• Tidak ada hasil yang ditemukan

STUDI DESKRIPTIF PERUBAHAN BERAT BADAN PADA AKSEPTOR KB SUNTIK 3 BULAN DI PUSKESMAS GENUK SEMARANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "STUDI DESKRIPTIF PERUBAHAN BERAT BADAN PADA AKSEPTOR KB SUNTIK 3 BULAN DI PUSKESMAS GENUK SEMARANG"

Copied!
89
0
0

Teks penuh

(1)

STUDI DESKRIPTIF PERUBAHAN BERAT BADAN PADA AKSEPTOR KB SUNTIK 3 BULAN DI PUSKESMAS GENUK SEMARANG

KARYA TULIS ILMIAH

Diajukan untuk memenuhi persyaratan memperoleh gelar Sarjana Kebidanan Program Pendidikan Sarjana Kebidanan dan Profesi Bidan

Disusun Oleh : NINING ALKOMAH

NIM. 32101900047 HALAMAN JUDUL

PROGRAM STUDI KEBIDANAN PROGRAM SARJANA DAN PENDIDIKAN PROFESI BIDAN

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG

SEMARANG 2023

(2)

PERSETUJUAN PEMBIMBING KARYA TULIS ILMIAH

(3)
(4)

HALAMAN PERYATAAN ORISINALITAS

(5)

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA TULIS ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

(6)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan Rahmat dan hidayah-Nya sehingga pembuatan Karya Tulis Ilmiah yang berjudul

“Studi Deskriptif Perubahan Berat Badan pada Akseptor KB Suntik 3 Bulan Di Puskesmas Genuk Semarang” ini dapat selesai sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Proposal skripsi ini diajukan sebagi salah satu persyaratan untuk mencapai gelar Sarjana Kebidanan (S.Keb) dari Prodi Sarjana Kebidanan dan Profesi Bidan FK Unissula Semarang.

Penulis menyadari bahwa selesainya pembuatan Karya Tulis Ilmiah ini adalah berkat bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu perkenankanlah penulis mengucapkan terimakasih kepada:

1. Prof. Dr. Gunarto, SH.,SE.,Akt.,M. Hum selaku Rektor Universitas Islam Sultan Agung Semarang.

2. Dr. dr H. Setyo Trisnadi, Sp.KF, SH., selaku Dekan Fakultas Kedokteran Unissula Semarang

3. Rr. Catur Leny Wulandari, S.SiT, M.Keb., selaku Ketua Program Studi Sarjana Kebidanan dan Profesi Bidan FK Universitas Islam Sultan Agung Semarang.

4. Machfudloh, S.SiT, MH.Kes selaku dosen pembimbing I yang telah meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan hingga penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini selesai.

5. Emi Sutrisminah, S.SiT. M.Keb selaku dosen pembimbing II yang telah meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan hingga penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini selesai.

(7)

6. Is Susiloningtyas, S. SiT, M. Keb selaku penguji yang telah meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan hingga penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini selesai.

7. Seluruh Dosen dan Karyawan Program Studi Sarjana Kebidanan dan Profesi Bidan Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sultan Agung Semarang.

8. Kedua orang tua penulis, Bapak Jemakir dan Almarhumah Ibu Istanti dan kakak tercinta Irvan Hidayat yang selalu mendidik, memberikan dukungan moril dan materil sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini.

9. Teman-teman seperjuangan S1 Kebidanan 2019i yang telah memotivasi dan menguatkan satu sama lain untuk menyelesaikan tugas Karya Tulis Ilmiah ini dengan baik dan tepat waktu.

Dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini, penulis menyadari bahwa hasil Karya Tulis Ilmiah ini masih jauh dari ideal, oleh karena itu penulis menantikan kritik dan saran membangun dari pembaca demi kemajuan dan kesempurnaan Karya Tulis Ilmiah ini.

Semarang, Agustus 2023

Penulis,

(8)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

PERSETUJUAN PEMBIMBING KARYA TULIS ILMIAH ... ii

HALAMAN PENGESAHAN KARYA TULIS ILMIAH ... ii

HALAMAN PERYATAAN ORISINALITAS... iv

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA TULIS ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ... v

KATA PENGANTAR ... vi

DAFTAR ISI ... viii

DAFTAR GAMBAR ... x

DAFTAR TABEL ... xi

DAFTAR LAMPIRAN ... xii

ABSTRAK ... xiii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 5

C. Tujuan Penelitian ... 6

D. Manfaat Penelitian ... 6

E. Keaslian Penelitian ... 8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 15

A. Landasan Teori ... 15

1. Konsep Dasar Kontrasepsi Suntik 3 Bulan ... 15

a. Pengertian... 15

b. Jenis ... 16

c. Cara Kerja ... 16

d. Efektifitas ... 17

e. Keuntungan dan Kerugian ... 17

f. Indikasi ... 19

g. Efek samping ... 19

h. Waktu Penggunaan ... 21

i. Cara penggunaan ... 23

2. Perubahan berat badan ... 23

a. Pengertian... 23

b. Kategori ... 24

c. Faktor Penyebab Perubahan Berat Badan ... 24

3. Penelitian yang Relevan ... 33

B. Kerangka Teori ... 35

BAB III METODE PENELITIAN ... 36

A. Jenis dan Rancangan Penelitian ... 36

B. Subjek Penelitian ... 36

C. Teknik Sampling ... 37

D. Prosedur Penelitian ... 39

E. Variabel Penelitian ... 42

F. Definisi Operasional Penelitian ... 42

G. Metode Pengumpulan Data ... 44

H. Metode pengolahan data ... 45

I. Analisis data ... 48

J. Waktu dan tempat ... 48

K. Etika penelitian ... 48

(9)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 51

A. Gambaran Umum Penelitian ... 51

B. Hasil Penelitian ... 52

C. Pembahasan ... 56

D. Keterbatasan Penelitian ... 69

BAB V PENUTUP ... 70

A. Kesimpulan ... 70

B. Saran ... 70

DAFTAR PUSTAKA ... 72

LAMPIRAN ... 76

(10)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Kerangka Teori ... 35 Gambar 3.1. Prosedur Penelitian ... 41

(11)

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1. Definisi Operasional ... 42 Tabel 3.2. Codding karakteristik responden ... 46 Tabel 3.3. Skoring karakteristik responden ... 47 Tabel 4.1. Distribusi Frekuensi Perubahan Berat Badan pada akseptor KB

Suntik 3 bulan ... 52 Tabel 4.2. Distribusi Frekuensi Usia Akseptor KB Suntik 3 Bulan di

Puskesmas Genuk Semarang ... 53 Tabel 4.3. Distribusi Frekuensi Paritas Akseptor KB Suntik 3 bulan di

Puskesmas Genuk Semarang ... 53 Tabel 4.4. Distribusi Frekuensi Lama Penggunaan KB Suntik 3 Bulan di

Puskesmas Genuk Semarang ... 54 Tabel 4.5. Distribusi Frekuensi Riwayat Penggunaan KB pada Akseptor

Suntik 3 Bulan di Puskesmas Genuk Semarang ... 54 Tabel 4.6. Distribusi Frekuensi Pekerjaan Akseptor KB Suntik 3 Bulan di

uskesmas Genuk Semarang... 55 Tabel 4.7. Distribusi Frekuensi Pola Makan Akseptor KB Suntik 3 Bulan di

Puskesmas Genuk Semarang ... 55 Tabel 4.8. Distribusi Frekuensi Pola Aktivitas Akseptor KB Suntik 3 Bulan di

Puskesmas Genuk Semarang ... 55

(12)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Surat Permohonan Menjadi Responden ... 77

Lampiran 2 Lembar Persetujuan Responden ... 78

Lampiran 3 Lembar Kuesioner Data Demografi ... 79

Lampiran 4 Surat Izin Survey Pendahuluan ... 80

Lampiran 5 Surat Kesediaan Membimbing ... 82

Lampiran 6 Lembar Konsultasi Pembimbing ... 84

Lampiran 7 Jadwal Waktu Penelitian ... 89

Lampiran 8 Ethical Clearance ... 91

Lampiran 9 Dokumentasi Penelitian... 92

(13)

ABSTRAK

Latar belakang: KB suntik 3 bulan merupakan kontrasepsi yang paling banyak digunakan dan menjadi favorit dikarenakan mudah dilakukan, sederhana dan efektif. Menurut hasil pemantauan pengguna KB suntik 3 bulan di Indonesia tahun 2021 sebanyak 59,9 %, kontrasepsi suntik 3 bulan memiliki beberapa efek samping dantaranya : flek/spotting, perubahan berat badan, keputihan, penurunan libido, mual muntah dan sakit kepala. Efek samping yang paling banyak dikeluhan yaitu perubahan berat badan, sebanyak 75%

akseptor KB suntik 3 bulan mengalami perubahan berat badan dimana kenaikan berat badan rata-rata setiap tahun 2,3 – 2,9 kg dan penurunan rata-rata setiap tahun antara 1,6- 1,9 %. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran perubahan berat badan pada akseptor KB suntik 3 bulan di Puskesmas Genuk Semarang. Penelitian ini dilaksanakan di Puskesmas Genuk Semarang. Metode: penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kuantitatif. Teknik pengambilan sampel menggunakan Accidental Sampling. Populasinya adalah seluruh akseptor KB suntik 3 bulan sebanyak 3010 dengan jumlah sampel 32 responden yang diambil pada bulan Agustus 2023.

