Upaya pemahaman kesadaran dilakukan civitas akademik UMAHA salah satunya dengan mengikutsertakan dosen, guru, mahasiswa, pelajar SMP/SMA untuk bergabung membersihkan kotoran dan sampah yang ada di sungai pelayaran. Mereka menyisir sepanjang aliran sungai di daerah terdampak.
Tak hanya itu, minimnya kesadaran dan ketidaktahuan masyarakat dalam penanganan permasalahan sampah, mengakibatkan banjir di satu sisi bagian utara sungai jika memasuki musim hujan. Sehingga, dibutuhkan penanganan yang lebih intens.
Diperlukan wadah untuk membentuk komunitas berbasis masyarakat. Tujuannya untuk mencetuskan ide-ide serta gagasan tentang lingkungan. Dengan harapan dapat memberikan dampak positif, mampu merubah wilayah terdampak menjadi bersih dan asri.
Pembentukan komunitas berbasis masyarakat bila dilakukan akan berpotensi menjadi penggerak masyarakat lainnya. Hal itu diperlukan untuk keberlanjutan penanganan persoalan-persoalan yang ditimbulkan oleh banyaknya sampah di sungai pelayaran.
Dengan terbentuknya sebuah komunitas berbasis masyarakat, mulai teridentifikasi faktor yang melatarbelakangi masyarakat sulit mengubah kebiasaan membuang sampah di
sungai. Identifikasi yang dilakukan tim LPPM UMAHA, menghasilkan jawaban dan sebuah solusi untuk memimalisir kebiasaan-kebiasaan yang kurang mencerminkan budaya hidup sehat. Serta solusi untuk kebersihan lingkungan yang akan diterapkan pada agenda lanjutan.
Selain aksi GNK, terdapat pula kegiatan pembagian bak sampah, pembersihan lingkungan dengan kerja bakti kampung yang meliputi jalan RT/RW, fasilitas umum warga seperti makam, sungai dan mushollah, serta pembentukan pengelolaan sampah.
Civitas akademik UMAHA terus melakukan pendekatan-pendekatan secara intens, seperti menerjunkan peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang membawakan tema berkaitan dengan capaian target Sustainable Development Goals (SDGs). Tahun 2017, civitas akademik UMAHA menerjunkan peserta KKN di wilayah yang terdampak. Penyesuaian tema yang berbasis SDGs merupakan agenda tahunan dalam program KKN hingga tahun 2019.
Strategi yang dilakukan dalam kampanyekan sadar lingkungan bersih adalah dengan tidak membuang sampah di sungai. Diselipkan pula pelatihan pemilahan sampah yang bernilai ekonomis, digagas oleh para peserta KKN.
Melalui kerjasama antara civitas akademik UMAHA dengan sejumlah masyarakat terdampak, mereka bersama-sama membersihkan sampah yang ada di sungai. Hal itu dilakukan guna meninimalisir banyaknya tumpukkan sampah. Sekaligus memberi pesan moral bagi masyarakat di wilayah terdampak.
Dengan adanya GNK, peserta KKN UMAHA didampingi dosen mengkolaborasikan kegiatan tersebut dengan elemen masyarakat. Baik Pemerintah Desa maupun Karang Taruna setempat. Diharapkan GNK dapat memobilisasi masyarakat terdampak, mengajak masyarakat menjaga lingkungan dan menyuarakan atau mengkampanyekan kepedulian terhadap lingkungan.
Peningkatan pemahaman masyarakat di semua desa terdampak dibentuk melalui kunjungan sekolah, lembar dakwah, distribusi factsheet, media massa (cetak dan elektronik), serta kegiatan kampanye konservasi lain yang menyenangkan dan tidak konfrontatif. Sehingga diharapkan pada akhir program terjadi peningkatan pemahaman dan kepedulian, serta mampu menggerakkan aksi konstruktif masyarakat terhadap kebersihan sungai.
Karena manfaat dan perubahan yang diterima desa terdampak, Pemerintah Desa setempat mulai membuat aturan terkait pembuangan sampah. Mulai terorganisir dengan mempekerjakan orang untuk mengambil sampah yang diletakkan di depan rumah warga.
