• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMAHASAN

5. Hasil Evaluasi Keperawatan

4.2 Pembahasan

4.2.5 Evaluasi Keperawatan

Pada evaluasi, penulis melakukan evaluasi berjalan (sumatif) dimana evaluasi sumatif dikerjakan dalam bentuk pengisian format catatan perkembangan dengan berorientasi kepada masalah yang dialami oleh pasien. Format yang dipakai adalah format SOAP (Olaf, 2016). Evaluasi dilakukan selama 3 hari. Berdasarkan evaluasi hasil pada studi kasus yang mengangkat masalah ansietas berhubungan

130

dengan kekhawatiran mengalami kegagalan, menunjukan penurunan tingkat kecemasan setelah dilakukan terapi relaksasi benson hari ke 3.

Pada hari pertama dilakukan pengkajian Rabu, 24 Februari 2021 pukul 11.15 WIB pasien tampak tegang dan gelisah, pasien mengatakan setelah dijelaskan akan menjalani operasi, pasien merasa khawatir dengan akibat dari operasi yang akan dilakukan. Pada hari Kamis, 25 Februari 2021 pukul 08.45 WIB pasien tampak membaik dengan tegang dan cemas berkurang, pasien mengatakan masih merasa cemas, pasien mengatakan sedikit lebih baik setelah relaksasi. Pada hari Jumat, 26 Februari 2021 pukul 08.45 WIB skor kecemasan pasien menurun menjadi 15 (kecemasan ringan) diukur menggunakan HARS, pasien tampak lenih ceria daripada sebelumnya.

Pada jurnal penelitian Satiana (2020) terapi relaksasi benson dapat menurunkan kecemasan pasien yang akan melakukan operasi karena relaksasi benson dapat membantu pasien untuk rileks dan

131

nyaman melalui relaksasi. Dengan relaksasi juga dapat mengurangi ketegangan atau kecemasan pasien dan dapat menjadi distraksi pada saat pasien dilakukan tindakan keperawatan. Hal ini didukung oleh jurnal penelitian Pipit Feriani (2020) bahwa terapi relaksasi benson mempunyai pengaruh terhadap penurunan kecemasan pada pasien yang akan menjalankan operasi karena dengan melakukan relaksasi benson pasien dapat menurunkan ketegangan dan kegelisahan yang dialaminya.

Relaksasi yang bersifat terapeutik berfungsi sebagai penyembuh dapat meningkatkan kemampuan pasien untuk mempunyai pikiran yang positif.

Hal ini sesuai dengan hasil evaluasi penulis dimana terapi relaksasi benson yang dilakukan selama 3 hari didapatkan hasil skor kecemasan Ny. N menurun menjadi 15 (kecemasan ringan). Maka terapi relaksasi benson efektif untuk menurunkan kecemasan pasien pre operasi.

132 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Pada bab ini penulis menyimpulkan proses keperawatan setelah penulis melakukan pengkajian, merumuskan diagnosa keperawatan, intervensi keperawatan, implementasi keperawatan, evaluasi keperawatan serta melakukan implementasi terapi relaksasi benson pada asuhan keperawatan pasien pre operasi laparatomi dalam pemenuhan aman dan nyaman di ruang merpati RSUD Simo Boyolali.

5.1.1 Pengkajian

Setelah penulis melakukan pengkaian pada Ny. N didapat data yaitu pasien mengatakan setelah dijelaskan akan dilakukan tindakan operasi, pasien merasa khawatir dengan akibat dari operasi yang akan dilakukan. Data objektif : pasien tampak gelisah, tegang, wajah pucat,

133

suara bergetar, skor kecemasan 25 (kecemasan sedang) diukur menggunakan Hamilton Rating Scale For Anxienty (HARS).

