• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 5 PENUTUP

5.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA

Data RM PT ECCO Indonesia. (2019). Data Rekam Medis pasien Rawat Jalan PT ECCO Indonesia. Rekam Medik: Sidoarjo

Depkes RI. (2017). Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat: Jakarta.

Depkes RI. (2011). Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2012. Jakarta.

Dinkes Provinsi Jatim. (2018). Profil dinas kesehatan Provinsi Jawa Timur tahun 2018. Dikes Jatim: Surabaya.

Herdin, dkk. (2009). Aspek hematologi Tuberculosis. Unpad: Bandung.

Infodatin. (2018). Pusat data dan informasi kemenkes RI temukan TB obati sampai sembuh. Kemenkes: Jakarta Selatan.

James, Chin. (2009). Manual Pemberantasan penyakit menular edisi 17, Cetakan ke II. Info Medika: Jakarta.

Kemenkes RI. (2016). Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2015. Jakarta.

Mandal, BK. (2009). Penyakit infeksi edisi ke enam. Erlangga: Jakarta.

Nurarif A.H dan Kusuma H. (2015). Aplikasi Asuhan Keperawatan berdasarkan disgnosa medis dan Nanda Nic-Noc. Media Action: Jogyakarta.

Price, SA, Wilson,LM. (2015). Patofisiologi : Konsep klinis proses-proses penyakit. EGC: Jakarta.

Riskesdas. (2018). Riset Kesehatan Dasar RI 2018. Kemenkes: Jakarta Selatan.

Setiati S, Alwi I, Sudoyo AW, Stiyohadi B, Syam AF. (2015). Buku ajar ilmu penyakit dalam jilid I. VI. Interna Publishing: Jakarta.

Sianturi, R. (2013). Analisis faktor yang berhubungan dengan kekambuhan TB Paru. Semarang: Universitas Negeri Semarang.

Soedarto. (2009). Pengobatan penyakit parasit. Sagung Seto: Jakarta.

Tabrani. (2010). Ilmu Penyakit Paru. Trans Info Media: Jakarta.

Widoyono. (2011). Penyakit tropis Epidimiologi, penularan, pencegahan, dan pemberantasannya. Erlangga: Jakarta.

WHO. (2018). Global Tuberculosis Report 2017. WHO: Jenewa.

Lampiran 3

INFORMED CONSENT

Judul “Asuhan keperawatan pada Ny.R dengan diagnose medis Tuberculosis Paru di Poli Klinik PT. ECCO Indonesia

Tanggal penngambilan studi kasus 16-18 Oktober 2019

Sebelum tanda tangan dibawah, saya telah mendapatkan informasi tentang tugas pengambilan studi kasus ini dengan jelas dari mahasiswa yang bernama Niswatul Khoiroh Proses pengambilan studi kasus ini dan saya mengerti semua yang telah dijelaskan tersebut.

Saya setuju untuk berpartisipasi dalam proses pengambilan satudi kasus ini dan saya telah menerima salinan dari form ini.

Saya Nn/Ny/Tn………….

Dengan ini saya memeberikan kesediaan setelah mengerti semua yang telah dijelaskan oleh peneliti terkait dengan proses proses pengambilan studi kasus ini dengan baik. Semua data dan informasi dari saya sebagai partisipan hanyaakan digunakan untuk tujuan dari studi kasus ini.

Lampiran 4

Stardart Acuan Penyuluhan (SAP) Pencegahan Tuberkulosis Paru

Topik : Pencegahan tuberculosis paru Pemateri : Niswatul Khoiroh / NIM. 1701070

Sasaran : Klien yang melakukan pengobatan Tuberculosis Paru dan juga keluarganya

Waktu : 30 menit

Tempat : Ruang Poliklinik PT. ECCO Indonesia a. Latar Belakang

Tuberkulosis paru (TB Paru) adalah penyakit infeksius, yang terutama menyerang penyakit parenkim paru. Nama tuberkulosis berasal dari tuberkel yang berarti tonjolan kecil dan keras yang terbentuk waktu sistem kekebalan membangun tembok mengelilingi bakteri dalam paru. TB Paru ini bersifat menahun dan secara khas ditandai oleh pembentukan granuloma dan menimbulkan nekrosis jaringan. TB paru dapat menular melalui udara, waktu seseorang dengan TB aktif pada paru batuk, bersin atau bicara.

