• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE STUDI KASUS

3.6 Pengumpulan Data

3.6.2 Observasi Dan Pemeriksaan Fisik

Menurut Widoyoko (2014) observasi merupakan pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap unsur-unsur yang nampak dalam suatu gejala pada objek penelitian. Observasi adalah mengamati perilaku dan keadaan untuk memperoleh data tentang tingkat kesehatan pasien (Sugiyono, 2012).

Dalam Proposal Karya Tulis Ilmiah ini penulis melakukan observasi serta dengan melakukan pemeriksaan fisik pada pasien, yaitu dengan pemeriksaan Tanda-tanda Vital (TTV) : tekanan darah, suhu, pernapasan dan nadi.

Penjelasan mengenai teknik pemeriksaan Tanda-tanda Vital (TTV) tersebut sebagai berikut :

94 a. Tekanan darah

Tekanan yang di alami darah pada pembuluh arteri ketika darah di pompa oleh jantung ke seluruh anggota tubuh. Pengukuran tekanan darah dapat di ukur melalui nilai sistolik dan diastolik.

Tekanan darah dapat diukur dengan alat sphygmomanometer dan stestoskop untuk mendengar denyut nadi.

Klasifikasi Tekanan

Darah

TDS*

mmHg

TDD*

mmHg

Normal < 120 < 80

Pre-Hipertensi 120-139 80-89

Hipertensi

Stage 1 140-159 90-99

Hipertensi

Stage 2 >160 >100

TDS : Tekanan Darah Sistolik

TDD : Tekanan Darah Diastolik

Tabel 3.1 b. Denyut nadi

Frekunsi denyut nadi manusia bervariasi,tergantung dari banyak faktor yang mempengaruhinya, pada saat aktivitas normal:

95 1) Normal: 60-100 x/mnt 2) Bradikardi: < 60x/mnt 3) Takhikardi: > 100x/mnt

Pengukuran denyut nadi dapat dilakukan pada:

1) Arteri Radialis. Terletak sepanjang tulang radialis, lebih mudah teraba di atas pergelangan tangan pada sisi ibu jari. Relatif mudah dan sering dipakai secara rutin.

2) Arteri Brachialis. Terlertak di dalam otot biceps dari lengan atau medial di lipatan siku. Digunakan untuk mengukur tekanan udara.

3) Arteri Karotis. Terletak di leher di bawah lobus telinga, di mana terdapat arteri karotid berjalan di antara trakea dan otot sternokleidomastoideus.

96 c. Suhu tubuh

Temperatur (suhu) merupakan besaran pokok yang

mengukur derajat panas suatu benda/makhluk hidup. Suhu tubuh dihasilkan dari:

1) Laju metabolisme basal diseluruh tubuh 2) Aktifitas otot

3) Metabolisme tambahan karena pengaruh hormone

Tindakan dalam pemeriksaan suhu tubuh alat yang digunakan adalah termometer. Jenis - jenis termometer yang biasa dipakai untuk mengukur suhu tubuh adalah termometer air raksa dan digital.

Metode mengukur suhu tubuh:

1) Oral. Termometer diletakkan dibawah lidah tiga sampai lima menit. Tidak dianjurkan pada bayi

97

2) Axilla. Metode yang paling sering di lakukan . Dilakukan 5-10 menit dengan menggunakan termometer raksa. Suhu aksila lebih rendah 0.6° C (1°F) dari pada oral

3) Rectal. Suhu rektal biasanya berkisar 0.4°C (0.7°F) lebih tinggi dari suhu oral

d. Pernapasan

Frekuensi proses inspirasi dan ekspirasi dalam satuan waktu/menit. Faktor yang mempengaruhi Respiratory Rate:

1) Usia

2) Jenis kelamin 3) Suhu Tubuh 4) Posisi tubu 5) Aktivitas

98 Interpretasi

a. Takhipnea : Bila pada dewasa pernapasan lebih dari 24 x/menit b. Bradipnea : Bila kurang dari 10 x/menit disebut

c. Apnea : Bila tidak bernapas.

3.6.3 Studi Dokumentasi

Menurut Riyanto (2012) metode dokumentasi berarti cara mengumpulkan data dengan mencatat data-data yang sudah ada. Berdasarkan penjelasan ahli maka dapat disimpulkan bahwa metode dokumentasi merupakan cara mengumpulkan data yang dilakukan dengan menyelidiki benda-benda tertulis dan mencatat hasil temuannya. Dokumentasi adalah metode pengumpulan data dengan cara mengambil data yang berasal dari dokumen asli. Dokumen asli tersebut berupa gambar, table atau daftar periksa, dan film dokumenter (Widyantoro, 2015).

