PENDAHULUAN
Latar Belakang
Rumusan Masalah
Tujuan
Manfaat Penelitian
TINJUAN PUSTAKA
Tinjauan Pustaka
- E-procurement
- Pengendalian Intern
- Fraud
- Pengadaan Barang dan Jasa
- Penelitian Terdahulu
Kalakota, dkk (Wijaya dkk, 2010 dalam Abidin, 2011) berpendapat bahwa e-procurement merupakan proses lelang atau pembelian barang dan jasa dengan memanfaatkan teknologi informasi berupa website. Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa e-procurement adalah pengadaan barang dan jasa secara elektronik yang seluruh kegiatannya dilakukan secara online melalui website. Sistem e-procurement diharapkan dapat menjadi solusi yang tepat terhadap permasalahan yang muncul dalam proses pembelian barang dan jasa.
Baik internal maupun eksternal masih belum memahami implementasi pengadaan barang dan jasa secara elektronik. Infrastruktur jaringan internet masih belum mendukung pelaksanaan pengadaan barang dan jasa secara elektronik karena kecepatan akses sistem masih lambat. Pengadaan barang dan jasa merupakan kegiatan pemerintah yang paling penting, tidak hanya dilihat dari tingkat kegiatannya, tetapi juga dana yang dialokasikan.
Pengadaan barang dan jasa saat ini khususnya di Indonesia masih memiliki kelemahan dan belum mampu mencegah korupsi secara efektif. Sebelum diterapkannya sistem informasi berbasis teknologi seperti e-procurement, proses pengadaan barang dan jasa dilakukan dengan cara konvensional yaitu mempertemukan langsung pihak-pihak terkait dalam pengadaannya. Peraturan ini berharap pengadaan barang dan jasa dapat berjalan lancar tanpa kolusi, korupsi, dan nepotisme.
133 Tahun 2009 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Secara Elektronik di Lingkungan Pemerintahan Sulawesi Selatan, pihak-pihak (badan) dalam kegiatan pengadaan barang/jasa pemerintah adalah: “a. Pengadaan barang dan jasa harus dilaksanakan berdasarkan prinsip efisiensi, efektivitas, transparansi, keterbukaan, persaingan, keadilan/non-diskriminasi, dan akuntabilitas. Efektif, artinya pengadaan barang/jasa harus sesuai dengan kebutuhan dan tujuan yang telah ditetapkan serta memberikan manfaat sebesar-besarnya.
Terbuka artinya pengadaan barang/jasa dapat diikuti oleh seluruh pemasok barang/jasa yang memenuhi persyaratan/kriteria tertentu berdasarkan ketentuan dan prosedur yang jelas. Akuntabel artinya harus mematuhi peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pengadaan barang/jasa agar dapat dipertanggungjawabkan.
Kerangka Pemikiran
Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel implementasi e-procurement, pengendalian internal, sikap positif terhadap peraturan, dan kesadaran akan kecurangan berpengaruh positif terhadap pencegahan kecurangan pengadaan. Penelitian Lisa Oktaviani (2017) yang berjudul “Pengaruh Penerapan E-procurement Terhadap Pencegahan dan Deteksi Fraud di Sektor Publik (Studi Empiris Pada Satuan Kerja Perangkat Daerah Kota Padang, Kabupaten Solok, Kota Solok, Kabupaten Pesisir Selatan)” menyatakan bahwa sebagian tahap perencanaan dan penyiapan dokumen tender berpengaruh terhadap pencegahan kecurangan dalam pengadaan publik, dan tahap keberatan lelang berpengaruh terhadap pendeteksian kecurangan dalam pengadaan publik. Sementara itu, tahap pembentukan komisi, tahap prakualifikasi, tahap evaluasi, tahap pengumpulan penawaran, dan tahap pengumuman lelang tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap pencegahan dan deteksi kecurangan pengadaan publik.
METODE PENELITIAN
- Lokasi dan Waktu Penelitian
- Jenis dan Sumber Data
- Metode Analisis
- Definisi Operasional
Meskipun e-procurement diperkenalkan pada akhir tahun 2009, namun kenyataannya PT Infomedia Nusantara masih melakukan berbagai transaksi pembelian barang dan jasa secara manual maupun konvensional pada tahun 2010. Meskipun pembelian barang dan jasa di PT Infomedia Nusantara saat ini sudah menggunakan e-procurement, namun pihak logistik yang diberi kewenangan untuk melakukan pembelian tersebut tetap menandatangani pakta integritas seperti saat pembelian masih dilakukan secara manual atau konvensional. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Messah dkk (2013) yang menyatakan bahwa tahapan pembentukan panitia pengadaan barang dan jasa yang kompeten secara e-procurement dapat mengurangi kasus penipuan.
