• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III TINJAUAN KASUS

3.6. Evaluasi Keperawatan

20 Juli 2022 20.10

Ketidakpatuhan berhubungan dengan

ketidakadekuatan pemahaman (kurang motivasi)

dibuktikan dengan menolak mengikuti anjuran, perilaku tidak menjalankan anjuran, tampak tanda/gejala penyakit/masalah kesehatan masih ada, tampak komplikasi penyakit/masalah kesehatan menetap

S: Klien mengatakan akan berusaha untuk mengikuti anjuran / program yang telah didiskusikan O:

1. Perilaku menjalankan anjuran klien masih belum membaik (minum es siap saji) 2. Tanda dan Gejala

penyakit masih belum membaik

GDP: 241 mg/dl Masih terasa kebas di kaki

A: Masalah belum teratasi P: Intervensi dilanjutkan 2,3,4,5

23 Juli 2022 09.05

Obesitas berhubungan

dengan kelebihan konsumsi gula dibuktikan dengan IMT 28 kg/m²

S: Klien mengatakan telah mengerti hubungan asupan makanan, latihan,

peningkatan dan penurunan berat badan

O:

1. Berat badan klien belum membaik 70kg 2. IMT klien belum

membaik70kg/1,58m² yaitu 28 kg/m²

A: masalah belum teratasi P: Intervensi dilanjutkan 5,6,7

Tanggal / Waktu

Diagnosa Keperawatan

Catatan Perkembangan Paraf

Ny. A 21 Juli

2022 11.50

Defisit pengetahuan berhubungan dengan kurang terpapar informasi dibuktikan dengan menunjukkan perilaku tidak sesuai anjuran,

menunjukkan persepsi yang keliru terhadap masalah

S: Klien mengatakan sudah memahami tentang

penyakit Diabetes Mellitus O:

1. Klien mampu

menjelaskan kembali tentang pengertian, tanda gejala, komplikasi dan

perawatan DM dengan bahasanya sendiri 2. Perilaku klien sesuai

anjuran belum

meningkat (konsumsi cemilan manis) 3. Persepsi klien yang

keliru terhadap gula darahnya yang tidak terlalu parah menurun A: Masalah belum teratasi P: Intervensi dilanjutkan 3,4,5,6

23 Juli 2022 15.40

Ketidakpatuhan berhubungan dengan

ketidakadekuatan pemahaman (kurang motivasi)

dibuktikan dengan menolak mengikuti anjuran, perilaku tidak menjalankan anjuran, tampak tanda/gejala penyakit/masalah kesehatan masih ada, tampak komplikasi penyakit/masalah kesehatan menetap

S: Klien mengatakan akan sulit untuk mengubah pola hidupnya tapi Ny. A akan berusaha untuk mengikuti program yang telah didiskusikan O:

1. Perilaku menjalankan anjuran klien masih belum membaik (konsumsi cemilan manis)

2. Tanda dan Gejala penyakit masih belum membaik

GDP: 222 mg/dl Masih terasa kebas di kaki

A: Masalah belum teratasi P: Intervensi dilanjutkan 2,3,4,5

Tabel 3.12 Evaluasi Akhir Keperawatan Pada Ny. M dan Ny. A

DX Ny. M

27 Juli 2022 09.00

TTD Ny. A

27 Juli 2022 09.30

TTD

Defisit pengetahuan berhubungan dengan kurang terpapar informasi dibuktikan dengan menunjukkan perilaku tidak sesuai anjuran, menunjukkan persepsi yang keliru terhadap masalah

S: Klien mengatakan sudah memahami tentang penyakit Diabetes Mellitus O:

1. Klien mampu menjelaskan kembali tentang pengertian, tanda gejala, komplikasi dan perawatan DM dengan bahasanya sendiri

2. Perilaku klien sesuai anjuran meningkat (minum es siap saji telah berkurang)

3. Persepsi klien yang keliru terhadap banyak minum dan sering kencing adalah wajar menurun A: Masalah teratasi P: Intervensi dihentikan

S: Klien

mengatakan sudah memahami tentang penyakit Diabetes Mellitus

O:

