Evaluasi pembelajaran sastra perlu memperhatikan aspek model atau model pembelajaran. Pembelajaran sastra model jigsaw, mukidi, dan outbound sastra membutuhkan evaluasi tersendiri. Setiap model pembelajaran tentu perlu evaluasi. Yang paling penting dalam pembelajaran sastra adalah, tujuan utama sudah tercapai atau belum. Sastra itu diberikan,
9
bertujuan (1) menyelami keindahan karya sastra, agar hatinya terhibur, (2) mampu memetik pesan (makna) yang tersimpan dalam kara sastra, khususnya yang humanis. Bila evaluasi sudah menyentuh dua hal itu, berarti sukses pembelajaran sastra.
Evaluasi itu amat urgen dalam pembelajaran sastra. Untuk mengetehui sukses tidaknya pembelajaran sastra, perlu penilaian dan atau pengukuran yang jelas. Naluri orang mengajar sastra itu sering sibuk dengan persiapan. Sibuk pula dengan mencari model atau model pembelajaran. Namun, yang terjadi sering lupa mengevaluasi pembelajaran. Pengajar sering mengira bahwa pembelajarannya sukses ketika pembelajar sudah membuat tugas menulis puisi, membaca puisi secara ekspresif, dan berhasil membaca puisi gelap.
Sadar atau tidak, setiap saat orang mengajar sastra dituntut untuk evaluasi. Di dalam evaluasi ada istilah lain, yaitu (1) mengukur dan (2) menilai. Keduanya pekerjaan yang tidak mudah. Mengukur dan menilai pembelajaran sastra, semestinya seperti belajar yang lain. Tentu saja ada spesifikasi dalam embelajaran sastra. Yang perlu diingat, sastra bukan karya seperti matematika, yang pasti. Sastra itu produk imajinatif. Oleh sebab itu, pembelajaran sastra, boleh mengikuti konsep 4-P, yaitu (1) perencanaan pembelajaran, (2) proses penyajian, (3) produk estetis, dan (4) penilaian. Penilaian memang harus dilakukan, menjelang evaluasi secara menyeluruh. Dalam evaluasi, ada yang harus diukur secara jernih. Tentu mengukur dan menilai sastra tidak seperti bidang eksata.
Mengukur karya sastra memang hampir sulit dilakukan. Apalagi jika dituntut dengan angka-angka. Pengukuran dalam pembelajaran sastra, sering diabaikan. Sebelum kita membahas konsep pengukuran, ada baiknya kita simak narasi berikut : “suatu hari siswa di tugaskan membawa buah apel oleh gurunya, karena memang hari itu ada mata pelajaran matematika tentang pecahan. Siswa pun membawa berbagai jenis bentuk apel ada yang diameter 5 cm, 7 cm atau bahkan 10 cm. Ketika diminta untuk mengeluark an apel tersebut oleh guru, maka spontan masing–masing anak akan memberikan komentar, “wah.. apelmu besar sekali... diameternya 10 cm” ada pula yang memberikan komentar “...Kok apel kamu kecil ya..? hanya berdiameter 5 cm” di lain pihak ada yang berkomen tar “... iih apelnya bagus... warnanya hijau semua, segar sekali kelihatannya” atau “... ini apel apa?... terlihat agak kehitam–hitaman jadi terlihat seperti busuk dan kurang bagus...” Deskripsi ini dapat digunakan bagi pengajar sastra, ketika akan mengevaluasi pembelajaran.
