Diantara komunitas yang ada tersebut, Kota Bandung adalah salah satu tempat dimana anak-anak muda menggerakkan Earth Hour. Gerakan EHBDG mulai muncul dan terorganisir dengan baik pada tahun 2011 melalui Jaringan Komunikasi Bandung Bijak Energi (JKBBE). Komunitas ini berisi perwakilan dari berbagai lembaga, sekaligus wadah gerakan yang mempunyai tiga fokus utama, yakni efisiensi energi, konservasi energi, dan energi terbarukan. Akhirnya JKBBE sepakat menjadikan Earth Hour sebagai program utama mereka.
Salah satu pendiri Jaringan Komunikasi Bandung Bijak Energi (JKBBE), Christian Natalie, sebagai koordinator utama, menceritakan awal pembentukan JKBBE. Pada saat itu, terdapat pertemuan Forum Hijau Bandung untuk mendiskusikan gerakan Earth Hour.
Waktu itu pertemuan dihadiri oleh sekitar 25 orang yang mewakili 18 organisasi. Mereka bersepakat membangun forum dengan model Jaringan Komunikasi11 . Nama Bandung Bijak Energi muncul karena belum banyak komunitas yang peduli tentang isu ini sehingga tujuan dan visi dari komunitas ini adalah Bandung yang bijak energi yang dimulai oleh warganya. Semua perwakilan organisasi melebur jadi koordinator di seksi-seksi kepanitiaannya. Untuk tahun-tahun berikutnya, sistem kegiatan ini berjalan secara organik karena mandat utama JKBBE adalah memastikan gerakan EHBDG terlaksana setiap tahun di Bandung sebagai momen membuat Bandung semakin bijak energi.
Seiring berjalannya waktu, EHBDG mulai dikenal masyarakat luas sehingga setiap kegiatan JKBBE selalu dihadiri oleh para relawan yang dengan bangga menyebut dirinya “Earth Hour Champion”. Dengan demikian, semakin mudah bagi relawan EHBDG untuk melakukan pendekatan ke beberapa pemangku kepentingan termasuk Dinas Lingkungan (DLH Kota Bandung). JKBBE dan DLH Kota Bandung kemudian merancang kegiatan
“Bandung Semalam” (Serentak Matikan Lampu). Dengan kolaborasi ini akhirnya Walikota Bandung mengeluarkan dukungan melalui surat seruan dengan nomor surat edaran 660/SE.097-BPLH yang intinya tersebut “mengajak berbagai partisipan untuk bersama-sama peduli pada upaya penurunan emisi CO2, agar terciptanya kota Bandung Juara yang hemat dan Bijak Energi”
Untuk pertama kalinya gerakan Semalam diselenggarakan pada 27 Oktober 2017. Acara yang berpusat di halaman Balaikota Bandung tersebut dihadiri oleh Walikota Bandung dan pimpinan WWF Indonesia. Pada gerakan ini, mereka mematikan lampu di halaman dan gedung sekitar Balaikota Bandung untuk selanjutnya menyalakan lilin sebagai simbol penghematan energi, khususnya bahan bakar fosil yang menjadi sumber utama penyediaan listrik di Indonesia. Gerakan ini kemudian dilakukan secara rutin selama satu jam, yakni dimulai pukul 21.00 hingga 22.00 WIB setiap Selasa dan Jum’at untuk perumahan dan kantor pemerintah. Sementara itu, untuk gedung komersial dilakukan setiap Jum’at minggu ketiga setiap bulannya.
Untuk terus menyebarkan kampanye tentang penghematan energi di Kota Bandung, JKBBE berkolaborasi dengan DLH Kota Bandung menggagas kembali program Edukasi Hemat Energi (SIMARGI). Tujuan dari program ini untuk memberikan edukasi penggunaan energi secara bijak yang diawali dengan mengetahui sumber energi, jumlah ketersediaan energi, energi alternatif, dan penerapan energi dalam kehidupan sehari-hari.