1. Klien mampu menjelaskan kembali tentang pengertian, tanda gejala, komplikasi dan perawatan DM dengan

bahasanya sendiri

2. Perilaku klien sesuai anjuran meningkat (konsumsi cemilan manis berkurang) 3. Persepsi klien

yang keliru terhadap gula darahnya yang tidak terlalu

parah menurun A: Masalah teratasi P: Intervensi dihentikan Ketidakpatuhan

berhubungan dengan

ketidakadekuatan pemahaman (kurang motivasi) dibuktikan dengan menolak mengikuti anjuran, perilaku tidak

menjalankan anjuran, tampak tanda/gejala penyakit/masalah kesehatan masih ada, tampak komplikasi penyakit/masalah kesehatan

menetap

S: Klien mengatakan akan berusaha untuk mengikuti anjuran / program yang telah didiskusikan O:

1. Perilaku menjalankan anjuran klien membaik (minum es siap saji berkurang) 2. Tanda dan Gejala

penyakit mulai membaik

GDP: 228 mg/dl kebas di kaki berkurang A: Masalah teratasi P: Intervensi dihentikan

S: Klien

mengatakan akan sulit untuk mengubah pola hidupnya tapi Ny. A akan berusaha untuk mengikuti program yang telah

didiskusikan O:

1. Perilaku menjalankan anjuran klien masih belum membaik (konsumsi cemilan manis) 2. Tanda dan

Gejala penyakit mulai membaik GDP: 219 mg/dl

kebas di kaki berkurang A: Masalah teratasi P: Intervensi dihentikan

Obesitas berhubungan dengan kelebihan konsumsi gula dibuktikan dengan IMT 28 kg/m²

S: Klien mengatakan telah mengerti hubungan asupan makanan, latihan, peningkatan dan penurunan berat badan O:

1. Berat badan klien belum membaik 70kg

2. IMT klien belum membaik70kg/1,58 m² yaitu 28 kg/m² A: masalah belum teratasi

P: Intervensi dihentikan

93 BAB IV PEMBAHASAN

Pada bab ini penulis akan menjelaskan tentang kesenjangan yang terjadi antara tinjauan pustaka dan tinjauan kasus klien Ny. M dan Ny. A dengan diagnosa medis Diabetes Mellius di Perumahan Bumi Intan Permai, Dusun Gebang, Desa Sekardangan, Kecamatan Sidoarjo, Kabupaten Sidoarjo yang meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi keperawatan, implementasi keperawatan dan evluasi keperawatan.

4.1.Pengkajian

Pada tahap pengumpulan data penulis tidak menemui kesulitan karena penulis sudah melakukan pengenalan dan menjelaskan tujuan penulis yaitu untuk melakukan asuhan keperawatan pada pasien lanjut usia, sehingga pasien lanjut usia serta keluarga paham dan terbuka serta kooperatif.

Diabetes Melitus atau DM lebih sering menyerang pada lansia atau individu dengan usia diatas 45 tahun khususnya individu yang overweight dan obesitas. Wanita lebih berpotensi untuk terserang penyakit Diabetes Mellitus. Dengan pola hidup yang kurang aktif dan rendahnya pengetahuan individu juga berkontribusi besar pada munculnya Diabetes Melitus (Kekenusa et al, 2013). Di tinjauan kasus didapatkan data kedua klien berjenis kelamin perempuan, berusia diatas 45 tahun, pola hidup yang tidak sehat seperti konsumsi es siap saji dan cemilan manis dan kedua klien kurang berpengetahuan tentang DM. Sehinga antara tinjauan kasus dan tinjauan pustaka tidak terjadi kesenjangan.

Pada dasarnya keluhan utama di tinjuan pustaka dan tinjauan kasus terjadi kesenjangan. Karena pada tinjauan pustaka keluhan utama yang biasa dirasakan oleh klien Diabetes Mellitus yaitu badan terasa sangat lemas disertai dengan penglihatan kabur, sering kencing (Poliuria), banyak makan (Polifagia), banyak minum (Polidipsi). Sedangkan pada tinjauan kasus didapatkan Ny. M mengeluh kaki terasa kebas saat beraktivitas seperti memasak, bersih-bersih rumah dan mencuci pakaian, tapi tidak merasakan lemas. Sama halnya yang terjadi pada Ny. A hanya merasakan kebas tanpa lemas saat melakukan aktivitas sehari-hari.

