• Tidak ada hasil yang ditemukan

Implementasi Pendidikan Dalam Eksistensi Nilai Nasionalisme Pada

BAB V PENELITIAN DAN PEMBAHSAN

B. Pembahasan

1. Implementasi Pendidikan Dalam Eksistensi Nilai Nasionalisme Pada

Dalam hasil berikut ini peneliti akan menerangkan tentang implementas Implementasi pendidikan dalam eksistensi nilai nasionalisme pada sekolah Tapal Batas studi kasus Di SMA Negeri 1 Sebatik Tengah Kalimatan Utara, nilai nasionalisme adalah nilai-nilai yang berasal dari semangat kebangsaan yang diharapkan menjadi setandar perilaku warga negara dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, seperti yang dikatakan oleh salah satu siswa NF (17 Tahun) sebagi salah satu siswi di SMA Negeri 1 Sebatik Tengah saat diwawancarai seperti di bawa ini:

“nilai nasionalisme adalah rasa yang akan cinta tanah air, menjujung tinggi bahasa dan budaya serta menaati peraturan-peratuaran yang ada seperti di sekolah dan menjujunga keadilan serta memilihara kebudayaan yang ada dalam negara kita.(hasil wawancara pada tanggal 14 juli 2021)

Implementasi dalam eksitensi nilai nasionalisme pada sekolah SMA Negeri 1 Sebatik Tengah adalah salah satu kegiatan pembelajaran yang bertujuan memperkenalakan dan menanamkan semangat akan cinta tanah air serta menjujung tinggi nilai pancasila, mempertahan keharmonisan dalam bernegeara tampa melihat perbedaan. Kegiatan Implementasi nilai nasionalisme ini sudah dilaksanakan. Berdasakan dari observasi dan wawancara kita bisa mengetahui bagimana penanaman nilai nasionalisme yang dilakukan kepada siswa di SMA

Negeri 1 Sebatik Tengah.

a. Kegiatan-kegiatan rutinitas di sekolah SMA Negeri 1 Sebatik Tengah

SMA Negeri 1 Sebatik Tengah adalah salah satu lembaga garda terdepan dalam menumbuhkan semangat nilai nasionaliseme melalui Implementasi yang dilakukan secara terus menerus, adapun langkah-langkah yang diambil oleh para guru dalam menumbuhkan nilai nasionalisme adalah dengan melakukan kegiatan rutinitas yang berkaitan penanam nilai nasionalisme seperti yang dikatakn oleh pak LK (33 tahun) sebagi guru sosiologi di SMA Negeri 1 Sebatik Tengah saat diwawancara seperti di bawa ini

“ sebelum pandemik ini kami secara rutin setiap hari senin melakukan upacara dan juga setiap hari-hari besar seperti hari kartini kami mengadakan lomba-lomba yang terkait kebudayan seperti fashion show yang dimana siswa yang mewakilai kelas mereka mengnakan baju kebaya dan baju adat lainnya ,lomba cerdas cemat yang terkait dengan hari besar itu dan lomba menyanyikan lagu kebangsaan, hal ini kami adakan bertujuan untuk memupuk semangat nasinalisme kepada paras siswa dan memperkenalkan kebudayaan yang ke aneka rangamn kebudayaan yang kita miliki( hasil dari wawancara 14 juli 2021)

Berdasarkan hasil wawancara di atas bisa dijelasakan bahwa sebelum pandemik ada beberapa upaya dalam menImplementasikan nilai nasionalisme yaitu dengan berbagi kegiatan- kegiatan rutinitas yang dilakukan di sekolah seperti upacara yang dilakukan setipa hari senin dan setiapkali hari-hari pahlawan sekolah SMA Negeri 1 Sebatik Tengah mengadakan beberapa ekstra kurikulum seperti kegiatan fesen sow,lomba cerdascermat dan lomba menyanyikan lagu-lagu kebangsaan hal ini dilakukan bertjuan memicu semangat nilai nasionalisme dikalangan siswa.

