BAB I PENDAHULUAN
A. Hasil Penelitian
2. Deskripsi Hasil Siklus Kedua
hanya sebagian murid yang aktif mencatat materi pelajaran, berpartisipasi pada kelompok awal, dan berpartisipasi dalam memperoleh informasi dari kelompok lain. Hal ini menggambarkan bahwa sebagian murid masih kurang aktif mengikuti pelajaran pada aspek tertentu sehingga turut mempengaruhi penguasaan terhadap materi pelajaran IPA tentang bagian-bagian utama tumbuhan. Oleh karena itu, pada siklus kedua, guru harus berupaya lebih memberikan bimbingan, motivasi, dan penguatan agar murid lebih aktif mengikuti pelajaran dalam kerja kelompok, baik pada kelompok awal maupun daam memperoleh informasi dari kelompok lain sehingga penguasaan terhadap materi pelajaran IPA dapat lebih maksimal.
2) Hasil belajar IPA pada murid kelas IV SDN No.147 Pelali Kabupaten Enrekang sebagian besar berada pada kategori belum tuntas yaitu terdapat 55 % murid yang tidak tuntas belajarnya sesuai standar KKM 70. Hal ini memberi implikasi pada perlunya optimalisasi penerapan model pembelajaran kooperatif tipe two stay two stray dalam meningkatkan hasil belajar murid agar dapat mencapai taraf
keberhasilan yang diharapkan, seperti: meningkatkan motivasi murid untuk lebih aktif dan kreatif dalam belajar secara kelompok, baik pada kelompok awal maupun kelompok lain dalam memperoleh informasi materi yang didiskusikan.
a. Hasil observasi aktivitas belajar murid
Hasil observasi terhadap aktivitas belajar murid dalam mengikuti pelajaran IPA melalui model pembelajaran kooperatif tipe two stay two stray pada murid kelas IV SDN No.147 Pelali Kabupaten Enrekang pada siklus kedua, disajikan sebagai berikut:
Tabel 4.5 Hasil Observasi Kegiatan Murid Siklus II
No Objek Pengamatan
Siklus II Persentase
Pertemuan (%)
I % II % III %
1. Menyimak penjelasan guru 15 75 17 85 17 85 81,67
2. Mencatat materi pelajaran secara lengkap
14 70 16 80 18 90 80
3. Partisipasi dalam kelompok pada kelompok awal
15 75 16 80 17 85 80
4. Partisipasi memperoleh informasi dari kelompok lain
13 65 15 75 17 85 75
5. Bertanya jawab 15 75 17 85 18 90 83,34
6. Menyimpulkan materi pelajaran 15 75 17 85 19 95 85
Sumber di olah dari hasil penelitian siklus II: Lampiran 3
Berdasarkan tabel 4.5 menunjukkan bahwa pada siklus I terdapat 81,67% Siswa yang menyimak penjelasan guru, 80% Siswa mencatat materi pelajaran secara lengkap oleh guru, 80% Siswa partisipasi dalam kelompok pada kelompok awal, 75% Siswa yang partisipasi memperoleh onformasi dari kelompok lain , 83,34%, Siswa yang bertanyak jawab,dan 85% Siswa yang menyimpulkan materi.
b. Hasil belajar IPA murid
Data hasil belajar IPA pada siklus kedua yang diperoleh melalui pemberian tes disajikan pada tabel 4.6 berikut:
Tabel 4.6. Data Statistik Hasil Belajar IPA Murid Tahun 2014, Siklus II
Aspek-aspek yang Dianalisis Nilai
Subjek Penelitian 20
Jumlah 1590
Nilai Ideal 100
Nilai tertinggi 100
Nilai terendah 50
Rentang skor 50
Rata-rata Kelas 79,5
Tabel 4.7. Distribusi Frekuensi dan Persentase Nilai Hasil Tes Siklus 1I Nilai Kategori Frekuensi Persentase (%)
0–54 Sangat kurang 1 5
55–69 Kurang 2 10
70–79 Cukup 3 15
80–89 Baik 7 35
90–100 Sangat Baik 7 35
Jumlah 20 100
.
Berdasarkan tabel 4.7. menunjukkan bahwa dari 20 murid kelas IV SDN.
No.147 Pelali Kabupaten Enrekang, persentase nilai hasil tes siklus murid setelah dilaksanakan pembelajaran IPA melalui model two stay two stray, terdapat 1 orang murid (5%) yang berada pada kategori sangat kurang, terdapat 2 orang murid (10%) berada pada kategori kurang, 3 orang murid (15%) berada pada kategori cukup, 7 orang murid (35%) berada pada kategori baik, dan 7 orang murid (35%) berada pada kategori sangat baik. Dengan demikian, bila dikaitkan antara rata-rata skor dengan kategorisasi skor, maka hasil keterampilan berbicara murid kelas IV SDN. No. 147 Pelali Kabupaten Enrekang pada siklus II termasuk kategori baik.