5.1.2 Diagnosis Keperawatan

Hasil perumusan masalah yang penulis tegakkan sesuai pengkajianyang dilakukan penulis didapatkan diagnosis keperawatan yaitu ansietas berhubungan dengan kekhawatiran mengalami kegagalan ditandai dengan merasa khawatir dengan akibat dari operasi yang akan dilakukan (D.0080)

5.1.3 Intervensi Keperawatan

Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam diharapakan tingkat ansietas menurun dengan kriteria hasil sebagai berikut (L.09093) : Perilaku gelisah menurun, perilaku tegang menurun, keluhan pusing menurun, ansietas menurun, TTV membaik.

134

Intervensi yang dilakukan pada pasien pre operasi laparatomi dengan diagnosis keperawatan ansietas berhubungan dengan kekhawatiran mengalami kegagalan ditandai dengan merasa khawatir dengan akibat dari operasi yang akan dilakukan (D.0080) adalah melakukan terapi relaksasi benson (I.09326).

Observasi :

a) Periksa ketegangan otot, frekuensi nadi, tekanan darah, suhu dan mengukur tingkat kecemasan sebelum dan sesudah latihan.

Terapeutik :

a) Berikan informasi tertulis tentang persiapan dan prosedur teknik relaksasi.

Edukasi :

a) Jelaskan tujuan, manfaat batasan dan jenis relaksasi, b) Anjurkan mengambil posisi nyaman,

135

c) Demontrasikan dan latih teknik relaksasi.

5.1.4 Implementasi Keperawatan

Implementasi keperawatan telah sesuai dengan rencana yang dirumuskan dalam intervensi keperawatan yang dilakukan selama 3x24 jam yaitu periksa ketegangan otot, frekuensi nadi, tekanan darah, suhu dan mengukur tingkat kecemasan sebelum dan sesudah latihan, berikan informasi tertulis tentang persiapan dan prosedur teknik relaksasi, jelaskan tujuan, manfaat batasan dan jenis relaksasi, anjurkan mengambil posisi nyaman, demontrasikan dan latih teknik relaksasi.

5.1.5 Evaluasi Keperawatan

Hasil evaluasi yang diperoleh dengan diagnosis keperawatan ansietas berhubungan dengan kekhawatiran mengalami kegagalan ditandai dengan merasa khawatir dengan akibat dari operasi yang akan dilakukan pada Ny. N yaitu pada awal masuk pasien mengatakan merasa khawatir dengan akibat dari operasi yang akan dilakukan,

136

merasa bingung, tampak gelisah, tampak tegang dan sulit tidur, skor kecemasan 25 (kecemasan sedang) diukur dengan Hamilton Rating Scale For Anxienty (HARS). Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 hari, gelisah dan tegang tidak ada, pasien tampak lebih ceria daripada sebelumnya, skor kecemasan 25 (kecemasan sedang) menurun menjadi skor 15 (kecemasan ringan).

Hasil penelitian yang penulis lakukan di RSUD Simo Boyolali menunjukkan bahwa ada penurunan tingkat kecemasan dari kecemasan sedang menjadi kecemasan ringan pada pasien pre operasi laparatomi yang diberikan terapi relaksasi benson selama 3 hari. Oleh karena itu terapi relaksasi benson merupakan salah satu cara efektif untuk menurunkan tingkat kecemasan yang dapat dilakukan pada pasien pre operasi laparatomi.

137 5.2 Saran

Setelah penulis melakukan asuhan keperawatan pada pasien pre operasi laparatomi dalam pemenuhan aman dan nyaman, penulis akan memberikan saran dan masukan yang positif khususnya di bidang kesehatan.

5.2.1 Bagi Rumah Sakit

Diharapkan rumah sakit khususnya RSUD Simo Boyolali dapat memberikan pelayanan kesehatan yang optimal dan mempertahankan kerjasama baik antar tim kesehatan, klien dan keluarga klien untuk meningkatkan mutu pelayanan asuhan keperawatan bagi kesembuhan klien.