99 3.7 Penyajian Data

Menurut Miles and Huberman dalam Sugiyono (2016) dikatakan bahwa dalam penelitian kualitatif, penyajian data bisa dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart dan sejenisnya. Yang paling sering digunakan untukmenyajikan data adalah dengan teks naratif. Penyajian data merupakan salah satu kegiatan dalam pembuatan laporan hasil penelitian yang telah dilakukan agar data yang telah dikumpulkan dapat dipahami dan dianalisis sesuai dengan tujuan yang diinginkan (Sugiyono, 2012).

3.8 Etika Studi Kasus

Masalah etika penelitian keperawatan merupakan masalah yang sangat penting, mengingat penelitian keperawatan berhubungan langsung dengan manusia (Hidayat, 2011). Etika penelitian adalah bentuk pertanggung jawaban peneliti terhadap penelitian keperawatan yang dilakukan. Masalah etika keperawatan merupakan masalah yang penting karena penelitian

100

keperawatan akan berhubungan langsung daengan manusia, maka etika harus benar-benar diperhatikan. Etika yang mendasari dilaksankannya penelitian terdiri dari informed consent (persetujuan sebelum melakukaan penelitian untuk dijadikan responden), anonymity (tanpa nama), dan confidentiality (kerahasiaan).

3.8.1 Informed Concent (Persetujuan)

Informing adalah penyampaian idedan isi penting peneliti kepada

calon subyek. Consent adalah peretujuan dari calon subjek untuk berperan serta dalam penelitian (Lakaman, 2013). Tujuan informed concent adalah agar responden mengerti maksud dari tujuan penelitian serta mengetahui dampaknya (Gunarsa dan Yulia, 2012). Beberapa yang harus ada di dalam informed concent adalah partisipan, tujuan dilakukan tindakan, jenis data yang dibutuhkan, kerahasiaan, dan lain-lain (Hidayat, 2011).

101 3.8.2 Anonymity (Tanpa Nama)

Masalah etika keperawatan merupakan masalah yang memberikan jaminan kepada responden untuk tidak memberikan atau mencantumkan identitas atau nama responden pada lembar pengumpulan data atau hasil penelitian yang akan disajikan (Widyantoro, 2015).

3.8.3 Confidentiality (Kerahasiaan)

Salah satu dasar etika keperawatan adalah kerahasiaan. Tujuan kerahasiaan ini adalah untuk memberikan jaminan kerahasiaan hasil dari penelitian, baik dari informasi maupun data yang telah dikumpulkan peneliti (Widyantoro, 2015).

102 BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini penulis membahas tentang “Aplikasi pemberian teknik

relaksasi napas benson untuk mengatasi kecemasan pre operasi laparatomi pada Ny. N dengan kista ovarium di ruang Merpati RSUD Simo Boyolali dimulai dari tanggal 24 Februari 2021 sampai 26 Februari 2021.” Pembahasan pada bab ini untuk membahas adanya kesesuaian maupun kesenjangan antara teori dengan kasus. Asuhan keperawatan memfokuskan pada pemenuhan kebutuhan dasar manusia melalui tahap pengkajian, diagnosis keperawatan, intervensi keperawatan, implementasi keperawatan dan evaluasi keperawatan.

4.1 Hasil

4.1.1 Gambaran Lokasi Pengambilan Data

Rumah Sakit Umum Daerah Simo Boyolali adalah rumah sakit milik pemerintah Provinsi Jawa Tengah berdasarkan SK Menteri

103

Kesehatan RI No. 544/MENKES/SK/IX/2007 memutuskan dan menetapkan RSUD Simo Boyolali menjadi rumah sakit yang sudah terakreditasi kelas tipe D. RSUD Simo Boyolali bertempat Jl. Bangak – Simo No. 01, Kebayan 3, Pelem, Simo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah 57377, Indonesia. Fasilitas yang tersedia di RSUD Simo Boyolali ini antara lain instalasi pelayanan yang meliputi Instalasi Gawat Darurat 24 jam, Rawat Jalan, Rawat Inap, Poliklinik, Instalasi Gizi, Instalasi CSSD Laundry, Instalasi Farmasi, Instalasi Pemeliharaan Fasilitas Media & Non Medis, Instalasi Pengelolaan Data Elektronik, HCU, Bedah Sentral.