Sasaran dari program ini adalah pelajar dari tingkat TK hingga SMA agar mereka memahami proses maupun konsepnya untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Capaian JKBBE tak lepas dari dinamika yang terkait keterbatasan sumber daya manusia, pendanaan dalam setiap kegiatan, dan juga penolakan dari berbagai pihak. Tetapi hal tersebut tidak membuat mereka berdiam, mereka selalu membuat gerakan partisipatif untuk berkontribusi dalam penanggulangan masalah perubahan iklim yang terjadi.
EHBDG sebagai gerakan partisipatif murni yang terus bergulir membentuk struktur kecil yang berisi orang dengan komitmen tinggi untuk melakukan perubahan lingkungan yang lebih baik di Bandung. Metode pembelajaran atau restrukturisasi dalam gerakan ini adalah
dengan memberikan pelatihan atau kepercayaan kepada relawan yang baru. Selain itu, dilakukan proses bimbingan secara bertahap agar relawan yang baru tidak merasa segan kepada pengurus koordinator. Proses regenerasi sangat penting dalam sebuah organisasi untuk menciptakan pembaharuan ide dan juga kreativitas di setiap kegiatan JKBBE atau EHBDG. Selain itu rasa kekeluargaan di EHBDG sangat kuat sehingga tetap ada rasa ingin pulang dan berbagi cerita ke keluarga JKBBE/EHBDG meskipun relawan sudah berkegiatan di luar JKBBE/EHBDG.
Yang menarik dari JKBBE/EHBDG dalam mengumpulkan data terkait isu lingkungan adalah mereka membentuk kelompok kecil dan berkolaborasi dengan komunitas yang berada di Bandung. Salah satu koordinator dari EHBDG menceritakan tentang proses mereka mentabulasi data yang selanjutnya didiskusikan demi melengkapi materi seputar isu energi yang memang menjadi fokus utama kampanye dari JKBBE/EHBDG. Akhirnya tercetuslah 9#IniAksiku, yaitu; (1) Bersepeda, (2) Naik Kendaraan Umum, (3) Membuang dan Memilah Sampah, (4) Membawa tempat Minum, (5) Diet Kantong Plastik, (6)
Menanam dan Merawat Pohon, (7) Memakai Lampu Hemat Energi, (8) Hemat Listrik, (9) Menggunakan Produk Lokal.
Dalam proses berjejaring mereka mengawali dengan pendekatan dengan Dinas Lingkungan Hidup karena berkaitan dengan fokus EHBDG di tingkat kota maupun provinsi. JKBBE/EHBDG memanfaatkan kesempatan ini dikarenakan Bandung adalah Ibu Kota Provinsi Jawa Barat. Pendekatan itu mereka lakukan demi menyebarkan kampanye hemat energi di Provinsi Jawa Barat. Singkat cerita, sejak 2018–2019 JKBBE/EHBDG sudah berjejaring dengan banyak pihak dari pemerintahan, institusi, bisnis, komunitas dan individu dengan beragam bentuk kolaborasi dalam bentuk dukungan fasilitas demi mengkampanyekan isu lingkungan yang ada dan terjadi di Kota Bandung.
Bentuk komitmen dari teman-teman JKBBE/EHBDG terlihat dari setiap kegiatan yang dilakukan atau diikuti JKBBE/EHBDG yang tidak selalu membutuhkan biaya. Terkadang mereka hanya cukup menggunakan beberapa alat atau bahan yang sudah ada dan bisa dipergunakan kembali untuk melakukan aksi atau kegiatan. Untuk kegiatan besar seperti seremonial Earth Hour yang dilakukan dari tahun ke tahun, mereka mencoba mencari sponsor dan kerjasama yang tidak selalu berbentuk uang tunai, tetapi biasanya mereka
Kegiatan SEMALAM dilaksanakan di Alun-alun Masjid Raya Bandung pada tahun 2017 | Oleh Earth Hour Bandung
menjalin kerjasama dalam bentuk pembuatan barang merchandise yang sekiranya bisa mereka pergunakan untuk kegiatan sosialisasi dan kegiatan lainnya.
