BAB III GAMBARAN UMUM
3.4. Dinamika Geoekonomi di Kawasan Indo-Pasifik
68 memperdalam kerja sama ekonomi yang sudah berkembang dengan baik secara alami membawa lebih banyak keberhasilan, terutama dengan anggota ASEAN.
Di bawah NSP Plus, pilar kemakmuran memiliki tiga inisiatif, masing-masing dengan banyak tugas dan subtugas. Inisiatif pertama adalah membangun “dasar perdagangan dan investasi yang saling menguntungkan dan berkelanjutan,” termasuk dengan mendiversifikasi rantai pasokan, membuat perjanjian perdagangan baru, mendukung usaha kecil dan menengah (UKM), dan meningkatkan tanggung jawab sosial perusahaan. Inisiatif kedua adalah “mendukung desa pedesaan dan pembangunan infrastruktur perkotaan,” khususnya melalui proyek infrastruktur, pengembangan kota pintar, dan pembangunan berkelanjutan di masyarakat pedesaan. Tugas ketiga pilar kemakmuran adalah “kerjasama di industri masa depan untuk kemakmuran bersama”, yang berfokus pada mendukung perusahaan rintisan teknologi dan mempromosikan kerja sama dalam teknologi Revolusi Industri Keempat (Botto, 2021).
69 setara Amerika Serikat. Tindakan Tiongkok yang merusak kepentingan vital AS termasuk penggunaan paksaan baik dalam bentuk taktik zona abu-abu, campur tangan politik, tekanan ekonomi, atau kekuatan militer untuk melemahkan sistem aliansi AS di Asia, menekan klaim teritorial sepihak, dan menyelesaikan perselisihan internasional dengan mengabaikan hukum internasional. Tiongkok juga berusaha merusak ketahanan demokrasi di kawasan dan memasukkan Taiwan ke dalam Republik Rakyat China, meskipun rakyatnya menolak persyaratan yang ditawarkan.
Selama dekade terakhir, Tiongkok telah menjadi pusat ekonomi dunia.
Dalam Membangun kesuksesan ekonominya, ia menjadi semakin sentral dalam politik dunia. Tiongkok juga sekarang menjadi lebih ambisius, tujuannya untuk memantapkan dirinya sebagai kekuatan regional maupun global. Kebangkitan Tiongkok didorong oleh pembangunan ekonomi, dimulai dengan peluncuran Kebijakan Pintu Terbuka Deng Xiaoping hampir tepat empat puluh tahun yang lalu, yang menjadikan Tiongkok kekuatan ekonomi seperti sekarang ini tidak hanya di dalam negeri, tetapi di sebagian besar dunia. Di panggung dunia, Tiongkok telah menjadi pemain kuat di lembaga-lembaga seperti PBB dan Bank Dunia. Ini telah mengembangkan hubungan bilateral yang kuat dengan sebagian besar negara di dunia, dengan pengecualian segelintir negara yang masih mengakui Taiwan secara diplomatis. Secara global, diplomat Tiongkok sangat aktif, dengan Ministry of Foreign Affairs (MFA) menerima peningkatan anggaran sebesar 15% pada tahun 2018 untuk membantu memproyeksikan diplomasi dan kekuatan lunak Tiongkok di seluruh dunia. Dalam enam tahun
70 pemerintahan Presiden Xi Jinping, anggaran MFA melonjak menjadi CNY 60 miliar (USD 9,5 miliar) dari CNY 30 miliar pada tahun 2011 (Corre, 2018).
Pada bagian ini penulis akan befokus untuk membahas mengenai dinamika geoekonomi di Kawasan Indo-Pasifik dengan fokus pembahasan kepada trade war antara Tiongkok dan Amerika Serikat serta dampak bagi negara negara yang memiliki kekuatan besar di Kawasan ini seperti Jepang, India, dan Korea Selatan yang akan dibahas pada bagian selanjutnya.
Pada tahun 2020, Tiongkok dan Amerika Serikat menandatangani fase 1 dari kesepakatan perdagangan baru, membawa apa yang bisa menjadi awal dari gencatan senjata untuk perang dagang kedua negara yang sedang berlangsung. perjanjian ekonomi dan perdagangan meminta Beijing untuk membeli dan mengimpor tambahan USD 200 miliar barang dan jasa Amerika terutama barang manufaktur dan produk energi sampai dua tahun kedepan.
Sebagai imbalannya, Amerika Serikat setuju unutk mengurangi tarif 15%
menjadi 7,5% untuk produk-produk Tiongkok sehingga Tiongkok mengalami peningkatan sampai USD 120 miliar. Dengan mengingat ketidakpastian ekonomi yang berlaku selama pandemi Covid-19, tidak dapat disangkal bahwa perang dagang antara Tiongkok dan Amerika Serikat akan terus mmiliki implikasi yang signifikan bagi ekonomi global serta menghadirkan peluang maupun resiko bagi banyak negara khususnya di Kawasn Indo-Pasifik dikarenakan perekenomian di kawasan ini merupakan salah satu yang paling interaktif dengan Tiongkok (Jash, 2020).