(Depkes, 2017).

b. Tujuan

1. Tujuan Umum

Setelah dilakukan kegiatan penyuluhan pada klien diharapkan meningkatkan pengetahuan klien tentang Tuberculosis Paru.

2. Tujuan Khusus

Setelah dilakukan penyuluhan diharapkan klien : a) Mau menggunakan masker sampai sembuh.

b) Mau membuang dahak pada pot dahak yang sudah diberi lisol.

c) Menerapkan etika batuk.

d) Mau melakukan pengobatan sampai sembuh.

c. Materi

1. Tuberculosis Paru dan pencegahannya d. Metode

1. Materi 2. Tanya jawab e. Sasaran

1. Penderita TB BTA Positif

2. Klien yang Berobat di PT. ECCO Indonesia f. Kegiatan penyuluhan

No Kegiatan Penyuluhan Waktu Kegiatan klien 1. Tahap Awal :

1. Membuka kegiatan penyuluhan dengan menyapa klien dan keluarga

2. Melakuakan perkenalan dengan klien.

3. Membuat kontrak waktu, misalnya dengan memberi penawaran pada klien

“Berapa lama kita akan melakukan penyuluhan?”

3 menit 3 menit 5 menit

Menjawab

Memperkenalkan diri

Menjawab

2. Tahap Inti / Tahap Kerja : 1. Memberikan penyuluhan

tentang Tuberculosis Paru

20 menit

dan cara pencegahannya 2. Memberikan kesempatan

klien bila membutuhkan informasi tentang Tuberculosis Paru

3. Pemateri bersama klien membuat kesimpulan mengenai hasil proses penyuluhan

4. Mengevaluasi jalannya proses dan hasil penyuluhan g. Evaluasi

Klien mengerti tentang Tuberculosis Paru dan pencegahannya.

h. Indikator Keberhasilan kegiatan

1. Klien Tuberculosis Paru tahu tentang tuberculosis Paru dan pencegahannya.

2. Klien Tuberculosis Paru mau melakukan tindakan pencagahan penularan Tuberculosis Paru.

Lampiran 5

Materi Tuberculosis Paru

1. Definisi

Tuberkulosis paru (TB Paru) adalah penyakit infeksius, yang terutama menyerang penyakit parenkim paru. Nama tuberkulosis berasal dari tuberkel yang berarti tonjolan kecil dan keras yang terbentuk waktu sistem kekebalan membangun tembok mengelilingi bakteri dalam paru. TB Paru ini bersifat menahun dan secara khas ditandai oleh pembentukan granuloma dan menimbulkan nekrosis jaringan. TB paru dapat menular melalui udara, waktu seseorang dengan TB aktif pada paru batuk, bersin atau bicara.

(Depkes, 2017).

2. Penyebab

Penyebab dari penyakit ini adalah bakteri Mycobacterium tuberculois.

Ukuran dari bakteri ini cukup kecil yaitu 0,5-4 mikron x 0,3-0,6 mikron dan bentuk dari bakteri ini yaitu batang, tipis, lurus atau agak bengkok, bergranul, tidak mempunyai selubung tetapi kuman ini mempunyai lapisan luar yang tebal yang terdiri dari lipoid (terutama asam mikolat). Sifat dari bakteri ini agak istimewa, karena bakteri ini dapat bertahan terhadap pencucian warna dengan asam dan alkohol sehingga sering disebut dengan bakteri tahan asam (BTA).

Selain itu bakteri ini juga tahan terhadap suasana kering dan dingin. Bakteri ini dapat bertahan pada kondisi rumah atau lingkungan yang lembab dan gelap bisa

sampai berbulan-bulan namun bakteri ini tidak tahan atau dapat mati apabila terkena sinar, matahari atau aliran udara.

(Widoyono,2011).