Selain itu juga, pada tahun 2014 JKBBE/EHBDG memiliki divisi pemasaran, yang dibentuk untuk menciptakan ide dan kreativitas untuk media promo EHBDG agar masyarakat juga dapat mendukung kegiatan dengan membeli merchandise yang memang dibuat oleh masyarakat untuk masyarakat. Bentuknya pun beragam, misalnya, produk yang pertama kali dikeluarkan adalah topi #IniAksiku dengan harapan untuk memperkenalkan gerakan Earth Hour agar semakin kece dan melindungi dari panas. Produk lain yang memang EHBDG perjualbelikan adalah barang-barang alternatif yang dapat digunakan kembali, seperti totebag, sedotan besi, sedotan bambu.
Proses pemasaran atau penjualan merchandise yang dibuat adalah melalui media sosial, bazar, e-commerce, paket relawan agar teman-teman yang baru bergabung membeli paket murah senilai Rp100.000,00.
JKBBE sudah menjadi seperti keluarga besar bagi penggiat energi bijak di Bandung.
Perubahan mereka terjadi pada kehidupan sehari-hari, baik pada kehidupan kerja maupun kehidupan pribadi. Selain itu sejumlah program dimana mereka terlibat memberikan dampak positif dalam perubahan gaya hidup lebih ramah lingkungan. Dan juga ada beberapa program dari EHBDG yang bisa diadopsi di berbagai kota lain untuk direplikasi.
Itulah salah satu kontribusi komunitas peduli hemat energi bagi sebuah pencapaian yang lebih besar.
102
COnnecting LOcal iNItiatives (COLONI)
Di tahun 2009, Indonesia pertama kali berpartisipasi pada Earth Hour. Saat itu, WWF Indonesia bersama pemerintah Provinsi DKI Jakarta mematikan lampu di lima ikon DKI Jakarta, yaitu: Monumen Nasional (Monas), Patung Arjuna Wiwaha, Tugu Selamat Datang (Bundaran HI), Patung Pemuda, dan Gedung Balaikota Provinsi DKI Jakarta. Pada tahun 2010, dilakukan rangkaian kampanye Earth Hour oleh beberapa komunitas yang ada di Bandung dan Yogyakarta.
Lebih lanjut lagi, di tahun 2011 kampanye Earth Hour disiapkan dengan lebih besar.
Untuk itu sejumlah kota dikunjungi oleh WWF-Indonesia dalam proses inisiasi
sebuah kegiatan berbasis komunitas yang tersebar di 6 kota Jawa hingga Bali (Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, dan Bali). Sebagai hasilnya tahun 2011 tercatat sebagai peringatan dengan aksi relawan terbanyak sejak langkah pertamanya di tahun 2007. Di seluruh dunia ada sekitar 5.251 kota di 135 negara terlibat, dengan jangkauan sekitar 1,8 milyar orang di dunia, dengan tingkat percakapan di dunia maya yang mencapai hingga 91 juta.
Berdasarkan tingkat pertumbuhan partisipasi tersebut, pada tahun 2012 diadakanlah kegiatan Kumpul Belajar Bareng (KUMBANG) Earth Hour. Kegiatan yang diadakan di Bogor itu digagas sebagai media konsolidasi bagi seluruh penggerak utama Earth Hour.
Perwakilan dari 22 kota di Indonesia hadir (dari 26 kota partisipasi) pada Earth Hour 2012.
EARTH HOUR BANDUNG (EHBDG)
Diantara komunitas yang ada tersebut, Kota Bandung adalah salah satu tempat dimana anak-anak muda menggerakkan Earth Hour. Gerakan EHBDG mulai muncul dan terorganisir dengan baik pada tahun 2011 melalui Jaringan Komunikasi Bandung Bijak Energi (JKBBE). Komunitas ini berisi perwakilan dari berbagai lembaga, sekaligus wadah gerakan yang mempunyai tiga fokus utama, yakni efisiensi energi, konservasi energi, dan energi terbarukan. Akhirnya JKBBE sepakat menjadikan Earth Hour sebagai program utama mereka.