Pada tinjauan kasus Diabetes Mellitus dapat berpotensi pada keturunan keluarga, karena kelainan gen yang dapat mengakibatkan tubuhnya tidak dapat menghasilkan insulin dengan baik, di lapangan penulis menemukan bahwa Ny. M dan Ny. A tidak memiliki keluarga yang sebelumnya mengidap DM ini menunjukkan bahwa Ny. M dan Ny. A tidak mendapatkan DM mereka dari genetik melainkan dari pola diet dan aktivitas yang kurang baik.

Pekerjaan Ny. M dan Ny. A adalah ibu rumah tangga yang mana pekerjaan mereka termasuk dalam pekerjaan yang tidak terlalu memerlukan aktivitas fisik yang terlalu banyak dikarenakan Ny. M dan Ny. A juga dibantu oleh anak masing – masing. Ini menunjukkan tinjauan kasus sama dengan tinjauan pustaka yang menjelaskan tipe pekerjaan klien juga bisa mempengaruhi resiko klien terserang penyakit Diabetes Melitus, tipe pekerjaan yang dimaksud adalah pekerjaan yang tidak memerlukan aktivitas

fisik terlalu banyak seperti pekerjaan yang memerlukan duduk dibelakang meja dalam waktu yang lama (Keloko et al, 2014).

Ny. M hanya mengkonsumsi obat herbal dan Ny. A tidak mengkonsumsi obat apapun. Mereka tidak mengkonsumsi obat – obatan yang harusnya dikonsumsi penderita Diabetes Mellitus seperti yang disebutkan pada tinjauan pustaka yaitu Obat hipoglikemik oral, Berdasarkan cara kerjanya, OHO dibagi menjadi 5 golongan: Pemicu sekresi insulin sulfonylurea dan glinid. Peningkat sensitivitas terhadap insulin metformin dan tiazolidindion. Penghambat glukoneogenesis. Penghambat absorpsi glukosa: penghambat glukosidase alfa. DPP-IV inhibitor (Putra & Berawi, 2015).

Tinjauan pustaka menjelaskan bahwa penderita Diabetes Melitus mengeluh ingin selalu makan tetapi berat badannya turun karena glukosa tidak dapat ditarik kedalam sel dan terjadi penurunan massa sel (Tarwoto dkk, 2016), tetapi penulis menemukan kesenjangan pada tinjauan kasus berupa Ny. M tidak mengeluh lapar melainkan haus dan berat badan Ny. M obesitas sedangkan pada Ny. A masih belum ada tanda gejala lapar dan penurunan berat badan.

Pada pengkajian per sistem yang disebutkan pada tinjauan pustaka dari sistem pernapasan, kardiovaskuler, persyarafan, genitourinaria, gastrointestinal, musculoskeletal tidak ditemukan tanda-tanda tersebut pada Ny. M dan Ny.A. Sedangkan pada sistem endokrin ditemukan tanda berupa polidipsi (haus berlebih) dan poliuri (sering kencing) pada Ny. M saja.

Pada tinjauan kasus Ny. M mengatakan mempunyai gula darah tinggi sejak usia 50 tahun, klien mengatakan kurang mengerti tentang penyakit diabetes mellitus yang diidapnya seperti pengertian, penyebab, tanda gejala, penatalaksanaan, diet dan jika ditanya klien tampak bingung, klien mengatakan suka minum es siap saji seperti jasjus dan sejenisnya, hasil pemeriksaan gula darah acak 433 mg/dL. Sedangkan pada Ny. A mempunyai gula darah tinggi sejak tahun ini, Ny. A mengatakan tidak mengerti tentang penyakit diabetes mellitus seperti pengertian, penyebab, manifestasi, penatalaksanaan, diet dan jika di tanya klien tampak bingung, klien mengatakan suka mengkonsumsi cemilan manis, hasil pemeriksaan gula darah acak 245 mg/dl.

