C. Kesimpulan dan Saran 1. Kesimpulan
2. Saran
107
tulis) dan kemampuan berpikir kritis atas berbagai fenomena yang terjadi baik saat ini, masa lalu, dan masa sekarang.
C. Kesimpulan dan Saran
108
DAFTAR PUSTAKA
American Library Association. 2000. “Presidental Committee on Information Literacy: Final Report.” www.ala.org/acrl/legalis.html (28 November 2013).
Chan Yuen Chin, Mandy. 2001. “Rethinking Information Literacy – A Study of Hongkong
University Students.”www.cite.hku.hk/events/cities2003/
Archive/Msc_presentation/MandyChanCITERS03.ppt (30 November 2013).
Juita, Yulia Agustin Surya. 2011. Efektifitas Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dalam Meningkatkan Prestasi Belajar, Kemampuan Berpikir Kritis, dan Berpikir Kreatif Siswa Kelas VIII SMPI Sabilillah. Malang: Universitas Negeri Malang.
Pradopo, Rachmat Djoko. 2002. Kritik sastra Indonesia modern. Yogyakarta: Gama Media.
Rahmanto, B. 1988. Metode pengajaran sastra. Yogyakarta: Kanisius.
Santosa, Puji & Djamari. 2013. Peran Horison sebagai majalah sastra. Yogyakarta: Elmatera Publishing.
Utami, Asih. 2013. Profil Berpikir Kreatif Siswa dalam Memecahkan MasalahMatematika Ditinjau dari Gaya Kognitif. Tesis tidak dipublikasikan. Malang : Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Malang.
Wellek, Rene & Austin. 1989. Teori kesusastraan. Jakarta: Gramedia.
109
DOKUMENTASI CERITA RAKYAT KOTA LUBUKLINGGAU DAN KABUPATEN MUSIRAWAS: PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN MENYIMAK
Satinem
STKIP-PGRI LUBUKLINGGAU [email protected]
Abstract
The aim of research to document folklore contained in the Lubuklinggau City and Musirawas, than the developing as teaching listening by using the audio for elementary school in Lubuklinggau. This research was using folklore and development method. This research was resulted in ten folklore comes from Lubuklinggau and Musirawas District. There were five themes of ten folklore that had been documented, which is the theme of dishonest behavior, obedience, responsibility, social, and indulgence. The fifth theme that is in accordance with the K-13 that used and designed in thematic.
Ten folklore were documented, recorded become literature teaching material into the area as local content for elementary school students. The result of development was teaching listening based on audio.
Keywords: documentation of folklore, learning, listening, audio media A. Pendahuluan
Perjalanan panjang sejarah bahasa Indonesia telah menempatkan bahasa Indonesia dalam dua kedudukan penting, yakni sebagai bahasa nasional dan bahasa negara. Sejak diikrarkannya sebagai bahasa nasional dan ditetapkan sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia telah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Perkembangan itu telah mengantarkan bahasa Indonesia sebagai lambang jati diri bangsa dan sebagai alat pemersatu berbagai suku bangsa yang berbeda-beda latar belakang sosial, budaya, agama, dan bahasa daerahnya (Achmad, 2010:20).
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (2011:10) menyatakan bahwa pendidikan sebagai proses trasmisi budaya mengacu kepada setiap bentuk pembelajaran budaya (culturale learning) yang berfungsi sebagai transmisi pengetahuan, mobilitas sosial, pembentukan jati diri dan kreasi pengetahuan. Dewasa ini, teknologi informasi dan komunikasi berkembang pesat dengan berbagai bentuk dan kepentingan sehingga tersebar luas ke seluruh dunia. Kemajuan teknologi dan akibat pesatnya arus globalisasi, mampu merubah pola pengajaran pada dunia pendidikan, khususnya pendidikan karakter melalui pembelajaran sastra daerah. Bahasa termasuk media komunikasi, merupakan cermin kepribadian seseorang, artinya melalui bahasa seseorang dapat diketahui kepribadiannya atau karakternya (Mulyasa, 2011:3).
