BAB IX. BOILING, CONDENSATION 144
9.2. Condensation 155
9.2.5. Dropwise Condensation 161
Kondensat berbentuk tetes cairan dengan diameter yang bervariasi. Perpindahan kalor terjadi sangat efektif. Koefisien perpindahan kalor yang sangat tinggi dapat dicapai dengan dropwise condensation (sampai 10 kali film condesation). Dengan koefisien konveksi yang sangat besar maka dengan permukaan kontak yang kecil dapat menghasilkan perpindahan kalor dengan laju yang tinggi. Sehingga dengan dropwise condensation ukuran alat penukar kalor dapat dibuat menjadi lebih kecil.
Gambar 9.12. Dropwise condensation (Cengel)
Koefisien konveksi untuk dropwise condensation dapat dihitung dengan rumus berikut β = 51104 + 2044ππ ππ‘ (220C < Tsat < 1000C) (9.32) β = 255310 (Tsat > 1000C) (9.33) Contoh penerapan dropwise condensation adalah pada pipa kalor seperti tampak pada Gambar 9.13.
Gambar 9.13. Aplikasi dropwise condensation pada pipa kalor (Cengel)
162 Contoh 9.3.
Uap jenuh pada tekanan atmosfer mengalami kondensasi pada pelat vertical dengan tinggi 2 m dan lebar 3 m. Temperatur pelat dijaga tetap pada 80ΒΊC. Jika kondensasinya Wavy Laminar, maka hitunglah! (Example 10.4. Cengel).
a. Laju kalor yang ditransfer ke pelat b. Laju kondensasi
Diketahui properti air pada temperatur jenuh (Tsat = 100ΒΊC) adalah hfg = 2257 x 103 J/kg;
ΟΞ½= 0,6 kg/m3. Sedangkan properti air pada film temperature (Tf = 90ΒΊC) adalah Οl = 965,3 kg/m3; Cp,l = 4026 J/kg.ΒΊC; ΞΌl = 0,315 x 10-3 kg/m.s; kl = 0,675 W/m.ΒΊC; Ξ½l = ΞΌl/Οl = 0,326 x 10-6 m2/s
Penyelesaian Diketahui:
Kondensasi wavy laminar pada pelat vertical, properti fluida Dihitung:
a. Laju kalor yang ditransfer selama kondensasi b. Laju kondensasi
Hitungan:
Kalor laten penguapan
ο¨
T Tο©
2257x10 0,68x4206xο¨
100 80ο©
2314x10 J/kgc 0.68 h
hοͺfg ο½ fgο« p.l sat ο s ο½ 3ο« ο ο½ 3
Bilangan Reynolds untuk kondensasi wavy laminar
ο¨ ο©
31 0.822 l fg
l
s sat
l g
h ΞΌ
T T k L 4.81 3.70
Re
οΊοΊ
οΊ
ο»
οΉ
οͺοͺ
οͺ
ο«
ο©
ο·ο·οΈ
ο§ο§ οΆ
ο¨
ο ο¦
ο«
ο½ οͺ
v
163
ο¨ ο©
ο¨
0,315x10x3x0,675ο©ο¨
2314x10x 100 90ο© ο¨
0,326x109,81ο©
12874.81 3.70 Re
0.82 3 1
6 2 3
3
- ο½
οΊοΊ
οΊ
ο»
οΉ
οͺοͺ
οͺ
ο«
ο©
ο·ο·
οΈ
οΆ
ο§ο§
ο¨
ο ο¦
ο«
ο½ ο
Koefisien perpindahan kalor kondensasi
3 1
2 l 1.22
l g
5.2 1.08Re
h Rek ο·ο·οΈ
ο§ο§ οΆ
ο¨
ο¦
ο½ ο
v
ο¨ ο© ο¨
0,326x10ο©
5848W/m . C9,81 5.2
1287 x 1.08
0,675 1287x
h 3 20
1
6 2
1.22 ο·ο· ο½
οΈ
οΆ
ο§ο§
ο¨
ο¦
ο½ ο
ο
a. Laju heat transfer selama kondensasi
ο¨
T Tο©
5848xο¨ ο© ο¨
3x2 x 100 80ο©
7x10 W hAqο½ s sat ο s ο½ ο ο½ 5
b. Laju kondensasi
kg/s 2314x10 0,3
7x10 h
m q 5 3
fg
ο½
ο½
ο½ οͺ
ο·
artinya uap air akan mengembun/berkondensasi pada permukaan pelat sebanyak 0,3 kg setiap detiknya
Contoh 9.4.
