More Can Be Done to Perfect the System?
B. Executive authority; Principles of Law Challenges
In the mind of criminology, that set of knowledge that sees crime is a social phenomenon that can be called as the foundation literature to see an object of law.
Therefore the crime in criminology interpreted into two parts; the first is judicial;
namely the crimes defined in the Act as a crime such as corruption, theft, money laundering, rape, and so on.
Both are pure criminology namely; any act which is contrary to the moral decency of society, such as witchcraft, and so on. In the formulation of the principle is that it tends to be refined knowledge of criminology that sees crime in social phenomenology may include the process of making the Act, violation of laws and social reaction to the violation of the Act. Of course it becomes a legal authority of a state institution and the organizers as well as the perpetrators, but also the authority of the government (ruler) as a credible provider apparatus state.
The authorities of state law as a legal institution in the form of the Corruption Eradication Commission (KPK) are indeed independent. That confidence really was born and grew up in the lives of the people that the Commission is the state agency that super-powered legal body and not look at anyone offenders will be subject to the legal provisions, the reference laws of our country.
Namun faktanya sejak KPK berdiri sampai kini rupanya masih banyak terjadi kejanggalan-kejanggalan yang hal itu sangat kentara di hadapan public di antaranya; pertama, ketika Century yang mengakibatkan kerugian Negara sebesar 6,7 triliun yang disinyalir melibatkan para pejabat eksekutif termasuk Direktur BI Budiono, bahkan terhendus melibatkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, justru berujung pada kriminalisasi hukum terhadap ketua KPK Antasai Ashar yang menjadi tersangka karena dakwaan melakukan rencana pembunuhan.65 Kedua,
64. Soerjono Soekanto (1981), Kriminologi: Suatu Pengantar, Cetakan Pertama, Jakarta: Ghalia Indonesia, hlm. 62.
65. Hampir lima tahun mencari tersangka kasus Bank Century yang diambil alih Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Puluhan orang sudah diperiksa Panitia Khusus DPR, termasuk mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani
ketika KPK mencoba lebih serius menangani kasus korupsi yang melibatkan Susno Duadji, justru internal KPK Bibit Samad Rianto, Chandra Hamzah malah diadu domba dengan pihak Polri yang terkenal dengan istilah Civak Vs Buaya.66 Dakwaan yang paling kentara adalah ketika Polri menunjukkan rekaman percakapan antara Ade Raharja dan Ary Muladi, sebagai salah satu dalih ditetapkannya dua pimpinan KPK, Chanda Hamzah dan Bibit Samad Rianto sebagai tersangka penyuapan yang sempat diakui keberadaannya oleh Jaksa Agung Hendarman Supandji dan Kapolri Bambang Hendarso Danuri, di hadapan anggota DPR, meskipun rekamaan itu tidak pernah diperlihatkan oleh Polri di hadapan publik dan hukum secara terbuka.
Ketiga, ketika KPK hendak serius menangani kasus korupsi simulator SIM yang melibatkan Jendral Djoko Susilo, justru penyidik KPK Kompol Novel Baswedan67 dipaksa jemput di KPK dengan dalih kasus yang belum tuntas waktu masih menjabat delapan tahun yang lalu sebagai anggota Polri Aktif di Bengkulu.
Keempat, penetapan Anas Urbaningrum (Mantan Ketua Umum Partai Demokrat)68 yang ditersangkakan korupsi Hambalang oleh KPK, rupanya sprindik KPK bocor ke publik, media, dan tanpa ada sidang penetapan sprindik terlebih dahulu di KPK.
Anehnya lagi, tiba-tiba penyitaan paspor Anas diminta di rumahnya secara langsung yang dilakukan oleh pihak Keimigrasian dan Kementrian Hukum dan HAM
dan Wakil Presiden Boediono. BPK juga melakukan dua kali audit investigasi, yakni pada 2009 dan 2011, atas pengucuran Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek (FPJP) dan Penyertaan Modal Sementara (PMS) kepada bank yang kini bernama Bank Mutiara itu. Audit BPK menemukan banyak kejanggalan. Inilah di antaranya. 1.