Salah satu upaya yang dapat dilakukan pada lingkup pendidikan untuk meningkatkan kepekaan kepribadian siswa dan peningkatan karakter yaitu melalui pembelajaran sastra. Karya sastra merupakan bagian penting yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan anak. Anak dengan
110
dunianya yang penuh imajinasi menjadi begitu bersahabat dengan sastra karena melalui sastra imajinasi anak bisa terwakili. Karya sastra adalah fenomena unik, juga fenomena organik. Oleh karena itu karya sastra memang syarat dengan imajinasi. Lewat sastra, anak bisa mendapatkan dunia yang lucu, indah, dan nilai pendidikan yang menyenangkan, sehingga tanpa dirasakan cerita menjadi sangat efektif dalam menanamkan nilai moral dan edukasi pada anak. Penyediaan buku tepat diberikan kepada anak-anak sejak dini. Pemberian bacaan satra sejak dini diyakini akan membantu literasi dan kemauan membaca anak pada perkembangan usia selanjutnya. Hal yang lebih penting, dengan cerita, anak bisa mendapatkan nilai-nilai pekerti yang menunjang perkembangan untuk mencapai taraf kedewasaan berpikir. Sastra daerah dapat digolongkan pada kelompok cerita. Dengan demikian yang dimaksudkan cerita pada penelitian ini adalah sastra daerah yang berasal dari kota Lubuklinggau dan Kabupaten Musirawas Propinsi Sumatera Selatan.
Salah Satu mata pelajaran yang dapat melatih anak berpikir kritis dan kreatif adalah melalui pembelajaran sastra. Pembelajaran sastra dapat mengantarkan anak didik ke dalam kemampuan berbahasa sampai pada tataran apresiasi, ekspresi, dan kreasi. Kekuatan karya sastra terletak pada pesan yang terkandung di dalamnya. Pesan yang disampaikan melalui karya sastra kuat dan lebih bersifat abadi jika dibandingkan dengan pesan secara harfiah. Terlebih lagi pada masa kini fenomena hilangnya tradisi bercerita (mendongeng), yang pada masa lalu dilakukan oleh ibu sambil meninabobokkan anaknya di tempat tidur menjadi salah satu penyebab menurunnya minat anak-anak dalam bidang sastra. Saat ini anak-anak diperkenalkan dengan karya sastra ke alam mimpi. Dengan hilangnya fenomena tradisi tersebut, maka pada masa kini wahana perkenalan anak-anak dengan karya sastra diharapkan dapat terwujud melalui pembelajaran apresiasi sastra di Sekolah Dasar (SD) dengan penerapan media pembelajaran yang menarik.
Ada tiga hal penting mengenai kedudukan pengajaran karya sastra terhadap perkembangan anak, yaitu: 1) peningkatan kecintaan anak terhadap karya sastra, meningkatkan hobi dan kesukaan anak pada membaca, yang akhirnya dapat meningkatkan kebiasaan membaca (reading habit) anak; 2) peningkatkan aspek kecerdasan kognisi, afeksi, dan psikomotor anak;
dan 3) peningkatan pendidikan karakter dan pelestarian budaya daerah.
Ironisnya, berdasarkan pengamatan penulis, keberadaan buku yang mengkaji dan membahas mengenai sastra khususnya sastra daerah masih relatif sedikit. Sepertinya sastra daerah yang mempunyai karakteristik sendiri, harus tersisih dengan perkembangan sastra serius (literature). Padahal buku ataupun bahan ajar sastra untuk anak khususnya sastra daerah menjadi elemen penting untuk meningkatkan apresiasi dan kecintaan anak terhadap sastra lebih dini.
111
Boleh jadi rendahnya tingkat baca dan apresiasi anak terhadap karya sastra terjadi karena penanaman pengetahuan apresiasi sastra anak-anak yang gagal. Kcenderungan guru untuk memberikan materi bersifat hafalan masih sangat mendominasi dalam pembelajaran. Bukan hanya itu saja, guru juga kurang memiliki kreativitas untuk menulis berbagai bahan ajar yang dapat berfungsi untuk melancarkan proses belajar mengajar.