Pipa kondenser dengan diameter luar 3 cm menggunakan pendingin air sehingga temperature pipa 30ΒΊC. Kondenser ini bekerja pada tekanan 7,38 kPa. Hitunglah! (Example 10.6. Cengel).
a. Laju perpindahan kalor per 1 meter panjang pipa b. Laju kondensasi per 1 meter panjang pipa
Penyelesaian Diketahui:
Kondensasi pada pipa horizontal
164 Dihitung:
a. Laju perpindahan kalor selama kondensasi per 1 meter panjang pipa b. Laju kondensasi per 1 meter panjang pipa
Hitungan:
Pada tekanan kondenser 7,38 kPa, temperatur jenuh uap air adalah 40ΒΊC. Pada temperatur jenuh ini, properti air adalah hfg = 2407 x 103 J/kg; Οv = 0,05 kg/m3.
Sedangkan film temperature
ο¨ ο© ο¨ ο©
35 C2 40 30 2
T
Tf Ts ο« sat ο½ ο« ο½ 0
ο½
Pada film temperatur ini, properti air adalah Οl = 994 kg/m3; Cp,l = 4178 J/kg.ΒΊC; ΞΌl = 0,72 x 10-3 kg/m.s; kl = 0,623 W/m.0C
Kalor laten penguapan
ο¨
T Tο©
2407x10 0,68x4178xο¨
4 30ο©
2435x10 J/kg c0.68 h
hοͺfg ο½ fgο« p.l sat ο s ο½ 3ο« 0ο ο½ 3
Koefisien perpindahan kalor kondensasi
ο¨ ο©
ο¨ ο©
4 1
s sat l
3 l fg l
l
D T T ΞΌ
k h Ο Ο Ο 0.729 g
h οΊοΊ
ο»
οΉ
οͺοͺ
ο«
ο©
ο
ο½ ο
οͺ v
ο¨ ο© ο¨ ο© ο¨ ο©
ο¨
0,72x10ο© ο¨
40 30ο©ο¨
0.03ο©
9294W/m C0,623 x 10 x 2435 x 0.05 994 994 x 0.729 9,81
h 4 2 0
1
3 -
3 3
ο
οΊ ο½
ο»
οͺ οΉ
ο«
ο©
ο
ο½ ο
a. Laju heat transfer per 1 meter pipa
ο¨ T T ο© 9 x ο¨ x 0,03 x 1 ο© ο¨ x 4 30 ο© 8 W hA
q ο½
s satο
sο½ 294 ο° 0 ο ο½ 755
b. Laju kondensasi per 1 meter pipa 2435x10 kg/s
8755 h
m q 3
fg
0036 ,
ο½0
ο½
ο½ οͺ
ο·
artinya uap air akan mengembun/berkondensasi pada permukaan pipa sebanyak 0.0036 gram setiap detiknya setiap 1 meter panjang pipa.
165 Soal-soal latihan
9.1. Apakah yang dimaksud dengan boiling dan evaporation?
9.2. Apakah perbedaan antara:
a. Pool boiling dengan flow boiling?
b. Subcooled boiling dengan saturated boiling
9.3. Gambarkan kurva boiling dan jelaskan karakteritik tiap regime-nya!
9.4. Sebutkan dan jelaskan boiling regime yang terjadi pada pelat vertikal!
9.5. Air akan dipanaskan pada tekanan 1 atm dengan sebuah panci stainless steel mechanically polished. Permukaan dasar panci dijaga temperaturenya pada 110ΒΊC.
(Problem 10.11. Cengel).
