• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendekatan-Pendekatan Dan Metode-Metode

Dalam dokumen Anti Korupsi (Halaman 143-164)

BAB VI. NILAI-NILAI DAN PRINSIP-PRINSIP ANTI KORUPSI

C. Pendekatan-Pendekatan Dan Metode-Metode

Page 132 akan terlalu berat karena setiap penyelenggara negara akan mengontrol dan menjaga dirinya sendiri.

C. PENDEKATAN-PENDEKATAN DAN METODE-METODE

Page 133 Kalau sudah selesai menuliskan pendapat anda, sekarang silahkan anda membaca dengan seksama penjelasan tentang bagaimana strategi internalisasi nilai anti korupsi. Pembahasan akan dilakukan dalam perspektif teoritik dan perspektif emperis. Dalam perspektif teoritik, di sini akan dikemukakan beberapa teori yang mendukung atau menjelaskan bagaimana nilai seharusnya diinternalisasi dalam jiwa masing-masing orang sehingga bisa mempribadi dan tercermin dalam kehidupan sehari- hari. Adapun bahasan dalam perspektif emperis akan membahas bagaimana realitas penanaman nilai harus dilakukan.

Berbicara tentang internalisasi nilai, kita harus memahami betul bagaimana nilai bisa masuk ke dalam jiwa seseorang. Kita harus paham tahapan-tahapan yang dilalui dalam proses internalisasi. Kalau kita tidak memahami dengan baik tentang hal tersebut, kemungkinan besar proses penanaman nilai yang kita lakukan akan gagal, atau paling tidak kita tidak punya dasar teoritik yang baik untuk melakukan tindakan tertentu. Dengan demikian, bisa jadi kita melakukan tindakan yang tidak tepat dan efisien dalam melakukan internalisasi nilai.

Untuk memahami bagaimana nilai berproses masuk ke dalam jiwa seseorang, teori yang dapat menjelaskan hal tersebut adalah teori yang dikemukakan oleh Krahtwohl81 dengan lima tahapan yang kita kenal dengan taxonomi sikap. Taxonomi sikap yang dikemukakan Krathwohl dapat dilihat pada bagan di bawah;

81Kemdikbud. Konsep dan manajemen perubahan dalam pelaksanaan Kurikulum 2013. Makalah disampaikan pada acara sosialisasi Kurikulum 2013. Nagoya Hotel.

Page 134 Smartart 1. Taxonomi Sikap Krathwohl

Dari semartart di atas dapat dirumuskan tiga prinsip penanaman nilai, yaitu; Pertama, internalisasi nilai harus dilakukan secara bertahap dan berjenjang, yaitu mulai dari bagian ranah yang paling bawah dan sederhana, kemudian dilanjutkan secara urut ke jenjang-jenjang yang lebih tinggi.

Penanaman nilai tidak bisa dari atas ke bawah, atau dilakukan zig-zag. Kedua, internalisasi nilai harus dilakukan secara sistematis, artinya penanaman nilai melibatkan beberapa komponen, yaitu; pebelajar, sumber datangnya nilai, dan harus memiliki cara tepat dan efektif. Ketiga, keberhasilan internalisasi nilai ditentukan oleh pebelajar itu sendiri, bukan oleh sumber belajar/sumber datangnya nilai.

Hal ini dikarenakan pebelajar itulah yang melakukan proses internalisasi tersebut, sedangkan sumber belajar/sumber nilai hanya sebagai referensi yang memberikan cahaya penerang jalan. Pebelajar lah yang menentukan kemana akan melangkah, sampai dimana nilai akan diinternalisasi.

Berdasarkan gambar di atas pula, dapat dijelaskan lebih lanjut tahapan internalisasi nilai anti korupsi yang dapat dilakukan, yaitu;

1. Menerima (accepting)

Dalam proses internalisasi nilai secara umum, termasuk nilai anti korupsi, pintu pertama yang harus dibangun adalah kerelaan pebelajar untuk menerima

Page 135 atau keberterimaan pebelajar terhadap informasi, dalam hal ini berupa nilai dari sumber belajar. Sebagai pintu pertama, tahapan “menerima” ini menentukan apakah proses internalisasi akan berlanjut atau berhenti sampai di sini. Apabila pebelajar menolak/tidak mau menerima informasi berupa nilai tersebut maka proses internalisasi sudah pasti gagal. Sebaliknya, apabila pebelajar menerima informasi berupa nilai tersebut maka proses penanaman nilai dapat dilanjutkan ke tahapan berikutnya.