Dengan didasarkan kenyataan di atas, maka penulis ingin mencoba berpartisipasi dalam pengadaan bahan ajar sastra daerah di kota Lubuklinggau yang sesuai dengan tuntutan kurikulum. Maka pengembangan bahan ajar sastra daerah adalah suatu keputusan yang bijaksana. Untuk mengembangkan bahan ajar referensi dapat diperoleh dari berbagai sumber, baik itu berupa pengalaman ataupun pengetahuan sendiri, penggalian informasi dari para sejarawan, situs sejarah dan sebagainya. Pertimbangan lain bahwa bahan ajar sastra daerah lebih sesuai dengan karakteristik, karena bahan ajar sastra daerah yang berasal dari daerah lain memiliki ciri yang berbeda baik dari segi sasaran, lingkungan sosial, budaya, dan geografis.
Salah satu standar kompetensi yang dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk memahami sastra dengan baik dapat dilakukan melalui peningkatan keterampilan menyimak.
Menurut Tarigan (2008:2 ) keterampilan berbahasa mencakup empat aspek, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Menyimak merupakan keterampilan berbahasa awal yang dikuasai oleh manusia. Kemampuan menyimak menjadi dasar bagi kemampuan berbahasa lain. Pada awal kehidupan manusia lebih dulu belajar menyimak, setelah itu belajar berbicara, kemudian, membaca, dan menulis. Kemampuan menyimak akan berpengaruh pada kemampuan berbahasa lain.
Tarigan (2008:3) menyatakan bahwa dengan meningkatkan kemampuan menyimak berarti pula membantu meningkatkan kualitas berbicara seseorang. Menyimak adalah proses mengintepretasikan suatu ujaran/tuturan dalam bahasa Indonesia dengan cara mengkombinasikan antara apa yang didengar dan apa yang sudah diketahui. Ditinjau dari segi proses verbal, mendengar/menyimak merupakan keterampilan yang secara fungsional
“menerima” sesuatu. Sesuatu yang dimaksud adalah rangkaian “kode” yang dibuat seorang pembicara melalui proses “koding” dan kemudian diterima seorang pendengar/penyimak melalui proses “dekoding”.
Keterampilan menyimak merupakan keterampilan awal bagi siswa. Menurut Kamidjan (Solchan, 2008:10) menyimak adalah suatu proses lambang-lambang bahasa lisan dengan sungguh-sungguh penuh perhatian, pemahaman, apresiatif yang dapat disertai dengan pemahaman makna komunikasi yang disampaikan secara nonverbal. Sementara itu, Tarigan (Haryadi, 1996:21) mengemukakan bahwa hakikat menyimak adalah mendengarkan dan
112
memahami isi bahan simakan. Kegiatan menyimak diawali dengan mendengarkan, dan pada akhirnya memahami apa yang disimaknya. Dengan memiliki kemampuan menyimak yang baik siswa dapat memahami ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya yang dipelajari dari seluruh mata pelajaran yang diterima di sekolah sehingga mampu mengembangkan pengetahuan, wawasan, serta keterampilan untuk mengaktualisasi dirinya dalam kehidupan di sekolah dan masyarakat.
Terdapat beberapa materi simakan dalam pembelajaran menyimak, salah satunya adalah menyimak cerita. Menurut Nuraini (2008:15), cerita adalah susunan dari beberapa kalimat yang mengisahkan atau menjelaskan sesuatu. Cerita merupakan salah satu bentuk sastra yang sangat menarik perhatian anak-anak baik pada kelas rendah maupun pada kelas tinggi. Cerita akan mengisi ruang imajinasi dan pengalaman batin anak, sehingga mereka tergerak untuk menyatakan berbagai emosinya, mengekspresikan empatinya kepada orang lain, mengembangkan berbagai perasaan harga diri, serta memperoleh cara mengendalikan emosi.