Mengkonsumsi sejumlah besar minuman dan makanan yang mengandung tinggi gula dalam diet harian akan dengan mudah meningkatkan kadar gula didalam darah. Terkhususnya pada para lansia yang tubuhnya sudah mengalami perubahan anatomi fisiologi .

4.2.Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan pada penderita diabetes mellitus pada tinjauan pustaka menurut teori (SDKI, 2017) ada tujuh yaitu:

4.2.1. Hipovelemia berhubungan dengan kegagalan mekanisme regulasi 4.2.2. Defisit nutrisi berhungan dengan ketidakmampuan mengabsorsi nutrien 4.2.3. Gangguan Integritas Kulit berhubungan dengan neuropati perifer 4.2.4. Resiko Infeksi berhubungan dengan penyakit kronis

4.2.5. Ketidakefektifan Manajemen Kesehatan keluarga berhubungan dengan konflik pengambilan keputusan

4.2.6. Defisit pengetahuan berhubungan kurangnya terpapar informasi 4.2.7. Ketidakpatuhan berhubungan dengan ketidakadekuatan pemahaman.

Pada tinjauan kasus, diagnosa pada kedua klien difokuskan pada diagnosa defisit pengetahuan. Pada Ny. M penulis menemukan fokus diagnosa keperawatan yaitu defisit pengetahuan berhubungan dengan kurang terpapar informasi dibuktikan dengan klien mengatakan tidak mengerti tentang penyakitnya dan suka mengkonsumsi minuman manis siap saji setiap hari, tanda dan gejala yang muncul juga dikarenakan konsumsi minuman dan makanan tinggi gula di kehidupan Ny. M sehari-hari.

Pada Ny. A, penulis menemukan fokus diagnosa keperawatan yaitu defisit pengetahuan berhubungan dengan kurang terpapar informasi dibuktikan dengan klien mengatakan tidak mengerti tentang penyakitnya dan suka mengkonsumsi cemilan manis, juga gula darah Ny. A mulai tinggi sejak tahun ini sehingga Ny. A terhitung masih baru terhadap penyakitnya.

Penulis menetapkan diagnosa defisit pengetahuan berhubungan dengan kurang terpapar informasi menjadi fokus utama karena diagnosa tersebut sangat cocok pada keluhan kedua klien dan diharapkan tindakan- tindakan yang dilakukan dapat menangani keluhan klien hingga tuntas.

4.3.Intervensi Keperawatan

Pada perumusan perencanaan antara tinjauan pustaka dan tinjauan kasus biasanya terjadi kesenjangan yang cukup karena perencanaan pada tinjauan pustaka menyertakan semua tindakan yang dapat dilakukan untuk semua kebutuhan sedangkan pada tinjauan kasus tindakan yang disertakan hanya tindakan yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi klien.

Kesenjangan tentang perencanaan yang terdapat pada tinjauan pustaka yaitu perencanaan tidak berfokus pada beberapa diagnosa yang timbul dan bersifat luas atau umum untuk semua diagnosa yang mungkin muncul. Pada tinjauan kasus karya tulis ini penulis berfokus pada diagnosa prioritas yang merupakan hasil pengkajian secara langsung yaitu pada diagnosa keperawatan defisit pengetahuan berhubungan dengan kurang terpapar informasi dengan tujuan setelah dilakukan 2x kunjungan diharapkan Tingkat pengetahuan klien meningkat dengan kriteria hasil perilaku sesuai anjuran meningkat, verbalisasi minat dalam belajar meningkat, kemampuan menjelaskan pengetahuan tentang suatu topik meningkat, pertanyaan tentang masalah yang di hadapi menurun.

