BAB II TINJAUAN PUSTAKA
G. Faktor – faktor Kualitas Pelayanan
Menurut Chandra & Tjiptono (2011 : 164), Konsep kualitas dianggap sebagai ukuran kesempurnaan sebuah produk atau jasa yang terdiri dari kualitas desain dan kualitas kesesuaian (conformance quality). Kualitas merupakan fungsi secara spesifik dari sebuah produk atau jasa, kualitas kesesuaian adalah ukuran seberapa besar tingkat kesesuaian antara sebuah produk atau jasa dengan persyaratan atau spesifikasi kualitas yang ditetapkan sebelumnya.
Maka dari itu yang dimaksud kualitas adalah apabila faktor dapat memenuhi harapan konsumen seperti pernyataan tentang kualitas oleh Goetsh dan Davis dalam Tjiptono & Chandra (2011 : 164), “Kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, sumber daya manusia, proses, dan lingkungan memenuhi atau melebihi harapan”.
Menurut beberapa definisi di atas dalam kata lain, kualitas adalah sebuah bentuk pengukuran terhadap suatu nilai layanan yang telah diterima oleh konsumen dan kondisi yang dinamis suatu atau jasa dalam memenuhi harapan konsumen.
Menurut Vargo & Lusch dalam Tjiptono (2011 : 3), “Service is aninteractive process of doing something for someone”. Diartikan
layanan/jasa merupakan proses interaksi dalam melakukan sesuatu kepada seseorang.
Layanan/ jasa dikatakan intangible sama halnya dengan pendapat menurutKotler dalam Tjiptono & Chandra (2011 : 17), “Setiap tindakan atau perbuatanyang dapat ditawarkan oleh suatu pihak kepada pihak lain yang pada dasarnya bersifat intangible (tidak berwujud fisik) dan tidak menghasilkan kepemilikian sesuatu”. Sama halnya yang diungkapkan oleh Gronroos dalam Tjiptono & Chandra (2011 : 17), “Jasa adalah proses yang terdiri atas serangkaian aktivitas intangible yang biasanya (namun tidak harus selalu) terjadi pada interaksi antara pelanggan dan karyawan jasa dan/atau sumber daya fisik atau barang dan/atau sistem penyedia jasa, yang disediakan sebagai solusi atas masalah pelanggan”. Menurut Tjiptono (: 3), “Sebagai layanan, istilah service menyiratkan segala sesuatu yang dilakukan pihak tertentu kepada pihak lain”.
Dari beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa layanan/
jasa adalah sebuah aktifitas atau tindakan interaksi antara pihak pemberi dan pihak penerima layanan/ jasa yang ditawarkan oleh pihak pemberi secara tidak berwujud sehingga tidak dapat dirasakan oleh fisik.
Menurut Lewis & Booms dalam Tjiptono & Chandra (2011 : 180), kualitas layanan sebagai ukuran seberapa bagus tingkat layanan yang diberikan mampu terwujud sesuai harapan pelanggan. Sama seperti yang telah diungkapkan oleh Tjiptono (2011 : 157), kualitas layanan itu sendiri ditentukan oleh kemampuan perusahaan dalam memenuhi kebutuhan dan keinginan pelanggan sesuai dengan ekspektasi pelanggan.
Menurut Parasuraman dalam Tjiptono (2011 : 157), terdapat faktor yang mempengaruhi kualitas sebuah layanan adalah expected service (layanan yang diharapkan) dan perceived service (layanan yang diterima).
Jika layanan yang diterima sesuai bahkan dapat memenuhi apa yang diharapkan maka jasa dikatakan baik atau positif. Jika perceived service melebihi expected service, maka kualitas pelayanan dipersepsikan sebagai kualitas ideal. Sebaliknya apabila perceived service lebih jelek dibandingkan expected service, maka kualitas pelayanan dipersepsikan negatif atau buruk. Oleh sebab itu, baik tidaknya kualitas pelayanan terhantung pada kemampuan perusahaan dan stafnya memenuhi harapan pelanggan secara konsisten.
Dari beberapa pendapat, dapat di ambil garis besar bahwa kualitas pelayanan adalah kemampuan suatu perusahaan dalam memenuhi harapan konsumen dengan memberikan pelayanan kepada konsumen pada saat berlangsung dan sesudah transaksi berlangsung.
