• Tidak ada hasil yang ditemukan

F. Hubungan Antara Dua Garis

Dalam dokumen BAB III. TITIK, GARIS DAN BIDANG (Halaman 69-77)

BAB III. TITIK, GARIS DAN BIDANG

3. F. Hubungan Antara Dua Garis

Pembahasan mengenai hubungan antara dua garis lurus, dapat dikatakan sebagai tinjauan terhadap kedudukan satu garis lurus terhadap garis lurus yang lain. Jika dua garis lurus dihubungkan maka akan ada 4 kemungkinan yang dapat dihasilkan yaitu :

1. Dua garis saling sejajar 2. Dua garis saling berimpit 3. Dua garis saling berpotongan 4. Dua garis saling Tegak Lurus

55 Empat kondisi di atas dipengaruhi oleh tingkat kemiringan ๐‘š oleh dua garis, konstanta ๐‘ yang memotong sumbu ๐‘ฆ oleh dua garis. Untuk lebih jelasnya kita akan meninjau kedudukan dua garis yang memiliki direpresentasikan dalam dua persamaan yang berbeda misal ๐ฟ1 dan ๐ฟ2 dengan persamaan sebagai berikut :

๐ฟ1โ‰ก ๐‘Ž1๐‘ฅ + ๐‘1๐‘ฆ + ๐‘1= 0 ( III.35) ๐ฟ2โ‰ก ๐‘Ž2๐‘ฅ + ๐‘2๐‘ฆ + ๐‘2 = 0 ( III.36)

๏ถ Tinjauan Aljabar dua garis lurus saling sejajar

Dua garis saling sejajar, dapat dijelaskan secara gamblang bahwa apabila dua garis ditarik hingga panjang yang tak berhingga pada kedua ujungnya, tidak akan saling berpotongan. Konsep kesejajaran dua garis dapat terpenuhi apabila memiliki kemiringan yang sama dan mempunyai titik potong terhadap sumbu-y yang berbeda.

Melalui konsep kesejajaran, maka dari persamaan ( III.35) dan ( III.36) dikatakan saling sejajar jika kemiringan ๐ฟ1 misal ๐‘š1sama dengan kemiringan ๐ฟ2misal ๐‘š2. Tinjau :

๐ฟ1โ‰ก ๐‘Ž1๐‘ฅ + ๐‘1๐‘ฆ + ๐‘1= 0 โ†’ ๐‘ฆ =โˆ’๐‘Ž1 ๐‘1 ๐‘ฅ โˆ’๐‘1

๐‘1 ( III.37)

๐ฟ2โ‰ก ๐‘Ž2๐‘ฅ + ๐‘2๐‘ฆ + ๐‘2= 0 โ†’ ๐‘ฆ =โˆ’๐‘Ž2 ๐‘2 ๐‘ฅ โˆ’๐‘2

๐‘2 ( III.38)

Sehingga diperoleh kemiringan masing-masing garis adalah ๐‘š1 =โˆ’๐‘Ž1

๐‘1 dan ๐‘š2=โˆ’๐‘Ž2

๐‘2. Sebagaimana yang dijelaskan sebelumnya bahwa untuk sejajar maka keduanya memiliki gradien yang sama ๐‘š1= ๐‘š2, sehingga diperoleh hubungan antar koefisien dari kedua persamaan garis adalah

โˆ’๐‘Ž1 ๐‘1 =โˆ’๐‘Ž2

๐‘2 โ†’โˆ’๐‘Ž1

โˆ’๐‘Ž2=๐‘1 ๐‘2โ†’๐‘Ž1

๐‘Ž2=๐‘1

๐‘2 ( III.39)

Syarat kedua jika nilai konstanta ๐‘ sebagai titik potong terhadap sumbu y berbeda, dalam hal ini dapat dituliskan hubungan antar koefisien dan konstanta dari kedua persamaan diperoleh :

๐‘˜1= โˆ’๐‘1

๐‘1โ‰  ๐‘˜2= โˆ’๐‘2 ๐‘2โŸน๐‘1

๐‘1โ‰ ๐‘2 ๐‘2โŸน๐‘1

๐‘2โ‰ ๐‘1 ๐‘2โŸน๐‘Ž1

๐‘Ž2=๐‘1 ๐‘2โ‰ ๐‘1

๐‘2 ( III.40)

Selanjutnya tinjauan besar sudut dari kedua garis sejajar dapat dilakukan dengan kembali melihat hubungan antara Gradien, koefisien dan konstanta dari masing-masing persamaan.

