• Tidak ada hasil yang ditemukan

Efek Komunikasi Spiritual

Dalam dokumen KOMUNIKASI SPIRITUAL (Halaman 79-90)

Dalam perspektif ilmu komunikasi, kitab suci al-Qur’an dan ayat-ayat yang terkandung di dalamnya merupakan pesan yang merupakan simbol atau kumpulan simbol yang memiliki arti dan makna. Menanggapi dan merubahnya menjadi informasi yang bisa digunakan melibatkan aktifitas yang melibatkan penerimaan informasi atau interpretasi pesan. Interpretasi pesan tersebut dipengaruhi oleh banyak hal, term of refrence komunikan (manusia), seperti pengetahuan, pengalaman, motivasi dan lain sebagainya. Itulah mungkin sebabnya al-Qur’an bagaikan mata air yang tak pernah kering. Mengulang-ulang membaca ayat al-Qur’an menimbulkan penafsiran baru, pengembangan gagasan dan menambah kesucian jiwa serta kesejahteraan batin.99

99 Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an..., hal. 8

77

Sebagaimana dalam komunikasi pada umumnya, dalam proses komunikasi spiritual santri penghafal al-Qur’an di pondok pesantren Yusuf Abdus Satar tak terlepas dari pemaknaan dan pemahaman terhadap simbol-simbol berupa ayat suci al-Qur’an, dari sisi term of refrefrence santri-santri penghafal al-Qur’an jelas tak cukup memadai untuk memahami makna dan substansi maksud ayat secara keseluruhan, karena santri penghafal al-Qur’an di pondok pesantren Yusuf Abdus Satar memiliki kualifikasi pendidikan dari tingkat Tsanawiyah sampai Aliyah.

Pelajaran pendukung untuk dapat memahami maksud dan substansi maksud ayat juga tak cukup memadai, karena masih berkisar pada pelajaran bahasa Arab, beberapa pengajian kitab tafsir fiqih, tafsir. Hal ini jelas terungkap dalam berbagai wawancara dengan peneliti di mana santri putra dan putri madrasah Tsanawiyah mengungkapkan bahwa meraka hanya dapat memahami mufradat ayat yang tak lengkap. Sedangkan untuk santri putra dan putri yang duduk dibangku Aliyah umumnya lebih faham walau mereka tak memahami secara mendalam.100

Walau para santri tak memahami makna, maksud dan tujuan ayat secara menyeluruh, dalam perspektif ilmu komunikasi, al-Qur’an (kitab fisik) dan ayat- ayatnya sejatinya adalah simbol “Kitab Tuhan”, membacanya merupakan ibadah dan jalan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan berinteraksi dengan Tuhan.

Pemaknaan terhadap simbol kesucian al-Qur’an membuat para santri tak hanya menjaga kesucian dalam membaca dan memegang al-Qur’an (memegang dan membaca al-Qur’an dalam kondisi berwudhu dan tidak dalam kondisi haid). Di samping itu hampir seluruh santri menyatakan bahwa mereka berusaha menjaga

100 Lihat wawancara di bab III

78

diri terhadap perbuatan-perbuatan yang dinilai mengandung keburukan dan perbuatan yang sia-sia. Apa yang dilakukan ini memang sejalan dengan kriteria- kriteria dan syarat yang digariskan para ulama kepada penghafal al-Qur’an.

Terdapat berbagai persyaratan para penghafal al-Qur’an antara lain:

1. Mampu mengosongkan fikiran dari teori-teori, atau permasalahan yang dapat mengganggu konsentrasi.

Membersihkan diri dari fikiran, teori, atau permasalahan yang akan mengganggu proses hafalan itu sangat penting, ini ditujukan agar konsentrasi yang telah dibentuk dengan baik tidak hilang percuma, juga membersihkan diri dari segala suatu perbuatan yang akan merendahkan, kemudian menekuni al-Qur’an dengan baik dengan hati terbuka, lapang dada dan dengan tujuan yang suci. Kondisi seperti ini akan tercipta apabila seseorang mampu mengendalikan diri dari perbuatan-perbuatan yang tercela, seperti ujub, riya', dengki, iri hati, tidak qona’ah, tidak tawakkal dan lain-lain.