Jika diameter dasar panci 25 cm, hitunglah!
a. Laju perpindahan kalor ke air b. Laju evaporasinya
9.6. Apakah yang dimaksud dengan kondensasi dan bagaimana terjadinya?
9.7. Apakah perbedaan film kondensasi dengan dropwise kondensasi. manakah yang lebih efektif untuk perpindahan kalor?
9.8. Bagaimana jika posisi pelat pada contoh soal 9.3. seperti gambar berikut
166 9.9. Uap jenuh pada tekanan 1 atm mengalami kondensasi pada pelat vertical dengan
tinggi 3 m dan lebar 5 m. Temperatur pelat dijaga pada 90Β°C dengan menaglirkan air pendingin disisi sebaliknya. Hitunglah!
a. laju kalor kondensasi b. laju kondensat
9.10. Ulangi soal 6.9 jika pelat miring dengan sudut kemiringan 30Β°C
9.11. Bagaimana jika kondenser pada contoh 9.4 terdiri dari 12 pipa dengan susunan seperti gambar berikut
9.12. Uap pada temperatur 40Β°C mengalami kondensasi di pipa tembaga berdiameter 30 mm. Air pendingin mengalir didalam pipa dengan kecepatan 2 m/s. Jika temperatur air pendingin masuk pipa dan keluar pipa diketahui 25Β°C dan 35Β°C, hitunglah!
a. Laju kondensasi uap dan overall heat transfer coefficient b. Panjang pipa
167 Pembahasan
10.1. Klasifikasi HXβs
10.2. Overall Heat Transfer Coefficient 10.3. Fouling Factor
10.4. Analisa HXβs
10.5. Faktor-faktor pemilihan HXβs Capaian Pembelajaran
ο· Mengetahui jenis jenis HXβs
ο· Mengetahui pengaruh fouling terhadap overall heat transfer coeffcienct
ο· Mampu melakukan pemilihan HXβs dengan metode LMTD maupun NTU
ο· Mengetahui faktor dalam pemilihan HXβs
168 Heat Exchanger (HXβs) atau alat penukar kalor adalah peralatan yang digunakan untuk pertukaran kalor antara dua fluida atau lebih yang memiliki temperatur berbeda.
HXβs digunakan dalam proses cooling, heating, evaporation, condensation, heat rejection, dan lain-lain. Evaporator dan condenser pada AC, radiator pada kendaraan, cooling tower pada pembangkit listrik adalah contoh alat-alat penukar kalor.
10.1. Klasifikasi HXβs
HXβs dapat diklasifikasikan diantaranya berdasarkan transfer process, flow arrangement, serta construction. Berikut adalah klasifikasi HXβs dan penjelasannya.
10.1.1. HXβs berdasarkan transfer process a. Indirect contact HXβs
Pada tipe indirect contact, tidak terjadi kontak langsung antar fluida panas dengan fluida dingin karena ada sekat pemisah antar fluidanya (tidak terjadi pencampuran fluida panas dengan fluida dingin). Misal: evaporator, kondenser, radiator.
b. Direct contact HXβs
Pada tipe direct contact terjadi kontak langsung antar fluida panas dengan fluida dingin (terjadi pencampuran fluida panas dengan fluida dingin). Misal: cooling tower.
10.1.2. HXβs berdasarkan flow arrangement a. Single pass HXβs
Fluida mengalir melalui heat exchanger hanya sekali. Misal pada Gambar 10.1 adalah single pass tube & single pass shell HXβs
Gambar 10.1. Single pass tube & single pass shell HXβs
169 b. Multi pass HXβs
Fluida mengalir melalui heat exchanger lebih dari sekali (bolak balik). Gambar 10.2 adalah HXβs two shell pass dan four tube pass
Gambar 10.2. Multi pass HXβs
c. Parallel flow/cocurent flow HXβs
Fluida panas dan dingin mengalir sejajar dan searah
Gambar 10.3. Parallel flow HXβs
d. Counter-flow HXβs
Fluida panas dan dingin mengalir sejajar dan berlawanan arah
Gambar 10.4. Counter flow HXβs
170 e. Cross flow HXβs
Fluida panas dan dingin mengalir saling tegak lurus
Gambar 10.5. Cross flow HXβs 10.1.3. HXβs berdasarkan konstruksinya
a. Double pipe HXβs
Merupakan konstruksi HXβs yang paling sederhana. HXβs jenis ini terdiri dari pipa concentric annulus. Fluida pertama mengalir dalam pipa sebelah dalam dan fluida kedua mengalir dalam annulus
Gambar 10.6. Double pipe HXβs b. Shell & Tube HXβs
Gambar 10.7. Shell & Tube HXβs
171 10.2. Overall Heat Transfer Coefficient (U)
Gambar 10.8. Thermal resistance pada double pipe HXβs
Pada double pipe HXβs seperti tampak pada Gambar 10.8, terjadi perpindahan kalor dari fluida panas (Ti) ke fluida dingin (To) secara konveksi-konduksi-konveksi.