2. Dimensi Kualitas Pelayanan
Menurut Parasuraman, Zeithaml, dan Berry dalam Tjiptono (2015:174-175) terdapat lima dimensi kualitas jasa yang dijadikan pedoman oleh pelanggan dalam menilai kualitas jasa, yaitu:
a. Berwujud (Tangible)
Penampilan fasilitas fisik, peralatan, dan personil.
b. Empati (Emphaty)
Syarat untuk peduli, memberi perhatian pribadi bagi pelanggan.
c. Keandalan (Reliability)
Kemampuan untuk melaksanakan jasa yang dijanjikan dengan tepat dan terpercaya.
d. Keresponsifan (Responsiveness)
Kemauan untuk membantu pelanggan dan memberikan jasa dengan atau tanggap.
e. Keyakinan (Assurance) Pengetahuan dan kesopanan karyawan serta kemampuan mereka untuk menimbulkan kepercayaan dan keyakinan.
3. Karakteristik Kualitas Pelayanan
Tjiptono (2011: 28-51) mengemukakan bahwa jasa memiliki empat karakteristik utama yaitu:
a. Tidak berwujud (Intangibility)
Jasa adalah tidak nyata, tidak sama dengan produk fisik (barang).
Jasa tidak dapat dilihat, dirasakan, dibaui, atau didengar sebelum dibeli. Untuk mengurangi ketidakpastian, pembeli jasa akan mencari tanda atau bukti dari kualitas jasa, yakni dari tempat, orang, peralatan, alat komunikasi, simbol, dan harga yang mereka lihat. Karena itu, tugas penyedia jasa adalah mengelola bukti itu mewujudkan yang tidak berwujud.
b. Tidak terpisahkan (Inseparability)
Pada umumnya jasa yang diproduksi (dihasilkan) dan dirasakan pada waktu bersamaan, untuk selanjutnya apabila dikehendaki oleh seorang untuk diserahkan kepada pihak lainnya, maka dia akan tetap merupakan bagian dari jasa tersebut.
c. Bervariasi (Variability)
Jasa sangat bervariasi karena tergantung pada siapa, kapan dan di mana jasa tersebut disediakan.
d. Mudah Lenyap (Perishability)
Jasa tidak dapat disimpan. Daya tahan jasa tidak akan menjadi masalah bila permintaan selalu ada dan pasti, karena menghasilkan jasa di muka adalah mudah. Bila permintaan berubah-ubah naik dan turun, maka masalah yang sulit akan segera muncul.
4. Strategi Meningkatkan Kualitas Pelayanan
Menurut Tjiptono (2012 : 182 – 189), terdapat beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan dalam meningkatkan kualitas layanan:
a. Mengidentifikasi determinan utama kualitas layanan Setiap penyedia layanan diwajibkan untuk menyampaikan layanan berkualitas terbaik kepada konsumen. Beberapa faktor yang menjadi penilaian konsumen seperti keamanan transaksi (pembayaran menggunakan kartu kredit atau debit), keamanan, ketepatan waktu, dan lain-lain. Upaya ini dilakukan untuk membangun pandangan konsumen terhadap kualitas layanan yang telah diterima. Apabila terjadi kekurangan dalam beberapa faktor tersebut, perlu diperhatikan dan ditingkatkan.
Sehingga akan terjadi penilaian yang lebih baik di pelanggan.
b. Mengelola ekspektasi pelanggan Banyak perusahaan yang berusaha menarik perhatian pelanggan dengan berbagai cara sebagai salah satunya adalah melebih-lebihkan janji sehingga itu menjadi „bumerang‟
untuk perusahaan apabila tidak dapat memenuhi apa yang telah dijanjikan Karena semakin banyak janji yang diberikan, semakin besar
pula ekspektasi pelanggan. Ada baiknya untuk lebih bijak dalam „janji‟
kepada pelanggan.
c. Mengelola bukti kualitas layananPengelolahan ini bertujuan untuk memperkuat penilaian pelanggan selamadan sesudah layanan disampaikan. Berbeda dengan produk yang bersifat tangible, sedangkan layanan merupakan kinerja, maka pelanggan cendrung memperhatikan “seperti apa layanan yang akan diberikan”
dan “seperti apa layanan yang telah diterima”. Sehingga dapat menciptakan persepsi tertentu terhadap penyedia layanan di mata konsumen.