4.4.Implementasi Keperawatan

Implementasi adalah perwujudan atau realisasi dari rencana yang telah disiapkan. Implementasi pada pasien diselesaikan dan direalisasikan dalam diskusi kasus. Pada diagnosa keperawatan defisit pengetahuan berhubungan dengan kurang terpapar informasi semua perencanaan tindakan keperawatan telah dilakukan seperti, menyediakan materi dan media pengaturan aktivitas dan istirahat, memberikan kesempatan untuk bertanya, menjelaskan faktor resiko yang dapat mempengaruhi kesehatan, mengajarkan perilaku hidup bersih dan sehat, mengajarkan strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat

Pada pelaksanaan tindakan keperawatan tidak ditemukan hambatan karena pasien dan keluarga kooperatif sehingga rencana keperawatan berjalan dengan lancar dan sesuai dengan rencana.

4.5.Evaluasi Keperawatan

Pada tinjauan pustaka evaluasi belum dapat dilakukan karena merupakan kasus semu sedangkan pada tinjauan kasus evaluasi dapat dilakukan karena dapat diketahui keadaan pasien secara langsung. Pada akhir evaluasi Ny. M dan Ny. A semua tujuan pada diagnosa defisit pengetahuan berhubungan dengan kurang terpapar informasi sudah tercapai karena kondisi pasien yang telah memenuhi kriteria hasil.

Pada Ny. M setelah dilakukan implementasi selama 2x kunjungan rumah, tingkat pengetahuan pasien meningkat dengan data sebagai berikut dengan hasil data subyektif Ny. M mengatakan sudah memahami tentang penyakit Diabetes Mellitus dan data obyektif klien mampu menjelaskan kembali tentang pengertian, tanda gejala, komplikasi dan perawatan DM dengan bahasanya sendiri. Perilaku klien sesuai anjuran meningkat (minum es siap saji telah berkurang). Persepsi klien yang keliru terhadap banyak minum dan sering kencing adalah wajar menurun.

Pada Ny. A setelah dilakukan implementasi selama 2x kunjungan rumah, tingkat pengetahuan pasien meningkat dengan data sebagai berikut dengan hasil data subyektif Ny. A mengatakan sudah memahami tentang penyakit Diabetes Mellitus dan data obyektif Klien mampu menjelaskan kembali tentang pengertian, tanda gejala, komplikasi dan perawatan DM dengan bahasanya sendiri. Perilaku klien sesuai anjuran meningkat (konsumsi cemilan manis berkurang). Persepsi klien yang keliru terhadap gula darahnya yang tidak terlalu parah menurun.

100 BAB V PENUTUP

Setelah penulis melakukan pengamatan dan melaksanakan asuhan keperawatan secara langsung pada klien dengan diagnosa medis Diabetes Mellitus di Perumahan Bumi Intan Permai, Dusun Gebang, Desa Sekardangan, Kecamatan Sidoarjo, Kabupaten Sidoarjo, maka penulis dapat menarik beberapa kesimpulan sekaligus saran yang dapat bermanfaat dalam meningkatkan mutu asuhan keperawatan pada klien dengan diagnosa medis Diabetes Mellitus.

5.1. Simpulan

5.1.1. Pada pengkajian pada kedua klien didapatkan kesenjangan antara tinjauan pustaka dan tinjauan kasus pada keluhan dan riwayat kesehatan.

5.1.2. Masalah keperawatan yang muncul di diagnosa keperawatan utama pada kedua klien adalah defisit pengetahuan berhubungan dengan kurang terpapar informasi.

5.1.3. Intervensi yang dirumuskan berdasarkan diagnosa keperawatan utama adalah defisit pengetahuan berhubungan dengan kurang terpapar informasi meliputi: Observasi, Terapeutik, dan Edukasi.

5.1.4. Semua tindakan yang diimplementasikan kepada klien sesuai dengan intervensi yang telah dibuat.

5.1.5 Hasil evaluasi beberapa luaran telah dipenuhi, seperti: perilaku klien sesuai anjuran yang diberikan, bisa menjelaskan tentang penyakitnya, sudah jarang menanyakan tentang penyakitnya, persepsi yang keliru menurun.