138 5.2.2 Bagi Institusi Pendidikan

Diharapkan hasil penelitian ini bisa digunakan sebagai sumber ilmu pengetahuan dalam perawatan, terutama dalam tindakan keperawatan terapi relaksasi benson untuk mengatasi kecemasan pasien pre operasi laparatomi.

5.2.3 Peneliti Selanjutnya

Bagi peneliti selanjutnya yang akan mengambil penelitian terkait tindakan keperawatan terapi relaksasi benson diharapkan dapat melakukan penelitian dan memberikan implementasi yang lebih efektif dan efisien sesuai standart operasional prosedur.

5.2.4 Keluarga Klien

Diharapkan keluarga klien dapat melanjutkan tindakan keperawatan terapi relaksasi benson untuk mengatasi kecemasan klien selama berada di rumah sakit dan mendapatkan tindakan invasif.

139 5.2.5 Bagi Penulis

Diharapkan dapat meningkatkan kualitas kesehatan khususnya pada pasien pre operasi laparatomi dalam pemenuhan aman dan nyaman dengan tindakan keperawatan non farmakologi yaitu terapi relaksasi benson.

140

DAFTAR PUSTAKA

Annisa, D., & Ifdil. (2016). Konsep Kecemasan (Anxiety) Pada Lanjut Usia (Lansia). Jurnal Konselor Universitas Padang, 5(2), 93-99.

Arief Mansjoer (2012), Kapita Selekta Kedokteran, edisi 4, Jakarta : Media Aesculapius.

Benson, H & Libermann, T. (2013). Proteomics; Study identifies genes, pathwaysaltered during relaxation response practice,Obesity, Fitness &

Wellness Week

Brookerr S, Bethony J, Hotez PJ.2012. Human hookworminfection in the 21st century. Adv parasitol; 197-288.

Craven, R.F., & Hirnle, C.J. 2011. Fundamental of Nursing: Human Health and Function.(3rded). Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins.

Creswell, J. W. 2011. Research design:pendekatan kualitatif,kuantitatif,dan mixed. Yogyakarta: PT Pustaka Pelajar.

Dorland N. Kamus Saku Kedokteran Dorland. Edisi ke 28. Mahode AA, editor.

Jakarta: EGC; 2011.hal 457-507

Guilon, F., 2011. Epidemiology of Abdominal Trauma. In :CT of The Acute Abdomen. London: Springer; 15-26.

Gunarsa, Yulia Singgih D. & Singgih D Gunarsa.(2012).Psikologi Untuk Keluarga.Jakarta ; Penerbit Libri.

Haryanti, L., Pudjiadi, H. A., Ifran K. E., Thayeb, Thayeb, A., Amir, I., Hegar B.

(2013). Prevalensi dan Faktor Resiko Infeksi Luka Operasi Bedah. Vol. 15 No 4.

Hidayat, A. A. 2011. Pengantar Konsep Dasar Keperawatan. Edisi ke 2. Jakarta:

Salemba Medika.

141

Indrayani, Djami M.E.U. 2013.Asuhan Persalinan dan bayi Baru Lahir. Jakarta : CV. Trans Info Media.

Jong, De dan Sjamsuhidajat. 2011. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi ke-3. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran.

K. Yin, Robert. 2013. Studi Kasus Desain dan Metode. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Keliat, B. A., Dwi Windarwati, H., Pawirowiyono, A., & Subu, A. (2015). Nanda International Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2015-2017 Edisi 10. (T. H. Herdman & S. Kamitsuru, Eds.) (edisi 10). Jakarta: EGC.

Kemenkes RI. “Gambaran Kesehatan Lanjut Usia di Indonesia” . Buletin Jendela Data dan Informasi Kesehatan1, 2013.

Kemenkes. (2015). Masalah Kesehatan Masyarkat Indonesia tahun 2015. Jakarta:

Kemenkes.