71 Artinya, ketidakpastian yang disebabkan oleh tarif dan penurunan ekspor Tiongkok mengakibatkan penurunan impor yang tajam ke Tiongkok dari negara lain. Sehingga dengan demikian, akan muncullah pasar-pasar baru di Kawasan ini. Penerima manfaat utama dari hal ini adalah Vietnam, Thailand, Malaydia, India, dan Taiwan. Jika melihat dari salah satu contoh, Apple misalnya yang sebagaian besar merakit produknya di Tiongkok secara bertahap menglohkan unit manufakturnya ke negara lain, dimulai dengan mendirikan basis manufaktur yang bekerjasama dengan Foxconn di India. Sementara itu, merek Jepang seperti Nintendo, Sharp, dan Kyocera berencana untuk mengalihkan produksi dari Tiongkok ke Vietnam dan raksasa teknologi Korea Samsung baru-baru ini menutup operasinya di Tiongkok dan memindahkan unit manufaktur ke Vietnam dan India (Jash, 2020)
72 BAB IV
PROSPEK LOCAL CURRENCY SETTLEMENT INDONESIA-REPUBLIK RAKYAT TIONGKOK DALAM PROSES PENCAPAIAN KESEPAKATAN
KERJASAMA KEUANGAN
Hubungan diplomatik antara Indonesia dan Tiongkok sudah terjalin selama 71 tahun lamanya. Jika dilihat kembali ke tahun 2005 kita sudah menandatangi perjanjian kerjasama strategic partnership yang dengan demikian dilanjutkan pada tahun 2013 Indonesia dan Tiongkok telah menandatangani perjanjian comprehensive strategic partnership. Jika dilihat dalam hubungan diplomatik, perjanjian ini merupakan level tertinggi dalam hubungan diplomatik antara Indonesia dan Tiongkok. Pada tahun 2018 Indonesia dan Tiongkok juga telah mensinergikan Global Maritime Fulcrum (GMF) gagasan dari Indonesia serta Belt and Road Initiative (BRI) gagasan dari Tiongkok.
Melalui sinergi ini Indonesia dan Tiongkok bersepakat untuk mengembangkan 4 koridor ekonomi diantaranya Sumatera Utara untuk Economic and Business Hub untuk ASEAN; Kalimantan Utara untuk Energy and Mineral Hub; Bali IT and Creative Economy Hub; dan di Sulawesi Utara ada Pacific Green Hub. Selain itu, ada juga pengembangan non-koridor yaitu proyek kereta api cepat Jakarta-Bandung yang telah terealisasikan saat ini.
Hubungan bilateral antara Indonesia dan Tiongkok dalam level tersebut juga dapat direfleksikan kedalam angka. Angka yang dimaksudkan adalah angka-angka ekonomi seperti perdagangan, investasi, pariwisata, infrastruktur, ekonomi digital, dan lain-lain.
Sebagai contoh volume perdagangan antara Indonesia dan Tiongkok pada tahun 2020 mencapai USD 78,37 Miliar dan realisasi investasi Tiongkok ke Indonesia pada tahun
73 2020 dengan nilai USD 4,8 Miliar sedangkan realisasi Investasi Hongkong ke Indonesia sebesar USD 3,5 Miliar dengan demikian total investasi Tiongkok ke Indonesia pada tahun 2020 mencapai USD 8,3 Miliar.
Tiongkok merupakan mitra dagang terbesar Indonesia, pada periode Juni- September 2021 nilai perdagangan kedua negara diketahui sudah mencapai USD 85,4 Miliar. Oleh karena itu, kedua negara merasa bahwa untuk melancarkan hubungan kerjasama khususnya di bidang ekspor-impor, pembangunan infrastruktur, serta investasi diantara keduanya maka kehadiran Local Currency Settlement ini rupanya sangat penting untuk hubungan kerjasama antara Indonesia dan Tiongkok. Kedua negara menganggap bahwa dengan hadirnya kesepakatan kerjasama tersebut akan lebih mempermudah dan lebih mengefisiensikan biaya dalam segala hubungan kerjasama yang telah terjalin di antara kedua negara. Dengan demikian akan dijelaskan dua bagian yaitu bagian pertama akan membahas mengenai prospek implementasi Local Currency Settlement Indonesia-Republik Rakyat Tiongkok dalam Kesepakatan Kerjasama keuangan dan bagian kedua akan membahas mengenai dampak geoekonomi dari kesepakatan Local Currency Settlement Indonesia-Republik Rakyat Tiongkok di Kawasan Indo-Pasifik.
4.1. Prospek Implementasi Local Currency Settlement Indonesia-Republik