Pengambilan data untuk studi kasus ini dilakukan di Ruang Merpati RSUD Simo Boyolali yang merupakan Instalasi Rawat Inap Maternitas dan Bayi Baru Lahir dimana terdapat kasus pasien pre operasi laparatomi selama 3 hari terhitung dari tanggal 24 Februari sampai 26 Februari 2021.

104 4.1.2 Gambaran Subjek Studi Kasus

Subjek studi kasus ini adalah 1 orang pasien dengan Kista Ovarium yang akan melakukan tindakan operasi laparatomi mengalami kecemasan sedang, pasien dengan hari rawat 1 hari, pasien melakukan operasi laparatomi pertama kali, pasien dapat berkomunikasi verbal, tidak ada masalah pada ektermitas atas seperti fraktur atau luka bakar. Pasien bernama Ny. N berusia 33 tahun, alamat Boyolali didiagnosa medis Kista Ovarium awal Februari 2021 dengan hari rawat 1 hari.

Pasien datang ke RS hari Selasa, 23 Februari 2021 dengan keluhan setiap sebelum dan saat menstruasi merasakan nyeri pada perut bagian bawah. Sebelumnya pasien pernah dirawat di RSUD Simo Boyolali dengan diagnosa yang sama namun belum mau untuk dilakukan tindakan operasi. Pasien mengatakan setiap sebelum dan saat menstruasi merasakan nyeri pada perut bagian bawah. Setelah dijelaskan akan dilakukan tindakan operasi pasien merasa khawatir dengan akibat dari operasi yang akan

105

dilakukan, merasa bingung, mengeluh pusing, tidak napsu makan, mual, sulit tidur. Pasien tampak tegang, gelisah wajah pucat, suara bergetar, tubuh bergetar dengan TTV, TD : 130/100 mmHg, N : 104 x/menit, RR : 25 x/menit, S : 36oC. Didapatkan skor kecemasan 25 yaitu kecemasan sedang diukur menggunakan kuisioner Hamilton Rating Scale For Anxienty (HARS). Pasien mengatakan pernah periksa di RSUD SIMO

dengan penyakit yang sama namun belum mau untuk di operasi. Pasien mengatakan dalam keluarga tidak memiliki penyakit menurun seperti hipertensi, DM, asma dan penyakit jantung.

Dalam pengkajian yang bermasalah didapat hasil dengan pasien mengatakan tidur setiap 2 jam bangun, tidur tidak nyenyak, selalu terbangun, bangun tidur masih mengantuk dan lelah. Terdapat kantung mata. Dengan pemeriksaan abdomen inspeksi tampak menonjol di bagian kista dan palpasi terdapat nyeri perut dan adanya massa. Akral dingin.

106

Terpasang infus di bagian tangan kiri. Dengan terapi yang sudah diberikan infus RL 500cc, Cefazolin 2gr dan dexa 5ml.

4.1.3 Pemaparan Fokus Studi Kasus

1. Hasil Pengkajian

Berdasarkan tahap proses keperawatan, yang harus dilakukan pertama kali pada pasien adalah pengkajian. Dalam studi kasus ini pengkajian awal yang dilakukan berfokus pada kecemasan pre operasi laparatomi yang dialami pasien.

Dari hasil pengkajian didapatkan data respon emosi saat pre operasi yaitu pasien mengatakan setiap sebelum dan saat menstruasi merasakan nyeri pada perut bagian bawah. Setelah dijelaskan akan dilakukan tindakan operasi pasien merasa khawatir dengan akibat dari operasi yang akan dilakukan, merasa bingung, mengeluh pusing, tidak napsu makan, mual, sulit tidur. Data observasi didapatkan pasien tampak tegang, gelisah wajah pucat, suara bergetar, tubuh bergetar

107

dengan TTV, TD : 130/100 mmHg, N : 104 x/menit, RR : 25 x/menit, S : 36oC. Skor kecemasan 25 (kecemasan sedang) diukur menggunakan Hamilton Rating Scale For Anxienty (HARS). Berdasarkan hasil studi kasus, dapat diketahui pasien mengalami kecemasan pre operasi.

