BAB I PENDAHULUAN
A. Hasil Penelitian
1. Deskripsi Hasil Siklus Pertama
Deskripsi hasil siklus pertama tentang peningkatan hasil belajar IPA melalui model pembelajaran kooperatif tipe two stay two stray pada murid kelas IV SDN No. 147 Pelali Kabupaten Enrekang, diklasifikasikan atas tiga bagian, yaitu: hasil observasi aktivitas belajar murid, hasil belajar IPA murid melalui pendekatan pembelajaran kooperatif tipe two stay two stray, dan refleksi.
a. Hasil observasi aktivitas belajar murid
Hasil observasi terhadap aktivitas belajar murid dalam mengikuti pelajaran IPA melalui model pembelajaran kooperatif tipe two stay two stray pada murid kelas IV SDN No.147 Pelali Kabupaten Enrekang pada siklus pertama, disajikan pada tabel berikut:
Tabel 4.1 Hasil Observasi Kegiatan Murid Siklus I
No Objek Pengamatan
siklus I
Persentase (%) Pertemuaan
I % II % III %
1. Menyimak penjelasan guru 11 55 12 60 14 70 61,67
2. Mencatat materi pelajaran secara lengkap
10 50 11 55 14 70 58,34
3. Partisipasi dalam kelompok pada kelompok awal
11 55 13 65 15 75 65
4. Partisipasi memperoleh informasi dari kelompok lain
9 45 11 55 13 65 55
5. Bertanya jawab 11 55 12 60 15 75 63,34
6. Menyimpulkan materi pelajaran 13 65 13 65 15 75 68,34
Sumber di olah dari hasil penelitian: Lampiran 2
Berdasarkan tabel 4.1 menunjukkan bahwa pada siklus I terdapat 61,67% Siswa yang menyimak penjelasan guru, 58,34% Siswa mencatat materi pelajaran secara lengkap oleh guru, 65% Siswa partisipasi dalam kelompok pada kelompok awal, 55% Siswa yang partisipasi memperoleh onformasi dari kelompok lain , 63,34%, Siswa yang bertanyak jawab,dan 68,34% Siswa yang menyimpulkan materi.
b. Hasil belajar IPA murid
Data hasil belajar IPA pada siklus pertama yang diperoleh melalui pemberian tes disajikan pada tabel 4.2 berikut:
Tabel 4.2. Data Statistik Hasil Belajar IPA Murid Tahun 2014, Siklus I
Aspek-aspek yang Dianalisis Nilai
Subjek Penelitian 20
Jumlah 1290
Nilai Ideal 100
Nilai tertinggi 90
Nilai terendah 40
Rentang skor 50
Rata-rata Kelas 64,5
Tabel 4.3. Distribusi Frekuensi dan Persentase Nilai Hasil Tes Siklus 1 Nilai Kategori Frekuensi Persentase (%)
0–54 Sangat kurang 7 35
55–69 Kurang 4 20
70–79 Cukup 3 15
80–89 Baik 3 15
90–100 Sangat Baik 3 15
Jumlah 20 100
Berdasarkan tabel 4.3. menunjukkan bahwa dari 20 murid kelas IV SDN.
No.147 Pelali Kabupaten Enrekang, persentase nilai hasil tes siklus murid setelah dilaksanakan pembelajaran IPA melalui model two stay two stray, terdapat 7 orang murid (35%) yang berada pada kategori sangat kurang, terdapat 4 orang murid (20%) berada pada kategori kurang, 3 orang murid (15%) berada pada kategori cukup, 3 orang murid (15%) berada pada kategori baik, dan 3 orang murid (15%) berada pada kategori sangat baik. Dengan demikian, bila dikaitkan antara rata-rata skor dengan kategorisasi skor, maka hasil keterampilan berbicara murid kelas IV SDN. No. 147 Kabupaten Enrekang pada siklus I termasuk kategori sedang.
Apabila hasil keterampilan berbicara murid dianalisis, maka persentase ketuntasan belajar murid pada siklus I dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.4 Deskripsi Ketuntasan Belajar Murid Kelas IV SDN No.
Kabupaten Enrekang
Skor Kategori Frekuensi Persentase
0–69 Tidak Tuntas 11 55
70–100 Tuntas 9 45
Jumlah 20 100
Berdasarkan tabel 4.4 di atas menunjukkan bahwa pada siklus I ketuntasan murid hanya 45% yaitu 9 dari 20 murid termasuk kategori tuntas dan 55% atau 11 murid termasuk dalam kategori tidak tuntas, hal ini akan diusahakan pada pembelajaran siklus II.