Instrument penelitian ini menggunakan kuesioner data demografi dan timbangan berat badan. Hasil: peneliti menyatakan bahwa sebagian besar akseptor KB suntik 3 bulan mengalami kenaikan berat badan sebanyak 24 responden (75.0%), berdasarkan karakteristik usia sebagian besar akseptor berusia 20-25 tahun (43.8%), berdasarkan paritas sebagian besar akseptor adalah primipara sebanyak 19 responden (59.4%), berdasarkan lama penggunaan KB suntik 3 bulan sebagian besar akseptor selama 4-6 tahun sebanyak 18 responden (56.3%), berdasarkan riwayat penggunaan KB sebagian besar akseptor menggunakan kontrasepsi non-MKJP sebanyak 19 responden (59.4%), berdasarkan pekerjaan sebagian besar akseptor adalah bekerja sebanyak 19 responden (59.4%), berdasarkan pola makan sebagian besar akseptor pola makannya teratur sebanyak 25 responden (78.1%), dan berdasarkan pola aktivitas sebagian besar akseptor beraktivitas ringan sebanyak 21 responden (65.6%). Kesimpulan: pada pengguna KB suntik 3 bulan sebagian besar mengalami efek samping yaitu perubahan berat badan pada kategori naik sebesar 75.0%.

Kata kunci: kontrasepsi, suntik 3 bulan, berat badan, perubahan, KB

(14)

ABSTRACT

Background: 3-month injectable birth control is the most widely used contraceptive and is a favorite because it is easy to do, simple and effective. According to monitoring results of 3-month injectable contraceptive users in Indonesia in 2021, there were 59.9%, 3-month injectable contraceptives have several side effects including: spots/spotting, weight changes, vaginal discharge, decreased libido, nausea, vomiting and headaches. The side effect that is most frequently complained about is changes in body weight, as many as 75%

of 3-month contraceptive injection acceptors experience changes in body weight where the average weight gain each year is 2.3 – 2.9 kg and the average decrease each year is between 1, 6-1.9 %. The aim of this study was to determine the description of weight changes in 3-month contraceptive injection acceptors at the Genuk Semarang Public Health Center. This research was carried out at the Genuk Semarang Community Health Center. Method: This research uses quantitative descriptive research methods. The sampling technique uses Accidental Sampling. The population was all 3010 3-month contraceptive acceptors with a sample size of 32 respondents taken in August 2023. This research instrument used a demographic data questionnaire and body weight scales.

Results: researchers stated that the majority of 3-month injectable contraceptive acceptors experienced weight gain, 24 respondents (75.0%), based on age characteristics, the majority of acceptors were 20-25 years old (43.8%), based on parity, the majority of acceptors were primipara, 19 respondents. (59.4%), based on the duration of injectable contraceptive use of 3 months, the majority of acceptors for 4-6 years were 18 respondents (56.3%), based on history of contraceptive use, the majority of acceptors used non-MKJP contraception, 19 respondents (59.4%), based on occupation Most of the acceptors work as many as 19 respondents (59.4%), based on their diet, most of the acceptors have regular eating patterns, as many as 25 respondents (78.1%), and based on their activity patterns, most of the acceptors have light activities, as many as 21 respondents (65.6%).

Conclusion: Most of the 3-month injectable contraceptive users experienced side effects, namely changes in body weight in the category of increasing by 75.0%.

Key words: contraception, 3 month injection, body weight, changes, KB

(15)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Program Keluarga Berencana (KB) yang bertujuan supaya menurunkan angka kematian ibu merupakan rangkaian kegiatan yang diselenggarakan dari suatu organisasi keluarga berencana dan juga program dari pemerintah yang diatur dengan UU Nomor 87 Tahun 2014 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Keluarga Berencana, dan sistem informasi keluarga yang bertujuan untuk mengurangi dari AKI dan AKB, penatalaksanaan kehamilan, dan pemeliharaan kesehatan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan mencegah kehamilan yang tidak diinginkan (Noviyati Rahardjo Putri et al., 2022).

Terdapat berbagai macam alat kontrasepsi yang tersedia, diantaranya adalah Alat Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP), seperti Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (IUD), implan, Bedah Medis Wanita (MOW), dan Medis Bedah Pria (MOP), dan metode kontrasepsi non jangka panjang (Non MKJP), seperti kondom, pil, dan suntikan. (Anis Laela Megasari et al., 2022). Menurut statistik hasil pemantauan pemakai KB suntik 3 bulan di Indonesia pada tahun 2021 sebanyak (59,9%) dan di Jawa Tengah sebanyak (61,9%), alat kontrasepsi suntik 3 bulan ialah salah satu program KB yang menjadi andalan atau favorit (Kemenkes RI., 2021), karena mudah dilakukan, sederhana, efektif dan suatu alat kontrasepsi yang bertahan lama, tidak membutuhkan pemakaian setiap hari atau setiap akan berhubungan tetapi tidak menganggu saat berhubungan, dan tidak menganggu produksi ASI sehingga aman untuk ibu menyusui (Laila, 2019).

(16)

2

Berdasarkan Profil Kesehatan Jawa Tengah tahun 2021 peserta KB aktif semua metode kontrasepsi sebesar 3.563.100 pus terdiri atas (61.96%) akseptor KB suntik, (9.07 %) akseptor KB IUD, (9.66 %) akseptor pil, (2.65%) akseptor kondom, (11.27%) akseptor implant, akseptor MOW (5.08%) akseptor dan (0,31 %) akseptor MOP. Dengan demikian pencapaian tertinggi pada KB Suntik dan pencapaian terendah pada MOP (Kemenkes RI., 2021).

Profil Dinas Kesehatan Kota Semarang menunjukkan pada tahun 2021 jumlah akseptor KB aktif di semua metode kontrasepsi di Kota Semarang sebesar 175.603 terdiri dari akseptor suntik (48.29 %), akseptor IUD sebanyak (12.86 %), akseptor pil (9.74%), akseptor kondom sebanyak (12.86%), akseptor MOW sebanyak (9.51 %), akseptor implant sebanyak (6.27%), dan akseptor MOP sebanyak (0.38 %). Dari data di atas bisa disimpulkan maka akseptor KB tertinggi adalah KB suntik (BPS JATENG, 2021) (Dinas Kota Semarang, 2021).

Suntik KB 3 bulan yaitu alat kontrasepsi yang berisi hormonal seperti DMPA (Depo Medroxyprogesterone Acetat) dan NET-EN yang disuntikkan secara intramuskular (IM) pada bokong wanita dalam tiga bulan sekali (Pratami, 2020). Kontrasepsi suntik tiga bulan memiliki kerugian dan efek samping, antara lain perubahan suasana hati, penambahan berat badan, penurunan gairah seks, sakit kepala, nyeri payudara, flek/bercak, dan perubahan siklus menstruasi (Anis Laela Megasari et al., 2022).

Efek samping terbanyak yang dirasakan dari akseptor KB suntik 3 bulan ialah perubahan berat badan. Perubahan berat badan dipengaruhi karena adanya hormone progesterone dimana memiliki dua kemungkinan yaitu menaikkan berat badan atau menurunkan berat badan (Margiyati &

(17)

3

Wulandari, 2014). Pengaruh penurunan progesterone pada berkurangnya berat badan yaitu lewat mekanisme turunnya nafsu makan serta turunnya penumpukkan lemak. Peningkatan berat badan disebabkan mekanisme retensi Natrium dan air oleh renin-angiotensin-aldosteron system (RAAS) (Borges et al., 2021). Beberapa akseptor mengalami kecemasan pada dirinya karena tidak siap untuk menghadapi efek samping dari kontrasepsi 3 bulan yaitu perubahan berat badan (Fitri, 2012). Maka dari itu perubahan berat badan pada akseptor KB Suntik 3 bulan perlu diperhatikan. Menurut Ariesthi 2019 dalam penelitiannya didapatkan beberapa faktor yang berkontribusi pada peningkatan berat badan yaitu faktor hormonal, faktor psikologi, faktor genetik, faktor lingkungan, pola makan serta menurunnya aktifitas tubuh (Ariesthi and Fitri, 2019) .