2. Hasil Diagnosis Keperawatan

Berdasarkan tanda gejala yang dialami Ny. N didapatkan diagnosis ansietas berhubungan dengan kekhawatiran mengalami kegagalan ditandai dengan merasa khawatir dengan akibat dari operasi yang akan dilakukan (D.0080). Diagnosis tersebut merupakan prioritas diagnosis dari dua diagnosis yang ada. Diagnosis kedua yaitu gangguan pola tidur berhubungan dengan hambatan lingkungan ditandai dengan sulit tidur, setiap 2 jam terbangun, tidur tidak nyenyak (D.0055).

108 3. Hasil Intervensi Keperawatan

Dengan diagnosa keperawatan yang akan dibahas yaitu ansietas berhubungan dengan kekhawatiran mengalami kegagalan ditandai dengan merasa khawatir dengan akibat dari operasi yang akan dilakukan maka penulis menyusun rencana keperawatan setelah dilakukan tindakan selama 3x24 jam diharapakan tingkat ansietas menurun dengan kriteria hasil sebagai berikut (L.09093) :

a) Perilaku gelisah menurun, b) Perilaku tegang menurun, c) Keluhan pusing menurun, d) Ansietas menurun,

e) TTV membaik.

Intervensi yang dibuat penulis berdasarkan diagnosa keperawatan ansietas berhubungan dengan kekhawatiran mengalami kegagalan adalah melakukan terapi relaksasi benson (I.09326).

109 Observasi :

a) Periksa ketegangan otot, frekuensi nadi, tekanan darah, suhu dan mengukur tingkat kecemasan sebelum dan sesudah latihan.

Terapeutik :

a) Berikan informasi tertulis tentang persiapan dan prosedur teknik relaksasi.

Edukasi :

a) Jelaskan tujuan, manfaat batasan dan jenis relaksasi, b) Anjurkan mengambil posisi nyaman,

c) Demontrasikan dan latih teknik relaksasi.

110 4. Hasil Implementasi Keperawatan

Setelah menetapkan intervensi keperawatan, tahap selanjutnya adalah implementasi keperawatan. Penulis melakukan implementasi terapi relaksasi benson selama 3 hari, satu hari dilalukan satu kali sesi terapi relaksasi benson dengan durasi 15-30 menit di tempat tidur pasien.

Pada hari pertama tanggal 24 Februari 2021 dilakukan terapi relaksasi benson. Pukul 13.00 WIB memeriksa ketegangan otot, frekuensi nadi, tekanan darah, suhu dan mengukur tingkat kecemasan sebelum dan sesudah latihan, didapatkan hasil dengan S : pasien mengatakan masih merasa cemas dan O: pasien tampak tegang, TD : 130/100 mmHg, S : 36oC, N : 104x/menit dengan tingkat kecemasan 25 (kecemasan sedang). Pukul 13.15 WIB memberikan informasi tertulis tentang persiapan dan prosedur teknik relaksasi, didapatkan hasil dengan S : pasien mengatakan paham dengan penjelasan perawat dan

111

O: pasien dengan baik mengulangi penjelasan perawat. Pukul 13.30 WIB menjelaskan tujuan, manfaat batasan dan jenis relaksasi, didapatkan hasil dengan S : pasien mengatakan paham dengan penjelasan perawat dan O: pasien mengangguk dan paham dengan penjelasan perawat. Pukul 13.45 WIB menganjurkan mengambil posisi nyaman, didapatkan hasil dengan S : pasien mengatakan posisi yang nyaman adalah posisi tidur dan O: pasien temapak nyaman dengan posisi tidur. Pukul 14.00 WIB mendemontrasikan dan latih teknik relaksasi, pasien diperintahkan untuk mengambil posisi yang nyaman, kemudian pasien memejamkan mata, setelah itu penulis memberikan perintah agar pasien rileks, kemudian pasien menarik nafas dalam lewat hidung, tahan 3 detik lalu hembuskan lewat mulut disertai dengan mengucapkan do’a atau kata yang sudah dipilih, lalu penulis

memerintahkan pasien untuk membuang pikiran negatif, dan tetap fokus pada nafas dalam dan do’a atau kata-kata yang diucapkan,

kemudian pasien mengakhiri relaksasi dengan tetap menutup mata

112

selama 2 menit, lalu membukanya dengan perlahan. DS : pasien mengatakan kekhawatiran berkurang setelah relaksasi. DO : tegang berkurang.