Untuk dapat mengetahui Overall Heat Transfer Coeffiient (U), terlebih dahulu harus dicari tahanan termal total yang terjadi.
Tahanan termal total Gambar 10.8 π π = 1
βππ΄π+ππ(π·πβπ·π)
2πππΏ + 1
βππ΄π (10.1)
Laju peprindahan kalornya adalah π =βπ
π π (10.2)
dari Newtonβs Cooling Law
π = π π΄ βπ (10.3)
Substitusi Pers. (10.3) ke Pers. (10.2)
π π΄ βπ =βπ
π π π π‘ = 1
π π΄ (10.4)
Substitusi Pers. (10.1) ke Pers. (10.4)
1 π π΄= 1
βππ΄π+ππ(π·πβπ·π)
2πππΏ + 1
βππ΄π (10.5)
Overall Heat Transfer Coefficient untuk double pipe dapat dihitung dengna Pers. (10.5), dengan asumsi pipanya mulus dan baru sehingga tidak ada kerak (fouling) pada permukaan pipa
172 10.3. Fouling Factor
Unjuk kerja HXβs dapat mengalami penurunan akibat adanya kerak (fouling) pada permukaan pipa-pipa HXβs. Fouling Factor (Rf) adalah tahanan termal karena adanya kerak yang menenpel pada permukaan pipa seperti tampak pada Gambar 10.9. Faktor fouling beberapa fluida diberikan dalam Tabe;l 10.1
Gambar 10.9. Fouling pada permukaan dalam pipa
Tabel 7.1. Fouling factor per meter persegi luas permukaan
Overall heat transfer coefficient untuk double pipe (concentric pipe) dengan mempertimbangkan adanya fouling
1 π π΄= 1
βππ΄π+ π π,πππ(π·πβπ·π)
2πππΏ + π π,π+ 1
βππ΄π (10.6)
173 Tabel 7.2. Overall heat transfer coefficient dalam HXβs
Contoh 10.1.
Minyak didinginkan pada double pipe heat exchanger. Pipa tembaga yang digunakan sangat tipis. Air digunakan sebagai fluida pendinginnya (Example 13.1. Cengel).
Jika temperatur rata-rata air adalah 45ΒΊC dan minyak adalah 80ΒΊC, maka hitunglah overall heat transfer coefficientnya
Penyelesaian Diketahui:
Counter flow double pipe HXβs Dihitung:
Overall heat transfer coefficient (U) Hitungan:
Properti air pendingin pada temperatur 45ΒΊC adalah Ο = 990 kg/m3; k = 0,637 W/m.0C;
Pr = 3,91; Ξ½ = ΞΌ/Ο = 0.602 x 10-6 m2/s
174 Properti minyak pada temperatur 80ΒΊC adalah Ο = 852 kg/m3; k = 0,138 W/m.0C; Pr = 490; Ξ½ = 37,5 x 10-6 m2/s
Karena pipanya sangat tipis (diasumsikan Di = Do), maka persamaan overall heat transfer coefficient menjadi
ho 1 hi
1 U
1 ο½ ο«
hi adalah koefisien konveksi aliran air pendingin, sedangkan ho adalah koefisien konveksi aliran minyak. (ingat kembali bagaimana menentukan h untuk konveksi aliran internal)
Aliran Air Pendingin Hidraulik Diameter
D = Di (diameter pipa sebelah dalam) Kecepatan
ο¨ ο©
m sx x
x 1.61 / 02
. 0 14 , 3 990
5 . 0 4
2 ο½
ο½
ο½
ο·
ΟΟD2
m v 4
Bilangan Reynolds
53490 0.602x10
1,61x0.02 Ξ½
Reο½vDο½ ο6 ο½ (aliran turbulen)
Pilih korelasi bilangan Nusselt untuk aliran turbulen berkembang penuh
ο¨
53490ο© ο¨
3.91ο©
240.6 0.023xPr Re 0.023
Nu 5 0.4
n 4 5 4
D ο½ D ο½ ο½
Selanjutnya didapat hi
C W/m m 7663
0.02
C W/m.
