• Tidak ada hasil yang ditemukan

E-procurement Terhadap Pencegahan Fraud

Dalam dokumen KATA PENGANTAR (Halaman 57-60)

BAB IV PEMBAHASAN

4.2 Hasil Penelitian

4.2.2 E-procurement Terhadap Pencegahan Fraud

untuk diakses oleh masyarakat sehingga pengendalian dan pengawasan dapat dilakukan.

5. Pemantauan

Panitia Pelaksana Teknis Kegiatan akan melakukan pemantauan secara langsung selama proses pengadaan dilaksanakan. Setelah pengadaan selesai, panitia pelaksana teknis akan kembali memeriksa dan mengevaluasi hasil pekerjaan. Untuk pengadaan jasa akan dilakukan pemeriksaan kembali secara berkala.

Pelaksanaan pemantauan yang dilakukan oleh PT Infomedia Nusantara ini telah sejalan dengan teori Faisol, Tarjo, dan Musyarofah (2014) yang mengemukakan aktivitas pengendalian dan pengawasan merupakan bagian penting dari proses pencegahan terhadap terjadinya fraud dalam proses pengadaan barang dan jasa.

Tabel 4.1 Perbedaan Procurement dan E-Procurement

Procurement E-procurement

Penyerahan dokumen masih dilakukan secara manual.

Penyerahan dokumen dilakukan secara online.

Pengumuman terkait pengadaan hingga selesai dilakukan dimedia cetak.

Pengumuman terkait pengadaan hingga selesai dilakukan dimedia cetak.

Adanya pertemuan secara langsung dapat menimbulkan kerja sama antara panitia pengadaan dan penyedia jasa.

Tidak adanya pertemuan secara langsung dapat meminimalisir kemungkinan kerja sama.

Dengan mengacu kepada Tabel 4.1 dapat dilihat bahwa sistem online based yang telah diterapkan oleh e-procurement menjadikan pelaksanaan pengadaan barang dan jasa jauh lebih efektif dan efisien dari segi waktu dan biaya yang dikeluarkan oleh tender menuju tempat pelaksanaan pengadaan barang dan jasa sudah tidak diperlukan. Tender hanya perlu meng-upload dokumen yang dipersyaratkan ke sistem. Prosedur pembukaan dokumen yang harus dilakukan secara bersama-sama saat seluruh tender berkumpul juga tidak perlu lagi dilakukan mengingat sistem yang sudah online. Hal ini berarti pengimplementasian e-procurement dapat meminimalisir penggunaan waktu dan sumber daya dalam pencapaian tujuan organisasi, sesuai dengan penelitian Artantri dkk (2016) yang menyatakan bahwa peran e-procurement terbukti dapat meningkatkan transparansi, meningkatkan akuntabilitas, mendukung monitoring dan audit, memberikan informasi yang real time serta memberikan pengetahuan yang luas bagi masyarakat mengenai proses pengadaan barang/jasa. E-

procurement juga dapat mengurangi inefisiensi pengadaan dengan memberikan manfaat yang lebih besar dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan.

Dengan menggunakan sistem berbasis online, pembelian barang dan jasa dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja selama terdapat jaringan yang mendukung. Proses pembelian barang dan jasa pun menjadi lebih cepat dan fleksibel dibandingkan dengan pelaksanaan yang dilakukan secara manual. E- procurement pun dapat ter-update setiap saat sehingga pelaksanaan pengadaan barang dan jasa jauh lebih transparan. Hal ini sejalan dengan penelitian Kumorotomo (2008) yang mengungkapkan bahwa e-procurement sebagai wujud e-government yang dapat meningkatkan transparansi dan efektivitas dalam pengadaan barang/jasa.

Selain meningkatkan unsur efektivitas dan efisiensi e-procurement juga meminimalisir terjadinya fraud dengan memutus hubungan istimewa atau kerja sama karena tidak diperlukannya tatap muka secara langsung. Kemungkinan terjadinya fraud antara pihak pelaksanana kegiatan pengadaan maupun tender dapat dicegah dengan sistem online based.

49

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, maka dalam penulisan skripsi ini dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. PT Infomedia Nusantara dalam pelaksanaan kegiatan pembelian barang dan jasa meskipun telah beralih dari procurement ke e-procurement tetap memperhatikan unsur-unsur pengendalian internal yang ditetapkan oleh manajemen, bahkan dapat dikatakan bahwa peralihan sistem ini membawa pengaruh yang signifikan terhadap pengendalian internal manajemen.

Masih berlakunya pakta integritas setelah rekonstruksi menunjukkan adanya kepatuhan terhadap etika-etika dan penegakan integritas serta terlaksananya kegiatan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan menunjukkan analisis terhadap resiko telah diaplikasikan dengan baik.

Adanya penunjukan yang selektif berdasarkan kualifikasi terhadap panitia pelaksana teknis merupakan pembinaan terhadap SDM dan telah sesuainya media yang digunakan menunjukkan pengendalian atas pengelolaan sistem informasi telah berjalan dengan baik. Adanya pemantauan secara langsung dan pemeriksaan kembali hasil pekerjaan menggambarkan bahwa pengendalian atas pemantauan telah dilaksanakan dengan baik.