2. Niat yang Ikhlas.

Niat yang kuat dan sungguh-sungguh akan mengantar seseorang ke tempat tujuan, dan akan membentengi atau menjadi perisai terhadap kendala- kendala yang mungkin akan datang merintanginya.

Niat mempunyai peranan yang sangat penting dalam melakukan sesuatu, antara lain sebagai motor penggerak dalam mencapai suatu tujuan. Di samping itu juga niat berfungsi sebagai pengaman dari menyimpangnya

79

suatu proses yang sedang dilakukan dalam rangka mencapai cita-cita, termasuk dalam menghafal al-Qur'an.

Tanpa ada niat yang jelas maka perjalanan untuk mencapai tujuan itu akan mudah sekali terganggu oleh munculnya kendala yang setiap saat siap menghancurkan. Justru niat bermuatan dan berorientasi ibadah, dan ikhlas karena semata-mata mencapai ridho-Nya akan memacu timbulnya kesetiaan dalam menghafal al-Qur'an.

3. Memiliki Keteguhan.

Keteguhan dan kesabaran merupakan faktor-faktor yang sangat penting bagi orang yang dalam proses menghafal al-Qur'an. Hal ini disebabkan karena dalam proses menghafal al-Qur'an akan banyak sekali ditemui bermacam kendala, mungkin jenuh, mungkin juga gangguan lingkungan karena bising atau gaduh, atau mungkin juga gangguan batin, dan mungkin karena menghadapi ayat-ayat yang dirasa sulit untuk dihafal, dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, untuk senantiasa dapat melestarikan hafalan perlu keteguhan dan kesabaran, karena kunci utama keberhasilan dalam menghafal all-Qur'an adalah ketekunan menghafal dan mengulang-ulang ayat-ayat yang dihafalnya.

4. Istiqamah.

yang dimaksud istiqomah yaitu konsisten, yakni tetap menjaga keajekan dalam proses menghafal al-Qur'an. dengan kata lain, seorang penghafal harus senantiasa menjaga kontinuitas dan efisiensi terhadap waktu. Seorang panghafal yang konsisten akan sangat menghargai waktu, begitu

80

berharganya waktu baginya. Betapa tidak, kapan saja dan di mana saja ada waktu terluang, intuisinya segera mendorong untuk segera kembali menghafal al-Qur'an.

5. Menjauhkan diri dari maksiat dan sifat tercela.

Perbuatan maksiat dan perbuatan yang tercela merupakan sesuatu yang harus dijauhi bukan saja oleh orang yang menghafal al-Qur'an, tetapi juga oleh kaum muslimin pada umumnya, karena keduanya mempunyai pengaruh besar dalam perkembangan jiwa dan mengusik ketenangan hati orang yang sedang menghafal al-Qur'an. Perbuatan maksiat dan tercela dapat menghancurkan ke-istiqomah-an dan konsentrasi yang telah dibina dan terlatih sedemikian bagus. Di antara sifat-sifat yang tercela antara lain, khianat, bakhil, pemarah, membicarakan aib orang, memencilkan diri dari pergaulan, iri hati, memutuskan tali silaturahmi, cinta dunia, berlebih- lebih-an, sombong, dusta, ingkar, makar, riya', meremehkan orang lain, takabbur dan masih banyak lagi yang lainnya.

Apabila seorang penghafal al-Qur'an sudah dihinggapi penyakit-penyakit tersebut, maka usaha dalam menghafal al-Qur'an akan menjadi lemah apabila tidak ada orang lain yang memperhatikannya. Bagaimanapun sifat- sifat seperti ini harus disingkirkan oleh seorang yang sedang dalam proses menghafal al-Qur'an.

6. Izin orang tua, wali atau suami.

Walaupun hal ini tidak merupakan suatu keharusan secara mutlak, namun harus ada kejelasan, karena hal demikian akan menciptakan saling

81

pengertian antara kedua belah pihak, yakni antara orang tua dengan anak, antara suami dengan istri, atau antara seorang wali dengan orang yang berada di bawah perwaliannya.

7. Mampu membaca dengan baik.

Sebelum seorang penghafal melangkah pada periode menghafal, seharusnya ia terlebih dahulu meluruskan dan memperlancar bacaannya.

