• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor Internal Dan Eksternal Penyebab Korupsi

Dalam dokumen Anti Korupsi (Halaman 59-64)

BAB III. FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KORUPSI

B. Faktor Internal Dan Eksternal Penyebab Korupsi

Page 48 komponen yang ada. Komponen yang kinerjanya menurun harus cepat diperbaiki, apa lagi disfungsional harus cepat-cepat diganti sebelum merusak sitem secara keseluruhan.

B. FAKTOR INTERNAL DAN EKSTERNAL PENYEBAB

Page 49 berdasarkan

teori Bologne, Durkhaim, dan Merton.

Jika anda sudah selesai mengerjakan tugas di atas, sekarang mari kita membahas satu persatu apa saja yang termasuk faktor internal dan faktor eksternal penyebab terjadinya korupsi.

1. Faktor Internal

Yang dimaksud dengan faktor internal adalah penyebab yang bersumber atau berasal dari dalam diri 32 individu. Perlu diketahui bahwa manusia memiliki dua unsur, yaitu; unsur jasmani dan unsur ruhani. Unsur jasmani disebut juga unsur fisik atau ragawi, yaitu unsur materi yang dapat diindera. Adapun unsur ruhani terdiri dari dua sub unsur, yaitu; akal dan nafsu. Unsur nafsu itu terdiri dari dua jenis pula, yaitu; nafsu yang mengarahkan pada keburukan (nafsu al-ammarah bissu’) dan nafsu yang mengarahkan kepada kebaikan (nafsu al- mutmainnah)33. Kedua sub unsur nafsu di atas itu lah yang menentukan sikap dan perilaku seorang. Berkaitan dengan tindakan korupsi, pertanyaannya adalah manakah dari unsur-unsur manusia di atas yang mendorong seseorang untuk melakukan tindakan korupsi?

Sekarang mari kita lihat, faktor internal apakah yang menyebabkan orang korupsi. Kita akan mulai dari pertanyaan, “apakah yang menyebabkan orang berbuat

32 Secara etimologi kata “individu” merupakan kata serapan dari bahasa Inggris, yaitu; un” yang berarti “tidak” dan “devide” yang berarti

“dibagi”. Jadi “individu” berarti “tidak dapat dibagi”.

33 Al-Quran AL-Karim Surat An-Nisa’135, Al-Ma’idah 30, Yusuf 53, Ta Ha 96, Sad 26, dan An-Nazi’at 40.

Page 50 buruk, akal atau nafsu?”. Jawabannya adalah “nafsu”!

Tepatnya “nafsu al-ammarah bissu’”. Apakah akal bisa berbuat buruk? Jawabannya adalah “akal tidak bisa berbuat jahat/buruk secara langsung”. Akal hanya berfungsi untuk menguatkan nafsu untuk berbuat jahat/buruk. Akal selalu akan menguatkan tindakan nafsu, baik nafsu yang baik maupun nafsu yang buruk.

Dalam kondisi inilah akal akan menjadi penentu kualitas tindakan yang dilakukan seseorang. Jika akal menjadi penguat tindakan nafsu baik, maka kebaikan seseorang akan sangat berkualitas. Begitu sebaliknya, jika akal menguatkan nafsu jahat maka kualitas kejahatan yang dilakukan seseorang pun akan berkualitas dan sangat merusak (distruktif). Jadi, kualitas kebaikan dan kejahatan sangat ditentukan oleh akal tetapi akal bukan lah faktor penyebab kebaikan dan kejahatan.

Nah! Dalam konteks tindakan korupsi yang dilakukan oleh seseorang, nafsu yang mempengaruhinya adalah nafsu buruk (nafsu al-ammarah bissu’), dan akal akan menjadi penentu kualitas tindakan korupsi yang dilakukan. Nafsu buruk tersebut akan menjelma dalam diri seseorang dalam bentuk keserakahan, tidak bersyukur, keinginan yang tidak berujung34, dan kufur.

Keserakahan, tidak adanya rasa syukur terhadap nikmat rezeki yang diberikan Tuhan, keinginan yang melebihi kemampuan, dan sifat kufur yang menyebabkan terjadinya korupsi akan mampu dikendalikan bilamana dalam jiwa kita terpatri kuat iman kepada Tuhan YME.