Dalam melakukan pembelian barang dan jasa, PT Infomedia Nusantara terlebih dahulu melakukan persiapan dalam melakukan kegiatan pembelian barang dan jasa. Misalnya penyusunan tujuan, waktu, kualitas, biaya dan manfaat pembelian barang dan jasa secara transparan dan rinci. Pengawasan terhadap proses pengadaan barang dan jasa di PT Infomedia Nusantara dilakukan dengan memantau kemajuan pekerjaan secara berkala oleh Panitia Pelaksana Kegiatan Teknis.
Dalam proses pemesanan barang dan jasa, berita acara disusun berdasarkan peristiwa-peristiwa yang terjadi selama proses pemesanan. Keterbukaan/transparansi informasi dalam pemesanan barang dan jasa merupakan salah satu misi utama reformasi pemesanan barang dan jasa. Penerapan pemantauan yang dilakukan oleh PT Infomedia Nusantara sesuai dengan teori Faisol, Tarjo dan Musyarofah (2014) yang menyatakan bahwa kegiatan pengendalian dan pemantauan merupakan bagian penting dalam proses pencegahan kecurangan dalam proses pengadaan barang dan jasa. jasa.
Penerapan e-procurement di PT Infomedia Nusantara dalam hal pembelian barang dan jasa menjadi solusi atas berbagai risiko penipuan. Penerapan e-procurement di PT Infomedia Nusantara dapat meningkatkan transparansi dan menjadikan pelaksanaan pengadaan barang dan jasa menjadi lebih efektif dan efisien. Persepsi pengguna jasa pengadaan barang dan jasa di Pemerintah Kota Yogyakarta terhadap penerapan sistem e-procurement.
PEMBAHASAN
Gambaran Umum Perusahaan
- Sejarah Perusahaan
- Transformasi Bisnis
- Visi & Misi
- Tata Nilai
- Komitmen Perusahaan
- Produk dan Layanan PT Infomedia Nusantara
- Struktur Organisasi
PT Infomedia Nusantara didirikan pada tahun 1975 dan menjadi perusahaan pertama yang menyediakan layanan informasi telepon di Indonesia dan berada di bawah naungan divisi Elnusa GTDI yang merupakan anak perusahaan PT Pertamina. Pada tahun 1984 divisi tersebut berubah menjadi PT Elnusa Yellow Pages dan berubah lagi menjadi PT Infomedia Nusantara setelah PT Telkom melakukan investasi. Komposisi kepemilikan saham PT Infomedia Nusantara hingga saat ini sebesar 51% dimiliki oleh PT Telkom sedangkan sisanya sebesar 49% dimiliki oleh PT Elnusa.
PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk (PT Telkom) mempercayakan PT Infomedia Nusantara sebagai pusat utama pengembangan dan pemeliharaan database telepon. Pengelolaan direktori yang memuat data dasar (nama, nomor telepon, alamat), data pelengkap (profil perusahaan atau bidang usaha) dan data pendukung (pariwisata, pemerintahan, informasi sosial) merupakan kompetensi inti yang dimiliki PT Infomedia Nusantara. . Bisnis TV kabel kemudian dipercayakan kepada PT Indonusa dan Bisnis Jasa dipercayakan kepada PT Infomedia Nusantara.
Layanan Bisnis Terpercaya PT Infomedia Nusantara kemudian berkembang menjadi tiga pilar bisnis yang dapat bekerja secara sinergis, yaitu: Layanan Direktori, Layanan Call Center, dan Layanan Konten. Buku Petunjuk Telepon (BPT) merupakan produk utama layanan direktori yang merupakan salah satu pilar PT Infomedia Nusantara. Menjawab tantangan tersebut, PT Infomedia Nusantara melakukan perubahan visi dan misi yang diikuti dengan perubahan konseptual produk, layanan, dan strategi perusahaan sejalan dengan kebutuhan informasi dan komunikasi yang semakin meningkat.
Untuk layanan National 108 yang diluncurkan pada awal tahun 1997, PT Telkom dan PT Infomedia Nusantara bersama-sama meluncurkan produk ini. Visi PT Infomedia Nusantara adalah: “Menjadi penyedia layanan dan informasi terkemuka, penghubung antara penjual dan pembeli dengan jangkauan global.” Misi PT Infomedia Nusantara adalah : “Menyediakan layanan informasi dalam bentuk cetak dan elektronik serta berperan dalam layanan infokom.”
Hasil Penelitian
- E-procurement dalam Pengendalian Internal
- E-procurement Terhadap Pencegahan Fraud
Pakta Integritas ini menyatakan bagaimana mereka berjanji tidak akan melakukan tindakan tercela dan akan berusaha segera melaporkan kepada manajemen atau tim pengawas jika mengetahui adanya penipuan dalam proses pengadaan barang dan jasa. Pihak yang berwenang melakukan pengadaan barang dan jasa akan mengikuti proses pengadaan secara bersih, transparan, dan profesional untuk memberikan hasil kerja yang baik serta bersedia menerima sanksi apabila melanggar ketentuan yang tercantum dalam perjanjian integritas. Dalam proses pengadaan barang dan jasa, salah satu tim yang berwenang melaksanakan pengadaan paling kurang mempunyai sertifikat kompetensi di bidang pengadaan barang dan jasa, yang menunjukkan kompetensinya di bidang barang dan jasa, sehingga dengan demikian Dengan melakukan pembelian tersebut setiap anggota tim dapat melaksanakan tugas dan kewajiban yang ditentukan telah diberikan kepadanya dengan benar.