Sebagian besar ulama bahkan tidak memperkenankan anak didik yang diampunya untuk menghafal al-Qur'an sebelum terlebih dahulu menghkhatamkan al-Qur'an bin-nadzar (dengan membaca). Ini dimaksudkan, agar calon penghafal benar-benar lurus dan lancar dalam membacanya, serta ringan lisannya untuk mengucapkan Arab.101

Status sebagai santri tahfizul Qur’an dan penghapal al-Qur’an juga adalah simbol tersendiri, di mana kesadaran akan simbol tersebut mempengaruhi proses komunikasi penghafal al-Qur’an dengan orang lain. Hal tersebut terungkap dalam wawancara dengan santri bahwa mereka sangat menjaga etika dan sopan santun dalam berbicara karena mereka memahami bahwa al-Qur’an adalah sesuatu yang suci, ia akan melekat dalam diri seseorang apabila orang tersebut menjaga kesuciannya termasuk kesucian dalam berbicara dengan orang lain. Dalam sebuah wawancara seorang santri mengungkapkan

“kalau kita tak bisa menjaga lisan, suka ngomongin orang, bertengkar dan sebagainya biasanya agak sulit menghafal dan hafalan cepat sekali lupa”102

101 https://jamilramadani.wordpress.com/2012/02/12/kaidah-menghafal-al-quran/

102 Wawancara dengan Kasratul Aini, tanggal 11 September 2015

82

Jelas simbol sebagai penghafal al-Qur’an, pemegang al-Qur’an yang suci pada akhirnya mengarahkan santri untuk selalu berperilaku sesuai dengan ajaran Islam.

Dalam rutinitas keseharian santri yang dipenuhi oleh jadwal sekolah, menghafal, tentu terkadang mereka merasa bosan dan jemu, apalagi santri yang menghafal al-Qur’an masih remaja awal (Tsanawiyah) dan remaja (Aliyah).

Secara psikologis mereka masih memiliki jiwa yang labil, penentang dan sebagainya sehingga sangat wajar seperti yang diungkapkan oleh ustaz Maliki selalu saja ada pelanggaran-pelanggaran disiplin yang terjadi. Ditegaskan oleh ustaz Maliki bahwa pelanggaran disiplin tersebut umumnya dilakukan oleh murid baru karena mereka merasa tidak betah di pondok dan ingin pulang (lebih suka berada di rumah), sebagian kecil dilakukan oleh siswa Aliyah tetapi lebih dikarenakan oleh kejenuhan terhadap rutinitas sehari-hari.

Kalau dari sisi pengaruh terhadap aspek kognitif para santri tak terlalu besar, karena mereka belum memiliki ilmu pendukung yang cukup kuat untuk memahami maksud dan kandungan ayat al-Qur’an secara menyeluruh, maka pengaruh terhadap aspek afektif dan behavioral terlihat jelas. Dari aspek afektif, berdasarkan wawancara yang telah dijelaskan dalam bab III, bahwa hampir semua santri yang diwawancarai mengatakan bahwa mereka merasa tenang, bahagia, nyaman dan merasa dalam perlindungan Allah. Hal ini menjadi jelas karena al- Qur’an adalah kalam Allah yang diwahyukan, bukan hanya makna al-Qur’an tetapi semua yang berkaitan dengan al-Qur’an adalah suci, kata-kata yang ditulis, suara dari ayat yang dilantunkan, fisik kitabnya dan pesan yang terkandung di dalamnya. Sifat kesucian al-Qur’an menyentuh spiritualitas seseorang bahkan

83

orang yang tidak mengerti bahasa Arab, sifat kesucian itulah yang melampaui bahasa manusia103

Sedang pengaruh behavioral, seperti yang diungkap di atas bahwa ada kesadaran dalam diri para santri bahwa mereka harus berprilaku seperti akhlak al- Qur’an, mereka harus mendukung hafalan mereka dengan banyak melakukan ibadah, baik ibadah wajib maupun sunnah dan perilaku serta ibadah mereka sesuai dengan kesadaran tersebut.