Perubahan aturan FPJP mencurigakan. Pada 14 November 2008, BI mengubah persyaratan rasio kecukupan modal (CAR) penerima FPJP dari minimal 8 persen menjadi CAR positif. BPK curiga ini merupakan rekayasa agar Century memperoleh FPJP senilai Rp 689,39 miliar. 2. Nilai jaminan FPJP melanggar ketentuan. Nilai jaminan FPJP Century hanya Rp 467,99 miliar atau 83 persen dari plafon FPJP. Padahal, seharusnya nilai jaminan minimal 150 persen.. 3. Menyembunyikan informasi. Surat Gubernur BI tanggal 20 November 2008 tidak memberikan informasi yang lengkap mengenai kondisi Century kepada Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Akibatnya, dana talangan membengkak dari Rp 632 miliar menjadi Rp 6,7 triliun. 4. Kriteria sistemik tidak jelas. Saat rapat 21 November 2008, BI dan KSSK tidak memiliki kriteria yang terukur dalam menetapkan dampak sistemik Century. BI juga menambahkan aspek pengukuran baru, yaitu psikologi pasar. 5. Rekayasa Penyertaan Modal Sementara. LPS mengubah peraturannya sehingga biaya penanganan bank gagal sistemik dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan likuiditas. Diduga hal ini dilakukan supaya Century mendapat tambahan PMS. 6. Aliran dana ke Budi Mulya. BPK menemukan aliran dana Rp 1 miliar dari pemilik Century, Robert Tantular, ke Deputi Gubernur BI Budi Mulya pada 12 Agustus 2008. BPK menyimpulkan bahwa aliran dana tersebut berpotensi menimbulkan konflik kepentingan.
(http://www.tempo.co/read/news/2012/11/19/063442586/Empat-Tahun-Mencari-Tersangka-Kasus-Century, diakses pada Selasa 5 Maret 2013 pukul 14.05 WIB.
66. Bibit S. Rianto dan Chandra M. Hamzah meringkuk dalam tahanan setelah dijebloskan penyidik Badan Reserse Kriminal Kepolisian RI dengan dasar alasan yang sulit untuk dipertanggungjawabkan secara hukum maupun akal sehat. Setidaknya bagi sebagian masyarakat, aktivis, maupun ahli hukum.
67. Saat itu, Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengatakan upaya penangkapan paksa yang dilakukan Polri terhadap anggotanya Kompol Novel Baswedan sebagai bentuk kriminalisasi terhadap lembaga antikorupsi tersebut. Tapi Presiden SBY mengatakan Namun pernyataan tersebut tidak disetujui Presiden Susilo Bambang yudhoyono (SBY). Dalam pidatonya di Istana Negara, Senin (8/10) malam, Presiden SBY mengatakan merujuk pada UUD 1945, semua warga negara sama kedudukannya dihadapan hukum. Sehingga, lanjut presiden, jika warga negara Indonesia (WNI) terbukti melakukan tindakan kejahatan harus diproses secara hukum. Terlepas dia itu presiden, anggota Polri, DPR, TNI, KPK, dan wartawan. Dikutip dari Republika Cetak (8/10/2012), diakses pada Selasa 5 Maret 2013 pukul 14.10 WIB.
68. KPK menjerat Anas dengan Pasal 12 huruf a atau huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Penetapan Anas sebagai tersangka ini diresmikan melalui surat perintah penyidikan (sprindik) tertanggal 22 Februari 2013 yang ditandatangani oleh Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto
RI.69 Apakah bocornya sprindik itu bisa disebut melanggar hukum secara etik atau bagaimana sebenarnya perjalanan hukum di internal KPK? Ada apa dengan KPK, kini?
Beberapa kasus di atas adalah sebuah kewenangan KPK yang “absurd”
dalam menindak suatu hukum yang tepat sebab masih ada indikasi-indikasi kejanggalan prosedur menuju tindak pidana terhadap seseorang dalam proses penyidikan dan menghasilkan sprindik yang tidak lazim. Mengutip apa yang katakan Prajudi Atmosudirjo, ia membedakan antara wewenang (competence, bevoegdheid) atau kewenangan (authority, gezag). Yang dimaksud “kewenangan” adalah apa yang disebut “kekuasaan formal”, kekuasaan yang berasal dari kekuasaan legislatif (diberikan oleh undang-undang) atau dari kekuasaan eksekutif atau administratif.