41

b. Kebijakan yang dikeluarkan oleh sekolah SMA Negeri 1 Sebatik Tengah Selain langkah-langkah di atas ada juga langka-langkah lain yang diupayakan oleh sekolah seperti membuat beberapa kebijakan seperti yang dikatakan oleh pak LA (50 Tahun) selaku guru mata pelajaran sejarah di SMA Negeri 1 Sebatik Tengah saat diwawan carai seperti di bawa ini:

Ada beberapa upaya yang dilakukan oleh sekolah dalam memupuk akan cinta tanah air atau menanamkan semangat nasionalisme kepada siswa di sekolah seperti kami para guru menerapakan aturan kepada para siswa untuk menggunakan bahasa indonesia yang baku dan kami juga menerapakan untuk mengunakan hanya mata uang Indonesia (rupiah) di sekolah, melihat posisi sekolah ini berada di perbatasan oleh sebab itu kami parah guru membuat aturan ini di sekolah, hal ini bertujuan untuk memupuk semangat nasionalisme di dalam jiwa siswa dan kami juga menempelkan aturan ini disetiap setiap kelas agar mereka meningat aturan ini, jika ada siswa yang melanggar aturan ini kami kenakan sangsi Rp 5.000. setiap pelanggara, selain itu kami juga membuat lombah-lombah setiap hari-hari memperingati pahlawan seperti hari kartini, pada hari itu kami para guru laki-laki mengenakan pakaian batik dan bagi guru perempuan mengenakan kebaya dan hari itu juga kami para guru mengadakan lombah bagi para siswa dan siswi perwakilan setiap kelas seperti cedas cemat, lombah menyanyikan lagu nasional dan lobah kebaya (hasil dari wawancara 06 agustus 2021)

Berdasarakan hasil wawancara di atas bisa dijelasakan ada beberapa upaya atau kebijakan guru yang dilakukan dalam menImplementasi nilai nasionalisme di sekolah SMA Negeri 1 Sebatik Tengah seperti membuat aturan-aturan setiap siswa wajib menggunakan mata uang Rupia dalam berterangsangsi di dalam sekolah dan di dalam sekolah siswa juga wajib mengunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, jika ada aturan yang dilanggar maka akan dikenakan sangsi sepertih setiap pelanggaran yang dilakukan akan dikenakan sangsi Rp 5.000, hal ini dilakukan untuk membuat efek jerah parah siswa untuk tidak melanggar lagi aturan yang dibuat oleh para guru.

c. Metode

Metode yang digunakan dalam pembelajaran untuk memupuk semangat nilainasionalisme di dalam kurikulum dan ekstra kurikulum. Seperti metode yang digunakan oleh para guru di sekolah SMA Negeri 1 Sebatik Tengah yaitu metode 2 menit bisa seperti yang dikatakan oleh pak AN (30 tahun) selaku guru PPKN di sekoalah SMA Negeri 1 Sebatik Tengah saat diwawancarai seperti di bawah ini:

“ terkit dengan langkah-langkah yang saya lakukan selama enam tahun di SMA Negeri 1 Sebatik Tengah yang pertama yaitu memberi pemahaman konsep terlebih dahulu apa si itu nilai nasionalisme dan menyampaikan bertampa petingnya semangat nasionalisme dalam kehidupan sehari-sehari dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara karenan pada perinsipnya nilai nasinalisme itu menyatukan kita semua karena hal ini adalah untuk menyatukan kita semua karena apa, kareana hal ini adalah wujut akan kecintaan kepada tanah air kita tampah melihat perbedaan dan latar belakang kita masing- masing, yang kedua yang harus kita fahami terkit dengan penerapan nilai nasionalisme itu melalui pendidikan kewarga negaraan jadi melalui pendidikan kewarga negaraan saya menerapkan ada metode yaitu metode dua menit bisa, di dalam penerapan dua menit bisa itulah bagai mana penerapan pemahaman konsep itulah bagai mana kita betul-betul kita serapakan kepada siswa dengan cara aktualisasi lapangan artinya kita melibatkan mereka seperti ini nak contoh dilapangan tentang nasionalisme. Hal ini bagai mana kita mengembangkan semangat nilai nasionalisme dari berbagi kegiatan baik itu kegitan internal maupun ekstar baik di dalam maupun di luar sekolah dan itu hal utamanya (hasil dari wawancara 14 juli 2021)