Sebanyak 75% dari mereka yang memakai suntik KB 3 bulan merasakan meningkatnya berat badan. Berdasarkan temuan penelitian Depo Provera, rata-rata pertambahan berat badan setiap tahunnya berkisar antara 2,3 hingga 2,9 kg, sedangkan rata-rata penurunan berat badan setiap tahunnya berkisar antara 1,6 hingga 1,9 kg (Nelly Syofiah et al., 2016). Pada tahun pertama, terjadi kenaikan berat badan kira-kira sekitar kurang dari 1 kg hingga 5 kg, menurut penelitian Septianingrum menambahnya berat badan yang disebabkan oleh alat kontrasepsi suntik dikaitkan dengan peningkatan lemak tubuh dan berdampak pada seberapa baik pengendalian rasa lapar (Septianingrum et al., 2018). Menurut Febriani & Ramayanti (2020), penambahan berat badan seringkali merupakan dampak buruk yang paling umum dari penggunaan DMPA. Menurut sebuah penelitian, berat badan naik lebih dari 2 kilogram di tahun pertama, kemudian meningkat secara perlahan

(18)

4

hingga 7,5 kilogram, berat badan naik bila menggunakan siklofem rata-rata 2- 3 kg pada tahun pertama serta meningkat terus pada tahun kedua (Febriani and Ramayanti, 2020).

Serius nya permasalahanan efek samping di akseptor KB suntik 3 bulan yakni Perubahan berat badan yang sulit terkontrol dapat menyebabkan barbagai penyakit dan masalah seperti diabetes mellitus, kanker, asma, rambut rontok, dehidrasi, gangguan metabolism tubuh dan osteoarthritis (Oshodi et al., 2019). Dampak psikologi pun sering muncul seperti kurangnya percaya diri dengan perubahan peningkatan atau penurunan pada berat badan (Africander et al., 2011). Dalam hal tersebut sebagai seorang tenaga kesehatan khususnya seorang bidan dapat memberikan solusi yaitu dengan memberikan KIE menjelaskan efek samping kontrasepsi serta perubahan berat badan, serta memberikan konseling dengan media klop KB pada akseptor bahwa KB apa yang cocok dan sesuai dengan umur dan kebutuhannya(Ariesthi and Fitri, 2019). Oleh karena itu pengguna KB tidak merasa cemas terkait keadaannya dan dapat menentukan pilihan yang tepat terkait kontrasepsi yang digunakan. Kenaikan berat badan hanya sebentar pada akseptor (tidak terjadi di semua pengguna suntikan, sesuai reaksi tubuh wanita itu terhadap metabolisme progesteron) (ridriana, 2018).

Berdasarkan data dari Dinkes Kota Semarang didapatkan jumlah KB Suntik 3 bulan terbanyak yaitu di Puskesmas Genuk sebanyak 3010 akseptor pada bulan Mei 2023. Hasil penelitian yang dilakukan di bulan Maret 2023 berdasarkan dari 12 akseptor yang diwawancarai 4 diantaranya mengeluh mengalami penurunan berat badan, 6 lainnya mengatakan bahwa mereka mengalami kenaikan berat badan dan 2 lainnya mengatakan bahwa berat

(19)

5

badan tidak berubah. Akseptor mengatakan mengalami kenaikan berat badan setelah satu tahun pertama pemakaian KB Suntik 3 bulan dan akseptor yang mengalami penurunan berat badan yaitu pada bulan pertama sampai kedua setelah pemakaian KB Suntik 3 bulan. Rata-rata kenaikan berat badan yang dialami akseptor yaitu sekitar 3-4 kg dan rata-rata penurunan berat badan yang dialami akseptor yaitu sekitar 1-2 kg. Namun ada beberapa keluhan penyerta yang disampaikan beberapa akseptor selain perubahan berat badan yaitu seperti kenaikan tekanan darah, pusing dan amenorea. Berdasarkan uraian masalah tersebut peneliti tertarik melakukan penelitian tentang “Studi Deskriptif Tentang Perubahan Berat Badan Pada Akseptor Kb Suntik 3 Bulan Di Puskesmas Genuk Semarang”

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan dari latar belakang yang telah diuraikan, maka perumusan masalah dalam penelitian ini yaitu bagaimana gambaran tentang perubahan berat badan pada akseptor KB Suntik 3 bulan di Puskesmas Genuk Semarang?

(20)

6

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui gambaran perubahan berat badan pada akseptor KB Suntik 3 bulan di Puskesmas Genuk Semarang

2. Tujuan khusus

a. Untuk mengetahui gambaran perubahan berat badan pada akseptor KB Suntik 3 bulan di Puskesmas Genuk Semarang.

b. Untuk mengetahui karakteristik responden berdasarkan usia, paritas, lama pemakaian KB, riwayat penggunaan KB, pekerjaan, pola makan dan pola aktivitas.

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat teoritis

Untuk memperluas kesadaran pembaca terhadap Studi Deskriptif Perubahan Berat Badan pada Akseptor KB KB 3 Bulan di Puskesmas Genuk Semarang, diharapkan temuan penelitian ini dapat memberikan kontribusi dalam perdebatan literatur.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi Universitas Islam Sultan Agung Semarang

Penelitian ini akan menambah pemahaman mengenai Studi Deskriptif Perubahan Berat Badan Pada Akseptor Suntikan KB 3 Bulan Di Puskesmas Genuk Semarang khususnya pada bidang keahlian kebidanan. Dan mungkin penelitian ini bisa menjadi panduan penelitian untuk penelitian selanjutnya.

b. Bagi tenaga kesehatan

(21)

7

Menjadi bahan masukan agar tenaga kesehatan memberikan pelayanan dan edukasi mengenai efek samping perubahan berat badan KB suntik 3 bulan kepada akseptor.

c. Bagi Akseptor.

Diharapkan hasil penelitian ini bisa menginformasikan mengenai efek samping kontrasepsi yaitu perubahan berat badan pada akseptor KB suntik 3 bulan sehingga akseptor dapat mempertahankan kualitas hidupnya dengan mencegah perubahan berat badan dengan melakukan aktivitas fisik, memperbaiki pola makan dan memilih Kontrasepsi yang tepat dan sistem reproduksi dapat terjaga.

d. Bagi peneliti selanjutnya

Dapat melakukan analisis lebih lanjut untuk memahami faktor- faktor yang berkontribusi pada perubahan berat badan dan implikasi klinisnya dan dapat menggunakan desain penelitian yang lebih komprehensif.

(22)

E. Keaslian Penelitian

Terdapat penelitian serupa dengan penelitian itu yaitu :

Tabel 1. 1 Keaslian Penelitian No Judul artikel, Penulis,

Tahun Negara Tujuan

Metode (desain, sampel, variable, instrument, analisis)

Hasil Persamaan Perbedaan

1. Judul : Changes in body weight and blood pressure among women using Depo- Provera injection in Northwest Ethiopia Penulis : Zerihun FM, et.al

Tahun : 2019

Ethiopia Untuk mengetahui bagaimana Depo- Provera

mempengaruhi berat badan dan tekanan darah wanita Ethiopia.

Penelitian ini menggunakan metode rancangan studi cross- sectional komparatif berbasis institusi, dengan sampel 50 wanita sehat yang telah menggunakan Depo- Provera yang diambil menggunakan Teknik sampling

menggunakan formula populasi ganda, dan teknik sampling acak sistematik,

Instrumen menggunakan

kuesioner terstruktur yang diberikan oleh pewawancara untuk

Hasil

menunjukkan Temuan

penelitian ini

bahwa ada

peningkatan berat badan dan BMI di antara pengguna Depo- Provera

dibandingkan dengan non- pengguna. Rata- rata berat badan dan indeks massa tubuh (BMI) pengguna Depo-Provera meningkat

secara signifikan

Instrumen penelitian menggunakan timbangan berat

badan, dan

kuesioner

terstruktur untuk me ngumpulkan data tentang usia, durasi

penggunaan KB Suntik,

Rancangan penelitian menggunakan cross-sectional.

Waktu dan

tempat penelitian, Jumlah responden Jenis penelitian yang digunakan analisis

observasional menggunakan desain penelitian lintas bagian Teknik pengambilan sampel dengan formula populasi ganda, dan teknik sampling acak sistematik.

(23)

mengumpulkan data tentang usia, durasi penggunaan Depo- Provera, Tekanan

darah diukur

menggunakan sphygmomanometer standar, tinggi dan berat badan diukur masing-masing

menggunakan

stadiometer dan timbangan mekanik Analisis data yang digunakan Epi Data versi 3.1 dan diekspor ke paket Statistik untuk Ilmu Sosial (SPSS) versi 21 untuk dianalisis, Paired t-test, Independent t-test, ANOVA satu arah, Uji korelasi Pearson Semua nilai dikutip sebagai rata-rata ± SD, nilai p ≤ 0,05 dianggap signifikan secara statistic.