Kemudian, petugas mengambil sampah tersebut dan mengangkutnya ke Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST). Di TPST, sampah akan dipilah, dipisahkan antara yang memiliki nilai ekonomis dan tidak.
Perubahan yang signifikan terlihat dari kebiasaan masyarakat. Sebelumnya, mereka membuang sampah di sungai. Tetapi sekarang tidak lagi, mereka hanya perlu meletakkan sampah di depan rumah masih-masing dalam keadaan sudah di kantongi dan siap diangkut oleh petugas pengangkut sampah.
Hal tersebut diperkuat dengan adanya peraturan desa terkait pembuangan sampah, papan himbauan atau larangan membuang sampah di sungai yang terpapang di pinggir, adanya pemasangan jaring sebagai upaya penyaringan sampah yang melintasi sungai dengan tujuan agar mudah dalam proses mengambilannya, serta pengecatan warna-warni tembok/plesengan bantaran sungai.
Kegiatan yang diterima masyarakat mulai memberikan sinyal positif bagi keberlanjutan aksi GNK. Hal itu dapat dilihat dengan adanya perubahan yang signifikan dalam memberikan semangat gotong royong untuk mengubah wajah Sungai Pelayaran menjadi lebih bersih. Wajah baru dan perubahan perilaku masyarakat juga melahirkan semangat baru bagi kalangan civitas akademik UMAHA.
Tak berhenti di sini, upaya melalui GNK untuk perubahan pembenahan sumber daya manusia masih akan berlanjut. Agenda perubahan yang terus dilakukan adalah memperkuat strategi advokasi dalam mengkampanyekan kepeduli terhadap lingkungan.
Terobosan lain dapat dilihat dari sisi pengembangan kewirausahaan sebagai alternatif penghasilan bagi kelompok masyarakat di setiap desa sepanjang bantaran sungai pelayaran. Yaitu dengan pola pengembangan usaha perikanan dan pengembangan teknologi tepat guna diharapkan mampu mendorong perubahan perekonomian masyarakat.
Di tahun 2019, civitas akademik UMAHA kembali menerjunkan peserta program KKN ke wilayah terdampak berikutnya. Tetap konsisten membawakan tema yang berkaitan langsung dengan target dan capaian SDGs. Sebelum penerjunan peserta KKN, mahasiswa penerima bidik misi sudah dilakukan riset dan pemetaan terlebih dahulu. Hal itu dilakukan untuk melakukan pendekatan lebih intens dengan menggali potensi yang dimiliki oleh desa. Waktu yang diperlukan kurang lebih selama tiga bulan, dengan lokasi di wilayah yang akan dijadikan tempat sasaran peserta KKN.
Hal itu dilakukan untuk lebih memudahkan mahasiswa peserta KKN mendekatkan diri kepada masyarakat. Sekaligus memudahkan penerapan program di bawahnya untuk menyesuaikan kebutuhkan masyarakat. Kampanye program-program tersebut diharapakan dapat mencapai target setiap tahun. Yaitu terus melakukan perubahan yang lebih signifikan dalam capaian SDGs.
Semoga keberadaan GNK memotivasi daerah lain yang mengalami persoalan sampah di sungai untuk melakukan aksi yang nyata. Dengan kata lain, mari mencintai lingkungan dengan menerapkan pola hidup sehat dan bebas polusi.
Masuk air sekalian untuk jadi bersih| Oleh GNK
113
KEPINGAN CERITA NEGERI
Sungai adalah jalur air yang melintasi daerah-daerah, menjadi penghubung wilayah satu dengan lainnya, baik perkotaan maupun di pedesaan. Air sungai mengalir dari dataran tinggi menuju ke dataran yang lebih rendah, diakhiri dengan bermuara atau bertemunya air sungai dengan air laut. Tentu bukan hanya air saja yang bertemu, melainkan juga benda-benda yang hanyut bersama derasnya air sungai.
Karena kelimpahannya, air sungai sering dimanfaatkan masyarakat untuk memenuhi beberapa kebutuhan. Baik kebutuhan hidup untuk manusia, hewan atau tumbuhan. Sungai memiliki peran penting dalam menyokong kehidupan masyarakat, apalagi untuk sebuah desa yang wilayahnya dilewati jalur sungai. Selain itu sungai juga dimanfaatkan untuk mengairi persawahan. Hal ini menguntungkan masyarakat yang berprofesi petani, karena dapat menyuburkan tanaman dengan harapan membuahkan hasil panen yang memuaskan.
