BAB III METODE PENELITIAN
K. Etika penelitian
48
I. Analisis data
Merupakan analisis yang melibatkan setiap variabel dari temuan penelitian supaya memastikan distribusi serta cara penyajiannya (Sugiyono, 2018). Perubahan berat badan pada akseptor KB suntik 3 bulan merupakan variabel yang diperiksa. Temuan yang dikumpulkan kemudian ditambahkan ke tabel frekuensi. Dengan menggunakan rumus berikut, analisis univariat dilakukan (Notoadmodjo, 2018):
P = X
N x 100%
Keterangan : P : Presentase
X : Jumlah kejadian pada responden N : Jumlah seluruh responden
49
Langkah pertama dalam melakukan penelitian adalah menginformasikan kepada responden tentang kelebihan penelitian, tugas yang harus diselesaikan responden untuk penelitian, serta kerahasiaan identitas.
Peneliti menjelaskan terkait prosedur penelitian dan informed consent kepada responden sebelum dilakukan penelitian. Setiap partisipan yang mengikuti penelitian memberikan persetujuannya dengan menandatangani formulir persetujuan. Peneliti tidak memaksa siapapun untuk berpartisipasi dalam penelitian ini jika mereka tidak menginginkannya.
2. Prinsip memperhitungkan manfaat dan kerugian yang ditimbulkan (Balancing Harms and Benefits).
Untuk menyerahkan temuan bermanfaat bagi partisipan penelitian dan masyarakat, peneliti melakukan penelitian dengan menggunakan teknik penelitian. Para peneliti berupaya mengurangi dampak negatif terhadap responden. Di penelitian ini manfaat yang diperoleh responden yaitu pertambahan ilmu pengetahuan mengenai efek samping perubahan berat badan terhadap pengguna KB suntik 3 bulan serta pemberianhadiah. Selain itu terdapat juga kekurangan yaitu terpotongnya waktu responden hanya untuk mengisi lembar kuesioner dan meluangkan waktu untuk dilakukan penimbangan berat badan.
3. Prinsip keadilan dan inklusivitas/keterbukaan (Respect for Justice And Inclusiveness).
Dalam penelitian ini melakukan prinsip kejujuran serta kewaspadaan maka dari itu sebelum dilakukan penyebaran kueisioner dan penimbangan berat badan peneliti memberi penjelasan mengebai
50
prosedur dari penelitian terlebih dahulu. Peneliti tidak membeda-bedakan perlakuan.
4. Prinsip menghormati privasi dan kerahasiaan subjek penelitian (Respect for Privacy and Confidentiality)
Keikutsertaan responden di penelitian ini, identitatas dirahasiakan guna melindungi kerahasiaan segala informasi yang sudah didapatkan.
Semua data responden serta temuan penelitian menjadi tanggung jawab serta wajib dilindungi oleh peneliti. Temuan penelitian dan seluruh data penelitian dapat dilihat pembimbing serta penguji dengan izin dan tidak akan dibagikan.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Penelitian 1. Gambaran lokasi penelitian
Lokasi penelitian nya bertempat di Puskesmas Genuk yang terletak di RT/RW 05/I Desa Genuksari Kecamatan Genuk. Sepuluh desa binaan antara lain Desa Genuksari, Banjardowo, Trimulyo, Terboyo Wetan, Terboyo Kulon, Gebangsari, dan Muktiharjo Lor berada dalam pengawasan Puskesmas Genuk. Jumlah populasi pengguna KB suntik 3 bulan di Puskesmas Genuk di tahun 2023 yaitu sebanyak 3010 orang serta jumlah 8 bidan di Puskesmas Genuk Semarang sebanyak 8 orang.
Di Puskesmas Genuk menyediakan pelayanan KB dengan beberapa prosedur, untuk waktu pelayanan KB di Puskesmas Genuk yaitu setiap waktu bekerja mulai jam 07.00-15.00 wib, pada hari (Senin-Jumat).