56

Pandang hubungan antar koefisien dua garis sejajar adalah ๐‘Ž1

๐‘Ž2=๐‘1 ๐‘2

โŸนโˆ’๐‘Ž1 ๐‘1 =โˆ’๐‘Ž2

๐‘2

โŸน ๐‘š1= ๐‘š2

Berdasarkan pembahasan pada sub bab sebelumnya tentang sudut yang dihasilkan dari dua garis yang berpotongan dapat dinyatakan sebagai hubungan antar gradien garis.

Dengan ini kita dapat menunjukkan besar sudut jika saling sejajar menggunakan persamaan ( III.34).

tan(๐œƒ) = ๐‘š1โˆ’ ๐‘š2 1 + ๐‘š1๐‘š2 Karena ๐‘š1= ๐‘š2 maka

tan(๐œƒ) =0 1= 0

arctan(๐œƒ) = 0 โŸน ๐œƒ = 0

Sehingga dapat dikatakan bahwa sudut yang terbentuk dari dua garis sejajar adalah ๐œƒ = 0. Berikut ilustrasi hubungan dua garis sejajar melalui gambar :

Gambar 3. 12. Ilustrasi dua garis saling berimpit

๏ถ Tinjauan Aljabar garis saling berimpit

Dua garis yang saling berimpit dapat dimaknai bahwa titik-titik yang melewati kedua garis tersebut juga berimpit. Secara visual, dua garis berimpit membentuk satu kesatuan

57 garis dengan tingkat kemiringan yang sama. Jika kedudukan garis-garis tersebut berada pada sistem koordinat kartesius, maka dapat dikatakan konstanta c dari kedua garis tersebut mengakibatkan memotong sumbu-y pada titik yang sama.

Dengan mengambil dua contoh persamaa garis yang digunakan sebelumnya yaitu persamaan ( III.35) dan ( III.36). ๐ฟ1dan ๐ฟ2 diakatakan saling berimpit jika rasio (๐œ‡) antar koefisien dari kedua persamaan tersebut sama atau dapat dituliskan dengan ๐œ‡ =๐‘Ž1

๐‘Ž2=

๐‘1 ๐‘2 =๐‘1

๐‘2. Dengan rasio tersebut diperoleh :

๐‘Ž1= ๐œ‡๐‘Ž2; ๐‘1= ๐œ‡๐‘2; ๐‘1= ๐œ‡๐‘2 ( III.41)

Untuk menunjukkan kebenaran bahwa : ๐ฟ1โ‰ก ๐‘Ž1๐‘ฅ + ๐‘1๐‘ฆ + ๐‘1= 0 dan ๐ฟ2โ‰ก ๐‘Ž2๐‘ฅ + ๐‘2๐‘ฆ + ๐‘2= 0, ๐ฟ1dan ๐ฟ2 diakatakan saling berimpit maka harus ditunjukkan rasio (๐œ‡) antar koefisien dari kedua persamaan tersebut sama atau dapat dituliskan dengan :

๐œ‡ =๐‘Ž1 ๐‘Ž2=๐‘1

๐‘2=๐‘1

๐‘2 ( III.42)

Dengan konsep ini, dapat dikatakan bahwa ๐ฟ1merupakan kombinasi linear dari ๐ฟ2.dapat dilihat pada pembuktian berikut. Misalkan diambil titik sembaran (๐‘ฅ0, ๐‘ฆ0) yang melewati garis ๐ฟ1โ‰ก ๐‘Ž1๐‘ฅ + ๐‘1๐‘ฆ + ๐‘1= 0. Sehingga dapat dituliskan

๐ฟ1โ‰ก ๐œ‡๐‘Ž2๐‘ฅ0+ ๐œ‡๐‘2๐‘ฆ0+ ๐œ‡๐‘2= 0 ( III.43)

โŸน ๐ฟ1โ‰ก ๐œ‡(๐‘Ž2๐‘ฅ0+ ๐‘2๐‘ฆ0+ ๐‘2) = 0 ( III.44)

โŸน ๐ฟ1โ‰ก (๐‘Ž2๐‘ฅ0+ ๐‘2๐‘ฆ0+ ๐‘2) = 0 โ‰ก ๐ฟ2 ( III.45) Melalui hasil ini dapat dikatakan bahwa (๐‘ฅ0, ๐‘ฆ0) juga melewati garis ๐ฟ2. Dengan dalil tersebut maka titik berapapun yang diambil dan memenuhi persamaan ๐ฟ1maka mestilah juga memenuhi persamaan ๐ฟ2. Dengan adanya perbedaan jenis garis antara segmen garis dan garis rays maka dapat dikatakan bahwa jika segmen garis dan garis raysnya saling berimpit maka segmen garis merupakan himpunan bagian dari garis raysnya, berikut ilustrasinya :

