• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor Pendukung dan Penghambat Penguatan Pendidikan Multikultural

BAB III PEMBAHASAN

B. Faktor Pendukung dan Penghambat Penguatan Pendidikan Multikultural

Proses penguatan pendidikan multikultural dalam membangun pemahaman siswa tentang moderasi agama ini terdapat faktor yang mendukung diantaranya adalah:

a. Dukungan warga SMPN 14 Mataram

Berdasrkan observasi pada tanggal 12 september 2022, penguatan pendidikan multikultural dalam membangun pemahaman siswa tentang moderasi beragama di lingkungan SMPN 14 Mataram sangat didukung oleh seluruh warga sekolah, mulai dari karyawan, guru-guru,serta para siswa sendiri. Hal ini dibuktikan dengan kesadaran para guru-guru dan staf SMPN 14 Mataram dalam menciptakan lingkungan dan hubungan yang harmonis antara sesama sehingga progres penguatan pendidikan multikultural dalam membangun pemahaman siswa tentang moderasi beragama sangat mudah ditanamkan kepada siswa SMPN 14 Mataram.

Perlakuan pedagodik tanpa pandang bulu (equity pedagogy) adalah upaya guru memperlakukan secara sama tanpa pandang bulu dalam proses pembelajaran di kelas. Dimensi ini memperhatikan cara-cara dalam mengubah fasilitas pembelajaran sehingga mempermudah pencapaian hasil belajar pada sejumlah siswa dari berbagai kelompok. Strategi dan aktivitas belajar di sekolah diupayakan memperlakukan pendidikan secara adil, antara lain dengan bentuk kerjasama (cooperatve learning), dan bukan dengan cara-cara yang kompetitif (competition learning). Hal ini juga menyangkut pendidikan yang dirancang untuk membentuk lingkungan sekolah, menjadi banyak jenis kelompok, termasuk kelompok etnik, wanita, dan para pelajar dengan kebutuhan khusus yang akan memberikan pengalaman pendidikan persamaan hak dan persamaan memperoleh kesempatan belajar. Hal ini akan terlihat dari metode yang

186 Zainuddin, Pluralisme Agama (Malang: UIN Maliki Pers, 2010), hlm. 143.

187 JCE, Volume

2 No. 1 2019. Hlm. 26.

60

digunakan, cara bertanya, penunjukkan siswa, pengelompokkan siswa, dan sebagainya.188

Sementara reduksi prejudice adalah upaya guru membantu siswa mengembangkan sikap positif terhadap perbedaan (baik dari sisi suku, budaya, ras, gender, status sosial, dll.) Sebagai contoh, adalah tidak benar kalau guru mendorong sikap atau prasangka yang menganggap bahwa orang Papua yang berkulit hitam adalah terbelakang, bodoh dan lain-lain. Prejudice yang tidak benar terhadap gender, ras, budaya dan lain-lain dalam proses interaksi di sekolah inilah yang harus dihindari.189

b. Guru yang beragam

Observasi pada tanggal 12 September peneliti melihat bahwa guru-guru secara porsi seimbang. Semua agama ada, sehingga tidak ada dominasi untuk satu guru agama tertentu. Dengan adanya guru yang seimbang ini juga menjadikannya lebih mudah dalam memberikan pemahaman terkait dengan moderasi beragama. Karena, secara tidak langsung antar guru ini sudah mencerminkan sikap toleransi yang pada diperlihatkan kepada anak-anak agar mereka juga dapat mencontohnya.

Menurut Zamroni pluralisme adalah suatu masyarakat yang beragam mulai dari agama, suku, dan status sosial namun semua masyarakat dapat tetap bekerjasama dan saling bergantung satu sama lain demi terwujudnya kehidupan kesatuan bermasyarakat dan bernegara.190

Pendapat tersebut sesuai dengan pendapat yang mengemukakan bahwa dalam kehidupan di masyarakat yang majemuk diperlukan sikap sosial yang positif.

Sikap positif tersebut antara lain sikap menerima, mengakui dan menghargai keberagaman. Dalam hal ini perlu adanya pengembangan sikap sosial yang positif tersebut yakni melalui sikap toleransi, simpati, serta mendukung dan mengupayakan kehadiran kelompok lain.191

c. Sekolah memberikan keluasan bagi siswa dalam mengembangkan potensi.

