Pada era industri 4.0, teknologi digital dapat memberikan dampak buruk bagi dunia pendidikan jika penggunaannya tidak tepat guna. Oleh karena itu, memahami prinsip dan faktor yang mempengaruhi efektivitas teknologi digital dalam pembelajaran adalah sesuatu yang sangat penting bagi seorang pendidik.35 Seorang pendidik dituntut untuk memiliki empat kompetensi agar dapat menggunakan teknologi digitial dengan tepat guna.
Pertama, seorang pendidik harus memahami dan mampu menggunakan teknologi digital serta penerapannya. Kedua, memiliki kompetensi kepemimpinan yang mampu mengarahkan peserta didik memiliki pemahaman tentang teknologi. Ketiga, mempunyai kemampuan memprediksi dengan tepat arah gejolak perubahan dan langkah strategis menghadapinya. Keempat, mempunyai kompetensi dalam mengendalikan diri dari segala
35 Putrawangsa, S., & Hasanah, U. (2018). Integrasi Teknologi Digital Dalam Pembelajaran Di Era Industri 4.0. Jurnal Tatsqif, 16(1), 4254. Retrieved From
22
gejolak perubahan, dan mampu meenghadapinya dengan memunculkan ide, inovasi, serta kreativitas.36
Pemaduan penggunaan sumber belajar tradisional (offline) dan online adalah suatu keputusan demokratis untuk menjembatani derasnya arus penyebaan sumber belajar elektronik (e-learning) dan kesulitan melepaskan diri dari pemanfaatan sumber-sumber belajar yang digunakan dalam ruang kelas. Artinya, e-learning bagaimanapun canggihnya teknologi yang digunakan belum mampu menggantikan pelaksanaan pembelajaran tatap muka karena metode interaksi tatap muka konvensional masih jauh lebihefektif dibandingkan pembelajaran online atau elearning. Selain itu, keterbatasan dalam aksesibilitas Internet, perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software), serta pembiayaan sering menjadi habatan dalam memaksimalkan sumber-sumber belajar online.37
Persiapan sebelum memberikan layanan belajar merupakan salah satu faktor penentu dalam keberhasilan belajar, terutama pada online learning di mana adanya jarak antara pebelajar dan pemelajar. Alat penyampaian bukanlah faktor penentu kualitas belajar, melainkan disain mata pelajarn menentukan keefektifan belajar. Salah satu alasan memilih strategi pembelajaran adalah untuk mengangkat pembelajaran bermakna. Sehingga efektif atau tidaknya pembelajaran dapat diidentifikasi melalui perilaku-perilaku antara pemelajar dan pembelajar. Bagaimana respon pembelajar terhadap apa yang disampaikan oleh pemelajar.
Pelaksanaan pembelajaran adalah suatu kegiatan yang bernilai edukatif, nilai edukatif mewarnai interaksi yang terjadi antara guru dan siswa. Interaksi yang bernilai edukatif dikarenakan pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu yang telah
36 Harto, K. (2018). Tantangan Dosen Ptki Di Era Industri 4.0. Jurnal Tatsqif, 16(1), 1-15. Retrieved from
http://journal.uinmataram.ac.id/index.php/tatsqif/article/view/159
37 Yaumi, Muhammad. 2018. Media Dan Teknologi Pembelajaran. Jakarta : PRENADAMEDIA GROUP
23
dirumuskan sebelum pelaksanaan pembelajaran dimulai. Dalam pelaksanaan pembelajaran, guru melakukan beberapa tahap pelaksanaan pembelajaran antara lain: membuka pelajaran, penyampaian materi pembelajaran, menutup pembelajaran.38
Pemakaian media pengajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruhpengaruh psikologis terhadap siswa.
