BAB 3 TINJAUAN KASUS
3.5 Evaluasi
O :
• k/u lemah
• Batuk terutama pada malam hari
• suara nafas ronchi pada pulmo (D)
• batuk disertai dahak
• tidak ada retraksi otot bantu nafas
TTV
TD : 120/70 mmHg S : 36°C
N : 84x/mnt RR : 22x/mnt
A : Masalah belum teratasi P : Lanjutkan intervensi Keperawatan (1,2,3) 16-10-2019 Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
S : Klien mengatakan saat sakit BB menurun (±5 Kg)
O :
• k/u lemah
• batuk disertai dahak
• penurunan BB (±5 Kg) sebelum sakit 57 Kg dan saat
sakit 52 Kg
• nafsu makan menurun
• Porsi tidak dihabiskan A : Masalah belum teratasi P : Lanjutkan Intervensi Keperawatan (1,2,3,4)
17-10-2019 Ketidakefektifan bersihan jalan nafas
S : Klien mengatakan Batuk mulai berkurang
O :
• K/U lemah
• Batuk disertai dahak
• Suara nafas ronchi pada pulmo (D) berkurang
• Tidak ada retraksi otot bantu nafas
TTV
TD : 110/80 mmHg S : 36,4°C
N : 80x/mnt RR : 22x/mnt
A : Masalah teratasi sebagian P : Lanjutkan intervensi
Keperawatan (1,2,3,4,5)
17-10-2019 Gangguan pola istirahat tidur
S : Klien mengatakan sudah bisa tidur lebih nyaman karena batuk mulai berkurang pada malam hari
O :
• k/u lemah
• Batuk terutama pada malam hari sudah mulai berkurang
• suara nafas ronchi pada pulmo (D) berkurang
• batuk disertai dahak TTV
TD : 110/80 mmHg S : 36,4°C
N : 80x/mnt RR : 22x/mnt
A : Masalah teratasi sebagian P : Lanjutkan intervensi Keperawatan (1,2,3) 17-10-2019 Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
S : Klien mengatakan saat sakit BB menurun (±5 Kg)
O :
• k/u lemah
• batuk disertai dahak
berkurang
• penurunan BB (±5 Kg) sebelum sakit 57 Kg dan saat sakit 52 Kg
• nafsu makan sudah ada peningkatan
• Porsi tidak dihabiskan A : Masalah teratasi sebagian P : Lanjutkan Intervensi Keperawatan (1,2,3,4)
18-10-2019 Ketidakefektifan bersihan jalan nafas
S : Klien mengatakan Batuk mulai berkurang
O :
• K/U lemah
• Batuk disertai dahak berkurang
• Suara nafas ronchi pada pulmo (D) berkurang
• Tidak ada retraksi otot bantu nafas
TTV
TD : 120/80 mmHg S : 36,7°C
N : 80x/mnt
RR : 22x/mnt
A : Masalah teratasi sebagian P : Intervensi dihentikan 18-10-2019 Gangguan pola istirahat
tidur
S : Klien mengatakan sudah bisa tidur lebih nyaman karena batuk mulai berkurang
O :
• K/U lemah
• Batuk terutama pada malam hari sudah mulai berkurang
• Suara nafas ronchi pada pulmo (D) berkurang
• Batuk disertai dahak TTV
TD : 120/80 mmHg S : 36,7°C
N : 80x/mnt RR : 22x/mnt
A : Masalah teratasi sebagian P : Intervensi dihentikan 18-10-2019 Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
S : Klien mengatakan saat sakit BB menurun (±5 Kg) tapi sudah ada peningkatan nafsu makan
O :
• k/u lemah
• batuk disertai dahak berkurang
• penurunan BB (±5 Kg) sebelum sakit 57 Kg dan saat sakit 52 Kg
• nafsu makan sudah ada peningkatan
• Porsi makan pada pagi dihabiskan
A : Masalah teratasi sebagian P : Intervensi dihentikan
67 BAB 4 PEMBAHASAN
Pada bab ini peneliti akan membahas anatar kesenjangan antara teori dan proses asuhan keperawatan secara langsung pada pasien “Ny.R” yang dilakukan pada tanggal 16 sampai dengan 18 Oktober 2019 di Poli Klinik PT. ECCO Indonesia, prinsip dari pembahasan ini dengan memfokuskan pada aspek proses keperawatan yang terdiri dari tahap pengkajian, diagnosa, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
4.1 Pengkajian 4.1.1 Pengkajian
Pada tahap pengumpulan data, penulis tidak mengalami kesulitan karena penulis mengadakan perkenalan dan menjelaskan maksud panulisan yaitu untuk melaksanakan asuhan keperawatan pada klien sehingga klien dan keluarga terbuka dan mengerti serta kooperatif sehingga klien sangat membantu dalam proses pengumpulan data.