103 Spiritualitas Islam

84 BAB V

SIMPUAN DAN SARAN

A. SIMPULAN

Dari pemaparan dan analisis data yang telah diungkapkan dalam dalam penelitian ini, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

a. Secara formal, Proses komunikasi spiritual santri tahfizul qur’an Yusuf Abdus Satar melalui pembacaan al-Qur’an berjalan diatur sesuai dengan aturan-aturan yang diberlakukan pimpinan lembaga tahfizul qur’an. Sedangkan secara non formal, komunikasi spiritual santri tahfizul qur’an dilakukan secara pribadi, setiap hari. Setiap santri membaca al-Qur’an dan berkomunikasi secara spiritual menyesuaikan waktu dan tempat sesuai dengan kebutuhan psikologis masing-masing dalam rangka menemukan ketenangan dan konsentrasi yang tinggi.

b. Efek komunikasi spiritual santri tahfizul qur’an dapat diketegorikan menjadi 3 yaitu efek kognitif, afektif dan efek behavioral.

Dari segi efek kognitif, objek penelitian dapat diketegorikan menjadi dua. Bagi santri tahfizul qur’an yang berada di tingkat Aliyah sudah bisa memahami maksud ayat-ayat al-Qur’an secara sederhana sedangkan untuk santri tahfizul qur’an tingkat Tsanawiyah belum dapat memahami maksud dari ayat-ayat al-Qur’an. Dari sisi afetif, seluruh santri merasa bangga menjadi penghafal al-Qur’an, perasaan tenang, bahagia dan perasaan merasa dalam pemeliharaan Allah mendominasi ketika terjadi komunikasi spiritual. Sedangkan dari segi

85

behavioral, seluruh santri memiliki prilaku baik, taat beribadah.

Pelanggaran-pelanggaran terhadap aturan pondok masih terjadi tapi prosentasenya sangat kecil dan pelanggaran itu umumnya disebabkan oleh kejenuhan rutinitas di pondok pesantren.

B. SARAN

Berdasarkan hasil penelitian ini, maka peneliti bisa menyarankan sebagai berikut:

a. Bagi pimpinan lembaga tahfizul qur’an agar memberikan sarana dan prasarana yang memudahkan santri untuk menghafal dengan baik.

b. Bagi pimpinan pondok pesantren Yusuf Abdus Satar seharusnya membekali santri penghafal al-Qur’an dengan ilmu pendukung yang lebih memadai agar para santri memahami makna dan kandungan ayat-ayat al- Qur’an

c. Untuk pimpinan IAIN Mataram (Qur’anic Centre), bila igin menerapkan program menghafal juz amma (Qur’an) untuk mahasiswa maka ada baiknya dimulai dari santri-santri ma’had al-jami’ah, karena proses menghafal yang baik dan komunikasi spiritual yang baik akan terlaksana bila pergaulan dan lingkungan santri mendukung untuk menghafal.

86

DAFTAR PUSTAKA

Buku:

Achmad Mubaarok, Psikologi Qur’ani, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2001) Agus Sujanto, Psikologi Kepribadian, (Jakarta; Bumi Aksara, 1999)

Alo Liliweri, Makna Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya (Yogyakarta: LKiS, 2002)

Baron dan Sukidin, Metode Penelitian Kualitatif Perspektif Mikro (Surabaya:

Penerbit Insan Cendikia, 2002)

Brent D. Ruben, Komunikasi dan Prilaku Manusia, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2013)

Deddy Mulyana (edt.), Komunikasi Antarbudaya (Bandung: Penerbit Rosda Karya, 1990)

Elizabeth B. Hurlock, Psikologi Perkembangan (terj), edisi ke lima, (Jakarta:

Penerbit Erlangga, tt)

Everett M. Roger dan Thomas M. Steinfatt, Intercultural Communication (Illinois: Waveland Press Inc., 1999)

Hossein nasr, Ensiklopedi Tematis Spiritualitas Islam, (Bandung: Mizan Pustaka, 2003)

Ismail R. Al-Faruqi dan Lois Lamya Al-Faruqi, Atlas Budaya Islam, (Bandung:

penerbit Mizan, 2000)

Jalaludin Rahmat, Psikologi Komunikasi, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007) Joseph A. deVito, Human Communication, (HarperCollins Pubisher Inc, 1996) Karen Armstrong, Sejarah Tuhan, (Bandung: Penerbit Mizan, 2002)

Merle J. Moskowitz dan Arthur R. Orgel, General Psychology, (Boston:

Houghton Miffin Company, 1969)

Muhammad Ali Ash shobuni, Ikhtisar Ulumul Qur’an Praktis, (Jakarta: Pustaka Amani, 1998)

Dalam dokumen KOMUNIKASI SPIRITUAL (Halaman 79-90)

Dokumen terkait