Jadi, tugas dosen/guru di sini adalah bagaimana nilai yang dibelajarkan tersebut disambut dengan hati terbuka oleh pebelajar. Disinilah tugas menantang seorang Dosen/guru. Oleh sebab itu, Dosen/guru harus mampu membawa diri sebagai transformer yang selalu menarik dan memiliki daya pikat yang baik bagi pebelajar.

2. Merespon (Responding)

Apabila pebelajar membuka diri terhadap nilai yang dipelajari, maka tahapan kedua proses internalisasi nilai adalah pebelajar memberikan tanggapan terhadap nilai tersebut. Bentuk tanggapan yang dimaksud adalah keinginan pebelajar untuk mengambilnya atau mempelajarinya. Kalau hanya menerima saja tidak memberikan dampak perubahan apa-apa. Oleh sebab itu, pebelajar harus dipastikan tertarik untuk mempelajari nilai tersebut. Kemasan pembelajaran yang baik dan menarik penting dilakukan dosen/guru disini. Karena kalau tidak pebelajar akan bosan sebelum belajar.

Kondisi seperti itulah yang sering terjadi pada mata pelajaran-mata pelajaran nilai dan moral selama ini.

3. Menilai (valuing)

Menilai merupakan proses menimbang dan mengukur yang dilakukan pebelajar dengan menggunakan referensi yang dimiliki, logika, dan hati

Page 136 nurani. Dalam pase ini pebelajar akan memberikan keputusan bagi dirinya sendiri, apakah nilai yang dipelajarinya itu baik atau tidak, bisa dijadikan miliknya atau tidak. Kalau pebelajar menganggap nilai itu benar dan dia butuhkan dalam kehidupannya, maka dia akan mengambil nilai tersebut yang berarti proses internalisasi nilai akan berlanjut pada tahap berikutnya.

Jika yang terjadi sebaliknya, maka proses internalisasi akan berhenti sampai di sini.

4. Internalisasi (internalizing)

Seperti dikemukakan di atas, apabila pebelajar menganggap baik dan penting nilai itu bagi dirinya, maka proses internalisasi nilai akan dilanjutkan ke pase internalisasi. Internalisasi merupakan proses memasukkan nilai ke dalam jiwa sampai nilai itu menjadi keyakinan yang mendarah daging yang selalu menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Pada pase inilah dibentuk wujud nilai anti korupsi dalam jiwa setiap individu. Pase ini bisa disebut juga dengan tahap

“pembentukan kepribadian”, yang dalam konteks bahasan ini disebut “membentuk kepribadian anti korupsi”. Kalau pada pase ini proses penanaman nilai anti korupsi berhasil, maka akan terbentuk manusia- manusia Indonesia yang memiliki kepribadian anti korupsi.

Pertanyaannya! Kenapa kasus korupsi yang banyak terjadi selama ini, orang-orang yang terlibat dalam tindakan korupsi adalah mereka yang memahami konsep dan nilai-nilai anti korupsi? Mereka yang berpendidikan?

Jawabannya adalah karena mereka gagal dalam melakukan internalisasi nilai dalam jiwanya. Konsep anti korupsi hanya jargon dan retorika, belum mempribadi.

Nilai-nilai korupsi belum mengalir bersama aliran darahnya.

Page 137 5. Aktualisasi (actualizing)

Pase puncak dari proses internalisasi nilai adalah aktualisasi nilai. Artinya, nilai-nilai anti korupsi yang sudah mendarah daging dijadikan sebagai cara dan gaya hidup.

Nilai-nilai tersebut akan selalu menjadi pedoman (way of life) dan menjadi koridor dalam menjalankan tugasnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pada pase ini pula lah kita bisa mengukur dan menilai sejauh mana nilai- nilai tertentu, termasuk nilai-nilai anti korupsi sudah terpatri dalam jiwa. Mungkin kita masih ingat iklan TV dengan hestextSTOP KORUPSI” yang dilakukan para politisi dari partai tertentu. Hampir semua dari mereka tersandung karupsi. Contoh ini menggambarkan betapa konsep dan nilai-nilai anti korupsi yang dimilikinya belum mempribadi, masih sebatas retorika belaka.