Berdasarkan hasil wawancara di atas bisa dijelasakan bahwa metode yang digunakan dalam Implementasi nilai nasionalisme di SMA Negeri 1 Sebatik Tengah adalah dengan mengunakan metode 2 menit bisa di dalam metode 2 menit bisa ini, guru menerangkan secara teori serta memberikan pemahaman yang lebih mendalam melalui pratek langsung atau melibatkan mereka secara langsung di lapangan. Hal ini bertujuan untuk memberikan siswa pemahaman yang lebih mendalam dan menanamkan semangat nilai nasionalisme.

43

2. Faktor pendukung dan penghambat a. Faktor pendukung

1) internal

faktor pendukung internal dalam mensosialisasli nilai nasinalisme di sekolah SMA Negeri 1 Sebatik Tengah seperti para guru-guru yang memberi contoh kepada siswa dalam mengunakan bahasa Indonesia yang baku dan benar serta guru juga menaati aturan-aturan seperti hanya mengunakan mata uang Rupia di dalam lingkugan sekolah dan guru-guru juaga wajib mengikuti berbagi macam acara atau kegiatan yang bersifat Implementasi terkait penanam nilai nasionalisme di sekolah serta guru-guru juaga tidak bisa membeda-bedakan siswa dalam proses pembelajaran di sekolah hal ini bertujuan menjujung tinggi nilai-nilai nasionalisme seperti yang terkandung dalam pancasila yang lebih tepatnya dalam sila ke lima, seperti yang dikatan oleh pak LA (50 Tahun) selaku guru mata pelajaran sejarah di SMA Negeri 1 Sebatik Tengah saat di wawan carai seperti di bawa ini:

“mulai dari ekonomi diupayakan kita sebagi guru hanya mengunakan mata uang Rupiah tidak mengunakan ringit Malaysia itu di dalam lingkungan sekolah saya yakin jika telah di terapkan di dalam lingkungan sekolah juga di dalam lingkunagan masyarakat menjadi salah satu supor dalam menanamkan nilai nasionalisme, kemudian dari bahasa karena kita telalu dekat dengan negara tetangga kita yaitu Malaysia dan juga di dalam masyarakat jugan kebanyakan mengunakan bahasa campran Malaysia dan bahasa indonesa dalam waktu bersamaan kemudia kita para guru membuat aturan yang di mana di dalam lingkugan sekolah kita wajib mengunakan bahasa Indonesia yang baku benar dan juaga kami para guru juga tidak membeda-bedakan dalam peroses pembelajaran sama ada itu kamu agama apa dan juga kamu suku apa dalam proses belajr kami para guru menganggap para siswa itu sama, hal ini kami lakukan untuk memupuk nila persatuan dan memberi mereka contoh untuk saling menghargai.(07 agustus 2021)

Faktor pendukung dari eksternal dalam menImplementasikan nilai nasionalisme kepada siswa SMA Negeri 1 Sebatik Tengah yaitu dari beberapa lapisan masyarakat seperti tokoh–tokoh masyarakat dan berbagi sumber lainnya seperti dari TNI dan Kepolisian setempat terutama sekolah SMA Negeri 1 Sebatik Tengah bersinergi dalam menImplementasikan nilai nasionalisme kepada siswa SMA Nengeri 1 Sebatik Tengah. Adapun upaya-upaya yang dilakukan dalam Implementasi nilai nasionalisme mengadakan kegiatan Implementasi terkait tentang pentinya memperingati hari-hari pahlawan dilihat dari pada keterangan seperti dikatakan oleh bapak LM (33 tahun) selaku guru pendidikan sosiologi di sekolah SMA Negeri 1 Sebatik Tengah saat diwawancarai, di bawah ini:

