• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil Penelitian dan Pembahasan 1. Hasil Penelitian

126

menulis pantun yang dikembangkan; (d) Mendeskripsikan efek potensial pengembangan modul menulis pantun hasil pengembangan.

127

memberikan penjelasan terlebih dahulu kepada siswa tentang pertanyaan-pertanyaan yang terdapat dalam angket tersebut.

Berdasarkan identifikasi kebutuhan terhadap siswa kelas X SMA Xaverius Lubuklinggau, dari jawaban angket diperoleh bahwa 105 siswa (70%) tidak senang menulis pantun, 20 siswa (13%) terkadang senang, dan 25 siswa (17%) senang menulis pantun.

Sehubungan dengan bahan ajar yang digunakan dalam pembelajaran di kelas, jawaban angket menunjukkan bahwa subjek penelitian mengaku mengalami beberapa kesulitan dalam menulis pantun, di antaranya yaitu pertama, kesulitan menentukan tema. Hal ini disebabkan materi yang terdapat dalam bahan ajar yang digunakan selama ini sebagai buku wajib yaitu buku Aktif Kreatif Berbahasa Indonesia untuk Kelas X SMA karangan Abdul Somad dkk kurang lengkap dan kurang terperinci secara jelas. Selanjutnya, contoh-contoh yang ditunjukkan dalam buku tersebut juga kurang sesuai dengan syarat-syarat penulisan pantun. Artinya, contoh tersebut kurang memberikan pemahaman bagi siswa untuk memudahkan menulis pantun.

Kedua, kesulitan mencari ide yang dituangkan dalam larik-larik pantun. Hal ini disebabkan dalam bahan ajar yang selama ini digunakan kurang memberikan contoh bagaimana cara menulis pantun dan kurangnya latihan-latihan menulis pantun. Padahal, kegiatan menulis pantun diperlukan latihan-latihan secara berkesinambungan yang pada akhirnya siswa mampu menulis pantun sesuai dengan syarat-syarat pantun.

Ketiga, kesulitan memadupadankan sajak yang terdapat pada sampiran dan isi pantun.

Hal ini disebabkan dalam bahan ajar yang digunakan tidak adanya contoh-contoh rima yang bisa dijadikan sebagai pengetahuan siswa bagaimana mencari pilihan kata atau diksi yang terdapat pada larik atau baris pantun, terutama bagaimana mencari diksi pada rima akhir untuk memadupadankan sajak yang terdapat pada sampiran dan isi pantun.

Berkaitan dengan harapan-harapan siswa terhadap bahan ajar hasil pengembangan peneliti, yaitu pertama, sebanyak 150 siswa (100%) subjek mengharapkan di dalam bahan ajar yang dikembangkan materinya harus lebih jelas dan terperinci, dilengkapi dengan contoh-contoh pantun, langkah-langkah menulis pantun, latihan menulis pantun, dan rubrik penilaian. Selain itu, subjek penelitian juga mengharapkan di dalam bahan ajar yang dikembangkan hendaknya didesain semenarik mungkin, jelas dan sistematis, serta bahasa mudah dipahami.

Kedua, berkaitan dengan topik-topik yang diinginkan dalam menulis pantun, dari jawaban angket menunjukan bahwa siswa yang memilih pantun nasihat yaitu 130 siswa (86%), pantun agama yaitu 95 siswa (63%), dan pantun jenaka yaitu 90 siswa (60%), sedangkan pantun adat hanya 10 siswa (7%) dan pantun teka-teki yaitu 25 siswa (16%).

128

Sementara analisis kebutuhan guru, hasilnya menunjukan adanya kebutuhan yang sama.

Jawaban angket tersebut menunjukan kedua guru bahasa Indonesia di SMA Xaverius Lubuklinggau senang memberikan materi pantun. Menurutnya, dengan memberikan pembelajaran menulis pantun akan menambah wawasan siswa, melatih kebiasaan siswa untuk berfikir, menumbuhkan rasa cinta terhadap karya sastra khususnya pantun, memberanikan siswa untuk belajar mengungkapkan apa yang dirasakan dan apa yang dilihat di sekelilingnya, serta bisa dijadikan sebagai hiburan.

b. Hasil Validasi dan Prototipe Bahan Ajar 1) Prototipe Bahan Ajar

Berdasarkan identifikasi kebutuhan menunjukkan bahwa kebutuhan siswa dan guru relatif sama. Siswa dan guru membutuhkan bahan ajar yang lengkap. Lengkap dalam arti bahan ajar yang dikembangkan peneliti terdapat teori pantun, jenis-jenis pantun, contoh-contoh pantun yang bervariasi, contoh-contoh rima, langkah-langkah menulis pantun, penerapan langkah- langkah menulis pantun dan perbanyak latihan-latihan menulis pantun.