Berdasarkan hasil wawancara peneliti mendapatkan informasi dari informan dimana sekolah memberikan keluasan kepada siswa dalam mengembangkan potensinya baik melalui intra maupun ekstra sekolah sehingga siswa dapat berperan aktif dalam kegiatan sekolah dan mengurangi konflik suku dan agama.

Sekolah juga memiliki kegiatan pengembangan diri dan ekstrakurikuler yang memberikan kesempatan untuk siswa mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat dan minat, untuk seluruh siswa tanpa terkecuali. Sekolah juga memiliki kegiatan pembiasaan yang dijadikan proses pembentukan, penanaman, dan pengamalan nilai-nilai budi pekerti luhur yang

188 Dewi Indrapangastuti, Jurnal

Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi, Volume 2, Nomor 1, 2014. Hlm. 21.

189 Dewi Indrapangastuti, Jurnal

Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi, Volume 2, Nomor 1, 2014. Hlm. 21

190 Zamroni, Pendidikan Demokrasi Pada Masyarakat Multikultural, (Yogyakarta: Ombak, 2013), hlm. 26.

191 Abdullah Aly, Pendidikan Islam Di Pesantren, (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2012), hlm. 59.

61

tentunya juga mendukung penguatan pendidikan multikultural dalam membangun pemahaman siswa tentang moderasi beragama.

Menurut Zamroni demokrasi merupakan suatu gagasan yang mengutamakan persamaan hak dan kewajiban serta perlakuan yang sama bagi semua orang.

Untuk mendidik warga negara yang baik guna terwujudnya masyarakat demokratis perlu adanya penanaman pada generasi baru mengenai pengetahuan dan kesadaran akan kelangsungan demokrasi yang tergantung pada keberhasilan mentransformasikan nilai-nilai demokrasi yang meliputi kebebasan.192

Nilai demokrasi ini sejalan dengan program UNESCO tentang educationfor all (EFA), yaitu sebuah program pendidikan yang memberikan peuan atau atau kesempatan yang sama kepada semua peserta didik untuk memperoleh pendidikan. Akan tetapi pendidikan untuk semua ini bukan hanya terbatas pemberian peluang yang sama, melainkan juga berarti memperoleh perlakuan yang sama.193

d. Kurikulum Sekolah.

Berdasarkan hasil wawancara peneliti mendapatkan informasi adapun kesimpulannya yaitu dengan visinya yaitu berprestasi berbudaya berlandaskan iman dan taqwa. SMPN 14 Mataram menerapkan pendidikan konsep ketaman siswaan dan nilai nilai budi pekerti luhur secara integral dalam pembelajaran khususnya dan pendidikan pada umunya. Kurikulum sekolah memperhatikan keragaman karakteristik peserta didik, kondisi daerah, jenjang dan jenis pendidikan, serta menghargai dan tidak diskriminatif terhadap perbedaan agama, suku, budaya, adat istiadat, status sosial ekonomi, dan gender. Landasan yuridis dalam menerapkan pendidikan multikultural di SMPN 14 yaitu berdasarkan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 merupakan landasan konstitusional. UUD 1945 juga mengandung muatan nilai, norma dan etika bermasyarakat maupun berbangsa. Hal itu dapat dicermati pada pembukaan UUD dan batang tubuh UUD. Muatan UUD menganjurkan pentingnya keselarasan hak dan kewajiban setiap warga negara. Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) Nomor 20 tahun 2003 sebagai landasan operasional penyelenggara pendidikan nasional. Berdasarkan ketetapan UUSPN ini mengandung implikasi perlunya mendesain pembelajaran yang sesuai dengan budaya masyarakat, norma, masyarakat dan kebutuhan masyarakat.

Integrasi konten adalah upaya guru memberikan atau menggunakan contoh dan materi dari berbagai budaya dan kelompok untuk mengajarkan konsep kunci, prinsip, generalisasi, teori dan lain-lain ketika mengajar suatu topik atau mata pelajaran tertentu. Dimensi ini digunakan guru untuk memberikan berbeda-beda. Secara khusus, para guru menggabungkan kandungan materi

192 Zamroni, Pendidikan Demokrasi Pada Masyarakat Multikultural, (Yogyakarta: Ombak, 2013), hlm. 26.

193 Abdullah Aly, Pendidikan Islam Multikultural Di Pesantren, (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2012) hlm. 59.

