• Tidak ada hasil yang ditemukan

Etika Penelitian

BAB III METODE PENELITIAN

J. Etika Penelitian

Dalam melakukan penelitian, peneliti terlebih dahulu meminta izin terlebih dahulu pada informan sebelum melakukan wawancara atau mengambil gambar informan dan menjaga kerahasiaan informan.

35 BAB IV

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

A. Sejarah Lokasi Penelitian

Pada tahun 1961 Desa Harapan berasal dari Desa Lajoangin, yang di nahkodai Oleh Bapak DG. Kambo selama 3 tahun dan pada tahun 1964 di adakanlah pemilihan kepala Desa yang pertama yang terpilih pada saat itu adalah Bapak H. Malik. R dari Kelurahan Lompo Riaja beliau memimpin selama 24 tahun namun menjelang 2 tahun kepemimpinannya Menrong dan tompo lemo-lemo keluar dari wilayah desa Libureng sehingga Kepala Desa yang terpilih yaitu H. Malik. R menggabungkan wilayah tersebut Ke Desa Lajoangin dan pada saat itu pula Desa Lajoangin Diubah Namanya menjadi Desa Harapan dalam artian “bahwa masyarakat selalu berharap selalu ada Harapan kedepan yang lebih baik” dan kantor Desa pun dipindahkan pemilihan Kepala Desa yang keDua kalinya dan terpilih pada saat itu H. Arif.

Halim yang juga berasal dari Kelurahan Lompo Riaja beliau memimpin Harapan selama 10 tahun. (Sumber, kantor Desa tanggal 14/09/2020)

Desa Harapan terbentuk karena dianggap perlu adanya pemekaran Desa disebabkan Desa Libureng pada saat itu memiliki jangkauan wilayah terlalu luas sehingga tata kelola Pemerintahan, Pembangunan, serta Pelayanan dan pengawasan Pemerintah Desa sulit terjangkau, awalnya dibentuklah Persiapan Pemekaran Desa dengan menamakan Desa Persiapan Lajoangin, setelah menjadi Desa Definitif dinamakanlah Desa Harapan, dikatakan Desa

Harapan karena awalnya Desa ini Cuma 4 Dusun yaitu Dusun Menrong, Dusun Lajoangin, Waruwue, Dusun Ammerung dan Dusun Ampiri pada tahun 1994 terjadi lagi pemekaran Desa yaitu Desa Harapan terbagi 2 yaitu Desa Harapan dan Desa Bacu-Bacu sehingga 2 Dusun terpisah dari Desa Harapan kemudian masuk menjadi wilayah Desa Bacu-Bacu sehingga Desa Harapan tinggal 4 Dusun yang menjadi wilayah binaanya:

Adapun Luas Wilayah Desa Harapan adalah 53.10 Ha Dengan Batas Wilayah Yaitu:

Sebelah Utara : Desa Anabanua Sebelah Selatan : Desa Bacu-Bacu

Sebelah Timur : Desa Gattareng Ka. Soppeng Sebelah Barat : Desa Libureng

Untuk lebih jelasnya berikut silsilah Kepada Desa yang pernah memimpin desa Harapan dari zaman dahulu sampai saat ini :

1. DG. KAMBO. Periode Tahun 1961-1963 (Pejabat) 2. H. MALIK. R Periode Tahun 1964-1998 ( Definitif) 3. H.ARIF. HALIM Periode Tahun 1989-1998 (Definitif) 4. NAHIRUDDIN Periode Tahun 1999-2001 (Pejabat) 5. SUKARDIMAN Periode Tahun 2001-2006 (Definitif) 6. H. NAHIRUDDIN. Periode Tahun 2007-2012 (Definitif)

7. DRS. H. SYARIFUDDIN T. Periode Tahun 2013-2016 (Pejabat) 8. LUKMAN HASI, SE Periode Tahun 2017-2023 (Definitif) (Sumber, kantor Desa tanggal 14/09/2020)

Wilayah Desa Harapan terangkum dalam wilayah Kecamatan Tanete Riaja Pada Tahun 1961.

