksanakan 2-3 perintah lisan secara berurutan dan benar, mendengarkan dan menceritakan kembali cerita sederhana dengan urutan yang mudah dipahami, menyebutkan nama, jenis kelamin, dan umurnya, anak dapat menggunakan kata sambung, menggunakan kata tanya, membandingkan dua hal, memahami konsep

timbal balik, anak dapat menyusun kalimat, mengucapkan lebih dari tiga kalimat dan mengenal tulisan sederhan (Dhieni, 2007).

c. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kemampuan Berbicara

Sama halnya dengan kemampuan-kemampuan yang lain, kemampuan berbicara pada anak dapat dipengaruhi oleh beberapa factor. Adapun faktor- faktor yang mempengaruhi kemampuan berbicara pada anak menurut Sumantri dan Syaodih (2010; 2.34) yaitu: “1) kematangan alat berbicara, 2) kesiapan berbicara, 3) adanya model yang baik untuk dicontoh oleh anak, 4) kesempatan berlatih, 5) motivasi untuk belajar dan berlatih, 6) bimbingan”. (SumantrI, 2010).

Berikut penjelasannya:

1) Kematangan alat berbicara

Kemampuan berbicara juga tergantung pada kematangan alat-alat berbicara. Misalnya tenggorokan, langit-langit, lebar rongga mulut, dan lain-lain dapat mempengaruhi kematangan berbicara. Alat-alat tersebut baru dapat berfungsi dengan baik setelah sempurna dan dapat membentuk atau memproduksiakn suatu kata dengan baik sebagai permulaan berbicara.

2) Kesiapan berbicara

Kesiapan mental anak sangat bergantung pada pertumbuhan dan kematangan otak. Kesiapan dimaksud biasanya dimulai sejak anak berusia antara 12-16 bulan, yang disebut teachable moment dari perkembangan bicara.

Pada saat inilah anak betul-betul sudah siap untuk belajar bicara yang

sesungguhnya. Apabila tidak ada gangguan anak akan segera dapat berbicara sekalipun belum jelas maksudnya.

3) Adanya model yang baik untuk dicontoh oleh anak

Anak dapat membutuhkan suatu model tertentu agar dapat melafalkan kata dengan tepat untuk dapat dikombinasikan dengan kata lain sehingga menjadi suatu kalimat yang berarti. Model tersebut dapat diperoleh dari orang lain, misalnya orang tua atau saudara dari radio yang sering didengarkan atau dari TV, atau actor film yang bicaranya jelas dan berarti. Anak akan mengalami kesulitan apabila tidak pernah memperoleh model sebagaimana disebutkan di atas. Dengan sendirinya potensi anak tidak dapat berkembang sebagaimana mestinya.

4) Kesempatan berlatih

Apabila anak kurang mendapatkan latihan keterampilan berbicara akan timbul frustasi dan bahkan sering kali marah yang tidak dimengerti penyebabnya oleh orang tua atau lingkungannya. Pada gilirannya anak kurang memperoleh motivasi untuk belajar berbicara yang pada umumnya disebut “anak ini lamban”

bicaranya.

5) Motivasi untuk belajar dan berlatih

Memberikan motivasi dan melatih anak untuk berbicara sangat penting bagi anak karena untuk memenuhi kebutuhannya untuk memanfaatkan potensi anak. Orang tua hendaknya selalu berusaha agar motivasi anak untuk berbicara jangan terganggu atau tidak mendapatkan pengarahan.

d. Indikator kemampuan berbicara

Adapun indikator kemampuan berbicara yang peneliti teliti menurut Direktorat pembinaan Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar (2010) mencakup: 1) menjawab pertanyaan apa, siapa, di mana, dan 2) mengulang kembali kalimat sederhana .

Jika indikator tersebut dapat terlaksana, maka pembelajaran yang dilakukan guru dapat dikatakan berhasil dan indikator yang merupakan acuan untuk menilai kemampuan berbicara anak dapat tercapai secara optimal.

4. Metode Sosiodrama a. Metode

Dalam penelitian anjarwani wulan “Penerapan Metode Sosiodrama Dalam Meningkatkan Kemampuan Berbicara Bahasa Indonesia”. Dari hasil penelitian Metode pembelajaran adalah cara-cara atau teknik penyajian bahan pelajaran yang akan digunakan oleh guru pada saat menyajikan bahan pelajaran, baik secara individual ataupun secara kelompok. 6 Metode digunakan untuk mewujudkan strategi yang telah ditetapkan. Dengan demikian, metode dalam rangkaian sistem pembelajaran memegang peran yang sangat penting.