62

pembelajaran kedalam kurikulum dengan beberapa fondasi dan aplikasi cara pandang yang beragam, Salah satu pendekatan umum adalah mengakui kontribusinya, yaitu guru-guru bekerja ke dalam kurikulum mereka dengan membatasi fakta tentang semangat kepahlawanan dari berbagai kelompok. Di samping itu, rancangan pembelajaran dan unit pembelajarannya tidak dirubah.

Dengan beberapa pendekatan, guru menambah beberapa unit atau topik secara khusus yang berkaitan dengan materi multikultural. Sebagai contoh, ketika guru mengajar topik menggambar motif batik, kemudian dikaitkan dengan berbagai macam motif batik di berbagai daerah penghasil batik di Indonesia. Artinya, yang dimaksud dengan integrasi konten adalah mengintegrasikan pendidikan multikultur ke dalam mata pelajaran/topik pelajaran. Dengan kata lain, sambil belajar biologi, terjadi penyadaran akan perbedaan budaya194

Faktor penghambat dalam menerapkan pendidikan multikultural di SMPN 14 Mataram:

a. Adaptasi siswa pada awal masuk

Hambatan yang dialami dalam menerapkan penguatan pendidikan multikultural dalam membangun pemahaman siswa tentang moderasi beragama kepada siswa adalah pada awal-awal masuk sekolah sebagai siswa baru.

Berdasrkan hasil wawancara peneliti menyimpulkan bahwa ketika awal masuk sekolah siswa-siswi SMPN 14 Mataram masih belum mengetahui latar belakang dari siswa lainnya sehingga munculnya perasaan lebih baik dari segi budaya dan agama antara siswa A kepada terhadap siswa B.

Humanisme adalah rasa sebuah paham yang bertujuan perikemanusiaan dan mencita-citakan pergaulan hidup yang lebih baik. Dalam hal ini humanisme sangat menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Adapun nilai kemanusiaan adalah nilai-nilai universal yang dibutuhkan oleh setiap orang dalam lingkungan masyarakat yang majemuk dan merupakan suatu dorongan yang menempatkan manusia dalam posisi tertinggi dan bermartabat.195

Dalam kehidupan di masyarakat yang majemuk diperlukan sikap sosial yang positif. Sikap positif tersebut antara lain sikap menerima, mengakui dan menghargai keberagaman. Dalam hal ini perlu adanya pengembangan sikap sosial yang positif tersebut yakni melalui sikap toleransi, simpati, serta mendukung dan mengupayakan kehadiran kelompok lain.196

b. Guru kekurangan media tentang keragaman

Berdasrkan hasil wawancara peneliti menyimpulkan bahwa faktor penghambat dalam penguatan pendidikan multikultural yaitu guru kesulitan dalam menemukan media yang cocok untuk memberikan pemahaman kepada

194 Dewi Indrapangastuti, Jurnal

Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi, Volume 2, Nomor 1, 2014. Hlm. 19.

195 Abdullah Aly, Pendidikan Islam Multikultural Di Pesantren, (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2012), hlm. 59.

196 Ibid.., hlm. 59.

63

siswa tentang pendidikan multikultural meskipun guru mengajarkan dengan memberikan contoh-contoh yang nyata terutama yang ada di lingkungan sekitar.

James A. Banks telah mengidentifikasi dimensi-dimensi pendidikan multikultural yang dapat membantu guru dalam mengimplemen-tasikan beberapa program pendidikan yang mampu memenuhi dan merespon terhadap perbedaan anak didik. Terdapat lima dimensi pendidikan multikultural, menurut Banks, yaitu: (1) content integration, (2) the knowledge construction pro-cess, (3) prejudice reduction, (4) an equity pedagogy, dan, (5) an empowering school culture & social structure.197