Apabila hasil keterampilan berbicara murid dianalisis, maka persentase ketuntasan belajar murid pada siklus II dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.8 Deskripsi Ketuntasan Belajar Murid Kelas IV SDN Pelali. No 147 Kabupaten Enrekang
Skor Kategori Frekuensi Persentase
0–69 Tidak Tuntas 3 15
70–100 Tuntas 17 85
Jumlah 20 100
Berdasarkan tabel 4.8 di atas menunjukkan bahwa pada siklus II ketuntasan murid hanya 75% yaitu 9 dari 20 murid termasuk kategori tuntas dan 15% atau 3 murid termasuk dalam kategori tidak tuntas, hal ini menunjukkan bahwah pada siklus I ke siklus II dapat meningkat.
Adapun grafik ketuntasan belajar murid pada siklus I dapat dilihat berikut
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90
Tidak Tuntas
P E R S E N T A S E
Apabila hasil keterampilan berbicara murid dianalisis, maka persentase ketuntasan belajar murid pada siklus II dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.8 Deskripsi Ketuntasan Belajar Murid Kelas IV SDN Pelali. No 147 Kabupaten Enrekang
Skor Kategori Frekuensi Persentase
0–69 Tidak Tuntas 3 15
70–100 Tuntas 17 85
Jumlah 20 100
Berdasarkan tabel 4.8 di atas menunjukkan bahwa pada siklus II ketuntasan murid hanya 75% yaitu 9 dari 20 murid termasuk kategori tuntas dan 15% atau 3 murid termasuk dalam kategori tidak tuntas, hal ini menunjukkan bahwah pada siklus I ke siklus II dapat meningkat.
Adapun grafik ketuntasan belajar murid pada siklus I dapat dilihat berikut
Tidak Tuntas Tuntas
15
85
Tidak Tuntas Tuntas
P E R S E N T A S E
Apabila hasil keterampilan berbicara murid dianalisis, maka persentase ketuntasan belajar murid pada siklus II dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.8 Deskripsi Ketuntasan Belajar Murid Kelas IV SDN Pelali. No 147 Kabupaten Enrekang
Skor Kategori Frekuensi Persentase
0–69 Tidak Tuntas 3 15
70–100 Tuntas 17 85
Jumlah 20 100
Berdasarkan tabel 4.8 di atas menunjukkan bahwa pada siklus II ketuntasan murid hanya 75% yaitu 9 dari 20 murid termasuk kategori tuntas dan 15% atau 3 murid termasuk dalam kategori tidak tuntas, hal ini menunjukkan bahwah pada siklus I ke siklus II dapat meningkat.
Adapun grafik ketuntasan belajar murid pada siklus I dapat dilihat berikut
P E R S E N T A S E
c. Refleksi
Hasil belajar IPA murid kelas IV SDN No.147 Pelali Kabupaten Enrekang yang mencapai 79,5 berarti lebih tinggi dari standar KKM yaitu 70. Bahkan dari 20 murid penelitian, hanya 3 murid atau 15% yang memiliki hasil belajar yang lebih rendah dari standar KKM sehingga dapat dikatakan bahwa proses pembelajaran IPA melalui model pembelajaran kooperatif tipe two stay two stray telah berjalan dengan sangat baik, karena telah mencapai ketuntasan belajar yang diharapkan.
Selain hasil belajar yang mengalami peningkatan, tingkat aktivitas belajar murid dalam mengikuti pelajaran IPA juga meningkat, berupa: keaktifan menyimak penjelasan guru, keaktifan mencatat materi pelajaran secara lengkap, partisipasi dalam kelompok pada kelompok awal, partisipasi memperoleh informasi dari kelompok lani, keaktifan bertanya jawab, dan menyimpulkan materi pelajaran IPA tentang bagian-bagian utama tumbuhan.
Berdasarkan hasil analisis terhadap hasil belajar IPA murid melalui model pembelajaran kooperatif tipe two stay two stray menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar IPA secara kualitatif dan kuantitatif. Dari segi kuantitatif, rata-rata hasil belajar IPA murid pada siklus pertama yaitu 64,5 kemudian pada siklus kedua menjadi 79,5. Sedangkan secara kualitatif, hasil belajar IPA pada siklus pertama pada kategori belum tuntas kemudian meningkat menjadi kategori tuntas pada siklus kedua. Demikian pula nilai rata-rata sebesar 79,5 lebih tinggi dari batas indikator keberhasilan pembelajaran sehingga nilai hasil belajar murid telah berada di atas standar KKM sebesar 70. Hal ini berarti bahwa hipotesis penelitian
yaitu “model pembelajaran kooperatif tipetwo stay two stray dapat meningkatkan hasil belajar IPA konsep struktur tubuh tumbuhan pada murid kelas IV SDN No.147 Pelali Kabupaten Enrekang, dinyatakan diterima. Jadi, model pembelajaran kooperatif tipe two stay two stray sangat baik digunakan dalam pembelajaran IPA, karena dapat mengefektifkan proses pembelajaran yang pada gilirannya dapat lebih meningkatkan hasil belajar IPA konsep struktur tubuh tumbuhan pada murid kelas IV SDN No.147 Pelali Kabupaten Enrekang.