Mander, R. 2014. Nyeri Persalinan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Miltenberger, RG. 2014. Behavior Modification (Principles and Procedures). Fifth Edition. USA: Wadsworth Cengange Learning.

Mubarak, I. Indrawati L, Susanto J. 2015. Buku 1 Ajar Ilmu Keperawatan Dasar.

Jakarta : Salemba Medika.

Muttaqin, Arif & Sari, Kurmala. 2013. Gangguan Gastrointestinal : Aplikasi Asuhan Keperawatan Medikal bedah. Jakarta : Salemba medika.

Padila. 2011. Asuhan Keperawatan Penyakit Dalam.Yogyakarta: Nuha Medika.

Patricia A. Potter & Perry, Anne G. (2011). Buku Ajar Fundamental Keperawatan (konsep, proses, dan praktik).Jakarta : EGC

Pieter, H.Z., Janiwarti,B., & Saragih,M. (2011). Pengantar Psikopatologi Untuk Keperawatan. Jakarta: Kencana

142

Price Sylvia A, Wilson Lorraine M. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jakarta: EGC; 2012.

Purwanto. (2016). Evaluasi Hasil Belajar.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Saputro, H, dan Fazrin I. (2017). Penerapan Terapi Bermain Anak Sakit; Proses, Manfaat dan Pelaksanaannya. Ponorogo: Forum Ilmiah Kesehatan (FORIKES)

Sari, Kurnia D R & Maliya, Arina. 2015. Pengaruh Teknik Relaksasi Genggam Jari Terhadap Penurunan Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Sectio Caesarea.

Sjamsuhidajat & de jong. 2011. Buku Ajar Ilmu Bedah.Jakarta: EGC Sjamsuhidajat & de jong. 2014. Buku Ajar Ilmu Bedah.Jakarta:EGC

Smeltzer, Suzane C. (2011). Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth : Edisi 8. Alih Bahasa Agung Waluyo. (et al) ; editor edisi bahasa Indonesia Monica Ester. (et al). Jakarta : EGC

Smeltzer, Suzanne C & Bare, Brenda G.2012. Keperawatan Medikal Bedah.

Jakarta: EGC

Smeltzer, S. C. (2014).Keperawatan Medikal Bedah Brunner and Suddarth.

Edisi12.Jakarta: Kedokteran EGC.

Solehati, Tetti dan Cecep Eli Kosasih.,2015. Konsep dan Aplikasi Relaksasi dalam Keperawatan Maternitas. Bandung : PT. Refika Aditama.

Stuart, Gail W.2014. Buku Saku Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: EGC.

Sugiyono. 2012. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.

Sutejo. (2018). Keperawatan Jiwa, Konsep dan Praktik Asuhan Keperawatan Kesehatan Jiwa: Gangguan Jiwa dan Psikososial. Yogyakarta : Pustaka Baru Press.

143

Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2016). Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia(1st ed.). Jakarta: Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia.

Widyantoro W. 2015. Hubungan Antara Activity Daily Living Dengan Kualitas Tidur Pada Lansia Di Desa Procot Kabupaten Tegal. Jurnal Keperawatan.

Slawi: Stikes Bhakti Mandala Husada

Yosep, I & Sutini, T. (2017). Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Bandung: Refika Aditama.

144

LAMPIRAN

Lampiran 1

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Eka Putri Wulandari

Tempat, Tanggal Lahir : Sragen, 28 Maret 2000

Jenis Klemain : Perempuan

Alamat Rumah : Tegalrejo, RT 05 RW 01, Kedungwaduk, Karangmalang, Sragen.