Pada tahun 90an wisata Lappa Laona sudah ramai dalam 2 kali setahun saat habis lebarang. Masyarakat berbondong-bondong ke Lappa Laona untuk berfoto-foto dan juga cari jaringan karena jaringan di sana belum bisa tejangkau seperti desa yang lain. Lappa Laona dapat terkenal karena adanya dulu mobil outprut yang diadakan oleh anaknya bapak bupati yang bernama Andi sahaluddin Rum. Karena masyarakat tidak pernah mengekspor foto-foto dan disitu juga saat mulai canggih alat elektronik seperti hp dan jaman- jamannya Facebook pada tahun 2008. Dan pada tahun 2012 pemerintah mulai melirik di Lappa Laona dan mengembangkan menjadi wisata. Pada akhirnya 2018 mulai terkelolah dan membangun wahana-wahana sekaligus meresmikannya. Kemudian tahun 2019 dibangunlah mushola dan pada tahun 2020 dibangun juga gazebo. (Sumber, Wawancara Dewantara, 14/09/2020) B. Letak Geografi

Desa Harapan terletak di Daerah Wilayah Kecamatan Tanete Riaja dengan luas wilayah 53.10 Ha/m2 dan objek wisata Lappa Laona terletak di Dusun Waruwue dengan luas wilayah 20 hektar dan jarak tempuh dari ibu kota Barru ke Lappa Laona 60 km. Desa Harapan terdiri dari 6 Dusun, 19 RT, Kecamatan Tanete Riaja Kabupaten Barru. Dengan batas wilayah sbb:

Batas Desa/kelurahan Kecamatan

Sebelah utara Desa Anabanua Barru Sebelah selatan Desa Bacu-Bacu Pujananting

Sebelah timur Desa Gattareng Marioriwawo Kab. Soppeng Sebelah barat Desa Libureng Tanete Riaja

Table. 4.1 batas wilayah Desa Harapan.

Secara visualisasi, wilayah administratif dapat dilihat dalam Peta Wilayah Desa Harapan Sebagai berikut;

Gambar. 4.1 Peta Desa Harapan (Sumber, kantor Desa tanggal 14/09/2020) C. Keadaan Penduduk

Jumlah penduduk Desa Harapan termasuk kurang padat atau padat jika dibandingkan dengan luas wilayah desa. Hal ini dapat dilakukan pada tahun 2016, tercatat jumlah penduduk Desa Harapan sekitar 3.924 jiwa dengan perbandingan laki-laki 1.944 jiwa dan perempuan sebanyak 1980 jiwa.

Penduduk Desa Harapan merupakan salah satu aset desa dalam pelaksanaan pembangunan. Hanya saja sumber manusia masyarakat belum memadai karena rendahnya pendidikan, sehingga harapan untuk mengubah pola pikir masih renda. Jumlah penduduk Desa Harapan dapat dilihat pada tabel di bawah ini. (Sumber, kantor Desa tanggal 14/09/2020)

Keadaan penduduk yang tinggal di Desa Harapan terbagi menjadi dua jenis kelamin yaitu laki-laki dan perempuan. Jumlah penduduk Desa Harapan dapat dilihat sebagai berikut:

No Jenis Kelamin Jumlah (Jiwa)

1 Laki-laki 1889

2 Perempuan 1942

Total 3831

Table. 4.2 jumlah penduduk Desa Harapan

Sumber : Sensus Penduduk Profil Desa Harapan Tahun 2020 D. Keadaan Pendidikan

Keadaan pendidikan di Desa Harapan yang dimiliki rata-rata mayoritas pendidikan tamat SD. Di Desa Harapan memiliki 5 kelompok bermain sehingga keberadaan anak-anak yang usia dini dan tempat bermainnya.

