• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

A. Tinjauan Pustaka 1. Pengertian Belajar

3. Model Kooperatif

a. Pengertian pembelajaran kooperatif

Pembelajaran adalah suatu proses yang sistematik di mana setiap komponen harus saling sinergi, seperti: murid, guru, kurikulum, dan fasilitas belajar. Dalam proses tersebut, terdapat kegiatan memilih, menetapkan, dan mengembangkan model untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan, di mana kedudukan guru sebagai pengajar dan murid sebagai obyek yang diajar.

Antara guru sebagai pengajar dan murid sebagai objek dan juga sebagai subjek dalam pembelajaran harus berinteraksi demi optimalnya pembelajaran dalam pencapaian tujuan pembelajaran.

Hamalik (2003:57) mengemukakan bahwa:

Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran. Manusia terlibat dalam sistem pembelajran terdiri dari murid, guru, dan tenaga lainnya. Material meliputi: buku, papan tulis, audio. Fasilitas dan perlengkapan berupa:

ruangan kelas, perlengkapan, dan prosedur meliputi: jadwal dan metode penyampaian informasi, praktik, belajar, ujian, dan sebagainya.

Rohani dan Ahmadi (1995:64) mengemukakan bahwa:

Pembelajaran adalah totalitas aktivitas belajar mengajar yang diawali dengan perencanaan diakhiri dengan evaluasi. Dari evaluasi ini diteruskan dengan follow up. Pembelajaran sebagai kegiatan untuk mencapai tujuan-

tujuan khusus pembelajaran, menyusun rencana pelajaran, memberikan informasi, bertanya, menilai, dan sebagainya.

Arikunto (1993:12) mengemukakan “pembelajaran adalah suatu kegiatan yang mengandung terjadinya proses penguasaan pengetahuan, keterampilan dan sikap oleh subjek yang sedang belajar”. Sementara dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 1 ayat (20) (2003:5) dinyatakan bahwa “pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungna belajar”.

Berdasarkan pendapat tersebut, maka pembelajaran merupakan kegiatan yang dilakukan secara sistematis dalam proses belajar mengajar yang diawali dengan penyusunan rencana pelajaran, proses pembelajaran dan diakhiri kegiatan penilaian atau evaluasi dengan mengacu kepada materi pelajaran yang telah diajarkan guru, di mana dalam pembelajaran berarti adanya kegiatan belajar dan mengajar. Kegiatan mengajar dilakukan oleh guru sebagai pendidik dan pengajar serta murid sebagai pihak yang diajar.

Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan di sekolah adalah pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif adalah model yang berorientasi pada kegiatan kerjasama antara murid dalam bentuk kelompok. Slavin (Isjoni, 2010:12) mengemukakan bahwa “pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran di mana murid belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil antara kolaboratif yang anggotanya 1-4 orang dengan struktur kelompok heterogen”. Lie (1999:28) mengemukakan “pembelajaran kooperatif atau gotong royong adalah kegiatan pembelajaran yang mengandung unsur kerjasama antara murid di kelas”. Pendapat yang sama dikemukakan oleh Sanjaya (2006:239)

bahwa “pembelajaran kooperatif adalah rangkaian kegiatan belajar oleh murid dalam kelompok-kelompok tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan”.

Berdasarkan pendapat di atas, maka pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang dapat diterapkan guru di sekolah sesuai dengan tuntutan materi pelajaran. Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang mengandung unsur kerjasama antara murid dalam kelas dalam melakukan kerja kelompok, sehingga penekanan model ini adalah mengaktifkan murid dalam pembelajaran melalui kerjasama antarmurid dalam kelompok.

b. Langkah-langkah pembelajaran kooperatif

Menurut Karli dan Yuliariatiningsih (2002: 72), langkah-langkah dalam pembelajaran kooperatif, yaitu:

a. Guru merancang pembelajaran, mempertimbangkan dan menetapkan target pembelajaran yang ingin dicapai.

b. Guru merancang lembar observasi kegiatan murid dalam belajar secara bersama-sama dalam kelompok-kelompok kecil.

c. Guru mengarahkan dan membimbing murid baik secara individu maupun kelompok.

d. Memberikan kesempatan kepada murid untuk mempersentasekan hasil kerjanya.