Puskesmas Genuk memiliki beberapa program terkait dengan KB yaitu pelayanan KB seperti pil, suntik, implant, dan IUD, dan konseling KB yang termasuk informasi tentang metode kontrasepsi, manfaat, resiko, efek samping dan cara penggunaan yang benar.
2. Gambaran proses penelitian
Pelayanan permohonan perizinan penelitian di lakukan pada tanggal 05 Agustus 2023. Data yang dipakai di penelitian ini ialah pemantauan secara langsung dimana dilakukan pada 32 responden yang setuju untuk menjadi responden di Puskesmas Genuk Semarang. Pelaksanaan penelitian dimulai pada bulan Agustus 2023 di Puskesmas Genuk
52
Semarang dengan memberikan Informed consent terlebih dahulu, jika responden setuju kemudian diberikan kueisioner data demografi setelah pengisian kuesioner selesai lalu dilakukan penimbangan berat badan yang telah mendapatkan persetujuan Ethical Cleareance No.
322/VIll/2023/Komisi Bioetik dari komisi Bioetik Penelitian Kedokteran/Kesehatan Universitas Islam Sultan Agung Semarang pada masing-masing responden.
Pemberian kuesioner dan penimbangan berat badan dilakukan di ruang KIA Puskesmas Genuk Semarang saat responden melakukan pemeriksaan KB suntik 3 bulan. Subyek penelitian berjumlah 32 responden yang setuju memenuhi syarat inklusi peserta penelitian.
Apabila responden bersedia menandatangani formulir persetujuan, maka dijelaskan uraian penelitiannya dan diperoleh persetujuannya.
Pada saat pemberian kueisoner dan penimbangan berat badan ada 3 akseptor yang tidak setuju menjadi responden. Selanjutnya, responden yang setuju menjadi responden melakukan pengisian kuesioner dan penimbangan berat badan dipandu oleh peneliti. Setelah kueisioner terisi sebanyak 32 selanjutnya dilakukan pengolahan data menggunakan SPSS.
B. Hasil Penelitian
1. Distribusi Frekuensi Perubahan Berat Badan pada akseptor KB Suntik 3 bulan di Puskesmas Genuk Semarang.
Tabel 4.1. Distribusi Frekuensi Perubahan Berat Badan pada akseptor KB Suntik 3 bulan
Perubahan Berat Badan Frekuensi Presentase (%)
Naik 24 75.0%
Turun 4 12.5%
53
Tetap 4 12.5%
Jumlah 32 100 %
*Sumber : Data Primer, 2023
Berdasarkan tabel 4.1 didapatkan hasil perubahan berat badan pada akseptor KB suntik 3 bulan di Puskesmas Genuk Semarang yang mengalami kenaikan sebanyak 24 (75.0%), responden yang mendapati penurunan sekitar 4 responden (12.5%) dan responden yang tidak mendapati perubahan sekitar 4 responden(12.5%).
2. Karakteristik Responden
a. Distribusi Frekuensi Usia Akseptor KB Suntik 3 Bulan di Puskesmas Genuk Semarang
Tabel 4.2. Distribusi Frekuensi Usia Akseptor KB Suntik 3 Bulan di Puskesmas Genuk Semarang
Usia Frekuensi Presentase (%)
Usia 20-25 tahun 14 43.8%
Usia 26-30 tahun 12 37.5%
Usia 31-35 tahun 6 18.8%
Jumlah 32 100 %
*Sumber : Data Primer, 2023
Berdasarkan tabel 4.2 didapatkan hasil usia pada akseptor KB Suntik 3 bulan di Puskesmas Genuk Semarang sebagian besar adalah usia 20-25 tahun sebanyak 14 (43.8%), responden yang berusia 26-30 tahun sebanyak 12 orang (37.5%) dan responden yang berusia 31-35 tahun sebanyak 6 orang (18.8%).