0.637 xx 240.6 D
k
hi ο½ Nu ο½ 0 ο½ 2ο0
Aliran minyak Hidraulik Diameter
D = Do - Di (diameter pipa sebelah luar β diameter pipa sebelah dalam) D = 3 cm β 2 cm = 1 cm
Kecepatan
ο¨
D Dο©
852x3,14x4x0.8ο¨
0.03 0.02ο©
2.39m/sΟΟ m
v 4 2 2 2
2 i o
ο ο½
ο ο½
ο½
ο·
175 Bilangan Reynolds
x10 637 37.5
0.01 x 2,39 Ξ½
Reο½ vDο½ ο6 ο½ (aliran laminar)
Pilih korelasi bilangan Nusselt dari Tabel 10.1 untuk pipa annulus (Di/Do =0.667) Nui = 5.45
Selanjutnya didapat ho
C W/m m 75,2
0.01
C W/m.
0.138 x 5.45 D
k
hiο½Nu ο½ 0 ο½ 2ο0
Maka overall heat transfer coefficient (U) ho
1 hi
1 U 1ο½ ο«
0.013 75,21
1 U1
7663ο« ο½
ο½
U = 76,9 W/m2.0C 10.4. Analisa HXβs
Dalam perancangan HXβs diperlukan parameter-parameter perancangan, seperti laju heat transfer (q), perbedaan temperature (Ξ) di inlet dan outlet, overall heat transfer coeficient (U), maupun luas permukaan heat transfernya (A)
Gambar 10.10 menyajikan gambar skema aliran fluida panas (Hot fluid) dan fluida dingin (cold fluid) pada pararel flow HXβs.. Masing-masing fluida mengalir dengan laju aliran massa πΜ dibatasi oleh permukaan (A)
Gambar 10.10. Ilustrasi parallel flow HXβs
Laju kalor yang dilepas oleh fluida panas
π = πΜβππ,β(πβ,πβ πβ,π) (10.7)
Laju kalor yang diterima oleh fluida dingin
π = πΜπππ,π(ππ,πβ ππ,π) (10.8)
Hot Fluid
Cold Fluid
Tc,i Tc,o
m
ο·m
ο·176 sedangkan perbedaan temperatur antara kedua fluida
βπ = πββ ππ (10.9)
Karena ΞT berbeda-beda disetiap panjang pipa dari HXβs, maka digunakanlah Log Mean Temperature Difference (ΞTm).
Sehingga laju perpindahan kalor dalam HXβs menjadi
π = π π΄ βππ (10.10)
10.4.1. Log Mean Temperature Difference (LMTD-Method) a. Parallel flow HXβs
Gambar 10.11. Parallel flow double pipe HXβs
Gambar 10.12. Variasi temperatur disepanjang pipa
Dari keseimbangan energi dalam elemen dA ππ = βπΜβππ,βππβ
T
Tc,2
dq
x
177 ππβ = β ππ
πΜβππ,β (10.11)
dan
ππ = βπΜπππ,ππππ πππ = β ππ
πΜπππ,π (10.12)
Dari Pers. (10.9), maka didapat
π(βπ) = ππββ πππ (10.13) Substitusi Pers (10.11) dan (10.12) ke Pers. (10.13)
π(βπ) = β ππ
πΜβππ,ββ ππ
πΜπππ,π
π(βπ) = βππ ( 1
πΜβππ,β+ 1
πΜπππ,π) (10.14) Laju kalor yang melewati elemen dA
ππ = π βπππ΄ (10.15)
Sealnjutnya substitusi Pers. (7.15) ke Pers. (7.14)dan integralkan π(βπ) = βπ βπππ΄ ( 1
πΜβππ,β+ 1
πΜπππ,π)
β«12π(βπ)βπ = βπ ( 1
πΜβππ,β+ 1