Salah satu pendiri Jaringan Komunikasi Bandung Bijak Energi (JKBBE), Christian Natalie, sebagai koordinator utama, menceritakan awal pembentukan JKBBE. Pada saat itu, terdapat pertemuan Forum Hijau Bandung untuk mendiskusikan gerakan Earth Hour.
Waktu itu pertemuan dihadiri oleh sekitar 25 orang yang mewakili 18 organisasi. Mereka bersepakat membangun forum dengan model Jaringan Komunikasi11 . Nama Bandung Bijak Energi muncul karena belum banyak komunitas yang peduli tentang isu ini sehingga tujuan dan visi dari komunitas ini adalah Bandung yang bijak energi yang dimulai oleh warganya. Semua perwakilan organisasi melebur jadi koordinator di seksi-seksi kepanitiaannya. Untuk tahun-tahun berikutnya, sistem kegiatan ini berjalan secara organik karena mandat utama JKBBE adalah memastikan gerakan EHBDG terlaksana setiap tahun di Bandung sebagai momen membuat Bandung semakin bijak energi.
Seiring berjalannya waktu, EHBDG mulai dikenal masyarakat luas sehingga setiap kegiatan JKBBE selalu dihadiri oleh para relawan yang dengan bangga menyebut dirinya “Earth Hour Champion”. Dengan demikian, semakin mudah bagi relawan EHBDG untuk melakukan pendekatan ke beberapa pemangku kepentingan termasuk Dinas Lingkungan (DLH Kota Bandung). JKBBE dan DLH Kota Bandung kemudian merancang kegiatan
“Bandung Semalam” (Serentak Matikan Lampu). Dengan kolaborasi ini akhirnya Walikota Bandung mengeluarkan dukungan melalui surat seruan dengan nomor surat edaran 660/SE.097-BPLH yang intinya tersebut “mengajak berbagai partisipan untuk bersama-sama peduli pada upaya penurunan emisi CO2, agar terciptanya kota Bandung Juara yang hemat dan Bijak Energi”
Untuk pertama kalinya gerakan Semalam diselenggarakan pada 27 Oktober 2017. Acara yang berpusat di halaman Balaikota Bandung tersebut dihadiri oleh Walikota Bandung dan pimpinan WWF Indonesia. Pada gerakan ini, mereka mematikan lampu di halaman dan gedung sekitar Balaikota Bandung untuk selanjutnya menyalakan lilin sebagai simbol penghematan energi, khususnya bahan bakar fosil yang menjadi sumber utama penyediaan listrik di Indonesia. Gerakan ini kemudian dilakukan secara rutin selama satu jam, yakni dimulai pukul 21.00 hingga 22.00 WIB setiap Selasa dan Jum’at untuk perumahan dan kantor pemerintah. Sementara itu, untuk gedung komersial dilakukan setiap Jum’at minggu ketiga setiap bulannya.
Untuk terus menyebarkan kampanye tentang penghematan energi di Kota Bandung, JKBBE berkolaborasi dengan DLH Kota Bandung menggagas kembali program Edukasi Hemat Energi (SIMARGI). Tujuan dari program ini untuk memberikan edukasi penggunaan energi secara bijak yang diawali dengan mengetahui sumber energi, jumlah ketersediaan energi, energi alternatif, dan penerapan energi dalam kehidupan sehari-hari.
Sasaran dari program ini adalah pelajar dari tingkat TK hingga SMA agar mereka memahami proses maupun konsepnya untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Capaian JKBBE tak lepas dari dinamika yang terkait keterbatasan sumber daya manusia, pendanaan dalam setiap kegiatan, dan juga penolakan dari berbagai pihak. Tetapi hal tersebut tidak membuat mereka berdiam, mereka selalu membuat gerakan partisipatif untuk berkontribusi dalam penanggulangan masalah perubahan iklim yang terjadi.
