• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

C. Pembahasan

56

Berat 1 3.1%

Sedang 6 18.8%

Ringan 21 65.6%

Tidak aktivitas 4 12.5%

Jumlah 32 100 %

*Sumber : Data Primer, 2023

Berdasarkan tabel 4.8 didapatkan hasil pola aktivitas akseptor KB suntik 3 bulan di Puskesmas Genuk Semarang sebagian besar beraktifitas ringan sebanyak 21 responden (65.5%), responden dengan pola aktivitas sedang sebanyak 6 orang (18.8%), responden yang tidak melakukan aktivitas sebanyak 4 orang (12.5%) dan responden dengan pola aktivitas berat sebanyak 1 orang (3.1%).

57

Hasil penelitian ini sesuai pada penelitian yang dilaksanakan (Sulistiyaningsih, 2014), di penelitiannya proporsi akseptor KB suntik 3 bulan yang mengalami perubahan yaitu 69,6% dan tidak berubah berat badannya sebanyak 30,4% subjek. Penelitian oleh (Pangestika, 2017) didapatkan bahwa sebanyak 100% akseptor menghadapi perubahan berat badan serta tidak menghadapi perubahan apapun sebanyak 0%.

Selain itu, temuan penelitian (Pratiwi, 2013) menyatakan hubungan signifikan diantara penggunaan kontrasepsi hormonal suntik serta penambahan berat badan. Sebanyak 23 responden (57,50%) melaporkan kenaikan berat badan, dengan mayoritas kenaikan berat badan tahunan antara 0 dan 1 kilogram (47,8%) dan antara 1-2 kilogram (21,73%).

Pertambahan berat badan dapat terjadi dengan cepat dan tidak kentara, atau perlahan dan terlihat. Menurut Medfort dkk. (2015), mayoritas perempuan mengalami kenaikan berat badan antara 0,5-2 kg pada tahun awal serta antara 10 dan 12 kg setelah memakai kontrasepsi suntik sepanjang 4-6 tahun. Progesteron telah terbukti merangsang rasa lapar. Pertambahan berat badan yang diakibatkan oleh peningkatan lemak dan efek samping yang tidak diinginkan dari anabolisme atau retensi cairan. Progesteron, suatu hormon, memfasilitasi konversi gula dan karbohidrat menjadi lemak, meningkatkan jumlah lemak di bawah kulit dan berkontribusi terhadap penambahan berat badan. Progesteron juga meningkatkan rasa lapar dan menurunkan aktivitas fisik, selain efek lainnya (Saifuddin, 2013).

58

2. Karakteristik Akseptor a. Usia

Dari hasil penelitian, usia yang terbanyak ialah 20-25 tahun sebanyak 14 subjek (43,8%). Temuan penelitian ini membuktikan jika sebagian besar subjek adalah ibu dimana tercantum dalam kelompok usia subur tidak berisiko, sehingga subjek memakai kontrasepsi suntik untuk mengontrol jarak antar kehamilan.

Hasil penelitian tersebut sesuai sama penelitian yang dilaksanakan pada tahun 2015 di Puskesmas Kemerdekaan Palembang dalam penelitian tersebut, 608 peserta di bawah usia 35 tahun dilibatkan, dan lebih banyak dari mereka yang menggunakan kontrasepsi suntik dibandingkan 251 peserta yang berusia di atas 35 tahun (Chandra dkk., 2015).

Karena umur 20 hingga 30 tahun merupakan umur yang lebih tidak berisiko dari bahaya AKI, maka penatalaksanaan kehamilan di usia ini menggunakan alat kontrasepsi bisa meminimalkan bahaya AKI dan AKB (SDKI, 2017). Di kelompok usia tersebut banyak perempuan yang menggunakan kontrasepsi suntik DMPA melakukan hal ini untuk menunda atau menunda kehamilan mereka.

Tchernof dan Depres (2013) memberikan penjelasan tentang bagaimana komposisi tubuh seseorang bervariasi seiring bertambahnya usia. Diketahui bahwa massa jaringan lemak meningkat dan massa jaringan bebas lemak menurun antara usia 20 dan 30 tahun.

59

b. Paritas

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan subjek berdasarkan paritas, diperoleh primipara sebanyak 19 subjek (59.4%), membuktikan sebagian besar responden pengguna KB suntik cenderung menunda kehamilan karena memiliki 1-2 anak, bahkan ada pula yang mempunyai anak kurang dari tiga. Para responden ini menggunakan kontrasepsi suntik untuk menghentikan kehamilannya karena merasa sudah cukup mempunyai anak. baik dalam jumlah banyak maupun pada usia berisiko tinggi.