Langkah-langkah dalam pembelajaran kooperatif diuraikan sebagai berikut:

a. Guru merancang pembelajaran, mempertimbangkan dan menetapkan target pembelajaran yang ingin dicapai oleh guru sesuai dengan tuntutan materi pembelajaran. Guru juga menetapkan sikap dan keterampilan-keterampilan sosial yang diharapkan dapat dikembangkan oleh guru selama berlangsungnya proses pembelajaran. Selain itu, guru juga mengorganisir materi tugas-tugas

yang dikerjakan bersama-sama dalam dimensi kerja kelompok oleh murid melalui keaktifan semua anggota kelompok.

b. Guru merancang lembar observasi kegiatan murid dalam belajar secara bersama-sama dalam kelompok-kelompok kecil. Dalam penyampaian materi pelajaran,

pemahaman dan pendalamannya akan dilakukan murid ketika belajar secara bersama-sama dalam kelompok. Pemahaman dan konsepsi guru terhadap murid secara individual sangat menentukan kebersamaan dari kelompok yang dibentuk oleh guru dalam proses pembelajaran.

c. Dalam melakukan kegiatan observasi terhadap murid, guru mengarahkan dan membimbing murid, baik secara individual maupun kelompok, dalam pemahaman materi maupun mengenai sikap dan perilaku murid selama berlangsungnya proses pembelajaran.

d. Langkah selanjutnya adalah guru memberikan kesempatan kepada murid untuk mempersentasekan hasil kerjanya. Guru juga memberikan penekanan terhadap nilai, sikap, dan perilaku sosial yang dikembangkan dan dilatih oleh para murid dalam kelas.

Ibrahim (2000:10) mengemukakan langkah-langkah model pembelajaran kooperatif yang terdiri atas 6 langkah, yaitu:

a. Menyampaikan tujuan dan memotivasi murid.

b. Menyajikan informasi

c. Mengorganisasikan murid ke dalam kelompok-kelompok belajar.

d. Membimbing kelompok bekerja dan belajar.

e. Evaluasi

f. Memberikan penghargaan

Langkah-langkah di atas menunjukkan bahwa pelajaran dimulai yaitu guru menyampaikan tujuan pelajaran dan memotivasi murid untuk belajar. langkah ini diikuti oleh penyajian informasi, seringkali dengan bahan bacaan daripada secara verbal. Selanjutnya murid dikelompokkan ke dalam tim-tim belajar. Tahap ini diikuti bimbingan guru pada saat murid bekerja bersama untuk menyelesaikan tugas bersama mereka. Langkah terakhir pembelajaran kooperatif meliputi presentasi hasil akhir kerja kelompok atau evaluasi tentang apa yang telah mereka pelajari dan memberi penghargaan terhadap usaha-usaha kelompok maupun individu agar murid dapat termotivasi dalam mengikuti model pembelajaran kooperatif atau kerja kelompok. Jadi pembelajaran kooperatif sangat positif dalam menumbuhkan kebersamaan dalam belajar pada setiap murid sekaligus menuntut kesadaran dari murid untuk aktif dalam kelompok, karena jika ada murid yang pasif dalam kelompok maka hal itu dapat mempengaruhi kualitas pelaksanaan pembelajaran kooperatif khususnya berkaitan dengan rendahnya kerjasama dalam kelompok.

c. Kelebihan dan kelemahan model pembelajaran kooperatif

Pembelajaran kooperatif memiliki manfaat atau kelebihan yang sangat besar dalam memberikan kesempatan kepada murid untuk lebih mengembangkan kemampuannya dalam kegiatan pembelajaran. Hal ini dikarenakan dalam kegiatan pembelajaran kooperatif, murid dituntut untuk aktif dalam belajar melalui kegiatan kerjasama dalam kelompok.

Karli dan Yuliariatiningsih (2002:72) mengemukakan kelebihan model pembelajaran kooperatif, yaitu:

1) Dapat melibatkan murid secara aktif dalam mengembangkan pengetahuan, sikap, dan keterampilannya dalam suasana belajar mengajar yang bersifat terbuka dan demokratis.