Media dalam proses pembelajaran secara umum memiliki manfaat untuk memperlancar interaksi antara guru dengan siswa. Hal ini dimaksudkan agar proses pembelajaran akan berlangsungsecara lebih efektif dan efisien.39
8. Manajemen Pendidikan Islam
Menururt Mujammil Qomar dalam karyanya Manajemen pendidikan Islam, Ia menyatakan bahwa ”Manajemen pendidikan Islam adalah suatu proses pengelolaan lembaga pendidikan secara Islami dengan cara menyiasati sumbersumber belajar dan hal-hal lain yang terkait untuk mencapai tujuan pendidikan Islam secara efektif dan efisien.”9 Lebih lanjut Mujammil Mengatakan, bahwa makna definitif ini memiliki implikasi-implikasi yang saling terkait dan membentuk satu kesatuan sistem dalam manajemen pendidikan Islam. Implikasi-implikasi tersebut antara lain :
Pertama, proses pengelolaan lembaga pendidikan Islam secara Islami. Aspek ini menghendaki adanya muatan-muatan nilai Islam dalam proses pengelolaan lembaga pendidikan Islam.
Misalnya, penekanan pada penghargaan, maslahat, kualitas, kemajuan, dan pemberdayaan.Selanjutnya, upava pengelolaan itu diupayakan bersandar pada pesan-pesan Alquran dan hadis agar selalu dapat menjaga sifat Islami.
Kedua, terhadap lembaga pendidikan Islam. Hal ini menunjukkan objek dari manajemen ini yang secara khusus diarahkan untuk menangani lembaga pendidikan Islam dengan
38 Syaiful, B. D. (2013). Strategi belajar mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
39 Hamalik, O. (2005). Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem.
Bandung: Bumi Aksara
24
segala keunikannya. Maka, manajemen ini bisa memaparkan cara- cara pengelolaan pesantren, madrasah, perguruan tinggi Islam, dan sebagainya.
Ketiga, proses pengelolaan lembaga pendidikan Islam secara Islami menghendaki adanya sifat inklusif dan eksklusif.
Frase secara islami menunjukkan sikap inklusif, yang btrarti kaidah-kaidah manajerial yang dirumuskan dalam buku ini bisa dipakai untuk pengelolaan pendidikan selain pendidikan Islam selama ada kesesuaian sifat dan misinya. Dan sebaliknya, kaidah- kaidah manajemen pendidikan secara umum bisa juga dipakai dalam mengelola pendidikan Islam selama sesuai dengan nilai- nilai Islam, realita, dan kultur yang dihadapi lembaga pendidikan Islam. Sementara itu, frase lembaga pendidikan Islam menunjukkan keadaan eksklusif karena menjadi objek langsung dari kajian ini, hanya terfokus pada lembaga pendidikan Islam".Sedangkan, lembaga pendidikan lainnya telah dibahas secara detail dalam buku-buku manajemen pendidikan.
Keempat, dengan cara menyiasati. Frase ini mengandung strategi yang menjadi salah satu pembeda antara administrasi dengan manajemen.Manajemen penuh siasat atau strategi yang diarahkan untuk mencapai suatu tujuan.Demikian pula dengan manajemen pendidikan Islam yang senantiasa diwujudkan melalui strategi tertentu. Adakalanya strategi tersebut sesuai dengan strategi dalam mengelola lembaga pendidikan umum, tetapi bisa jadi berbeda sama sekali lantaran adanya situasi khusus yang dihadapi lembaga pendidikan Islam.
Kelima, sumber-sumber belajar dan hal-hal lain yany terkait. Sumber belaiar di sini memiliki cakupan yang cukup luas, yaitu: (1) Manusia, yang meliputi guru/ustadz/dosen, siswa/santri/mahasiswa, para pegawai, dan para pengurus yayasan;
(2) Bahan, yang meliputi perpustakaan, buku palajaran, dan sebagainya; (3) Lingkungan, merupakan segala hal yang mengarah pada masyarakat; (4) Alatt dan peralatan, seperti laboratorium; dan (5) Aktivitas. Adapun hal-hal lain yang terkait bisa berupa keadaan sosio-politik, sosio-kultural, sosio-ekonomik, maupun sosio- religius yang dihadapi oleh lembaga pendidikan Islam.
40 Undang A.K dan Muhammad Alfan, Etika Manajemen Islam, (Bandung: CV.
Pustaka Setia, 2010), h.32.