Identitas klien pada tinjauan pustaka dengan penyakit TB Paru sebagian besar kasus TB Paru terjadi pada jenis kelamin laki-laki, akan tetapi dalam tinjauan kasus disini terjadi pada pasien perempuan hal ini terjadi karena tenaga kerja di PT. ECCO Indonesia mayoritas adalah perempuan, sehingga klien yang ditemukan di lapangan mayoritas adalah perempuan.
4.1.2 Riwayat Keperawatan 4.1.2.1 Keluhan Utama
Gejala yang biasa ditemui pada pasien TB paru adalah batuk-batuk selama 2-3 minggu atau lebih (Depkes RI, 2017). Pada tinjauan kasus
yang dilakukan pada klien “Ny.R” yang datang ke poli Klinik PT. ECCO Indonesia mengalami keluhan batuk selama ±1 bulan disertai dahak.
Berdasarkan pengamatan peneliti antara tinjauan kasus dan tinjauan pustaka tidak terdapat kesenjangan karena tanda dan gejala yang dialami oleh klien sama dengan gejala pada penderita TB Paru lainnya yaitu mengalami batuk lebih dari 3 minggu.
4.1.2.2 Riwayat Penyakit Saat Ini
Tuberkulosis paru (TB Paru) adalah penyakit infeksius, yang terutama menyerang penyakit parenkim paru. Gejala yang biasa ditemui pada pasien TB paru adalah batuk-batuk selama 2-3 minggu atau lebih. Selain batuk pasien juga mengeluhkan dahak bercampur darah, batuk darah, sesak nafas, badan lemas, nafsu makan menurun, berat badan menurun, malaise, berkeringat malam hari tanpa kegiatan fisik, dan demam meriang lebih dari satu bulan. ((Depkes RI, 2017). Sedangkan hasil dari tinjauan kasus diperoleh hal yang sama yaitu mengalami keluhan batuk lama disertai dahak. Disamping itu juga klien mengalami gejala nafsu makan menurun, badan klien terasa meriang pada sore dan malam hari, klien merasakan sering capek saat melakukan aktifitas kecil misal jalan kaki ±100 mtr sudah merasakan ngos-ngosan disertai keringat dingin, dan klien juga mengalami penurunan BB ±5 Kg.
4.1.2.3 Riwayat Penyakit Dahulu
Pada tinjauan pustaka kasus TB Paru diklasifikasikan berdasarkan tipe pasien ditentukan berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya (Nurarif A.H dan Kusuma H, 2015). Berdasarkan tinjauan kasus klien juga pernah
menderita penyakit TB Paru dan menjalani pengobatan selama 6 bulan sampai sembuh dari infeksi bakteri TBC. Berdasarkan pengamatan peneliti klien masuk dalam klasifikasi (relaps) TB Paru sehingga klien harus dilakukan pengobatan OAT ulang sesuai dengan aturan TB Paru ketegori II.
4.1.2.4 Pemeriksaan Fisik
Pada pengkajian keluhan utama klien tidak terjadi kesenjangan antara tinjauan pustaka dengan tinjauan kasus klien dating dengan keluhan batuk.