ada tiga kompunen yang ada dalam lapisan masyarakat yang saling bersinergi dalam melaksanakan Implementasi nilai nasinalisme yaitu pemeritah setempat, guru-guru di sekolah dan masyarakta. Seperti kegiatan 17 agustu yang dimana banyak kegitan yang berkaitan tentang nili-nilai nasionalisme seperti lombah-lombah menyanyikan lagu-lagu kebangsaan, cerdas cermat dan melakukan upacara di lapangan, hal ini yang tadi saya sebutkan bertujuan untuk meningkatkan rasa nasionalisme kepada gerasi mudah kita dan dibantu oleh berbagi lapisan masyarakat sehingga kegitan Implementasi nilai-nilai nasionalisme ini berjalan dengan lancar”(hasil wawancara 14 juli 2021)

45

Berdasarkan hasil wawancara dan observasi peneliti bisa dijelaskan bahwa sosilisasi dalam eksitensi nilai nasionalisme di sekolah SMA N 1 Sebatik Tengah berjalan dengan baik serta beberapa komponen eksternal yang datang dari masyarakat yang berkerja sama dalam melaksanakan kegiatan umtuk menumbuhkan semangat nilai nasinalisme melalui kegiatan tuju belasan, hal tersebuat sangatlah penting dalam membina semangat akan cinta tanah air kita di daerah perbatasan

b. Faktor penghambat 1) internal

faktor penghambat internal dalam Implementasi nilai nasionalisme di sekolah SMA Negeri 1 Sebatik Tengah yang para guru alami seperti rentang waktu yang lama dan motifasi para siswa dalam mengikuti kegiatan Implementasi kurang antusias seperti yang yang dikatakan oleh pak AN (30 tahun) selaku guru PPKN di sekoalah SMA Negeri 1 Sebatik Tengah saat diwawancarai seperti di bawah ini:

terkait hambatan-hambatan yang saya alami selama menjadi guru kurang lebih 6 tahun di SMA Negeri 1 Sebatik Tengah ini adalah membutuhkan retang waktu dalam penerapan penanaman konsep tentang nasionalisme kepada siswa dan juga kita perlu kesabaran tingkat tinggi oleh guru dan penyampaiannya juga harus berulang-ulang baik itu dalam kegiatan piket, peroses dalam pembelajaran di dalam kelas dan juga momen-momen tertentu untuk menigkat korsa dan rasa terkait tentang semangat nasionalisme dan ada juga hambatan yang lain yang saya alami lagi adalah dari siswa yang kurang fokus dalam mengikuti Implementasi yang kami berikan karena mereka beranggapan nasionaliseme itu bukan lagi patokan utama akan tetapi mereka lebih berfokus dalam kehidupan sehari-hari mereka karena menurut mereka Implementasi nilai nasionalise itu kurang menarik untuk mereka itu jadi hambatan yang saya rasakan dan kami parah guru juga sudah berusaha sebisa mungkin dalam memupuk nilai nasionalisme melalui berbagi kegitan proses pembelajaran baik itu dalam sekolah maupun di luar sekolah akan tetapi pengaplikasian dari siswa itu kurang maksimal dan kalau saya bisa kakulasikan berkisaran 80% dari siswa itu bisa

menaplikasikan dan 20% kurang bisa dalam penaplikasian, hal ini terjadi di karenakan pengaru dari lingkungan sekitar yang telah terpengaru dari luar.(hasil dari wawancara 06 agustus 2021)

Berdasarkan hasil wawancara di atas peneliti menjelaskan bahwa penghambat internal dalam Implementasi ada beberapa yaitu motifasi siswa yang kurang dalam mengikuti kegiatan Implementasi terkait nilainasionalisme serta waktu yang kurang sehingga penanaman nilai nasionalisme tidak oktimal.