41 Q.S. Ar-Ra’d 13 :11
26
Penelitian ini menggunakan Pendekatan kualitatif dengan jenis fenomenologi, yang menjelaskan suatu fenomena yang sedang terjadi dengan memanfaatkan wawancara terbuka untuk menelaah dan memahami sikap, pandang, perasaan, aktivitas, perilaku individu atau kelompok orang, kejadian yang sedang dialami oleh individu atau kelompok dalam kehidupannya.42 Dari definisi di atas, pemahaman secara mendalam mengenai fenomena yang akan menjadi objek penelitian yang dapat diperoleh melalui berbagai sumber data, contohnya seperti, hasil penelitian sebelumnya, data dan informasi dari media masa, pengalaman individu seseorang terhadap kasus tertentu, lembaga pemerintah, swasta, organisasi dan data lain hasil browsing dari internet.
Metode pengumpulan data dengan menggunakan jenis fenomenologi melalui pendekatan kualitatif deskriptif karena ingin memperoleh data dari peristiwa atau femomena yang sedang dialami peserta didik selama pelaksaan Pembelajaran daring dan luring di era pandemi Covid-19 di SMPN 1 Pujut dan SMPN 2 Pujut Kabupaten Lombok Tengah.
Penelitian ini bermaksud untuk mengungkap data dan informasi sebanyak mungkin tentang Analisis pembelajaran daring (dalam jaringan) dan luring (luar jaringan) di SMPN se-Kecamatan Pujut..
2. Kehadiran Peneliti
“Kedudukan peneliti dalam penelitian ini sebagai instrumen penelitian disini dimaksudkan sebagai alat pengumpul data. Selain itu peneliti juga menjadi siswa yang mengikuti proses pembelajaran. Ciri-ciri umum manusia sebagai instrumen mencakup segi responsif, dapat menyesuaikan diri, menekankan keutuhan, mendasarkan diri atas pengetahuan, memproses dan
42 Lexy, J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2014), 5
27
mengikhtisarkan, dan memanfaatkan kesempatan mencari respons yang tidak lazim atau idiosinkratik43.”
3. Lokasi Penelitian
“Pemilihan lokasi atau site selection berkenaan dengan penentuan unit, bagian, kelompok, dan tempat dimana orang-orang terlibat di dalam kegiatan atau peristiwa yang ingin diteliti44.”
Adapun alasan penentuan sekolah sebagai berikut (1) jumlah sekolah negeri di Kecamatan Pujut yang banyak yaitu 11 sekolah (2) letak geografis sekolah yang bervariasi (3) kemampuan peneliti yang terbatas. Penentuan sekolah ditentukan secara purposive sampling, yakni dengan pertimbangan dan tujuan tertentu sehingga sekolah sebagai tempat penelitian adalah 2 sekolah, yaitu SMP Negeri 1 Pujut dan SMP Negeri 2 Pujut.
4. Sumber Data
Data dapat diartikan sebagai bahan mentah yang didapatkan peneliti dari penelitiannya, bisa berupa fakta maupun keterangan yang dapat digunakan sebagai dasar analisis. Data dapat berfungsi sebagai bukti dan petunjuk tentang adanya sesuatu.
Data adalah tulisan-tulisan atau catatan-catatan mengenai segala sesuatu yang didengar, dilihat, dialami dan bahkan yang dipikirkan oleh peneliti selama kegiatan pengumpulan data dan merefleksikan kegiatan tersebut ke dalam etnografi45.
a. Data Primer adalah data yang diperoleh melalui pengamatan langsung analisis pembelajaran daring dan luring di SMP Negeri se Kecamatan Pujut.
b. Data Sekunder “Merupakan data yang diperoleh secara langsung dari obyek penelitian. Data-data ini berasal dari data –
43 Moleong, J. Lexy. Strategilogy Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosda Karya, 2007.
44Sukmadinata. Metode penelitian Pendidikan Bandung: Remaja Rosda Karya, 2007:102
45Moleong, J. Lexy. Strategilogy Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosda Karya, 2007.
28
data yang diperoleh dari dokumen – dokumen yang tersimpan di sekolah ini.”
5. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam suatu penelitian merupakan aspek yang paling penting. Berdasarkan permasalahan dan variabel penelitian yang dikaji, maka peneliti mengambil data melalui media sosial (Whatsapp) dan dokumen dari sekolah dengan objek penelitian yang sudah ditentukan.