(p=0,02 untuk rata-rata berat

badan dan

p=0,019, untuk indeks massa tubuh)

Analisis uji bivariate dengan uji korelasi Pearson

(24)

2. Judul : Depo- medroxyprogesterone acetat, weight gain and amenorrhea among obese women adolescent and adult women

Penulis : Simss J et.al

Tahun : 2020

Amerika serikat

Untuk mengevaluasi korelasi antara obesitas dan penggunaan depo- medroksiprogester on (DMPA) dalam kaitannya dengan penambahan berat badan dan

perubahan pola perdarahan

Metode Penelitian ini menggunakan metode statistik deskriptif dan inferensial dengan sampel 240 wanita

yang diambil

menggunakan Teknik onvenience sampling, dimana partisipan dipilih berdasarkan kesediaan dan kesediaan mereka untuk berpartisipasi dalam penelitian

Instrumen yang digunakan yaitu melalui menggunakan alat penangkap data elektronik REDCap yang diselenggarakan di UMMC

Hasil penelitian menunjukkan Dari 240 pasien yang termasuk dalam penelitian, 3,4% kurus, 30,8% berat badan normal, 23,3% kelebihan berat badan, Wanita

memperoleh (2,40kg; 95% CI 1,34 – 3,45) saat mereka

menggunakan DMPA (p<0,01) yang setelah disesuaikan dengan variabel pengganggu dikaitkan dengan usia saat injeksi awal (koefisien beta = −0,13;

p=0,01). Wanita yang memulai DMPA pada usia

Metode penelitian menggunakan metode deskriptif

Waktu dan

tempat penelitian, Jumlah responden Teknik sampel menggunakan onvenience sampling Instrument menggunakan alat penangkap data elektronik REDCap yang diselenggarakan di UMMC.

(25)

lebih dini mengalami kenaikan berat badan paling banyak dari waktu ke waktu, terlepas dari BMI awal.

3. Judul : Weight change among women using intramuscular depot medroxyprogesterone acetate, a copper intrauterine device, or a levonorgestrel

implant for

contraception did not influence early discontinuation

Penulis : Bahamondes L Tahun : 2021

Brazil Untuk mengetahui apakah

penambahan berat badan pada wanita yang menggunakan berbagai jenis kontrasepsi

mempengaruhi keputusan untuk menghentikan penggunaan kontrasepsi tersebut.

Penelitian ini menggunakan metode studi prospektif terkontrol. Dengan sampel 2000 wanita yang dibagi menjadi tiga kelompok pengguna Kontrasepsi yg dipilih menggunakan teknik sampling acak (random sampling) . Instrument yg digunakan yaitu wawancara dan pengukuran berat badan pada awal penelitian dan setiap 6 bulan selama 36 bulan.

Analisis data menggunakan uji

Hasil

menunjukkan wanita yang menggunakan DMPA

cenderung mengalami penambahan berat badan yang lebih besar dibandingkan dengan

kelompok kontrol yang tidak menggunakan kontrasepsi hormonal.

Instrument penelitian menggunakan pengukuran berat badan

(timbangan)

Waktu dan tempat penelitian, Jumlah responden Teknik pengambilan sampel

menggunakan teknik teknik sampling acak (random

sampling) Analisa data menggunakan uji ANOVA.

(26)

ANOVA dan uji chi- square.

4. Judul : Weight gain and menstrual abnormalities

between users of Depo-provera and Noristerat

Penulis : Oshodi YA et.al

Tahun : 2019

Nigeria Untuk membandin gkan penambahan berat badan dan kelainan

menstruasi pada pengguna

kontrasepsi

suntikan Depot Medroxyprogestero ne Acetate (DMPA) dan Norethisterone Enanthate

(Noristerat) di sebuah institusi di Nigeria.

Penelitian ini menggunakan metode Studi komparatif retrospektif, dengan sampel 237 responden, instrumen yang digunakan adalah

catatan yang

didokumentasikan selama 2 bulan pertama, 4 bulan berikutnya, hingga 1 tahun. Analisis data menggunakan paket statistik untuk ilmu sosial (versi 19).

Hasil

menunjukkan :Usia rata-rata gabungan adalah 34,15 ± 1,36 tahun. Berat rata- rata pada saat permulaan adalah 68,16kg untuk DMPA dan 66,61kg untuk pengguna

Noristerat sementara setelah satu tahun, meningkat secara signifikan menjadi 71,27kg untuk DMPA dan 69,07kg untuk pengguna

Noristerat (P<0,05).

Terdapat

kenaikan berat badan yang

Waktu dan

tempat penelitian, Jumlah responden, Metode penelitian menggunakan Studi komparatif retrospektif, Analisa data yang digunakan adalah paket statistik untuk ilmu sosial (versi 19).

(27)

signifikan antara pengguna DMPA dan Noristerat.

5. Judul : Gambaran Kenaikan Berat Badan Pada Akseptor KB Suntik 3 Bulan Di PMB Bidan

Ambarwati Cilacap Tahun 2020 Penulis : Nursamsiyah &

Rohmah S Tahun : 2020

Indonesi a

Bertujuan untuk mengetahui Gambaran Kenaikan Berat Badan Pada

Akseptor KB Suntik Di PMB Bidan Ambarwati.,Amd.,K eb Tahun 2020"

Penelitian ini menggunakan jenis deskriptif

dengan sampel 100 responden yang diambil menggunakan Teknik total sampling, instrumen yang digunakan adalah lembar catatan rekam medik. Analisis data menggunakan table distribusi frekuensi.

Hasil

menunjukkan kenaikan berat badan

responden dengan kategori IMT Ringan sebanyak 87 akseptor dan kategori Berat sebanyak 13 akseptor.

Jenis penelitisn yang digunakan yaitu deskriptif.

Analisis data menggunakan tabel distribusi frekuensi.

Waktu dan tempat penelitian, Jumlah responden Teknik pengambilan sampel

menggunakan Teknik total sampling.

Instrument penelitian menggunakan lembar catatan rekam medik.

6. Judul : Gambaran peningkatan berat badan pada akseptor KB Suntik 3 bulan di PMB perdamaiana desa candi kecamatan bandungan kabupaten semarang

Indonesi a

menggunakan kontrasepsi dosis 3 bulan untuk membandingkan gambaran kenaikan berat badan antara dua tahun.

Penelitian

menggunakan Desain observasional

deskriptif, dengan sampel berjumlah 257 responden yang diambil menggunakan Teknik purposive sampling, instrument

Hasil

menunjukkan Hasilnya,

mayoritas dari 37 responden yang menggunakan suntik KB 3 bulan kurang dari setahun—yakni

Desain penelitian dengan

menggunakan observasional deskriptif, Teknik pengambilan sampel dengan non probability sampling dengan

Waktu dan tempat penelitian, Jumlah responden, Instrument penelitian dalam bentuk master table

(28)

Penulis : Dhio NS &

Cahyaningrum Tahun : 2021

penelitian dalam bentuk master table berdasarkan buku kunjungan kb. Analisis data yang digunakan analisis data univariat dalam bentuk tabel ferekuensi dan presentase.

33 responden—

mengalami kenaikan berat badan. Dari 220 responden yang menggunakan suntik KB 3 bulan kurang dari setahun—yakni 211 responden—

mayoritas—

mengalami kenaikan berat badan.

Kesimpulan: Di antara mereka yang menerima suntikan 3 bulan, mayoritas

mengalami peningkatan berat badan.

teknik purvosive sampling, Analisis

data yang

digunakan analisis data univariat dalam bentuk tabel ferekuensi dan presentase.

berdasarkan buku kunjungan kb.

(29)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

1. Konsep Dasar Kontrasepsi Suntik 3 Bulan a. Pengertian

Istilah kontrasepsi berasal dari kata kontra dan konsepsi. Kata kontra mengacu pada tindakan untuk menghindari atau mencegah, sementara konsepsi merujuk pada proses bertemunya sel telur yang matang dan sperma yang dapat berefek kehamilan. Konsep kontrasepsi upaya agar menghindari terjadinya kehamilan sebagai hasil bertemunya antara sel telur dan sperma. Kontrasepsi, yang juga dikenal sebagai pengendalian konsepsi, melibatkan penggunaan berbagai cara, alat, atau obat-obatan supaya menghambat proses pembuahan (handayani, 2010).

Kontrasepsi suntik ialah metode yang digunakan dalam menunda kehamilan dengan menggunakan suntik hormon. Suntikan diberikan setiap 3 bulan atau setiap bulan dan biasanya disuntikkan ke otot bokong atau lengan atas. Mekanisme dari kontrasepsi suntik ialah membuat cairan di serviks menjadi lebih kental sehingga menghalangi sperma untuk melewati, merubah lapisan endometrium agar tidak cocok untuk implantasi, serta juga menghambat fungsi tuba fallopi (Africander, verhoog and hapgood, 2011).