Setelah peneliti melakukan analisis kebutuhan siswa dan guru, peneliti melakukan realisasi kontesktual dan realisasi pedagogik. Pada tahap kontekstual, peneliti melakukan analisis tujuan pembelajaran yang akan dicapai yaitu siswa dituntut mampu menulis pantun berdasarkan bait, rima dan irama. Untuk merealisasikan tujuan yang dicapai tersebut peneliti mencantumkan contoh-contoh pantun dari sumber internet, pantun hasil karya peneliti, dan pantun hasil karya siswa kelas X SMA Xaverius Lubuklinggau.

Tahap selanjutnya adalah realisai pedagogik yang diwujudkan dengan penyusunan petunjuk belajar, materi, latihan, evaluasi yang disajikan dalam bahan ajar menulis pantun hasil pengembangan. Sebagai latihan, siswa diberi latihan melengkapi bagian isi maupun sampiran yang telah disediakan agar menjadi sebuah pantun yang utuh dan latihan menulis pantun. Setelah tahap realisasi kontekstual dan pedagogik, tahap selanjutkan adalah produk bahan ajar. Adapun rancangan bahan ajar yang dikembangkan berdasarkan analisis kebutuhan siswa dan guru dapat dilihat pada bagan berikut ini.

129 2) Hasil Validasi Modul

Validasi terhadap bahan ajar berbentuk modul yang dikembangkan dalam penelitian ini dilakukan dari tanggal 15 Mei 2015 sampai tanggal 27 Mei 2015. Validasi terhadap bahan ajar berbentuk modul tersebut meliputi (1) kelayakan isi, (2) kelayakan bahasa, (3) kelayakan penyajian dan kelayakan kegrafikaan. Pakar atau ahli yang menilai bahan ajar yaitu Dr. Y.

Satinem, M.Pd. (Dosen STKIP-PGRI Lubuklinggau) yang menilai kelayakan isi/materi, Dr.

Agus Saripudin, M.Ed. (Dosen Universitas Sriwijaya) menilai kelayakan kebahasaan, dan Dr.

Fadli, M.Pd. (Dosen STKIP-PGRI Lubuklinggau) menilai kelayakan penyajian dan kegrafikaan.

Secara keseluruhan dari aspek kelayakan isi, kelayakan bahasa, kelayakan penyajian dan kegrafikaan dapat dikategorikan baik.

3) Pengembangan Bahan Ajar Menulis Pantun

Secara umum bahan ajar yang dikembangkan terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian pendahuluan, isi dan penutup. Komponen pendahuluan terdiri atas sampul atau cover depan (berisi nama penulis, judul modul, dan gambar), kata pengantar, daftar isi, dan petunjuk penggunaan modul untuk siswa dan guru. Selanjutnya, bagian isi terdiri dari beberapa kegiatan pembelajaran yang masing-masing kegiatan meliputi (1) judul kegiatan yang disesuaikan dengan kompetensi dasar (KD), (2) indikator, (3) tujuan pembelajaran, (4) uraian materi dan contoh- contoh, (5) latihan, (6) rangkuman, (7) evaluasi, dan (8) kunci jawaban.

Identifikasi kebutuhan

Bahan ajar yang digunakan

Guru

Siswa

Bahan ajar yang memiliki komponen yang lengkap meliputi petunjuk siswa dan guru, judul, SK/KD, indikator, materi, latihan, rangkuman, evaluasi, penilaian, latihan akhir, dan daftar pustaka.

1) Bahan ajar yang digunakan hanya memiliki unsur judul, materi latihan.

2) Bahan ajar tidak kontekstual, tidak memiliki rubrik penilaian untuk masing kegiatan pembelajaran

Judul, petunjuk belajar, SK/KD, indikator, tujuan pembelajaran, materi, latihan, rangkuman, evaluasi,

penilaian, latihan akhir, daftar pustka.