Akibatnya, saat ini sungai menjadi kotor. Jalur utama lintasan air penuh dengan tumpukan sampah yang hanyut dibawa aliran air. Berbagai jenis sampah seperti sampah rumah
tangga dan industri kecil menjadi pemandangan yang tak elok dilihat. Hal itu mengakibatkan kandungan air sungai menjadi tidak sehat lagi. Banyaknya sampah yang ada di sungai tak lain karena perilaku manusia itu sendiri. Masyarakat memiliki kewajiban untuk menjaga sungai dari segala jenis pencemaran. Termasuk menjaga sungai agar tak terkontaminasi limbah berbahaya. Tetapi kesadaran masyarakat masih sangat minim.
MASALAH SUNGAI DI SIDOARJO
Kota Sidoarjo disebut sebagai kota delta, sebab diapit oleh dua sungai besar yaitu Sungai Mas dan Sungai Porong. Dua sungai ini memiliki intensitas air yang cukup banyak, sehingga dapat dimanfaatkan untuk menjamin kemakmuran masyarakatnya. Bertepatan di bagian utara Sidoarjo wilayah Barat, terdapat Sungai Pelayaran. Sungai Pelayaran yang dekat dengan Sungai Mas bermanfaat untuk masyarakat setempat, tetapi juga menjadi sumber masalah tersendiri.
Permasalahan muncul ketika semakin banyak masyarakat yang membuang sampah di sungai tersebut. Hal itu menyebabkan lajur aliran air sungai pelayaran yang ada di wilayah Kabupaten Sidoarjo terhambat. Sehingga, 3 kecamatan dan 10 desa yang dilewati aliran sungai terkena dampak.
Fenomena tersebut mengundang perhatian civitas akademik Universitas Ma’arif Hasyim Latief Sidoarjo (UMAHA), sebagai pihak yang senantiasa mengamalkan Tri Dharma Perguruan Tinggi, salah satunya yaitu pengabdian. Civitas akademik UMAHA berusaha melakukan sebuah perubahan dalam mengatasi berbagai persoalan yang timbul di Sungai Pelayaran.
Perumusan gagasan dituangkan dalam satu forum yang melahirkan ide-ide kreatif dan inovatif, untuk menjawab dan menindaklanjuti persoalan. Tujuannya agar dapat merealisasikan dan mewujudkan gagasan serta solusi yang perubahannya dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat terdampak. Aksi perubahan itu beri nama Gerakan Nyemplung Kali (GNK)12 . Aksi GNK dimulai tahun 2016, digagas oleh Agus Sugiarto, Adhi Prasnowo dan Ahmad Makki. Dibantu oleh tim Lembaga Penelitian Pengabdian Masyarakat (LPPM) UMAHA, aksi ini dimulai dengan melakukan koordinasi bersama sejumlah anak cabang dari Yayasan Pendidikan Ma’arif Sepanjang.
Komposisinya sebagai berikut: LPPM UMAHA sebagai pengarah, Mahasiswa Pecinta Alam (MAPALA) UMAHA sebagai pelaksana program secara utuh atau pelaksana teknis, kemudian berkolaborasi dengan seluruh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) UMAHA lainnya dan melibatkan masyarakat di daerah terdampak.
Dengan kesadaran dan kepedulian akan pentingnya kebersihan air sungai pelayaran, aksi GNK terbilang cukup menantang bagi peserta yang ikut mengkampanyekan. Di lain pihak, GNK memiliki daya tarik tersendiri bagi sejumlah pegiat yang mengikutinya. Aksi yang dilakukan secara rutin tiga bulan sekali itu, mengundang perhatian Pemerintah Kabupaten Sidoarjo. Diwakili oleh Dinas Lingkungan Hidup, mereka bergabung dalam aksi GNK.