b. Distribusi Frekuensi Paritas Akseptor KB Suntik 3 Bulan di Puskesmas Genuk Semarang
Tabel 4.3. Distribusi Frekuensi Paritas Akseptor KB Suntik 3 bulan di Puskesmas Genuk Semarang
Paritas Frekuensi Presentase (%)
Primipara 19 59.4%
Multipara 13 40.6%
Jumlah 32 100 %
*Sumber : Data Primer, 2023
54
Berdasarkan tabel 4.3 didapatkan hasil bahwa sebagian besar paritas akseptor KB suntik 3 bulan di Puskesmas Genuk Semarang adalah primipara sebanyak 19 orang (59.4%) dan responden multipara sebanyak 13 orang (40.6%).
c. Distribusi Frekuensi Lama Penggunaan KB Suntik 3 Bulan di Puskesmas Genuk Semarang
Tabel 4.4. Distribusi Frekuensi Lama Penggunaan KB Suntik 3 Bulan di Puskesmas Genuk Semarang
Lama Penggunaan KB Suntik Frekuensi Presentase (%)
1-3 tahun 11 34.4%
4-6 tahun 18 56.3%
> 7 tahun 8 9.4%
Jumlah 32 100 %
*Sumber : Data Primer, 2023
Berdasarkan tabel 4.4 didapatkan hasil lama pemakaian KB suntik 3 bulan di Puskesmas Genuk Semarang sebagian besar adalah 4-6 tahun sebanyak 18 responden (56.3%), lama penggunaan KB suntik 3 bulan 1-3 tahun sebanyak 11 responden (34.4%) dan lama penggunaan KB suntik 3 bulan > 7 tahun sebanyak 8 responden (9.4%).
d. Distribusi Frekuensi Riwayat penggunaan KB pada Akseptor Suntik 3 Bulan di Puskesmas Genuk Semarang
Tabel 4.5. Distribusi Frekuensi Riwayat Penggunaan KB pada Akseptor Suntik 3 Bulan di Puskesmas Genuk Semarang
Riwayat KB Frekuensi Presentase (%)
Kontrasepsi MKJP 13 40.6%
Kontrasepsi Non-MKJP 19 59.4%
Jumlah 32 100 %
*Sumber : Data Primer, 2023
Berdasarkan tabel 4.5 didapatkan hasil riwayat KB pada akseptor suntik 3 bulan di Puskesmas Genuk Semarang sebagian
55
besar menggunakan kontrasepsi Non-MKJP sebanyak 19 responden (59.4%) dan riwayat penggunaan kontrasepsi MKJP sebanyak 13 responden (40.6%).
e. Distribusi Frekuensi Pekerjaan Akseptor KB Suntik 3 Bulan di Puskesmas Genuk Semarang
Tabel 4.6. Distribusi Frekuensi Pekerjaan Akseptor KB Suntik 3 Bulan di uskesmas Genuk Semarang
Pekerjaan Frekuensi Presentase (%)
Bekerja 19 59.4%
Tidak Bekerja 13 40.6%
Jumlah 32 100 %
*Sumber : Data Primer, 2023
Berdasarkan tabel 4.6 didapatkan hasil pekerjaan akseptor KB suntik 3 bulan di Puskesmas Genuk Semarang sebagian besar bekerja sebanyak 19 responden (59.4%) dan yang tidak bekerja sebanyak 13 responden (40.6%).
f. Distribusi Frekuensi Pola Makan Akseptor KB Suntik 3 Bulan di Puskesmas Genuk Semarang
Tabel 4.7. Distribusi Frekuensi Pola Makan Akseptor KB Suntik 3 Bulan di Puskesmas Genuk Semarang
Pola Makan Frekuensi Presentase (%)
Teratur 25 78.1%
Tidak Teratur 7 21.9%
Jumlah 32 100 %
*Sumber : Data Primer, 2023
Berdasarkan tabel 4.7 didapatkan hasil pola makan askesptor KB suntik 3 bulan di Puskesmas Genuk Semarang sebagian besar memiliki pola makan teratur sebanyak 25 responden (78.1%) dan pola makan tidak teratur sebanyak 7 responden (21.9%).