58

Gambar 3. 13. Garis pertama dengan persamaan ๐ฟ1โ‰ก โˆ’2๐‘ฅ + 3๐‘ฆ โˆ’ 8 = 0

Gambar 3. 14. Garis kedua dengan persamaan

๐ฟ1โ‰ก โˆ’8๐‘ฅ + 12๐‘ฆ โˆ’ 32 = 0

Gambar 3. 15. Garis Pertama dan kedua yang saling berimpit

๏ถ Tinjauan garis saling tegak Lurus

Hubungan antara dua garis yang saling tegak lurus secara standar dapat dilihat menyerupai perpotongan antara ๐‘ ๐‘ข๐‘š๐‘๐‘ข โˆ’ ๐‘ฅ dan ๐‘ ๐‘ข๐‘š๐‘๐‘ข โˆ’ ๐‘ฆ. Hasil perpotongannya dikenal dengan titik pusat dan membentuk sudut siku-siku terhadap 4 kedudukan kuadran.

Oleh karena itu, dapat dimaknai bahwa dua garis dikatakan saling tegak lurus jika kedua garis tersebut membentuk tepat satu titik potong dan dari titik potong tersebut terbentuk 4 bagian titik sudut dengan besar yang sama yakni sudut 90ยฐ atau yang dikenal dengan sudut siku-siku.

Jika kedudukan garis-garis tersebut berada pada sistem koordinat kartesius, misal dengan mengambil dua contoh persamaan ( III.35) dan ( III.36) sebelumnya yaitu

๐ฟ1โ‰ก ๐‘Ž1๐‘ฅ + ๐‘1๐‘ฆ + ๐‘1= 0; ๐ฟ2โ‰ก ๐‘Ž2๐‘ฅ + ๐‘2๐‘ฆ + ๐‘2= 0,

59 ๐ฟ1dan ๐ฟ2 dikatakan saling tegak lurus jika Rasio dari konstanta-konstanta yang bersesuaian dapat dinyatakan dengan :๐‘Ž1

๐‘Ž2= โˆ’๐‘1

๐‘2

Hubungan antar gradiennya dapat dituliskan dengan ๐‘š1= โˆ’ 1

๐‘š2; ( III.46)

๐‘š2= โˆ’ 1

๐‘š1; ( III.47)

๐‘š1๐‘š2= โˆ’1 ( III.48)

Sehingga diperoleh kemiringan masing-masing garis adalah ๐‘š1 =โˆ’๐‘Ž1

๐‘1 dan ๐‘š2=โˆ’๐‘Ž2

๐‘2. Kedua garis tersebut dapat dikatakan saling tegak lurus jika hubungan gradiennya dapat dinyatakan dengan ๐‘š2= โˆ’ 1

๐‘š1, dari hubungan ini diperoleh : ๐‘š2= โˆ’ 1

๐‘š1= โˆ’ 1

โˆ’๐‘Ž1 ๐‘1

=๐‘1

๐‘Ž1 ( III.49)

di satu sisi diketahui bahwa ๐‘š2=โˆ’๐‘Ž2

๐‘2, sehingga diperoleh ๐‘1

๐‘Ž1=โˆ’๐‘Ž2

๐‘2 ( III.50)

๐‘1๐‘2= โˆ’๐‘Ž1๐‘Ž2

( III.51) ๐‘Ž1๐‘Ž2+ ๐‘1๐‘2= 0

( III.52) Dari penjabaran hubungan antar gradien dari kedua persamaan garis diperoleh syarat berdasarkan hubungan antar koefisien pada masing-masing persamaan. Dalam hal ini, dua persamaan garis dikatakan saling tegak lurus jika hubungan antar koefisiennya memenuhi ๐‘Ž1๐‘Ž2+ ๐‘1๐‘2= 0. Sehingga secara teknis apabila dua garis akan dibuktikan bahwa saling tegak lurus maka cukup dengan membuktkan bahwa hubungan antar koefisiennnya memenuhi ๐‘Ž1๐‘Ž2+ ๐‘1๐‘2= 0.