Nah! Kelima tahapan sikap (taxonomi sikap) yang sekaligus menjadi tahapan proses internalisasi nilai harus dipahami dengan baik oleh kita, jika menginginkan untuk memiliki sikap dan tindakan anti korupsi. Begitu juga dalam kegiatan pendidikan anti korupsi yang diberikan pada semua lapisan masyarakat, narasumber harus terlebih dahulu memahami dengan baik bagaimana tahapan penanaman nilai dilakukan. Dengan demikian, proses penanaman nilai anti korupsi bisa dilakukan dengan baik dan efektif.

Selain tahapan penanaman nilai seperti dikemukakan di atas, pendekatan dan metode penanaman nilai yang tepat juga harus dipahami dengan baik. Berkaitan dengan pendekatan penanaman nilai, ada tiga pendekatan yang menjelaskan tentang hal tersebut. Ketiga pendekatan penanaman nilai tersebut adalah;

1. Pendekatan Pengetahuan (kognitif)

Tokoh dari pendekatan kognitif adalah Piaget dan Kohlberg. Menurut pendekatan kognitif, penanaman nilai

Page 138 harus dimulai dengan penanaman konsep82. Jadi, kalau kita mau membangun sikap seseorang, harus dimulai dengan membangun pemahaman konsep terlebih dahulu, tidak bisa dengan menginternalisasi nilai.

Bahkan menurut pandangan ini, jika pemahaman terhadap konsep sudah bagus, maka secara otomatis sikap dan tindakan moralnya akan bagus. Jadi, kalau pengetahuan tentang korupsi dan nilai-nilai anti korupsi sudah bagus, maka dengan sendirinya nilai-nilai anti korupsi akan terinternalisasi dengan baik. Begitu juga dengan sikap dan tindakan moral korupsinya sudah pasti orang tersebut akan anti korupsi dan tidak akan melakukan korupsi.

Mungkin anda tidak sependapat dengan pandangan kognitif di atas, tetapi itulah keyakinan aliran tersebut.

Dan menurut hemat saya, pendapat tersebut tidak sepenuhnya salah atau ada benarnya. Silahkan anda lihat contoh di sekeliling anda, banyak orang yang baik tetapi ilmunya sedikit, maka orang itu hanya bisa berbuat baik sebatas apa yang dia ketahui. Di sisi lain, ada orang yang baik dan memiliki ilmu yang luas, maka orang itu melakukan kebaikan yang luas dan hebat, yang sesuai dengan pengetahuannya.

Jadi, di sini saya ingin tegaskan bahwa ilmu tidak berpengaruh langsung pada perbuatan baik-buruk seseorang, akan tetapi ilmu menentukan keluasan dan kualitas perbuatan baik seseorang. Ilmu menopang kebaikan yang wujud dari potensi baik yang berhasi dikembangkan oleh individu. Begitu juga sebaliknya, ilmu juga menopang potensi buruk yang berkembang dalam diri seseorang. Itulah sebabnya jika orang jahat

82 M Nur dan Masitah, 2004. Teori Perkembangan Sosial dan Perkembangan Moral. Unesa Press. Hal. 33-44. Lawrence Kohlberg, 1995. Tahap-tahap Perkembangan Moral. Kanisius. Hal. 29-63

Page 139 memiliki ilmu yang luas dan mendalam, maka keluasan dan kualitas kejahatannya pun menjadi luar biasa.

Adapun metode penanaman nilai, termasuk nilai- nilai anti korupsi menurut pendekatan ini adalah dengan menggunakan metode-metode pembelajaran kognitif83. Dengan metode-metode tersebut penanaman konsep akan berhasil dilakukan dengan baik yang secara otomatis akan menginternalisasi nilai-nilai anti korupsi.

2. Pendekatan Hati

Pendekatan hati disebut juga dengan “penggetaran hati”. Tokoh dari pendekatan ini adalah Al-Gazali.

Menurut pendekatan ini, pembentukan sikap dan moral seseorang ditentukan oleh sejauh mana hati orang tersebut bisa digetarkan84. Jadi, pembentukan moral dimulai dari penggetaran hati, bukan seperti yang diyakini oleh paham kognitif. Oleh sebab itu, jika kita mau peserta didik kita memiliki moral yang baik maka yang harus dilakukan adalah dengan menyentuh hatinya.