Pada hari kedua tanggal 25 Februari 2021 dilakukan terapi relaksasi benson. Pukul 09.00 WIB memeriksa ketegangan otot, frekuensi nadi, tekanan darah, suhu dan mengukur tingkat kecemasan sebelum dan sesudah latihan, didapatkan hasil dengan S : pasien mengatakan cemas sedikit berkurang dan O: tegang berkurang, TD : 130/90 mmHg, S : 36.3oC, N : 100x/menit dengan tingkat kecemasan 21 (kecemasan sedang). Pukul 09.30 WIB menganjurkan mengambil posisi nyaman, didapatkan hasil dengan S : pasien mengatakan posisi yang nyaman adalah setengah duduk dan O: pasien temapak nyaman dengan setengah duduk. Pukul 10.00 WIB mendemontrasikan dan latih teknik relaksasi, pasien diperintahkan untuk mengambil posisi yang nyaman, kemudian pasien memejamkan mata, setelah itu penulis

113

memberikan perintah agar pasien rileks, kemudian pasien menarik nafas

dalam lewat hidung, tahan 3 detik lalu hembuskan lewat mulut disertai dengan mengucapkan do’a atau kata yang sudah dipilih, lalu penulis

memerintahkan pasien untuk membuang pikiran negatif, dan tetap fokus pada nafas dalam dan do’a atau kata-kata yang diucapkan,

kemudian pasien mengakhiri relaksasi dengan tetap menutup mata selama 2 menit, lalu membukanya dengan perlahan. DS : pasien mengatakan kekhawatiran berkurang setelah relaksasi. DO : tegang tidak ada.

Pada hari ketiga tanggal 26 Februari 2021 dilakukan terapi relaksasi benson. Pukul 09.00 WIB memeriksa ketegangan otot, frekuensi nadi, tekanan darah, suhu dan mengukur tingkat kecemasan sebelum dan sesudah latihan, didapatkan hasil dengan S : pasien mengatakan sudah tidak merasa khawatir setelah relaksasi dan O: TD : 120/80 mmHg, S : 36.5oC, N : 90x/menit dengan tingkat kecemasan 17

114

(kecemasan ringan). Pukul 09.30 WIB menganjurkan mengambil posisi nyaman, didapatkan hasil dengan S : pasien mengatakan posisi yang nyaman adalah setengah duduk dan O: pasien temapak nyaman dengan setengah duduk. Pukul 10.00 WIB mendemontrasikan dan latih teknik relaksasi, pasien diperintahkan untuk mengambil posisi yang nyaman, kemudian pasien memejamkan mata, setelah itu penulis memberikan perintah agar pasien rileks, kemudian pasien menarik nafas dalam lewat

hidung, tahan 3 detik lalu hembuskan lewat mulut disertai dengan mengucapkan do’a atau kata yang sudah dipilih, lalu penulis

memerintahkan pasien untuk membuang pikiran negatif, dan tetap fokus pada nafas dalam dan do’a atau kata-kata yang diucapkan,

kemudian pasien mengakhiri relaksasi dengan tetap menutup mata selama 2 menit, lalu membukanya dengan perlahan. DS : pasien mengatakan sudah tidak merasa kekhawatiran setelah relaksasi. DO : pasien tampak sudah tidak cemas dengan tingkat kecemasan 15 (kecemasan ringan).

115 5. Hasil Evaluasi Keperawatan

Berdasarkan hasil studi kasus diketahui bahwa setelah dilakukan implementasi keperawatan terapi relaksasi benson selama 3 hari yang dilakukan satu kali sehari dengan durasi 15-30 menit maka kecemasan pre operasi yang dialami pasien menurun. Pada hari pertama 24 Februari 2021 hasil evaluasi yang diperoleh data S : pasien mengatakan masih merasa cemas, pasien mengatakan paham dengan penjelasan dari perawat, pasien mengatakan nyaman dengan posisi tidur, kekhawatiran berkurang setelah relaksasi. O : TD : 130/100 mmHg, S : 36oC, N : 104x/menit dengan tingkat kecemasan 25 (kecemasan sedang), pasien dengan baik mengulangi penjelasan perawat, pasien mengangguk dan paham dengan penjelasan perawat, pasien tampak nyaman dengan posisi tidur pasien tampak nyaman dan rileks serta tegang berkurang. A : masalah belum teratasi. P : lanjutkan intervensi, memeriksa ketegangan otot, frekuensi nadi, tekanan darah, suhu dan mengukur

116

tingkat kecemasan sebelum dan sesudah latihan, menganjurkan mengambil posisi nyaman, mendemontrasikan dan latih teknik relaksasi.