2) Dapat mengembangkan aktualisasi berbagai potensi diri yang telah dimiliki oleh murid.

3) Dapat mengembangkan dan melatih berbagai sikap, nilai, dan keterampilan sosial untuk diterapkan dalam kehidupan masyarakat.

4) Murid tidak hanya sebagai obyek melainkan juga sebagai subyek belajar karena murid dapat menjadi tutor sebaya bagi murid lainnya.

5) Murid dilatih untuk bekerjasama, karena bukan materi saja yang dipelajari tetapi juga tuntutan untuk mengembangkan potensi dirinya secara optimal bagi kesuksesan kelompoknya.

6) Memberi kesempatan kepada murid untuk belajar memperoleh dan memahami pengetahuan yang dibutuhkan secara langsung, sehingga apa yang dipelajarinya lebih bermakna bagi dirinya.

Berdasarkan pendapat di atas, jelas bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif dalam kegiatan pembelajaran di sekolah memiliki berbagai kelebihan atau manfaat. Kelebihan tersebut berorientasi pada optimalnya kegiatan pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai secara efektif melalui dukungan guru dan murid dalam pembelajaran.

Selain kelebihannya, model pembelajaran kooperatif juga memiliki kelemahan. Hal ini sesuai dengan pendapat Lie (1999:29) yaitu:

Murid yang dibagi dalam kelompok kemudian diberikan tugas. Akibatnya murid merasa ditinggal sendiri dan karena mereka belum berpengalaman, merasa bingung dan tidak tahu bagaimana harus bekerjasama menyelesaikan tugas tersebut sehingga menimbulkan kekacauan dan kegaduhan.

Berdasarkan pendapat tersebut, jelas bahwa di samping kelebihan atau manfaat yang dapat dirasakan oleh murid dalam model pembelajaran kooperatif, juga terdapat kelemahan di mana hal tersebut menuntut kemampuan guru

dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif dengan mengawasi proses kerjasama dalam belajar yang dilakukan oleh murid. Hal ini berarti bahwa peran guru tetap menentukan dengan memberi pengawasan sekaligus bimbingan bagi murid.

Thabrany (1993:94) mengemukakan kelebihan atau keuntungan dan kekurangan kerja kelompok atau pembelajaran kooperatif yaitu:

a. Keuntungan kerja kelompok

1) Dapat mengurangi rasa kantuk dibanding belajar sendiri 2) Dapat merangsang motivasi belajar.

3) Ada tempat bertanya

4) Kesempatan melakukan resitasi oral

5) Dapat membantu timbulnya asosiasi dengan perisitwa lain yang mudah diingat.

b. Kekurangan kerja kelompok

1) Bisa menjadi tempat mengobrol atau gosip.

2) Sering terjadi debat sepele di dalam kelompok.

3) Bisa terjadi kesalahan kelompok.

Model pembelajaran kooperatif di samping memiliki kelebihan juga mengandung beberapa kelemahan apabila para anggota kelompok tidak menyadari makna kerjasama dalam kelompok. Oleh karena itu, Thabrany (1993:

96) menyarankan bahwa “agar kelompok beranggotakan 3, 5 atau 7 orang, jangan lebih dari 7 dan sebaiknya tidak genap karena dapat terjadi beberapa blok yang saling mengobrol, dan jangan ada yang pelit artinya harus terbuka pada kawan”.

Kelebihan dan kelemahan pembelajaran kooperatif di atas harus menjadi pertimbangan bagi guru dalam penggunaannya. Namun, faktor profesionalisme guru menggunakan model tersebut sangat menentukan, di samping kesadaran murid mengikuti pelajaran. Sasaran pembelajaran adalah meningkatkan kemampuan belajar murid sehingga penggunaan model ini akan memungkinkan

murid lebih aktif, kreatif dan mandiri dalam belajar sesuai tuntutan materi pelajaran atau kurikulum dalam mencapai tujuan pendidikan.

Dokumen terkait