EHBDG sebagai gerakan partisipatif murni yang terus bergulir membentuk struktur kecil yang berisi orang dengan komitmen tinggi untuk melakukan perubahan lingkungan yang lebih baik di Bandung. Metode pembelajaran atau restrukturisasi dalam gerakan ini adalah
11 Jaringan Komunikasi atau Jarkom: metode yang sedang tren di masa itu untuk berkirim pesan kolektif melalui layanan pesan singkat
dengan memberikan pelatihan atau kepercayaan kepada relawan yang baru. Selain itu, dilakukan proses bimbingan secara bertahap agar relawan yang baru tidak merasa segan kepada pengurus koordinator. Proses regenerasi sangat penting dalam sebuah organisasi untuk menciptakan pembaharuan ide dan juga kreativitas di setiap kegiatan JKBBE atau EHBDG. Selain itu rasa kekeluargaan di EHBDG sangat kuat sehingga tetap ada rasa ingin pulang dan berbagi cerita ke keluarga JKBBE/EHBDG meskipun relawan sudah berkegiatan di luar JKBBE/EHBDG.
Yang menarik dari JKBBE/EHBDG dalam mengumpulkan data terkait isu lingkungan adalah mereka membentuk kelompok kecil dan berkolaborasi dengan komunitas yang berada di Bandung. Salah satu koordinator dari EHBDG menceritakan tentang proses mereka mentabulasi data yang selanjutnya didiskusikan demi melengkapi materi seputar isu energi yang memang menjadi fokus utama kampanye dari JKBBE/EHBDG. Akhirnya tercetuslah 9#IniAksiku, yaitu; (1) Bersepeda, (2) Naik Kendaraan Umum, (3) Membuang dan Memilah Sampah, (4) Membawa tempat Minum, (5) Diet Kantong Plastik, (6)
Menanam dan Merawat Pohon, (7) Memakai Lampu Hemat Energi, (8) Hemat Listrik, (9) Menggunakan Produk Lokal.
Dalam proses berjejaring mereka mengawali dengan pendekatan dengan Dinas Lingkungan Hidup karena berkaitan dengan fokus EHBDG di tingkat kota maupun provinsi. JKBBE/EHBDG memanfaatkan kesempatan ini dikarenakan Bandung adalah Ibu Kota Provinsi Jawa Barat. Pendekatan itu mereka lakukan demi menyebarkan kampanye hemat energi di Provinsi Jawa Barat. Singkat cerita, sejak 2018–2019 JKBBE/EHBDG sudah berjejaring dengan banyak pihak dari pemerintahan, institusi, bisnis, komunitas dan individu dengan beragam bentuk kolaborasi dalam bentuk dukungan fasilitas demi mengkampanyekan isu lingkungan yang ada dan terjadi di Kota Bandung.
Bentuk komitmen dari teman-teman JKBBE/EHBDG terlihat dari setiap kegiatan yang dilakukan atau diikuti JKBBE/EHBDG yang tidak selalu membutuhkan biaya. Terkadang mereka hanya cukup menggunakan beberapa alat atau bahan yang sudah ada dan bisa dipergunakan kembali untuk melakukan aksi atau kegiatan. Untuk kegiatan besar seperti seremonial Earth Hour yang dilakukan dari tahun ke tahun, mereka mencoba mencari sponsor dan kerjasama yang tidak selalu berbentuk uang tunai, tetapi biasanya mereka
menjalin kerjasama dalam bentuk pembuatan barang merchandise yang sekiranya bisa mereka pergunakan untuk kegiatan sosialisasi dan kegiatan lainnya.
Selain itu juga, pada tahun 2014 JKBBE/EHBDG memiliki divisi pemasaran, yang dibentuk untuk menciptakan ide dan kreativitas untuk media promo EHBDG agar masyarakat juga dapat mendukung kegiatan dengan membeli merchandise yang memang dibuat oleh masyarakat untuk masyarakat. Bentuknya pun beragam, misalnya, produk yang pertama kali dikeluarkan adalah topi #IniAksiku dengan harapan untuk memperkenalkan gerakan Earth Hour agar semakin kece dan melindungi dari panas. Produk lain yang memang EHBDG perjualbelikan adalah barang-barang alternatif yang dapat digunakan kembali, seperti totebag, sedotan besi, sedotan bambu.