1) Pada sistem pernafasan (B1) klien tampak batuk, terjadi penurunan berat badan, disamping itu klien dengan TB Paru didapatkan bunyi nafas tambahan (ronkhi) pada sisi yang sakit (Nurarif A.H dan Kusuma H, 2015). Tidak ada kesenjangan antara tinjauan kasus dengan tinjauan pustaka. Pada tinjauan kasus klien pola nafas tidak teratur. Klien tampak batuk dan berdahak, dahak kental (warna kekuningan), jumlah banyak, dan seulit dikeluarkan, saat bernafas klien tanpa ada retraksi otot bantu nafas, RR : 22x/menit, pada auskultasi thorax terdapat suara ronchi terutama pada paru (dextra).
2) Pada pemeriksaan kardiovaskular (B2) terlihat adanya keluhan kelemahan fisik, kelemahan nadi purifier, pergeseran batas jantung dengan efusi pleura terdorong ke sisi sehat (Nurarif A.H dan Kusuma H, 2015). Tidak ada kesenjangan antara tinjauan kasus dengan tinjauan pustaka. Pada tinjauan kasus didapatkan klien tidak ada nyeri dada, nadi 84x/menit,,
CRT <2 dtk, konjungtiva merah muda, dan perkusi terdengar sauna sonor, Irama jantung regular, bunyi jantung S1 S2 tunggal.
3) Pada sistem persyarafan (B3) adanya gangguan pada tingkat kesadaran, dan anemia (Nurarif A.H dan Kusuma H, 2015). Tidak ada kesenjangan antara tinjauan kasus dengan tinjauan pustaka. Pada tinjauan kasus didapatkan klien kesadaran Composmentis dengan GCS (E:4, V:5, M:6), orientasi baik dan tidak ada kaku kuduk, dan klien tampak lemah.
4) Pada sistem perkemihan (B4) adanya oliguria, urine berwarna jingga pekat dan berbau, dan adanya nyeri tekan pada kandung kemih (Nurarif A.H dan Kusuma H, 2015). Tidak ada kesenjangan antara tinjauan kasus dengan tinjauan pustaka. Pada tinjauan kasus didapatkan klien tidak ada massa/
benjolan, tidak ada nyeri tekan pada kandung kemih. Bentuk alat kelamin normal, personal hygiene pada alat kelamin baik, frekuensi BAK 4-5x/hari (±1000cc/hari). Urine berwarna jingga pekat dan berbau menandakan fungsi ginjal normal pada TB sebagai ekskresi dari OAT.
5) Pada sistem pencernaan (B5) Klien biasanya mengalami mual muntah, penurunan nafsu makan dan penurunan berat badan (Nurarif A.H dan Kusuma H, 2015). Tidak ada kesenjangan antara tinjauan kasus dengan tinjauan pustaka. Pada tinjauan kasus didapatkan klien mukosa bibir klien lembab, tidak tampak cyanosis, lidah bersih, bentuk bibir simetris, gigi bersih. leher simetris terpusat pada posisi kepala. Abdomen tidak terdapat ascites, klien mengalami penurunan nafsu makan dan penurunan berat badan sebelum sakit (57Kg) dan dan saat sakit (52Kg) (berkurang ±5Kg).
tidak ada pembesaran kelenjar tyroid dan tidak nyeri tekan pada leher dan abdomen. Peristaltic usus (normal 12x/mnt), kebiasaan BAB 1x/hari.
6) Pada pemeriksaan sistem muskuloskeletal (B6) terdapat adanya deformitas, nyeri tekan pada sendi atau tulang akibat dari komplikasi (Nurarif A.H dan Kusuma H, 2015). Tidak ada kesenjangan antara tinjauan kasus dengan tinjauan pustaka. Pada tinjauan kasus didapatkan klien kulit tampak bersih, berwarna sawo matang, tidak terdapat lesi. tidak ada fraktur pada klien, kemampuan pergerakan sendi dan tungkai bebas.
Tidak ada nyeri tekan pada sendi atau tulang, kulit lembab, akaral hangat, CRT ≤2dtk, kekuatan otot tangan dan kaki D/S sama (5,5).
7) Pada pemeriksaan sistem penginderaan (B7) dilihat adanya secret pada hidung, dan juga penggunaan alat bantu pada panca indra (Nurarif A.H dan Kusuma H, 2015). Tidak ada kesenjangan antara tinjauan kasus dengan tinjauan pustaka. Pada tinjauan kasus didapatkan klien pada indra penglihatan reflek mata normal, konjungtiva merah muda, sclera putih, palpebra normal, tidak ada strabismus, dan tidak mengguanaan alat bantu.