Adapun grafik ketuntasan belajar murid pada siklus I dapat dilihat berikut
c. Refleksi
Berkaitan dengan hasil observasi dan hasil belajar IPA pada siklus pertama, maka dilakukan refleksi sebagai berikut:
1) Aktivitas belajar murid dalam mengikuti pelajaran IPA melalui model pembelajaran kooperatif tipe two stay two stray pada murid kelas IV SDN No.147 Pelali Kabupaten Enrekang pada siklus pertama menunjukkan bahwa tidak semua murid aktif dalam mengikuti pelajaran, kecuali keaktifan menyimak penjelasan guru. Aktivitas belajar murid mengikuti pelajaran IPA yang tergolong rendah yaitu keaktifan bertanya jawab dengan teman dan guru. Demikian pula
20 25 30 35 40 45 50
Tidak Tuntas
P E R S E N T A S E
Berdasarkan tabel 4.4 di atas menunjukkan bahwa pada siklus I ketuntasan murid hanya 45% yaitu 9 dari 20 murid termasuk kategori tuntas dan 55% atau 11 murid termasuk dalam kategori tidak tuntas, hal ini akan diusahakan pada pembelajaran siklus II.
Adapun grafik ketuntasan belajar murid pada siklus I dapat dilihat berikut
c. Refleksi
Berkaitan dengan hasil observasi dan hasil belajar IPA pada siklus pertama, maka dilakukan refleksi sebagai berikut:
1) Aktivitas belajar murid dalam mengikuti pelajaran IPA melalui model pembelajaran kooperatif tipe two stay two stray pada murid kelas IV SDN No.147 Pelali Kabupaten Enrekang pada siklus pertama menunjukkan bahwa tidak semua murid aktif dalam mengikuti pelajaran, kecuali keaktifan menyimak penjelasan guru. Aktivitas belajar murid mengikuti pelajaran IPA yang tergolong rendah yaitu keaktifan bertanya jawab dengan teman dan guru. Demikian pula
Tidak Tuntas Tuntas
55
45
Tidak Tuntas Tuntas
P E R S E N T A S E
Berdasarkan tabel 4.4 di atas menunjukkan bahwa pada siklus I ketuntasan murid hanya 45% yaitu 9 dari 20 murid termasuk kategori tuntas dan 55% atau 11 murid termasuk dalam kategori tidak tuntas, hal ini akan diusahakan pada pembelajaran siklus II.
Adapun grafik ketuntasan belajar murid pada siklus I dapat dilihat berikut
c. Refleksi
Berkaitan dengan hasil observasi dan hasil belajar IPA pada siklus pertama, maka dilakukan refleksi sebagai berikut:
1) Aktivitas belajar murid dalam mengikuti pelajaran IPA melalui model pembelajaran kooperatif tipe two stay two stray pada murid kelas IV SDN No.147 Pelali Kabupaten Enrekang pada siklus pertama menunjukkan bahwa tidak semua murid aktif dalam mengikuti pelajaran, kecuali keaktifan menyimak penjelasan guru. Aktivitas belajar murid mengikuti pelajaran IPA yang tergolong rendah yaitu keaktifan bertanya jawab dengan teman dan guru. Demikian pula
P E R S E N T A S E
hanya sebagian murid yang aktif mencatat materi pelajaran, berpartisipasi pada kelompok awal, dan berpartisipasi dalam memperoleh informasi dari kelompok lain. Hal ini menggambarkan bahwa sebagian murid masih kurang aktif mengikuti pelajaran pada aspek tertentu sehingga turut mempengaruhi penguasaan terhadap materi pelajaran IPA tentang bagian-bagian utama tumbuhan. Oleh karena itu, pada siklus kedua, guru harus berupaya lebih memberikan bimbingan, motivasi, dan penguatan agar murid lebih aktif mengikuti pelajaran dalam kerja kelompok, baik pada kelompok awal maupun daam memperoleh informasi dari kelompok lain sehingga penguasaan terhadap materi pelajaran IPA dapat lebih maksimal.
2) Hasil belajar IPA pada murid kelas IV SDN No.147 Pelali Kabupaten Enrekang sebagian besar berada pada kategori belum tuntas yaitu terdapat 55 % murid yang tidak tuntas belajarnya sesuai standar KKM 70. Hal ini memberi implikasi pada perlunya optimalisasi penerapan model pembelajaran kooperatif tipe two stay two stray dalam meningkatkan hasil belajar murid agar dapat mencapai taraf
keberhasilan yang diharapkan, seperti: meningkatkan motivasi murid untuk lebih aktif dan kreatif dalam belajar secara kelompok, baik pada kelompok awal maupun kelompok lain dalam memperoleh informasi materi yang didiskusikan.