Indonesia terkenal dengan keanekaragaman budaya daerahnya. Budaya daerah tersebut merupakan potensi sosial, sejak zaman dulu keanekaragaman berfungsi sebagai pembentuk karakter dan citra budaya masing-masing daerah. Keanekaragaman budaya yang berkembang di Nusantara adalah kekayaan intelektual dan kultur sebagai warisan yang perlu dilestarikan. Seni tradisional asli suatu daerah adalah jenis kesenian yang tumbuh dan berasal serta berkembang di suatu daerah.
Bersamaan dengan pengertian di atas, Sztompka (2011:25) mengungkapkan bahwa tradisi adalah kesamaan benda material dan gagasan yang berasal dari masa lalu namun masih ada hingga kini dan belum dihancurkan atau dirusak. Namun bagaimana jika tradisi ini tidak terwarisi? Maka bisa dipastikan tradisi ini akan punah. Generasi berikutnya akan kehilangan satu kekayaan budaya. Salah satu cara melestarikan budaya daerah dapat diwujudkan melalui pembelajaran sastra daerah. Banyak usaha yang telah dilakukan untuk melestarikan cerita rakyat misalnya membukukan cerita-cerita rakyat. Akan tetapi, cara tersebut belum cukup untuk membuat cerita rakyat diketahui oleh masyarakat luas. Oleh karena itu, pemerintah memutuskan untuk memasukan materi mendengarkan cerita rakyat pada kompetensi dasar pada Sekolah Dasar (SD). Kompetensi dasar yang dirumuskan adalah menemukan hal-hal menarik tentang tokoh cerita rakyat yang dibacakan secara langsung dan atau melalui rekaman. Melalui pembelajaran cerita rakyat diharapkan siswa mampu mengambil nilai moral, nilai etika, nilai religius yang menambah wawasan dan informasi tentang kepercayaan, pandangan hidup, adat istiadat, dan peradaban bangsa serta nilai-nilai positif lainnya.
113
Berdasarkan hal di atas terlihat bahwa kemampuan menyimak sangat berperan dalam kehidupan manusia. Peran penting penguasaan kemampuan menyimak sangat tampak di lingkungan sekolah. Siswa mempergunakan sebagian besar waktunya untuk menyimak pelajaran yang disampaikan guru. Keberhasilan siswa dalam memahami serta menguasai pelajaran diawali oleh kemampuan menyimak yang baik. Menyimak cerita rakyat dapat melatih siswa mempertajam perasaan, penalaran, daya khayal, serta kepekaan terhadap masyarakat, budaya, dan lingkungan hidup.
Selanjutnya Zuhdi (1997:1) menegaskan bahwa ada tiga elemen penting dalam belajar untuk pemahaman, yaitu 1) pengembangan topik generik yang bisa mendorong anak untuk secara mendalam dan bergairah melaksanakan connection making, 2) pengajaran menekankan pada pembentukan pemahaman dan kebermaknaan, dan 3) asesmen dalam konteks, yang artinya testing bukan bagian terpisah, melainkan terpadu dalam pembelajaran dan tugas-tugas yang dihadapkan kepada anak bersifat holistik. Hal ini mengarah pada prinsip pembelajaran terpadu, yakni pembelajaran yang secara sengaja mendekatkan aspek-aspek intra dan inter-bidang studi, sehingga peserta didik memperoleh pengetahuan dan keterampilan secara utuh dan simultan dalam konteks yang bermakna.
Seperti diuraikan di atas, materi pembelajaran (bahan ajar) merupakan salah satu komponen sistem pembelajaran yang memegang peranan penting dalam membantu siswa mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar. Secara garis besar, bahan ajar atau materi pembelajaran berisikan pengetahuan, keterampilan, dan sikap atau nilai yang harus dipelajari siswa. Masalah-masalah yang timbul berkenaan dengan pemilihan materi pembelajaran menyangkut jenis, cakupan, urutan, perlakuan (treatment) terhadap materi pembelajaran dan sumber bahan ajar. Jenis materi pembelajaran perlu diidentifikasi atau ditentukan dengan tepat karena setiap jenis materi pembelajaran memerlukan strategi, media, dan cara mengevaluasi yang berbeda-beda. Urutan (sequence) perlu diperhatikan agar pembelajaran menjadi runtut.