Melalui sentuhan hati inilah proses penanaman nilai dilakukan.

Dalam pandangan paham ini, pemahaman konsep bukan berarti tidak penting, tetapi tidak berpengaruh langsung pada pembentukan sikap moral dan tindakan moral. Penghujaman nilai dalam hati yang menyebabkan ketundukan seseorang terhadap nilai dan ajaran moral itulah yang membuat orang punya sikap moral dan tindakan moral yang baik.

Metode internalisasi nilai yang dapat dilakukan di sini adalah metode-metode yang titik fokusnya pada penggetaran hati seseorang. Diantara metode yang dapat

83 Baca Teori-teori Belajar Kognitif. M Nur dkk. 2004.Unesa Press.

84 Baca Tahap-tahap Perkembangan Moral. Lawrence Kohlberg, 1995.

Kanisius. Teori Perkembangan Sosial dan Perkembangan Moral. M Nur, 2004. Unesa Press.

Page 140 digunakan di sini adalah; moralizing85, PBL, dan metode- metode sejenis lainnya.

3. Pendekatan Lingkungan (empiris)

Pendekatan penanaman nilai berikutnya yang dapat dilakukan adalah pendekatan lingkungan (emperis).

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa lingkungan (meliu) sangat menentukan nilai, sikap, dan moralitas anak. Hal ini pulalah yang dijelaskan oleh Teori Emperisme yang dikemukakan oleh John Lock86. Teori ini berkeyakinan bahwa perkembangan individu, termasuk perkembang- an sikap ditentukan oleh lingkungan, bukan oleh yang lainnya. Walaupun teori ini tidak sepenuhnya benar karena menapikan faktor-faktor yang lain yang sesungguhnya berpengaruh pula terhadap perkembang- an individu, akan tetapi teori ini secara emperik terbukti betapa lingkungan sangat berpengaruh terhadap nilai, sikap dan moral seseorang.

Berangkat dari pandangan empiris di atas, maka metode penanaman nilai, sikap, dan moral yang harus dilakukan adalah membentuk sistem sosial atau lingkungan sosial yang baik, yaitu lingkungan yang kaya dengan nilai-nilai yang dianut. Kalau saja kita tidak mampu membentuk lingkungan baru yang ideal sesuai dengan nilai yang kita yakini dan pedomani, maka orang tua anak harus mencari dan menemukan lingkungan yang tepat bagi perkembangan nalai, sikap dan moral anaknya. Hanya dengan cara inilah internalisasi nilai, pembentukan sikap dan tindakan moral bisa dilakukan.

85 Baca Strategi Pengajaran Afektif-Nilai-Moral VCT dan Game dalam VCT. Kosasih Djahiri, 1980. Granesia Bandung.

86 Sumadi Suryabrata, 2005. Psikologi Pendidikan. PT Radja Grafindo Persada. Hal. 178-179.

Page 141 Rangkuman

Nilai tidak sama dengan harga, tidak sama dengan sesuatu yang berharga, tidak sama dengan kualitas, dan tidak sama pula dengan sifat. Nilai adalah benda abstrak yang berdiri sendiri yang melekat pada semua benda dan peristiwa. Nilai dapat diartikan dengan keberhargaan.

Berkaitan dengan nilai-nilai anti korupsi, terdapat paling tidak 12 jenis nilai anti korupsi, yaitu;

1. Nilai kejujuran, 2. Nilai kepedulian, 3. Nilai kemandirian, 4. Nilai kedisiplinan, 5. Nilai tanggungjawab, 6. Nilai kerja keras, 7. Nilai kesederhanaan, 8. Nilai keberanian, 9. Nilai keadilan,

10. Nilai qonaah (cukup dengan yang ada) 11. Nilai bersyukur

12. Nilai rela berkorban, dan 13. Nilai keikhlasan.

Dalam menginternalisasi nilai-nilai anti korupsi di atas harus dilakukan secara urut dan sistematis sesuai dengan tahapan sebagaimana dikemukakan oleh Krathwohl dengan taxonomi sikapnya, yaitu;

1. Menerima (receiving) 2. Merespon (responding) 3. Menilai (valuing)

4. Internalisasi (internalizing) 5. Penerapan (actualizing).

Page 142 Adapun pendekatan dan cara penanaman nilai dapat dilakukan dengan tiga pendekata, yaitu;

1. Pendekatan pengetahuan (kognitif); Pendekatan ini memiliki metode penanaman nilai mengikuti kaedah strategi belajar kognitif.