Selanjutnya dikatakan, kewenangan yang biasanya terdiri atas beberapa wewenang adalah kekuasaan terhadap sesuatu bidang pemerintahan atau bidang urusan tertentu yang bulat. Sedangkan wewenang hanya mengenai sesuatu hal tertentu saja.70
Authority contained in the authority-authority (rechtsbevoegdheden), stated that the authority is the power to do something public legal action, for example, the authority to sign or issue letters of an official permit on behalf of the Minister or the President. But this kind of authority is often diverted to organize a large policy between the central and local governments so that there is a correlation between the local and national laws.
Terlepas dari itu apakah kewenangan tersebut bisa menjamah pada persoalan hukum seseorang yang terfragmentasi antar beberapa kepentingan yang melibatkan pihak lembaga hukum negara seperti KPK dan Presiden untuk menjustice seseorang? Sebab dalam ketentuan KUHP pada pasal 1 ayat (1), bertujuan untuk mencegah kesewenang-wenangan penguasa yang dapat merugikan masyarakat termasuk beberapa kasus yang ditangani KPK terlebih contoh-contoh kasus di atas.71 The criminalization of the law can be done by way of engineering like what was said above that could allow any intervention occurs when a political element involved. It is kepayah law firm when required to actually "soft"
due to a power.
Meanwhile, if we follow criminologists in perspective that we need to look for aspects that are considered urgent in view the legal criminalization on display in public spaces lately. In the understanding of penology, the description is penology signaled that an understanding of the history of knowledge about the birth of
69. Anggota Komisi III DPR RI, Eva Kusuma Sundari menilai pihak Direktorat Jenderal Keimigrasian Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkum-HAM) yang mencabut paspor Anas sama saja telah melakukan kriminalisasi terhadap bekas Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum. "Itu kriminalisasi, paspor hak semua warga negara, ini problem ke pendudukan, kalau di cekal tidak boleh diambil, cekal itu tidak permanen, (Dikutip dari berita; Jakarta, Seruu.com , diakses pada tanggal 5 Maret 2013 pukul 21.30 WIB)
70. Prayudi Atmosudirdjo (1981), Hukum Administrasi Negara, Ghalia Indonesia, Jakarta, hlm. 76.
71. P A F Lamintang dan Djisman Samosir (1995), Delik-Delik Khusus Kejahatan yang Ditujukan Terhadap Hak Milik dan Lain-Lain Hak yang Timbul dari Hak Milik, Tarsito, Bandung, hlm 123.
punishment, its development as well as the meaning and usefulness are indicated on donations to political criminals (politicization of law) and the criminal justice system. Such as reasoning could be a figure of political efforts in the face of political opponents tends to use strategies to create a law criminalizing punishment, punishment and sentencing, execution of imprisonment in the penitentiary.
Kriminalisasi hukum adalah kompleksitas yang selalu melihat adanya perubahan-perubahan sosial masyarakat. Di situlah hukum melihat adanya keadilan sosial karena bentuk keadilan itu adalah bentuk bagi ketenteraman masyarakatnya.
Perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat meliputi perubahan besar dalam susunan masyarakat yang mempengaruhi sendi-sendi kehidupan bersama dan perubahan nilai-nilai budaya yang memengaruhi alam pikiran, mentalitas serta jiwa manusia.72
Bahwa perubahan sosial tidak hanya berarti perubahan struktur dan fungsi masyarakat, tetapi di dalamnya terkandung juga perubahan nilai, sikap dan pola tingkah laku masyarakat. Maka perspektif sosiologisnya, perubahan nilai pada dasarnya adalah perubahan pedoman kelakuan dalam kehidupan masyarakat.