130

Pada setiap judul kegiatan yang terdapat dalam modul Mari Menulis Pantun menggunakan istilah Kegiatan Pembelajaran 1 Pantun, Kegiatan Pembelajaran 2 Menulis Pantun, dan Kegiatan Pembelajaran 3 Menyunting. Selain itu, pada judul kegiatan memuat:

standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, dan tujuan. Selanjutnya, pada bagian isi atau materi pada Kegiatan Pembelajaran 1 dimulai dengan bernyanyi lagu “Injit-Injit Semut” yang diciptakan oleh Rinto Harahap. Kemudian, mengenal apa itu pantun, mengidentifikasi pantun berdasarkan bait, rima, dan irama, mengidentifikasi ciri-ciri pantun, serta mengidentifikasi jenis- jenis pantun.

Sementara pada bagian isi atau materi pada Kegiatan Pembelajaran 2 dimulai dengan memberikan contoh pantun hasil karya peneliti dan hasil karya siswa kelas X SMA Xaverius Lubuklinggau. Pemberian contoh pantun tersebut, dimaksudkan agar siswa sebelum menulis pantun memiliki pengetahuan bahwa menulis pantun harus memperhatikan jumlah baris dalam setiap bait, jumlah kata dan jumlah suku kata dalam setiap baris, serta isi atau makna yang akan disampaikan kepada pembaca. Guna memudahkan siswa menulis pantun, bahan ajar yang dikembangkan menerapkan model Two StayTwo Stray. Artinya model dengan penerapan model pembelajaran TSTS, siswa terlibat secara aktif sehingga akan memunculkan semangat siswa dalam belajar.

Selanjutnya, pada bagian isi atau materi pada Kegiatan Pembelajaran 3 Menyuting dimulai dari definisi menyunting sampai ke hal-hal yang harus diperhatikan dalam menyunting.

Tujuannya, agar siswa mengetahui apa itu makna menyunting dan mengetahui hal-hal apa saja yang harus dilakukan dalam menyunting pantun hasil karya orang lain.

c. Hasil Uji Lapangan

1) Nilai Tes Sebelum Menggunakan Bahan Ajar Hasil Pengembangan

Tes menulis pantun sebelum menggunakan bahan ajar hasil pengembangan dilakukan pada tanggal 23 Mei 2015. Tes menulis pantun dilakukan saat pembelajaran kompetensi dasar menulis pantun dengan menggunakan bahan ajar yang berasal dari buku “Aktif dan Kreatif Berbahasa Indonesia untuk Kelas X SMA/MA” karangan Abdul Somad, dkk.

Berdasarkan hasil pretest menulis pantun pada 25 siswa mendapat nilai yang bervariasi.

Nilai tertinggi 85 diperoleh sebanyak 1 siswa dan nilai terendah 40 diperoleh 3 siswa.

Berdasarkan hasil perhitungan nilai rata-rata siswa menulis pantun sebelum menggunakan bahan ajar hasil pengembangan peneliti adalah 66,88. Lebih jelasnya, nilai hasil pretest yang diperoleh siswa dapat dilihat pada tabel 10.

131

2) Nilai Tes Menulis Pantun Setelah Menggunakan Modul

Tes menulis pantun setelah menggunakan bahan ajar berbentuk modul menulis pantun dilaksanakan pada tanggal 28 Mei 2015 sampai dengan 3 Juni 2015. Tes menulis pantun diberikan setelah subjek penelitian diberikan modul selama satu minggu dalam proses belajar di kelas. Berdasarkan hasil postest menulis pantun yang diberikan pada 25 siswa diperoleh nilai yang bervariasi. Nilai tertinggi 95 diperoleh sebanyak 1 siswa dan nilai terendah 60 yang diperoleh 1 siswa. Adapun data perincian nilai pretest dan postest menulis pantun dapat dilihat pada tabel 1 berikut ini.

Tabel 1. Nilai Tes Menulis Pantun

No. Nama Siswa Nilai

Pretest Postest

1 SK 76 87

2 NM 65 78

3 BS 75 87

4 YP 70 85

5 LL 65 80

6 RD 40 65

7 AS 75 86

8 CS 65 80

9 SF 70 85

10 NK 80 90

11 RS 40 65

12 DM 78 90

13 VL 65 80

14 MA 73 80

15 AR 75 85

16 MS 60 75

17 CF 70 83

18 OK 40 60

19 NJ 83 94

20 MR 70 80

21 YK 74 85

22 DV 60 74

23 MI 85 95

24 MH 73 85

25 MR 45 65

Jumlah Rata-rata

Selisih

1672 2019

66,88 80,76

13,88

Dari data tersebut diperoleh informasi tentang nilai tertinggi dan terendah pada saat pretest dan postest. Nilai tertinggi pada pretest 85 dan nilai terendah yaitu 40, sedangkan pada postest nilai tertinggi 95 dan nilai terendah 60. Artinya, ada peningkatan kemampuan siswa setelah menggunakan bahan ajar hasil pengembangan. Dari tabel tersebut juga dapat dihitung

132

selisih nilai tertinggi adalah 10 dan terendah 20. Lebih jelas dapat dilihat pada grafik 1 berikut ini.

