BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
B. Konsep Kualitas Pelayanan Publik
10. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kualitas Pelayanan
Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas pelayanan menurut H.A.SMoenir (2000: 88-123) meliputi enam faktor yaitu:
a. Faktor Kesadaran
Kesadaran dapat dirumuskan “suatu proses berfikir melaluimetode renungan, pertimbangan, dan perbandingan, sehingga menghasilkankeyakinan, ketenangan, Ketetapan hati dan keseimbangan dalam jiwanyasebagai pangkal tolak untuk perbuatan dan tindakan yang akan dilakukankemudian. “Sehingga dengan adanya faktor kesadaran dari para pegawai yangmemberikan pelayanan
diharapkan mereka melaksanakan tugas dengankeikhlasan, kesungguhan dan disiplin.”
b. Faktor Aturan
Aturan adalah perangkat penting dalam segala tindakan danperbuatan orang. Faktor aturan yang menjadi landasan kerja pelayanan, meliputi:
1) Kewenangan erat hubungannya dengan sahnya suatu perbuatan atautindakan yang diambil, termasuk perbuatan aturan yang akan mengikatberbagai pihak.
2) Pengetahuan dan pengalaman diharapkan ia dapat mempunyai pandangan jauh kedepan sehingga aturan yang dibuat dapatmenjangkau waktu yang cukup panjang.
3) Kemampuan bahasa dalam membuat aturan yang dimaksud adalahmampu menggunakan bahasa sederhana dan mudah dimengerti.
4) Pemahaman oleh pelaksana. Petugas pelaksana haruslah memahamiterlebih dahulu maksud dan arti aturan itu, sehingga mampumemberikan penjelasan serta pelayanan yang tepat dan cepat.
5) Disiplin pelaksana. Dalam hal ini adalah disiplin waktu dan disiplinkerja atau perbuatan. Disiplin waktu tanpa disertai disiplin kerja tidak ada artinya, dengan kata lain tidak ada hasil sesuai dengan ketentuan organisasi, dan sebaliknya.
c. Faktor Organisasi
Organisasi pelaksanaan yang dimaksud disini adalah mengorganisir fungsi pelayanan baik dalam bentuk struktur maupun mekanismenya yang akan berperan dalam mutu dan kelancaran pelayanan sarana pendukung mekanisme kerja didalam organisasi adalah sistem, prosedur dan metode.
d. Faktor Pendapatan
Pendapatan adalah seluruh penerimaan seseorang sebagai imbalan atas tenaga dan pikiran yang telah dicurahkan oleh orang lain atau badan/organisasi, baik dalam bentuk uang, maupun fasilitas dalam jangka waktu tertentu.
e. Faktor Kemampuan dan Ketrampilan
Kemampuan berarti dapat melakukan tugas atau pekerjaan sehingga menghasilkan barang atau jasa sesuai dengan yang diharapkan, sedangkan ketrampilan adalah kemampuan melaksanakan tugas dengan menggunakan anggota badan dan peralatan yang tersedia.
f. Faktor Sarana Pelayanan
Sarana pelayanan adalah segala jenis peralatan, perlengkapan kerja dan fasilitas lain yang berfungsi sebagai alat utama atau pembantu dalam pelaksanaan pekerjaan. Fungsi sarana pelayanan antara lain:
1) Mempercepat proses pelaksanaan pekerjaan, sehingga dapat menghemat waktu.
2) Meningkatkan produktifitas, baik barang atau jasa.
3) Kualitas produk yang lebih baik atau terjamin.
4) Ketepatan Susunan.
5) Menimbulkan rasa kenyamanan bagi orang-orang yang berkepentingan.
6) Menimbulkan perasaan puas pada orang-orang yang berkepentingan.
B. Konsep Tanda Nomor Kendaraan Bermotor(TNKB) 1. Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB)
TNKB sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Kepala Kepolisian Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2012 tentang Registrasi dan Identifikasi Kendaraan Bermotor pada Pasal 39 ayat (1) dibuat dari bahan yangmempunyai unsur-unsur pengaman sesuai spesifikasi teknis.Unsur-unsur pengaman TNKB sebagaimana dimaksud pada ayat (1), berupalogo lantas dan pengaman lain yang berfungsi sebagai penjamin legalitas TNKB. Sedangkan warna TNKB adalah sebagai berikut:
a. Dasar hitam, tulisan putih untuk Ranmor perseorangan dan Ranmor sewa;
b. Dasar kuning, tulisan hitam untuk Ranmor umum;
c. Dasar merah, tulisan putih untuk Ranmor dinas Pemerintah;
d. Dasar putih, tulisan biru untuk Ranmor Korps Diplomatik negara asing; dan e. Dasar hijau, tulisan hitam untuk Ranmor di kawasan perdagangan bebasatau
(Free Trade Zone) yang mendapatkan fasilitas pembebasan beamasuk dan berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan, bahwa Ranmor tidakboleh dioperasionalkan/dimutasikan ke wilayah Indonesia lainnya.