Agar peneliti mendapatkan data yang relevan dan akurat sesuai yang dibutuhkan oleh peneliti. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan beberapa taknik pengumpulan data, diantaranya teknik pengambilan data tersebut yaitu melakukan observasi, wawancara, dokumentasi, dan triangulasi data. Adapun Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan beberapa metode yaitu:
a. Observasi
Observasi dilakukan sebagai pengamat dan pencatatan sistematis terhadap gejala yang diselidiki.46 Observasi sebagai teknik pengumpulan data mempunyai ciri yang spesifik bila dibandingkan dengan dengan teknik yang lain.
Observasi merupakan perekaman dan pencatatan yang dilakukan secara sistematis yang mencakup perilaku manusia, kegiatan, dan gejala-gejala alam yang tampak pada objek penelitian.47 Observasi atau pengamatan merupakan salah satu teknik pengumpulan data yang dibangun atas pengalaman langsung, peristiwa yang sedang terjadi, dan kegiatan yang sedang berlangsung.48 Teknik observasi akan
46 Amirul Hadi dan Haryanto, Metodologi Penelitian Pendidikan untuk IAIN dan PTIAIN Semua Jurusan Komponen MKK, (Bandung : Pustaka Setia, 1998), h.47.
47 Sugiono, Metode Penelitian Kiantitatif, Kualitatif, dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2016), 145
48 Rulam Ahmadi, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media: 2014), 161
29
membantu peneliti dalam mencatat, merekam, dan mendalami kasus yang sedang terjadi pada objek dan tempat penelitian.
Peneliti akan melakukan pengamatan terhadap gejala-gejala sosial melalui whatshap dan media sosial lainnya untuk melihat model pembelajaran daring dan luring di era pandemi Covid-19. Objek yang akan diteliti antara lain guru, siswa, tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, metode pembelajaran, media pembelajaran, teknik pembelajaran, dan penilaian pembelajaran.
b. Wawancara
Wawancara adalah proses tanya jawab dalam penelitian yang berlangsung secara lisan, dua orang atau lebih bertatap muka mendengarkan secara langsung informasi atau keterangan. Tujuan dari wawancara adalah untuk mengumpulkan informasi dan bukan untuk merubah atau mempengaruhi responden.49 Wawancara merupakan situasi tatap muka atau berhadap-hadapan antara pewawancara dan responden dengan tujuan untuk menggali informasi yang diharapkan mendapatkan data tentang peristiwa atau kegiatan yang sedang berlangsung. Setiap pertanyaan yang diberikan kepada partisipan dalam penelitian ini harus sesuai denga keperluan penlitian. Maka, dalam penelitian ini digunakan metode wawancara tersetruktur atau wawancara formal, yaitu peneliti menetapkan sendiri masalah dan pertanyaan yang akan diajukan kepada responden.50
Data yang diperoleh dari wawancara berupa pengalaman, pendapat, perasaan, dan pengetahuan informan kunci mengenai analisis pembelajaran daring dan luring di SMPN se-Kecamatan Pujut.
49 Cholid Narbuko dan Abu Ahmadi, Metodologi Penenelitian (Jakarta, Bumi Aksara, 2007). H.86
50 Lukman Nul Hakim, “Ulasan Metodologi Kualitatif:Wawancara Terhadap Elit”, Aspirasi, Vol. IV, No. 2, 2013, 167.
30
Penentuan sumber data pada orang yang diwawancarai dilakukan secara purposive, yaitu dipilih dengan pertimbangan dan tujuan tertentu51. Nara sumber yang akan diwawancarai adalah kepala sekolah, guru dan siswa. Guru yang diwawancarai adalah semua guru mata pelajaran. Jumlah guru sebagai nara sumber satu orang guru yang mengajar mata pelajaran di sekolah. Sedangkan penentuan siswa yang akan diwawancarai dengan pertimbangan siswa memiliki handphon, kemampuan menggunakan perangkat tersebut, serta kepemilikan jaringan internet. Jumlah siswa sebagai narasumber kunci adalah 2 orang per sekolah.