πΜπππ,π) β« ππ΄12 ππ (βπ2
βπ1) = βπ π΄ ( 1
πΜβππ,β+ 1
πΜπππ,π)
(10.16) Dari laju kalor yang dilepaskan oleh fluida panas (Pers. 10.7)
π = πΜβππ,β(πβ,πβ πβ,π)
1
πΜβππ,β =πβ,πβπβ,π
π (10.17)
Dari laju kalor yang diterima oleh fluida dingin (Pers. 10.8) π = πΜπππ,π(ππ,πβ ππ,π)
1
πΜπππ,π =ππ,πβππ,π
π (10.18)
Substitusi Pers. (10.17) dan (10.18) ke Pers. (10.16) ππ (βπ2
βπ1) = βπ π΄ (πβ,πβπβ,π
π + ππ,πβππ,π
π ) ππ (βπ2
βπ1) = βπ π΄
π (πβ,π β πβ,π+ ππ,π β ππ,π) π = βππ΄(πβ,πβππ,π)β(πβ,πβππ,π)
ππ(βπ2
βπ1)
Dari Gambar 10.10, subscript i = 1 dan subscript o = 2; ΞT1 = Th,1 β Tc,1 dan
178 ΞT2 = Th,2 β Tc,2
Heat Transfer pada HXβs π = ππ΄βπ2ββπ1
ππ(βπ2
βπ1) = π π΄ βπππ (10.19) Log Mean Temperature Difference (βππ) parallel HXβs
βππ = βπ2ββπ1
ππ(βπ2
βπ1) (10.20)
dengan ΞT1 = Th,1 β Tc,1 dan ΞT2 = Th,2 β Tc,2
b. Counter flow HXβs
Gambar 10.13. Counter flow double pipe HXβs dan variasi temperature
T
c,1T
h,2T
c,2179 Heat transfer pada HXβs
π = π π΄ βπππ
Log Mean Temperature Difference
βππ = βπ2ββπ1
ππ(βπ2
βπ1) (10.21)
Dengan ΞT1 = Th,1 β Tc,2 dan ΞT2 = Th,2 β Tc,1
c. Multi-pass & cross flow HXβs
Analisa multi-pass & cross flow HXβs (shell-tube HXβs) persamaan heat transfer dan log mean temperature difference untuk counter flow dapat digunakan
π = π π΄ βπππ
untuk multi-pass & cross flow HXβs (shell-Tube HXβs)
βπππ = πΉ βπππ,πΆπΉ (10.22) dimana F adalah faktor koreksi (berdasarkan konfigurasi HXβs). Nilai F dapat dicari dengan menggunakan grafik pada Gambar 10.14 dan Gambar 10.15.
Gambar 10.14. Faktor koreksi (F) untuk multipass HXβs
180 Gambar 10.14. (lanjuttan)
Contoh 10.2.
Uap dikondensasikan di kondenser pada temperatur 30ΒΊC dengan air sebagai fluida pendinginnya. Temperatur air pendingin saat masuk dan keluar kondenser adalah 14ΒΊC dan 22ΒΊC. Jika luas permukaan kontak seluruh pipa kondenser adalah 45 m2 dengan overall heat transfer coefficientnya 2100 W/m2.C, hitunglah laju aliran air pendingin yang diperlukan serta laju kondensasinya! (Example 13.3 Cengel).
181 Penyelesaian
Diketahui:
Kondensasi uap pada temperature 300C Dihitung:
Laju aliran air pendingin Hitungan:
Heat of vaporation (hfg) pada temperature 30ΒΊC (303 K) dari Tabel Saturated Water hfg(@303K) β 2431 kJ/kg
Kalor jenis air pendingin dicari dari tabel pada temperatur rata-rata inlet dan outlet.