Pada hari kedua 25 Februari 2021 hasil evaluasi yang diperoleh data S : pasien mengatakan cemas sedikit berkurang, pasien mengatakan posisi yang nyaman adalah setengah duduk, pasien mengatakan kekhawatiran berkurang setelah relaksasi. O : TD : 130/90 mmHg, S : 36.3oC, N : 100x/menit dengan tingkat kecemasan 21 (kecemasan sedang), pasien tampak nyaman dengan setengah duduk, tegang tidak ada. A : masalah belum teratasi. P : lanjutkan intervensi, memeriksa ketegangan otot, frekuensi nadi, tekanan darah, suhu dan mengukur tingkat kecemasan sebelum dan sesudah latihan, menganjurkan mengambil posisi nyaman, mendemontrasikan dan latih teknik relaksasi.

117

Pada hari ketiga 26 Februari 2021 hasil evaluasi yang diperoleh data S : pasien mengatakan sudah tidak merasa khawatir setelah relaksasi, pasien mengatakan posisi yang nyaman adalah setengah duduk, pasien mengatakan sudah tidak merasa kekhawatiran setelah relaksasi. O : TD : 120/80 mmHg, S : 36.5oC, N : 90x/menit, pasien tampak nyaman dengan setengah duduk, skor kecemasan 15 (ringan), pasien tampak sudah tidak cemas. A : masalah teratasi. P : hentikan intervensi.

Gambar 4.1

25

21

17 21

17 15

0 5 10 15 20 25 30

24-Feb-21 25-Feb-21 26-Feb-21

Skor Kecemasan Sebelum dan Sesudah Tindakan Relaksasi

Kecemasan Sedang Kecemasan Ringan

118

Diagram diatas menggambarkan penurunan skor kecemasan dari sebelum dan sesudah dilakukan terapi relaksasi benson pada pasien. Secara keseluruhan pada diagram sebelum dan sesudah dilakukan tindakan terdapat perbedaan skor. Diagram batang yang paling tinggi berwarna biru menunjukkan skor yang lebih tinggi dibandingkan dengan diagram batang yang berwarna merah dengan skor 25. Sedangkan diagram batang berwarna merah memiliki skor 15.

Hal ini menunjukkan sebelum dilakukan tindakan pada pasien skor kecemasan pada pasien adalah 25 dengan interpretasi kecemasan sedang dan setelah dilakukan tindakan terapi relaksasi benson skor kecemasan pasien menurun menjadi 15 dengan interpretasi kecemasan ringan dengan selisih 10 skor.

119 4.2 Pembahasan

Pada sub bab ini penulis membahas asuhan keperawatan pasien pre operasi laparatomi dalam pemenuhan aman dan nyaman. Dalam pembahasan ini penulis menjelaskan keterkaitan dan kesesuaian antara teori dan data yang didapat. Isi pembahasan sesuai tujuan khusus yaitu pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi keperawatan, implementasi keperawatan dan evaluasi keperawatan.

4.2.1 Pengkajian

Hasil pengkajian yang didapatkan adalah dapat diketahui pasien mengalami kecemasan pre operasi berdasarkan data subjektif pasien mengatakan setiap sebelum dan saat menstruasi merasakan nyeri pada perut bagian bawah. Setelah dijelaskan akan dilakukan tindakan operasi pasien merasa khawatir dengan akibat dari operasi yang akan dilakukan, merasa bingung, mengeluh pusing, tidak napsu makan, mual, sulit tidur.

Selanjutya untuk menunjang data dilakukan pengamatan didapatkan data objektif pasien tampak tegang, gelisah wajah pucat, suara bergetar,

120

tubuh bergetar dengan TTV, TD : 130/100 mmHg, N : 104 x/menit, RR : 25 x/menit, S : 36oC. Dilakukan pengukuran kecemasan menggunakan kuisioner Hamilton Rating Scale For Anxienty (HARS) didapatkan hasil skor kecemasan 25 interpretasi kecemasan sedang.