Terdapat 2 sekolah dasar Negeri, Sekolah Dasar Inpres 5 sekolah dan 2 Madrasah Ibtidaiyah di Desa Harapan. Sekolah lanjut tingkat pertama di Desa Harapan memiliki 3 bangunan. Sedangkan sekolah lanjut tingkat atas belum ada, sehingga yang melanjutkan pendidikanya ke jenjang SMA harus keluar Desa ada yang memiliki ke ibu kota Kecematan Tanete ke Kabupaten dan ada juga yang melanjutkan pendidikannya di pesantren. (Sumber, kantor Desa tanggal 14/09/2020)

40 BAB V

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Kesimpulan Hasil Penelitian

1. Dampak Sosial Objek Wisata Lappa Laona di Era Covid-19

Dampak sosial objek wisata sangat berdampak pada masyarakat yang berdagang di Lappa Laona. Karena masyarakat berinisiatif membuka usaha kecil-kecilan untuk menambah pendapatan sehari- harinya. Dengan ini memiliki perubahan yang terjadi pada objek wisata dapat melibatkan masyarakat setempat untuk berdagangan dikawasan ini.

Namun objek wisata Lappa Laona masih dalam proses pembentukan mengakibatkan masyarakat tidak tertata secara struktural oleh pemerintah sehingga terjadi ketidak aturan dalam jual beli. Objek wisata Lappa Laona berbentuk secara alami yang dikembangkan oleh BUMDES (Badan Usaha Miliki Desa) sebagai daya tarik pariwisata dan sumber pendapatan masyarakat.

“Lappa Laona ini terbentuk secara alami dan masih dalam kawasan hutan korupsi yang dikelola oleh badan milik desa.

Banyaknya orang yang datang berkunjung di kawasan ini, pemerintah melihat potensinya yang ada sehingga mengakibatkan mendorong untuk dikembangkan.” (D.1/Observasi/08/09)

Pembangunan objek wisata ini terbentuk secara alami sudah sejak lama namun melihat potensinya banyaknya pengunjung yang datang berkunjung mengakibatkan pemerintah mendorong keinginan untuk mengembangkan dalam meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar

objek wisata ini. Sehingga dibentuklah pembangunan ini untuk sebagai pendapatan ekonomi masyarakat.

a. Dinamika Masyarakat di Objek Wisata Era Covid-19

Hubungan sosial masyarakat dengan objek wisata ini memiliki interaksi sangat baik. Karena dengan adanya objek wisata Lappa Laona ini bisa membuka usaha kecil-kecilan untuk membuka lembaran yang baru dalam menambah pendapatan sehari-harinya. Namun tidak disadari dengan adanya objek wisata juga melibatkan konflik pada masyarakat di bagian distribusi karena sama-sama ingin mendapatkan posisi yang sama dalam mengelola dibagian distribusi.

Dinamika masyarakat di objek wisata Lappa Laona di tengah pandemik covid-19 mengakibatkan terjadinya renggang komunikasi antara masyarakat dalam membangun objek wisata dengan pihak pengelola.

“objek wisata ini belum terstrukturnya pengelola dengan baik sehingga mengakibatkan renggang komunikasi terhadap masyarakat dalam membangun.” (D.1/Observasi/08/09)

Pembangunan objek wisata ini belum terstrukturnya yang efektif dalam pengelola mengakibatkan pola komunikasi masyarakat jarang berinterakasi pada pengelola. Pengelola objek wisata ini pada masyarakat yang berdagang memiliki komunikasi yang renggang dalam membangun tanpa berdiskusi dengan masyarakat dia tetap bekerja.

Hadirnya objek wisata ini mengakibatkan interaksi pengelola dengan masyarakat tidak baik karena pola komunikasi antara pengelola

tidak bekerjasama dalam mempertimbangkan pengelola objek wisata sehingga penataan perdagangan tidak teratur. Dengan hasil wawancara yang sama diutarakan oleh bapak (DT/ 20/09/2020) berikut:

Masyarakat dengan pengelola renggang komunikasi, pengelola bekerja saja tanpa meminta pertimbangan dari masyarakat disini.