3. Klasifikasi

a. Klasifikasi berdasarkan organ tubuh yang terkena:

1) Tuberkulosis paru

Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan (parenkim) paru. tidak termasuk pleura (selaput paru) dan kelenjar pada hilus.

2) Tuberkulosis ekstra paru

Tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain paru, misalnya pleura, selaput otak, selaput jantung (pericardium), kelenjar limfa, tulang, persendian, kulit, usus, ginjal, saluran kencing, alat kelamin, dan lain-lain.

Diagnosis sebaiknya didasarkan atas kultur positif atau patologi anatomi.

Untuk kasus-kasus yang tidak dapat dilakukan pengambilan spesimen maka diperlukan bukti klinis yang kuat dan konsisten dengan TB ekstra paru aktif.

(Depkes RI, 2017).

b. Klasifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan dahak mikroskopis, yaitu pada TB Paru:

1) Tuberkulosis paru BTA positif

a) Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif.

b) 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto toraks dada menunjukkan gambaran tuberkulosis.

c) 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan biakan kuman TB positif.

d) 1 atau lebih spesimen dahak hasilnya positif setelah 3 spesimen dahak SPS pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif dan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT.

2) Tuberkulosis paru BTA negative

Kriteria diagnostik Tb paru BTA negatif harus meliputi:

a) Paling tidak 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negatif.

b) Foto toraks abnormal menunjukkan gambaran tuberkulosis.

c) Tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT.

d) Ditentukan (dipertimbangkan) oleh dokter untuk diberi pengobatan.

(Depkes RI, 2017).

c. Klasifikasi berdasarkan tipe pasien ditentukan berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya. Ada beberapa tipe pasien yaitu:

1) Kasus baru

Adalah pasien yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan (4 minggu).

2) Kasus kambuh (relaps)

Adalah pasien tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh tetapi kambuh lagi.

3) Kasus setelah putus berobat (default)

Adalah pasien yang telah berobat dan putus berobat 2 bulan atau lebih dengan BTA positif.

4) Kasus setelah gagal (failure)

Adalah pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan.

5) Kasus lain

Adalah semua kasus yang tidak memenuhi ketentuan diatas, dalam kelompok ini termasuk kasus kronik, yaitu pasien dengan hasil pemeriksaan masih BTA positif setelah selesai pengobatan ulangan.

(Depkes RI, 2017) 4. Cara Penularan

Penyakit TB paru ini dapat ditularkan oleh penderita dengan hasil pemeriksaan BTA positif. Penularan terjadi melalui udara yang mengandung basil TB dalam percikan ludah yang dikeluarkan oleh penderita TB paru atau TB laring pada waktu mereka batuk atau bersin.

(James Chin, 2009).

Pada waktu batuk dan bersin, pasien menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk percikan dahak (droplet nuclel). Sekali batuk dapat menghasilkan sekitar 3000 percikan dahak. Umumnya penularan terjadi dalam ruangan dimana percikan dahak berada dalam waktu yang lama. Ventilasi dapat mengurangi jumlah percikan, sementara sinar matahari langsung dapat membunuh kuman.

Percikan dapat bertahan selama beberapa jam dalam keadaan yang gelap dan lembab. Daya penularan seorang pasien ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat kepositifan hasil pemeriksaan dahak, makin menular pasien tersebut. Faktor yang memungkinkan seseorang terpajan kuman TB ditentukan oleh konsentrasi percikan dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut.

(Depkes RI, 2009)

Risiko Penularan Risiko seseorang untuk tertular TB paru tergantung dari tingkat pajanan percikan dahak. Pasien TB paru dengan BTA positif akan memberikan risiko penularan lebih besar dibandingkan pasien TB paru dengan BTA negatif (Widoyono, 2011).

Faktor daya tahan tubuh yang rendah, misalnya pada penyakit HIV/AIDS, akan mempengaruhi seseorang untuk tertular suatu penyakit. Penyakit HIV merupakanfaktor risikoyang paling kuatbagi yang terinfeksi TB paru menjadisakit TB paru.Infeksi HIV mengakibatkan kerusakan luas sistem daya tahan tubuh seluler (cellular immunity), sehingga jika terjadi infeksi penyerta (oportunistic), seperti tuberkulosis, maka yang bersangkutan akan menjadi sakit parah bahkan bisa mengakibatkan kematian.