Menurut jurnal penelitian Satriana (2020) kecemasan sedang pada pasien pre operasi menunjukkan tanda gejala mulai takikardi, tekanan darah meningkat, takipnea. Dan penelitian yang dilakukan Pipit Feriani (2020) menyebutkan pasien yang mengalami kecemasan pre operasi akan mengalami sulit tidur, gelisah, tegang, tidak napsu makan, mual, kurang konsentrasi, bingung, tremor, rasa khawatir yang berlebihan.

Hal ini menunjukkan adanya kesesuaian antara fakta yang didapatkan penulis pada saat pengkajian bahwa tanda dan gejala pada pasien kecemasan pre operasi yaitu setelah dijelaskan akan dilakukan tindakan operasi pasien merasa khawatir dengan akibat dari operasi

121

yang akan dilakukan, merasa bingung, mengeluh pusing, tidak napsu makan, mual, sulit tidur dengan teori dari jurnal penelitian sebelumnya bahwa tanda dan gejala kecemasan pasien pre operasi adalah tegang, gelisah wajah pucat, suara bergetar, tubuh bergetar dengan TTV, TD : 130/100 mmHg, N : 104 x/menit, RR : 25 x/menit.

4.2.2 Diagnosis Keperawatan

Hasil pengkajian yang dilakukan penulis didapatkan data pengamatan yaitu pasien tampak tegang, gelisah wajah pucat, suara bergetar, tubuh bergetar dengan TTV, TD : 130/100 mmHg, N : 104 x/menit, RR : 25 x/menit, S : 36oC. Dilakukan pengukuran kecemasan menggunakan kuisioner Hamilton Rating Scale For Anxienty (HARS) didapatkan hasil skor kecemasan 25 interpretasi kecemasan sedang.

Berdasarkan kasus yang dialami Ny. N didapatkan masalah keperawatan ansietas berhubungan dengan kekhawatiran mengalami kegagalan. Ansietas adalah suatu perasaan takut akan terjadinya sesuatu

122

yang disebabkan oleh antisipasi bahaya dan merupakan sinyal yang membantu individu untuk bersiap mengambil tindakan menghadapi ancaman (Sutejo, 2018).

Berdasarkan Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia (SDKI) diagnosis keperawatan dapat ditegakan bila 80% data objektif gejala dan tanda mayor didapatkan pada pasien. Dari data subjektif gejala mayor pada pasien didapatkan pasien mengatakan setelah dijelaskan akan dilakukan tindakan operasi pasien merasa khawatir dengan akibat dari operasi yang akan dilakukan, merasa bingung. Tanda mayor ansietas pada pasien yaitu pasien tampak gelisah, tampak tegang dan sulit tidur. Dari data yang ada maka dirumuskan diagnosis keperawatan ansietas berhubungan dengan kekhawatiran mengalami kegagalan ditandai dengan merasa khawatir dengan akibat dari operasi yang akan dilakukan (D.0080). Penulis memilih diagnosa keperawatan ansietas berhubungan dengan kekhawatiran mengalami kegagalan ditandai

123

dengan merasa khawatir dengan akibat dari operasi yang akan dilakukan daripada diagnosa lain karena kondisi pasien yang mengalami kecemasan pre operasi menyebabkan napsu makan turun, tegang, pusing, tremor, mual, gelisah dan wajah pucat (Sutejo, 2018).

4.2.3 Intervensi Keperawatan

Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam diharapakan tingkat ansietas menurun dengan kriteria hasil sebagai berikut (L.09093) :

a) Perilaku gelisah menurun, b) Perilaku tegang menurun, c) Keluhan pusing menurun, d) Ansietas menurun,

e) TTV membaik.

124

Intervensi yang dibuat penulis berdasarkan diagnosa keperawatan ansietas berhubungan dengan kekhawatiran mengalami kegagalan adalah melakukan terapi relaksasi benson (I.09326).

Observasi :

a) Periksa ketegangan otot, frekuensi nadi, tekanan darah, suhu dan mengukur tingkat kecemasan sebelum dan sesudah latihan.

Terapeutik :

a) Berikan informasi tertulis tentang persiapan dan prosedur teknik relaksasi.

Edukasi :

a) Jelaskan tujuan, manfaat batasan dan jenis relaksasi, b) Anjurkan mengambil posisi nyaman,

c) Demontrasikan dan latih teknik relaksasi.

Dokumen terkait