2. Pendekatan hati atau penggetaran hati; Penanaman nilai dalam pendekatan ini dapat dilakukan melalui metode- metode yang langsung pada membangkitkan emosional, seperti Moralizing.

3. Pendekatan lingkungan (empiris); Pada pendekatan ini internalisasi nilai dapat dilakukan melalui pembentukan dan pemilihan lingkungan (miliu) yang baik.

Selain nilai-nilai yang harus diinternalisasi sesuai dengan pendekatan dan metode di atas, hal lain yang penting dipahami adalah prinsip-prinsip anti korupsi. Ada enam prinsip anti korupsi yang harus ditegakkan, yaitu;

1. Integritas, 2. Akuntabilitas, 3. Transparansi, 4. Kewajaran, 5. Kebijakan, dan 6. Kontrol kebijakan,

Page 143 Tugas

Setelah anda mempelajari bab ini, tugas berikutnya adalah menganalisis kelemahan-kelemahan penanaman nilai anti korupsi di Indonesia. Anda bisa mengemukakan kelemahan-kelemahan tersebut dari berbagai sisi sesuai keluasan berfikir anda. Setelah itu berikan pendapat anda bagaimana cara menanamkan nilai anti korupsi yang tepat bagi rakyat Indonesia. Tugas boleh dibuat dalam bentuk tabel atau dalam bentuk narasi.

Uji Kompetensi

Petunjuk Pengerjaan Soal!

Soal terdiri dari soal pilihan ganda dan soal uraian.

Untuk soal pilihan ganda, jawablah dengan memberi tanda silang (x) pada jawaban yang anda anggap paling benar!

Sedangkan untuk soal uraian, silahkan tuliskan jawaban anda pada kolom yang sudah disediakan!

Soal Pilihan Ganda

1. Ada banyak nilai anti korupsi yang harus diinternalisasi untuk membentuk warga negra yang anti korupsi. Nilai- nilai anti korupsi tersebut adalah…….

a. Kejujuran, tanggungjawab, sederhana, kebersamaan, dan qonaah

b. Qonaah, sederhana, kedisiplinan, kepedulian, kesungguhan

c. Keikhlasan, kejujuran, bersyukur, kerja keras, dan keadilan

d. Kemandirian, kepedulian, ketakwaan, dan kejujuran 2. Di bawah ini pengertian nilai yang paling tepat,

yaitu………

a. Kebermaknaan b. Harga

c. Sesuatu yang berharga d. Kualitas

Page 144 3. Nilai merupakan entitas yang berdiri sendiri dan melekat pada semua benda dan kejadian. Nilai yang melekat pada norma disebut………

a. Nilai dasar b. Nilai objek c. Nilai praktis d. Nilai instrumental

4. Kualitas pribadi yang jujur, tulus, dan tidak bisa disuap menjadi faktor penting yang harus dimiliki setiap orang untuk mencegahnya melakukan tindakan korupsi.

Pernyataan tersebut merupakan penjelasan dari prinsip

………

a. Akutabilitas b. Integritas c. Transparansi d. Akseptabilitas

5. Dalam proses internalisasi nilai-nilai anti korupsi kita harus mampu memilih pendekatan yang tepat agar nilai- nilai tersebut bisa mempribadi. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah pendekatan empiris. Di bawah ini adalah penjelasan yang tepat tentang pendekatan empiris

a. Penanaman nilai-nilai anti korupsi bisa dilakukan melalui pembelajaran konsep yang secara langsung berpengaruh terhadap sikap dan tindakan moral b. Sikap dan tindakan moral ditentukan oleh

pengetahuan moral yang dimiliki. Oleh sebab itu, penanaman konsep merupakan hal pokok dalam proses internalisasi nilai

c. Penanaman nilai anti korupsi salah satunya bisa dilakukan melalui lingkungan yang penuh dengan nilai-nilai anti korupsi.