Kelima dimensi tersebut akan menentukan keberhasilan pendidikan multikultural yang dilaksanakan di sekolah. Dimensi- dimensi pendidikan multikulutral itu akan mewarnai sistem pembelajaran dan pendidikan yang berlangsung di sekolah, baik yang terkait dengan susbtansi atau isi pendidikan atau kurikulum, metode, fasilitas termasuk media, maupun kerangka kerja pelibatan komponen- komponen sekolah. Oleh karena itu, jika pendidikan multikultural di sekolah ingin berhasil, maka semua komponen sekolah, terutama guru, hendaknya konsisten dalam mengimplementasikan lima dimensi secara simultan dan komprehensif dalam kegiatan kurikuler maupun ekstrakurikuler. Untuk menjamin implementasi lima dimensi pendidikan multikultural secara konsisten dan komprehensif, perlu didukung dengan manajemen sekolah yang efektif sesuai dengan local culture sekolah dan masyarakat sekitarnya. Manajemen yang demikian dapat diakomodasi dengan menerapkan manajemen mutu sekolah total (total quality school).

c. Di sekolah poster-poster, tulisan, maupun gambar yang menunjukkan tentang keberagaman budaya dan nilai-nilai multikultural masih kurang.

Berdarkan hasil observasi peneliti melihat di SMPN 14 gambar-gambar, tulisan yang berkaitan dengan keberagaman budaya adat istiadat masih kurang dikarenakan pihak sekolah cenderung lebih menggunakan strategi pemberian pemahaman kepada siswa tentang pendidikan multikultural lebih dominan pada kegiatan pembinaan konseling dan kegiatan keagamaan seperti imtaq.

Tugas guru selain membangun keahlian peserta didik terhadap mata pelajaran yang diajarkannya juga diharapkan dapat menjadi transformator pendidikan multikultural yang mampu menanamkan nilai-nilai demokrasi, pluralisme, dan humanisme pada peserta didiknya secara langsung di sekolah.

Nilai-nilai pendidikan multikultural tersebut sesuai dengan pendapat Aly yang menyebutkan bahwa ada 3 nilai-nilai inti dalam pendidikan multikultural, yaitu (1) nilai demokrasi, kesetaraan, dan keadilan; (2) nilai kemanusiaan, kebersamaan, dan kedamaian; (3) sikap sosial, yaitu pengakuan, dan penghargaan kepada orang lain.198

197 J. A. Banks (1999). (An Introduction to Multicultural Education), Boston: Allyn & Bacon. Hlm.

33.

198 Abdullah Ally, Pendidikan Islam Multikultural Di Pesantren, (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2012), hlm. 55.

64

d. Belum ada sosialisasi dan kegiatan praktek diluar lingkungan sekolah masih kurang.

Berdasrkan hasil wawancara peneliti dengan informan peneliti menyimpulkan bahwa faktor penghambat dalam penguatan pendidikan multikultural dalam membangun pemahaman siswa tentang moderasi beragama karena belum adanya sosialisasi tentang keberagaman budaya dan agama yaitu salah satu faktornya adalah kurangnya biaya dalam mengadakan praktek maupun sosialisasi dan alasan lainnya yaitu pihak sekolah cenderung lebih dominan memberikan penguatan pendidikan multikultural dalam memabngun pemahaman siswa tentang moderasi beragama melalui kegiatan pembinaan konseling dan kegiatan keagamaan seperti imtaq.

Pendidikan multikultural secara umum menggnakan metode dan pendekatan (Method and approaches) yang beragam. Adapun metode yang dapat digunakan dalam pendidikan multikultural adalah metode kontribusi, metode pengayaan, metode transformative, dan metode pembuatan keputusan dan aksi sosial.199

Demikian peran sekolah sebagai suatu lembaga pendidikan formal dalam membangun lingkungan pendidikan bertoleransi terhadap pemeluk agama yang berbeda dengan menumbuhkan rasa kepedulian dan solidaritas yang tinggi terhadap umat beragama bahwa pentingnya kehidupan yang rukun dan penuh kedamaian.

199 Jurnal Ilmu Pendidikan Nonformal, Volume 08,

No. 2, Mei 2022. Hlm. 828.