Melewati tiga kecamatan, berikut adalah desa terdampak yang menjadi subjek dalam aksi GNK: Kecamatan Balongbendo (Desa Penambangan, Desa Jeruklegi), Kecamatan Krian (Desa Sidomulyo, Desa Tempel, Desa Bareng Krajan), Kecamatan Taman (Desa Pertapan Maduretno, Desa Tanjungsari, Desa Krembangan, Desa Kerembangan, Desa Ngelom).
PERAN MASYARAKAT DAN TERCIPTANYA KESADARAN LINGKUNGAN
Upaya pemahaman kesadaran dilakukan civitas akademik UMAHA salah satunya dengan mengikutsertakan dosen, guru, mahasiswa, pelajar SMP/SMA untuk bergabung membersihkan kotoran dan sampah yang ada di sungai pelayaran. Mereka menyisir sepanjang aliran sungai di daerah terdampak.
Tak hanya itu, minimnya kesadaran dan ketidaktahuan masyarakat dalam penanganan permasalahan sampah, mengakibatkan banjir di satu sisi bagian utara sungai jika memasuki musim hujan. Sehingga, dibutuhkan penanganan yang lebih intens.
Diperlukan wadah untuk membentuk komunitas berbasis masyarakat. Tujuannya untuk mencetuskan ide-ide serta gagasan tentang lingkungan. Dengan harapan dapat memberikan dampak positif, mampu merubah wilayah terdampak menjadi bersih dan asri.
Pembentukan komunitas berbasis masyarakat bila dilakukan akan berpotensi menjadi penggerak masyarakat lainnya. Hal itu diperlukan untuk keberlanjutan penanganan persoalan-persoalan yang ditimbulkan oleh banyaknya sampah di sungai pelayaran.
Dengan terbentuknya sebuah komunitas berbasis masyarakat, mulai teridentifikasi faktor yang melatarbelakangi masyarakat sulit mengubah kebiasaan membuang sampah di
12 Nyemplung: istilah Bahasa Jawa yang berarti “menceburkan diri”
sungai. Identifikasi yang dilakukan tim LPPM UMAHA, menghasilkan jawaban dan sebuah solusi untuk memimalisir kebiasaan-kebiasaan yang kurang mencerminkan budaya hidup sehat. Serta solusi untuk kebersihan lingkungan yang akan diterapkan pada agenda lanjutan.
Selain aksi GNK, terdapat pula kegiatan pembagian bak sampah, pembersihan lingkungan dengan kerja bakti kampung yang meliputi jalan RT/RW, fasilitas umum warga seperti makam, sungai dan mushollah, serta pembentukan pengelolaan sampah.
Civitas akademik UMAHA terus melakukan pendekatan-pendekatan secara intens, seperti menerjunkan peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang membawakan tema berkaitan dengan capaian target Sustainable Development Goals (SDGs). Tahun 2017, civitas akademik UMAHA menerjunkan peserta KKN di wilayah yang terdampak. Penyesuaian tema yang berbasis SDGs merupakan agenda tahunan dalam program KKN hingga tahun 2019.
Strategi yang dilakukan dalam kampanyekan sadar lingkungan bersih adalah dengan tidak membuang sampah di sungai. Diselipkan pula pelatihan pemilahan sampah yang bernilai ekonomis, digagas oleh para peserta KKN.
Melalui kerjasama antara civitas akademik UMAHA dengan sejumlah masyarakat terdampak, mereka bersama-sama membersihkan sampah yang ada di sungai. Hal itu dilakukan guna meninimalisir banyaknya tumpukkan sampah. Sekaligus memberi pesan moral bagi masyarakat di wilayah terdampak.
Dengan adanya GNK, peserta KKN UMAHA didampingi dosen mengkolaborasikan kegiatan tersebut dengan elemen masyarakat. Baik Pemerintah Desa maupun Karang Taruna setempat. Diharapkan GNK dapat memobilisasi masyarakat terdampak, mengajak masyarakat menjaga lingkungan dan menyuarakan atau mengkampanyekan kepedulian terhadap lingkungan.
Peningkatan pemahaman masyarakat di semua desa terdampak dibentuk melalui kunjungan sekolah, lembar dakwah, distribusi factsheet, media massa (cetak dan elektronik), serta kegiatan kampanye konservasi lain yang menyenangkan dan tidak konfrontatif. Sehingga diharapkan pada akhir program terjadi peningkatan pemahaman dan kepedulian, serta mampu menggerakkan aksi konstruktif masyarakat terhadap kebersihan sungai.