Kebijakan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP, 2005) yang dituangkan dalam Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Mata Pelajaran Bahasa Indonesia menggariskan bahwa pembelajaran bahasa Indonesia dilakukan secara tematik dan integratif (terpadu) dengan memfokuskan pada aspek keterampilan berbahasa. Pembelajaran tematik merupakan suatu strategi pembelajaran yang melibatkan beberapa mata pelajaran untuk memberikan pengalaman yang bermakna kepada siswa. Keterpaduan dalam pembelajaran ini dapat dilihat dari aspek proses atau waktu, aspek kurikulum dan aspek belajar mengajar. Pembelajaran tematik hanya diajarkan pada siswa sekolah dasar kelas rendah (kelas 1, 2 dan kelas 3), karena pada umumnya
114
mereka masih melihat segala sesuatu sebagai satu keutuhan (holistik), perkembangan fisiknya tidak pernah bisa dipisahkan dengan perkembangan mental, sosial dan emosional.
Dalam proses belajar mengajar, penggunaan media pembelajaran merupakan hal yang sangat mendesak untuk dilakukan oleh seorang guru. Media yang dimaksudkan adalah media yang penggunaannya diintegrasikan dengan tujuan dan isi pengajaran dan dimaksudkan untuk mempertinggi mutu mengajar dan belajar (Trianto, 2009: 28).
Leshin, Pollock dan Reigeuth (dalam Trianto, 2009: 29) mengklasifikasikan media pemelajaran menjadi lima jenis, yaitu 1) media berbasis manusia (pengajar, instruktur, tutor, bermain peran, kegiatan kelas field trip); 2) media berbasis cetak (buku, buku latihan (workbook), dan modul); 3) media berbasis visual (buku, bagan, grafik, peta, gambar, transparansi, slide); 4) media berbasis audio visual atau audio (video, film, program, slide tape, dan televise); 5) media berbasis komputer (pengajaran dengan bantuan komputer, interaktif video, dan hypertext).
Ada beberapa alasan digunakannya media pembelajaran diantaranya sebagai berikut: 1) guru harus berusaha menyediakan materi yang mudah diserap siswa, 2) materi menjadi lebih mudah dimengerti apabila menggunakan alat bantu, dan 3) proses belajar mengajar memerlukan media dalam hal ini disebut media pembelajaran.
Manfaat media pembelajaran yaitu menarik perhatian siswa terhadap materi yang disajikan, mengurangi bahkan menghilangkan verbalisme, membantu siswa untuk memperoleh pengalaman belajar, membatasi keterbatasan ruang, waktu, dan lingkungan, terjadi kontak langsung antara siswa- guru, dan membantu mengatasi perbedaan pengalaman belajar berdasarkan latar belakang ekonomi siswa. Dalam memilih media, Nana Sudjana (Subana, 2004:291) menyebutkan beberapa kriteria penggunaan media pembelajaran, yaitu 1) ketepatan dengan tujuan pengajaran; 2) dukungan terhadap isi bahan pengajaran; 3) memberikan kemudahan; 4) keterampilan guru dalam menggunakan waktu, dan 5) sesuai dengan taraf berpikir siswa.
Oleh karena itu penelitian ini difokuskan pada pengembangan bahan ajar sastra daerah menggunakan media audio pada pembelajaran menyimak. Bahan ajar dipilih sebagai fokus karena bahan ajar di dalam kelas merupakan penafsiran konkret dari kurikulum dan silabus.
Dalam praktik, bahan ajar cenderung menjadi media pembelajaran yang dominan di kelas.
Konsekuensi dari kondisi ini adalah bahan ajar atau buku pelajaran yang digunakan guru sebaiknya memenuhi kriteria kesesuaian dengan kurikulum agar prinsip tujuan dalam kurikulum terimplementasi dengan baik.