5.2. Saran

5.2.1. Bagi Klien dan Keluarga

Sebaiknya klien selalu menjaga aktivitas untuk tetap aktif, rutin olahraga sesuai kemampuan dan menjaga pola serta menu makanan rendah gula agar kadar gula darah dalam jangkauan normal.

5.2.2. Bagi Institusi Pendidikan

Institusi diharapkan lebih meningkatkan pemberian materi kuliah pada mahasiswa yang sekiranya masih kurang dimengerti di kalangan masyarakat awam seperti khususnya yang berkaitan dengan topik Diabetes Mellitus dengan Masalah Keperawatan Defisit Pengetahuan.

5.2.3. Bagi Pelayanan Kesehatan

Petugas kesehatan atau perawat dalam melakukan asuhan keperawatan klien yang mengalami Diabetes Mellitus dengan masalah Defisit Pengetahuan diharapkan lebih menekankan pada aspek kenyamanan sehingga disaat pelaksanaan klien menjadi kooperetif.

5.2.4. Bagi Penulis Selanjutnya

Diharapkan memperbanyak referensi yang berkaitan dengan asuhan keperawatan klien yang mengalami Diabetes Mellitus dengan masalah selain Defisit Pengetahuan, guna memperluas wawasan keilmuan bagi penulis dan siapapun yang berminat memperdalam topik tersebut.

Daftar Pustaka

American Diabetes Association. (2014). Diagnosis and Classification of Diabetes Mellitus. Diabetes Care, 37(SUPPL.1), 81–90. https://doi.org/10.2337/dc14- S081

Azizah, L. M. (2011). Keperawatan Lanjut Usia. Yogyakarta : Graha Ilmu

Fatimah, R. N. (2015). Diabetes Melitus Tipe 2. Indonesian Journal of Pharmacy, 27(2), 74–79. https://doi.org/10.14499/indonesianjpharm27iss2pp74

Goyal, R., & Jialal, I. (2021). Diabetes Mellitus Type 2.

http://europepmc.org/abstract/MED/30020625

Kekenusa, J. S., Ratag, B. T., & Wuwungan, G. (2013). Analisis hubungan antara umur dan riwayat keluarga menderita DM dengan kejadian penyakit DM tipe 2 pada pasien rawat jalan di Poliklinik Penyakit Dalam BLU RSUP PROF. Journal Kesmas Universitas Sam Ratulangi Manado, 2(1), 1-6.

Keloko, A. B., Manurung, F. H., & Lubis, N. L. (2014). Gambaran Sosial Budaya terhadap Diabetes Melitus pada Masyarakat di Wilayah Kerja Puskesmas Gunungtua Kecamatan Padang Bolak Kabupaten Padang La Was Utara Tahun 2014. Kebijakan, Promosi Kesehatan dan Biostatistika, 1(1), 14371.

Kementerian Kesehatan RI. (2018). Riskesdas 2018. Laporan Nasional Riskesdas 2018, 44(8), 181–222. http://www.yankes.kemkes.go.id/assets/downloads/

PMK No. 57 Tahun 2013 tentang PTRM.pdf Kholifah, S. N. (2016). Keperawatan Gerontik (1st ed.).

Lotfy, M., Adeghate, J., Kalasz, H., Singh, J., & Adeghate, E. (2017). Chronic Complications of Diabetes Mellitus: A Mini Review. August 2017.

https://doi.org/10.2174/1573399812666151016101

Ma’rifatul (2011). Keperawatan Lanjut Usia. Yogyakarta : Graha Ilmu

Maryam, R. S. (2011). Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya. Jakarta:

Salemba Medika

Muhith, Abdul dan Sandu Siyoto. 2016. Pendidikan Keperawatan Gerontik.

Yogyakarta: Penerbit Andi

Petersmann, A., Müller-Wieland, D., Müller, U. A., Landgraf, R., Nauck, M., Freckmann, G., Heinemann, L., & Schleicher, E. (2019). Definition, Classification and Diagnosis of Diabetes Mellitus. Experimental and Clinical Endocrinology and Diabetes, 127, S1–S7. https://doi.org/10.1055/a-1018- 9078

Putra, I. W. A., & Berawi, K. N. (2015). Empat Pilar Penatalaksanaan Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2. Majority, 4(9), 8–12.