Keterkaitan antara paritas (jumlah kehamilan seorang wanita) dan kenaikan berat badan terhadap akseptor KB suntik 3 bulan dapat berhubungan pada beberapa faktor yaitu paritas dapat memengaruhi sensitivitas tubuh terhadap hormon-hormon tertentu. Wanita yang telah melahirkan anak atau memiliki lebih dari satu kehamilan memiliki perubahan hormon yang dapat memengaruhi cara tubuh merespons hormon progestin yang ada dalam KB suntik 3 bulan. Ini dapat mempengaruhi peningkatan berat badan. Wanita yang sudah melahirkan anak mungkin mengalami perubahan metabolisme setelah kehamilan. Ini bisa memengaruhi cara tubuh mereka mengolah hormon progestin dan berpotensi berdampak pada kenaikan berat badan (National Institute of Health, 2012).

Beberapa subjek penelitian Wungubelen (2020), baik primipara maupun multipara, menggunakan KB suntik karena kelebihan KB suntik khususnya suntik 3 bulan tidak berpengaruh terhadap produksi volume air susu ibu.

60

Temuan penelitian ini sesuai sama penelitian yang dilaksanakan oleh (Sasya, 2016) yang menemukan bahwasanya sebagian besar responden (67,1%) memiliki paritas 1-2 anak dan sangat sedikit responden (32,9%) yang memiliki paritas 1-2 anak. > 3 anak. Setiap keluarga harus mempertimbangkan paritas atau jumlah anak, karena jumlah anak yang lebih banyak akan mempersulit kepala keluarga dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Selain itu, setiap keluarga harus menjaga kesehatan reproduksi karena mempunyai anak lebih banyak membahayakan kesehatan ibu (Hartanto, 2013).

c. Lama penggunaan KB Suntik 3 bulan

Berdasarkan hasil penelitian didapatkan lama pemakaian KB suntik 3 bulan selama 4-6 tahun sebanyak 18 subjek (56.3%). Karena DMPA memicu hipoestrogenemia, yang terkait dengan pembentukan lemak visceral dan kenaikan berat badan, maka lama pemakaian KB suntik selama tiga bulan berisiko menyebabkan penambahan berat badan (Ambarwati dan Sukarsi, 2013).

Temuan penelitian ini sesuai sama penelitian (Ambarwati dan Sukarsi, 2013) yang mengungkapkan 15% responden menggunakan ganja kurang dari setahun dan 85% partisipan menggunakannya lebih dari setahun. Menurut penelitian (Handayani, 2015), responden yang memakai KB suntik selama 3 bulan merasakan perubahan berat badan selama 1 tahun pada 11 subjek (61,11%), sedangkan yang menggunakannya lebih dari setahun mengalami perubahan berat badan sebesar sebanyak 13 subjek (68,42%).

Temuan ini sesuai sama penelitian (Sulistiyaningsih, 2014) yang membuktikan kalau subjek 29 dan 19,6% yang menggunakan KB

61

suntik kurang dari setahun tidak mengalami perubahan berat badan.

Responden yang menggunakan suntikan pada durasi yang lama (lebih dari satu tahun) merasakan perubahan berat badan sebesar 69,6%. Mayoritas akseptor memakai KB suntik 3 bulan dalam durasi minimal satu tahun karena mudah digunakan, nyaman dipakai, murah, mudah dihentikan sewaktu-waktu, dan dapat digunakan berulang kali tanpa kendala (Hartanto, 2015).

Mengingat banyaknya manfaat yang dimilikinya, maka para penerima kontrasepsi sebaiknya memikirkan manfaat dari KB suntik 3 bulan. Diantaranya memiliki manfaat perlindungan jangka panjang, sangat berhasil dalam mencegah kehamilan, tidak berdampak pada hubungan suami-istri, dan mudah digunakan tanpa harus mengingat untuk melakukannya setiap hari (Yuhedi dan Kurniawati, 2015).

Manfaat lainnya termasuk tidak mengandung estrogen, yang berarti tidak ada risiko penyakit jantung atau penggumpalan darah yang signifikan, tidak mempengaruhi produksi ASI, hanya memiliki beberapa efek samping, cocok dipakai dengan perempuan di atas 35 tahun. usia tahun hingga perimenopause, menurunkan risiko penyakit payudara jinak, mencegah radang panggul, dan menurunkan risiko krisis anemia saat menstruasi (Setiyaningrum, 2015).