Riwayat Pendidikan : 1. SD Negeri Kedungwaduk 4

2. SMP Negeri 2 Masaran

3. SMK Muhammadiyah 4 Sragen

Riwayat Pekerjaan : Belum pernah bekerja Riwayat Organisasi : OSIS, Dewan Ambalan

Publikasi : -

Lampiran 2 Borneo Student Research eISSN:2721-5725, Vol 1, No 3, 2020

BSR

Efektivitas Teknik Relaksasi Benson dan Terapi Genggam Jari terhadap Tingkat Kecemasan pada Pasien Laparatomi di Ruang Mawar RSUD A. Wahab Sjahranie

Samarinda

Satriana1*, Pipit Feriani2

1,2

Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur, Samarinda, Indonesia.

*Kontak Email:[email protected],

Diterima: 05/08/19 Revisi: 21/08/19 Diterbitkan: 31/08/20

Abstrak

Tujuan Studi: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas antara teknik relaksasi benson dan terapi genggam jari terhadap tingkat kecemasan pada pasien laparatomi di ruang mawar RSUD A. Wahab Sjahranie Samarinda.

Metodologi: Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan jenis penelitian analitik dengan pendekatan studi cohort dengan metode quasi-experiment.Desain penelitian ini menggunakan pre-test dan post-test dengan rancangan without control design. Populasi penelitian ini adalah 21 responden dengan sampel yang digunakan adalah 20 responden. Analisis meliputi analisis univariat dan bivariat menggunakan uji paired sample t-test dan multivariat menggunakan uji t-test independent.

Hasil: Hasil analisis multivariat menggunakan uji t-test independen menunjukkan bahwa teknik relaksasi benson lebih efektif menurunkan tingkat kecemasan daripada terapi genggam jari pada pasien laparatomi yaitu p value 0.014<0.0levels dan nilai selisih meandifference antara teknik relaksasi benson dan terapi genggam jari yaitu 3.600 > 2.400.

Manfaat: Teknik relaksasi benson dan terapi genggam jari dapat menurunkan tingkat kecemasan pada pasien laparatomi.

Dan teknik relaksasi benson yang lebih efektif menurunkan tingkat kecemasan pasien laparatomi daripada terapi genggam jari.

Abstract

Purpose of Study: The purpose of this study was to determine the effectiveness of benson relaxation techniques and finger hand therapy on anxiety levels in laparotomy patients in the Mawar’s Room of RSUD A. Wahab Sjahranie Samarinda.

Methodology: This type of research is quantitative with the type of analytic research with a cohort study approach with a quasi-experiment method. The design of this study used a pre-test and post-test with a design without control design. The population of this study was 21 respondents with the sample used was 20 respondents. Analysis includes univariate and bivariate analysis using paired sample t-test and multivariate analysis using the independent t-test.

Results: The results of the multivariate analysis using independent t-test showed that the benson relaxation technique was more effective in reducing anxiety levels than hand held therapy in laparatomy patients, namely p-value 0.014<0.05>0.186.

and the mean difference difference between the benson relaxation technique and finger hand therapy is 3.600 > 2.400.

Applications: Benson relaxation techniques and finger hold therapy can reduce anxiety levels in laparotomy patients. And the benson relaxation technique that is more effective reduces the anxiety levels of laparotomy patients rather than finger hold therapy.

Kata kunci: Teknik Relaksasi Benson, Terapi Genggam Jari, Kecemasan, Universitas Muhammadiyah

1. PENDAHULUAN

Laparatomi merupakan salah satu prosedur pembedahan mayor, dengan melakukan penyayatan pada lapisan-lapisan dinding abdomen untuk mendapatkan bagian organ abdomen yang mengalami masalah (hemoragi, perforasi, kanker, dan obstruksi).