Karena manfaat dan perubahan yang diterima desa terdampak, Pemerintah Desa setempat mulai membuat aturan terkait pembuangan sampah. Mulai terorganisir dengan mempekerjakan orang untuk mengambil sampah yang diletakkan di depan rumah warga.
Kemudian, petugas mengambil sampah tersebut dan mengangkutnya ke Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST). Di TPST, sampah akan dipilah, dipisahkan antara yang memiliki nilai ekonomis dan tidak.
Perubahan yang signifikan terlihat dari kebiasaan masyarakat. Sebelumnya, mereka membuang sampah di sungai. Tetapi sekarang tidak lagi, mereka hanya perlu meletakkan sampah di depan rumah masih-masing dalam keadaan sudah di kantongi dan siap diangkut oleh petugas pengangkut sampah.
Hal tersebut diperkuat dengan adanya peraturan desa terkait pembuangan sampah, papan himbauan atau larangan membuang sampah di sungai yang terpapang di pinggir, adanya pemasangan jaring sebagai upaya penyaringan sampah yang melintasi sungai dengan tujuan agar mudah dalam proses mengambilannya, serta pengecatan warna-warni tembok/plesengan bantaran sungai.
Kegiatan yang diterima masyarakat mulai memberikan sinyal positif bagi keberlanjutan aksi GNK. Hal itu dapat dilihat dengan adanya perubahan yang signifikan dalam memberikan semangat gotong royong untuk mengubah wajah Sungai Pelayaran menjadi lebih bersih. Wajah baru dan perubahan perilaku masyarakat juga melahirkan semangat baru bagi kalangan civitas akademik UMAHA.
Tak berhenti di sini, upaya melalui GNK untuk perubahan pembenahan sumber daya manusia masih akan berlanjut. Agenda perubahan yang terus dilakukan adalah memperkuat strategi advokasi dalam mengkampanyekan kepeduli terhadap lingkungan.
Terobosan lain dapat dilihat dari sisi pengembangan kewirausahaan sebagai alternatif penghasilan bagi kelompok masyarakat di setiap desa sepanjang bantaran sungai pelayaran. Yaitu dengan pola pengembangan usaha perikanan dan pengembangan teknologi tepat guna diharapkan mampu mendorong perubahan perekonomian masyarakat.
Di tahun 2019, civitas akademik UMAHA kembali menerjunkan peserta program KKN ke wilayah terdampak berikutnya. Tetap konsisten membawakan tema yang berkaitan langsung dengan target dan capaian SDGs. Sebelum penerjunan peserta KKN, mahasiswa penerima bidik misi sudah dilakukan riset dan pemetaan terlebih dahulu. Hal itu dilakukan untuk melakukan pendekatan lebih intens dengan menggali potensi yang dimiliki oleh desa. Waktu yang diperlukan kurang lebih selama tiga bulan, dengan lokasi di wilayah yang akan dijadikan tempat sasaran peserta KKN.
Hal itu dilakukan untuk lebih memudahkan mahasiswa peserta KKN mendekatkan diri kepada masyarakat. Sekaligus memudahkan penerapan program di bawahnya untuk menyesuaikan kebutuhkan masyarakat. Kampanye program-program tersebut diharapakan dapat mencapai target setiap tahun. Yaitu terus melakukan perubahan yang lebih signifikan dalam capaian SDGs.
Semoga keberadaan GNK memotivasi daerah lain yang mengalami persoalan sampah di sungai untuk melakukan aksi yang nyata. Dengan kata lain, mari mencintai lingkungan dengan menerapkan pola hidup sehat dan bebas polusi.
114
COnnecting LOcal iNItiatives (COLONI)
Sungai adalah jalur air yang melintasi daerah-daerah, menjadi penghubung wilayah satu dengan lainnya, baik perkotaan maupun di pedesaan. Air sungai mengalir dari dataran tinggi menuju ke dataran yang lebih rendah, diakhiri dengan bermuara atau bertemunya air sungai dengan air laut. Tentu bukan hanya air saja yang bertemu, melainkan juga benda-benda yang hanyut bersama derasnya air sungai.