Tidak memberi izin pada masyarakat disini tanpa berdiskusi. Tapi mulai sekarang itu karena pemuda sudah mendorong untuk pengundian pengelola, koordinasi dengan masyarakat. Saya lihat sudah mulai saat ini itu sudah, bahkan kedepannya itu kita melakukan musyawara untuk pengembangan wisata Lappa Laona.

(D.4/WW/AR/L)

Belum terstrukturnya pengelola mengakibatkan terjadinya konflik pada masyarakat karena tidak bekerjasama dalam mempertimbangkan pengelolaan objek wisata sehingga penataan perdagangan tidak teratur.

Bentuk-bentuk dampak sosial di objek wisata terhadap masyarakat, yaitu salah satunya covid-19 karena ditutupnya objek wisata sehingga proses struktur pengelolaan wisata tertunda dan mengakibatkan belum efektif pengelolaanya. Dengan hasil wawancara yang sama diutarakan oleh bapak (DT/ 20/09/2020) berikut:

Tidak ada, karena mungkin itu belum adanya pengelola yang jelas sebagaiamana tertera dalam sebuah sk, secara kan pengelola ini per rt dia, belum ada yang kayak strukturnya secara organisasi sebelum, sekaran masih tahap rintisan, karena itu mi. Salah satu dampaknya itu karena covid ini, karena munking sebenarnya seandainya belum ada covid yeah mungkin dari kemarin-kemarin pengeelolaannya sudah efektif sebenarnya. Karena dari sejak kemarin-kemarin sudah direncanakan tapi dengan tiba-tiba adanya ini covid yeah terkendala mi semua. (D.2/WW/ DT/L)

Pada masyarakat yang berdagang di objek wisata secara menyeluruh tidak terlalu berdampak karena mereka memiliki sumber pendapatan yang lain selain dari perdaganganya karena masyarakat

sekitar objek wisata ini mayoritas petani dan perkebunan. Mereka yang berdagang di objek wisata ini untuk menambah pendapatan sehari- harinya. Objek wisata Lappa Laona masih proses pembentukan dan masih tahap rintisan sehingga belum adanya pengelola yang jelas dan tidak strukturnya dalam penataan dalam pengelolaan wisata. Dengan hasil wawancara yang sama diutarakan oleh bapak (DT/ 20/09/2020) berikut:

Pemerintah melarang, dulu yeah pada saat covid itu artinya lagi marak-maraknya pemerintah itu melarang dibuka, pemerintah ini bahwa pengelola menutup sementara objek wisata. Melarang keras masyarakat membuka objek wisata karena persoalan jangan sampai terjadi penularan di objek wisata. Orang kan pergi melepas penyakit misalnya kan atau apalah intinya orang kesana itu pergi bersenang- senang, ketika terjadi penularang kan nda baik kesanya.

(D.2/WW/DT/L)

Hubungan sosial masyarakat dengan pemerintah dalam pengelolaan ini, interaksi masyarakat terhadap adanya wabah covid-19 mengikuti aturan protokol kesehatan dan mereka juga sempat tutup objek wisata beberapa bulan. Disaat dibukanya kembali mereka tetap mengikuti aturan protokol kesehatan seperti mengunakan masker, cek suhu tubuh pengunjung sebelum masuk, dan sering mencuci tangan untuk menjaga penularan di objek wisata.

b. Keterlibatan Masyarakat Dalam Pembentukan Objek Wisata Lappa Laona

Dalam pengembangan objek wisata ini memiliki potensi daya tarik agar wisatawan yang berkunjung nyaman menikmati keindahan alam dan fasilitas-fasilitas yang dibangun oleh pemerintah untuk

meningkatkan pendapatan daerah seperti, gazebo, flying fox, spot foto.

Dalam hal ini masyarakat tidak di libatkan dalam pembentukan objek wisata.

Keterlibatan masyarakat dalam pembangunan saya melihat, masyarakat yang dipanggil dalam menata pembangunan yang dibangun pada objek wisata. Seperti memperbaiki fasilitas yang dibangun, perjalanan masuk ke objek wisata.