d. Penanaman nilai-nilai anti korupsi dapat dilakukan melalui penggetaran hati

Page 145 Soal Urain

1. Jelaskan nilai-nilai anti korupsi di bawah ini a. Kesederhanaan

b. Kejujuran c. Keberanian

2. Jelaskan perbedaan antara nilai dasar, nilai instrumental, dan nilai praksis.

3. Jelaskan bagaimana integritas dapat menghindarkan seseorang untuk melakukan korupsi

4. Jelaskan perbedaan antara pendekatan kognitif, penggetaran hati, dan pendekatan empiris dalam penanaman nilai-nilai anti korupsi.

5. Jelaskan motode yang bisa dilakukan untuk menginternalisasi nilai-nilai anti korupsi yang sesuai dengan pendekatan kognitif.

Page 146 DAFTAR PUSTAKA

Agung, R. (2015). Korupsi dalam perspektif Agama Budha.

Diakses dari http://22agungriyanto.blogspot.co.id.

Al-Quran Al-Karim. Digital.

Alamendah’s Blog. (2017). Kerusakan lingkungan hidup di Indonesia dan penyebabnya. Diakses dari https://

alamendah. org.

Amirin, T. (1984). Pokok-pokok teori system. CV. Rajawali.

Anonim. (2017). Menghitung jumlah ideal prajurit TNI.

Diakses dari https://garudamiliter.blogspot.co.id.

Bali Mandara. (2014). Korupsi dari kacamata Agama Hindu.

http://www.dispenda.baliprov.go.id.

Badan Pusat Statistik. (2017). Profil kemiskinan di Indonesia September 2016. Diakses dari https://www.bps.go.id /Brs/view/id/1378.

Bertens, K. (2001). Etika. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Centeral advokat. (2015). Sejarah pemberantasan korupsi di Indonesia. Diakses dari http://hukumpalembang.

blogspot.co.id.

CNN Indonesia. (2016). BPS: Jumlah pengangguran di Indonesia menciut 530 Ribu Orang. Diakses dari http://www.cnnindonesia.com/ekonomi.

Darmadi, D. (2007). Dasar konsep pendidikan moral.

Bandung : Alfabeta.

Dirjen Dikti Kemdikbud RI. (2011). Pendidikan anti korupsi untuk perguruan tinggi. Dirjendikti, Kemdikbud, RI.

Jakarta

Djahiri, K. (1980). Strategi pengajaran afektif-nilai-moral VCT dan game dalam VCT. Bandung: Granesia.

DPP JP TIPIKOR. (2011). Pandangan Agama Kristen tentang korupsi. Diakses dari http://dpp13jptipikor.blogspot.

co.id.

Echols, J.M. dan Shadily, H. (2003). Kamus Inggris-Indonesia.

Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Page 147 Eni, N. W. F. (2014). Korupsi membawa jiwa ke dalam

kegelapan. Diakses dari enifebriyanti.bolspot.go.id.

Fernando, S. (2014). Bagaimana alkitab memandang korupsi.

Diakses dari http://bungfernando.blogspot. co.id.

Fiwka, E. (2017). 10 pengertian korupsi menurut para ahli.

Diakses dari www://perpussekolah.com.

Flo, E. (2017). Perbandingan kekuatan militer Indonesia vs Australia. Diakses dari https://www.merahputih.

com.

Gloria, D. S. (2008). Jangan mencuri. Diakses dari http://

andrew-setiawan.blogspot.co.id.

Husain, S. H. (2008). Suap dan korupsi dalam perspektif syariah. Amzah.

ICW. (2013). Rapor merah: Sepuluh tahun korupsi pendidikan. Diakses dari http://www.antikorupsi.

org.

Ilmu Pengetahuan Umum. (2017). Profil 10 negara anggota ASEAN. Diakses dari http://ilmupengetahuanumum.

com.

Irawan, A. (2017). ICW ungkap korupsi di dunia pendidikan.

Diakses dari http://www.tribunnews.com.

Jujun, S. (1999). Filsafat ilmu sebuah pengantar. Pustaka Sinar Harapan.

Kemdikbud. (2013). Pedoman pengembangan kurikulum 2013 untuk SD. Tidak diterbitkan.