Keberhasilan dari penerapan strategi pembelajaran sangat tergantung pada cara guru menggunakan metode pembelajaran, karena suatu strategi pembelajaran hanya mungkin dapat diterapkan melalui penggunaan metode pembelajaran

Metode pembelajaran didefinisikan sebagai cara yang digunakan guru untuk mencapai tujuan pembelajaran. Metode pembelajaran biasanya bersifat prosedur, yaitu berisi tahapan tertentu. Apabila dikaji kembali definisi strategi

pembelajaran, maka jelas disebutkan bahwa strategi pembelajaran harus mengandung penjelasan tentang metode dan teknik yang digunakan selama proses pembelajaran berlangsung. Dengan kata lain metode dan teknik pembelajaran merupakan bagian dari strategi pembelajaran (Anjarwani, 2017).

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa, metode adalah cara yang digunakan untuk menerapkan sebuah rencana yang sudah disusun agar tercapai secara optimal. Metode pembelajaran yaitu cara yang digunakan oleh seorang guru untuk menerapkan tahapan pembelajaran yang sudah disusun untuk mencapai tujuan pembelajaran.

b. Pengertian Metode Sosiodrama

Menurut Dhieni mengemukakan pendapat bahwa Metode sosiodrama di TK adalah suatu cara memainkan peran dalam suatu cerita tertentu yang menuntut integrasi diantara pemainnya, atau cara mengajar yang memberi kesempatan pada anak untuk melakukan kegiatan memainkan peran tertentu, seperti yang terdapat dalam kehidupan masyarakat atau kehidupan sosial (Dhieni, 2007b).

Menurut Depdiknas (2006:13), metode sosiodrama adalah cara memberikan pengalaman kepada anak melalui bermain peran. Sedangkan menurut Asmawati (2008:10.3), sosiodrama merupakan tahapan dari bermain peran yang biasanya muncul pada anak tiga sampai empat tahun. Anak mulai membangun hubungan dengan sesama. Permainan anak makin kaya dengan peniruan dan khayalan. Anak juga menunjukkan kebutuhan untuk berinteraksi

secara verbal antara dua anak atau lebih. Oleh karena itu, anak mulai membuat perencanaan (Asmawati, 2008).

Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa metode sosiodrama adalah suatu kegiatan memainkan peran dalam suatu cerita, yang menuntut kerja sama diantara pemerannya, sosiodrama dilakukan dengan teknik dramatisasi di mana anak-anak melakukan perannya sesuai masing-masing tokoh yang diperankan.

c. Bermain sosiodrama

Bermain sosiodrama banyak diminati oleh para peneliti Smilansky (1971), dalam Brewer (1992), mengamati bahwa bermain sosiodrama memiliki beberapa elemen:

1) Bermain dengan melakukan imitasi. Anak bermain pura-pura dengan melakukan peran orang di sekitarnya, dengan menirukan tingkah laku dan pembicaraannya.

2) Bermain pura-pura seperti suatu objek. Anak melakukan gerakan dan menirukan suara yang sesuai dengan objeknya misalnya, anak pura-pura menjadi mobil sambil lari dan menirukan suara mobil.

3) Bermain peran dengan menirukan gerakan. Misalnya bermain menirukan pembicaraan antara guru dan murid atau orang tua dengan anak.

4) Persisten. Anak melakukan kegiatan bermain dengan tekun sedikitnya selama 10 menit. Terjadi interaksi paling sedikit ada dua orang dalam satu adegan, dan pada setiap adegan ada komunikasi verbal antara anak yang bermain.

Bermain sosiodrama sangat penting dalam mengembangkan kreativitas,

pertumbuhan intelektual, dan keterampilan social. Tidak semua anak memiliki pengalaman sosiodrama. Oleh karena itu, para guru diharapkan memberikan pengalaman dalam bermain sosiodrama dibagi menjadi 2 yaitu:

a. Bermain peran makro dan mikro di mana bermain makro adalah anak berperan dengan sesungguhnya dan menjadi seseorang atau sesuatu.