Karena kelimpahannya, air sungai sering dimanfaatkan masyarakat untuk memenuhi beberapa kebutuhan. Baik kebutuhan hidup untuk manusia, hewan atau tumbuhan. Sungai memiliki peran penting dalam menyokong kehidupan masyarakat, apalagi untuk sebuah desa yang wilayahnya dilewati jalur sungai. Selain itu sungai juga dimanfaatkan untuk mengairi persawahan. Hal ini menguntungkan masyarakat yang berprofesi petani, karena dapat menyuburkan tanaman dengan harapan membuahkan hasil panen yang memuaskan.
Akibatnya, saat ini sungai menjadi kotor. Jalur utama lintasan air penuh dengan tumpukan sampah yang hanyut dibawa aliran air. Berbagai jenis sampah seperti sampah rumah
tangga dan industri kecil menjadi pemandangan yang tak elok dilihat. Hal itu mengakibatkan kandungan air sungai menjadi tidak sehat lagi. Banyaknya sampah yang ada di sungai tak lain karena perilaku manusia itu sendiri. Masyarakat memiliki kewajiban untuk menjaga sungai dari segala jenis pencemaran. Termasuk menjaga sungai agar tak terkontaminasi limbah berbahaya. Tetapi kesadaran masyarakat masih sangat minim.
MASALAH SUNGAI DI SIDOARJO
Kota Sidoarjo disebut sebagai kota delta, sebab diapit oleh dua sungai besar yaitu Sungai Mas dan Sungai Porong. Dua sungai ini memiliki intensitas air yang cukup banyak, sehingga dapat dimanfaatkan untuk menjamin kemakmuran masyarakatnya. Bertepatan di bagian utara Sidoarjo wilayah Barat, terdapat Sungai Pelayaran. Sungai Pelayaran yang dekat dengan Sungai Mas bermanfaat untuk masyarakat setempat, tetapi juga menjadi sumber masalah tersendiri.
Permasalahan muncul ketika semakin banyak masyarakat yang membuang sampah di sungai tersebut. Hal itu menyebabkan lajur aliran air sungai pelayaran yang ada di wilayah Kabupaten Sidoarjo terhambat. Sehingga, 3 kecamatan dan 10 desa yang dilewati aliran sungai terkena dampak.
Fenomena tersebut mengundang perhatian civitas akademik Universitas Ma’arif Hasyim Latief Sidoarjo (UMAHA), sebagai pihak yang senantiasa mengamalkan Tri Dharma Perguruan Tinggi, salah satunya yaitu pengabdian. Civitas akademik UMAHA berusaha melakukan sebuah perubahan dalam mengatasi berbagai persoalan yang timbul di Sungai Pelayaran.
Perumusan gagasan dituangkan dalam satu forum yang melahirkan ide-ide kreatif dan inovatif, untuk menjawab dan menindaklanjuti persoalan. Tujuannya agar dapat merealisasikan dan mewujudkan gagasan serta solusi yang perubahannya dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat terdampak. Aksi perubahan itu beri nama Gerakan Nyemplung Kali (GNK)12 . Aksi GNK dimulai tahun 2016, digagas oleh Agus Sugiarto, Adhi Prasnowo dan Ahmad Makki. Dibantu oleh tim Lembaga Penelitian Pengabdian Masyarakat (LPPM) UMAHA, aksi ini dimulai dengan melakukan koordinasi bersama sejumlah anak cabang dari Yayasan Pendidikan Ma’arif Sepanjang.
Komposisinya sebagai berikut: LPPM UMAHA sebagai pengarah, Mahasiswa Pecinta Alam (MAPALA) UMAHA sebagai pelaksana program secara utuh atau pelaksana teknis, kemudian berkolaborasi dengan seluruh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) UMAHA lainnya dan melibatkan masyarakat di daerah terdampak.