Pada indra penciuman tidak ada epistaksis, mukosa hidung lembab, tidak ada secret. Pada indra pendengaran bentuk telinga simetris, ketajaman pendengaran baik, dan penggunaan alat bantu. Pada indra perasa hasilnya normal dan pada indra peraba tidak ditemukan adanya kelainan dalam indra peraba.
8) Pada pemeriksaan sistem endokrin (B8) Kemungkinan adanya pembesaran kelenjar tiroid dan kelenjar parotis (Nurarif A.H dan Kusuma H, 2015).
Tidak ada kesenjangan antara tinjauan kasus dengan tinjauan pustaka.
Pada tinjauan kasus didapatkan klien tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan kelenjar parotis. Klien tidak memiliki luka gangrene.
Pada terapi dan penatalaksanaan pada klien dengan TB Paru pada tinjauan pustaka, klien akan diberikan obat anti tuberculosis (OAT) (Depkes RI, 2011). Pada tinjauan kasus, terapi yang diberikan yaitu obat OAT (3 Tablet FDC RHZE) (sudah berjalan selama 5 bulan) dan injeksi streptomycin (selama 56 kali).
Pada pemeriksaan penunjang tidak ada kesenjangan antara tinjauan kasus dan tinjauan pustaka. pada tinjauan pustaka pemeriksaan yang dilakukan yaitu pemeriksaan sputum, pemeriksaan tuberculin (mantoux), pmeriksaan rongent thorax, pemeriksaan laboratorium (Depkes RI, 2017).
Pada tinjauan kasus dilakukan pemeriksaan foto rongent dan juga pemeriksaan laboratorium.
Analisa data pada tinjauan kasus hanya menguraikan teori saja sedangkan pada tinjauan kasus disesuaikan dengan keluhan nyata yang dialami klien karena penulis menghadapi klien secara langsung.
4.2 Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang ada pada tinjauan pustaka ada 6 (enam) menurut (Nurarif A.H dan Kusuma H, 2015), yaitu :
4.2.1 Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan penumpukan secret yang berlebihan
4.2.2 Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan kongesti paru 4.2.3 Hipertemi berhubungan dengan reaksi inflamasi
4.2.4 Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakadekuatan intake nutrisi
4.2.5 Resiko infeksi berhubungan dengan organisme purulen (Leukosit
<11.000 mg/dl)
4.2.6 Gangguan pola istirahat tidur berhubungan dengan batuk produktif Pada tinjauan kasus didapatkan 3 diagnosa keperawatan prioritas dan sesuai dengan Nurarif A.H dan Kusuma H, 2015 yaitu :
4.2.1.1 Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan penumpukan secret yang berlebihan
4.2.1.2 Gangguan pola istirahat tidur berhubungan dengan batuk produktif.
4.2.1.3 Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakadekuatan intake nutrisi.
4.3 Perencanaan
Pada perencanaan tindakan keperawatan disesuaikan dengan tinjauan pustaka dan tinjauan kasus dengan kebutuhan dan kondisi pasien ((Nurarif A.H dan Kusuma H, 2015).pada tinjauan kasus perencanaan, menggunakan sasaran, dalam intervensinya dengan alasan penulis ingin berupaya memandirikan klien dan keluarga dalam pelaksanaan pemberian asuhan keperawatan melalui peningkatan pengetahuan (kognitif), ketrampilan mengenai masalah (afektif), dan perubahan tingkah laku klien (psikomotor).
Pada diagnosa ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan penumpukan secret yang berlebihan tidak terjadi kesenjangan antara tinjauan pustaka dan tinjauan kasus, yaitu Melakukan kunjungan rumah dan BHSP (bina hubungan saling percaya) dengan anggota keluarga, Informasikan pada klien dan
keluarga tentang batuk efektif, Berikan posisi semi fowler, Meminta klien melakukan nafas dalam sebelum dilakukan fisioterapi dada, Ajarkan kepada keluarga dan klien bagaimana cara melakukan batuk efektif, Lakukan fisioterapi dada.