2. Prinsip Pelayanan Registrasi dan Identifikasi Kendaraan Bermotor Pelaksanaan Regident Ranmor berpedoman pada prinsip-prinsip pelayanan:
a. Sederhana, yaitu prosedur pelayanan Regident Ranmor yang mudah dipahami,dilaksanakan, dan diakses;
b. Cepat, yaitu kepastian waktu dalam penyelesaian pelayanan Regident Ranmor;
c. Akurat, yaitu pelayanan Regident Ranmor dilaksanakan secara teliti, cermat,tepat, dan berkualitas;
d. Aman, yaitu proses dan produk pelayanan Regident Ranmor dapat memberikanperlindungan, rasa aman, dan kepastian hukum;
e. Akuntabel, yaitu kualitas pejabat atau penyelenggara pelayanan RegidentRanmor bertanggung jawab atas penyelenggaraan pelayanan;
f. Informatif, yaitu tersedianya data dan informasi yang dibutuhkan untukkepentingan pelaksanaan Regident Ranmor ataupun untuk mendukungpemangku kepentingan lain; dan
g. Nyaman, yaitu terselenggaranya pelayanan Regident Ranmor dalam suasanayang menyenangkan serta didukung sarana dan prasarana pelayanan sesuaidengan kebutuhan masyarakat.
3. Prosedur Penerbitan STNK dan TNKB
Prosedur penerbitan, pengesahan, dan perpanjangan STNK dan/atau TNKBdilaksanakan melalui Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap (Samsat).
Prosedur penerbitan STNK dilaksanakan melalui kelompok kerja yang terdiri atas:
a. Pendaftaran, pendataan dan verifikasi;
b. Penetapan;
c. Pembayaran;
d. Pencetakan dan pengesahan;
e. Penyerahan; dan f. Pengarsipan.
g. Permohonan penerbitan, pengesahan, dan perpanjangan STNK disampaikan kePetugas kelompok kerja Pendaftaran, Pendataan, dan Verifikasi.Petugas sebagaimana dimaksud melakukan:
h. Pemeriksaan kelengkapan dan keabsahan persyaratan melalui pencocokandan penelitian dokumen persyaratan dengan yang tercantum dalam formulirdan/atau ke instansi penerbit dokumen persyaratan;
i. Pemasukan data identitas pemilik dan Ranmor ke dalam pangkalan data;dan j. Pengecekan silang data sebagaimana dimaksud dalam huruf b dengan
dataRegident Kepemilikan Ranmor secara on-line.Dalam hal terdapat ketidaklengkapan dan/atau ketidakabsahan dokumenpersyaratan, petugas harus memberitahukan kepada pemohon untukmelengkapi.Dalam hal dokumen persyaratan sudah lengkap dan sah, petugas harus:
k. Menyerahkan dokumen persyaratan kepada petugas kelompok kerjapencetak dan pengesah STNK dan TNKB; dan
l. Memberitahukan kepada petugas kelompok kerja Penetapan PNBP, PKBdan BBN-KB, dan SWDKKLJ.
Atas dasar pemberitahuan kelengkapan dokumen persyaratan sebagaimanadimaksud dalam Pasal 85 ayat (4) huruf b, petugas kelompok kerja penetapanmelakukan penetapan besaran:
a. PNBP STNK dan TNKB oleh petugas Polri untuk penerbitan STNK baru,perubahan identitas kendaraan dan pemilik, pemindahtanganan Ranmor,penggantian STNK, dan Perpanjangan, kecuali untuk pengesahan STNK.
b. PKB dan/atau BBN-KB oleh petugas Satuan Kerja Perangkat Daerah yangmembidangi Pengelolaan Pendapatan Provinsi; dan
c. SWDKLLJ oleh petugas Jasa Raharja.