(D.1/Observasi/08/09)

Setiap objek wisata tentunya dapat memerlukan penataan yang baik agar daya tarik pengunjung semakin banyak. Dalam penataan ini masyarakat yang di libatkan untuk merenovasi yang dibutuhkan di objek wisata, dengan ini masyarakat juga memiliki pendapatan lain selain dari hasil pertanian dan kebun nya. Dengan adanya objek wisata ini di tengah masyarakat, mereka bisa mendapatkan penghasilan dari objek wisata.

Objek wisata ini terdapat pembentukan dalam pembangunan, namun masyarakat tidak dirumuskan dalam pembentukan ini karena belum terstrukturnya pengelola. Masyarakat nantinya terima jadi dalam pembentukan objek wisata yang sudah dibentuk oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDES). Dari hasil wawancara (LH/ 29/09/2020) sebagai berikut:

“Ini kan Lappa Laona masih kawasan hutan korupsi, dikelola melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDES), dan sementara mengurus di pemerintah kehutanan. Kan nanti itu di atas semenatara dikelola kan ada bangunan di atas, adapun daya tarik apa dan sebagainya. Nantikan kalau pemerintah sudah mengijinkan yah baru dibentuk pengelola di atas. Masyarakat di atas tidak di libatkan dalam perumusan ini, karena ini kan masyarakat ceritanya terima jadi, artinya sebagai pengelola tinggal dikasih masuk kan mami. (D.1/WW/LH/L)

Objek wisata Lappa Laona merupakan kawasan hutan korupsi di Desa Harapan dan masih sementara pengurusan di pemerintah.

Pembangunan ini masih proses pembentukan pada struktur organisasi pengelolaan sehingga untuk sementara ini masih belum efektif pengelolaannya. Dengan adanya pembangunan ini kedepannya akan terkelolah dengan baik di saat struktur pengelolaan nya sudah tersusun dan sudah ada izin dari pemerintah. Pembangunan ini di bangun untuk meningkatkan pendapatan daerah agar masyarakat sekitar juga punya inisiatif untuk memiliki usaha kecil-kecilan di objek wisata ini.

Dengan hasil wawancara yang sama diutarakan oleh bapak (DT/

20/09/2020) berikut:

“Terbentuk secara alami sebenarnya Ndi, artinya Tanpa di libatkan masyarakat itu artinya pemerintah ini langsung berpikir bahwa yang ini harus dikembangkan, karena tidak terencana bahwa kita buat wisata lalu kita perkenalkan tidak, setelah melihat potensinya “ooh bagusnya ini kalau kita kembangkan sebagai objek wisata.”

(D.2/WW/DT/L)

Proses pembentukan Lappa Laona pada umumnya berbentuk secara alami yang banyak dikunjungi oleh masyarakat sekitar sehingga pemerintah melihat potensi yang ada dibentuklah sebagai objek wisata.

Namun, wisata ini masih kawasan hutan korupsi sehingga masyarakat yang kelolah atas nama BUMDES dan usaha-usaha lainya di pariwisata.

Dalam keterlibatan masyarakat pada objek wisata tidak melibatkan masyarakat dalam perumusan pembentukan objek wisata, karena masyarakat nantinya akan menerima jadi pembangunan objek

wisata dalam pengelolaan untuk dikembangkan setelah melihat dari potensi yang ada di Lappa Laona.

c. Keterlibatan masyarakat dalam proses pengelolaan objek wisata Lappa Laona

Pada kriteria/prasyarat dalam keterlibatan masyarakat sebagai pengelolah wisata tidak ada kriteria. Namun masyarakat yang sebagai pengelolah tetap dengan mengunakan persyaratan yang ada.

Dengan adanya objek wisata di tengah-tengah masyarakat dan melihat banyaknya pengunjung yang datang sehingga masyarakat berinisiatif membangun usaha kecil-kecilan untuk menambah pendapatannya yang dulunya hanya mengandalkan lahan pertanian, perkebunan untuk mencari nafkah.