H. Tinjuan Empiris
Ada beberapa Hasil penelitian sebelumnya yang penting dalam mendukung penelitian ini. Disamping itu, tujuan dari kajian ini untuk menjadi bahan perbandingan terkait dengan konstruk variabel penelitian yang di jumlahkan
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu
No Nama Jurnal Analisis
Deskriptif Penelitian
Hasil Penelitian
1 Melvin Grady Lolowang, Adolfina,
Genita Lumintang, (2016)
Pengaruh Pelatihan Dan Pengembangan SDM Terhadap Karyawan Pada PT. Kharisma Pasifik Manado
Metode Analisis Kuantitatif
Hasil penelitian menunjukkan pelatihan sdm dan
pengembangan secara simultan berpengaruh signifikan
terhadap Kinerja pada PT.
Kharisma Pasifik
Manado 2 Ludfia Dipang,
(2013)
Pengembangan SDM Dalam Peningkatan Kinerja
Karyawan Pada PT. Hasjrat Abadi Manado
Metode Analisis Kuantitatif
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
Pengembangan sdm
berpengaruh positif dan signifikan terhadap peningkatan kinerja karyawan 3 Muhammad Fadhil,
(2016)
Pengaruh Kompetensi Sumber Daya Manusia Terhadap Kinerja Peawai Pada Balai Latihan Kerja Industri Makassar
Metode Analisis Kuantitatif
Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan maupun secara parsial kompetensi yang terdiri atas pengetahuan, keterampilan, dan sikap berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pegawai pada Balai Latihan Kerja Industri Makassar
4 Fikri Agassi
Zakaria, Musringah, Ainun Jariah, (2019)
Implementasi Pelatihan Dan Pengembangan Dalam
Peningkatan Kinerja Guru (Studi Kasus Di SMK Negeri 2 Lumajang)
Metode Analisis Kuantitatif
Hasil Penelitian menunjukkan bahwa pelatihan dan
pengembangan dalam
peningkatan kinerja guru di SMK Negeri 2 Lumajang telah terlaksana setiap tahunnya yang dikemas dalam kegiatan In House Training (IHT) berupa Penyusunan Perangkat Pembelajaran dan Penyusunan Modul
Pembelajaran 5 Maludin Panjaitan,
(2017)
Pengaruh Pengembangan Sumber Daya Manusia Terhadap Kinerja Pegawai PT.
Indojaya Agrinusa
Metode Analisis Kuantitatif
Hasil Penelitian Menunjukkan Bahwa koefisien korelasi antara pengembangan sumber daya manusia terhadap kinerja pegawai sebesar 5,8448 adalah signifikan dan Hipotesa Alternatif
diterima, artinya koefisien
tersebut dapat digeneralisasikan atau dapat berlaku pada populasi di mana sampel
yang 85 orang diambil
I. Kerangka Fikir
Manajemen sumber daya manusia merupakan bagian dari ilmu manajemen yang memfokuskan perhatiannya pada pengaturan peranan sumber daya manusia dalam kegiatan suatu organisasi. Dalam mencapai tujuannya tentu suatu organisasi memerlukan sumber daya manusia sebagai pengelola sistem, agar sistem ini berjalan tentu dalam pengelolaannya harus memperhatikan beberapa aspek penting seperti pelatihan, pengembangan, motivasi, aspek-aspek lainnya. Hal ini akan menjadikan manajemen sumber daya manusia sebagai salah satu indikator penting pencapaian tujuan organisasi secara efisien.
Harapan memenuhi konsumen seperti pernyataan tentang kualitas oleh Goetsh dan Davis dalam Tjiptono & Chandra (2011 : 164), “Kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, sumber daya manusia, proses, dan lingkungan memenuhi atau melebihi harapan. Dengan demikian model teori dalam penelitian ini adalah:
Gambar 2.1 kerangka fikir Pengembangan SDM (X)
1. misi dan tujuan
2. strategi pencapaian misi dan tujuan
3. sifat dan jenis 4. jenis teknologi Andrew E. Sikula
Kualitas Pelayanan(Y) 1. empati
2. keandalan 3. keresponsifan 4. keyakinan
Tjiptono ( 2015 )
J. Hipotesis
Berdasarkan hasil uraian pada kerangka pikir di atas, maka penulis merumuskan hipotesis guna memberikan batasan dan fokus pada penelitian, agar diperoleh hasil yang relevan sebagai berikut :
“ Diduga variabel efektivitas pengembangan Sumber Daya Manusia berpengaruh singnifikan terhadap peningkatan kualitas pelayanan pada CV.