Persiapan yang dilakukan berupa pertemuan untuk memberikan informasi kepada pihak-pihak terkait mengenai rencana pelaksanaan pengadaan barang dan jasa, siapa yang akan melaksanakan tanggung jawab tersebut kepada para pihak dan apakah akan dilakukan melalui tender elektronik. atau dengan bertemu langsung. . Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Damayanti dan Hamzah (2011) yang menjelaskan bahwa identifikasi risiko merupakan bagian penting dalam tahap pengadaan barang dan jasa, yang bertujuan untuk menyeleksi calon peserta tender yang mampu menyelesaikan proyek sesuai dengan kebutuhan. ke tender. Prosedur ini secara umum sejalan dengan pandangan hasil penelitian yang dilakukan oleh Messah dkk (2013) yang secara implisit menyatakan bahwa pengadaan barang dan jasa dengan menggunakan e-procurement dapat mengurangi tindakan kecurangan dengan meningkatkan pemeriksaan lapangan serta peran dan kontribusi pihak-pihak yang terlibat. masyarakat untuk memberikan informasi mengenai kondisi kerja yang sebenarnya.
Dalam melaksanakan kegiatan pengadaan barang dan jasa, pihak manajemen memberikan wewenang kepada kepala logistik untuk menentukan orang-orang yang akan melaksanakan tanggung jawab tersebut. Untuk menjadi Ketua Tim, baik dalam proses pengadaan barang atau jasa maupun dalam panitia teknis pelaksanaan kegiatan, harus sudah lulus ujian dan lulus kompetensi pengadaan barang dan jasa serta kerjasama. Mereka yang berwenang melaksanakan tugas pemesanan barang dan jasa sebelumnya mengumumkan pelaksanaan pemesanan barang dan jasa di surat kabar negara atau media cetak lainnya, dan sejak peralihan ke penggunaan e-ordering, mereka menginformasikan kegiatan pemesanan pada pejabat tersebut. situs web PT Infomedia Nusantara.
Proses pembelian barang dan jasa menjadi lebih cepat dan fleksibel dibandingkan dengan pelaksanaan manual. Hal ini sejalan dengan penelitian Kumorotomo (2008) yang mengungkapkan bahwa e-procurement sebagai salah satu bentuk e-Government dapat meningkatkan transparansi dan efisiensi dalam pengadaan barang/jasa. Peningkatan kualitas sumber daya manusia seperti penyelenggaraan seminar terkait e-procurement dan pengadaan barang atau jasa sehingga kualitas pelaksanaan pembelian barang dan jasa dapat lebih terjamin.
PENUTUP
Kesimpulan
PT Infomedia Nusantara dalam menjalankan kegiatan pembelian barang dan jasa meskipun sudah beralih dari pengadaan ke e-procurement tetap memperhatikan unsur pengendalian internal yang ditentukan oleh manajemen, bahkan dapat dikatakan transisi sistem ini merupakan suatu hal yang signifikan. berdampak pada pengendalian internal manajemen. Perjanjian integritas yang masih berlaku setelah rekonstruksi menunjukkan bahwa etika terpenuhi dan terpeliharanya integritas serta pelaksanaan kegiatan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan menunjukkan bahwa analisis risiko telah diterapkan dengan baik. Adanya penunjukan yang selektif berdasarkan kualifikasi panitia pelaksana teknis merupakan bentuk pengembangan sumber daya manusia dan kesesuaian media yang digunakan menunjukkan bahwa pengendalian pengelolaan sistem informasi berjalan dengan baik.
Adanya pemantauan langsung dan pemeriksaan ulang hasil kerja memberikan gambaran bahwa pengendalian terhadap pemantauan telah dilaksanakan dengan baik.
Saran
Optimalisasi pengembangan e-procurement pada sistem lelang umum setelah kualifikasi dengan satu cakupan dan sistem knockout (konsep dan desain pengembangan sebagai fungsi pengendalian). Pengaruh Penerapan E-Procurement Terhadap Pencegahan dan Deteksi Fraud di Sektor Publik (Studi Empiris Pada Satuan Kerja Perangkat Daerah Kota Padang Kabupaten Solok Kabupaten Solok Pesisir Selatan). Untuk pembelian inventaris yang nilainya non material, misalnya inventaris di bawah harga 300 juta euro dilakukan oleh Infomedia sendiri, sedangkan untuk pembelian yang bersifat material dan terkait dengan layanan yang ditawarkan dilakukan oleh Infomedia. Telkom atas permintaan Infomedia.