2) Eksternal

Faktor penghambat dari Implementasi dalam eksitensi nilai nasionalisme pada sekolah Tapal Batas studi kasus Di SMA Negeri 1 Sebatik Tengah adalah dari berbagi pengaruh dari luar seperti contoh dari luar iya itu, banyaknya produk- produk dan mata uang asing yang masuk dalam pulau Sebatik dan siaran TV yang berasal dari Malaysia. Hal ini sangat berpengaruh tentang moral dan semangat nasinalisme parah siswa di sekolah, hal ini terjadi dikarenakan mobalitas yang sangat dekat dengan negara tetangga serta siswa mengkomsumsi berbagi informasi yang berasal dari Malaysia. Jadi hal yang wajar kalau siswa lebih mengetahi hal-hal terkait negara tentangga dari pada negara sendiri dan tidak menutup kemungkinan banyak siswa lebih membanggakan negara tentangga dari pada negara tercinta ini bahkan banyak siswa putus sekolah dikareankan mereka lebih memilih untuk kerja di negara tentangga dan menetap di negara tetangga atau dengan kata lain menukarkan kewarga negaraan. Seperti yang dikutip dari hasil wawancara di salah satu siswa dengan inisial MH (17 tahun) sebagi salah satu siswa di SMA Negeri 1 Sebatik Tengah seperti di bawa ini:

“seperti kita lihat sendiri kebanyakan masyarakat di Sebatik membudayakan kebudayaan dari luar seperti bahasa Malaysia,produk Malaysia dan banyaknya

47

masyarakat yang melihat siaran –siaran dari TV Malaysia sehinga masyarkat lebih update informasinya negara tetangga di bandingkan negara sendiri, di sini juga itu kak banyak juga orang memiliki dua kewarga negaraan di karnakan ada beberapa warga Sebatik tenggah menikah dengan warga negara tengga dan pindah kenegara tetanggan.( hasil wawancara 06 agustus 2021)

Berdasarkan hasil wawancara di atas bisa dijelaskan dalam kehidupan sehari- hari masyarakat pulau Sebatik telah terpengaruh dari budayaan seperti bahasa dan siaran-siaran TV Malaysia yang dikonsumsi oleh masyarakat setempat sehingga kebiasaan serta motivasi terkait semangat nilai nasionalisme mereka kurang sehingga anak-anak para warga kurang memiliki jiwa semangat nsionalisme dan ada juga para warga memiliki dua kewarga negaraan sehingga mereka kurang menjiwai semangat nasionalisme.

hasil dari perpaduan faktor-faktor politik, ekonomi, sosial, dan intelektual nasionalisme adalah campuran dari bidang sosial, ekonomi, intelektual, dan politik. (raibawaajus, 2012). Berdasarkan penjelasan dapat di uraikan bahwa nassionalisme adalah rasa persatuan dalam mepertahankan jati diri bangsa denagan cara meberikan kesetiaan yang tinggi kepada negara serta mengutamakan produk dalam negeri hal ini salah satu betuk dukungan sesama warga negar.

Dalam membangkitkan samangat jiwa nasionalisme kepada kepada wanga negara yaitu melalaui salah satu upaya yang dapat di gunakan adalah melalaui pendidikan. Sebagi salah satu dari garda terdepan dalam mencerdaskan bangsa dan mendidik generasi muda, sekolah SMA Negeri 1 Sebatik Tengah sudah melakukan berbagi upaya mendidik moral bangsa dan salah satunya dalam menImplementasikan nilai nasonalisme kepada siswa, hal ini dilakukan untuk menumbuhkan rasa cinta akan tanah air kepada siswa melalui pembelajaran.