65 BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan

Setelah peneliti perhatikan yang telah peneliti uraikan Bab 1 sampai Bab III peneliti menyimpulkan sebagai berikut:

1. Strategi yang digunakan sekolah dalam progres penguatan pendidikan multikultural dalam membangun pemahaman siswa tentang moderasi beragama yakni ada 3 hal yaitu moderasi beragama dalam kegiatan ritual keagamaan, moderasi beragama dalam kegiatan pembelajaran, dan moderasi beragama dalam kegiatan hari-hari besar keagamaan di SMPN 14 Mataram berjalan dengan baik dengan diterapkannya ketiga strategi tersebut. Hal itu nampak dalam kesadaran toleransi yang muncul pada siswa dalam menghargai perbedaan baik dalam kegiatan ritual keagamaan, dalam kegiatan pembelajaran, dan dalam kegiatan hari besar keagamaan.

2. Terdapat beberapa faktor pendukung yang mempengaruhi progres penguatan pendidikan multikultural dalam membangun pemahaman siswa tentang moderasi beragama, diantara faktor pendukungnya yaitu dukungan dari warga SMPN 14 Mataram, keragaman guru, dan kurikulum sekolah. Selain faktor pendukung, adapaun faktor penghambatnya yaitu adaptasi siwa-siswi saat awal masuk sekolah, guru kekurangan media tentang keragaman, di sekolah poster-poster, tulisan, maupun gambar yang menunjukan tentang keberagaman budaya masih kurang, dan belum ada sosialisasi dan kegiatan praktek diluar lingkungan sekolah yang masih kurang.

B. Saran

Adapun saran-saran yang dapat di ajukan melalui penulisan skripsi ini berdasarkan hasil penelitian dan pengamatan penulis antara lain:

1. Bagi kepala Sekolah

Terus mendukung penguatan pendidikan multikultural dalam membangun pemahaman siswa tentang moderasi beragama dengan cara memberikan fasilitas yang dibutuhkan oleh guru-guru, lebih khususnya guru pendidikan agama.

2. Bagi Guru Pendidikan Agama

Guru pendidikan agama harus membimbing, mengajarkan dan menjadi contoh untuk siswa maupun siswinya

Guru pendidikan agama harus lebih memperhatikan perbedaan emosional siswa dalam menanamkan nilai toleransi pada siswa.

3. Bagi Siswa-siswi

Siswa harus berpartisipasi dalam kegiatan yang di adakan oleh sekolah dan menghargai sesama siswa yang berbeda pemahaman dan tidak saling membeda- bedakan

Siswa harus lebih aktif lagi dalam mencari menemukan, masalah-masalah tentang toleransi beragama.

66

DAFTAR PUSTAKA

A. Muri Yusuf, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif & Penelitian Gabungan, Jakarta:

Kencana, 2014

Afrizal Nur dan Mukhlis Lubis. Konsep Wasathiyah Dalam Al-Quran; Studi Komparatif Antara Tafsir Al-Tahrîr Wa At-Tanwîr Dan Aisar At-Tafâsîr). Jurnal: An-Nur, Vol. 4 No. 2, 2015.

Ahmad Najib Burhani, Muhammadiyah Berkemajuan Bandung: Mizan, 2016 Al Jamil, Al-

Bekasi: Cipta Bagus Segara, 2012

Alam, M. (2017), Studi Implementasi Pendidikan Islam Moderat dalam Mencegah Ancaman Radikalisme di Kota Sungai Penuh Jambi.

Ali Muammad Ash-Shallabi, Wasathiyah Dalam Al-Qur an Nilai-Nilai Moderasi Islam dalam Akidah, Syariat, dan Akhlak, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, cetakan. 1, 2020.

Ali, Z. (2010). Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Bumi Aksara.

-Nila Moderasi Islam di Indonesia. TARBIYA ISLAMIA: Jurnal Pendidikan dan Keislaman.

http://www.psbps.org/.

Anjeli Aliya Purnama Sari, Penerapan Nilai-Nilai Moderasi Beragama Pada Pendidikan Anak Usia Dini Melalui Pendidikan Agama Islam, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bengkulu, 2021.

Bentuk-Bentuk Pendidikan Multikultural Di SMAN 2 Karang Anyar Dan , Universitas Sebelas Maret Surakarta, 2019.

Azyumardi Azra, CBE, Moderasi Islam Di Indonesia Dari Ajaran, Ibadah, hingga Prilak, Jakarta: Kencana, 2020.

