perbaikan dalam aktifitas sehari-hari dari waktu ke waktu.
Penilaian Barthel Indeks berdasarkan pada tingkat bantuan orang lain dalam meningkatkan aktifitas sehari-hari meliputi sepuluh aktifitas di atas.
Tabel 2. Penilaian Barthel Indeks
No Item Yang Dinilai Dibantu Mandiri
1 Transfer dari kursi roda ke tempat tidur dan kembali (termasuk duduk di bed)
5-10 15
2 Berjalan dipermukaan datar
atau dapat mengayuh kursi roda sendiri
10 0
15 5 3 Hygieni personal (cuci muka, menyisisir
rambut , mencukur jenggot, gosok gigi)
0 5
4 Naik turun kloset/wc (melepas/memakai pakaian, cawik, menyiram wc)
5 10
5 Mandi 0 5
6 Makan(bila makanan harus dipotong- potong dulu= dibantu
5 10
7 Naik dan turun tangga 5 10
8 Berpakaian (termasuk memakai tali sepatu, menutup resliting)
5 10
9 Mengontrol anus (BAB) 5 10
10 Mengontrol kandung kemih (BAK) 5 10
Sumber : Suparyanto, 2012
Kemudian nilai dari setiap item akan dijumlahkan untuk mendapatkan skor berkisar 0- 100, dengan kelipatan 5, skor yang lebih besar menunjukan lebih mandiri. Namun nilai 5,10,15 bisa juga diganti dengan 1,2, dan 3 dengan skor maksimum 20.
terpisahkan dalam lingkungan keluarga. Anggota keluarga memandang bahwa orang yang bersifat mendukung selalu siap memberikan pertolongan dan bantuan jika diperlukan, berupa dukungan informasional, dukungan penilaian, dukungan instrumental dan dukungan emosional. Jadi dukungan keluarga adalah suatu bentuk hubungan interpersonal yang meliputi sikap, tindakan dan penerimaan terhadap anggota keluarga, sehingga anggota keluarga merasa ada yang memperhatikan dan mendukungnya dalam kehidupannya (Friedman et.al,2010).
b. Sumber Dukungan Keluarga
Sumber adalah segala atribut dan dukungan yang ada untuk digunakan oleh keluarga dalam situasi krisis/ tertentu (McCubbin, 1996 dalam Friedman 2010). Dukungan keluarga ini bersumber pada dukungan sosial keluarga yaitu dukungan sosial yang dipandang oleh keluarga sebagai sesuatu yang dapat diakses atau diadakan untuk keluarga (dukungan sosial dapat atau tidak digunakan, tetapi anggota keluarga memandang bahwa orang yang bersifat mendukung selalu siap memberikan pertolongan dan bantuan jika diperlukan). Dukungan sosial keluarga dapat berupa dukungan sosial keluarga internal seperti dukungan dari suami/istri, dukungan dari saudara kandung atau dukungan sosial keluarga eksternal seperti paman dan bibi (Friedman et.al, 2010).
c. Tujuan Dukungan Keluarga
Sangatlah luas diteriama orang yang berada dalam lingkungan yang supportif umumnya memiliki kondisi yang lebih baik dibandingkan rekannya yang tanpa keuntungan ini.
Lebih khususnya dukungan sosial dapat dianggap mengurangi atau menyangga efek stres serta meningkatkan kesehatan mental individu atau keluarga secara langsung, dukungan sosial adalah strategi koping penting yang harus ada dalam masa stres bagi keluarga (Friedman, 2010). Dukungan sosial juga dapat berfungsi sebagai strategi pencegahan guna mengurangi stres akibat negatifnya (Roth,1996 dalam Friedman et.al, 2010).
Tujuan utama kedua yang dicapai sistem dukungan adalah bahwa bantuan berorientasi pada tugas sering kali diberikan oleh keluarga besar, teman dan tetangga. Bantuan dari keluarga besar dilakukan dalam bentuk bantuan langsung, termasuk bantuan financial yang terus menerus dan intermiten, berbelanja, merawat anak, perawatan fisik lansia, melakukan tugas rumah tangga dan bantuan praktis selama masa kritis (Friedman et.al, 2010).
d. Jenis Dukungan Keluarga
Menurut Friedman,et.al (2010) menyatakan bahwa keluarga berfungsi sebagai sistem pendukung bagi anggota keluarganya yang memandang bahwa orang yang bersifat
mendukung selalu siap memberikan pertolongan dan bantuan jika dibutuhkan. Terdapat empat jenis dukungan keluarga yaitu:
1) Dukungan Emosional
Dukungan emosional adalah keluarga sebagai tempat yang aman dan damai untuk istirahat serta pemulihan dan membantu penguasaan emosional serta meningkatkan moral keluarga. Aspek-aspek dari dukungan emosional meliputi dukungan yang diwujudkan dalam bentuk adanya kepercayaan, perhatian, mendengarkan dan didengarkan.