Rohmah, N., & Walid, S. (2012). Proses keperawatan teori dan aplikasi. AR-Ruzz Media, Jogjakarta.

Sudiharto. (2012). Asuhan Keperawatan Keluarga dengan pendekatan Keperawatan Transkultural. Jakarta : EGC

Tamtomo, Didik Gunawan (2016) Perubahan Anatomic Organ Tubuh Pada Penuaan https://library.uns.ac.id/perubahan-anatomik-organ-tubuh- pada- penuaan/

Tarwoto, W., Taufiq, I., & Mulyati, L. (2016). Keperawatan medikal bedah gangguan sistem endokrin. Jakarta: CV. Trans Info Media.

Tim Pokja SDKI DPP PPNI.(2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia Definisi dan Indikator Diagnostik. Jakarta : Dewan Pengurus PPNI

Tim Pokja SIKI DPP PPNI.(2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia Definisi dan Tindakan Keperawatan. Jakarta : Dewan Pengurus PPNI Tim Pokja SLKI DPP PPNI.(2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia

Definisi dan Kriteria Hasil. Jakarta : Dewan Pengurus PPNI

Lampiran 1 Informed Consent Ny. M

Lampiran 2 Informed Consent Ny. A

Lampiran 3 SAP Diabetes Mellitus pada Ny. M

SATUAN ACARA PENYULUHAN Pokok bahasan : Diabetes Melitus

Sub pokok bahasan : Penatalaksanaan keperawatan pasien dengan diabetes melitus

Pertemuan : 1 x pertemuan Hari/Tanggal : Rabu, 20 Juli 2022

Waktu : 35 menit

Tempat : Rumah Ny. M di Perum Bumi Intan Permai, Sidoarjo

Sasaran : Ny. M

A. Tujuan Pembelajaran

1. Tujuan Pembelajaran Umum

Setelah mengikuti pelajaran tentang penyakit diabetes melitus dan perawatannya dalam waktu 35 menit, diharapkan sasaran mampu menjelaskan tentang penyakit diabetes mellitus dan menerapkan perawatan yang tepat pada diri sendiri dan anggota keluarga dengan penyakit diabetes melitus.

2. Tujuan Pembelajaran Khusus

Setelah diberikan penyuluhan kesehatan, diharapkan sasaran mampu : a. Menjelaskan pengertian diabetes melitus

b. Menyebutkan penyebab diabetes melitus c. Menyebutkan tanda dan gejala diabetes melitus d. Menyebutkan komplikasi diabetes melitus

e. Menyebutkan cara perawatan kaki dan mengontrol diabetes melitus

B. Materi Penyuluhan

1. Pengertian penyakit diabetes melitus.

2. Penyebab penyakit diabetes melitus.

3. Tanda dan gejala dari penyakit diabetes melitus.

4. Komplikasi penyakit diabetes melitus.

5. Penatalaksanaan keperawatan pasien diabetes melitus

C. Kegiatan Belajar Mengajar (KBM)

Kegiatan Kegiatan Waktu

1. Persiapan a. Ruangan b. Media ( kursi ) c. Peralatan d. Leaflet 2. Pelaksanaan

a. Menjelaskan pengertian diabetes melitus

b. Menyebutkan faktor-faktor penyebab penyakit diabetes mellitus

c. Menyebutkan tanda dan gejala-gejala diabetes melitus d. Menyebutkan komplikasi

dari diabettes mellitus e. Menjelaskan cara

mengurangi faktor diabetes mellitus

f. Cara perawatan perawatan kaki dan mengontrol diabetes mellitus 3. Evaluasi

a. Uraian penjelasan b. Tanya jawab c. Penutup

Menyimak dan memberikan kesempatan untuk

bertanya

Menyimak dan berpartisipasi aktif dalam menjawab pertanyaan

Mengerjakan evaluasi

5 menit

20 menit

10 menit

D. Metode

Ceramah dan tanya jawab E. Media, Alat dan Sumber

1. Media : Leaflet

F. Daftar pustaka :

ADA. (American Diabetes Association), (2011). Standards For Medical Care In Diabetes, Diabetes Care.