Kontrasepsi suntik 3 bulan adalah metode kontrasepsi dengan diberikan setiap 3 bulan, mengandung 150 mg Depo

(30)

16

Medroxyprogesterone Acetate (DMPA), dan diberikan melalui penyuntikan intramuskular, biasanya di daerah bokong (Sulistiawati A, 2013).

b. Jenis

Jenis KB suntik golongan progestin menurut (Affandi B, 2016) adalah sebagai berikut :

1) Depo Medroksi Progesteron Asetat (DMPA) terdapat 150 mg DMPA diberikan 3 bulan sekali dengan menyuntikkan secara intramuscular (di daerah bokong ).

2) Depo noretisteron (Depo Noristerat) terdapat 200mg noretindron enantat, diberikan setiap 2 bulan dengan menyuntikkan secara intramuscular

c. Cara Kerja

1) Menghambat ovulasi kadar progestin tinggi sehingga mencegah lonjakan luteinzing hormone (LH) secara efektif sehingga tidak terjadi ovulasi. Kadar follicle-stimulating hormone (FSH) dan LH menurun dan tidak terjadi lonjakan LH (LH Surge). Menghambat perkembangan folikel dan mencegah ovulasi. Progesteron menurunkan frekuensi pelepasan (FSH) dan (LH). (Musyayadah et al., 2022).

2) Cairan serviks menjadi kental serta mengalami penebalan mukus serviks yang mengganggu penetrasi sperma. Perubahan – perubahan siklus yang normal pada lendir serviks. Sekret dari serviks tetap dalam keadaan dibawah pengaruh progesteron hingga menyulitkan penetrasi spermatozoa.

(31)

17

3) Melakukan perubahan sebelum tahap sekretorik, yang diperlukan untuk mempersiapkan endometrium agar dapat terjadi nidasi ovum yang telah dibuahi, bahwa endometrium kurang cocok atau baik untuk implantasi sel telur yang sudah dibuahi.

4) Menghalangi jalannya gamet dan tuba, yang mengakibatkan transfer ovum (telur) melalui tuba menjadi lebih cepat.

(Musyayadah et al., 2022).

d. Efektifitas

Depo Medroxyprogesterone Acetate (DMPA) mempunyai ke efektivitasan yang tinggi, dengan hanya 30 kehamilan per 100 perempuan per tahun, asalkan disuntikkan teratur sesuai jadwal yang sudah ditentukan (Sekarputri, 2021). Secara teoritis, KB suntik memiliki tingkat efektivitas sekitar 97,75%, sedangkan dalam praktiknya berkisar antara 95-97%. Metode kontrasepsi suntik ini dapat digunakan dalam jangka panjang dan tidak memengaruhi produksi air susu ibu. Ini merupakan pilihan bagus bagi wanita yang tinggal di daerah pedalaman yang lebih memilih suntikan karena efektivitasnya yang tinggi, atau bagi mereka yang tidak mau mempunyai anak lagi dan tidak ingin cemas tentang masalah menstruasi (Sulistiawati A, 2013).

e. Keuntungan dan Kerugian 1) Keuntungan

a) Sangat efektif

b) Pencegahan kehamilan janka panjang

(32)

18

c) Hubungan suami-istri tidak terpengaruh.

d) Karena kekurangan estrogen, ia tak mempunyai efek signifikan pada penyakit pembekuan darah dan jantung.

e) Tidak berdampak pada produksi susu

f) Klien tidak perlu menyimpan obat suntik di tempat penyimpanan.

g) Bisa dipakai pada wanita di atas usia 35 hingga perimenopause.

h) Mencegah gangguan inflamasi tertentu pada panggul i) Menurunkankrisis anemia sel sabit (Sulistiawati A, 2013).

2) Kerugian

a) Sering ditemukan gangguan menstruasi, seperti : (1) Siklus menstruasi memanjang atau memendek

(2) Pendarahan berat atau ringan yang banyak atausedikit (3) Pendarahan atau bercak yang sangat banyak

(4) Tidak ada periode menstruasi sama sekali b) Klien sangat bergantung pada lokasi layanan medis.

c) Tidak dapat dihentikan sebelum injeksi berikutnya kapan saja.

d) Perubahan pada berat badan

e) Tidak menjamin kekebalan terhadap virus hepatitis B, infeksi HIV, atau penyakit menular seksual.

f) Tertunda dimulainya kembali kesuburan setelah menghentikan penggunaan

(33)

19

g) Penggunaan seiring waktu mungkin akan sedikit mengurangi kepadatan tulang.

h) Penggunaan jangka panjang dapat mengakibatkan kesulitan emosional, sakit kepala, kegelisahan, jerawat, penurunan libido, dan kekeringan pada vagina (Anggraini and Murtini, 2012)

f. Indikasi

1) Usia puncak seksual 20–30 tahun 2) Nullipara serta yang memiliki anak

3) Menyusui selama lebih dari enam bulan setelah melahirkan 4) Mencari metode kontrasepsi jangka panjang yang sangat

efektif.

5) Setelah keguguran 6) Perokok

7) Tekanan darah <180/110 mmHg dan gangguan pembekuan darah.

8) Sering lupa menggunakan pil

9) Menopause yang semakin dekat, maka tidak dapat atau enggan menggunakan pil kontrasepsi kombinasi(Anggraini D, 2021).

g. Efek samping

KB suntik memiliki beberapa efek samping menurut (Affandi B, 2016) diantaranya yaitu :

1) Gangguan menstruasi

Beberapa masalah menstruasi meliputi: amenore (tidak adanya menstruasi), spotting (perdarahan ringan di luar siklus

(34)

20

menstruasi), perdarahan di luar jadwal haid, dan menstruasi yang lama dan berat dari biasanya. Gangguan dapat terjadi akibat ketidakseimbangan hormon yang mengakibatkan berubahnya histologi pada endometrium. Amenore sendiri disebabkan oleh atrofi endometrium.

2) Depresi

Kelelahan atau kurangnya motivasi dalam pekerjaan dalam aktivitas tiap hari seringkali dikaitkan dengan hormon progesteron, terutama jenis 19 norsteroid, yang dapat mengakibatkan defisiensi vitamin B6 di tubuh serta juga penumpukan air dan garam.

3) Keputihan

Keluar cairan putih dari vagina disebabkan karena perubahan flora pH vagina akibat pengaruh progesteron, yang membuat jamur berkembang dengan mudah di dalam vagina dan menyebabkan keputihan.

4) Rambut rontok

Rambut rontok bisa terjadi saat menggunakan suntikan atau setelah menghentikannya. Hal ini disebabkan oleh kemampuan progesteron untuk mempengaruhi folikel rambut, khususnya noreprogestin, dan menyebabkan rambut rontok.

5) Perubahan berat badan

Kenaikan berat badan tahunan berkisar antara 2,3 hingga 2,9 kg, disebabkan kemampuan hormon progesteron untuk memfasilitasi transformasi karbohidrat dan gula menjadi lemak,

(35)

21

yang mengakibatkan peningkatan cadangan lemak di bawah kulit. Hormon progesteron juga mempengaruhi peningkatan nafsu makan serta penurunan aktivitas fisik, sehingga penggunaan suntikan bisa mengakibatkan peningkatan berat badan.

6) Mual dan Muntah

Mual hingga muntah biasanya dialami selama beberapa bulan pertama penggunaan suntikan karena respons tubuh ke hormon progesteron yang memengaruhi produksi asam lambung.

7) Dalam penggunaan jangka panjang, efek samping yang mungkin terjadi meliputi kurangnya kelembaban pada vagina, penurunan dorongan seksual, gejala gangguan emosi yang jarang terjadi, pusing, nervositas, dan munculnya jerawat (Anggraini D, 2021).

h. Waktu Penggunaan

Durasi waktu penggunaan KB suntik DMPA dikemukakan oleh Mulyani dkk. (2013) dalam buku Keluarga Berencana dan Kontrasepsi adalah:

1) Kapan saja selama menstruasi. Setiap saat selama siklus haid, dengan syarat tidak hamil.

2) Hari 1 hingga Hari 7 dari siklus menstruasi disertakan

3) Suntikan pertama bisa diberikan kapan saja pada wanita yang tidak sedang menstruasi selama tidak hamil. Maka tidak boleh

(36)

22

melakukan aktivitas seksual selama tujuh hari setelah menerima suntikan.

4) Dengan asumsi bahwa mereka sebelumnya sudah memakai kontrasepsi hormonal dengan benar dan tidak hamil, maka perempuan yang beralih dari kontrasepsi hormonal alternatif ke kontrasepsi suntik dapat memberikan suntikan primer segera setelah menstruasi berikutnya tiba..

5) Apabila saat ini sedang menggunakan salah satu jenis KB suntik dan mau pindah ke jenis KB lainnya, maka KB suntik baru tersebut akan diberikan pada waktu yang telah ditentukan sebelumnya.