Hasil uraian diatas dapat disimpulkan bahwa lebih lama melakukan suntik KB 3 bulan, justru menjadi banyak hormon progesteron yang terkumpul di dalam tubuh. Hal ini dapat mengganggu keseimbangan hormonal dan menimbulkan efek buruk,

62

salah satunya adalah perubahan berat badan. Karena komponen estrogen pada kontrasepsi dapat menyebabkan retensi cairan dan progestin dapat meningkatkan rasa lapar, semakin lama menggunakan kontrasepsi, semakin banyak pula penambahan berat badan (Handayani, 2010).

d. Riwayat penggunaan Kontrasepsi

Hasil penelitian didapatkan hasil bahwa riwayat KB didapatkan 19 subjek (59,4%) menggunakan kontrasepsi non-MKJP. Gagasan tentang riwayat penggunaan kontrasepsi sebelumnya diterapkan ketika menawarkan teknik kontrasepsi kepada seseorang. Gagasan ini mempertimbangkan teknik kontrasepsi yang pernah digunakan seseorang sebelumnya dan bagaimana pengalaman mereka dengan metode tersebut dapat mempengaruhi saran metode kontrasepsi yang akan digunakan di masa depan. Ini akan menjadi faktor penting untuk dipertimbangkan jika bentuk kontrasepsi yang digunakan seseorang sebelumnya gagal atau menimbulkan terlalu banyak efek samping dalam memilih teknik kontrasepsi yang efektif selanjutnya.

Riwayat penggunaan kontrasepsi sebelumnya merupakan konsep yang digunakan dalam praktik pemberian metode kontrasepsi kepada seorang individu. Konsep ini mempertimbangkan metode kontrasepsi apa yang telah digunakan oleh seseorang sebelumnya dan bagaimana pengalaman mereka dengan metode tersebut dapat memengaruhi rekomendasi untuk metode kontrasepsi yang akan digunakan selanjutnya, jika seseorang mengalami kegagalan atau efek samping berlebih pada metode kontrasepsi

63

sebelumnya, maka hal ini akan menjadi pertimbangan penting dalam memilih metode kontrasepsi yang sesuai selanjutnya. Riwayat penggunaan kontrasepsi sebelumnya.berperan dalam kenaikan berat badan pada akseptor KB suntik 3 bulan

Temuan penelitian ini sesuai sama penelitian Risve (2018). Hasil uji statistik membuktikan bahwa = 0,018. Maka ρ (0,018) < α (0,05).

Hasilnya, temuan membuktikan kalau ibu yang memakai kontrasepsi suntik hormonal 3 bulan merasakan peningkatan berat badan yang signifikan terkait dengan riwayat penggunaan kontrasepsi tersebut.

Penggunaan metode kontrasepsi sebelumnya, seperti pil KB, suntikan, implan, atau alat kontrasepsi hormonal lainnya, mungkin berdampak pada keseimbangan hormonal tubuh. Bergantung pada seberapa sering dan berapa lama seseorang menggunakan metode kontrasepsi sebelumnya, kadar hormonnya dapat berubah ketika mereka berpindah dari satu metode kontrasepsi hormonal ke metode kontrasepsi hormonal lainnya.. Misalnya, peralihan ke KB suntik 3 bulan bisa mengakibatkan fluktuasi berat badan pada penggunaan tablet KB atau metode KB hormonal lainnya dengan hormon tertentu dalam jangka waktu lama.

e. Pekerjaan

Hasil penelitian ini diperoleh data bahwa pekerjaan didapatkan sebanyak 19 subjek (50.4%) bekerja. Dari karakteristik pekerjaan, dapat disimpulkan bahwa perempuan yang bekerja lebih menghargai waktu mereka dibandingkan perempuan yang tidak bekerja, sehingga memberikan mereka lebih sedikit kemungkinan untuk

64

mengasuh anak, dan bahwa perempuan yang bekerja biasanya memiliki lebih sedikit anak (Sasya, 2016).