Pada diagnosa gangguan pola istirahat tidur berhubungan dengan batuk produktif tidak terjadi kesenjangan antara tinjauan pustaka dan tinjauan kasus, yaitu jelaskan pentingnya tidur adekuat, catat kebutuhan tidur klien setiap hari dan jam, ciptakan lingkungan yang nyaman, kolaborasi pemberian obat tidur.
Kesenjangan pada intervensi dalam diagnosa gangguain istirahat tidur itu sendiri yaitu tidak dilakukan pemberian obat tidur karena memang belum ada indikasi lain dari penyebab gangguan tidur klien selain disebabkan oleh batuk klien yang sering pada malam hari sehingga pengobatan di fokuskan pada penyembuhan batuknya secara pengobatan medisnya..
Pada diagnosa ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakadekuatan intake nutrisi tidak terjadi kesenjangan antara tinjauan pustaka dan tinjauan kasus, yaitu berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi, anjurkan makan sedikit tapi sering, ajarkan klien bagaimana membuat catatan makanan harian, berikan klien makanan yang disukainya, monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori.
4.4 Implementasi
Pelaksanaan adalah perwujudan atau realisasi dari perencanaan yang telah disusun. Pelaksanaan pada tinjauan pustaka belum dapat direalisasikan karena hanya membahas teori asuhan keperawatan. Sedangkan pada kasus nyata
pelaksanaan telah disusun dan direalisasikan pada pasien dan ada pendokumentasian dan intervensi keperawatan.
Pada diagnosa ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan penumpukan secret yang berlebihan semua perencanaan tindakan keperawatan telah dilaksanakan seperti melakukan kunjungan rumah dan BHSP (bina hubungan saling percaya) dengan anggota keluarga, menginformasikan pada klien dan keluarga tentang batuk efektif, memberikan posisi semi fowler, meminta klien nafas dalam sebelum dilakukan fisioterapi dada, mengajarkan kepada keluarga dan klien bagaimana cara melakukan batuk efektif, Lakukan fisioterapi dada.
Pada diagnosa gangguan pola istirahat tidur berhubungan dengan batuk produktif semua perencanaan tindakan keperawatan telah dilaksanakan seperti menjelaskan pentingnya tidur adekuat, mencatat kebutuhan tidur klien setiap hari dan jam, menciptakan lingkungan yang nyaman, dan hanya kolaborasi pemberian obat tidur yang belum dapat diberikan.
Pada diagnosa ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakadekuatan intake nutrisi semua perencanaan tindakan keperawatan telah dilaksanakan seperti memberikan informasi tentang kebutuhan nutrisi, menganjurkan makan sedikit tapi sering, mengajarkan klien bagaimana membuat catatan makanan harian, memberikan klien makanan yang disukainya, memonitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori.
Diagnosa utama pada tinjauan kasus ini yaitu ketidakefektifan bersihan jalan nafas maka klien diajarkan nafas dalam sebelum dilakukan fisioterapi dada, mengajarkan kepada keluarga dan klien bagaimana cara melakukan batuk efektif
dan menganjurkan minum air hangat. Klien dan keluarga kooperatif dengan perawat sehingga rencana tindakan dapat dilakukan dengan maksimal.
4.5 Evaluasi
Pada tinjauan pustaka evaluasi belum dapat dilaksanakan karena merupakan kasus semu sedangkan pada tinjauan kasus evaluasi dapat dilakukan karena dapat diketahui keadaan klien dan masalahnya secara langsung.
Pada akhir evaluasi semua tujuan belum tercapai secara maksimal karena terkendala waktu dari pelaksanaan dan evaluasi tinjauan kasus hanya 3x pertemuan sehingga masalah masih teratasi sebagian, walaupun sudah ada kerjasama yang baik antara perawat, klien, dan keluarga dalam pelaksanaan asuahan keperawatan.
