BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.5 Analisis Stakeholder dalam Pengembangan Wisata Halal
4.5.3 Faktor Pendukung dan Penghambat dalam
4.5.3.1 Faktor Pendukung
a. Dukungan Konstitusi pada Wisatawan Muslim
Dasar keberadaan konstitusi adalah kesepakatan umum atau persetujuan (consensus) di antara mayoritas rakyat mengenai bangunan yang diidealkan berkenaan dengan suatu landasan dalam berbangsa dan bernegara. Konstitusi merupakan konsensus bersama atau general agreement seluruh warga negara. Organisasi negara itu diperlukan oleh warga masya- rakat politik agar kepentingan mereka bersama dapat dilindungi atau dipromosikan melalui pembentukan dan penggunaan mekanisme yang disebut negara.
Pada pengembangan pariwisata halal di Kota Malang, yang dilaksanakan oleh pemerintah Kota Malang dan stakeholder lainnya, pada hakikatnya telah didukung dengan adanya konstitusi yang diperuntukan bagi wisatawan muslim yaitu Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal, dimana dalam dunia pariwisata produk-produk semacam itu pasti dibutuhkan oleh wisatawan Muslim, terutama untuk makanan dan minuman sebagai kebutuhan primer bagi mereka. Baik yang disajikan di hotel di mana mereka menginap maupun yang ada di restoran yang tersedia.
Sejatinya, tujuan yang ingin diraih kehadiran undang-undang tentang JPH yang pada dasarnya adalah ingin melindungi masyarakat Muslim agar terhindar dari segala hal yang kontradiktif dengan prinsip syariat.
Hal ini senada dengan seorang informan yang menjelaskan:
Iya.. kita Indonesia banyak yang muslim, terutama Kota Malang, yang terus berkembang menjadi Kota destinasi pariwisata di Indonesia, nah ini untuk daya tarik dan juga demi melindungi hak-hak konsumen kan akan sangat baik kalau ada pariwisata halal, jadi yang muslim juga tidak ragu untuk datang ke Kota Malang, menikmati liburan atau pariwasata lainnya, kita didukung ada UU nya itu jaminan produk halal dan perlindungan konsumen.” (Walikota Malang, Sutiaji) Hal serupa juga dikemukakan oleh informan lainnya, yang me- nyatakan bahwa:
.. yang pasti kita sudah didukung dengan regulasi atau konstitusi ya untuk menyelenggarakan dan mengembangkan pariwisata halal... Jadi, pasti kita akan sangat senang untuk menerapkannya, apalagi Kota Malang sekarang jadi ikon pariwisata di Jawa Timur.” (Ketua Persatuan Hotel Restoran Indonesia (PHRI) Malang Dwi Cahyono).
Berdasarkan pernyataan di atas, dapat dijelaskan bahwa perkembangan Kota Malang menjadi salah satu ikon pariwisata di Indonesia, kemudian menjadi salah satu daya tarik untuk Kota Malang itu sendiri, sehingga diperlukan suatu strategi untuk melindungi hak-hak konsumen muslim, di mana hakikatnya telah didukung adanya regulasi/ UU yaitu jaminan produk halal dan perlindungan konsumen dalam menikmati liburan atau pariwisata lainnya, di destinasi pariwisata, termasuk Kota Malang.
Selanjutnya, pariwisata halal dalam perspektif Undang- Undang RI Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, Menurut Pasal 2 undang-undang ini bahwa,
“perlindungan konsumen berasaskan manfaat, keadilan, keseimbangan, keamanan dan keselamatan konsumen, serta kepastian hukum.” Kepastian hukum di sini dimaksudkan perlindungan secara yuridis jika sekiranya terjadi hal-hal yang tidak diinginkan oleh konsumen, atau dalam hal ini wisatawan Muslim dalam pariwisata halal.
Dalam perspektif UU RI No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, hak dan kewajiban wisatawan selaku
“
“
konsumen diatur pada Pasal 4 tentang hak yang dapat diperoleh dan Pasal 5 tentang kewajiban yang harus ditunaikan. Secara umum dalam Pasal 4, konsumen berhak mendapat kenya- manan, keamanan dan keselamatan (huruf a), selain juga perlu mendapatkan informasi tentang jasa yang ditawarkan secara benar, jelas dan jujur (huruf c). Artinya, apa yang diiklankan harus jelas dan bersesuaian dengan kenyataan destinasi di lapangan. Jika, tidak maka wisatawan dapat melakukan komplain agar didengar apa yang menjadi keluhannya (huruf d).
Berdasarkan penjabaran di atas, dapat dilihat bahwa regulasi yang mendukung akan meningkatkan keamanan dan kepastian hukum bagi wisatawan muslim. Menurut Joyosuharto (1995) pengembangan pariwisata memiliki 3 (tiga) fungsi, yaitu 1) Menggalakkan ekonomi, 2) Memelihara kepribadian bangsa dan kelestarian fungsi serta mutu lingkungan hidup, 3) Memupuk rasa cinta tanah air dan bangsa. Sebuah destinasi dapat dikatakan melakukan pengembangan wisata jika sebelumnya sudah terdapat aktivitas wisata. Untuk dapat meningkatkan potensi wisata halal (halal tourism), yang perlu dilakukan adalah merencanakan pengembangan wisata halal (halal tourism) agar dapat lebih baik, lebih maju daripada sebelumnya.