Ketika anak memiliki pengalamannya sehari-hari dengan main peran makro (melalui tema yang ada disekitar kehidupan nyata), maka mereka belajar banyak keterampilan pra akademis seperti: mendengarkan, tetap dalam tugas, menyelesaikan masalah, dan bermain dengan bekerja sama dengan orang lain..

b. Sedangkan bermain mikro adalah anak yang memegang atau menggerak- gerakkan benda-benda berukuran kecil untuk menyusun adegan. Saat anak main peran mikro, mereka belajar untuk menghubungkan dan mengambil sudut pandang dari orang lain (Mutiah Diana, 2010).

d. Manfaat Sosiodrama

Metode sosiodrama dapat dipakai sebagai kegiatan yang mengutamakan pengembangan kemampuan berekspresi sehingga anak didik dapat menghayati berbagai bentuk perasaan juga menggali daya khayal (imajinasi).

Menurut Depdiknas (2009), manfaat metode sosiodrama adalah dapat:

1) Menyalurkan ekspresi anak-anak ke dalam kegiatan yang menyenangkan. 2) Mendorong aktivitas, inisiatif dan kreatif sehingga mereka berpartisipasi dalam pelajaran. 3) Memahami isi cerita karena ikut memainkan. 4) Membantu menghilangkan rasa malu, rendah diri, kesenggangan dan kemurungan. 5) Mengajarkan anak saling membantu dan bekerja sama dalam permainan

sosiodrama. 6) Mengembangkan kemampuan bahasa ekspresif, yaitu kemampuan dalam mengutarakan perasaan, ide atau pendapat.

e. Bentuk-bentuk Metode Sosiodrama

Pelaksanaan sosiodrama menurut (Gunarti, 2011) terbagi ke dalam 2 bagian yaitu:

1) Sosiodrama Bebas

Sosiodrama bebas ialah sosiodrama yang dilakukan anak atas keinginan sendiri dengan caranya sendiri. Pada sosiodrama bebas anak-anak bebas pula menentukan peran dan menghindari dialog atau aktivitas yang akan mengganggu kegiatan sosiodrama. Pelaksanaan sosiodrama bebas ini tergantung pada keterampilan setiap anak untuk berbicara, berekspresi, dan melakukan gerakan sesuai perannya. Biasanya anak lebih menikmati permainan ini karena mereka dapat tertawa bersama jika ada yang lucu atau mereka dapat saling membantu memperbaiki dialog, gerakan atau ekspresi apabila ada yang salah diantara mereka. Pada saat itu, sebaiknya guru mengamati dari jarak yang tidak nampak atau tidak diketahui anak agar mereka tidak merasa malu atau diintervensi. Dari pengamatan itu guru dapat pula mengevaluasi kemampuan anak dalam berbahasa.

Sosiodrama memang seharusnya dilakukan dengan acting yang spontan, namun guru melakukan arahan atau persiapan yang terencana tentang situasi pada setiap episode. Jalan cerita apapun yang dipilih, guru perlu menggambar situasinya dengan detail dan memberikan petunjuk yang jelas, agar anak dapat membayangkan dan mendorong pengkhayatan yang lebih mendalam.

2) Sosiodrama Terpimpin

Sosiodrama terpimpin ialah sosiodrama yang dilakukan oleh anak-anak dengan bimbingan guru. Dalam kegiatan ni, guru menyiapkan cerita yang akan diperankan oleh anak berdasarkan tema atau sub tema dalam kegiatan yang sedang dibahas pada minggu tertentu. Misalnya, tema “sekolahku”, dengan tema tersebut, guru dapat membuat program kegiatan sosiodrama dengan judul “ hari pertamaku di sekolah”. Guru juga dapat membuat sosiodrama berdasarkan keadaan tertentu, misalnya dalam tema hari pendidikan, guru memprogramkan sosiodrama dengan judul “terima kasih guruku” untuk melaksanakan sosiodrama terpimpin, guru menyiapakn cerita yang akan diperankan anak, berupa dialog sesuai isi cerita dan tokoh yang akan diperankan oleh setiap anak. Dalam sosiodrama terpimpin, waktu yang digunakan sebaiknya kurang lebih 15 menit, hal ini untuk membatasi peran anak yang sesuai dengan kegiatan pengembangan, serta agar anak yang bermain dan yang menonton tidak jenuh (Gunarti, 2011).