Deang Kuliner Makassar”
26 BAB III
METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian
Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode survey, dimana penelitian ini mengambil sampel dari satu polulasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpul data. Adapun desain dari metode survei ini adalah deskriptif kuantitatif. Penelitian kuantitatif dengan format deskriptif bertujuan untuk mejelaskan meringkaskan berbagai kondisi, berbagai situasi, atau berbagai variabel yang timbul di masyarakat yang menjadi objek penelitain itu berdasarkan apa yang terjadi (Bungin, 2011).
Penelitian ini termasuk desain penelitian deskriptifkuantitatif karena merupakan pengembangan konsep dan pengumpulan data untuk menguji Analisis Efektifitas Pengembangan SDM terhadap Kualitas pelayanan pada CV. Daeng Kuliner Makassar.
B. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitan dan pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan pada karyawan CV. Daeng Kuliner Makassar. dengan alamat Jln. Bayangkara No.
15 Makassar. Penelitian ini dilaksanakan kurang lebih 2 (dua) bulan dari bulan Februari sampai dengan Maret 2020.
C. Definisi Operasional Variabel dan Pengukuran
Defenisi operasional adalah melekatkan arti pada suatau variabel dengan cara menetapkan kegiatan atau tindakan yang perlu untuk mengukur variabel itu. Pengertian operasional variabel ini diuraikan menjadi indikitor sebagai
berikut:
1. Pengembangan SDM
Menurut Andrew E. Sikula pengembangan adalah merupakan satu proses pendidikan jangka panjang yang menggunakan prosedur sistematis dan terorganisasi yang pegawai manajerialnya mempelajari pengetahuan konseptual dan teoritis untuk mencapai tujuan umum. Pengembangan menurut Suprihanto adalah suatu kegiatan untuk memperbaiki kemampuan pegawai dengan cara meningkatkan pengetahuan dan pengertian pengetahuan umum termasuk peningkatan penguasaan teori, pengambilan keputusan dalam menghadapi persoalan organisasi.
Adapun indikatornya:
a. Misi dan Tujuan Organisasi Setiap organisasi mempunyai misi dan tujuan yang ingin dicapainya. Untuk mencapai tujuan ini diperlukan perencanaan yang baik dan implementasinya secara tepat.
b. Strategi Pencapaian Tujuan Misi dan tujuan organisasi mungkin sama dengan organisasi lain, tetapi strategi untuk mencapai misi dan tujuan tersebut dapat berbeda. Oleh karenanya, kemampuan karyawan diperlukan dalam memperkirakan dan mengantisipasi keadaan di luar, sehingga strategi yang disusun dapat memperhitungkan dampak yang akan terjadi di dalam organisasinya.
c. Sifat dan Jenis Tujuan Sifat dan jenis kegiatan organisasi sangat penting terhadap pengembangan sumber daya manusia. Misalnya, suatu organisasi yang sebagian besar melaksanakan kegiatan teknis, akan berbeda dengan pola pengembangan sumber daya manusia pada organisasi yang bersifat ilmiah.
d. Jenis Teknologi yang digunakan Pengembangan organisasi diperlukan untuk mempersiapkantenaga dalam mengoperasikan teknologi atau mungkin terjadinya otomatisasi kegiatan-kegiatan yang semula dilakukan oleh manusia.
2. Kualitas Pelayanan
Menurut Tjiptono & Chandra (2011 : 164), Konsep kualitas dianggap sebagai ukuran kesempurnaan sebuah produk atau jasa yang terdiri dari kualitas desain dan kualitas kesesuaian (conformance quality).