Menurut (BKKBN, 2016) ketenagakerjaan wanita berpengaruh terhadap pemakaian kontrasepsi. Keterkaitan antara pekerjaan dan peningkatan berat badan terhadap akseptor KB suntik 3 bulan bisa terpengaruh dari beberapa faktor yaitu dikarenakan jenis pekerjaan tertentu, seperti pekerjaan yang memerlukan banyak waktu duduk, dapat mengurangi aktivitas fisik sehari-hari. Kekurangan aktivitas fisik ini dapat berkontribusi pada peningkatan berat badan kalau tidak diiringi olahraga serta pola makan sehat dan stres dalam pekerjaan juga menjadi faktor yang mempengaruhi perubahan berat badan, jika seseorang merasakan stres yang tinggi di pekerjaannya itu bisa memengaruhi pola makan dan kebiasaan tidur mereka. Stres yang berkepanjangan dapat menyebabkan orang mencari kenyamanan dalam makanan berkalori tinggi atau mungkin mengganggu pola tidur, yang dapat berdampak pada berat badan.

Temuan penelitian sesuai sama penelitian Yulidasari (2016) yang menunjukkan pilihan alat kontrasepsi suntik serta posisi pekerjaan ibu ada hubungan (p=0,031). Hal ini sejalan pada penelitian Panuntun (2017) menemukan adanya hubungan antara pekerjaan.

Karena harus berjuang setiap hari untuk menyelesaikan tugas yang diembannya, pekerjaan mungkin akan berdampak pada kepribadian seseorang (Gunawan, 2017). Misalnya, perempuan menikah dan bekerja mempunyai dua konteks yang perlu

65

dipertimbangkan ketika memilih alat kontrasepsi: lingkungan kerja dan lingkungan rumah tangga.

f. Pola makan

Berdasarkan hasil penelitian, subjek dengan pola makan baik paling banyak yaitu 23 responden (62.16%). Kebiasaan makan pada penerima suntik KB 3 bulan bisa menaikkan berat badan karena DMPA dapat mengaktifkan pusat hipotalamus yang mengatur rasa lapar sehingga menyebabkan penerima mengkonsumsi lebih dari biasanya (Hartanto, 2015). Selain itu, aktivitas seperti glukokortikoid mengirimkan sinyal ke sel-sel lemak yang memerintahkan mereka untuk menyimpan lemak sebanyak mungkin. Selain itu, subjek yang memakai KB suntik DMPA setelah enam bulan dilaporkan mempunyai nafsu makan yang lebih besar (Yen-Chi et.al dalam Pratiwi, 2013).

Temuan penelitian ini sesuai pada Liando dkk. (2015), yang menemukan bahwa pola makan yang buruk terjadi pada 6,1%

populasi dan pola makan yang baik pada 93,9%. Perubahan berat badan dengan pola makan sehat adalah 90%, dibandingkan 6% pola makan tidak sehat. Kebiasaan makan yang jelek atau tidak teratur dapat mengakibatkan berkurangnya asupan nutrisi dan peningkatan kalori, kadar insulin darah, dan kolesterol LDL. Tubuh akan meningkatkan rasa lapar dan memperlambat metabolisme untuk menghemat energi ketika makanan yang dikonsumsi tidak sesuai (Ide, 2016).

Akan tetapi hasil penelitian ini tidak sesuai pada penelitian (Siregar et al., 2013) yang mengatakan jika sebanyak 39,8%

66

responden mempunyai pola makan bagus dan 60,2% memiliki pola makan kurang, pola makan yang kurang dapat menyebabkan kegemukan dan meningkatkan berat badan yaitu sebanyak 57,1%.

Berdasarkan uraian diatas bisa disimpulkan jika sebagian besar responden yang merasakan perubahan berat badan memiliki pola makan yang baik, hal tersebut berbeda pada teori jika pola makan yang tidak sehat atau tidak sesuai dapat menyebabkan asupan makanan berlebihan atau kekurangan, jika asupan makanan berlebih maka dapat terjadi perkumpulan lemak dibawah kulit maka dari itu berat badanmeningkat. Penelitian (Khusniyati, Sari and Ro’ifah, 2015) menyatakan bahwa pola makan dapat mempengaruhi IMT.

Apabila pola makan baik maka dapat menjaga kenaikan berat badan dan mencegah overiweight atau kegemukan.

Kebiasaan makan yang baik adalah 3-6 kali sehari pada porsi kecil karena jika frekuensi makan 1-2x sehari akan menurunkan metabolisme tubuh sehingga kalori yang dibakar tubuh sedikit (Febry, 2015). Frekuensi makan yang baik yaitu 5-6 kali dalam sehari akan membantu membakar lemak tubuh dan meningkatkan metabolisme (Toruan, 2015). Pola makan 3x sehari ditambah selingan diantara ketiga waktu makan sangat dibutuhkan untuk melengkapi zat gizi yang diperlukan tubuh (Rusyadi, 2017).

g. Pola aktivitas

Berdasarkan hasil penelitian, karakterisitik responden dengan pola aktivitas ringan paling banyak yaitu 21 responden (65.6%).