Dari uraian bentuk-bentuk metode sosiodrama di atas maka penulis menyimpulkan bahwa pelaksanaan metode sosiodrama terbagi menjadi dua yaitu sosiodrama bebas dan sosiodrama terpimpin. Pada sosiodrama bebas anak-anak bebas pula menentukan peran dan menghindari dialog atau aktivitas yang akan menggangu kegiatan dramatisasi. Pelaksanaan sosiodrama bebas ini tergantung pada keterampilan setiap anak untuk berbicara, berekspresi, dan melakukan gerakan sesuai perannya

f. Teknik Pelaksanaan Metode Sosiodrama

Cara melaksanakan metode sosiodrama menggunakan teknik sosiodrama.

Teknik sosiodrama adalah suatu kegiatan di mana anak-anak mamainkan peran orang-orang yang ada di lingkungannya, atau tokoh-tokoh dari suatu cerita maupun dongeng. Melalui sosiodrama, anak dapat belajar bertutur kata dan member kesempatan kepada setiap anak untuk bergantian berbicara (Dhieni, 2006:7.37).

1) Bentuk pelaksanaan sosiodrama

Menurut Departemen Agama (2000:9), bentuk-bentuk pelaksanaan dramatisasi terbagi menjadi 2 bagian yaitu:

a. Sosiodrama bebas ialah dramatisasi yang dilakukan anak atas keinginan sendiri dan dengan caranya sendiri. Guru tidak boleh ikut-ikutan karena akan mengganggu kewajaran permainan dan kesenangan anak.

b. sosiodrama terpimpin ialah dramatisasi yang dilakukan oleh anak-anak dengan bimbingan guru.

2) Langkah-langkah Pelaksanaan sosiodrama

Langkah-langkah pelaksanaan sosiodrama dengan teknik sosiodrama dalam pembelajaran TK adalah sebagai berikut (Depdikbud, 1998:57 dalam Dhieni, 2006:7.38):

a. Langkah-langkah pelaksanaan sosiodrama bebas

1) Anda atau guru mempersiapkan situasi dan media/alat yang diperlukan untuk memulai kegiatan.

2) Anda atau guru memberikan penjelasan kepada anak tentang apa yang diharapkan dari kegiatan sosiodrama yang akan dimainkan mereka.

3) Anda memberikan tugas untuk memerankan peran tertentu pada setiap anak sesuai dengan arahan Anda dan peran masing-masing anak.

4) Anak diberi kesempatan untuk melaksanakan sosiodrama sesuai dengan keinginannya.

5) Anak-anak melakukan sosiodrama memainkan peran dengan cara percakapannya sendiri.

6) Anda memperhatikan anak-anak yang sedang bicara dengan teman- temannya pada waktu sosiodrama bebas.

7) Bagi anak yang sudah dapat berbicara lancar diberi pujian dan yang belum diberi motivasi.

b. Langkah-langkah pelaksanaan sosiodrama terpimpin 1) Guru menyiapkan alat peraga yang digunakan.

2) Guru menyatakan atau memberi saran kepada anak-anak, cerita apa yang akan di sosiodrama (cerita biasanya sudah dikenal oleh anak), atau digali dari pengalaman anak.

3) Guru membangikan peran-peran diantara anak-anak menurut pilihan mereka sendiri.

4) Apabila ternyata anak-anak sudah agak lupa akan isi dan jalan cerita itu maka anda mengulangi lagi dengan meletakkan tekanan pada dialog (percakapan antara tokoh-tokoh dalam cerita tersebut). Anak-anak yang sudah mendapat peran memperhatikan dialog yang menjadi bagiannya.

5) Anda membagikan alat-alat sesuai dengan peran-peran yang akan dimainkan.

6) Anak-anak sosiodrama.

Berdasarkan langkah-langkah pelaksanaan kegiatan sosiodrama tersebut, dapat disimpulkan bahwa sosiodrama adalah:

1) Guru menyiapakan alat peraga yang akan digunakan sesuai dengan rencana dari jadwal kegiatan yang telah disusun.

2) Guru menjelaskan tentang cerita yang akan di sosiodrama.

3) Guru membagiakn peran yang akan dimainkan.

4) Guru memberi kesempatan kepada anak untuk memahami peran yang akan dimainkan.

5) Guru membagikan alat-alat yang sesuai dengan peran yang akan dimainkan.

Dalam dokumen RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN HARIAN (Halaman 35-48)

Dokumen terkait