Azyumardi Azra, Pradigma Baru Pendidikan Nasional; Rekontruksi dan Demokrasi.

Babun Suharto, et. all, Moderasi Beragama: Dari Indonesia Untuk Dunia, Yogyakarta:

LKIS, 2019.

Aktualisasi Nilai-Nilai Multikultural Dalam Pembelajaran PAI Dalam Kerangka Pengembangan Kebangsaan Terhadap Siswa Di SMA Kharisma

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2019.

67

Choirul Mahfud, Pendidikan Multikultural, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009.

Daeng Indra Kusuma, Pengantar Ilmu pendidikan, Surabaya: Usaha Nasional.

Dawing, D. 2017. Mengusung Moderasi Islam Di Tengah Masyarakat Multikultural.

Rausyan Fikr: Jurnal Studi Ilmu Ushuluddin Dan Filsafat.

Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur an dan Terjemahan Juz 1.

Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Quran Dan Terjemahan Juz 2, Surabaya; Duta Ilmu, 2006.

http://www.educationworld.com/a_curr/profdev012.shtml.

Dzurriyun Toybi, Upaya Guru Q Hadits Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Pada Masa Pandemi Covid-19 Di MTs Qubbatul Islam Taliwang Mataram, Universitas Islam Negeri Mataram, 2020.

Edy dan Yuli Huriah, Pendidikan Multikultural Dalam Pendidikan Agama Islam di Madrasah Tsanawiyah: Studi Atas Kurikulum PAI di Madrasah Tsanawiyah Jurnal Pendidikan Islam, Volume 6 No. 1 2022.

Strategi Pengembangan Usaha Mikro Kecil Dan Menengah Di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Jurnal Ekonomi Pembangunan Volume 12, Nomor 1, Juni 2011.

Emzir, Metodologi Penelitian Kualitatif Analisis Data Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2010.

Fadl, K. A. El. 2005. Selamatkan Islam dari Muslim Purita. H. Mustofa, Trans.. Jakarta:

Serambi.

Hanafi, M. (2013). Moderasi Islam. Ciputat: Pusat Studi Ilmu al-Qur an.

https://lipipress.lipi.go.id/detailpost/moderasi-beragama-dalam-lektur-keagamaan-islam-di- kawasan-timur

indonesia#:~:text=Moderasi%20beragama%20adalah%20cara%20pandang,pemah aman%20agama%20yang%20sangat%20liberal).

Indah Ratna Dewi, Problematika Implementasi Pendidikan Multikultural, Jurnal Elementaria Edukasia, Volume 3 No. 2. Tahun 2020.

J.A. Banks (1999). An introduction to multicultural education. Boston: Allyn & Bacon.

68

Jody Dwi Mahardika, Penerapan Nilai-Nilai Multikultural Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Di SMP Negeri 13 Kota Bengkulu, Institut Agama Islam Negeri Bengkulu IAIN, 2021.

K.H Afifudin Mhajir, Membangn Nalar Islam Moderat Kajian Metodologi, Jawa Timur:

Tawirul Afkar, 2018.

Islam, pespektif Al-Quran dan As Sunnah, Menuju Islam Rahmatan Li Al-Alamin, Jakarta: Pustaka Ikadi, 2020.

Khairan Muhammad Arif, Islam Mod

Islam, pespektif Al-Quran dan As Sunnah, Menuju Islam Rahmatan Li Al-Alamin, Jakarta: Pustaka Ikadi, 2020.

Khairiah, Multikultural Dalam Pendidikan Islam, Bengkulu: CV. Zigie Utama, 2020.

Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif Edisi Revisi, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2013.

http://www.educationworld.com/a_curr/curr155.shtml.

Lukman Hakim Saifuddin, Moderasi Beragama, Jakarta: Badan Litbang dan Diklat Kementrian RI, cet. 1, 2019.

Lukman Hakim Saifuddin, Moderasi Beragama, Jakarta: Badan Litbang dan Diklat Kementrian RI, cet. 1, 2019.

Lukman Hakim Saifuddin, Moderasi Beragama, Jakarta: Kementrian Agama RI, 2019.

Lukman Hakim Saifuddin, Moderasi Beragama.