2. Pengimplementasian e-procurement pada PT Infomedia Nusantara dalam hal pembelian barang dan jasa menjadi solusi berbagai risiko-risiko fraud

pada pengadaan barang dan jasa yang sebelumnya dilakukan secara konvensional. Pelaksanaan e-procurement pada PT Infomedia Nusantara dapat meningkatkan transparansi dan membuat pelaksanaan pengadaan barang dan jasa menjadi lebih efektif dan efisien.

5.2 Saran

Sebagai penutup dari skripsi ini, penulis memiliki saran yang diharapkan dapat menjadi masukan bagi pihak-pihak yang berkepentingan, yaitu:

1. Peningkatan kualitas SDM seperti pengadaan seminar-seminar terkait e- procurement dan pengadaan barang atau jasa agar dalam pelaksanaan kegiatan pembelian barang dan jasa pengawasannya dapat lebih terjamin kualitasnya.

2. Seleksi yang ketat terhadap pemilihan vendor dan kelengkapan administrasi.

DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Nanan. 2011. Optimalisasi Pengembangan E-procurement pada Sistem Pelelangan Umum Pascakualifikasi dengan Satu Sampul dan Sistem Gugur (Konsep dan Desain Pengembangan sebagai Fungsi Kontrol).

Studi Kasus di Kementerian Pekerjaan Umum.

Artantri, Luh Putu Resti Mega; Lilik Handajani dan Endar Pituringsih. 2016.

Peran E-procurement Terhadap Pencegahan Fraud Pada Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Daerah Di Pulau Lombok. NeO~Bis, 10(1):

16-32.

Basyaib H., Holloway R. & Makarim N.A. 2002. Mencuri Uang Rakyat: 16 Kajian Korupsi di Indonesia. Jakarta: Akasara Foundation.

Damayanti, Astri, & Hamzah, Ardi. 2017. Pengaruh E-procurement Terhadap Good Governance. https://www.academia.edu/34104665/Pengaruh_E- procurement_Terhadap_Good_Governance. Diakses 09 September 2020 Dewi, Puspita Purnama Sari. 2013. Analisis Penerapan E-procurement,

Pengendalian Internal dan Kualitas Sumber Daya Manusia Dalam Mencegah Fraud Pengadaan Barang. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Dwiyanto, Agus. 2008. Mewujudkan Good Governance Melalui Pelayanan Publik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Faisol, Imam Agus, T. d. 2014. Pengaruh Penerapan E-procurement terhadap Pencegahan Fraud di Sektor Publik. JAFFA Vol. 02 No.2 , 71-90.

Hasan, Safuddien. 2000. Membangun GCG pada Perusahaan, dari Bubble Company menuju Sustainable Company. Bahan Konvensi Nasional Akuntan IV.

Hermawan, Sigit. 2008. Akuntansi Perusahaan Manufaktur. Penerbit: Graha Ilmu, Yogyakarta.

Hermiyetti. 2011. Pengaruh Penerapan Pengendalian Internal terhadap Pencegahan Fraud Pengadaan Barang. Universitas Trilogi, Jakarta.

Hery. 2011. Auditing 1 Dasar-Dasar Pemeriksaan Akuntansi. Penerbit:

Kencana, Jakarta.

Hery. 2012. Akuntansi dan Rahasia Di Baliknya. Penerbit: Bumi Aksara, Jakarta.

Kalakota, Ravi and Robinson, Marcia. 2001. E-business 2.0: Roadmap For

Success, Addison Wesley, Boston.

https://eproc.lkpp.go.id/content/tentang. Diakses 14 Desember 2019 Karyono. 2013. Forensic Fraud. Yogyakarta: Andi.

Kumorotomo, Wahyudi. 2008. Pengembangan E-Government untuk Transparansi Publik. Yogyakarta: Konfrensi Administrasi Negara.

Messah, Yunita A. dkk. 2013. Kajian Persepsi Pelaku Jasa Konstruksi tentang Kegiatan Pengadaan Jasa konstruksi secara e-procurement di Kota Kupang. Jurnal Teknik Sipil, Vol. II. No. 1.

Nightisabha Akyuna Ita dkk. 2009. Persepsi Pengguna Layanan Pengadaan Barang dan Jasa Pada Pemerintah Kota Yogyakarta Terhadap Implementasi Sistem E-procurement. Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

Nugroho, Rahmawan Satriyo, A. H. 2015. Pengaruh Implementasi Sistem Pengadaan Secara Elektronik (e-procurement) terhadap Fraud Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. Jurnal Administrasi Publik (JAP) Vol. 3 No. 1, 1905-1911.

Oktaviani, Lisa. 2017. Pengaruh Penerapan E-procurement Terhadap Pencegahan dan Pendeteksi Fraud Di Sektor Publik (Studi Empiris Pada Satuan Kerja Perangkat Daerah Kota Padang, Kabupaten Solok, Kota Solok, Kabupaten Pesisir Selatan). Universitas Negeri Padang, Sumatera Barat.