Mengevaluasi pembelajaran sastra, mau tidak mau akan mengukur dan menilai. Evaluasi pembelajaran sastra sudah seharusnya menyangkut aspek (1) proses dan hasil. Keduanya sama- sama penting dalam konteks pembelajaran.Di sadari atau tidak rentetan narasi, dialog dan komentar di atas merupakan sebuah kegiatan yang ada kaitannya dengan pengukuran, penilaian,
10
dan evaluasi pembelajaran sastra. Mari kita bahas lebih jauh, diameter 5 cm, 7 cm dan 10 cm adalah kegiatan pengukuran, mengapa demikian? Karena diameter apel dibandingkan oleh sebuah ukuran satuan yang baku yaitu panjang dengan satuan centimeter (Cm). Adapun hasil yang diperoleh adalah nilai yang berupa angka yaitu 5 cm, 7 cm dan 10 cm. Kegiatan atau proses tersebut di atas adalah sebuah proses pengukuran hal ini dikarenakan ada 2 ciri khas dari pengukuran, yaitu: (1) Adanya kegiatan membandingkan dengan ukuran tertentu (dapat berupa ukuran baku atau standar), (2) Adanya hasil kuantitatif (angka) yang diperoleh dari proses tersebut.
Semua orang yang berkecimpung dalam dunia pendidik an tidak akan lepas dari sebuah proses yang bernama pengukuran. Hal ini disebabkan karena segala proses yang dilalui dalam dunia pembelajaran sastra harus terencana dan terukur dengan baik,ketika di awal maupun di akhir. Pembelajaran puisimisalnya, perlu perencanaan dan evaluasi. Evaluasi akan mencermamti berbagai hal. Pertimbangnan perencanaan, pemilihan metode, media, materi, dan proses penyajian pun layak dievaluasi. Oleh karena itu, pengukuran merupakan suatu proses yang tidak bisa dipisahkan dari dunia pembelajaran secara komprehensif.
Pengukuran dalam bahasa inggris adalah measurement dan istilah dalam bahasa inggris ini sering juga digunakan dalam pembelajaran sastra, lhususnya resepsi sastra. Pembelajaran sastra yang mengaitkan pendapat survey, bisa menggunakan pengukuran. Yang perlu diingat, mengukur pembelajaran sastra memang butuh kejelian. Pengukuran merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk mengukur aktivitas belajar sastra dalam arti memberi angka terhadap sesuatu yang disebut obyek pengukuran atau obyek ukur. Yang diukur tentang tingkat resepsi kelompok terhadap novel tertentu, misalnya novel Bekisar Merah karya Ahmad Tohari.
Mengukur keberhasilan belajar sastra yaitu upaya membandingkan sesuatu dengan satu ukuran yang bersifat kuantitatif. Persepsi pembelajaran sastra yang diangkakan ini merupakan sebuah pengukuran. Orang selalu memandang pengukuran ini lebih valid disbanding penilaian yang sifatnya kualitatif. Tentu saja asumsi ini tidak selamanya betul. Pengukuran dalam pembelajaran sastra adalah sebuah kegiatan/proses membandingkan suatu benda atau keadaan dengan suatu ukuran tertentu yang hasilnya bersifat kuantitatif (angka).
Pengukuran dalam belajar sastra,terkait pula dengan penilaian. Penilaian belajar sastra lebih banyak bersifat kualitatif. Kembali pada wacana/dialog terdahulu, pada kegiatan selanjutnya, siswa memberikan komentar kembali tentang kondisi apel masing–masing temannya. Ada yang terlihat bagus (hijau segar) dan ada yang terlihat kurang bagus seperti busuk (kehitam–hitaman). Dari hal tersebut terlihat adanya perbandingan dari segi penampakan dari sebuah apel dan direspons secara kualitatif atau maknawi. Kegiatan atau proses tersebut di atas
11
adalah sebuah proses penilaian, hal ini dikarenakan ada 2 ciri khas dari penilaian, yaitu: (1) Adanya kegiatan membandingkan kondisi secara kualitatif/maknawi (kata–kata) dan tidak ada ukuran baku dan (2) Adanya hasil keputusan yang bersifat kualitatif/maknawi (kata-kata) yang diperoleh dari proses tersebut.