Media audio adalah alat media yang isi pesannya hanya diterima melalui indera pendengaran saja. Sedangkan media audio sebagai media pembelajaran, adalah suara-suara ataupun bunyi yang berkaitan dengan materi pembelajaran direkam dengan menggunakan alat
115
perekam suara, kemudian hasil perekaman tersebut diperdengarkan kembali kepada peserta didik dengan menggunakan sebuah alat pemutarnya. Sebelum dilakukan perekaman terlebih dahulu dilakukan pengubahan bentuk prosa cerita menjadi sebuah naskah drama.
Media Audio Menurut Sadiman ( 2005:49 ) adalah media untuk menyampaikan pesan dalam bentuk lambang-lambang auditif, baik verbal ke dalam kata-kata atau bahasa lisan maupun non verbal. Sedangkan menurut S udjana dan Rivai ( 2003:129) Media Audio untuk pengajaran adalah bahan yang mengandung pesan dalam bentuk auditif (pita suara atau piringan suara), yang dapat merangsang. Fungsi media audio menurut Arsyad (1997:44).
Media audio berfungsi juga untuk memusatkan perhatian dan mempertahankan perhatian, mengikuti pengarahan, melatih daya analisis, menentukan arti dan konteks, memilah informasi dan gagasan, merangkum, mengingat kembali dan menggali informasi.
Fungsi lain dari Media Audio adalah sebagai alat bantu bagi para pendidik, karena sifatnya hanya sekedar membantu, maka dalam pemanfaatannya memerlukan bantuan metode atau media lain, sehingga pengalaman dan pengetahuan siap dimiliki oleh pendengar yang akan membantu keberhasilan. Manfaat berikutnya, media audio sebagaimana media Radio, media audio juga merupakan media pembelajaran yang sifatnya searah, sehingga jika ada sesuatu yang kurang jelas peserta didik tidak bisa langsung bertanya. Namun demikian, karena sifatnya rekaman, maka jika ada sesuatu yang kurang jelas peserta didik dapat memutarnya kembali secara berulang-ulang di mana saja dan kapan saja, sampai akhirnya dapat memperoleh kejelasan tentang materi yang sedang mereka pelajari.
Terdapat tiga hal yang sangat memprihatinkan dari pembelajaran sastra di Lubuklinggau yang sampai hari ini kurang diperhatikan oleh para pendidik dan yang terkait dengan tugas mendidik di Lubuklinggau. Pertama, masalah pengembangan kurikulum sastra daerah, meskipun kurikulum saat ini sudah ada tetapi belum memasukkan sastra daerah ke dalam materi kesusasteraan. Materi mengenai sastra daerah sudah ada pada buku paket, namun bukan sastra daerah dari Lubuklinggau.
Kedua, belum dikembangkan bahan ajar sastra daerah khususnya cerita rakyat yang diyakini mempunyai nilai lebih dari sekedar bacaan penghibur saja tetapi padat dengan nilai-nilai budaya setempat yang juga sangat bermanfaat bagi perkembangan jiwa anak. Pada cerita rakyat dapat membantu perkembangan jiwa anak meliputi perkembangan holistik, kognitif, moral, bahasa, dan sosial. Perkembangan secara holistik berkaitan dengan cerita yang mengajarkan bahwa manusia mempunyai rasa cinta, benci, marah, sedih, gembira, dilahirkan dan mati. Di dalam dunia imajiner anak berjuang melawan ketidakadilan serta kejahatan dan menjadi
116
pemenangnya. Melalui cerita rakyat anak akan belajar mengenal pola-pola naratif cerita dan mekanisme wacana yang akan meningkatkan keterampilan narasinya dalam berbahasa.
Ketiga, bahan ajar sastra belum disusun secara tematik dan terintegrasi dengan mata pelajaran pada aspek-aspek intra dan inter-bidang studi, sehingga peserta didik memperoleh pengetahuan dan keterampilan secara utuh dan simultan dalam konteks yang bermakna.