6) Selama belum hamil, wanita yang sedang menggunakan alat kontrasepsi non hormonal dan mau pindah ke alat kontrasepsi hormonal dapat segera mendapatkan suntikan pertama alat kontrasepsi hormonal tersebut; mereka tidak perlu menunggu sampai siklus menstruasi berikutnya. Namun jika penyuntikan dilakukan setelah hari ketujuh haid, maka aktivitas seksual harus dihindari selama tujuh hari setelah penyuntikan.

7) Bersiap untuk beralih dari IUD ke kontrasepsi hormonal.

Suntikan awal bisa dikasih antara hari pertama dan ketujuh siklus menstruasi, atau bisa dikasih di kemudian hari sesudah hari ketujuh, selama yakin tidak hamil.

8) Tidak menstruasi dengan perdarahan teratur. Jika tidak hamil, maka boleh mendapatkan suntikan pertama kapan pun, namun

(37)

23

harus menunggu tujuh hari sebelum melakukan aktivitas seksual setelahnya. (Sulistiawati A, 2013).

i. Cara penggunaan

1) Setiap tiga bulan sekali, suntikan kontrasepsi DMPA diberikan secara intramuskular di bokong. Alat kontrasepsi ini akan menyerap lebih lambat dan menjadi kurang efektif bila penyuntikannya dilakukan terlalu dangkal. Setiap 90 hari, suntikan ini diulangi.

2) Sebelum menyuntikkan alkohol ke kulit, bersihkan. Dengan menggunakan kapas yang direndam dalam 60-80% etil/sopropil alkohol, suntikkan larutan setelah kulit mengering.

3) Hindari gelembung udara saat dikocok secara menyeluruh. Alat kontrasepsi yang diberikan secara intravena tidak perlu didinginkan. Coba panaskan kembali ampul jika ada endapan putih di dasarnya (Sekarputri, 2021).

2. Perubahan berat badan a. Pengertian

Berat badan adalah indikator yang mencerminkan massa tubuh seseorang Berat badan dikatakan normal atau ideal jika tinggi dan berat badan seimbang secara proporsional. Kandungan protein, lemak, air, dan mineral semuanya tercermin di berat badan (Atkinson, 2010). Berat badan seseorang bisa berubah-ubah, naik atau turun, tergantung seberapa banyak makanan yang dikonsumsi dan diubah menjadi lemak yang kemudian disimpan di bawah kulit (Anggraeni,2012).

(38)

24

b. Kategori

Dalam konteks perubahan berat badan (Handayani, 2016) mengklasifikasikan menjadi beberapa kategori naik, turun dan tetap mengacu pada perubahan berat badan seseorang dalam rentang waktu tertentu. Berikut adalah beberapa kategori umum yang digunakan :

1) Kategori kenaikan berat badan

Jika hasil penimbangan lebih tinggi dari berat badan sebelumnya, maka beratnya bertambah.

2) Kategori penurunan berat badan

Berat badan berkurang kalau hasil penimbangan berat badan lebih sedikit dibandingkan berat badan sebelumnya.

Perubahan berat badan yang menunjukkan penurunan secara signifikan dari titik awal.

3) Kategori stabil/tetap

Kategori ini mencakup orang-orang yang mempertahankan berat badan secara konsisten dalam rentang yang sehat tanpa mengalami perubahan yang signifikan ke arah peningkatan atau penurunan.

c. Faktor Penyebab Perubahan Berat Badan 1) Faktor usia

Usia dapat berpengaruh signifikan dalam penggunaan alat kontrasepsi karena mempengaruhi sistem hormonal dalam tubuh wanita serta bentuk organ, fungsi tubuh, dan susunan biokimia. kelompok usia yang berbeda memiliki kebutuhan

(39)

25

kontrasepsi yang berbeda karena perbedaan fungsi tubuh, susunan biokimia, dan sistem hormonal. Siklus reproduksi menjadi dasar seberapa sering orang menggunakan alat kontrasepsi, dan bagi wanita dibagi menjadi tiga bagian:

a) Masa menunda kehamilan (kesuburan)

Kehamilan sebaiknya ditunda bagi pasangan dengan wanita yang berusia di bawah 20 tahun dan berada dalam usia reproduksi.

Ciri-ciri kontrasepsi yang di perlukan:

(1) Karena individu tersebut sekarang tidak memiliki anak, reflektabilitas yang tinggi berarti tingkat kesuburan hampir mencapai 100% sekali lagi.

(2) Efikasi yang tinggi, karena kegagalan dalam situasi ini akan meningkatkan kemungkinan kehamilan dan dipandang sebagai kegagalan implementasi program.

Pil, IUD, atau teknik sederhana seperti menghentikan aktivitas seksual, tidak melakukan aktivitas seksual dalam waktu singkat, atau menggunakan kondom adalah bentuk kontrasepsi yang dapat diterima saat ini.

b) Masa mengatur kesuburan (menjarangkan)

Dengan dua anak dan jarak kelahiran dua hingga empat tahun, wanita pada masa ini berusia antara 20 hingga 30 tahun, yang termasuk usia ideal yang dapat melahirkan. Ciri-ciri kontrasepsi yang di perlukan :

(1) Efektivitasnya sangat bagus.

(40)

26

(2) Karena peserta masih berniat menambah anak, reversibilitasnya terbilang tinggi.

(3) Dapat digunakan selama 2-4 tahun, tergantung seberapa jauh jarak perkiraan kehamilan.

(4) Tidak mencegah pembentukan ASI yang mempengaruhi angka kesakitan dan kematian anak serta merupakan pola makan terbaik untuk bayi hingga usia dua tahun.

c) Masa mengakhiri kesuburan (tidak hamil lagi)

Menghentikan kesuburan sangat ideal dilakukan setelah istri Anda berusia 30 tahun, terutama jika usianya sudah di atas 35 tahun. Ciri-ciri kontrasepsi yang diperlukan:

(1) Kemanjuran yang tinggi karena kegagalan bisa mengakibatkan kehamilan dengan bahaya yang signifikan bagi ibu dan anak dan individu tersebut tidak mengantisipasi untuk memiliki anak lagi.

(2) Penggunaannya bisa dalam waktu yang lama.

(3) Jangan memperburuk situasi. Ketika seseorang sudah lanjut usia dan sudah memiliki kondisi kesehatan sepertihipertensi, penyakit jantung atau masalah metabolisme, sebaiknya memilih teknik kontrasepsi yang tidak memperburuk keadaan. IUD, implan, suntikan, tablet, teknik sederhana, dan prosedur kontrasepsi permanen seperti tubektomi dan fasektomi

(41)

27

merupakan alternatif yang dapat diterima (Manuaba, 2015).

2) Faktor paritas

Jumlah kelahiran yang dialami seorang ibu sepanjang hidupnya disebut paritas. Jumlah kelahiran atau jumlah anak di suatu keluarga ialah salah satu faktor yang berpengaruh dan status ibu dan anak mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap kebahagiaan dan kesejahteraan keluarga. Paritas yang tinggi, atau memiliki lebih dari tiga anak, mungkin berdampak pada kesehatan ibu (Saifuddin, 2015).

Dalam penelitian ini, paritas dikaitkan sama pengalaman seorang ibu dalam perannya sebagai seorang ibu. Dalam konteks masyarakat saat ini, di lingkungan rumah tangga, seorang ibu memperoleh pembelajaran yang dialami sebelumnya. Dengan kata lain, seorang ibu lebih mampu membuat keputusan sendiri tentang jenis kontrasepsi yang sesuai untuk digunakan berdasarkan pengalaman- pengalamannya sendiri (Notoatmodjo, 2011).

Masyarakat yang mempunyai anak lebih dari empat akan masuk dalam kategori mempunyai paritas 1-3 anak yang dianggap cukup, sesuai dengan niat pemerintah untuk menggalakkan program KB dengan semboyan “dua anak cukup”. Individu dengan paritas rendah adalah individu yang mempunyai anak kurang dari dua. Pelayanan kebidanan yang lebih baik serta partisipasi dalam program keluarga berencana dapat membantu mengendalikan atau mengurangi bahaya terkait dengan paritas yang tinggi. (Manuaba, 2010).

(42)

28

Selain itu, ibu yang mempunyai paritas tinggi memiliki pengetahuan yang luas dibandingkan ibu dengan paritas rendah, terutama bila ibu tersebut sudah sering mengikuti penyuluhan kesehatan yang mencakup program KB. Mengingat paritas ialah waktu yang tepat untuk menunda kehamilan dan kemungkinan pengguna akseptor KB masih ingin hamil, maka sangat ideal bagi ibu dengan paritas > 3 untuk menggunakan kontrasepsi suntik (Manuaba, 2015).