Pada kegiatan yang bersifat pengukuran, terlihat ada 3 jenis ukuran apel, yaitu diameter 5 cm, 7 cm dan 10 cm. Sehingga menimbulkan kecenderungan di dalam diri tiap–tiap siswa untuk menetapkan nilai diameter 7 cm sebagai kriteria standar karena posisinya yang di tengah–tengah.
Oleh karena itu munculah respon terhadap ukuran–ukuran yang berada di bawah dan di atas standar yang tidak sengaja ditetapkan tersebut, yaitu Besar, kecil atau pun biasa–biasa saja.
Walaupun terkadang terjadi kesalahan pemahaman tentang penilaian dan evaluasi, namun keduanya merupakan sebuah proses yang sangat sering menjadi pembahasan bahkan diskusi yang tiada habisnya. Penilaian dan evaluasi merupakan dua hal yang sangat berbeda. Namun demikian, ada keterkaitan yang saling melengkapi serta berurutan dari dua proses atau kegiatan tersebut. Umumnya evaluasi dilakukan setelah penilaian, bahkan pada kondisi yang berbeda penilaian menjadi bagian tak terpisahkan dari sebuah kegiatan evaluasi yang menyeluruh.
Setiap pengajar sastra pasti pernah memberikan penilaian, dan di setiap penilaian umumnya diawali dengan sebuah kegiatan pengukuran dengan instrumen tes maupun skala sikap (non tes). Asesmen (penilaian) sastra merupakan kegiatan untuk mengumpulkan informasi hasil belajar siswa yang diperoleh dari berbagai jenis tagihan dan mengolah informasi tersebut untuk menilai hasil belajar dan perkembangan belajar siswa. Penilaian dalam pembelajaran sastra merupakan suatu tindakan atau proses menentukan nilai (makna) suatu obyek. Penilaian adalah suatu keputusan tentang nilai (pemaknaan). Penilaian dapat dilakukan berdasarkan hasil pengukuran atau pula dipengaruhi oleh hasil pengukuran. Menurut panndangan saya, evaluasi dalam pembelajaran sastra pasti terkait dengan mengukur dan menilai, hanya saja istilahnya yang sering berlainan. Lebih tepat dalam pembelajaran sastra digunakan tiga proses, yaitu: (1) menafsirkan (mencermati), (2) memahami (menghayati), dan (3) mengevaluasi (memaknai).
Ketiga prose situ memang sulit dipisahkan satu sama lain.
Kegiatan evaluasi pembelajaran sastra butuh tafsir dan pemahaman. Tafsir itu sering ukurannya relative. Apalagi sastra itu sebuah fenomena yang imajinatif. Evaluasi merupakan sebuah tahapan yang dibarengi dengan pengambilan keputusan, sehingga wajar kiranya jika evaluasi sering dijadikan suatu hal yang menakutkan bagi sebagian guru maupun siswa. Evaluasi merupakan tahapan akhir dari serangkaian proses yang diawali oleh tahapan pembelajaran, metode, media bahkan sampai kurikulum yang digunakan juga dapat dievaluasi. Namun
12
demikian, evaluasi yang dibahas pada bagian ini kita batasi saja kepada evaluasi pembelajaran sastra. Evaluasi pmbelajaran sastra adalah upaya memotret tingkat kesuksesan belajar sastra.
Evaluasi sastra yang sering menggunakan tes, berupa pilihan ganda, seringkali membingungkan pmbelajar, sebab hakikatnya sastra itu multi tafsir. Yang bagus, tentu saja evaluasi pembelajaran sastra harus sistematis untuk menentukan atau membuat keputusan sejauh mana tujuan atau program telah tercapai. Berdasarkan teori–teori di atas, dapat disimpulkan bahwa evaluasi pembelajaran sastra atau biasa disebut evaluasi hasil belajar adalah sebuah kegiatan/proses pengambilan keputusan terhadap sesuatu tujuan pembelajaran yang mengacu kepada kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya.