Adapun kisi-kisi yang telah dirancang oleh peneliti sebelum wawancara dilakukan, sebegai berikut:
Tabel 1.1 Kisi-kisi Instrumen Wawancara
Dimensi Aspek Indikator Sumber
Pembelajaran Daring
Guru mempersipkan pembelajaran daring
Tujuan yang dicapai Metode penyampaian pembelajaran
Siswa
Lingkungan atau Suasana belajar yang diperlukan agar pembelajaran
berhasil
a. Lingkungan atau suasana rumah saat pembelajaran daring.
b. Pengaruh
lingkungan atau suasana rumah saat pembelajran daring terhadap
keberhasilan pembelajaran
Siswa
Fasilitas belajar yang diperlukan, supaya pembelajaran
a. Fasilitas yang disediakan dan dibutuhkan dalam
Siswa
51 Sugiyono. Metode Penelitian kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: cv.
Alfabeta, 2008. H.14
31
berhasil Pembelajaran
daring.
b. Pengaruh fasilitas belajar terhadap keberhasilan
pembelajaran Langkah langkah
atau sintaks dalam pembelajaran
a. Apersepsi b. Materi/Isi c. Metode d. Teknik e. Media f. Evaluasi
Guru
Pembelajaran Luring
Guru mempersipkan pembelajaran luring
Tujuan yang dicapai Metode penyampaian pembelajaran
Siswa
Lingkungan atau Suasana belajar yang diperlukan agar pembelajaran
berhasil
a. Lingkungan atau suasana rumah saat pembelajaran daring.
b. Pengaruh
lingkungan atau suasana rumah saat pembelajran daring terhadap
keberhasilan pembelajaran
Siswa
Fasilitas belajar yang diperlukan, supaya pembelajaran
berhasil
a. Fasilitas yang disediakan dan dibutuhkan dalam Pembelajaran daring.
b. Pengaruh fasilitas belajar terhadap keberhasilan
pembelajaran
Siswa
Langkah-langkah atau sintaks dalam pembelajaran
a. Apersepsi b. Materi/Isi c. Metode d. Teknik e. Media f. Evaluasi
Guru
32 c. Dokumentasi
Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang52. Pada penelitian ini, teknik dokumentasi dilakukan dengan cara mengumpulkan dokumen administrasi yang berhubungan dengan pembelajaran daring dan luring di SMP Negeri se- Kecamatan Pujut.
Berkenaan dengan Pembelajaran daring dan luring yang dilakukan di SMP Negeri 1 Pujut dan SMP Negeri 2 Pujut Kabupaten Lombok Tengah, maka dokumen yang diperlukan oleh peneliti yaitu RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) daring dan luring, penilaian peserta didik, foto atau video kegiatan Pembelajaran daring dan luring, serta dokumen lain yang dapat mendukung dalam proses pengumpulan data.
6. Teknis Analisa Data
Untuk menyajikan data agar mudah dipahami, maka langkah- langkah anlisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Analysis Interactive Model dari Miles dan Huberman, yang membagi langkah-langkah dalam kegiatan analisis data dengan beberapa bagian yaitu pengumpulan data (data collection), reduksi data (data reduction), penyajian data (data display), dan penarikan kesimpulan atau verifikasi (conclutions).
Skema Analisis Interactive Model (Miles dan Huberman)
52Sugiyono. Metode Penelitian kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: cv. Alfabeta, 2008. H.240.
33 a. Pengumpulan Data
“Pada analisis model pertama dilakukan pengumpulan data hasil wawancara, dan berbagai dokumen berdasarkan kategorisasi yang sesuai dengan masalah penelitian yang kemudian dikembangkan penajaman data melalui pencarian data selanjutnya.”
b. Reduksi Data
“Reduksi data adalah suatu bentuk analisis yang menajamkan, menggolongan, mengarahkan, membuang data yang tidak perlu dan mengorganisasi data dengan cara sedemikian rupa sehingga simpulan final dapat ditarik dan diverifikasi.”
c. Penyajian Data
“Sajian data adalah suatu rangkaian organisasi informasi yang memungkinkan kesimpulan riset dapat dilakukan. Penyajian data dimaksudkan intuk menemukan pola-pola yang bermakna serta memberikan kemungkinan adanya penarikan simpulan serta memberikan tindakan (Miles dan Huberman, 2007: 84). Sajian data berupa narasi kalimat, gambar/skema, jaringan kerja dan tabel sebagai narasinya.
d. Penarikan Kesimpulan
Penarikan kesimpulan merupakan bagian dari sutu kegiatan konfigurasi yang utuh. Kesimpulan juga diverifikasi selama penelitian berlangsung. Kesimpulan ditarik semenjak peneliti menyususn pencatatan, pola pola, pernyataan- pernyataan, konfigurasi, arahan sebab akibat, dan berbagai proposisi.