Atas dasar penetapan besaran PKB dan/atau BBN-KB dan SWDKLLJsebagaimana dimaksud, dilakukan pencetakan SKKPoleh petugas Satuan Kerja Perangkat Daerah yang membidangi PengelolaanPendapatan Provinsi.Petugas Polri dan Petugas Satuan Kerja Perangkat Daerah yang membidangiPengelolaan Pendapatan Provinsi sebagaimana dimaksud menyerahkan dokumen PNBP STNK dan TNKB serta SKKP kepadapetugas kelompok kerja penerimaan pembayaran.Petugas kelompok kerja penerimaan pembayaran sebagaimana dimaksuddimaksud dalam Pasal 86 ayat (3) melakukan:
a. Pemanggilan pemohon untuk melakukan pembayaran PNBP STNK danTNKB, PKB dan/atau BBN-KB, dan/atau SWDKLLJ; dan
b. Penerimaan pembayaran sebagaimana dimaksud sesuaiperaturan perundang- undangan.
Atas dasar penerimaan pembayaran sebagaimana dimaksud, petugas dari unsur Satuan Kerja Perangkat Daerah yang membidangiPengelolaan Pendapatan Provinsi menerbitkan TBPKP.Petugas kelompok kerja penerimaan pembayaran
sebagaimana dimaksud padamenyerahkan dokumen persyaratan dan TBPKP kepada petugaskelompok kerja Pencetakan dan Pengesahan STNK dan TNKB.Atas dasar penyerahan dokumen persyaratan dan TBPKP sebagaimanadimaksud dalam Pasal 87 ayat (3), petugas kelompok kerja Pencetakan danPengesahan melakukan:
a. Pencetakan STNK dan TNKB untuk penerbitan STNK baru, perubahanidentitas kendaraan dan pemilik, pemindahtanganan Ranmor, penggantianSTNK, dan Perpanjangan;
b. Pengesahan STNK untuk Regident Pengesahan; dan/atau c. Penggabungan STNK dengan TBPKP.
Dokumen STNK, TBPKP dan TNKB sebagaimana dimaksud diserahkan kepada petugas kelompok Penyerahan.Petugas kelompok kerja penyerahan sebagaimana dimaksud, melakukan kegiatan:
a. Pemisahan STNK, TBPKP dengan berkas administrasi untuk arsip;
b. Pemanggilan pemilik Ranmor untuk menerima dokumen gabungan STNKdengan TBPKP dan TNKB dan menandatangani buku register penyerahan;dan
c. Pencatatan data penyerahan pada buku register.
Berkas administrasi yang sudah dipisahkan sebagaimana dimaksud diserahkan kepada petugas kelompok kerja pengarsipan.Atas dasar penerimaan berkas administrasi sebagaimana dimaksud, petugas kelompok kerja pengarsipan melakukan kegiatan:
a. Penyimpanan seluruh arsip registrasi dan identifikasi kendaraan bermotoroleh petugas Polri;
b. Penyimpanan arsip PKB, BBN-KB oleh petugas Satuan Kerja Perangkat Daerah yang membidangi Pengelolaan Pendapatan Provinsi; dan
c. Penyimpanan arsip SWDKLLJ oleh petugas Jasa Raharja.
C. Kerangka Pikir
Kualitas pelayanan yang baik akan dirasakan oleh masyarakat(pelanggan) apabila pelanggan telah merasa puas dengan keinginan ketepatan waktu dalam Kualitas pelayanan yang ditawarkan oleh samsat dapat melalui beberapa unsur pelayanan (jasa) (Service Quality element) adapun dimensi kualitas layanan (jasa) yaitu tangibility,reliability,responsiveness,assurance,dan emphaty.Pelayanan plat kendaraan khususnya kendaraan bermotor dilakukan di Samsat melalui beberapa tahapan, sehingga memungkinkan terjadinya beberapa indikasi yang tidak diharapkan oleh masyarakat (pelanggan), makatanggung jawab pihak samsat dalam hal pelayanan sangat dibutuhkan sehingga terciptanya pelayanan yang berkualitas.
Perilaku para karyawan mampu menumbuhkan kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan dan perusahaan bisa menciptakan rasa aman bagi para masyarakatnya.Jaminan juga berarti bahwa para petugas selalu bersikap sopan dan menguasai pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk menangani setiap pertanyaan atau masalah masyarakat.