3) Faktor lama menggunakan Kontrasepsi

Lama penggunaan alat kontrasepsi merupakan lamanya waktu seseorang menggunakan alat kontrasepsi dimulai pada saat pertama kali menerapkannya. Karena progestin dapat merangsang nafsu makan dan estrogen dapat meningkatkan retensi cairan, semakin lama penggunaan kontrasepsi, semakin besar risiko penambahan berat badan (Handayani,2010).

Beberapa wanita mungkin mengalami kenaikan berat badan 1 hingga 5 kg setelah menerima suntikan DMPA selama setahun.

Penyebabnya adalah peningkatan persentase lemak tubuh.

DMPA dapat mengaktifkan area hipotalamus yang bertugas mengendalikan nafsu makan, yang berefek dari penggunanya makan dalam porsi yang banyak (Hartanto, 2010). Selain itu, aktivitas seperti glukokortikoid mengirimkan sinyal ke sel-sel lemak yang memerintahkan mereka untuk menyimpan lemak sebanyak yang mereka bisa.

Setelah menggunakan KB suntik DMPA selama enam bulan, akseptor juga melaporkan mengalami peningkatan nafsu makan (Yen-Chi dalam Pratiwi, 2013). Pertambahan berat

(43)

29

badan lebih dari 2,3 kg di tahun pertama akan meningkat secara bertahap menjadi 7,5 kg dalam enam tahun ke depan. Wanita melaporkan peningkatan berat badan sebesar 0,5-2 kg pada tahun pertama dan 10-12 kg sesudah memakai kontrasepsi suntik selama 4-6 tahun, menurut (Medfort et al., 2015).

4) Faktor riwayat penggunaan KB

Setiap orang mempunyai sifat yang sangat berguna terkait dengan riwayat penggunaan KB nya. Riwayat keluarga berencana dapat dikonsultasikan dan dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran. Karena sebagian besar pengguna KB menginginkan yang paling baik dan tidak ada dampak negatif dari penggunaan alat kontrasepsi, maka riwayat penggunaan KB merupakan hal yang tidak dapat diabaikan.

5) Pekerjaan

Jika dibandingkan dengan individu yang tidak bekerja, pasangan atau peserta KB nampaknya lebih banyak menggunakan alat kontrasepsi. Perempuan yang bekerja diperkirakan lebih sering menggunakan kontrasepsi. Hal ini disebabkan karena perbandingan perempuan yang tidak bekerja, perempuan yang bekerja di sektor formal jarang di rumah sehingga membatasi kemampuan mereka dalam menafkahi anak. Oleh karena itu, menggunakan kontrasepsi untuk membatasi jumlah anak adalah pilihan yang bijaksana dan masuk akal jika perempuan pekerja lebih cenderung untuk melakukannya (BKKBN 2016).

(44)

30

6) Faktor aktivitas fisik

Salah satu faktor yang berkontribusi terhadap bertambahnya angka obesitas di masyarakat mungkin adalah kurangnya aktivitas fisik. Orang-orang menggunakan lebih sedikit energi baik mereka aktif atau tidak aktif. Jumlah total aktivitas dan olahraga, serta laju metabolisme basal jumlah energi yang dibutuhkan supaya mempertahankan fungsi penting tubuh adalah dua faktor yang menentukan berapa banyak energi yang dikeluarkan. Berkurangnya metabolisme basal seseorang akan disebabkan langsung oleh kurangnya olah raga (Moloku, Hutagaol and Masi, 2016).

7) Faktor pola makan

Cara seseorang atau sekelompok orang memanfaatkan pangan yang mudah didapat sebagai respon terhadap tekanan ekonomi dan sosial budaya yang dialaminya disebut pola makan. Kebiasaan makan (food behavior) dan pola makan saling berkaitan (Almatsier, 2015). Untuk mencapai tujuan tertentu, seperti menjaga kesehatan, meningkatkan status gizi, atau menghindari atau mengobati penyakit, pola makan sehat merupakan strategi yang bagus dalam menjaga jenis serta jumlah makanan yang dikonsumsi. Rutinitas sehari-hari dan kebiasaan makan seseorang membentuk pola makan sehari- hari (Aramico, Sudargo and Susilo, 2016).

a) Frekuensi

Kebiasaan makan yang buruk atau tidak teratur dapat mengakibatkan berkurangnya asupan nutrisi dan

(45)

31

peningkatan kalori, kadar insulin darah, dan kolesterol LDL.

Tubuh akan meningkatkan rasa lapar dan memperlambat metabolisme untuk menghemat energi ketika makanan yang dikonsumsi tidak sesuai (Ide, 2008). Jadwal makan yang sehat harus mencakup tiga sampai enam kali makan sederhana per hari karena makan hanya sekali atau dua kali sehari dapat memperlambat metabolisme tubuh dan mengakibatkan pembakaran kalori lebih sedikit (Febry, 2011). Lima hingga enam kali makan per hari adalah frekuensi makan yang sesuai yang akan membantu mengurangi lemak tubuh dan meningkatkan metabolisme (Toruan,2015). Makan lebih sering dapat menyebabkan konsentrasi glukosa dan kolesterol lebih tinggi serta dapat mengubah cara metabolisme lipid dan glukosa (Bray, 2014). Makan teratur membantu mengurangi sakit perut yang tidak perlu. Untuk memastikan tubuh mendapatkan nutrisi tambahan yang dibutuhkan, makan tiga kali sehari dengan jeda di antaranya adalah ide yang bagus (Rusyadi,2017).

Rutinitas makan yang sehat waktu sarapan, makan siang, dan makan malam, lalu dua kali camilan teratur setiap hari, dapat menjaga kestabilan gula darah, mengekang nafsu makan, menjaga suasana hati tetap stabil, mengurangi resistensi insulin, mengekang rasa lapar yang berlebihan, dan berhenti makan berlebihan pada

(46)

32

waktu makan berikutnya (Bachrens,2016). Jika mengonsumsi tiga kali makan utama per hari atau dua kali makan utama ditambah satu kali camilan, itu sudah termasuk frekuensi makan yang baik. Dianjurkan makan tiga kali sehari untuk mencegah pengosongan perut (Khomsan, 2010).

Makanan cepat saji, daging, dan makanan berlemak memiliki rasa yang enak, sehingga memakannya akan membangkitkan rasa lapar dan menyebabkan makan berlebihan. Sekitar 60-80% kelebihan energi dari karbohidrat disimpan sebagai lemak tubuh jika simpanan lemak tubuh rendah dan konsumsi karbohidrat tinggi (Nurcahyo, 2011).

b) Night Eating

Sindrom makan malam (Night eating syndrome) terjadi ketika seseorang mengonsumsi setidaknya 25% dari total energi mereka antara waktu malam hingga pagi, dan mereka sering terbangun dari tidur untuk makan tiga kali atau lebih dalam seminggu. Perbandingan antara individu yang masuk dalam kategori overweight berdasarkan indeks massa tubuh (IMT) yang memiliki sindrom makan malam dan yang tidak, menunjukkan peningkatan glukosa dan insulin pada malam hari (Bray dan Bouchard,2014).

(47)

33

c) Binge Eating Disorder

Binge eating disorder ialah gangguan makan yang ditandai oleh ketidakmampuan untuk mengendalikan jumlah atau pola makan, terutama terjadi pada malam hari.

Terapi serotonin sering digunakan untuk merawat pasien yang mengalami gangguan ini. Individu yang mengalami gangguan ini memiliki tingkat bulimia yang tinggi, sering mengonsumsi makanan dalam jumlah besar, dan hal ini dapat menyebabkan peningkatan berat badan (Aramico, Sudargo and Susilo, 2016).

8) Faktor hormone progesterone

Stimulasi progesteron terhadap konversi gula dan karbohidrat menjadi lemak yang menyebabkan peningkatan lemak subkutan mungkin menjadi penyebab penambahan berat badan (Irianto, 2014). Karena hormon progesteron juga dapat meningkatkan nafsu makan dan penurunan aktivitas fisik, penggunaan suntikan bisa meningkatkan penambahan berat badan(Yulianingsih, 2023).

3. Penelitian yang Relevan

Peneliti (Febriani dan Ramayanti, 2020) menunjukkan adanya perbedaan perubahan berat badan pada orang yang mendapat suntik KB 3 bulan; beberapa responden melaporkan kenaikan berat badan sementara yang lain melaporkan penurunan berat badan. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa pengalaman setiap orang terhadap suntik KB 3 bulan dan berat badan adalah unik. penambahan berat

(48)

34

badan saat menggunakan kontrasepsi suntik selama tiga bulan.

Beberapa pengguna KB suntik merasakan bertambahnya berat badan setelah tiga bulan pemakaian..

Hormon progesteron, yang meningkatkan rasa lapar dan memudahkan karbohidrat dan gula diubah menjadi lemak, merupakan penyebab utama bertambahnya berat badan ini. Di sisi lain, penurunan berat badan bisa dipengaruhi oleh berbagai variabel, termasuk peran hormon dalam kontrasepsi. Penyebabnya antara lain meningkatnya rasa lapar atau perubahan metabolisme tubuh. Menyuntikkan.