60

Pembuktian ini dapat dilakukan dengan :

Misalkan ๐œƒ merupakan sudut yang terbentuk dari titik potong dua garis dengan kemiringan ๐‘š1 dan ๐‘š2. Berdasarkan sub pembahasan mengenai sudut yang dibentuk oleh dua garis yang mempunyai kemiringan ๐‘š1 dan ๐‘š2 diberikan pada persamaan persamaan ( III.34).

tan(๐œƒ) = ยฑ ๐‘š1โˆ’ ๐‘š2 1 + ๐‘š1๐‘š2 Dengan ketentuan sebagai berikut :

๐‘ ๐‘ข๐‘‘๐‘ข๐‘ก(๐œƒ) = {

0 < ๐œƒ <๐œ‹

2(๐‘™๐‘Ž๐‘›๐‘๐‘–๐‘); ๐‘—๐‘–๐‘˜๐‘Ž ๐‘š1โˆ’ ๐‘š2

1 + ๐‘š1๐‘š2> 0 ๐œƒ =๐œ‹

2(๐‘ ๐‘–๐‘˜๐‘ข โˆ’ ๐‘ ๐‘–๐‘˜๐‘ข); ๐‘—๐‘–๐‘˜๐‘Ž๐‘š1โˆ’ ๐‘š2 1 + ๐‘š1๐‘š2= 0 ๐œ‹

2< ๐œƒ < ๐œ‹(๐‘ก๐‘ข๐‘š๐‘๐‘ข๐‘™); ๐‘—๐‘–๐‘˜๐‘Ž๐‘š1โˆ’ ๐‘š2 1 + ๐‘š1๐‘š2< 0

Dengan mengetahui bahwa dua garis saling tegak lurus jika membentuk sudut siku-siku dalam hal ini ๐œƒ =๐œ‹

2, di satu sisi nilai dari tan (๐œ‹

2) =โˆž.

Sehingga hubungan antar gradien ini dapat dituliskan menjadi : ๐‘š1โˆ’ ๐‘š2

1 + ๐‘š1๐‘š2= โˆž ( III.53)

Dari persamaan ini maka mestilah nilai penyebut 1 + ๐‘š1๐‘š2 harus bernilai 0. Sehingga hubungan antar gradien dapat ditulis menjadi :

1 + ๐‘š1๐‘š2= 0 ( III.54)

๐‘š1๐‘š2= โˆ’1 ( III.55)

๐‘š1=โˆ’1

๐‘š2 ( III.56)

Sedangkan hubungan antar koefisien kembali diperoleh menjadi : ๐‘1

๐‘Ž1=โˆ’๐‘Ž2

๐‘2 ( III.57)

โŸน ๐‘1๐‘2= โˆ’๐‘Ž1๐‘Ž2 ( III.58)

โŸน ๐‘Ž1๐‘Ž2+ ๐‘1๐‘2= 0 ( III.59)

61 Setelah dibuktikan bahwa hubungan antar koefisiennnya memenuhi ๐‘Ž1๐‘Ž2+ ๐‘1๐‘2= 0.

Sehingga secara teknis apabila dua garis dapat dikatakan saling tegak lurus.

Pandang, hubungan antar konstanta dari persamaan garis yang saling tegak lurus : ๐ฟ1โ‰ก ๐‘Ž1๐‘ฅ + ๐‘1๐‘ฆ + ๐‘1= 0 โ†’ ๐‘ฆ =โˆ’๐‘Ž1

๐‘1 ๐‘ฅ โˆ’๐‘1

๐‘1 ( III.60)

๐ฟ2โ‰ก ๐‘Ž2๐‘ฅ + ๐‘2๐‘ฆ + ๐‘2= 0 โ†’ ๐‘ฆ =โˆ’๐‘Ž2

๐‘2 ๐‘ฅ โˆ’๐‘2

๐‘2 ( III.61)

berikut contoh persamaan dari dua garis yang saling tegak lurus : ๐ฟ1โ‰ก โˆ’2๐‘ฅ + 3๐‘ฆ โˆ’ 8 = 0 โ†’ ๐‘ฆ =2

3๐‘ฅ +8

3 ( III.62)

๐ฟ2โ‰ก ๐‘Ž2๐‘ฅ + ๐‘2๐‘ฆ + ๐‘2= 0 โ†’ ๐‘ฆ =โˆ’3 2 ๐‘ฅ +40

8 ( III.63)

Dari persamaan ( III.62) dan ( III.63) dua garis yang saling tegak lurus dapat diilustrasikan melalui gambar berikut:

Gambar 3. 16. Gambar garis tegak lurus dan persamaannya

62

Dalam dokumen BAB III. TITIK, GARIS DAN BIDANG (Halaman 69-77)

Dokumen terkait