Berdasarkan uraian kerangka pikir di atas maka adapun skema penelitian dalam penelitianini :
Bagan Kerangka Pikir
D. Fokus Penelitian
Fokus penelitian ini memfokuskan pada kualitas pelayanan pengurusan Tanda Nomor Kendaraan Bermotor di Kantor SAMSAT Kota Makassar.
E. Deskriptif Fokus Penelitian
Kualitas Pelayanan merupakan tingkat kondisi baik buruknya sajian yang diberikan oleh pihak SAMSAT dalam rangka memberikan fasilitas pelayanan dalam pembuatan plat kendaraan bermotor oleh karena itu diharapkan selalu memberikan kesan yang menarik setiap waktu. Penelitian ini terdapat variable yang menjadi sasaran penelitian yaitu :
1. Tangible (bukti fisik)
Bukti fisik yakni fasilitas berupa perlengkapan dan penampilan yang disediakan oleh SAMSAT dalam pemberian pelayanan.
2. Reliability (kehandalan)
KUALITAS PELAYANAN
TANGIBLES (Bukti Fisik)
PELAYANAN PENGURUSAN TANDA NOMOR KENDARAAN BERMOTOR DI KANTOR SAMSAT
KOTA MAKASSAR MENJADI BERKUALITAS RELIABILITY
(Keandalan)
RESPONSIVEN ESS (Ketanggapan)
ASSURANCE (Jaminan)
EMPATHY (Empati)
Kehandalan di sini merupakan kemampuan tiap staf SAMSAT dalam memberikan pelayanan yang efektif dan efisien.
3. Responsiveness (Daya tanggap)
Daya tanggap merupakan kemampuan staf SAMSAT dalam memberikan tanggapan, respon atau reaksi dalam memberikan pelayanan.
4. Assurance (jaminan)
Jaminan merupakan kemampuan, kesopanan, dan sifat yang dipercaya yang dimiliki para staf untuk bebas dari sesuatu yang bersifat resiko atau keragu- raguan.
5. Empathy (empati)
Empati merupakan kemampuan staf memahami apa yang dirasakan dan dibutuhakan pelanggan (masyarakat) dalam pelayanan pengurusan plat kendaraan bermotor di kantor SAMSAT Makassar.
BAB III
METODE PENELITIAN A. Waktu dan Lokasi Penelitian
Waktu yang dibutuhkan penulis dalam penelitian ini selama 2 bulan dan bertempat di KantorSamsat Kota Makassar. Penelitian ini bermaksud mengetahui bagaimana kualitas pelayanan dalam pengurusan plat kendaraaan bermotor TNKB(Tanda Nomor kendaraan Bermotor).
Alasan pemilihan lokasi ini didasarkan pada: (1) Kantor Samsat Kota Makassar merupakan unsur birokrasi yang didalamnya terdapat berbagai pihak- pihak yang berkaitan(2) untuk mengetahui sejauh mana kualitas pelayanan Kantor Samsat kota Makassar khususnya dalam pengurusan TNKB(Tanda Nomor Kendaraan Bermotor)
B. Jenis danTipe Penelitian 1. Jenis Penelitian
Berkaitan dengan tujuan penelitian adalah untuk memberikan gambaran mengenai kualitas pelayanan di Kantor Samsat Makassar.secara obyektif, maka jenis penelitian ini adalah mix method, yaitu metode yang memadukan pendekatan kualitatif dan kuantitatif dalam hal metodologi (seperti dalam tahap pengumpulan data). Dan kajian model campuran memadukan dua pendekatan dalam semua tahapan proses penelitian (Sugiyono, 2013:404).
Mix Method juga disebut sebagai sebuah metodologi yang memberikan asumsi filosofis dalam menunujukkan arah atau memberi petunjuk cara pengumpulan data dan menganalisis data serta perpaduan pendekatan
42
kuantitatif dan kualitatif melalui beberapa fase proses penelitian. Strstaegi metode campuran yang digunakan dalam penelitian ini adalah urutan analisis kuantitatif dan kualitatif, tujuan strategi ini adalah untuk mengidentifikasi komponen konsep (subkonsep) melalui analisis data kuantitaif dan kemudian mengumpukan data kualitatif guna memperluas informasi yang tersedia (Sugiyono,2013:405). Intinya adalah untuk menyatukan data kuantitatif dan kaulaitatif agatr memperoleh analisis yang lengkap.