Jenis perubahan nilai dapat dibedakan dalam dua hal, yaitu: (1) perubahan nilai- nilai budaya primordial yang ditentukan oleh kelompok kekerabatan, komunikasi desa, ke suatu sistem budaya nasional, dan (2) perubahan sistem nilai tradisional kepada sistem nilai budaya modern.73
The existences of social change that then also have to look at the criminalization of principle. That is a legal principle or principles or foundation basics of making a rule, policies and decisions regarding the activities of human life.
Therefore ethical norms, conceptions of the state philosophy, and political doctrine is the guiding thoughts, choices on policy, legal principles, a view of man and society, as well as the framework of the life expectancy of the general public.
Legal terminology involving sociological value, changes and how strong indication of crime a person must be examined by law. Is it legal to ensnare offender law criminalizing the brave, upright, and right when indications of corruption linkages Hambalang Cikeas concerning one family, for example, as the state executive? The criminalization of the law is the law of contraction guts grounded by a group of interests to give birth defect law in the eyes of the Constitution 45.
If the law increasingly criminalization of whack and very acute to involve the interests of the rulers, the question whether the criteria of "criminalization"
appropriate legal perspective. What are the criteria used by the forming of Law in criminalizing an act as a crime punishable by criminal sanctions specified already be called a knife sharpness legal analysis, verification and sanctions? Then, if the criteria used formers Act to establish criminal threats against a crime that is higher
72. Koentjaraningrat, “Pergeseran Nilai-Nilai Budaya dalam Masa Transisi” dalam BPHN, Kesadaran Hukum Masyarakat dalam Masa Transisi, Jakarta: Binacipta, tanpa tahun, hlm. 25
73. Ibid.
than the penalty of the crime of another. Such a comparison process between the criminal acts of corruption cases Builout Century stalled Hambalang eight years ago and now?
Objek yang akan dikriminalisasi, apakah suatu perilaku selayaknya dapat diserahkan kepada private ethics atau kah ia telah menjadi bagian dari ranah (domain) publik?74 Sehingga perbuatan melawan hukum tidak hanya ditentukan atau digambarkan melalui opini media masa melainkan dasar Undang-undang yang tidak ada ikatan dengan penguasa. Seharusnya perilaku-perilaku yang masuk wilayah privat tidak perlu dikriminalisasi, sedangkan perilaku yang masuk wilayah privat dapat dikriminalisasi jika sangat merugikan kepentingan masyarakat.75
Menurut Bassiouni, keputusan untuk melakukan kriminalisasi dan dekriminalisasi harus didasarkan pada faktor-faktor kebijakan tertentu yang mempertimbangkan bermacam-macam faktor; keseimbangan sarana yang digunakan dalam hubungannya dengan hasil-hasil yang ingin dicapai, kedua, analisis biaya terhadap hasil-hasil yang diperoleh dalam hubungannya dengan tujuan-tujuan yang ingin dicari, ketiga, penilaian atau penaksiran tujuan-tujuan yang dicari itu dalam kaitannya dengan prioritas-prioritas lainnya dalam pengalokasian sumber-sumber tenaga manusia, dan keempat, pengaruh sosial kriminalisasi dan dekriminalisasi yang berkenaan dengan atau dipandang dari pengaruh- pengaruhnya yang sekunder.76
In the social context of cybernetic really what Talcott Person mentioned that the relationship of law and politics is a sub-system of reciprocity and synergism and mutually dependent relationship. Legal and political mutual to be the most dominant or dominant or primary superior in its configuration. Law in social and political life of the system should be a law that determines the sub-system. Then one of the dominant system will be followed by other systems, as well as when the rule of law then the other aspects follow.
What is power in a country when the political system can be formed from a dominance of power that could lead to the existence of laws criminalizing? If the law was terpantik be a "criminalization" of someone hiingga entry into the recesses of his private because someone called the ruling political opponents, for example (in the case of internal conflicts mirror the Democrat Party), whether the law can be said to the law that leads to justice?
74. Salman Luthan (2009), Op. Cit., hlm. 10-11
75 Ibid.
76. M. Cherif Bassiouni (1978), “Substantive Criminal Law”, dikutip dari Barda Nawawi Arief (1996), Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana, Bandung: Citra Aditya Bhakti. hlm. 82