g. Distribusi Frekuensi Pola Aktivitas Akseptor KB Suntik 3 Bulan di Puskesmas Genuk Semarang
Tabel 4.8. Distribusi Frekuensi Pola Aktivitas Akseptor KB Suntik 3 Bulan di Puskesmas Genuk Semarang
Pola Aktivitas Frekuensi Presentase (%)
56
Berat 1 3.1%
Sedang 6 18.8%
Ringan 21 65.6%
Tidak aktivitas 4 12.5%
Jumlah 32 100 %
*Sumber : Data Primer, 2023
Berdasarkan tabel 4.8 didapatkan hasil pola aktivitas akseptor KB suntik 3 bulan di Puskesmas Genuk Semarang sebagian besar beraktifitas ringan sebanyak 21 responden (65.5%), responden dengan pola aktivitas sedang sebanyak 6 orang (18.8%), responden yang tidak melakukan aktivitas sebanyak 4 orang (12.5%) dan responden dengan pola aktivitas berat sebanyak 1 orang (3.1%).
C. Pembahasan
1. Perubahan Berat Badan
Dari hasil penelitian, didapatkan subjek mengalami perubahan berat badan naik sebanyak 24 responden (75.0%).
KB suntik 3 bulan ialah kontrasepsi yang memiliki salah satu efek samping yaitu perubahan berat badan. Menurut (Handayani, 2016), terdapat kekurangan dari KB suntik, antara lain perubahan siklus menstruasi, penambahan berat badan +2 kg, perlu kembali suntik setiap 3 bulan, dan potensi penundaan hingga 7-9 bulan pemulihan kesuburan.
Beberapa wanita akan mengalami peningkatan berat badan antara 1 dan 5 kg sepanjang tahun pertama. Meningkatnya lemak tubuh adalah penyebab utamanya. Akseptor mungkin makan berlebihan akibat DMPA merangsang area hipotalamus yang mengatur nafsu makan (Hartanto,2016). Dampak buruk utama dari suntikan DMPA, menurut Varney (2007), adalah penambahan berat badan dimulai sekitar 2,3 kg dan terus bertambah menjadi 7,5 kg sepanjang enam tahun.
57
Hasil penelitian ini sesuai pada penelitian yang dilaksanakan (Sulistiyaningsih, 2014), di penelitiannya proporsi akseptor KB suntik 3 bulan yang mengalami perubahan yaitu 69,6% dan tidak berubah berat badannya sebanyak 30,4% subjek. Penelitian oleh (Pangestika, 2017) didapatkan bahwa sebanyak 100% akseptor menghadapi perubahan berat badan serta tidak menghadapi perubahan apapun sebanyak 0%.
Selain itu, temuan penelitian (Pratiwi, 2013) menyatakan hubungan signifikan diantara penggunaan kontrasepsi hormonal suntik serta penambahan berat badan. Sebanyak 23 responden (57,50%) melaporkan kenaikan berat badan, dengan mayoritas kenaikan berat badan tahunan antara 0 dan 1 kilogram (47,8%) dan antara 1-2 kilogram (21,73%).
Pertambahan berat badan dapat terjadi dengan cepat dan tidak kentara, atau perlahan dan terlihat. Menurut Medfort dkk. (2015), mayoritas perempuan mengalami kenaikan berat badan antara 0,5-2 kg pada tahun awal serta antara 10 dan 12 kg setelah memakai kontrasepsi suntik sepanjang 4-6 tahun. Progesteron telah terbukti merangsang rasa lapar. Pertambahan berat badan yang diakibatkan oleh peningkatan lemak dan efek samping yang tidak diinginkan dari anabolisme atau retensi cairan. Progesteron, suatu hormon, memfasilitasi konversi gula dan karbohidrat menjadi lemak, meningkatkan jumlah lemak di bawah kulit dan berkontribusi terhadap penambahan berat badan. Progesteron juga meningkatkan rasa lapar dan menurunkan aktivitas fisik, selain efek lainnya (Saifuddin, 2013).