Laparatomi dilakukan pada kasus–kasus seperti apendiksitis, perforasi, hernia inguinalis, kanker lambung, kanker colon, kanker rektum, obstruksi usus, inflamasi usus kronis, kolestisitis, dan peritonitis (Sjamsuhidajat, 2005).Menurut WHO dikutip dari Nurlela (2009) pasien laparatomi tiap tahunnya meningkat 15%. Pada tahun 2012 di Indonesia, tindakan operasi mencapai 1,2 juta jiwa dan diperkirakan 32% diantaranya merupakan tindakan bedahlaparatomi (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2013). Sedangkan pada tahun 2015 diperkirakan 11% dari beban penyakit di dunia dapat ditanggulangi dengan pembedahan dan WHO menyatakan bahwa kasus bedah adalah masalah kesehatan bagi masyarakat (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2015).Salah satu respon psikologis dari pasien yang mengalami bedah mayor dapat berupa kecemasan. Respon psikologis karena tindakan pembedahan dapat berkisar dengan cemas ringan, sedang, berat sampai panik tergantung masing-masing individu. Beberapa individu terkadang tidak mampu mengontrol kecemasan yang dihadapi, sehingga terjadi disharmoni dalam tubuh. Pada pasien pre-operatif apabila mengalami tingkat kecemasan tinggi, maka hal itu merupakan respon maladaptif yang dapat menyebabkan terganggunya fungsi fisiologis, dan mengganggu konsentrasi (Brunner & Suddarth, 2002).Kecemasan pre-operasi disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu takut terhadap nyeri, kematian, takut akan terjadi kecacatan dan ancaman lain yang dapat berdampak pada citra tubuh (Muttaqin & Sari, 2009). Kecemasan didapatkan paling tinggi pada pasien pre operasi mayor, sedangkan paling rendah didapatkan pada pre operasi minor (Wardani, 2012).

Borneo Student Research eISSN:2721-5725, Vol 1, No 3, 2020 Penanganan Kecemasan dapat dilakukan dengan manajemen farmakologi yaitu Pengobatan anti-kecemasan benzodiazepine dan non-benzodiazepine. Sementara pengobatan non-farmakologis distraksi dan terapi relaksasi (Isaacs, 2005 dalam Parellangi, 2018).Relaksasi merupakan salah satu tindakan keperawatan untuk mengatur emosi dan menjaga keseimbangan emosi sehingga emosi pasien tidak berlebihan dan tidak terjadi pada tingkat intensitas tinggi (Luebbert, Dahme,

&Hasenbring, 2001). Relaksasi yang dilakukan selama 5 sampai 10 detik dapat meningkatkan aliran darah ke seluruh sehingga dapat menghilangkan rasa sakit, mengurangi stres mental pada pasien (M. Jebakumar Naveen, A. Porkodi, 2014 dalam Namuwali & Domianus, 2016).Teknik relaksasi terdiri dari relaksasi otot (progressive muscle relaxion), pernapasan (diaphragmatik breathing), meditasi, (attention-focusing exercise), dan relaksasi perilaku (behavioral relaxation training) (Milten berger, 2004; dalam fernalia dkk, 2019).Teknik pengobatan ini sangat fleksibel dapat dilakukan dengan bimbingan mentor, bersama-sama maupun sendirian (Setyoadi & Kushariyadi, 2011, dalam Novitasari, dkk. 2014).Relaksasi adalah salah satu intervensi keperawatan yang bisa dilakukan digunakan sebagai terapi komplementer dan non-farmakologis.Salah satu teknik relaksasi yang mudah yang dipelajari oleh pasien adalah relaksasi Benson (Monahan FD, 2007 dalam Milad Borji et al. 2016)Relaksasi Benson adalah suatu jenis terapi untuk penanganan kegiatan mental dan menjauhkan tubuh dan pikiran dari rangsangan luar untuk mempersiapkan tercapainya hubungan yang lebih dalam dengan pencipta, yang dapat dicapai dengan metode hypnosis, meditasi yoga, dan bentuk latihan-latihan yang ada hubungannya dengan penjajakan pikiran (Martha, 2005. Dalam Prajayanti, Sari, 2017). Manfaat dari terapi benson ini adalah melegakan stress untuk penyakit darah tinggi, penyakit jantung, susah hendak tidur, sakit kepala disebabkan karena tekanan dan asma,membantu orang menjadi rileks dan dapat memperbaiki berbagai aspek kesehatan fisik,serta membantu individu untuk mengontrol diri dan memfokuskan perhatian sehingga ia dapat mengambil respon yang tepat saat berada dalam situasi yang menegangkan (Milten berger, 2004, dalam Pratiwi, dkk, 2015). Terapi genggam jari adalah teknik sederhana yang menggabungkanbernafas dan menekan setiap jari. Berlatih genggam jari dapat membantuuntuk mengelola emosi dan stres.