K 291 C 2 18
22 14 2
T
T Tinο« out ο½ ο« ο½ 0 ο½
ο½
Kalor jenis (cp) air menjadi cp(@291K) β 4184 J/kg
Perbedaan temperatur di inlet dan outlet ΞT1 = Th,in βT c,out = 30 β 22 = 8ΒΊC ΞT2 = Th,out βT c,in= 30 β 14 = 16ΒΊC Log Mean Temperature Difference
C 11,5 8
ln 16 8 16 ΞT
ln ΞT ΞT
ΞT ΞT 0
1 2 1
lm 2 ο½
ο·οΈ
ο§ οΆ
ο¨
ο¦
ο½ ο
ο·ο·οΈ
ο§ο§ οΆ
ο¨
ο¦
ο½ ο
Laju perpindahan kalor didalam condenser
Q = U As ΞTlm = 2100 x 45 x 11,5 = 1087 kW
182 Laju air pendinginan
ο¨ ο© 4,184xο¨22 14ο© 42,5kg/s
1087 T
T c m q
in out p
air ο½
ο½ ο
ο½ ο
ο·
Laju Kondensasi
kg/s 2431 0,45
1087 hfg
mο·kondο½ q ο½ ο½
10.4.2. Analisa HXβs: Effectiveness-NTU Method
Metode sebelumnya yaitu metode LMTD dapat dengan mudah digunakan untuk menentukan heat transfer bila temperatur fluida di inlet dan outlet sudah diketahui.
Metode ini memerlukan perhitungan dengan iterasi jika kondisi temperatur di outlet belum diketahui (menjadi sedikit kompleks). Metode effectiveness-NTU (net transfer unit) dapat digunakan untuk mengatasi hal ini (tipe HXβs, ukuran HXβs dan mass flow rate diketahui, temperatur di inlet belum diketahui
Effectiveness - NTU
Effectiveness (Ξ΅) adalah ratio perpindahan kalor aktual yang terjadi pada HXβs dengan perpindahan kalor maksimum yang dapat terjadi pada HXβs
π = π
ππππ₯ (10.23)
q adalah perpindahan kalor aktual, Pers. (10.7) dan Pers. (10.8)
π = πΜβππ,β(πβ,πβ πβ,π) = πΆπ(πβ,π β πβ,π) (10.24) π = πΜπππ,π(ππ,πβ ππ,π) = πΆπ(ππ,πβ ππ,π) (10.25) Ch, CC adalah heat capacity (kapasitas kalor) fluida
πΆβ = πΜβππ,β (10.26)
πΆπ = πΜπππ,π (10.27)
Sedangkan qmax adalah perpindahan kalor maksimum
ππππ₯ = πΆπππ(πβ,πβ ππ,π) (10.28) dimana
πΆπππ = πΆπ jika (CC < Ch) (10.29) πΆπππ = πΆβ jika (Ch < CC) (10.30) Substitusi q dan qmax ke Pers. (10.23)
183 π = πΆβ(πβ,πβπβ,π)
πΆπππ(πβ,πβππ,π) (10.31)
atau
π = πΆπ(ππ,πβππ,π)
πΆπππ(πβ,πβππ,π) (10.32)
Nilai Effectiveness: 0 β€ π β€ 1
Effectiveness HXβs berhubungan dengan Number of Transfer Units (NTU) dan heat capacity ratio (c = Cmin/Cmax)
π = π (πππ,πΆπππ
πΆπππ₯) (10.33)
NTU adalah parameter tak berdimensi yang pada prinsipnya proporsional dengan luas permukaan HXβs (A), makin besar NTU berarti makin besar ukuran HXβs
πππ = π π΄
πΆπππ (10.34)
Hubungan antara effectiveness (π) dengan Number of Transfer Units (NTU) dapat dilihat dari persamaan-persamaan pada Tabel 10.3 untuk beberapa tipe HXβs. Tabel 10.3(a) digunakan untuk menentukan π jika NTU sudah diketahui. Sedangkan Tabel 10.3(b) untuk menentukan NTU jika π sudah diketahui
Tabel 10.3(a). Hubungan antara π dengan NTU
184 Tabel 10.3(b). Hubungan π dengan NTU
Hubungan antara π dengan NTU juga diberikan dalam bentuk grafik (Kays & London) seperti dalam Gambar 10.15
185 Gambar 10.15. Grafik hubungan antara π dengan NTU
Jika heat capacity ratio (c=0) maka berlaku persamaan π - NTU berikut untuk semua tipe HXβs