58
2. Karakteristik Akseptor a. Usia
Dari hasil penelitian, usia yang terbanyak ialah 20-25 tahun sebanyak 14 subjek (43,8%). Temuan penelitian ini membuktikan jika sebagian besar subjek adalah ibu dimana tercantum dalam kelompok usia subur tidak berisiko, sehingga subjek memakai kontrasepsi suntik untuk mengontrol jarak antar kehamilan.
Hasil penelitian tersebut sesuai sama penelitian yang dilaksanakan pada tahun 2015 di Puskesmas Kemerdekaan Palembang dalam penelitian tersebut, 608 peserta di bawah usia 35 tahun dilibatkan, dan lebih banyak dari mereka yang menggunakan kontrasepsi suntik dibandingkan 251 peserta yang berusia di atas 35 tahun (Chandra dkk., 2015).
Karena umur 20 hingga 30 tahun merupakan umur yang lebih tidak berisiko dari bahaya AKI, maka penatalaksanaan kehamilan di usia ini menggunakan alat kontrasepsi bisa meminimalkan bahaya AKI dan AKB (SDKI, 2017). Di kelompok usia tersebut banyak perempuan yang menggunakan kontrasepsi suntik DMPA melakukan hal ini untuk menunda atau menunda kehamilan mereka.
Tchernof dan Depres (2013) memberikan penjelasan tentang bagaimana komposisi tubuh seseorang bervariasi seiring bertambahnya usia. Diketahui bahwa massa jaringan lemak meningkat dan massa jaringan bebas lemak menurun antara usia 20 dan 30 tahun.
59
b. Paritas
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan subjek berdasarkan paritas, diperoleh primipara sebanyak 19 subjek (59.4%), membuktikan sebagian besar responden pengguna KB suntik cenderung menunda kehamilan karena memiliki 1-2 anak, bahkan ada pula yang mempunyai anak kurang dari tiga. Para responden ini menggunakan kontrasepsi suntik untuk menghentikan kehamilannya karena merasa sudah cukup mempunyai anak. baik dalam jumlah banyak maupun pada usia berisiko tinggi.
Keterkaitan antara paritas (jumlah kehamilan seorang wanita) dan kenaikan berat badan terhadap akseptor KB suntik 3 bulan dapat berhubungan pada beberapa faktor yaitu paritas dapat memengaruhi sensitivitas tubuh terhadap hormon-hormon tertentu. Wanita yang telah melahirkan anak atau memiliki lebih dari satu kehamilan memiliki perubahan hormon yang dapat memengaruhi cara tubuh merespons hormon progestin yang ada dalam KB suntik 3 bulan. Ini dapat mempengaruhi peningkatan berat badan. Wanita yang sudah melahirkan anak mungkin mengalami perubahan metabolisme setelah kehamilan. Ini bisa memengaruhi cara tubuh mereka mengolah hormon progestin dan berpotensi berdampak pada kenaikan berat badan (National Institute of Health, 2012).
Beberapa subjek penelitian Wungubelen (2020), baik primipara maupun multipara, menggunakan KB suntik karena kelebihan KB suntik khususnya suntik 3 bulan tidak berpengaruh terhadap produksi volume air susu ibu.
60
Temuan penelitian ini sesuai sama penelitian yang dilaksanakan oleh (Sasya, 2016) yang menemukan bahwasanya sebagian besar responden (67,1%) memiliki paritas 1-2 anak dan sangat sedikit responden (32,9%) yang memiliki paritas 1-2 anak. > 3 anak. Setiap keluarga harus mempertimbangkan paritas atau jumlah anak, karena jumlah anak yang lebih banyak akan mempersulit kepala keluarga dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Selain itu, setiap keluarga harus menjaga kesehatan reproduksi karena mempunyai anak lebih banyak membahayakan kesehatan ibu (Hartanto, 2013).
c. Lama penggunaan KB Suntik 3 bulan
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan lama pemakaian KB suntik 3 bulan selama 4-6 tahun sebanyak 18 subjek (56.3%). Karena DMPA memicu hipoestrogenemia, yang terkait dengan pembentukan lemak visceral dan kenaikan berat badan, maka lama pemakaian KB suntik selama tiga bulan berisiko menyebabkan penambahan berat badan (Ambarwati dan Sukarsi, 2013).