Metode Kuantitaif digunakan untuk menilai atau mengukur kualitas pelayanan yang terjadi di Kantor Samsat Kota Makassar. Sedangkan kualitatif untuk mendapatkan informasi mengenai kualitas pelayanan di Kantor Samsat di Kota Makassar.
2. Tipe Penelitian
Tipe dalam penulisan penelitian ini adalah tipe survei dimaksudkan untuk memberi gambaran secara jelas mengenai masalah-masalah yang diteliti berdasarkan pengalaman yang dialami oleh informan. Adapun masalah- masalah yang diteliti adalah mengenai kualitas pelayanan di Kantor Samsat yang terkhusus pada pembuatan TNKB(Tanda Nomor Kendaraan Bermotor) C. Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini dibagi ke dalam dua bagian, yaitu:
1. Data primer, yaitu data yang dikumpulkan penulis untuk memperkaya dan mempertajam analisis bagi penarikan kesimpulan yang meliputi: pengamatan langsung (observasi), dan wawancara yang dilakukan penulis tentang kualitas pelayanan di kantorSamsat Kota Makassar.
2. Data sekunder, yaitu data yang dikumpulkan peneliti dari berbagai laporan- laporan atau dokumen-dokumen yang bersifat informasi tertulis yang digunakan dalam penelitian. Adapun laporan atau dokumen yang bersifat informasi tertulis yang dikumpulkan peneliti adalah mengenai bagaimana kualitas pelayanan di Kantor Samsat Kota Makassar.
D. Populasi dan Sampel Penelitian 1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat yang berkunjung di Kantor Samsat Kota Makassar.
2. Sampel penelitian sebanyak 30 orang masyarakat yang berkunjung di Kantor Samsat Kota Makassar yang dipilih dengan menggunakan sample Aksidental.Adapun rincian sampel yaitu sebagai berikut:
a. Responden terdiri dari 30 orang b. Informan terdri dari:
- Kasi STNK
- Kepala Unit TNKB
- Petugas pengurusan berkas - Kasir
E. Teknik Pengumpulan data
Guna memperoleh data yang relevan dengan tujuan penelitian maka digunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut:
1. Observasi yaitu teknik pengumpulan data yang ditempuh penulis dengan cara melakukan pengamatan langsung di lapangan.
2. Kuesioner yaitu teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara membuat daftar pertanyaan kepada responden yang berkaitan dengan permasalahan yang diteliti.
3. Wawancara yaitu teknik pengumpulan data yang dilakukan secara langsung kepada informan.
F. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis deskriptif kuantitatif dengan metode tabel frekuensi, yaitu menganalisa data dengan cara mendiskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul dan menyajikannya dalam bentuk angka-angka tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku umum.
Adapun rumus yang digunakan untuk menganalisis tabel yaitu :
( ) x 100%
Keterangan:
P = Persentase
N = Jumlah Responden F = Frekuensi
Selain tabel frekuensi, analisa data juga dilakukan dengan menggunakan skala likert.Skala Likert dikembangkan oleh Rasis Likert (1932) yang paling sering digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, presepsi responden terhadap suatu objek.
x ( )
Keterangan:
X = Rata-rata
Σ = Jumlah skor kategori jawaban x = Skor
F = Frekuensi
N = Jumlah responden.