(Depkes RI, 2011).

5. Pengobatan Tuberkulosis

Tujuan pengobatan tuberkulosis yang sesungguhnya dapat dipenuhi yaitu menyembuhkan penderita, mencegah kematian, mencegah kekambuhan, atau timbulnya resistensi terhadap OAT dan memutuskan rantai penularan (Depkes RI, 2009).

Lampiran 6

LEMBAR KONSULTASI KARYA TULIS ILMIAH

No Tanggal Pembimbing Uraian Tanda

Tangan

Oleh :

Niswatul Khoiroh

PROGRAM DIII KEPERAWATAN AKADEMI KEPERAWATAN

KERTA CENDEKIA SIDOARJO

2019

tuberculosis. Kuman ini dapat menyerang semua bagian tubuh dan yang paling sering terkena adalah organ paru (90%)

Bagaimana Tanda dan Gejala TBC?

Tanda

o Penurunan Berat badan (BB) o Anoreksia/tidak mau makan o Dispneu

o Sputum/dahak purulen/hijau, mukoid/kuning

Gejala

Gejala sistemik/umum

o Demam tidak terlalu tinggi yang

berlangsung lama, biasanya dirasakan malam hari disertai keringat malam.

Kadang-kadang serangan demam seperti influenza dan bersifat hilang timbul

o Penurunan nafsu makan dan berat badan

o Batuk-batuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah)

o Perasaan tidak enak (malaise), lemah Gejala Khusus

o Tergantung dari organ tubuh yang mana yang terkena, bila terjadi sumbatan sebagian bronkus (saluran

“mengi”, suara nafas melemah yang disertai sesak.

o Kalau ada cairan di rongga pleura (pembungkus paru-paru), dapat disertai dengan keluhan sakit dada.

o Bila mengenai tulang, maka akan terjadi gejala seperti infeksi tulang yang pada suatu saat dapat membentuk saluran dan bermuara pada kulit di atasnya, pada muara ini akan keluar cairan nanah

o Pada anak-anak dapat mengenai (lapisan pembungkus otak) dan disebut sebagai meningitis (radang selaput otak), gejalanya adalah demam tinggi, adanya penurunan kesadaran dan biasanya kejang-kejang.

Dampak TBC pada masyarakat?

✓ Mempengaruhi ekonomi keluarga/umum

✓ Putus sekolah

✓ Kasus gagal

✓ Pengobatan meningkat karena biaya pengobatan tinggi.

TBC.

Penyakit ini biasanya menular melalui udara yang tercemar dengan bakteri mycobacterium tuberculosis. Yang dilepaskan pada saat penderita TBC batuk. Pada anak-anak sumber infeksi dan pada umumnya berasal dari penderita TBC dewasa. Bakteri ini bila sering masuk dan terkumpul di dalam paru-paru akan berkembang biak menjadi banyak (terutama pada orang dengan daya tahan tubuh rendah), dan dapat menyebar melalui pembuluh darah atau kelenjar getah bening. Oleh sebab itu infeksi TBC dapat

menginfeksi hamper seluruh organ tubuh seperti paru-paru, otak, ginjal, saluran pencernaan, tulang, kelenjar getah bening, dan lain-lain. Meskipun demikian organ tubuh yang paling sering terkena adalah paru-paru.

anjuran dokter selama enam bulan

• Melibatkan anggota keluarga untuk mengawasi dan memastikan

penderita TBC, minum obat dengan teratur dan benar (DOTS)

Mengapa harus melakukan pemeriksaan rutin?

• Memantau kemajuan pengobatan

• Mengetahui ada tidaknya/efek samping obat

• Memeriksa kesehatan anda dan memberikan informasi

• Menetapkan jenis obat yang perlu diberikan

2. Istirahat cukup 3. Olahraga teratur 4. Hindari stress

5. Selalu menutup mulut bila batuk 6. Jangan meludah sembarangan 7. Menjaga lingkungan bersih dan

sehat

Dokumen terkait