Purwanto, Erwan Agus. 2008. e-procurement di Indonesia. Penerbit: Kemitraan, Jakarta

Romney, Marshall B., Paul John Steinbart. 2015. Accounting Information Systems 13th ed. England: Pearson Educational Limited.

Sutedi, Adrian. 2012a. Aspek Hukum Pengadaan Barang & Jasa dan Berbagai Permasalahannya. Jakarta Sinar Grafika.

Sutedi, Adrian. 2012b. 2010. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 54 Tahun 2010 Tentang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah.

Jakarta.

Wijaya, Wahyu Hari dkk. 2010. Studi Penerapan E-procurement pada Proses Pengadaan di Pemerintah Kota Surabaya. Universitas Pertahanan Indonesia, Bogor.

Wulandari, El Unas, dan Hasyim. 2014.. Kajian Penerapan E-procurement Untuk Mengurangi Penyimpangan Pada Pengadaan Pekerjaan Konstruksi Di Kota Malang. Universitas Brawijaya, Malang.

_______________. 2011. Paparan Pengadaan Barang dan Jasa Melalui Media Elektronik. Kementerian Pekerjaan Umum.

_______________. 2012. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 70 Tahun 2012 Tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Presiden

Nomor 54 Tahun 2010. Jakarta.

LAMPIRAN

A. Lingkungan Pengendalian:

1. Apakah ada pakta integritas pada proses pengadaan barang/jasa?

Jawab:

Iya. Dari dulu sampe sekarang kita tetep pakai surat pernyataan sih, buat ngejaga ke disiplinan juga.

2. Apakah SDM/panitia pengadaan barang/jasa mengetahui uraian tugasnya masing-masing? Apakah dipilih SDM yang memiliki kompetensi khusus dibidang tertentu?

Jawab:

Iyalah. Jadi kita milih orang-orang yang emang ahli dibidangnya, ada sertifikatnya malah. Sebelum tes masuk ke sini juga kita udah mastiin karena tesnya ada 4-5 tahap. Kalo uraian tugas masing-masing udah ada di jobdesk sih.

3. Apakah ada bentuk kepemimpinan yang kondusif dalam proses pengadaan barang dan jasa?

Jawab:

Biasanya sih team leadernya yang ngebagiin tugas ini tugas itu. Kan kita ada yang namanya meeting persiapan kalo pengadaannya gede ya. Trus kita juga biasanya ngasih usulan mau milih pake cara apa, open tender atau nunjuk langsung beberapa tender buat diseleksi.

4. Apakah dilakukan bentuk pengawasan intern terhadap pelaksanaan pengadaan barang dan jasa?

Jawab:

Iya, jadi pengawasannya itu kita bentuk panitia, nah panitia itu yang nanti bakal ngecek progress pekerjaanya. Sebenernya sih bisa dicek di aplikasi juga kalo misalnya kita butuh barang yang kudu pake shipping tapi pengawasan tetep ada.

B. Penilaian Resiko:

1. Apakah management/kuasa pengguna anggaran/Pejabat Pembuat Komitmen dan panitia membuat perencanaan sebagai bentuk dari identifikasi resiko?

Jawab:

Biasanya sih rapat aja, disitu kita lebih ngebahas nanti pas ngeupload di e- proc kita buka tender untuk umum ato nunjuk langsung beberapa tender.

2. Apa saja analisis resiko yang dilakukan oleh management/kuasa pengguna anggaran/Pejabat Pembuat Komitmen?

Jawab:

Sejauh ini sih kita cuma ngeliat dari time schedule. Kalau selesainya kecepetan kita ngeliat mutunya, kalo kelamaan kita cross-check ulang mereka butuh apa biar permintaan kita selesainya cepet dalam artian on time.

C. Kegiatan Pengendalian:

1. Apakah ada pembinaan terhadap SDM yang ditempatkan dalam divisi pengadaan barang dan jasa?

Jawab: Ada, kita ngikutin seminar-seminar dari luar atau siapapun yang nyelenggarain lah, kalo ada waktu dan timing pas kita kirim satu atau dua orang. Trus kalo gak salah sekali setahun tuh ada ujiannya dari pusat.

Kalau lulus ntar bisa jadi team leader jadi ini juga bentuk penyemangatlah.

2. Apakah terdapat pemisahan otorisasi untuk pengadaan yang bernilai material dan non-material?

Jawab:

Ya, terdapat pemisahan otorisasi. Untuk pengadaan inventaris yang nilainya non-material seperti inventaris dibawah harga 300 juta dilakukan oleh Infomedia sendiri, sedangkan untuk pengadaan yang bersifat material dan berkaitan dengan jasa yang ditawarkan dilakukan oleh Telkom atas request dari Infomedia.

3. Apakah setiap pencatatan yang dilakukan sudah aktual?

Jawab: Udah deh kayaknya. Kita sesuaiin aja sama yang kejadian dilapangan, ya kejadiannya kayak gini kita lapor gini juga. Jadi berita acaranya ya dilapor apa adanya. Jadi intinya balik lagi ke pertanyaan sebelumnya yang pakta itu.

Dalam dokumen KATA PENGANTAR (Halaman 57-60)

Dokumen terkait