Ini adalah praktik yang bermanfaat untuk keduanya baikorang dewasa dan anak-anak, dan Anda dapat menggunakan teknik ini untuk diri sendiridan / atau dengan orang lain (National center on Domestic violence, trauma & mental health, 2014).Berdasarkan studi pendahuluan, didapatkan rekapitulasi tindakan bedah di Ruang Mawar RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda pada 3 bulan terakhir terdapat 63 kasus tindakan laparatomi. Hasil observasi yang dilakukan peneliti pada tanggal 22-23 November 2018, didapatkan 8 keluhan pasien cemas akan menghadapi operasi, merasa tidak tenang, jantung berdebar, sukar memulai tidur, dan nafas pendek dan cepat dengan tingkat kecemasan berat yaitu 3 orang. Dari hasil observasi ditemukan keluhan paling dominan adalah jantung berdebar dan nafas pendek dan cepat, dengan tingkat kecemasan paling dominan adalah sedang yaitu 5 orang. Pasien yang mengalami kecemasan pre operasi di Ruang Mawar RSUD Abdul Wahab Sjahranie berusia diatas 30 - 56 tahun.

2. METODOLOGI

Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian analitik dengan pendekatan studi cohort dengan metode Quasi-Experiment yaitu tiap subjek penelitian diobservasi dalam periode tertentu dan hasil observasi yang kuat untuk membuktikan inferensi kausa dibanding studi obervasional lainnya (Hidayat, 2012), dengan desain penelitian pre-test and post-test denganrancangan without control group design. Teknik pengambilan sampel yaitu purposive sampling yang merupakan teknik pengambilan sampel yang dipilih berdasarkan pertimbangan tertentu dengan tujuan untuk memperoleh satuan sampling yang memiliki karakteristik yang dikehendaki (Notoatmodjo, 2010). Penelitian ini mengambil responden yang terjadwal operasi dan dipilih sesuai karakteristik responden peneliti di Ruang Mawar RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda. Populasi tercatat 21 orang pasien yang akan direncanakan operasi pada bulan maret. Sehingga terhitung dengan rumus didapatkan 19.952 (dibulatkan 20) responden penelitian yang akan dibagi menjadi 2 kelompok perlakuan, 10 responden di kelompok perlakuan teknik relaksasi benson dan 10 responden di kelompok perlakuan terapi genggam jari.

Penelitian ini dilakukan selama 3 hari rawat dari sebelum responden pre operasilaparatomi.Penelitianinidilaksanakanselama 5 mingguyaitudaritanggal 04 Maret 2019 sampaidengan 12 April 2019 di Ruang Mawar RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda.Subjek penelitian mewakili sampel penelitian yang memenuhi syarat sebagai sampel, yaitu bersedia menjadi responden, bisa membaca dan menulis, pasien yang akan direncanakan operasi laparatomi, beragama islam. Penelitian ini menggunakan alat ukur kuesioner Hamilton Rating Scale Anxiety (HARS). Di lembar data responden yang terbagi 3 bagian, yaitu