Dengan kesadaran dan kepedulian akan pentingnya kebersihan air sungai pelayaran, aksi GNK terbilang cukup menantang bagi peserta yang ikut mengkampanyekan. Di lain pihak, GNK memiliki daya tarik tersendiri bagi sejumlah pegiat yang mengikutinya. Aksi yang dilakukan secara rutin tiga bulan sekali itu, mengundang perhatian Pemerintah Kabupaten Sidoarjo. Diwakili oleh Dinas Lingkungan Hidup, mereka bergabung dalam aksi GNK.
Melewati tiga kecamatan, berikut adalah desa terdampak yang menjadi subjek dalam aksi GNK: Kecamatan Balongbendo (Desa Penambangan, Desa Jeruklegi), Kecamatan Krian (Desa Sidomulyo, Desa Tempel, Desa Bareng Krajan), Kecamatan Taman (Desa Pertapan Maduretno, Desa Tanjungsari, Desa Krembangan, Desa Kerembangan, Desa Ngelom).
PERAN MASYARAKAT DAN TERCIPTANYA KESADARAN LINGKUNGAN
Upaya pemahaman kesadaran dilakukan civitas akademik UMAHA salah satunya dengan mengikutsertakan dosen, guru, mahasiswa, pelajar SMP/SMA untuk bergabung membersihkan kotoran dan sampah yang ada di sungai pelayaran. Mereka menyisir sepanjang aliran sungai di daerah terdampak.
Tak hanya itu, minimnya kesadaran dan ketidaktahuan masyarakat dalam penanganan permasalahan sampah, mengakibatkan banjir di satu sisi bagian utara sungai jika memasuki musim hujan. Sehingga, dibutuhkan penanganan yang lebih intens.
Diperlukan wadah untuk membentuk komunitas berbasis masyarakat. Tujuannya untuk mencetuskan ide-ide serta gagasan tentang lingkungan. Dengan harapan dapat memberikan dampak positif, mampu merubah wilayah terdampak menjadi bersih dan asri.
Pembentukan komunitas berbasis masyarakat bila dilakukan akan berpotensi menjadi penggerak masyarakat lainnya. Hal itu diperlukan untuk keberlanjutan penanganan persoalan-persoalan yang ditimbulkan oleh banyaknya sampah di sungai pelayaran.
Dengan terbentuknya sebuah komunitas berbasis masyarakat, mulai teridentifikasi faktor yang melatarbelakangi masyarakat sulit mengubah kebiasaan membuang sampah di
sungai. Identifikasi yang dilakukan tim LPPM UMAHA, menghasilkan jawaban dan sebuah solusi untuk memimalisir kebiasaan-kebiasaan yang kurang mencerminkan budaya hidup sehat. Serta solusi untuk kebersihan lingkungan yang akan diterapkan pada agenda lanjutan.
Selain aksi GNK, terdapat pula kegiatan pembagian bak sampah, pembersihan lingkungan dengan kerja bakti kampung yang meliputi jalan RT/RW, fasilitas umum warga seperti makam, sungai dan mushollah, serta pembentukan pengelolaan sampah.
Civitas akademik UMAHA terus melakukan pendekatan-pendekatan secara intens, seperti menerjunkan peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang membawakan tema berkaitan dengan capaian target Sustainable Development Goals (SDGs). Tahun 2017, civitas akademik UMAHA menerjunkan peserta KKN di wilayah yang terdampak. Penyesuaian tema yang berbasis SDGs merupakan agenda tahunan dalam program KKN hingga tahun 2019.
Strategi yang dilakukan dalam kampanyekan sadar lingkungan bersih adalah dengan tidak membuang sampah di sungai. Diselipkan pula pelatihan pemilahan sampah yang bernilai ekonomis, digagas oleh para peserta KKN.
Melalui kerjasama antara civitas akademik UMAHA dengan sejumlah masyarakat terdampak, mereka bersama-sama membersihkan sampah yang ada di sungai. Hal itu dilakukan guna meninimalisir banyaknya tumpukkan sampah. Sekaligus memberi pesan moral bagi masyarakat di wilayah terdampak.
Dengan adanya GNK, peserta KKN UMAHA didampingi dosen mengkolaborasikan kegiatan tersebut dengan elemen masyarakat. Baik Pemerintah Desa maupun Karang Taruna setempat. Diharapkan GNK dapat memobilisasi masyarakat terdampak, mengajak masyarakat menjaga lingkungan dan menyuarakan atau mengkampanyekan kepedulian terhadap lingkungan.