Proses pemasaran atau penjualan merchandise yang dibuat adalah melalui media sosial, bazar, e-commerce, paket relawan agar teman-teman yang baru bergabung membeli paket murah senilai Rp100.000,00.
JKBBE sudah menjadi seperti keluarga besar bagi penggiat energi bijak di Bandung.
Perubahan mereka terjadi pada kehidupan sehari-hari, baik pada kehidupan kerja maupun kehidupan pribadi. Selain itu sejumlah program dimana mereka terlibat memberikan dampak positif dalam perubahan gaya hidup lebih ramah lingkungan. Dan juga ada beberapa program dari EHBDG yang bisa diadopsi di berbagai kota lain untuk direplikasi.
Itulah salah satu kontribusi komunitas peduli hemat energi bagi sebuah pencapaian yang lebih besar.
103
KEPINGAN CERITA NEGERI
Di tahun 2009, Indonesia pertama kali berpartisipasi pada Earth Hour. Saat itu, WWF Indonesia bersama pemerintah Provinsi DKI Jakarta mematikan lampu di lima ikon DKI Jakarta, yaitu: Monumen Nasional (Monas), Patung Arjuna Wiwaha, Tugu Selamat Datang (Bundaran HI), Patung Pemuda, dan Gedung Balaikota Provinsi DKI Jakarta. Pada tahun 2010, dilakukan rangkaian kampanye Earth Hour oleh beberapa komunitas yang ada di Bandung dan Yogyakarta.
Lebih lanjut lagi, di tahun 2011 kampanye Earth Hour disiapkan dengan lebih besar.
Untuk itu sejumlah kota dikunjungi oleh WWF-Indonesia dalam proses inisiasi
sebuah kegiatan berbasis komunitas yang tersebar di 6 kota Jawa hingga Bali (Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, dan Bali). Sebagai hasilnya tahun 2011 tercatat sebagai peringatan dengan aksi relawan terbanyak sejak langkah pertamanya di tahun 2007. Di seluruh dunia ada sekitar 5.251 kota di 135 negara terlibat, dengan jangkauan sekitar 1,8 milyar orang di dunia, dengan tingkat percakapan di dunia maya yang mencapai hingga 91 juta.
Berdasarkan tingkat pertumbuhan partisipasi tersebut, pada tahun 2012 diadakanlah kegiatan Kumpul Belajar Bareng (KUMBANG) Earth Hour. Kegiatan yang diadakan di Bogor itu digagas sebagai media konsolidasi bagi seluruh penggerak utama Earth Hour.
Perwakilan dari 22 kota di Indonesia hadir (dari 26 kota partisipasi) pada Earth Hour 2012.
EARTH HOUR BANDUNG (EHBDG)
Diantara komunitas yang ada tersebut, Kota Bandung adalah salah satu tempat dimana anak-anak muda menggerakkan Earth Hour. Gerakan EHBDG mulai muncul dan terorganisir dengan baik pada tahun 2011 melalui Jaringan Komunikasi Bandung Bijak Energi (JKBBE). Komunitas ini berisi perwakilan dari berbagai lembaga, sekaligus wadah gerakan yang mempunyai tiga fokus utama, yakni efisiensi energi, konservasi energi, dan energi terbarukan. Akhirnya JKBBE sepakat menjadikan Earth Hour sebagai program utama mereka.
Salah satu pendiri Jaringan Komunikasi Bandung Bijak Energi (JKBBE), Christian Natalie, sebagai koordinator utama, menceritakan awal pembentukan JKBBE. Pada saat itu, terdapat pertemuan Forum Hijau Bandung untuk mendiskusikan gerakan Earth Hour.
Waktu itu pertemuan dihadiri oleh sekitar 25 orang yang mewakili 18 organisasi. Mereka bersepakat membangun forum dengan model Jaringan Komunikasi11 . Nama Bandung Bijak Energi muncul karena belum banyak komunitas yang peduli tentang isu ini sehingga tujuan dan visi dari komunitas ini adalah Bandung yang bijak energi yang dimulai oleh warganya. Semua perwakilan organisasi melebur jadi koordinator di seksi-seksi kepanitiaannya. Untuk tahun-tahun berikutnya, sistem kegiatan ini berjalan secara organik karena mandat utama JKBBE adalah memastikan gerakan EHBDG terlaksana setiap tahun di Bandung sebagai momen membuat Bandung semakin bijak energi.