Nilai-nilai relegius yang dimiliki akan menjadi

34 Kebutuhan berbeda dengan keinginan. Kebutuhan merujuk pada sesuatu yang harus dimiliki atau didapatkan seseorang untuk memenuhi kepentingan dirinya baik sebagai mahluk individu maupun mahluk sosial. Sedangkan keinginan merujuk pada sesuatu yang hendak didapatkan atau dipenuhi seseorang bukan karena pentingnya sesuatu itu baginya, akan tetapi hanya karena ingin memuaskan kehendaknya (nafsunya) semata.

Page 51 pengendali individu untuk tidak melakukan tindakan korupsi. Mereka yang tidak memiliki iman dalam jiwa lah yang terseret dalam perbuatan keji, korupsi.

Selain itu, gaya hidup yang hedonis juga dapat mendorong orang untuk melakukan tindakan yang tercela, termasuk korupsi. Gaya hidup yang gelamour menuntut pendapatan yang tinggi. Ketika gaya hidup yang gelamour tidak dibarengi dengan tingkat pendapatan yang memadai maka orang akan mencari jalan pintas untuk memenuhi kebutuhannya walaupun dengan cara yang buruk. Sekali lagi, prisai yang paling baik untuk menjaga diri dari perbuatan jahat, termasuk korupsi adalah dengan mempertebal iman, nilai-nilai relegiusitas dalam jiwa kita.

2. Faktor Eksternal

Faktor eksternal adalah sesuatu yang menyebabkan seseorang melakukan atau tidak melakukan sesuatu yang berasal dari luar orang tersebut, atau berasal dari lingkungan sekitar. Jadi, faktor eksternal dapat juga disebut dengan faktor lingkungan. Lingkungan dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu; lingkungan alam dan lingkungan sosial. Lingkungan alam merupakan objek lain yang ada disekitar kita, diluar manusia. Adapun lingkungan sosial merupakan keberadaan orang lain disekitar kita yang dalam keseharian berinteraksi dan berkomunikasi dengan kita. Pertanyaannya adalah dari ke dua lingkungan tersebut, manakah yang mempengaruhi seseorang untuk melakukan tindakan korupsi? Lingkungan alam atau sosial?.

Sesuai teori yang dikemukakan oleh Robert Merton dan Emile Durchime sebagaimana dikemukakan sebelumnya bahwa korupsi dipengaruhi oleh tekanan sosial dan rasa solidaritas. Dari sini dapat dipahami bahwa faktor eksternal yang mendorong terjadinya korupsi adalah pengaruh dari lingkungan sosial. Dalam

Page 52 konsep sosiologis, lingkungan sosial yang paling kecil adalah keluarga yang terdiri dari istri, suami, dan anak.

Jadi, orang yang paling potensial menjadi penyebab dilakukannya tindakan korupsi oleh seseorang adalah, istri, suami, atau anak. Baru kemudian orang-orang yang ada dilingkungan dalam skup yang lebih besar, seperti lingkungan kerja dan organisasi.

Tindakan korupsi selain dipengaruhi oleh orang- orang terdekat kita, faktor lain yang menyebabkan terjadinya korupsi adalah karena sistem organisasi yang ada belum anti korupsi. Artinya sistem yang dibangun belum imun terhadap virus korupsi. Masih banyak celah yang dapat dimanfaatkan oleh orang-orang yang potensial korupsi untuk melakukan tindakan korupsi.

Hal ini kita sebut sebagai kelemahan sistem. Kelemahan- kelemahan sistem yang dapat menyebabkan terjadinya korupsi adalah; norma yang kurang tegas dan interpretatif, prangkat penegak hukum yang kurang tegas dan belum memiliki integritas yang kuat, sistem yang kurang transparan dan belum mengedepankan akuntabilitas. Menurut Robert Klitgard35 penyebab korupsi dapat diformulasikan dalam rumus M+D-A=C. M

= Monopoly, D = Discretionary (kewenangan), A = Accountability (pertanggungjawaban), dan C = Corruption. Jadi, ketika seseorang memonopoli kewenangan, dan kewenangan itu tidak memiliki mekanisme pertanggungjawaban yang jelas, maka disaat itulah korupsi akan terjadi. Oleh sebab itu, sistem yang dibangun dengan baik akan imun terhadap tindakan korupsi.

35 Buku pendidikan anti korupsi untuk perguruan tingg. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Hal. 41.

Page 53

Dalam dokumen Anti Korupsi (Halaman 59-64)