Kemdikbud. (2013). Konsep dan manajemen perubahan dalam pelaksanaan kurikulum 2013. Makalah disampaikan pada acara sosialisasi kurikulum 2013.

Nagoya Hotel.

Kemdikbud. (2014). Kurikulum 2013 untuk sekolah dasar.

Tidak Diterbitkan.

Klinik Hukum. (2015). Sejarah pemberantasan korupsi di Indonesia. Diakses dari http://hukumpalembang.

blogspot.co.id.

Page 148 Komisi Pemberantasan Korupsi. (2006). Memahami untuk membasmi; Buku saku untuk memahami tindak pidana korupsi. Jakarta

Kohlberg, L. (1995). Tahap-tahap perkembangan moral.

Kanisius.

KPK Watch. (2016). Pelaku korupsi di Indonesia. Diakses dari https://www.google.co.id.

KPK. (2014). Semua bisa beraksi; Panduan memberantas korupsi dengan mudah dan menyenangkan.

Merdeka.com. (2016). Kapolri sebut personel Polisi di RI terbanyak nomor 2 di dunia. Diakses dari https://www.merdeka.com.

Militerhankam.com. (2016). Alokasi belanja militer di Asean, Indonesia peringkat kedua. Diakses dari http://www.

militerhankam.com.

Militermeter.com. (2017). Kekuatan militer negara-negara di dunia. Diakses dari http://militermeter.com.

M Nur. (2004). Strategi belajar mengajar. Surabaya: Unesa University Press.

M Nur dan Masitah. (2004). Teori perkembangan sosial dan perkembangan moral. Surabaya: Unesa Press.

M Nur dkk. (2004). Teori-teori belajar kognitif. Surabaya:

Unesa Press.

Muhammad, T. A. (2012). Jika hati baik. Diakses dari https://rumaysho.com.

Permendikbud No. 65 tahun 2013 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah. Tidak Diterbitkan.

Permendikbud No. 24 tahun 2007 tentang Standar Sarana dan Prasarana Pendidikan Dasar dan menengah.

Fokusmedia, 2008.

Pius, P. dan Dahlan, A. (1994). Kamus ilmiah populer. Arkola.

Pusat Studi Ilmu Geografi Indonesia. (2016). 11 kekayaan alam Indonesia yang mendunia. Diakses dari http://ilmugeografi.com.

Rahmie, W. (2011). Munculnya kedaulatan dan negara modern. Diakses dari Rahmiewinata.blogsport.ac.id.

Page 149 Ridwan, M. (2016). Indonesia harus gunakan indikator kemiskinan multidimensi. Diakses dari http://www.

kompasiana.com.

Sekretariat Jenderal MPR RI. (2015). Undang-undang Dasar 1945.

Sugiyanto. (2010). Model-model pembelajaran inovatif.

Yuma Pustaka.

Sumadi, S. (2005). Psikologi pendidikan. PT Radja Grafindo Persada.

Sumardi, L. (2005). Buku ajar Ilmu Politik. Tidak Diterbitkan Suprapto, H. (2015). Kronologi kasus Labora, polisi pemilik

rekening Rp1,5 T. Diakses dari http://www.viva.co.id.

Surbakti, R. (2006). Pengatar ilmu poitik. Jakarta: Rajawali Press.

Sutarjo, W. (2009). Pengantar filsafat. PT Rafika Aditama.

Trianto. (2007). Model-model pembelajaran inovatif berorientasi konstruktivistik. Prestasi Pustaka Publiser.

UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Sinar Grafika.

Wikipedia, Insiklopedia Bebas. (2017). Sejarah Mesir kuno.

Diakses dari https://id.wikipedia.org.

Wikipedia, Insiklopedia Bebas. (2017). Daftar negara menurut PDB (KKB) perkapita. Diakses dari https://id.wikipedia.org.

Wikipedia, Insiklopedia Bebas. (2017). Ekonomi Singapura.

Diakses dari https://id.wikipedia.org.

Wikipedia, Inseklopedia Bebas. (2017). Indek persepsi korupsi. Diakses dari https://id.wikipedia.org.

Willy, Y. W. (2005). Korupsi perspektif Buddhis. Diakses dari https://willyyandi.wordpress.com.

Dalam dokumen Anti Korupsi (Halaman 143-164)