Olahraga merupakan salah satu jenis latihan jasmani. Aktivitas fisik adalah gerakan tubuh teratur atau tidak teratur yang meningkatkan

67

konsumsi energi, pembakaran energi, atau keduanya (Kemenkes RI, 2014).

Konsumsi energi yang melebihi kebutuhan tubuh dapat menyebabkan penambahan berat badan; ini biasanya menjadi masalah bagi mereka yang tidak berolahraga atau melakukan banyak aktivitas fisik. Oleh karena itu, tubuh menyimpan energi yang diterimanya sebagai lemak, bukan membakarnya (Sari, 2015).

Karena kehidupan sekarang lebih mudah, semakin sedikit orang yang berpartisipasi dalam olahraga dan latihan fisik, dan perkembangan teknologi pada banyak aspek kehidupan membawa seseorang untuk menjalani kehidupan yang tidak terlalu menuntut fisik (Pinasti, 2013). Olahraga dapat membakar kalori sehingga dapat menjaga berat badan. Apabila sebagian besar waktu digunakan untuk sedentary activities seperti menonton TV akan membuat berat badan meningkat (Rossen,2012). Sedentary activities seperti menonton TV memiliki hubungan positif dengan kenaikan berat badan, hal ini karena saat menonton TV metabolisme tubuh menurun dan meningkatkan konsumsi makanan saat menonton TV (Boden Institute of Obesity Nutrition Exercise and Eating Disorders University of Sydney, 2011)

Manfaat aktivitas fisik dan olah raga menurut Welis dan Rifki (2013) antara lain mengontrol tekanan darah tetap pada batas normal, menaikkan imunitas tubuh terhadap penyakit, merawat berat badan tetap sehat, menguatkan tulang dan otot, menaikkan kelenturan tubuh, dan menaikkan kebugaran tubuh. Hal ini juga mencakup menurunkan tingkat stres, meningkatkan kepercayaan

68

diri, menanamkan rasa sportivitas, mendorong tanggung jawab, dan menumbuhkan kohesi sosial. Selain itu, olahraga dapat membuat Anda lebih bugar secara fisik, meningkatkan kesehatanjiwa, diantaranya depresi dan fungsi kognitif, serta mengurangi trauma atau serangan jantung. Penyakit tidak menular seperti jantung koroner, stroke, kanker, diabetes tipe 2, osteoporosis, dan depresi semuanya dapat dicegah melalui olahraga. tiba-tiba (Kemenkes RI, 2014).

Banyak faktor, termasuk faktor sosial ekonomi, dukungan masyarakat, dan faktor individu yaitu pengetahuan serta persepsi mengenai pola hidup sehat, dorongan semangat, preferensi olahraga, dan ekspektasi terhadap aktivitas fisik, semuanya mempengaruhi tingkat aktivitas fisik seseorang. manfaat berolahraga (Welis dan Rifki, 2013). Gaya hidup (kedudukan ekonomi, budaya, keluarga, teman, dan masyarakat), tingkat pendidikan, keinginan terhadap kesehatan, lingkungan, dan genetika semuanya dapat berdampak pada aktivitas fisik (Rusyadi, 2017).

Penelitian (Nugroho et.al, 2016) menyatakan adanya hubungan signifikan diantara aktifitas fisik dan IMT, hal ini karena aktifitas fisik dan olahraga yang kurang dapat menyebabkan banyak energi yang tersimpan sebagai lemak sehingga menyebabkan kegemukan.

Peningkatan berat badan ibu yang menggunakan kontrasepsi suntik DMPA berkorelasi dengan partisipasinya dalam berolahraga.

Kurangnya aktivitas dan mengonsumsi lebih banyak kalori dari yang dibutuhkan tubuh mengakibatkan energi tidak terbakar dan disimpan sebagai lemak, sehingga mengakibatkan penambahan berat badan (Liando et al.). Selain itu, penelitian (Muthoharoh, 2018) menemukan

69

bahwa 6,25% responden melakukan aktivitas atletik yang memadai (>3x/minggu), sedangkan 93,75% responden tidak.

Dokumen terkait