Grafik 1. Data Nilai Pretest dan Postest Menulis Pantun

Berdasarkan grafik di atas dapat dilihat adanya peningkatan nilai yang diperoleh siswa setelah menggunakan bahan ajar berbentuk modul hasil pengembangan. Dari nilai tersebut terdapat pula perbedaan nilai rata-rata sebelum dan setelah menggunakan bahan ajar hasil pengembangan. Perbedaan nilai rata-rata tersebut dapat dilihat pada grafik 2 berikut ini.

Grafik 2. Nilai Rata-Rata Pretest dan Postest Menulis Pantun d. Hasil Wawancara

Wawancara dalam penelitian pengembangan ini dilakukan pada saat analisis kebutuhan.

Wawancara bertujuan untuk melengkapi data angket yaitu untuk mengetahui tanggapan siswa dan guru terhadap bahan ajar yang selama ini digunakan di sekolah, kesulitan yang dihadapi siswa dalam menulis pantun, dan harapan-harapan terhadap bahan ajar yang dikembangkan.

Berdasarkan hasil wawancara siswa dan guru secara keseluruhan tidak jauh berbeda.

Artinya, siswa dan guru menghendaki bahan ajar yang menarik dan bahasa mudah dipahami.

Menarik dalam arti bahan ajar tersebut hendaknya terdapat gambar. Menurutnya, walaupun media gambar dalam pembelajaran menulis pantun tidak memberikan efek dapat menulis pantun, namun dengan adanya gambar yang terdapat dalam modul menulis pantun dapat memotivasi siswa untuk belajar menggunakan modul hasil pengembangan peneliti. Sementara bahasa mudah dipahami dalam arti bahasa yang terdapat dalam bahan ajar hendaknya menggunakan bahasa

Sebelum Sesudah Selisih

40

60

20

85 95

10 Terendah Tertinggi

sebelum setelah selisih

66,88 80,76

13,88

Nilai rata-rata

133

yang sesuai dengan EYD. Selain itu, tampilan fisik atau cover harus dibuat lebih menarik dan full colour.

2. Pembahasan

Berdasarkan hasil identifikasi kebutuhan yang dilakukan peneliti terhadap siswa kelas X SMA Xaverius Lubuklinggau, diperoleh data bahwa siswa SMA Xaverius Lubuklinggau mengalami beberapa kesulitan dalam menulis pantun. Guna mengatasi kesulitan tersebut secara umum siswa memerlukan bahan ajar khusus menulis pantun yang lengkap, bahasa mudah dipahami, menyenangkan, menarik, dan dapat memberikan motivasi kepada siswa untuk meningkatkan kreativitas siswa dalam menulis pantun.

Untuk memenuhi kebutuhan bahan ajar yang mudah dipahami, di dalam bahan ajar tersebut dilengkapi dengan kajian teori dimulai dari pengertian pantun, mengidentifikasi pantun berdasarkan bait, rima, dan irama, jenis-jenis pantun, contoh-contoh pantun bervariasi, contoh- contoh rima, langkah-langkah menulis pantun, dan cara mengaplikasikan langkah-langkah menulis pantun tersebut.

Berkaitan dengan latihan, subjek penelitian memerlukan latihan-latihan menulis pantun sesuai dengan jenis pantun yang dipilih dan dilakukan secara individu. Namun, sebelum siswa latihan menulis patun di dalam modul tersebut diberikan contoh pantun karya peneliti dan karya siswa. Hal ini bertujuan untuk mengubah persepsi siswa bahwa menulis pantun adalah suatu hal yang menyenangkan, menghibur, dan dapat mengungkapkan apa yang dirasakan yang dituangkan ke dalam bahasa sastra. Hal ini sejalan dengan pendapat Soeprapto, (1996:61) bahwa pantun merupakan bentuk karya sastra yang digunakan sebagai alat untuk memelihara bahasa, mengungkapkan perasaan terhadap seseorang bahkan pantun juga dapat digunakan untuk menyindir, bersanda gurau, memberi nasihat, dan bersenang-senang.