Masyarakat di libatkan di objek wisata pada saat ada pembangunan yang di bagun, seperti adanya fasilitas yang dibangun masyarakatlah yang dipanggil untuk menata objek wisata. (D.2/Observasi/08/09)

Di libatkannya masyarakat pada objek wisata dapat menambah pendapatanya dari hasil kerjanya dalam membangun fasilitas yang dibangun pemerintah. Tapi masyarakat yang di libatkan sebagai dalam membangun di objek wisata. Dengan ini masyarakat dapat memiliki penghasilan lain dari sebelumnya. Seperti yang diutarakan dari hasil wawancara oleh (DT/ 20/09/2020) berikut:

“Kalau untuk sekaragn belum, artinya karena belum terlalu efektif pengelolaanya. Tetapi kedepannya akan ada, nanti disitu pengelolanya minimal pake ijasa, umur juga dibatasi (umur 45 tahun kebawa) karena banyak orang yang mau, harus ada

persyaratan-persyaratanya sehingga yang mengelola itu terbatas karena pengelola wisata kan nda baik kalau terlalu banyak, apalagi kalau baru pemula begitu. Setelah ini sekarang kan sudah ada pokdarwis istilahnya kelompok sadar wisata, cuman belum efektif itulah yang perlu dipol api ketika sudah ada pengurus secara resmi artinya pengurus secara resmi ini pengurus yang ada sk nya dari kabupaten, dinas pariwisata karena untuk sementara kan pengelolanya itu atas dasar dari desa, artinya sekarang ini pendapatanya Lappa Laona ini kan sudah masuk di daerah cuman belum seefektif sebagaimana yang direncanakan.”

(D.2/WW/DT/L)

Pembentukan objek wisata ini tidak memiliki kriteria yang jelas karena struktur pengelolaan ini belum efektif. Sehingga pengelolaan objek wisata ini untuk sementara melakukan pergiliran pengelolaan per RT agar pengelolaan nya di objek wisata ini adil dalam masyarakat.

Namun di saat keadaan sudah kembali seperti dulu objek wisata ini pengelolanya sudah jelas karena sudah jelas struktur organisasi pengelolanya. Tapi untuk saat ini belum diperlakukan karena terkendalanya dengan adanya wabah covid-19.

Dalam melibatkan masyarakat dengan mengelola objek wisata agar untuk mengembangka objek wisata dengan mengelolah apa yang dibutuhkan seperti merawat lingkungan, berdagang, dll. Seperti yang diutarakan dari hasil wawancara narasumber ole Dengan hasil wawancara yang sama diutarakan oleh bapak (LH/ 29/09/2020) berikut:

“Oh jelas di libatkan disitu, artinya ada beberapa bumdes unit ini membentuk masyarakat dibawa sebagai pengelola karcis, pungut sampah di dalam dan sebagainya. Tetap ceritanya bumdes cuman bahasa kasarnya kan masyarakat terlibat.” (D.1/WW/LH/L)

Dalam pengelolaan objek wisata ini masyarakat terlibat dalam pengembangan daya tarik keindahan objek wisata dan keamanan lingkungan wisata, agar pengunjung nyaman saat berkunjung.

Masyarakat terlibat dalam pembangunan yang dibangun di objek wisata untu mengembangka daya tarik pengunjung dan agar masyarakat juga bisa menambah pendapatan sehari-harinya dan tetap menjaga kelestarian lingkungan objek wisata.

a. Dampak Negatif

Adanya pembangunan pada objek wisata tentu melibatkan adanya dampak pada masyarakat yang tidak disadari. Dampak tentunya tidak pernah tidak terlintas dalam objek wisata yang timbul di tengah-tengah masyarakat. Dampak yang terjadi pada objek wisata seperti kurangnya fasilitas yang disiapkan di Lappa Laona, terjadinya konflik dilakangan masyarakat, belum terstrukturnya pengelola objek wisata, dan adanya wabah covid-19.

Objek wisata ini belum lengkapnya fasilitas yang disiapkan seperti tempat sampah, wc juga belum memadai mengakibatkan objek wisata tidak terjaga lingkungannya dengan baik.