Kualitas merupakan fungsi secara spesifik dari sebuah produk atau jasa, kualitas kesesuaian adalah ukuran seberapa besar tingkat kesesuaian antara sebuah produk atau jasa dengan persyaratan atau spesifikasi kualitas yang ditetapkan sebelumnya. Adapun indikator:
a. Empati (Emphaty)
Syarat untuk peduli, memberi perhatian pribadi bagi pelanggan.
b. Keandalan (Reliability)
Kemampuan untuk melaksanakan jasa yang dijanjikan dengan tepat dan terpercaya.
c. Keresponsifan (Responsiveness)
Kemauan untuk membantu pelanggan dan memberikan jasa dengan atau tanggap.
d. Keyakinan (Assurance) Pengetahuan dan kesopanan karyawan serta kemampuan mereka untuk menimbulkan kepercayaan dan keyakinan.
3. Skala Likert
Skala likert adalah skala yang digunakan untuk mengukur persepsi, sikap atau pendapat seseorang atau kelompok mengenai
sebuah peristiwa atau fenomena sosial, berdasarkan defenisi operasional yang ditetapkan oleh peneliti. Skala ini merupakan suatu skala psikometrik yang biasa diaplikasikan dalam angkat dan paling sering digunakan untuk riset yang berupa survey, termasuk dalam penelitian deskriptif.
Keterangan skala :
5 = Sangat Setuju (SS)
4 = Setuju (S)
3 = Kurang Setuju (KS)
2 = Tidak Setuju (TS)
1 = Sangat Tidak Setuju (STS) D. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2012) Berdasarkan pendapat ahli tersebut, populasi dalam penelitian jenisnya merupakan populasi yang terbatas dan menurut sifatnya merupakan populasi yang homogen. Populasi dalam penelitian ini adalah karyawan CV. Daeng Kuliner Makassar. yang berjumlah sebanyak 356 orang.
2. Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiyono, 2012). Adapun sampel dalam penelitian ini adalah karyawan CV. Daeng Kuliner Makassar.. Dengan jumlah karyawan atau responden 80 orang dengan penentuan sampel menggunakan rumus slovin.
Keterangan :
n = Jumlah sampel minimal N = Jumlah Populasi
e = error margin ( batasan toleransi kesalahan )
Diketahui : N = 356 orang : e = 10%
Maka n = 356 / (1 + (356 x (0,01 ) 356 / (1+ 3,56)
356 / 4,56 = 78 dibulatkan jadi 80
E. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu metode survei dengan menggunakan kuesioner. Kuesioner atau daftar pertanyaan yang diberikan kepada responden sifatnya tertutup dan terbuka dengan jawaban yang telah disediakan, dan diharapkan di isi oleh responden dengan memilih salah satu alternatif jawaban yang tersedia.
F. Jenis dan Sumber Data
1. Jenis Data
a. Data kualitatif, yaitu data yang diperoleh dari CV. Daeng Kuliner Makassar baik dalam bentuk informasi secara lisan maupun secara tertulis.
b. Data kuantitatif, yaitu data yang diperoleh dari CV. Daeng Kuliner Makassar yang diteliti dalam bentuk angka-angka dan dapat digunakan untuk pembahasan lebih lanjut.
2. Sumber Data
a.) Data primer, yaitu data yang diperoleh langsung dari CV. Daeng Kuliner Makassar yang memerlukan pengelolaan lebih lanjut.
b.) Data sekunder, yaitu data bersumber dari CV. Daeng Kuliner Makassar ataupun dan dari instansi/jawatan yang terkait untuk melengkapi data/informasi.
G. Metode Analisis Data
Untuk membuktikan hipotesi yang telah dikemukakan maka dalam penelitian ini digunakan:
1. Analisis Deskriptif Kuantitatif merupakan metode yang bertujuan mengubah kumpulan data mentah menjadi bentuk yang mudah dipahami, dalam bentuk informasi yang ringkas, dimana hasil penelitian beserta analisisnya diuraikan dalam suatu tulisan ilmiah yang mana dari analisis tersebut akan dibentuk suatu kesimpulan.
2. Uji Validitas digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu kuesioner. Suatu kuesioner dikatakan valid jika pertanyaan dalam
kuesioner mampu untuk mengungkapkan sesuatu yang akan di ukur oleh kuesioner tersebut.
Apabila , kesimpulannya item koesioner tersebut valid.
Apabila , kesimpulannya item koesioner tersebut tidak valid.
3. Uji Realibilitas dimaksudkan untuk mengukur suatu kuesioner yang merupakan indikator dari variabel. Realibilitas di ukur dengan uji statistik Cronbach Alpha (a). Suatu variabel dikatakan realibel jika memberikan nilai Cronbach Alpha 0,60.