Temuan penelitian ini sesuai sama penelitian (Ambarwati dan Sukarsi, 2013) yang mengungkapkan 15% responden menggunakan ganja kurang dari setahun dan 85% partisipan menggunakannya lebih dari setahun. Menurut penelitian (Handayani, 2015), responden yang memakai KB suntik selama 3 bulan merasakan perubahan berat badan selama 1 tahun pada 11 subjek (61,11%), sedangkan yang menggunakannya lebih dari setahun mengalami perubahan berat badan sebesar sebanyak 13 subjek (68,42%).
Temuan ini sesuai sama penelitian (Sulistiyaningsih, 2014) yang membuktikan kalau subjek 29 dan 19,6% yang menggunakan KB
61
suntik kurang dari setahun tidak mengalami perubahan berat badan.
Responden yang menggunakan suntikan pada durasi yang lama (lebih dari satu tahun) merasakan perubahan berat badan sebesar 69,6%. Mayoritas akseptor memakai KB suntik 3 bulan dalam durasi minimal satu tahun karena mudah digunakan, nyaman dipakai, murah, mudah dihentikan sewaktu-waktu, dan dapat digunakan berulang kali tanpa kendala (Hartanto, 2015).
Mengingat banyaknya manfaat yang dimilikinya, maka para penerima kontrasepsi sebaiknya memikirkan manfaat dari KB suntik 3 bulan. Diantaranya memiliki manfaat perlindungan jangka panjang, sangat berhasil dalam mencegah kehamilan, tidak berdampak pada hubungan suami-istri, dan mudah digunakan tanpa harus mengingat untuk melakukannya setiap hari (Yuhedi dan Kurniawati, 2015).
Manfaat lainnya termasuk tidak mengandung estrogen, yang berarti tidak ada risiko penyakit jantung atau penggumpalan darah yang signifikan, tidak mempengaruhi produksi ASI, hanya memiliki beberapa efek samping, cocok dipakai dengan perempuan di atas 35 tahun. usia tahun hingga perimenopause, menurunkan risiko penyakit payudara jinak, mencegah radang panggul, dan menurunkan risiko krisis anemia saat menstruasi (Setiyaningrum, 2015).
Hasil uraian diatas dapat disimpulkan bahwa lebih lama melakukan suntik KB 3 bulan, justru menjadi banyak hormon progesteron yang terkumpul di dalam tubuh. Hal ini dapat mengganggu keseimbangan hormonal dan menimbulkan efek buruk,
62
salah satunya adalah perubahan berat badan. Karena komponen estrogen pada kontrasepsi dapat menyebabkan retensi cairan dan progestin dapat meningkatkan rasa lapar, semakin lama menggunakan kontrasepsi, semakin banyak pula penambahan berat badan (Handayani, 2010).
d. Riwayat penggunaan Kontrasepsi
Hasil penelitian didapatkan hasil bahwa riwayat KB didapatkan 19 subjek (59,4%) menggunakan kontrasepsi non-MKJP. Gagasan tentang riwayat penggunaan kontrasepsi sebelumnya diterapkan ketika menawarkan teknik kontrasepsi kepada seseorang. Gagasan ini mempertimbangkan teknik kontrasepsi yang pernah digunakan seseorang sebelumnya dan bagaimana pengalaman mereka dengan metode tersebut dapat mempengaruhi saran metode kontrasepsi yang akan digunakan di masa depan. Ini akan menjadi faktor penting untuk dipertimbangkan jika bentuk kontrasepsi yang digunakan seseorang sebelumnya gagal atau menimbulkan terlalu banyak efek samping dalam memilih teknik kontrasepsi yang efektif selanjutnya.