Bentuk dukungan ini membuat individu memiliki perasaan nyaman, yakin diperdulikan dan dicintai oleh keluarga, sehingga individu dapat menghadapi masalah dengan baik. Dukungan ini sangat penting dalam menghadapi keadaan yang dianggap tidak dapat dikontrol.
2) Dukungan Informasional
Dukungan informasional adalah keluarga berfungsi sebagai pemberi informasi, dimana keluarga menjelaskan tentang pemberian saran, sugesti, informasi yang dapat digunakan untuk mengungkapkan dan mengatasi suatu masalah. Aspek-aspek dalam dukungan ini adalah nasehat, usulan, saran petunjuk dan pemberian informasi.
3) Dukungan Instrumental
Dukungan instrumental adalah keluarga merupakan sumber pertolongan praktis dan konkrit dalam kebutuhan individu. Keluarga turut mencari dan memberi solusi yang dapat membantu individu dalam melakukan kegiatan sehari- hari.
Bentuk dukungan ini merupakan penyediaan materi yang dapat memberikan pertolongan langsung seperti pemberian uang, pemberian barang, makanan serta pelayanan. Bentuk ini dapat mengurangi stress karena klien dapat langsung memecahkan masalahnya yang berhubungan dengan materi. Dukungan instrumental sangat diperlukan terutama dalam mengatasi masalah yang dianggap dapat dikontrol.
4) Dukungan Penilaian/Penghargaan
Keluarga bertindak sebagai sistem pembimbing umpan balik, membimbing dan menengahi dalam pemecahan masalah yang sedang dihadapi. Bentuk dukungan ini melibatkan pemberian informasi saran atau umpan balik tentang situasi dan kondisi individu/klien. Dukungan dan perhatian keluarga merupakan bentuk penghargaan positif yang diberikan kepada individu. Bentuk dukungan ini dapat menolong individu untuk mengenal dan mengatasi masalah dengan mudah.
e. Manfaat Dukungan Keluarga
Dukungan sosial keluarga adalah proses yang terjadi selama masa hidup , dengan sifat dan tipe dukungan sosial yang bervariasi pada masing- masing tahap siklus kehidupan keluarga, dukungan sossial keluarga memungkinkan keluarga berfungsi dengan penuh kompetensi dan sumber. Hal ini meningkatkan adaptasi dan kesehatan keluarga (Friedman et.al, 2010).
Dukungan sosial dianggap dapat mengurangi atau menyangga efek stres serta meningkatkan kesehatan mental individu atau keluarga, secara langsung mempengaruhi akibat- akibat dari masalah kesehatan yang ditemukan..Dukungan sosial juga berfungsi sebagai strategi pencegahan guna mengurangi stress dan akibat negatifnya (Roth,1996, dalam Friedman 2010).
f. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Dukungan Keluarga
Faktor-faktor yang mempengaruhi dukungan keluarga menurut Purnawan (2008) dalam Sutini. (2018) adalah sebagai berikut :
1) Faktor Internal
a) Tahap Perkembangan
Artinya dukungan dapat ditentukan oleh faktor usia dalam hal ini adalah pertumbuhan dan perkembangan, dengan demikian setiap rentan usia (bayi-lansia) memiliki pemahaman dan respon terhadap perubahan kesehatan yang berbeda-beda.
b) Pendidikan dan Tingkat Pengetahuan
Keyakinan seseorang terhadap adanya dukungan terbentuk oleh intelektual yang terdiri dari pengetahuan, latar belakang pendidikan dan pengalaman masa lalu.
Kemampuan kognitif akan membentuk cara berfikir seseorang termasuk kemampuan untuk memahami faktor- faktor yang berhubungan dengan penyakit dan menggunakan pengetahuan tentang kesehatan untuk menjaga kesehatan dirinya.
c) Faktor Emosional
Faktor emosional mempengaruhi keyakinan terhadap adanya dukungan dan cara melakukannya. Seseorang yang mengalami respon stress dalam setiap perubahan hidupnya cenderung berespon terhadap berbagai tanda sakit, mungkin dilakukan dengan cara mengkhawatirkan bahwa penyakit tersebut dapat mengancam kehidupannya. Seseorang yang secara umum terlibat sangat tenang mungkin mempunyai respon emosional
yang kecil selama ia sakit. Seorang individu yang tidak mampu melakukan koping secara emosional terhadap ancaman penyakit mungkin bisa terjadi.
d) Spiritual
Aspek spiritual dapat terlihat dari bagaimana seseorang menjalani kehidupannya, mencakup nilai dan keyakinan yang dilaksanakan, hubungan dengan keluarga atau teman, dan kemampuan mencari harapan dan arti dalam hidup.
2) Faktor Eksternal a) Praktek di keluarga
Cara bagaimana keluarga memberikan dukungan biasanya mempengaruhi penderita dalam melaksanakan kesehatannya. Misalnya, klien kemungkinan juga ikut dalam pencegahan jika keluarga melakukan hal yang sama.
b) Sosio-ekonomi
Faktor sosio dan psikososial dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit dan mempengaruhi cara seseorang mendefinisikan dan bereaksi terhadap penyakitnya.