(D.1/Observasi/08/09)

Pada awal perkembangan objek wisata ini masih belum terstrukturnya proses pengelolaan pada pembangunan fasilitas yang disiapkan belum efektif terhadap objek wisata. Sehingga pengunjung di objek wisata tidak memperhatikan kebersihan pada objek wisata mengakibatkan rumput-rumput di sekeliling objek wisata mati. Dengan hadirnya objek wisata ini karena hamparan rumputnya yang luas dan

menghijau mengakibatkan mati karena banyaknya pengunjung yang datang dan tidak menjaga kebersihan di sekeliling objek wisata.

1. Belum adanya fasilitas yang lengkap

Objek wisata ini tidak dapat dipungkiri adanya pembangunan ini dapat merusak lingkungan sehingga menimbulkan dampak negatif karena belum lengkapnya fasilitas yang disipkan oleh pengelola seperti, tempat sampah sehingga mengakibatkan sampah terserakah di pinggir jurang.

Seperti yang diutarakan dari hasil wawancara DT berikut:

“Dampak negatif : belum adanya fasilitas yang lengkap sehingga sampah-sampah itu agak ini di Lappa Laona, mungkin juga rumputnya mati dengan adanya orang terlalu banyak orang.

(D.2/WW/DT/20/09/2020)

Pembangunan objek wisata Lappa Laona belum teratur pengelolaanya dan berdampak pada lingkungan objek wisata karena kurangnya fasilitas yang disiapkan seperti belum adanya tempat sampah yang disiapkan. Dijadika nya Lappa Laona objek wisata karena pemandangan dari rumput-rumput yang luas dan memiliki pemandangan yang indah mengakibatkan pengunjung yang banyak datang. Namun banyaknya pengunjung yang datang dan tidak terstrukturnya pengelola sehingga rumput-rumput Lappa Laona yang dulunya indah dilihat dari kejauhan dalam mengambil foto mengakibatkan mati karena banyak nya pengunjung yang datang.

2. Terjadinya konflik di kalangan masyarakat

Adanya pembangunan objek wisata di tengah-tengah masyarakat melibatkan sering terjadinya konflik antar masyarakat di setiap objek

wisata. Tentunya di objek wisata Lappa Loana terjadi sedikit konflik karena ketidak kesesuaian dalam memilih posisi dalam mengelola objek wisata.

“Perna pertama-pertama, artinya mereka saling iri kan karena tidak adanya sentral penjualan, jadi orang mengambil posisi masing-masing yang bahwa disinilah yang terbaik. Itu sih kirsus- kirsus yang terjadi. Orang-orang yang menjual nantinya itu akan diatur dengan sekian rupah bahwa tempat penjualanya itu tidak boleh kumuh, sekarang itu mungkin agak kumu karena bambu- bambu yang dipakai dikasih seng. Maunya kami pemerintah yeah membuat semacam kontainer-kontainer begitu supaya lebih modern ki dilihat dan tidak mengganggu kenyamanan keindahan Lappa Laona.” (D.2/WW/DT/L/20/09/2020)

Pembangunan ini pada awalnya terjadi perselisihan antar masyarakat yang berdagang karena persoalan posisi yang tidak tertata dengan baik. Dan perselisihan ini tidak berlangsung lama dalam masyarakat karena masyarakat sama-sama ingin mendapatkan pendapatan agar meningkatkan ekonominya masing-masing.

Sedangkan hasil wawancara dari narasumber AR sebagai berikut:

“Biasa terjadi konflik horizontal di kalangan masyarakat karena belum ada regulasi yang jelas dari pengelola.”

(D.4./WW/AR/L/20/09/2020)

Belum terstrukturnya pengelolaan mengakibatkan terjadinya konflik pada masyarakat karena tidak bekerjasama dalam mempertimbangkan pengelolaan objek wisata sehingga penataan perdagangan tidak teratur.

3. Belum terstrukturnya pengelola objek wisata

Objek wisata ini dalam sistem pengelolaan tentunya dalam pembangunan memiliki struktur pengelola. Namun wisata Lappa Laona

Dokumen terkait