Adapun secara umum tujuan evaluasi pembelajaran sastra meliputi: (a) Mendeskripsikan kecakapan (skill) belajar para siswa sehingga dapat diketahui kelebihan dan kekurangannya dalam berbagai bidang studi atau mata pelajaran yang ditempuhnya, (2) Mengetahui keberhasilan proses pendidikan dan pembelajaran di sekolah, yakni seberapa jauh keefektifannya dalam mengubah tingkah laku para siswa ke arah tujuan pendidikan yang diharapkan, (c) Menentukan tindak lanjut hasil penilaian, yakni melakukan perbaikan dan penyempurnaan dalam hal program pendidikan dan pembelajaran serta strategi pelaksanaannya, (d) Memberikan pertanggungjawaban pihak sekolah kepada pihak-pihak yang berkepentingan.Pihak yang dimaksud meliputi pemerintah, masyarakat, dan para orang tua siswa.
Akhirnya, evaluasi pembelajaran sastra perlu dipandang sebagai umpan balik tentang kelebihan dan kelemahan yang dimiliki, dapat mendorong belajar lebih baik dan mengetahui sejauh mana siswa menguasai materi yang telah dipelajari. Oleh karena itu, evaluasi dapat berfungsi juga untuk (1) mengetahui sampai sejauh mana kemajuan yang telah siswa capai.
Evaluasi tidak hanya dilakukan oleh pendidik tetapi juga oleh peserta didik untuk mengevaluasi diri mereka sendiri (self assessment) atau evaluasi diri. (2) Motivator dalam pembelajaran. Bagi peserta didik dengan adanya evaluasi akan mendorong peserta didik untuk berusaha lebih baik lagi dari sebelumnya agar mencapai hasil yang maksimal. Mereka akan merasa malu kalau kelemahan dan kekurangan yang dimiliki diketahui oleh teman mereka sendiri. Evaluasi terhadap diri sendiri merupakan evaluasi yang mendukung proses belajar mengajar serta membantu siswa memotivasi diri. Oleh karena itu, untuk meningkatkan motivasi peserta didik dalam belajar perlu adanya evaluasi hasi belajar atau evaluasi pembelajaran, (c) Peningkatan kualitas pembelajaran. Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dibutuhkan sistem evaluasi yang tepat, karena peserta didik memiliki berbagai kemampuan yang berbeda-beda, maka sistem evaluasi yang digunakan harus terintegrasi dan mampu mengukur semua kemampuan yang ada pada peserta didik.
13
Evaluasi pembelajaran sastra menggunakan beberapa prinsp: (1) Sahih, berarti penilaian didasarkan pada data yang mencerminkan kemampuan yang diukur, (2) Objektif, berarti penilaian didasarkan pada prosedur dan kriteria yang jelas, tidak dipengaruhi subjektivitas penilai, (3) Adil, berarti penilaian tidak menguntungkan atau merugikan peserta didik karena berkebutuhan khusus serta perbedaan latar belakang agama, suku, budaya, adat istiadat, status sosial ekonomi, dan gender, (4) Terpadu, berarti penilaian oleh pendidik merupakan salah satu komponen yang tak terpisahkan dari kegiatan pembelajaran, (5) Terbuka, berarti prosedur penilaian, kriteria penilaian, dan dasar pengambilan keputusan dapat diketahui oleh pihak yang berkepentingan, (6) Menyeluruh dan berkesinambungan, berarti penilaian oleh pendidik mencakup semua aspek kompetensi dengan menggunakan berbagai teknik penilaian yang sesuai, untuk memantau perkembangan kemampuan peserta didik, (7) Sistematis, berarti penilaian dilakukan secara berencana dan bertahap dengan mengikuti langkah-langkah baku. (8) Beracuan kriteria, berarti penilaian didasarkan pada ukuran pencapaian kompetensi yang ditetapkan, (9) Akuntabel, berarti penilaian dapat dipertanggungjawabkan, baik dari segi teknik, prosedur, maupun hasilnya.