Variabel psikososial mencakup stabilitas perkawinan, gaya hidup, dan lingkungan kerja. Seseorang biasanya akan mencari dukungan dan persetujuan dari kelompok
sosialnya, hal ini akan mempengaruhi keyakinan kesehatan dan cara pelaksanaannya. Semakin tinggi tingkat ekonomi seseorang biasanya akan lebih cepat tanggap terhadap gejala penyakit yang dirasakan.
Sehingga ia akan segera mencari pertolongan ketika merasa ada gangguan pada kesehatannya.
c) Latar Belakang Budaya
Latar belakang budaya mempengaruhi keyakinan, nilai dan kebiasaan individu, dalam memberikan dukungan termasuk cara pelaksanaan kesehatan pribadi.
g. Pengukuran Dukungan Keluarga
Menurut Schwarszer and Leppin (2014) dalam Ningtyas (2017) dukungan sosial dapat dilihat sebagai fakta sosial dan dukungan yang sebenarnya terjadi atau diberikan oleh orang lain kepada individu (perceived support) dan sebagai kognisi individu yang mengacu pada persepsi terhadap dukungan yang diterima (received support).
Pengertian received social support adalah perilaku membantu yang muncul dan diberikan secara alamiah, sedangkan perceived social support diartikan sebagai keyakinan bahwa perilaku membantu akan tersedia ketika diperlukan.
Secara singkat dapat diartikan bahwa received support adalah perilaku membantu yang benar-benar terjadi dan perceived
support adalah perilaku membantu yang mungkin akan terjadi (Baron dan Byrne, 2012).
Menurut Serason dalam Ningtyas, (2017) pengukuran dukungan keluarga dengan perceived social support dibuat untuk menilai aksi supportif yang signifikan yang diberikan kepada penerima oleh jaringan sosialnya, sedangkan pengukuran terhadap perceived social support dilakukan untuk menilai persepsi penerima mengenai keberadaan dukungan yang diberikan dan didapat.
h. Hubungan Dukungan Keluarga dengan Kemandirian dalam Activity Daily Living pada Pasien Pasca Stroke
Kejadian stroke dapat menimbulkan kelemahan dalam kehidupan sehari- hari. Salah satunya adalah ketidakmampuan perawatan diri akibat kelemahan ekstremitas dan penurunan fungsi mobilitas yang dapat menghambat pemenuhan activity daily living (ADL). ADL dapat dilakukan dengan nyaman dimasa pemulihan. Dimasa ini pasien stroke akan menjalankan rehabilitasi latihan fisik dan fungsinya (Mulyatsih & Ahmad, 2015).
Keluarga merupakan support system yang utama pemberi pelayanan pada setiap keadaan kepada anggota keluarganya (Friedman et.al, 2010). Pada saat di rumah, keluarga berperan dalam pengembalian kemandirian, misalnya dengan melakukan
perawatan secara praktis dan latihan guna membiasakan hidup secara mandiri (Karunia, 2016). Bagi pasien stroke, hal tersebut akan dapat dilaksanakan manakala adanya bantuan dan dukungan dari keluarga, teman, dan pemberi pelayanan perawatan kesehatan, maka sebagian besar masalah mental dan emosional dapat dicegah (Manurung, 2017).
Adanya dukungan yang baik dari keluarga membuat seseorang menjadi termotivasi untuk lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan sehari-harinya dan dapat mengurangi tingkat ketergantungan pasien. Peran dan dukungan keluarga dalam merawat pasien stroke yang baik akan menumbuhkan kepercayaan diri pasien (Widiyawati, 2017).
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Ningtyas (2017) didapatkan hasil bahwa dukungan keluarga yang baik mengalami kemandirian dalam aktifitas sehari-hari sebesar 48,5%, ketergantungan sedang 40% dan ketergantungan ringan 11,5%.
Menurut Karunia (2016) menyebutkan bahwa dukungan keluarga yang selalu memberikan motivasi, penghargaan dan informasi dapat meningkatkan semangat untuk melakukan aktivitas sehari-harinya. Sedangkan menurur Widiyawati (2017) kemandirian akan lebih cepat timbul apabila anggota keluarga memberikan dukungan yang tinggi untuk melakukan rehabilitasi.
Semakin cepat untuk latihan maka akan semakin cepat pula penyesuaian terhadap kemandirian.
Hal tersebut di atas dibuktikan pula oleh penelitian Sit,et.al (2004) dalam Ningtiyas (2017) tentang dampak social support pada kesehatan pasien stroke di rumah oleh family care giver didapatkan bahwa family care giver yang baik pada pasien pasca stroke dapat meningkatkan kemampuan aktifitas hidup sehari-hari (Activity of Daily Living), secara mandiri dan menjadi lebih baik dengan dukungan dan social support dari keluarga yang akan meningkatkan status kesehatan psikologis pasien pasca stroke (Ningtiyas, 2017)