7. Keabsahan Data
Teknik yang digunakan dalam pemeriksaan keabsahan perpanjangan keikut sertaan, ketekunan pengamatan, triangulasi, pengecekan sejawat, analisis kasus negative, kecukupan refernsial, dan pengecekan dengan anggota yang terlibat dalam penelitian.
Pengujian keabsahan data menggunakan empat criteria sebagaimana yang dikemukakan oleh Sugiyono, yaitu: kredibilitas (credibility), keteralihan (transferability),
34
kebergantungan/reliabilitas (dependability), dan kepastian/dapat dikonfirmasi (confirmability)53.
a. Kepercayaan (credibility). “Uji credibility atau validitas internal merupakan uji kepercayaan terhadap data hasil penelitian kualitatif yang dilakukan dengan perpanjangan pengamatan, peningkatan ketekunan dalam penelitian, triangulasi, diskusi dengan teman sejawat, analisis kasus negatif, dan member check. Triangulasi merupakan cara yang paling umum digunakan bagi peningkatan validitas dalam penelitian kualitatif.” Ada tiga jenis triangulasi ditambah satu review informan.
1) Triangulasi Sumber. “Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara, membandingkan apa yang dikatakan di depan umum dengan apa yang dikatakan secara pribadi, dan membandingkan wawancara dengan dokumen yang berkaitan.”
2) Triangulasi Metode Pengecekan derajat kepercayaan penemuan hasil penelitian beberapa teknik pengumpulan data dan pengecekan derajat kepercayaan beberapa sumber data dengan metode yang sama.
3) Triangulasi Peneliti. “Membandingkan informasi yang sama dari ketiga kasus.”
4) Reviu Informan. “Mengkomunikasikan hasil analisis dengan informan utama penelitian.”
b. Keteralihan (transferability)
Keteralihan (transferability), pada dasarnya merupakan validitas eksternal pada penelitian kualitatif. Transferability perlu dilakukan orang lain yang telah mempelajari laporan peneliti.
Orang lain, termasuk rekan-rekan peneliti, para pembimbing atau FC promoter, dan para penguji akan membandingkannya dengan kepustakaan, wacana, penelitian, dan pengalamannya masing-masing.
c. Kebergantungan/reliabilitas (dependability).
53 53Moleong, J. Lexy. Strategilogy Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosda Karya, 2007.
35
“Paradigma positivistic memandang reliabilitas temuan penelitian sebagai replikabilitas, yaitu kemampuan hasil penelitian untuk diulang yang dilakukan dengan teknik pengujian berbentuk parallel.” Dependability dalam penelitian kualitatif disebut reliabilitas. Suatu penelitian dikatakan dependability apabila orang lain dapat mengulangi atau mereplikasi proses penelitian tersebut. Dalam penelitian kelaitatif, uji dependability dilakukan dengan cara malakukan audit terhadap keseluruhan proses penelitian. Caranya dilakukan oleh auditor yang independen atau pembimbing untuk mengaudit keseluruhan aktivitas peneliti dalam melakukan penelitian
d. Kepastian/dapat dikonfirmasi (confirmability)
“Confirmability atau konfirmabilitas merupakan serangkaian langkah untuk mendapatkan jawaban apakah ada keterkaitan antara data yang sudah diorganisasikan dalam catatan lapangan dengan materi-materi yang digunakan dalam audit trail54.” Audit trail merupakan langkah diskusi analitik terhadap semua berkas data hasil penelitian, mulai berkas data penelitian sampai dengan transkip pelaporan. Secara lugas, konfirmabilitas dilakukan dengan konfirmasi informasi secara langsung kepada nara sumber dan menghubungkan perolehan informasi satu sama lain. Pengujian confirmability dalam penelitian kualitatif disebut dengan uji obyektifitas penelitian.
Penelitian dikatakan obyektif apabila hasil penelitian disepakati oleh banyak orang.
36 penelitian.