Seperti dikatakan Rohamalina Wahab (2016). Lingkungan sekolah adalah semua kondisi disekolah, yang mempengaruhi tingkah laku warga sekolah, terutama guru dan siswa. Pada dasarnya dalam peroses interaksi ada beberapa yang dapat mempengaruhi sama ada itu dari internal yang berasal dari individu itu sendiri maupun dari eksternal yang berasal dari linkugan. Proses pembelajaran sangat erat hubunganya dengan linkungan sehingga siswa dan sekolah membutuhkan lingkungan dalam pembelajaran yang baik dalam menImplementasikan nilai nasionalisme.

a. Kegiatam rutinitas di sekolah SMA Negeri 1 Sebatik Tengah.

49

Sebelum pandemik ada beberapa upaya dalam menImplementasikan nilai nasionalisme kepada siswa seperti upacara setiap hari senin, upacara penurunan benderan setiap hari sabtu dan pada hari nasional seperi memperingat hari-hari pahlawan biasanya sekolah mengadakan kegiatan seperti hari kartini para guru mengadakan kegiatan seperti fashion show yang bertema batik dan kebaya, cerdas cermat dan lomba menyanyikan lagu-lagu kebangsaan. Kegiatan ini sangat baik dilakuan untuk menimbulkan semangat nasinalisme kepada siswa akan tetapi kegiatan ini kurang dilaksanakan karenakan pandemik sehingga kegiatn yang tadi dilaksanakan di lapangan tapi sekarng dilaksanakan secara virtual akan tetapi kegiatan upacara menaikan bendera dan penurunan benderan tetap dilakukan secara perwakian dari setiap kelas yang bertugas turun kesekolah untuk melakukan upacara serta siswa yang lain mengikuti upacara secara virtual.

Hal ini seperti yang dikatakan Riadi (2019), iya menjelaskan bentuk-bentuk nilai nasionalisme salah satunya yaitu Nasionalisme romantik atau nasionalisme organik atau bisa disebut dengan nasionalisme identitas adalah negara memperoleh kebenaran politik secara organik dari adanya kesamaan bangsa atau ras, menurut semangat romantisme cerita heroik yang terjadi dalam sejarah atau ras yang bersangkutan. Dalam hal ini identitas karena rasa kesamaan bangsa dan ras akan timbul dikarenakan memiliki rasa tanggung jawab yang sama. Dalam hal ini sekolah mengadakan kegiatan untuk mengenag para pahlawan dan menanamkan semagat nasionalisme kepada siswa

b. Kebijakan yang dikeluarkan oleh sekolah SMA Negeri 1 Sebatik Tengah.

Ada beberapa kebijakan atau aturan-aturan yang dikeluarkan oleh parah guru untuk memupuk nilai nasionalisme keapada para siswa seperti membuat aturan- aturan hanya menggunakan mata uang rupia di dalam lingkungan sekolah dan di dalam sekolah siswa wajib mengunakan bahasa Indonesia, apa bila ada yang melanggar aturan ini akan dikenakan sangsi yaitu denda setiap kali penlanggaran sebesar Rp5.000,00. Uang hasil pelanggaran ini akan digunakan untuk pembangunan mesjid atau disumbangkan kepada orang yang membutuhkan.

Kebijakan ini dibuat bertujuang untuk mendisplinkan siswa dan mengatur lingkugan sekolah agar lebih tertip serta memperkenakan kepada merekan akan mencintai bahsa kebangsaan dan mata uang indonesai serta hasil sangsi yang dikenakan kepada merekan akan disalurkan kepada pembangunan masjid dan disalurkan kepada masayarakat yang dibutuhkan hal ini bertujuan untuk peduli kepada lingkungan dan peduli akan sesasma.