Seiring berjalannya waktu, EHBDG mulai dikenal masyarakat luas sehingga setiap kegiatan JKBBE selalu dihadiri oleh para relawan yang dengan bangga menyebut dirinya “Earth Hour Champion”. Dengan demikian, semakin mudah bagi relawan EHBDG untuk melakukan pendekatan ke beberapa pemangku kepentingan termasuk Dinas Lingkungan (DLH Kota Bandung). JKBBE dan DLH Kota Bandung kemudian merancang kegiatan
“Bandung Semalam” (Serentak Matikan Lampu). Dengan kolaborasi ini akhirnya Walikota Bandung mengeluarkan dukungan melalui surat seruan dengan nomor surat edaran 660/SE.097-BPLH yang intinya tersebut “mengajak berbagai partisipan untuk bersama-sama peduli pada upaya penurunan emisi CO2, agar terciptanya kota Bandung Juara yang hemat dan Bijak Energi”
Untuk pertama kalinya gerakan Semalam diselenggarakan pada 27 Oktober 2017. Acara yang berpusat di halaman Balaikota Bandung tersebut dihadiri oleh Walikota Bandung dan pimpinan WWF Indonesia. Pada gerakan ini, mereka mematikan lampu di halaman dan gedung sekitar Balaikota Bandung untuk selanjutnya menyalakan lilin sebagai simbol penghematan energi, khususnya bahan bakar fosil yang menjadi sumber utama penyediaan listrik di Indonesia. Gerakan ini kemudian dilakukan secara rutin selama satu jam, yakni dimulai pukul 21.00 hingga 22.00 WIB setiap Selasa dan Jum’at untuk perumahan dan kantor pemerintah. Sementara itu, untuk gedung komersial dilakukan setiap Jum’at minggu ketiga setiap bulannya.
Untuk terus menyebarkan kampanye tentang penghematan energi di Kota Bandung, JKBBE berkolaborasi dengan DLH Kota Bandung menggagas kembali program Edukasi Hemat Energi (SIMARGI). Tujuan dari program ini untuk memberikan edukasi penggunaan energi secara bijak yang diawali dengan mengetahui sumber energi, jumlah ketersediaan energi, energi alternatif, dan penerapan energi dalam kehidupan sehari-hari.
Sasaran dari program ini adalah pelajar dari tingkat TK hingga SMA agar mereka memahami proses maupun konsepnya untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Capaian JKBBE tak lepas dari dinamika yang terkait keterbatasan sumber daya manusia, pendanaan dalam setiap kegiatan, dan juga penolakan dari berbagai pihak. Tetapi hal tersebut tidak membuat mereka berdiam, mereka selalu membuat gerakan partisipatif untuk berkontribusi dalam penanggulangan masalah perubahan iklim yang terjadi.
EHBDG sebagai gerakan partisipatif murni yang terus bergulir membentuk struktur kecil yang berisi orang dengan komitmen tinggi untuk melakukan perubahan lingkungan yang lebih baik di Bandung. Metode pembelajaran atau restrukturisasi dalam gerakan ini adalah
dengan memberikan pelatihan atau kepercayaan kepada relawan yang baru. Selain itu, dilakukan proses bimbingan secara bertahap agar relawan yang baru tidak merasa segan kepada pengurus koordinator. Proses regenerasi sangat penting dalam sebuah organisasi untuk menciptakan pembaharuan ide dan juga kreativitas di setiap kegiatan JKBBE atau EHBDG. Selain itu rasa kekeluargaan di EHBDG sangat kuat sehingga tetap ada rasa ingin pulang dan berbagi cerita ke keluarga JKBBE/EHBDG meskipun relawan sudah berkegiatan di luar JKBBE/EHBDG.