Pada evaluasi hari ke tiga Ny.R tanggal 18 Oktober 2019 pada diagnosa ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan penumpukan secret yang berlebihan telah dilaksanakan evaluasi dengan hasil, subyektif : Klien mengatakan batuk mulai berkuang. Obyektif : keadaan umum masih lemah, Batuk disertai dahak berkurang, suara nafas ronchi pada pulmo (D)berkurang, tidak ada retraksi otot bantu nafas, dan hasil pemeriksaan tanda-tanda vital tekanan darah : 120/80 mmHg, suhu : 36,7°C, nadi : 80x/menit, respirasi : 22x/menit. Assesmen : Masalah teratasi sebagian. Planning : Intervensi dihentikan.
Pada diagnosa gangguan pola istirahat tidur berhubungan dengan batuk produktif telah dilaksanakan evaluasi dengan hasil, subyektif : Klien mengatakan sudah bisa tidur lebih nyaman karena batuk mulai berkurang. Obyektif : keadaan umum masih lemah, Batuk terutama pada malam hari sudah mulai berkurang, suara nafas ronchi pada pulmo (D) berkurang, batuk masih disertai dahak, dan
hasil pemeriksaan tanda-tanda vital tekanan darah : 120/80 mmHg, suhu : 36,7°C, nadi : 80x/menit, respirasi : 22x/menit. Assesmen : Masalah teratasi sebagian.
Planning : Intervensi dihentikan.
Pada diagnosa ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakadekuatan intake nutrisi telah dilaksanakan evaluasi dengan hasil, subyektif : Klien mengatakan saat sakit BB Menurun (±5 Kg) tapi sudah ada peningkatan nafsu makan. Obyektif Keadaan umum lemah, batuk disertai dahak berkurang, penurunan BB sebelum sakit 57 Kg dan saat sakit 52 Kg, nafsu makan sudah ada peningkatan, porsi makan pada pagi dihabiskan.
Assesmen : masalah teratasi sebagian. Planning : Intervensi dihentikan.
Pada akhir evaluasi semua tujuan belum dapat dilakukan secara maksimal pada klien “Ny.R” sehingga hasilnya belum sesuai dengan harapan karena masalah belum teratasi dan intervensi sudah dihentikan dikarenakan waktu peneliti sehingga tidak bisa menjalankan perubahan intervensi kepada klien selanjutnya. Oleh karena itu peneliti hanya bisa berpesan pada klien dan keluarga klien harus melakukan mengobatan secara rutin dan sampai tuntas dengan pengawasan dibantu oleh keluarga dan untuk mengurangi gejala yang dialami klien dapat di sembuhkan dengan tindakan yang selama ini diajarkan oleh peneliti, di samping itu klien dan keluarga harus melanjutkan tindakan secara mendiri demi kesembuhan klien, karena peneliti harus kembali ke institusi sebelum masalah keperawatan pada klien tersebut teratasi.
78
Setelah penulis melakuan pengamatan dan melaksanakan asuhan keperawatan secara langsung pada klien dengan diagnosa TB Paru di Klinik PT.
ECCO Indonesia, maka penulis dapat menarik kesimpulan sekaligus saran yang dapat bermanfaat dalam meningkatkan mutu asuhan keerawatan pada klien dengan diagnosa medis TB Paru.
5.1 Kesimpulan
Dari hasil uraian yang telah menguraikan tentang asuhan keperawatan pada klien dengan diagnosa medis TB Paru, maka penulis dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut :
5.1.1 Pada saat pengkajian klien didapatkan klien mengatakan batuk
Batuk kurang lebih selama 1 bulan disertai dahak, klien juga mengalami nafsu makan menurun, badan klien terasa meriang pada sore dan malam hari, klien juga mengatakan pernah menjalani pengobatan OAT sampai tuntas.. Hasil pemeriksaan tanda-tanda vital saat pengkajian tekanan darah : 120/70 mmHg, Suhu 36,5°C (menggunakan Termometer infra red), Nadi 84x Menit (Lokasi penghitungan : Areteri Radialis), Respirasi : 22x/menit 5.1.2 Masalah keperawatan yang muncul yaitu ketidakefektifan bersihan jalan
nafas berhubungan dengan penumpukan secret, gangguan pola istirahat tidur berhubungan dengan batuk produktif, ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakadekuatan intake nutrisi.