Rata –rata skor
Rata persen = x 100%
Banyaknya klasifikasi jawaban
Untuk mengetahui kualitas pelayanan dalam pengurusan TNKB di Kantor Samsat Kota Makassar, maka digunakan:
Rumus Interval
Jarak pengukuran Interval kategorinya =
Jumlah interval
Skor tertinggi - skor terendah
=
Kriteria
4 - 1
=
4
= 0,75
Oleh karena kategori dari data yang dihasilkan akan di uraikan sebagai berikut:
Tabel 1.Nilai skor
Kategorisasi Nilai Interval Rata-rata Interval Rata-rata
Tanggapan responden skor Skor Persentase
Sangat baik 4 3,26 -4,00 81,50%-100,00 %
Baik 3 3,26 -4,00 62,75 % - 81,25 %
Kuran baik 2 1,76 – 2,50 44,00 % - 62,50 %
Tidak baik 1 1,00 – 1,75 25,00 % - 43,75 %
Tabel 2. Klasifikasi Skor
Sangat Baik / sangat tepat / sangat terpercaya / sangat cepat / sangat tanggap / sangat berpengetahuan / sangat sopan / sangat percaya &
yakin / sangat peduli / sangat perhatian / sangat nyaman / sangat modern / sangat memadai
Skor 4
Baik / tepat / terpercaya / cepat / tanggap / berpengetahuan / sopan / percaya & yakin / peduli / perhatian / nyaman / modern / memadai
Skor 3
Kurang Baik / kurang tepat / kurang terpercaya / kurang cepat / kurang tanggap / kurang berpengetahuan / kurang sopan / kurang percaya & yakin / kurang peduli / kurang perhatian / kurang nyaman / kurang modern / kurang memadai
Skor 2
Tidak Baik / tidak tepat / tidak terpercaya / tidak cepat / tidak tanggap / tidak berpengetahuan / tidak sopan / tidak percaya &yakin / tidak peduli / tidak perhatian / tidak nyaman / tidak modern / tidak memadai
Skor 1
Sangat Baik / sangat tepat / sangat terpercaya / sangat cepat / sangat tanggap / sangat berpengetahuan / sangat sopan / sangat percaya &
yakin / sangat peduli / sangat perhatian / sangat nyaman / sangat modern / sangat memadai
Skor 4
Baik / tepat / terpercaya / cepat / tanggap / berpengetahuan / sopan / percaya & yakin / peduli / perhatian / nyaman / modern / memadai
Skor 3
Kurang Baik / kurang tepat / kurang terpercaya / kurang cepat / kurang tanggap / kurang berpengetahuan / kurang sopan / kurang percaya & yakin / kurang peduli / kurang perhatian / kurang nyaman / kurang modern / kurang memadai
Skor 2
Tidak Baik / tidak tepat / tidak terpercaya / tidak cepat / tidak tanggap / tidak berpengetahuan / tidak sopan / tidak percaya &
yakin / tidak peduli / tidak perhatian / tidak nyaman / tidak modern / tidak memadai
Skor 1
G. Keabsahan Data
Keabsahan data dalam penelitian ini diperiksa dengan menggunakan tehnik triangulasi. Dimana triangulasi bermakna silang dengan mengadakan pengecekan akan kebenaran data yang akan dikumpulkan dari sumber data dengan menggunakan tehnik pengumpulan data yang lain serta pengecekan pada waktu yang berbeda.
1. Triangulasi sumber
Penelitian dalam hal ini melakukan triangulasi sumber dengan cara mencari informasi dan sumber lain atas informasi yang didapatkan dari informasi sebelumnya.
2. Triangulasi metode
Untuk menguji akuratnya sebuah data maka peneliti menggunakan triangulasi metode dengan menggunakan tehnik tertentu yang berbeda dengan tehnik yang digunakan sebelumnya.
3. Triangulasi waktu
Triangulasi waktu berkenaan dengan waktu pengambilan data penelitian.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 1. Sejarah SAMSAT
Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap (disingkat Samsat),atau dalam bahasa inggris One Roof System,adalah suatu system administrasi yang dibentuk untuk memperlancar dan mempercepat pelayanan kepentingan masyarakat yang kegiatannya diselenggarakan dalam satu gedung.Contoh dari samsat adalah dalam pengurusan dokumen kendaraan bermotor.
Samsat merupakan suatu sistem kerjasama secara terpadu antara Polri,Dinas Pendapatan Provinsi,dan PT Jasa Raharja(persero) dalam pelayanan untuk menertibkan STNK dan Tanda Nomor Kendaraan Bermotor yang dikaitkan dengan pemasukan uang ke kas negara baik melalui Pajak kendaraan Bermotor(PKB),Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor,dan sumbangan Wajib dana Kecelakaaan Lalu Lintas Jalan (SWDKLJJ) dan dilaksanakan pada satu kantor yang dinamakan “Kantor Bersama Samsat”.
Dalam hal ini,Polri memiliki fungsi penertiban STNK,Dinas Pendapatan Provinsi menetapkan besarnya Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBN-KB),sedangkan PT Jasa Raharja mengelola Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan (SWDKLLJ) lokasi Kantor Bersama Samsat umunya berada di lingkungan Kantor Polri setempat,atau di lingkungan Satlantas/Ditlantas Polda setempat.Samsat ada di masing-masing provinsi,serta memiliki unit pelayanan disetiap kabupaten/kota.
50
Beberapa tahap periode sejarah SAMSAT berlangsung yaitu sebagai berikut:
a. Periode I :
Di tanah air Indonesia akhir abad ke-19 sudah ada mobil / kendaraan bermotor.