4. Analisis regresi linear sederhana adalah analisis untuk mengetahui hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen dengan menggunakan linear namun dalam penelitian ini hanya digunakan saat variabel dependen sehingga disebut regresi linear sederhana.
Adapun persamaan regresi linear sederhana adalah sebagai berikut : Y = a + bX+ e
Keterangan :
Y = kualitas pelayanan
a = konstanta yaitu nilai Y jika X=0
b = koefisien regresi yaitu nilai peningkatan atau penurunan variabel Y yang didasarkan variabel X
X = pengembangan SDM.
e = error
5. Pengujian Hipotesis Secara Parsial (Uji t)
Uji parsial dengan uji t bertujuan menganalisis besarnya pengaruh masing-masing perubah independen secara individual (parsial) terhadap perubah dependen. Hasil dari uji t menunjukkan masing-masing pengaruh independen terhadap perubah dependen jika p-value lebih kecil dari nyata yang ditentukan atau . Hipotesis nol dan hipotesis alternative yang di usulkan dan diuji t adalah :
a) atau P-value a, ditolak H0, yang berarti bahwa suatu faktor X memiliki pengaruh terhadap faktor Y.
b) atau P-value a, diterima H0, yang berarti bahwa suatu faktor X tidak mempunyai pengaruh terhadap faktor Y.
34 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum CV. Daeng Kuliner Makassar a. Sejarah CV. Daeng Kuliner Makassar (DKM)
CV. DAENG KULINER MAKASSAR berdiri sejak tanggal 12 Mei 2006 dan merupakan perusahaan yang bergerak dibidang kuliner, perusahaan ini dirintis dengan dasar kerja keras dan semangat yang tinggi.
CV. DAENG KULINER MAKASSAR didukung dengan 7 (tujuh) buah store yang tersebar dibeberapa titik kota makassar dan luar makassar, yakni wr. mbak daeng Alauddin, wr. Mbak Daeng Pengayoman, wr. Mbak daeng abdesir, Rumah Makan Mas Daeng, Rumah Makan Lesehan Pa‟ Daeng, wr. Ayam balap dan Wr.
Cangkuning, dan didukung pula dengan karyawan yang berkompoten dan profesional dengan jumlah karyawan sebanyak 423 orang.
Dengan harapan kelak dapat menjadi pelopor kuliner daerah yang mampu bersaing dalam era globalisasi, dengan mengedepankan adat dan nuansa kedaerahan khususnya sulawesi selatan.
CV. DAENG KULINER MAKASSAR ini didirikan dengan prinsip saling memahami, saling menghargai dan tenggang rasa dalam perbedaan untuk mencari kebaikan yang sebenar-benarnya bagi semua pihak. Dan berperan serta dalam pengembangan perekonomian daerah dan sebagai wadah untuk menciptakan tenaga kerja yang profesional dan mandiri.
CV. Daeng Kuliner Makassar beralamat di jalan Bayangkara No.
15 Makassar-Sulsel di dirikan tahun 2006 oleh Ahmad Tonang sekaligus sebagai pemilik perusahaan, CV. Daeng Kuliner Makassar merupakan perusahaan yang bergerak di bidang Kuliner, sebagai kantor pusat Manajemen pengelola Rumah makan yang tersebar di kota Makassar, hingga saat ini CV. Daeng Kuliner Makassaar memiliki 7 cabang Rumah Makan yakni,
1. WR. Mbak Daeng 1 beralamat di Jln. Pengayoman yang sudah beroperasi 8 Tahun, di dirikan oleh Ahmad Tonang tahun 2011.
2. WR. Mbak Daeng 2 beralamat di Jln. Alauddin merupakan Cabang pertama di dirikan pada Tahun 2012.
3. WR. Mbak Daeng 3 beralamat di jalan Abdesir yang sudah beroperasi 3 tahun, di dirikan oleh Ahmad Tonang tahun 2017.
4. WR. Mas Daeng beralamat di Jln. Arif Rate di dirikan pada tahun 2013.
5. WR. Cang Kuning beralamat di Jln. Poros Gowa di dirikan pada tahun 2014.
6. WR. Lesehan Pak Daeng beralamat di Jln. Landak Baru di dirikan pada tahun 2015.
7. WR. Ayam Balap beralamat di Jln. Abdul Kadir di dirikan pada tahun 2016.
b. Visi dan misi CV. Daeng Kuliner Makassar 1. Visi Perusahaan
“menjadi perusahaan penyedia jasa makanan atau kuliner yang halal, enak, bermutu dan di kenal di seluruh indonesia”.