Riwayat penggunaan kontrasepsi sebelumnya merupakan konsep yang digunakan dalam praktik pemberian metode kontrasepsi kepada seorang individu. Konsep ini mempertimbangkan metode kontrasepsi apa yang telah digunakan oleh seseorang sebelumnya dan bagaimana pengalaman mereka dengan metode tersebut dapat memengaruhi rekomendasi untuk metode kontrasepsi yang akan digunakan selanjutnya, jika seseorang mengalami kegagalan atau efek samping berlebih pada metode kontrasepsi
63
sebelumnya, maka hal ini akan menjadi pertimbangan penting dalam memilih metode kontrasepsi yang sesuai selanjutnya. Riwayat penggunaan kontrasepsi sebelumnya.berperan dalam kenaikan berat badan pada akseptor KB suntik 3 bulan
Temuan penelitian ini sesuai sama penelitian Risve (2018). Hasil uji statistik membuktikan bahwa = 0,018. Maka ρ (0,018) < α (0,05).
Hasilnya, temuan membuktikan kalau ibu yang memakai kontrasepsi suntik hormonal 3 bulan merasakan peningkatan berat badan yang signifikan terkait dengan riwayat penggunaan kontrasepsi tersebut.
Penggunaan metode kontrasepsi sebelumnya, seperti pil KB, suntikan, implan, atau alat kontrasepsi hormonal lainnya, mungkin berdampak pada keseimbangan hormonal tubuh. Bergantung pada seberapa sering dan berapa lama seseorang menggunakan metode kontrasepsi sebelumnya, kadar hormonnya dapat berubah ketika mereka berpindah dari satu metode kontrasepsi hormonal ke metode kontrasepsi hormonal lainnya.. Misalnya, peralihan ke KB suntik 3 bulan bisa mengakibatkan fluktuasi berat badan pada penggunaan tablet KB atau metode KB hormonal lainnya dengan hormon tertentu dalam jangka waktu lama.
e. Pekerjaan
Hasil penelitian ini diperoleh data bahwa pekerjaan didapatkan sebanyak 19 subjek (50.4%) bekerja. Dari karakteristik pekerjaan, dapat disimpulkan bahwa perempuan yang bekerja lebih menghargai waktu mereka dibandingkan perempuan yang tidak bekerja, sehingga memberikan mereka lebih sedikit kemungkinan untuk
64
mengasuh anak, dan bahwa perempuan yang bekerja biasanya memiliki lebih sedikit anak (Sasya, 2016).
Menurut (BKKBN, 2016) ketenagakerjaan wanita berpengaruh terhadap pemakaian kontrasepsi. Keterkaitan antara pekerjaan dan peningkatan berat badan terhadap akseptor KB suntik 3 bulan bisa terpengaruh dari beberapa faktor yaitu dikarenakan jenis pekerjaan tertentu, seperti pekerjaan yang memerlukan banyak waktu duduk, dapat mengurangi aktivitas fisik sehari-hari. Kekurangan aktivitas fisik ini dapat berkontribusi pada peningkatan berat badan kalau tidak diiringi olahraga serta pola makan sehat dan stres dalam pekerjaan juga menjadi faktor yang mempengaruhi perubahan berat badan, jika seseorang merasakan stres yang tinggi di pekerjaannya itu bisa memengaruhi pola makan dan kebiasaan tidur mereka. Stres yang berkepanjangan dapat menyebabkan orang mencari kenyamanan dalam makanan berkalori tinggi atau mungkin mengganggu pola tidur, yang dapat berdampak pada berat badan.
Temuan penelitian sesuai sama penelitian Yulidasari (2016) yang menunjukkan pilihan alat kontrasepsi suntik serta posisi pekerjaan ibu ada hubungan (p=0,031). Hal ini sejalan pada penelitian Panuntun (2017) menemukan adanya hubungan antara pekerjaan.