M. Ainul Yaqin, Pendidikan Multikultural.

M. Athiyah al-Abrasyi, Dasar-dasar Pendidikan. Diterjemahkan oleh A. Bustani A. Gani, et. Al: Dari Attarbiyah al-Islamiyah Cet. VIII; Jakarta: Bulan Bintang, 1993.

M. Burhanudin, Eksistensi Majelis Taklim Dalam Menanamkan Nilai-Nilai Agama Di Dususn Racem Desa Bujak Kecamatan Batukliang, Universitas Islam Negeri Mataram, 2020.

M. Quraish Shibab, Wasathiyyah: Wawasan Islam tentang Moderasi Beragama, Tanggerang: Lentera Hati, 2020.

Mahfud, Pendidikan Multikultural.

Mahrnud, Metode Penelitian Pendtdikan, Bandung: CV Pustaka Setia 2011.

Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan, Jakarta: PT Rineka Cipta. 2010.

69

Mudrajad Kuncoro, Metode Riset untuk Bisnis & Ekonomi: Bagaimana Meneliti dan Menulis Tesis?, Jakarta: Erlangga, 2003.

, Jurnal Kajian Islam Kontemporer, Volume 9, No.

1, Tahun 2018.

Muh. Nazir, Metode Penelitian Jakarta: Ghalia Indonesia, Cet.7.

Internalisasi Nilai-Nilai Pendidikan Multikultural Di SMK Karsa Institut Agama Islam Negeri Palangka Raya, 2021.

, Jurnal Kependidikan, Volume 9, No. 1, April 2017.

, Jurnal Pendidikan Ilmu-Ilmu Sosial, Volume 10, No. 1, 2018.

Nasaruddin Umar, Islam Nusantara jalan panjang moderasi beragama di Indonesia, Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2019.

Nur Wahyuni Rahman, Implementasi Pendidikan Multikultural Siswa Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Di SMP Negeri 21 Bulukumba Kec. Kajang Kab.

Bulukumba, Universitas Muhammadiyah Makassar, 2019.

Prayitno, Dasar Teori dan Praksis Pendidikan, Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia, 2009.

Pendidikan Multikultural Untuk Membangun Bangsa yang Nasionalis , Jurnal Civics, Volume 13. No. 1, Juni 2016.

Ratna Widyawati, Strategi Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Menanamkan Nilai-Nilai Multikultural (Studi Kasus Di SMP N Kota Magelang), Universitas Muhammadiyah Magelang, 2018.

Ririn Erviana, Peran Guru PAI Dalam Menerapkan Pendidikan Multikultural Terhadap Pengembangan Sikap Toleransi Siswa Di SMP Cahaya Bangsa Metro, Islam Institut Agama Islam Metro (IAIN Metro), 2019.

Vol. 7, No. 1, Februari 2013.

Nilai-Nilai Pendidikan Multikultural (Studi Terhadap Tafsir Al-Qur an Surat Al-hujurat Ayat 11-13), Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nurjati Cirebon, 2012.

Sugiono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D Bandung: Alfabeta,2011.

Sugiyino, memahami penelitian kualitatif bandung: ALFABETA, cv, 2012.

Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D.

70

Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 11, 12 dan 13.

Undang-undang tentang Sistem Pendidikan Nasional UU. RI No. 2 Tahun 1998 dan Peraturan Pelaksana Cet. IV; Jakarta Sinar Grafika, 1993.

Wina Sanjaya, Penelaian Pendidikan (Jenis, Metode, dan Prosedur, Jakarta: Prenada Media Group, 2013.

71

DOKUMENTASI KEGIATAN

Gambar 1.2

Wawancara dengan guru Pendidikan Agama Islam

Gambar 1.3

Wawancara Guru Pendidikan Agama Hindu

72 Gambar 1.4

Wawancara Kepala Sekolah

Gambar 1.5 Wawancara guru BK

73 Gambar 1.6

Wawancara salah satu Siswa Hindu

74 Gambar 1.7

Wawancara salah satu siswa Agama Islam

Gambar 1.8

Wawancara salah satu Siswa Kristen

75 Gambar 1.9

Wawancara siswi Islam dan Siswi Hindu

Gambar 2.1

Kegiatan Pembelajaran PAI

Gambar 2.2 Kegiatan Imtaq Islam

Dokumen terkait