5.1.3 Intervensi keperawatan sesuai dengan diagnosa keperawatan dari Nanda Nic-Noc.
Melaksanakan tindakan keperawatan pasien dengan TB Paru dengan masalah keperawatan ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan penumpukan secret. Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 hari, 1 hari dilakukan di Poli dan 2 hari dilakukan di rumah klien dengan tujuan bersihan jalan nafas kembali efektif dengan kriteria hasil : Klien mampu mengidentifikasi dan mencegah faktor yang dapat menghambat jalan nafas, Mendemontrasikan cara batuk efektif dengan benar, Suara nafas kembali normal, tidak ada sianosis (biru pada tangan dan kaki), dan Klien mampu mengeluarkan sputum, mampu bernafas dengan mudah dan tidak ada pursed.
Melaksanakan tindakan keperawatan pasien dengan TB Paru dengan masalah keperawatan gangguan pola istirahat tidur berhubungan dengan batuk produktif. Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 hari, 1 hari dilakukan di Poli dan 2 hari dilakukan di rumah klien diharapkan pola tidur terpenuhi dengan kriteria hasil : Mampu mengidentifikasi hal-hal yang dapat meningkatkan tidur, Jumlah jam tidur dalam batas normal 6-8 jam per-hari, Pola tidur, kwalitas tidur dalam batas normal, Perasaan segar sesudah tidur atau istirahat.
Melaksanakan tindakan keperawatan pasien dengan TB Paru dengan masalah keperawatan ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakadekuatan intake nutrisi. Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 hari, 1 hari dilakukan di Poli
dan 2 hari dilakukan di rumah klien, diharapkan nutrisi klien kembali normal dengan kriteria hasil : Mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi, Adanya peningkatan berat badan sesuai dengan tujuan, Berat badan ideal sesuai dengan tinggi badan (Body Index Mass = 17-23), Tidak ada tanda- tanda malnutrisi (Penurunan BB, perdarahan gusi, Jaringan lemak berkurang), Menunjukkan peningkatan fungsi pengecapan dari menelan, dan Tidak terjadi penurunan berat badan yang berarti.
5.1.4 Beberapa tindakan mandiri perawat pada klien dengan diagnosa medis TB Paru menganjurkan keluarga untuk tetap menjaga dan memperhatikan kondisi klien terutama pada gangguan bersihan jalan nafas. Untuk menyelesaikan masalah tersebut, penulis melibatkan keluarga dan klien secara aktif dalam melaksanakan asuhan keperawatan seperti melakukan nafas dalam, batuk efektif, dan fisioterapidada karena memerlukan kerjasama asuhan perawat, klien, dan keluarga.
5.1.5 Pada akhir evaluasi selama 3 hari pertemuan yang 1 hari dilakukan di poli dan 2 hari dilakukan di rumah klien. Dari hasil evaluasinya didapatkan semua tujuan belum tercapai karena penulis mempunyai keterbatasan waktu sehingga tidak bisa melanjutkan perubahan intervensi kepada klien.
Hasil evaluasi pada Ny.R belum sesuai dengan harapan karena masalah belum teratasi dan intervensi dilanjutkan oleh keluarga dank lien sendiri karena penulis kembali lagi ke institusi.
5.2 Saran
Bertolak dari kesimpulan diatas penulis memberikan saran sebagai berikut :
5.2.1 Untuk pencapaian hasil keperawatan yang diharapkan, diperlukan hubungan yang baik dan keterlibatan klien, keluarga, dan tim kesehatan lainnya.
5.2.2 Perawat sebagai petugas pelayanan kesehatan hendaknya mencapai pengetahuan, keterampilan yang cukup serta dapat bekerjasama dengan tim kesehatan lainnya dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan TB Paru
5.2.3 Dalam meningkatkan mutu asuhan keperawatan yang professional alangkah baiknya diadakan suatu pertemuan rutin tentang masalah kesehatan yang ada pada klien
5.2.4 Pendidikan dan pengetahuan perawat secara berkelanjutan perlu ditingkatkan baik secara formal dan informal
5.2.5 Penelitian ini sebagai tambahan pengetahuan serta referensi bagi perkembangan ilmu keperawatan berkaitan peningkatan perilaku pencegahan penularan Tuberculosis Paru