Yang menarik dari JKBBE/EHBDG dalam mengumpulkan data terkait isu lingkungan adalah mereka membentuk kelompok kecil dan berkolaborasi dengan komunitas yang berada di Bandung. Salah satu koordinator dari EHBDG menceritakan tentang proses mereka mentabulasi data yang selanjutnya didiskusikan demi melengkapi materi seputar isu energi yang memang menjadi fokus utama kampanye dari JKBBE/EHBDG. Akhirnya tercetuslah 9#IniAksiku, yaitu; (1) Bersepeda, (2) Naik Kendaraan Umum, (3) Membuang dan Memilah Sampah, (4) Membawa tempat Minum, (5) Diet Kantong Plastik, (6)
Menanam dan Merawat Pohon, (7) Memakai Lampu Hemat Energi, (8) Hemat Listrik, (9) Menggunakan Produk Lokal.
Dalam proses berjejaring mereka mengawali dengan pendekatan dengan Dinas Lingkungan Hidup karena berkaitan dengan fokus EHBDG di tingkat kota maupun provinsi. JKBBE/EHBDG memanfaatkan kesempatan ini dikarenakan Bandung adalah Ibu Kota Provinsi Jawa Barat. Pendekatan itu mereka lakukan demi menyebarkan kampanye hemat energi di Provinsi Jawa Barat. Singkat cerita, sejak 2018–2019 JKBBE/EHBDG sudah berjejaring dengan banyak pihak dari pemerintahan, institusi, bisnis, komunitas dan individu dengan beragam bentuk kolaborasi dalam bentuk dukungan fasilitas demi mengkampanyekan isu lingkungan yang ada dan terjadi di Kota Bandung.
Bentuk komitmen dari teman-teman JKBBE/EHBDG terlihat dari setiap kegiatan yang dilakukan atau diikuti JKBBE/EHBDG yang tidak selalu membutuhkan biaya. Terkadang mereka hanya cukup menggunakan beberapa alat atau bahan yang sudah ada dan bisa dipergunakan kembali untuk melakukan aksi atau kegiatan. Untuk kegiatan besar seperti seremonial Earth Hour yang dilakukan dari tahun ke tahun, mereka mencoba mencari sponsor dan kerjasama yang tidak selalu berbentuk uang tunai, tetapi biasanya mereka
menjalin kerjasama dalam bentuk pembuatan barang merchandise yang sekiranya bisa mereka pergunakan untuk kegiatan sosialisasi dan kegiatan lainnya.
Selain itu juga, pada tahun 2014 JKBBE/EHBDG memiliki divisi pemasaran, yang dibentuk untuk menciptakan ide dan kreativitas untuk media promo EHBDG agar masyarakat juga dapat mendukung kegiatan dengan membeli merchandise yang memang dibuat oleh masyarakat untuk masyarakat. Bentuknya pun beragam, misalnya, produk yang pertama kali dikeluarkan adalah topi #IniAksiku dengan harapan untuk memperkenalkan gerakan Earth Hour agar semakin kece dan melindungi dari panas. Produk lain yang memang EHBDG perjualbelikan adalah barang-barang alternatif yang dapat digunakan kembali, seperti totebag, sedotan besi, sedotan bambu.
Proses pemasaran atau penjualan merchandise yang dibuat adalah melalui media sosial, bazar, e-commerce, paket relawan agar teman-teman yang baru bergabung membeli paket murah senilai Rp100.000,00.
JKBBE sudah menjadi seperti keluarga besar bagi penggiat energi bijak di Bandung.
Perubahan mereka terjadi pada kehidupan sehari-hari, baik pada kehidupan kerja maupun kehidupan pribadi. Selain itu sejumlah program dimana mereka terlibat memberikan dampak positif dalam perubahan gaya hidup lebih ramah lingkungan. Dan juga ada beberapa program dari EHBDG yang bisa diadopsi di berbagai kota lain untuk direplikasi.
Itulah salah satu kontribusi komunitas peduli hemat energi bagi sebuah pencapaian yang lebih besar.