Selain itu, sifat utama sastra adalah memberi kebebasan kepada pembacanya untuk menginterpretasikan kata, makna, amanat, dll. yang terdapat dalam puisi, cerpen, maupun novel.
Sesorang tak bisa menyalahkan sepenuhnya interpretasi seseorang terhadap karya sastra yang dibacanya. Hanya saja ada rambu-rambu agar pembaca dapat memahami karya satra secara benar.Alat evaluasi pembelajaran apresisai puisi (walau tidak seluruhnya) menggunakan sistem pilihan ganda sering membingungkan. Soal-soal seperti ini menyajikan sepotong puisi dan menyoalkan interpretasi siswa. Hal ini menimbulkan masalah baru, siswa dituntut memilih satu dari lima pilihan jawaban yang sangat mirip satu sama lain. Padahal siswa bisa saja memahami puisi tersebut dengan cara berbeda, dan mungkin hasil interpretasinya tidak sama dengan salah satu pilihan jawaban. Kalaupun ada yang sama dengan pilihan jawaban, belum tentu jawaban yang dipilihnya “benar” menurut kunci jawaban soal.
Atas dasar itu, memang relativitas perlu dipegang dalam evaluasi pembelajaran sastra.
Yang dimaksud pembelajaran sastra, yaitu mempelajari sejarah, teori, apresiasi, kritik, mencipta, dan meneliti sastra. Masing-masing aspek memiliki evaluasi yang khusus. Maksudnya, penekanan evaluasi pada aspek pengetahuan seharusnya lebih sedikit, berikutnya aspek pengalaman bersastra yang banyak, dan aspek pemahaman sastra agar dapat memetik nilai di dalamnya. Evaluasi secara apresiatif kiranya masih lebih cocok di era sekarang. Evaluasi yang kontekstual juga amat dibutuhkan dalam evaluasi sastra.
14 D. Karakteristik Evaluasi Pembelajaran Sastra
Dalam buku saya berjudul Teori dan Metode Pengajaran Sastra (2013), sudah saya paparkan seluk beluk evaluasi pembelajaran sastra. Evaluasi pembelajaran sastra memang memiliki karakteristik tertentu. Di antara karakteristik termaksud, yaitu (1) evaluasi dilakukan sudah sepantasnya dalam sebuah proses, bukan semata-mata hasil, (2) evaluasi bersifat lentur, tidak kaku, sebab sastra itu karya multiinterpretatif. Makna boleh berbeda, yang penting pembelajar mampu mencapai kenikmatan dalam belajar. Evaluasi merupakan langkah akhir dari pembelajaran, meskipun setelah itu ada juga langkah tindak lanjut. Namun, setelah memasuki evaluasi biasanya proses pembelajaran dianggap “selesai”, padahal semestinya harus ada follow up yang jelas. Follow up berupa pengembangan dan pembinaan sastra, agar yang telah diperoleh tak cepat hilang atau hanya sesaat saja.
Pada dasarnya, evaluasi dalam pembelajaran sastra memang dapat dilakukan seperti halnya pembelajaran yang lain. Artinya, pembelajaran dapat menggunakan objektif test maupun esai test (uraian). Yang penting, baik tes pilihan ganda maupun uraian harus terfokus pada apresiasi. Namun, menurut hemat saya, jauh lebih tepat menggunakan uraian atau tugas. Objektif tes hanya akan membatasi interpretasi. Memang yang sering memusingkan, dari tahun ke tahun, selalu bentuk evaluasi yang menjadi biang keladi pembelajaran sastra. Bentuk objektif tes telah membangun evaluasi pembelajaran sastra ke arah hafalan dan reproduksi belaka.