Menurut sebuah penelitian (Noviantari et al., 2019), terdapat korelasi antara lama penggunaan KB suntik dalam kurun waktu 3 bulan dengan perubahan berat badan akseptor. Responden yang sudah lama memakai alat kontrasepsi biasanya mengalami peningkatan berat badan yang lebih signifikan dibandingkan responden yang baru mulai menggunakannya. Hal tersebut terjadi karena respon tubuh terhadap hormon dalam kontrasepsi suntik 3 bulan berubah seiring dengan lamanya penggunaan, seiring berjalannya waktu respon hormon tersebut dapat mempengaruhi metabolisme dan penimbunan lemak salam tubuh yang berkontribusi pada peningkatan berat badan.

Kesimpulan dari penelitian tersebut adalah beberapa partisipan yang memakai kontrasepsi suntik hormonal selama tiga bulan merasakan bertambahnya berat badan, sedangkan ada beberapa yang tidak mengalami peningkatan. Studi ini menekankan betapa pentingnya memahami potensi konsekuensi buruk dari kontrasepsi hormonal, seperti penambahan berat badan.

(49)

35

B. Kerangka Teori

Berdasarkan tinjauan pustaka yang telah dikemukakan dapat disusun kerangka teori sebagai berikut

Keterangan:

= diteliti

= tidak diteliti

Gambar 2.1. Kerangka Teori

Studi Deskriptif Tentang Perubahan Berat Badan Pada Akseptor KB Suntik 3 Bulan Di Puskesmas Genuk Semarang .

Sumber : Modifikasi dari (Hartanto, 2016) Faktor – faktor yang mempengaruhi kejadian perubahan berat badan : 1. Genetik

2. Psikis

3. Aktivitas fisik 4. Pola makan Efek samping akseptor KB

Suntik

1. Gangguan haid 2. Melasma 3. Depresi 4. Keputihan

5. Penurunan libido

Peningkatan berat badan

Penurunan berat badan 6. Perubahan berat badan 5. Hormon progesterone

(Kontrasepsi Suntik 3 bulan)

(50)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Rancangan Penelitian

Penelitian ini menggunakan deskriptif kuantitatif sebagai metodologinya.

Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang hanya melihat gambaran dan tidak membandingkan atau menghubungkan variabel independennya dengan faktor lain untuk memastikan nilai satu atau lebih variabelnya (Sugiyono, 2018).

B. Subjek Penelitian 1. Populasi

Populasi merupakan kategori generalisasi dimana terdiri dari hal-hal yang dipilih peneliti sebagai sesuatu yang akan diselidiki guna menarik kesimpulan dari temuannya (Sugiyono, 2021).

a. Populasi Target

Tujuan akhir dari adopsi temuan penelitian adalah populasi sasaran, yang didefinisikan secara luas. Populasi target pada penelitian ini yaitu seluruh akseptor KB di Puskesmas Genuk Semarang yaitu sebanyak 4970 akseptor KB.

b. Populasi Terjangkau

Merupakan Segmen populasi sasaran yang bisa dibidik atau dijangkau peneliti. Populasi terjangkau pada penelitian ini merupakan seluruh akseptor KB Suntik 3 bulan di Puskesmas Genuk Semarang yaitu sebanyak 3010 akseptor pada bulan Mei 2023.

(51)

37

2. Sampel

Merupakan bagian dari ukuran dan susunan populasi, dimana mencerminkan seluruh populasi yang digunakan sebagai subjek penelitian (Anshori and Iswati, 2017). Kriteria pada sampel di dalam penelitian yaitu:

a. Kriteria inklusi

1) Wanita usia subur berusia 20-35 tahun 2) Memakai kontrasepsi suntik 3 bulan

3) Memiliki kartu kunjungan KB Suntik 3 bulan atau yang tidak memiliki tetapi tercatat di rekam medik puskesmas yang lengkap b. Kriteria eksklusi

Kriteria eksklusi merupakan populasi yang tidak dapat diambil sebagai sampel (Kadri, 2018) :

1) Akseptor KB Suntik yang tidak ada di tempat saat penelitian 2) Akseptor KB yang tidak patuh dalam menggunakan KB Suntik

C. Teknik Sampling

Sampel diambil secara acak, dengan pendekatan pengambilan sampel non-probabilitas yaitu accidental sampling, dimana teknik sampling tersebut adalah suatu metode pemilihan sampel secara kebetulan, setiap responden yang bertemu secara acak dengan peneliti bisa dipakai untuk sampel, asalkan ditentukan bahwa orang yang ditemui secara acak tersebut memenuhi syarat sebagai sumber data(Sugiyono, 2021).

Rumus Slovin diterapkan pada rumus pengambilan sampel sebagai berikut:

(52)

38

n =

N

1 +N(∝)

2

Keterangan : n : ukuran sampel N : ukuran populasi

α : tingkat kesalahan (5% / 0,05)

Dalam menggunakan rumus ini menentukan batas dari toleransi kesalahan. Presentasi menentukan batas toleransi kesalahan ini. Semakin sampel mendekati populasi, semakin rendah toleransi kesalahannya.

Persentase batas toleransi kesalahan dalam penyelidikan ini adalah 5%.

Dengan demikian perhitungan sampel menggunakan rumus slovin :

n = N 1+N(∝)2

= N

1+N(0,05)2

= 3010

1+3010 (0,0025)

= 1+7,5253010

= 3010

8,525

n = 353

Berdasarkan dari perhitungan rumus tersebut, didapatkan besar sampel yang diperlukan adalah 353 responden.

Responden sejumlah 353 merupakan responden yang diambil pada bulan Januari-Mei maka untuk mengetahui waktu yang dibutuhkan Peneliti dalam mengambil sampel yaitu dengan perhitungan sebagai berikut :

3010

5 = 602

(53)

39

602

355 = 1,72 → 2 (minggu)

Berdasarkan perhitungan tersebut, maka lama waktu yang dibutuhkan Peneliti untuk memperoleh sejumlah sampel yaitu selama 2 minggu penelitian.

D. Prosedur Penelitian 1. Tahap Pra Penelitian

a. Tahap awal adalah studi pendahuluan dari ketua prodi S1 Kebidanan Universitas Islam Sultan Agung Semarang.

b. Selanjutnya peneliti mengajukan permohonan uji etik penelitian ke komisi etik penelitian Fakultas Kedokteran Program Studi Sarjana dan Profesi Kebidanan Universitas Islam Sultan Agung Semarang kepada Puskesmas Genuk Semarang setelah melalui persetujuan oleh dosen pembimbing.

c. Selanjutnya peneliti mencari informasi terkait sampel yang akan diteliti yaitu akseptor KB Suntik melalui bidan puskesmas tersebut.

2. Tahap Penelitian

a. Peneliti mementukan sampel berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yg telah ditetapkan.

b. Meminta pemohonan untuk menjadi responden agar bersedia berpartisipasi dalam penelitian dengan menjawab pertanyaan pada lembar observasi yang diajukan dan pengukuran berat badan.

c. Memberikan penjelasan pada responden mengenai maksud tujuan dari pengisian lembar observasi dan pengukuran berat badan.

(54)

40

d. Meminta responden jika bersedia bisa menandatangani lembar persetujuan (informed consent) terkait menjadi subjek penelitian.

e. Memberikan penjelasan mengenai langkah cara mengisi lembar kuesioner data demografi dan pengukuran berat badan.

f. Memberikan lembar kuesioner data demografi kepada responden dan mempersilahkan mengisi lembar kuesioner data yang telah diberikan

g. Meminta responden mengembalikan lembar kuesioner data demografi dan memastikan terisi dengan lengkap.

h. Melakukan pengukuran berat badan setelah pengisian lembar kuesioner data demografi selesai dan mencatatnya di lembar observasi tersebut.

i. Menarik kesimpulan dari hasil analisis data.

j. Menyusun laporan penelitian.

(55)

41

3. Prosedur Kegiatan Penelitian

Gambar 3.1. Prosedur Penelitian Perijinan Ketua Prodi Kebidanan Program

Sarjana dan Pendidikan Profesi Bidan

Perijinan Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang

Perijinan Kepala Puskesmas

Survey pendahuluan

Menentukan Responden

Informed consent

Setuju Tidak Setuju

Pengambilan Data

Analisis Data

Tidak dilanjutkan pengambilan data Menentukan Masalah

Penentuan judul

Gambar

Gambar 2.1.   Kerangka Teori .....................................................................
Tabel 3.1.   Definisi Operasional ..................................................................
Tabel 1. 1 Keaslian Penelitian  No  Judul artikel, Penulis,
Gambar 2.1. Kerangka Teori
+7

Referensi

Dokumen terkait