Dari hasil wawancara dengan para guru yang mengajarkan bahasa Indonesia di SD Lubuklinggau, materi ajar sastra daerah khususnya cerita rakyat disampaikan tergabung dalam pokok bahasan kesusasteraan. Materi ajar tersebut bukan berasal dari daerah Sumatera Selatan ataupun Lubuklinggau, melainkan dari daerah lain misalnya Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan dari daerah Pulau Jawa. Materi tersebut tentu tidak sesuai dengan budaya yang ada di Lubuklinggau. Dengan demikian mereka mengatakan sebaiknya anak-anak perlu mempelajari budaya yang ada di daerah melalui sastra daerah Musirawas karena pada cerita daerah terkandung nilai-nilai budaya yang positif untuk perkembangan jiwa siswa dan sesuai dengan budaya setempat.
Berdasarkan pengamatan di lapangan, keberadaan bahan ajar atau buku di perpustakaan SD di Lubuklinggau yang mengkaji dan membahas mengenai sastra khususnya sastra daerah Musirawas masih jarang. Cerita daerah yang ada kebanyakan berasal dari luar Lubuklinggau.
Hal itu menunjukkan bahwa sastra daerah yang mempunyai karakteristik sendiri, belum menjadi prioritas dibandingkan perkembangan sastra serius (literature) pada umumnya. Padahal buku bacaan sastra untuk anak khususnya sastra daerah menjadi elemen penting untuk meningkatkan apresiasi dan kecintaan anak terhadap sastra lebih dini.
Berdasarkan pertimbangan di atas, maka perlu disusun dan dikembangkan bahan ajar sastra daerah yang didesain dengan menggunakan media audio pada pembelajaran menyimak.
Terdapat beberapa alasan mengapa peneliti perlu mengembangkan bahan ajar sastra daerah Musirawas, antara lain ketersediaan bahan sesuai kurikulum, karakteristik sasaran, dan tuntutan pemecahan masalah pembelajaran.
Pada dasarnya sekolah atau daerah memiliki kewenangan untuk merancang dan menentukan bahan ajar sendiri yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa, keadaan sekolah, dan kondisi sekolah atau daerah. Guru diberi kebebasan dalam mengembangkan bahan ajar sehingga kreativitas guru terbuka dan terakomodasi. Sebelumnya guru hanya mengajarkan materi yang telah ditetapkan dalam kurikulum secara nasional yang dibuat pemerintah. Guru diberi ruang dan kebebasan untuk memilih yang terbaik bagi peserta didiknya. Guru tidak lagi didekte untuk mengajarkan materi yang tidak sesuai dengan kebutuhan.
117
Bahan ajar perlu dipilih dengan tepat agar seoptimal mungkin membantu siswa dalam mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar. Masalah-masalah yang timbul berkenaan dengan pemilihan materi pembelajaran menyangkut jenis, cakupan, urutan, perlakuan (treatment) terhadap materi pembelajaran dan sumber bahan ajar. Jenis materi pembelajaran perlu diidentifikasi atau ditentukan dengan tepat karena setiap jenis materi pembelajaran memerlukan strategi, media, dan cara mengevaluasi yang berbeda-beda. Cakupan atau ruang lingkup serta kedalaman materi pembelajaran perlu diperhatikan. Urutan (sequence) perlu diperhatikan agar pembelajaran menjadi runtut. Guru dalam memberikan perlakuan perlu dipilih setepat-tepatnya agar tidak salah mengajarkan atau mempelajarinya.
Dokumentasi cerita rakyat dan pengembangan media berbasis audio disusun dan diperuntukkan bagi guru-guru Bahasa Indonesia di kota Lubuklinggau dan Musi Rawas agar mempermudah dalam membelajarkan cerita rakyat. Penelitan juga bermanfaat bagi siswa agar mereka dapat mengetahui cerita-cerita rakyat yang ada di daerahnya sendiri.
Selanjutnya, Tujuan penelitian pengembangan ini yaitu 1) Mendokumentasikan cerita rakyat Kota Lubuklinggau dan Musirawas untuk menambah pengetahuan guru, siswa, dan masyarakat mengenai beberapa cerita rakyat yang ada di Kota Lubuklinggau dan Musirawas;
dan 2) Menghasilkan media pembelajaran cerita rakyat berbasis audiol sebagai media pembelajaran menyimak SD Xaverius Lubuklinggau.