1. Bagian A, terdiridari data demografi responden (usia dan tingkat pendidikan).

2. Bagian B, berisi tentang prosedur teknik relaksasi Benson atau teknik Genggam jari.

3. Bagian C, berisi tentang lembar observasi tingkat kecemasan selama 3 hari rawat.

Jalannya penelitian ini meliputi melakukan penelitian dengan cara memberikan perlakuan kepada kelompok perlakuan teknik relakasi Benson dan terapi genggam jari, dan melakukan pengukuran tingkat kecemasan pre dan post test menggunakan kuesioner HARS dariawal pre laparatomi sampai dinyatakan pulang.Kemudian peneliti mengumpulkan data yang berkaitan dengan efektivitas teknik relaksasi Benson dan terapi genggam jari terhadap tingkat kecemasan pada pasien laparatomi di ruang mawar RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda dan melakukan pengelolaan dan analisis data dengan menggunakan uji normalitas data, uji homogenitas data, uji t-test independent, danuji paired sample t-test menggunakan aplikasi software SPSS 20.0.Kemudian menyusun hasil penelitian.

Borneo Student Research eISSN:2721-5725, Vol 1, No 3, 2020 Tabel 1 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Karakteristik Usia Responden Di Ruang Mawar RSUD Abdul Wahab

Sjahranie Samarinda

Usia Frekuensi Valid Persentase

21-30 2 10.0

31-40 7 35.0

41-50 11 55.0

Total 20 100.0

Sumber : Data Primer 2019

Berdasarkan Tabel 1 dapat dilihat bahwa dari 20 responden yang terbanyak adalah dalam rentang usia 41-50 tahun dengan jumlah 11 responden dengan presentase 55%.

Tabel 2 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Karakteristik Responden Tingkat Pendidikan Di Ruang Mawar RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda

Tingkat Pendidikan Frekuensi Persentase

Tidak Sekolah, SD 14 70.0

SMP, SMA. 4 20.0

Perguruan Tinggi 2 10.0

Total 20 100.0

Sumber : Data Primer 2019

Berdasarkan Tabel 2 dapat dilihat bahwa dari ke 20 responden, tingkat pendidikan yang terbanyak adalah Sekolah Dasar (SD) dengan frekuensi 9 responden dengan persentase 45%.

Tabel 3 Analisa univariat variabel skor HARS responden penelitian kelompok perlakuan teknik relaksasi benson

Perlakuan Mean Minimum-maximum SD

Pretest perlakuan benson

22.76 7

40 11.183

Posttest perlakuan

benson 17.41 4

34 10.302

Sumber : Data Primer 2019

Dari Tabel 3 menunjukkan statistik skor HARS terhadap teknik relaksasi benson pre-test dan post-test di ruang mawar RSUD A. Wahab Sjahranie Samarinda. Diketahui nilai meanpre-test diberikan perlakuan teknik relaksasi benson sebesar 22.76. Dengan nilai skor HARS minimum adalah 7 dan nilai maksimum adalah 40 serta nilai standar deviasi sebesar 11.183. Sedangkan nilai meanpost-test diberikan perlakuan teknik relaksasi bensin sebesar 17.41 dengan nilai skor HARS minimum 4 dan nilai maksimum 34, serta nilai standardeviasi10.302.

Tabel 4 Analisa univariat variabel skor HARS responden penelitian kelompok perlakuan terapi genggam jari

Perlakuan Mean Minimum-maximum SD

Pretest perlakuan

genggam jari 21.87 8

35 9.047

Posttest perlakuan

genggam jari 17.94 7

29 7.646

Sumber : Data Primer 2019

Tabel 4 menunjukkan analisa univariat variabel skor HARS responden pada kelompok perlakuan terapi genggam jari diperoleh responden kelompok perlakuan terapi genggam jari nilai mean pretest sebesar 21.87. Dengan nilai skor HARS minimum adalah 8 dan nilai maksimum adalah 35 serta standar deviasi sebesar 9.047. Sedangkan nilai mean posttest diberikan perlakuan teknik relaksasi bensin sebesar 17.94 dengan nilai skor HARS minimum 7 dan nilai maksimum 29, serta nilai standar deviasi 7.646.

Dokumen terkait