Hal di atas bisa dikaikan dengan teori sistem sosial yang dikemukan oleh Herbert spenser (2015) di dalam teori ini menjelaskan bahwa aturan-aturan yang dikeluarkan bertujuaan untuk mengatur lingkungan sosial, di dalam hal ini para guru di sekolah membuat aturan-atuan untuk pesertadidik agar tertip serta mendisplilinkan siswa, agar menggunkan mata uang rupiah di dalam sekolah dan hanya mengunakan bahasa Indonesia di dalam lingkungan sekolah.

c. metode

Metode 2 menit biasa adalah metode yang menjelasakan teori secara mendalam serta memberikan contoh yang nyata dilapangan. Metode ini juga

51

digunakan oleh para guru di sekolah SMA Negeri 1 Sebatik Tengah untuk menImplementasikan nilai nasionalisme kepada siswa.

Hal ini bisa dikaitakan dengan teori Teori Interaksionisme Simbolik oleh Herbert Blumer dan George Herbert Mead iya menjelaskan Teori interaksionisme simbolik berfokus pada bagaimana ekspektasi guru dapat mempengaruhi kinerja, persepsi, dan sikap siswa di kelas.

Akan tetapi metode ini kurang efektif dalam Implementasi nilai nasionalisme karena di dalam metode ini guru hanya menjelaskan dan memberikan contoh langsung di lapangan sehingga siswa kurang antusias dalam mengikuti pembelajaran, jadi para guru juga harus perbanyak metode yang harus dikuasasi atau membuat perubahan sedikit di dalam metode yang digunakan, seperti metode 2 menit bisa ini bisa diubah sedikit misalnya guru menjelaskan tentang teori, memberikan contoh serta memberi petanyaan dan siapa yang bisa menjawab akan mendapatka hadia sehigga siswa antusias dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.

Hal ini diharapka untuk mencapai tujuan dari Implementasi nilai nasionalisme seperti yang dikemukan oleh Darmadi Hamid (2013) yaitu setiap siswa dapat mengenal nilai dan norma yang berlaku di dalam masyarakta secara efetif kepada siswa.

2. Faktor pemdukung dan penghambat a. Faktor pendukung

1) Internal

Faktor pendukung internal seperti adanya fasilitas yang menunjang Implementasi nilai nasionalisme seperti adanya lapangan upacara yang sangat luas

sehingga mudah melakukan kegiatan upacara serta kegiatan lain yang berkaitan tentang Implementasi nilai nasionalisme, adanya leb komputer yang bisa digunakan untuk mencari data–data dan informasi terkait pembelajaran di sekolah, pepustakan sekolah yang bisa siswa gunakan untuk membaca dan mencari informasi dan memupuk semangat membaca kepada para sisawa, foto-foto pahlawan yang dipajang setiap kelas bertujuan untuk memperkenlakan para pahlawan kemerdekaan, perisiden dan wakil perisiden bertujuan untuk memperkenakan perisiden dan wakil perisiden yang lagi memimpin bangsa ini kepada siswa serta adanya lembaran kertas yang tertempel disetiap kelas tetang atuarn hanya mengunakan mata unag rupian di dalam sekolah dan aturan hanya mengunakan bahasa Indonesia di dalam sekolah hal ini bertujuan untuk menertipkan dan menImplementasi semangat nasionalisme dengan mencintai mata uang negara dan bahasa kebangsaan bahsa Indonesian

para guru juga memberi contoh yang baik kepada siswa seperti di dalam proses belajar memngajar di sekolah guru juga hanya mengunakan bahasa Indonesia yang baku serta di dalam linkungan sekolah guru hanya mengunakan mata uang rupiah, hal ini dilakukan bertujuan untuk memberi semangat mora siswa dalam mengikuti aturan yang dibuat oleh sekolah.

2) Eksternal

Faktor pendukung eksternal seperti adanya kerjasama dengan beberapa lapisan masyarakat dalam menImplementasikan nilai nasionalisme antarlin kepolisian, TNI dan tokoh-tokoh masyarakta yang saling bersenergi dalam melakukan kegiata Implementasi terkait nilai-nilai nasionalisme seperti seminar

Dokumen terkait