Bab II: membahas tentang paparan data dan hasil temuan di lapangan. Dalam bab ini peneliti akan memaparkan bagaimana model pembelajaran daring di SMP Negeri se-Kecamatan Pujut
Bab III: membahas tentang paparan data dan hasil temuan di lapangan. Dalam bab ini peneliti akan memaparkan bagaimana model pembelajaran luring di SMP Negeri se-Kecamatan Pujut
Bab IV: membahas tentang paparan data dan hasil temuan di lapangan. Dalam bab ini peneliti akan memaparkan bagaimana efektivitas pembelajaran daring dan luring di SMP Negeri se- Kecamatan Pujut
BAB V adalah bab terakhir merupakan bab penutup yang terdiri dari kesimpulan, implikasi teoritis dan saran.
SMP Negeri 1 Pujut di bawah naungan Dinas Pendidikan Kabupaten Lombok Tengah, terletak di jalan Sengkol - Kuta Kecamatan Pujut. Sekolah ini berdiri tahun 1978 dan telah memiliki bangunan sendiri.
Sekolah ini mengugunakan kurikulum 2013 serta pembekalan pengetahuna sebagai bekal untuk melanjutkan Pendidikan kejenjang yang yang lebih tinggi. Sekolah ini merupakan sekolah tertua di Kecamatan Pujut sehingga sumber daya manusia yang yang sudah dihasilkan sudah mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan mampu bersaing dan memiliki wawasan dan ilmu pengetahuan.
Visi SMP Negeri 1 Pujut adalah “Unggul dalam Prestasi Berdasrkan Iman dan Taqwa”, yang mengusung misi sebagai berikut 1) menyelenggarakan pembelajaran secara efektif dan dinamissehingga siswa dapat berkembang secara optimal sesuai dengan potensi yang dimiliki.; 2) menumbuhkan penghayatan terhadap ajaran agama yang dianut dan juga budaya sehingga menjadi kearifan dalam beribadah; 3) menumbuhkan semngat kreativitas penguasaan keterampilan sebagai pengembangan bakat dan minat siswa.
38
SMP Negeri 1 Pujut berdiri di atas tanah seluas 1,3 Ha dan luas bangunan 0,8 Ha, tanah tersebut merupakan milik pemerintah.
Secara geografis terletak pada -8,80047 Lintang Utara, 116,293395 Bujur Selatan dengan batas sekolah sebagai berikut:
1) Sebelah Utara berbatasan dengan rumah warga 2) Sebelah selatan berbatasan dengan jalan kampung 3) Sebelah Barat berbatasan dengan jalan utama sengkol 4) Sebelah timur berbatsan dengan Jalan kampung
Dilihat dari letak geografisnya sekolah ini berada di Ibu kota Kecamatan Pujut yaitu di Desa Sengkol yang merupakan jalur utama menuju sirkuit Mandalika sehingga sangat strategis.
Data guru pada SMP Negeri 1 Pujut terdiri dari Guru PNS dan Guru Tidak Tetap (GTT) serta sebagaian besar mengampu mata pelajaran sesuai dengan keahliannya.
Pada tahun pelajaran 2021/2022, jumlah pendidik dan tenaga kependidikan secara keseluruhan adalah 64 Orang, terdiri tenaga pendidik 55 orang, tenaga Administrasi 9 orang, Untuk lebih jelasnya tentang keadaan pendidik dan tenaga kependidikan SMP Negeri 1 Pujut, dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 2.1 Data Pendidik dan tenaga Kependidikan SMP Negeri 1 Pujut Kabupaten Lombok Tengah
No Nama L/P Status Tugas/Mengajar
1 H. AhmadNasri, S.Pd L S1 Kepsek/Matematika 2 Bq. Ayu Fahmi, S.Pd P S1 Penjaskes
3
Bq. Sri Hendarsih,
S.Pd L S1 IPA
4 Bq. Sukmawati, S.Pd L S1 PAI
5 Sukendar, S.P P S1 Matematika
6
H. Husnul Khatim,
S.Ag P S1 PAI
7 Haudiyah, S.Pd P S1 Bahasa Indonesia 8 H. Muh. Suryadi, S.Pd L S1 BK
9 Ilmi Mediawati, S.Pd L S1 IPS