Peningkatan pemahaman masyarakat di semua desa terdampak dibentuk melalui kunjungan sekolah, lembar dakwah, distribusi factsheet, media massa (cetak dan elektronik), serta kegiatan kampanye konservasi lain yang menyenangkan dan tidak konfrontatif. Sehingga diharapkan pada akhir program terjadi peningkatan pemahaman dan kepedulian, serta mampu menggerakkan aksi konstruktif masyarakat terhadap kebersihan sungai.
Karena manfaat dan perubahan yang diterima desa terdampak, Pemerintah Desa setempat mulai membuat aturan terkait pembuangan sampah. Mulai terorganisir dengan mempekerjakan orang untuk mengambil sampah yang diletakkan di depan rumah warga.
Kemudian, petugas mengambil sampah tersebut dan mengangkutnya ke Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST). Di TPST, sampah akan dipilah, dipisahkan antara yang memiliki nilai ekonomis dan tidak.
Perubahan yang signifikan terlihat dari kebiasaan masyarakat. Sebelumnya, mereka membuang sampah di sungai. Tetapi sekarang tidak lagi, mereka hanya perlu meletakkan sampah di depan rumah masih-masing dalam keadaan sudah di kantongi dan siap diangkut oleh petugas pengangkut sampah.
Hal tersebut diperkuat dengan adanya peraturan desa terkait pembuangan sampah, papan himbauan atau larangan membuang sampah di sungai yang terpapang di pinggir, adanya pemasangan jaring sebagai upaya penyaringan sampah yang melintasi sungai dengan tujuan agar mudah dalam proses mengambilannya, serta pengecatan warna-warni tembok/plesengan bantaran sungai.
Kegiatan yang diterima masyarakat mulai memberikan sinyal positif bagi keberlanjutan aksi GNK. Hal itu dapat dilihat dengan adanya perubahan yang signifikan dalam memberikan semangat gotong royong untuk mengubah wajah Sungai Pelayaran menjadi lebih bersih. Wajah baru dan perubahan perilaku masyarakat juga melahirkan semangat baru bagi kalangan civitas akademik UMAHA.
Tak berhenti di sini, upaya melalui GNK untuk perubahan pembenahan sumber daya manusia masih akan berlanjut. Agenda perubahan yang terus dilakukan adalah memperkuat strategi advokasi dalam mengkampanyekan kepeduli terhadap lingkungan.
Terobosan lain dapat dilihat dari sisi pengembangan kewirausahaan sebagai alternatif penghasilan bagi kelompok masyarakat di setiap desa sepanjang bantaran sungai pelayaran. Yaitu dengan pola pengembangan usaha perikanan dan pengembangan teknologi tepat guna diharapkan mampu mendorong perubahan perekonomian masyarakat.
Di tahun 2019, civitas akademik UMAHA kembali menerjunkan peserta program KKN ke wilayah terdampak berikutnya. Tetap konsisten membawakan tema yang berkaitan langsung dengan target dan capaian SDGs. Sebelum penerjunan peserta KKN, mahasiswa penerima bidik misi sudah dilakukan riset dan pemetaan terlebih dahulu. Hal itu dilakukan untuk melakukan pendekatan lebih intens dengan menggali potensi yang dimiliki oleh desa. Waktu yang diperlukan kurang lebih selama tiga bulan, dengan lokasi di wilayah yang akan dijadikan tempat sasaran peserta KKN.
Hal itu dilakukan untuk lebih memudahkan mahasiswa peserta KKN mendekatkan diri kepada masyarakat. Sekaligus memudahkan penerapan program di bawahnya untuk menyesuaikan kebutuhkan masyarakat. Kampanye program-program tersebut diharapakan dapat mencapai target setiap tahun. Yaitu terus melakukan perubahan yang lebih signifikan dalam capaian SDGs.
Semoga keberadaan GNK memotivasi daerah lain yang mengalami persoalan sampah di sungai untuk melakukan aksi yang nyata. Dengan kata lain, mari mencintai lingkungan dengan menerapkan pola hidup sehat dan bebas polusi.
115
KEPINGAN CERITA NEGERI