Harus diakui, beberapa pengajar memang telah ada yang membuat evaluasi ke arah apresiasi. Terutama ketika pengajar sastra telah banyak mengikuti seminar dan lokakarya pembelajaran sastra akhir-akhir ini. Kendati membuat evaluasi yang apresiatif jauh lebih sulit dibanding yang menekankan hafalan, namun beberapa pengajar juga telah ada niat baik menuju ke sana. Evaluasi sastra memang tak mudah dilakukan, karena masing-masing subjek didik dapat berpendapat. Setelah membaca sastra, subjek didik akan mengemukakan pendapatnya yang beraneka ragam. Karenanya, menuntut kemampuan pengajar sastra untuk mengkategorikan subjek didik telah “berhasil” atau “belum berhasil” belajar sastra.
Jika dirinci, sedikitnya evaluasi pembelajaran sastra harus mencakup empat hal, yakni:
(1) Evaluasi kemampuan menafsirkan watak. Pemahaman subjek didik terhadap watak tokoh sangat penting, selanjutnya dapat diinternalisasi ke dalam dirinya. Watak- watak mana saja yang sejalan dengan dunia subjek didik, watak mana yang pantas ditiru, watak mana saja yang patut dibuang, dll. semua disertai alasan-alasan logis.
Tingkat kualitas pembebrian alasan itulah yang terkategorikan subjek didik berhasil.
(2) Evaluasi kesensitifan terhadap bentuk dan gaya. Dalam kaitan ini, subjek didik diharapkan mampu menafsirkan bentuk dan gaya yang terdapat dalam karya sastra.
15
Bagaimana tanggapan mereka terhadap bentuk dan gaya, tepat tidaknya pemilihan bentuk dan gaya, tingkat estetika karya sastra, dst. Harus dicermati. Subjek didik yang berhasil tentu akan mampu menyatakan sinkronisasi bentuk dan gaya dengan makna karya sastra, baik secara tersurat maupun tersirat.
(3) Evaluasi penangkapan ide dan tema. Dalam hal ini, subjek didik yang mampu menemukan ide dan tema dengan segala alasan logis, termasuk berhasil dalam pembelajaran. Pemahaman atas ide dan tema tersebut harus disertai indikator- indikator yang jelas.
(4) Evaluasi terhadap pemahaman unsur-unsur luar karya sastra. Kemampuan subjek didik menemukan dan menghubungkan secara kontekstual unsur-unsur ekstrinsik sastra, akan mengindikasikan keberhasilan pembelajaran. Hal ini sekaligus mengukur penguasaan cabang-cabang ilmu lain di luar sastra.
(5) Evaluasi terhadap tanggapan perseorangan. Apresiasi sastra memang seharusnya berdampak pada pribadi subjek didik. Karena itu tanggapan subjektif dan objektif tiap-tiap subjek didik patut dievaluasi juga. Aapakah subjek didik mampu menyeimbangkan emosi, terdorong keinginannya, dan tumbuh daya kreativitasnya atau tidak.
Satu hal penting lagi adalah, evaluasi pembelajaran sastra hendaknya dapat mencakup berbagai aspek yang musti dimiliki subjek didik. Dalam hal ini, dalam jalur pndidikan pada umumnya mereka menggunakan tolok ukur keluaran evaluasi dari teori Bloom, yang meliputi domain (ranah): kognitif, afektif, dan psikomotor. Ketiga domain pembelajaran ini, yang sering banyak hadir dalam pembelajaran sastra adalah domain kognitif. Karena itu, sering dikatakan bahwa pembelajaran sastra belum mampu mengevaluasi secara menyeluruh.
Evaluasi ranah kognitif memang relatif mudah dilakukan, apalagi untuk membuat soal pilihan ganda. Pengajar dapat “bermain” dengan kata-kata tertentu untuk menjebak tingkat pemahaman kognitif sastra. Melalui ranah ini, akan terdeteksi pemahaman “apa” dan
“bagaimana” yang bersifat historis dan teoritik tentang sastra. Pengetahuan teori atau pengetahuan sastra akan terukur dari aspek ini. Memang harus diakui, ranah kognitif pun sangat perlu, tetapi tak berarti hahrus mengesampingkan yang lain. Dua ranah lain, afektif dan psikomotor kemungkinan justru lebih penting dalam pembelajaran sastra. Hanya saja, kedua ranah ini memang sulit diukur secara objektif. Mengapa?