2. Misi Perusahaan
i. Meningkatkan peran serta Karyawan untuk memajukan Perusahaan.
ii. Berperan aktif sebagai mitra dalam penyusunan Kesepakatan Kerja Bersama (KKB) / Peraturan Perusahaan (PP) dan memperjuangkan tercipta dan terlaksananya peraturan ketenagakerjaan dalam lingkup perusahaan dengan baik.
iii. Mengadakan upaya-upaya untuk meningkatkan mutu ilmu pengetahuan, ketrampilan bidang Karyawan atau profesi serta kemampuan berorganisasi.
iv. Bekerja sama dengan pihak-pihak lain untuk melaksanakan usaha-usaha yang tidak bertentangan dengan azas dan tujuan organisasi.
v. Mendirikan usaha-usaha sosial ekonomi dan usaha-usaha lain yang sah dan bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan Karyawannya.
c. Struktur Organisasi Dan Uraian Tugas
Salah satu faktor panting dalam mencapai tujuan perusahaan adalah structure organisasi yang baik dan tepat di mana di dalamnya terdapat pembagian kerja yang jelas. Pembagian kerja tersebut dimaksudkan agar setiap karyawan mengetahui tentang apa yang harus dilaksanakan dan mempertanggung jawabkan tugas tersebut, mengetahui siapa atasannya sehingga semua dapat diarahkan untuk membentuk angkatan kerja yang loyal dan harmoni.
Gambar 4.1
Bagan struktur CV. Daeng Kuliner Makassar Direktur
SABARUDDIN
DIREKSI
KEPALA CABANG ALL
STORE
ADMINISTRASI AULIA FITRI PINWIL
1. RUDIANTO 2. SYAFII
KA. OPERASIONAL
BAHIDU BENDAHARA UMUM
IKE NURJANNI
LOGISTIK SUPRIADI KEUANGAN
AHMAD S.
ASSET SURIADI SDM
RAFIKA DURI
ADMINISTRASI RATNA
KEPALA CABANG 1. JUSMAN (MASDAENG) 2. BASIR.A (AYAM BALAP) 3. SYUKRAN (MBD 1) 4. ARMAN (MBD 2) 5. ILHAMUDDIN (MBD 3) 6. ROBY D. (L. PA’ DAENG) 7. SYAMSUDDIN (CANGKUNING) DIREKSI OPERASIONAL
Struktur Organisasi adalah gambaran yang menunjukkan hubungan tugas/pekerjaan dalam organisasi yang mengatur batas, wewenang dan tanggung jawab dalam setiap organisasi. Adapun susunan organisasi dan tata kerja Kantor CV. Daeng Kuliner Makassar (DKM) terdapat 8 bagian yaitu:
1) Direktur Utama Fungsi jabatan:
a. Mengkoordinasikan dan mengendalikan kegiatan-kegiatan di bidang administrasi, keuangan dan kepegawaian.
b. Mengkoordinasikan dan mengendalikan kegiatan pengadaan dan peralatan perlengkapan.
c. Mengendalikan uang pendapatan.
d. Memimpin rapat umum dalam hal untuk memastikan pelaksanaan tata tertib keadilan dan kesempatan bagi semua untuk berkontribusi secara tepat, menyesuaikan alokasi waktu per item masalah, menentukan urutan agenda mengarahkan diskusi kearah konsensus menjelaskan dan menyimpulkan tindakan dan kebijakan.
e. Memberikan instruksi kepada Kepala Cabang agar dalam menjalankan operasional perusahaan sesuai dengan arahan Direktur utama.
f. Memimpin seluruh Pegawai dan komite eksekutif.
2) Sumber Daya Manusia ( SDM )
Sumber daya manusia (SDM) mempunyai tugas dalam mengkoordinasikan kegiatan pengelolaan kepegawaian dan karyawan menjelaskan terkait tugas tanggung jawab karyawan,