Ernawati, (2013). Penatalaksanaan Keperawatan Diabetes Melittus Terpadu. Jakarta. Mitra Wacana Media

Hasdianah, (2014). Mengenal Diabetes Mellitus Pada Orang Dewasa dan Anak- Anak, Jogyakarta, Nuha Medika

MATERI PEBELAJARAN DIABETES MELITUS DAN PERAWATANNYA

A. Pengertian Penyakit Diabetes Melitus.

Diabetes Melitus adalah : sebagai suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristrik hiperglikemi yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerena insulin atau keduanya American Diabetes Association. (ADA, 2010)

Diabetes Melitus adalah : gangguan metabolisme yang ditandai dengan hiperglikemi yang berhubungan dengan abnormalitas metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein yang disebabkan oleh penurunan sekresi insulin atau penurunan sensitivitas insulin atau keduanya dan menyebabkan komplikasi kronis mikrovaskuler, makrovaskuler dan neuropati. (Yuda Handaya, 2016 )

B. Tipe-Tipe Penyakit DM

1. Diabetes melitus yang tergantung insulin ( DM tipe 1 ): disebabkan kekurangan produksi insulin. DM ini dapat terjadi karena kerusakan sel beta langerhans dikelenjar pankreas akibat proses kekebalan tubuh (autoimun) terjadi pelisisan (pembunuhan) sel tubuh oleh sistem imunitasnya sendiri.

a. Biasanya terdiagnosis di bawah umur 35 tahun b. Tidak gemuk

2. Diabetes melitus yang tidak tergantung pada insulin ( DM tipe 2 ) : akibat kegagalan relatif sel beta langerhans dikelenjar pankreas sehingga produksi insulin yang terjadi dengan kualitas rendah tidak mampu merangsang sel tubuh agar menyerap gula darah. Misalnya karena obesitas, pola makan yang tidak benar.

a. Biasanya terdiagnosis diatas umur 40 tahun b. Biasanya gemuk

c. Gejala timbul perlahan-lahan (kronis)

3. Diabetes melitus disebabkan penyakit lain misalnya: sirosis hati, penyakit kelenjar pankreas, infeksi, obat-obatan.

4. Diabetes melitus gastrointestinal, gejala-gejala yang muncul menyertai penyakit ini adalah polifagia (makan banyak),poliuria (kencing banyak) dan polidipsi (minum banyak). Kondisi lain yang muncul biasanya dapat berupa penurunan berat badan, gatal, kesemutan, mata kabur, mudah lelah, luka yang tidak sembuh, dan sering timbul infeksi kulit.

C. Penyebab Penyakit Diabetes Melitus.

Diabetes Melitus tipe 1 1. Faktor genetik /keturunan 2. Imunologi

3. Lingkungan

Diabetes Melitus tipe 2 1. Usia

2. Obesitas

3. Riwayat Keluarga

D. Tanda Dan Gejala Dari Penyakit Diabetes Melitus.

1. Banyak minum dan mudah haus. Penderita DM banyak buang air kecil sehingga penderita DM juga harus banyak minum, sebab terus menerus dalam keadaan haus.

2. Banyak kencing

3. Berat Badan menurun : tubuh orang penderita DM tidak terdapat cukup insulin untuk mengubah gula menjadi tenaga, maka orang tersebut menjadi semakin kurus setiap harinya, karena tubuh akan menggunakan simpananya lemak dan protein untuk kehidupan sehari-hari. Srhingga walaupun orang tersebut banyak makan tetapi akan terus merasa lapar.

E. Komplikasi penyakit diabetes melitus.

1. Komplikasi akut (komplikasi yang segera terjadi dalam waktu pendek) : hipoglikemi (kekurangan glukosa/gula). Gejalanya: lapar, gemetar, keringat dingin, pusing. Penanggulangan : makan makanan yang mengandung karbohidrat tinggi dan mudah dicerna seperti : makan roti dan pisang.

Dokumen terkait