Selanjutnya, untuk memenuhi kebutuhan guru dan siswa tentang menulis pantun agar lebih mudah dipahami, peneliti memuat pantun dari sumber internet, hasil karya peneliti, dan hasil karya siswa kelas X SMA Xaverius Lubuklinggau. Hal ini menunjukkan bahwa modul hasil pengembangan peneliti benar-benar kontekstual sesuai dengan kondisi rill siswa dan lingkungan sekitar. Senada dengan pendapat Tomlinson (1998:5—7) bahwa bahan ajar yang baik harus memberikan dampak dan memberikan rasa nyaman pada siswa. Artinya, bahan ajar harus dilengkapi ilustrasi berupa gambar, foto, warna dan topik yang menarik minat siswa.

Selanjutnya bahan ajar juga harus berkaitan dengan lingkungan sosial siswa agar siswa mudah memahami setiap pembelajaran yang terdapat di dalam modul, sebab sesuatu yang sudah dikenal siswa akan memudahkan mereka menyerap materi yang dipelajarinya.

134

Selanjutnya, sebelum bahan ajar hasil pengembangan peneliti diberikan kepada siswa kelas X SMA Xaverius Lubuklinggau, bahan ajar tersebut dilakukan validasi ahli untuk mendapatkan masukan dan saran-saran dari para pakar. Oleh karena itu, prototipe bahan ajar menulis pantun hasil pengembangan peneliti dapat dinyatakan layak digunakan oleh siswa kelas X SMA Xaverius Lubuklinggau.

Dengan demikian, modul hasil pengembangan ini memiliki beberapa kelebihan bila dibandingkan dengan bahan ajar yang selama ini digunakan di sekolah. Pertama, modul hasil pengembangan ini didasarkan pada analisis kebutuhan siswa dan guru. Kedua, modul hasil pengembangan peneliti ini bersifat praktis dan sistematis. Praktis bahan ajar disesuaikan dengan gaya belajar siswa yang tidak sama antara satu dengan yang lain. Hal ini sejalan dengan pendapat Lestari (2013:7) bahwa karakteristik siswa yang berbeda dari berbagai latar belakang akan terbantu dengan adanya bahan ajar. Bahan ajar dapat dipelajari siswa sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.

Setiawan (2007:12) juga mengatakan bahwa bahan ajar yang baik adalah bahan ajar sesuai dengan karakteristik siswa dan tujuan pembelajaran yang dicapai. Bahan ajar juga harus disajikan secara sistematis, lengkap, memiliki daya tarik, mengunakan bahasa yang mudah dipahami. Demikian juga, Prastowo (2011:17) bahan ajar yang baik adalah bahan ajar yang disusun sesuai dengan karakteristik siswa dan menampilkan sosok utuh dari kompetensi yang akan dikuasai oleh siswa dalam proses pembelajaran.

Berdasarkan hasil uji lapangan terbatas yang diberikan kepada 25 siswa kelas X SMA Xaverius Lubuklinggau dalam ujuk kerja menulis pantun menunjukan peningkatan nilai rata-rata dalam menulis pantun. Hal ini dibuktikan dengan hasil tes menulis pantun setelah siswa menggunakan bahan ajar hasil pengembangan peneliti mengalami peningkatan nilai rata-rata dari 66, 88 menjadi 80,76 (selisih 13, 88). Selanjutnya, hasil penghitungan Uji-t dengan menggunakan SPSS 19 juga diketahui bahwa bahan ajar manulis pantun hasil pengembangan berpengaruh positif terhadap peningkatan kemampuan siswa dalam menulis pantun. Dengan kata lain, terjadi peningkatan kemampuan siswa dalam menulis pantun setelah mengunakan bahan ajar hasil pengembangan peneliti.

Selain data uji lapangan yang menunjukkan peningkatan nilai rata-rata setelah menggunakan bahan ajar hasil pengembangan, hal ini juga didukung dengan data wawancara yang peneliti lakukan kepada dua siswa untuk mewakili seluruh siswa yang telah menggunakan bahan ajar hasil pengembangan peneliti. Berdasarkan hasil wawancara, menurut siswa bahan ajar menulis pantun sangat membantu mengatasi kesulitan yang selama ini dihadapi. Oleh karena itu, siswa merasa senang dengan adanya bahan ajar menulis pantun hasil pengembangan dapat

135

memudahkan siswa dalam menulis pantun. Panen (2001:9) bahwa bahan ajar merupakan seperangkat materi yang disusun secara sistematis yang menampilkan sosok utuh dari kompetensi yang akan dikuasai siswa dan membantu siswa dalam proses pembelajaran.

D. Simpulan dan Saran