Karena harus berjuang setiap hari untuk menyelesaikan tugas yang diembannya, pekerjaan mungkin akan berdampak pada kepribadian seseorang (Gunawan, 2017). Misalnya, perempuan menikah dan bekerja mempunyai dua konteks yang perlu
65
dipertimbangkan ketika memilih alat kontrasepsi: lingkungan kerja dan lingkungan rumah tangga.
f. Pola makan
Berdasarkan hasil penelitian, subjek dengan pola makan baik paling banyak yaitu 23 responden (62.16%). Kebiasaan makan pada penerima suntik KB 3 bulan bisa menaikkan berat badan karena DMPA dapat mengaktifkan pusat hipotalamus yang mengatur rasa lapar sehingga menyebabkan penerima mengkonsumsi lebih dari biasanya (Hartanto, 2015). Selain itu, aktivitas seperti glukokortikoid mengirimkan sinyal ke sel-sel lemak yang memerintahkan mereka untuk menyimpan lemak sebanyak mungkin. Selain itu, subjek yang memakai KB suntik DMPA setelah enam bulan dilaporkan mempunyai nafsu makan yang lebih besar (Yen-Chi et.al dalam Pratiwi, 2013).
Temuan penelitian ini sesuai pada Liando dkk. (2015), yang menemukan bahwa pola makan yang buruk terjadi pada 6,1%
populasi dan pola makan yang baik pada 93,9%. Perubahan berat badan dengan pola makan sehat adalah 90%, dibandingkan 6% pola makan tidak sehat. Kebiasaan makan yang jelek atau tidak teratur dapat mengakibatkan berkurangnya asupan nutrisi dan peningkatan kalori, kadar insulin darah, dan kolesterol LDL. Tubuh akan meningkatkan rasa lapar dan memperlambat metabolisme untuk menghemat energi ketika makanan yang dikonsumsi tidak sesuai (Ide, 2016).
Akan tetapi hasil penelitian ini tidak sesuai pada penelitian (Siregar et al., 2013) yang mengatakan jika sebanyak 39,8%
66
responden mempunyai pola makan bagus dan 60,2% memiliki pola makan kurang, pola makan yang kurang dapat menyebabkan kegemukan dan meningkatkan berat badan yaitu sebanyak 57,1%.
Berdasarkan uraian diatas bisa disimpulkan jika sebagian besar responden yang merasakan perubahan berat badan memiliki pola makan yang baik, hal tersebut berbeda pada teori jika pola makan yang tidak sehat atau tidak sesuai dapat menyebabkan asupan makanan berlebihan atau kekurangan, jika asupan makanan berlebih maka dapat terjadi perkumpulan lemak dibawah kulit maka dari itu berat badanmeningkat. Penelitian (Khusniyati, Sari and Ro’ifah, 2015) menyatakan bahwa pola makan dapat mempengaruhi IMT.
Apabila pola makan baik maka dapat menjaga kenaikan berat badan dan mencegah overiweight atau kegemukan.
Kebiasaan makan yang baik adalah 3-6 kali sehari pada porsi kecil karena jika frekuensi makan 1-2x sehari akan menurunkan metabolisme tubuh sehingga kalori yang dibakar tubuh sedikit (Febry, 2015). Frekuensi makan yang baik yaitu 5-6 kali dalam sehari akan membantu membakar lemak tubuh dan meningkatkan metabolisme (Toruan, 2015). Pola makan 3x sehari ditambah selingan diantara ketiga waktu makan sangat dibutuhkan untuk melengkapi zat gizi yang diperlukan tubuh (Rusyadi, 2017).
g. Pola aktivitas
Berdasarkan hasil penelitian, karakterisitik responden dengan pola aktivitas ringan paling banyak yaitu 21 responden (65.6%).
Olahraga merupakan salah satu jenis latihan jasmani. Aktivitas fisik adalah gerakan tubuh teratur atau tidak teratur yang meningkatkan