Seorang pengajar, memang tak mungkin mengikuti perkembangan sikap dan perilaku subjek didik di luar sekolah. Karena itu, kalau pun harus dievaluasi, kedua ranah terakhir tadi sifatnya sering konseptual juga. Lebih rumit lagi, pengaruh sastra terhadap sikap, pandangan
16
hidup, perilaku, memang tak akan serta merta muncul. Pengaruh itu akan terakumulasi dengan pengalaman jiwa dan pengaruh lingkungan subjek didik. Akibatnya, sulit dilihat atau dievaluasi, mana sikap dan perilaku sebagai hasil pembelajaran sastra dan mana yang tidak.
Problem ranah afektif dan psikomotor dalam evaluasi pembelajaran sastra, telah lama muncul dan sampai detik ini sulit dicarikan jalan keluarnya. Misalkan, kita mengevaluasi afektif subjek didik dengnan soal: “Setelah membaca novel Para Priyayi, Serat Kalatida karya Ranggawarsita, Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari dll. apa yang kalian rasakan?
Adakah pengaruh watak tertentu yang anda dapat teladani, mengapa?” Dari soal ini, jawaban verbal pasti yang akan didapatkan. Meskipun soal ini tidak lagi teoritis, tetapi juga belum tentu melukiskan kejujuran subjek didik. Padahal, ranah afektif itu sebenarnya harus dijawab jujur, jika perlu yang menjawab tindakan nyata.
Terlebih lagi, kalau harus mengevaluasi aspek psikomotor subjek didik. Apakah setelah membaca karya sastra, subjek didik “drastis” terjadi perubahan perilaku? Hal ini membutuhkan proses dan waktu yang relatif lama. Kecuali itu, sampai detik ini, evaluasi psikomotor juga belum diakui oleh kalangan akademik akibat tolok ukurnya masih kabur. Ironisnya, sering ada subjek didik yang dengan tekun membaca beberapa novel, cerpen, puisi yang sarat nilai-nilai humaniora, tetapi justru sikap dan perilaku mereka juga sering menyimpang. Mereka yang secara kognitif nilai sastranya tinggi, kadang-kadang sikap dan perilakunya bertolak belakang.
Akibatnya, pembelajaran sastra “dinyatakan” belum berhasil.
Hal ini semua, sesungguhnya “sistem” yang harus dilawan. Kalau sistem pendidikan masih selalu mendewakan evaluasi pilihan ganda dengan perangkat komputer sebagai penunjang korekrsi, tak mengherankan jika beberapa tahun ke depan pembelajaran sastra tinggal kenangan pahit. Kini, tinggal kita berani berjuang atau tidak, melawa arus “sistem” yang mengalir deras itu, dengan menciptakan soal-soal tes uraian ditambah evaluasi dari observasi langsung pengajar.
Tingkatan evaluasi pembelajaran sastra dapat menggunakan model taksonomi Bloom (Nurgiyantoro, 1988:301-308), yang meliputi hal-hal sebagai berikut:
(1) tes kesastraan tingkat ingatan: tes ini sekedar mengungkap kembali fakta, konsep, definisi, deskripsi, nama pengarang, nama angkatan, dll. Misalkan: “apa yang dimaksud dengan alur, sebutkan pembagian angkatan kesusasteraan, siapa pelopor angkatan ‘45”. Bentuk pilihan ganda, misalkan: Di bawah ini adalah tokoh sentral novel Atheis, yakni: a….b….c…
(2) Tes kesastraan tingkat pemahaman: Tes ini menghendaki subjek didik mampu membedakan, memahami, menjelaskan, tahu hubungan antar konsep dan lain-lain yang sifatnya sekedar mengingat. Misalnya: buatlah ringkasan novel, jelaskan