1) Kepolisian berada di bawah Departemen Urusan Dalam Negeri (Departemen Van Binenlandsch Berstuur).
2) Kepala Polisi Kota / Kepala Polisi Karasidenan atas nama Presiden atau Gubernur bisa menerbitkan Surat Izin Mengemudi (SIM).
b. Periode II :
1) Pada tanggal 25 Juni 1946, Presiden RI menetapkan pemisahan Kepolisian dari Kementerian Dalam Negeri, sehingga menjadi jawatan tersendiri yang berkoordinasi dengan Perdana Menteri dan berwenang menerbitkan dokumen kendaraan bermotor.
2) Staatblad 1999 direvisi menjadi Undang-Undang Nomor 7 tahun 1951 yaitu Tanda Nomor Kendaraan Mengemudi yang dikeluarkan Residen diserahkan seluruhnya kepada polisi.
3) UU Nomor 7 Tahun tentang UULL Jalan disempurnakan menjadi Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1965 tentang Lalu Lintas angkutan jalan yang mengukuhkan Peraturan Pemerintah Lalu Lintas Jalan (PPL), dan Peraturan Lalu Lintas Jalan Perhubungan (PLJP) dan Peraturan Lalu Lintas Jalan Dalam Negeri (PLDN).
c. Periode III tahun 1965-1974 :
1) STNK, STCK, dan SIM diselenggarakan / diterbitkan oleh polisi.
2) Seluruh pemilik kendaran bermotor (100%) mendaftarkan STNK ke polisi. Mereka mendaftarkan kendaraannya karena takut pada kewenangan polisi dalam penegakan hukum yang mempunyai upaya paksa.
3) Realisasi pemilik kendaraan yang melakukan pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor / Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (PKB dan BBNKB) hanya 30% saja yang melaksanakan kewajibannya.
4) Demikian pula realisasi pelaksanaan pembayaran Setoran Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan (SWDKLLJ) kurang lebih hanya 10% saja.
d. Periode IV tahun 1974-1976 :
1) Pihak Dipenda dan PT Jasa Raharja meminta dukungan/bantuan polisi agar pembayaran PKB/BBN-KB dan SWDKLLJ dapat terdaftar seluruhnya seperti pendaftaran STNK pada polisi..
2) Atas prakarsa Kapolantas Kodak VII Jakarta Raya Kolonel Polisi Drs.
Putra Astaman yang mendapat dukungan dari Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin, dibuatlah konsep pendaftaran kendaraan bermotor, pembayaran PKB/BBN-KB dan SWDKLLJ dalam satu atap untuk tingkat daerah khusus ibu kota Jakarta.
3) Konsep pendaftaran kendaraan bermotor dan pembayaran PKB/BBN-KB serta SWDKLLJ dalam sistem satu atap mulai disosialisasikan.
e. Periode V tahun 1976-1978 :
1) Masa sosialisasi dan uji coba pelaksanaan pendaftaran kendaraan bermotor dengan sistem satu atap di wilayah DKI Jakarta ternyata signifikan dengan pemasukan kas, daerah pendapatan melalui Pendapatan Asli Daerah Sendiri (PADS) meningkat pesat.
2) Masa berlaku STNK adalah 1 (satu) Tahun.
3) Dari keberhasilan tersebut maka pelaksanaan pendaftaran kendaraan bermotor di wilayah DKI Jakarta sebagai pilot proyek diangkat ke tingkat nasional untuk dibentuk SAMSAT dengan landasan Instruksi Bersama (Menhankam Pangab, Mendagri dan Menkeu RI).
f. Periode tahun 1978 sampai sekarang :
1) Pada tahun 1992 UU No. 3/1965 tentang Lalu Lintas dan angkutan jalan direvisi menjadi UU No. 14/1992, kemudian diterbitkan secara efektif Perpu berlakunya UU No. 14/1992 pada tahun 1993.
2) Tahun 1993 terdapat revisi Instruksi Bersama Menhamkam Pangab, Mendagri dan Menkeu berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1993 yaitu dengan masa berlaku STNK dari 1 Tahun menjadi 5 Tahun namun pembayaran PKB dan SWDKLLJ dilaksanakan setiap tahun melalui pengesahan STNK dilaksanakan oleh Polri.
3) Dengan demikian SAMSAT sampai sekarang masih tetap beroperasional dengan baik, terbukti dengan terselenggaranya pelayanan publik melalui kerjasama antar instansi melalui SAMSAT