b. Infrastruktur Kota Malang yang Memadai
Infrastruktur merupakan roda penggerak pertumbuhan ekonomi. Dari alokasi pembiayaan publik dan swasta, infrastruktur dipandang sebagai lokomotif pembangunan nasional dan daerah. Infrastruktur juga berpengaruh penting bagi peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan manusia, antara lain dalam peningkatan nilai konsumsi, peningkatan produktivitas tenaga kerja dan akses kepada lapangan kerja, serta peningkatan kemakmuran yang nyata. Infrastruktur dalam pengembangan wisata halal, akan sangat tergantung dengan sarana dan prasarana yang erat dengan kegiatan religi, seperti masjid/ tempat untuk sholat, khas dengan nuansa Islami, tempat perempuan dan pria yang terpisah, dan lain sebagainya yang mana memiliki citra positif dan aman.
Pada umumnya, infrastuktur di Kota Malang juga memadai, ya... itu ada Masjid Agung juga, terus ada tempat ibadah di setiap radius 500 m atau di setiap wahana bila kawasan wisata yang luas. Terus kalau wisata alam juga tersedia pilihan daya tarik wisata pantai dan pemandian yang ter- pisah untuk pria dan wanita dan atau mempunyai aturan pengunjung tidak berpakaian minim, dan tersedia pilihan tempat makan, restoran dan kafe yang tersertifikasi halal juga.” (Kepala Disbudpar Kota Malang Ida Ayu Made Wahyuni)
Berdasarkan pernyataan di atas, dapat diartikan Kota Malang telah didukung oleh infrastruktur yang memadai untuk mengembangkan wisata halal, yaitu terdapat Masjid Agung Kota Malang, tempat ibadah di setiap radius 500 m atau di setiap wahana bila kawasan wisata yang luas. Kemudian, untuk wisata alam juga tersedia pilihan daya tarik wisata pantai dan pemandian yang terpisah untuk pria dan wanita dan atau mem- punyai aturan pengunjung tidak berpakaian minim, dan tersedia pilihan tempat makan, restoran dan kafe yang tersertifikasi halal juga.
Infrastruktur juga memiliki pengaruh penting dalam pening- katan nilai konsumsi, peningkatan produktivitas tenaga kerja dan akses kepada lapangan kerja. Kota Malang sendiri sudah menyediakan dan semakin mengembangkan sarana dan prasarana yang terkait dengan wisata halal. Sifat dan jenis infrastruktur yang diperlukan suatu daerah dipengaruhi oleh karakteristik alam dan pola persebaran penduduk yang khas pada daerah tersebut, termasuk penyebaran wisata yang ditunjuk sebagai destinasi wisata halal.
Infrastruktur bukan hanya diperlukan untuk meningkatkan daya saing demi mendorong lebih banyak kegiatan investasi, produksi dan perdagangan, tetapi juga untuk mempercepat pemerataan pembangunan sehingga tingkat kemiskinan dan pengangguran dapat diturunkan. Selain itu, keberadaan infra- struktur juga sangat diperlukan agar proses pembangunan sumber daya manusia di suatu daerah dapat berjalan dengan baik. Proses pembangunan yang disertai dengan perkem- bangan teknologi yang cepat mengharuskan adanya pende-
“
katan yang benar-benar tepat dalam program pengembangan SDM.
2. Faktor Eksternal
a. Tingkat Pertumbuhan Pasar Pariwisata Halal yang Meningkat Semakin banyaknya populasi manusia yang menjadikan pariwisata sebagai bagian dari kebutuhan hidup, dan semakin berkembangnya teknologi yang memudahkan wisatawan menerima informasi tentang pariwisata, hal ini tentu akan berdampak pada peningkatan jumlah wisatawan baik itu domestik ataupun internasional, yang tentu akan berimbas kepada industri pariwisata. Hal tersebut juga terjadi pada wisata muslim di Kota Malang. Peningkatan jumlah wisata muslim yang berasal dari seluruh Indonesia meningkatkan pasar permintaan produk halal di Kota Malang, sehingga perlu pengembangan strategis yang mendukung. Salah satu informan menjelaskan apabila:
Banyaknya wisatawan muslim yang datang dari berbagai kota di Indonesia, menjadi faktor mengapa pemerintah dan stakeholder di Kota Malang, mengembangkan wisata halal.”
(LPPOM MUI).
Pernyataan di atas, juga didukung oleh informan di bawah ini:
Pemerintah dan stakeholder lainnya menyadari adanya peningkatan wisatawan muslim yang mengunjungi Kota Malang, dimana termasuk salah satu kota ikonik di Jawa Timur, ini menjadi motivasi untuk mengembangkan wisata halal di Kota Malang.” (Walikota Malang, Sutiaji)
Berdasarkan pernyataan di atas, dapat diartikan apabila adanya peningkatan wisatawan muslim yang mengunjungi Kota Malang, dimana termasuk salah satu kota ikonik di Jawa Timur, kemudian menjadi motivasi dan faktor pendukung untuk mengembangkan wisata halal di Kota Malang. Dengan menerapkan konsep pariwisata halal maka industri atau bidang tersebut akan mendapat nilai kompetitif atau daya saing yang lebih dimata wisatawan. Pariwisata halal mampu menarik
“
“
perhatian wisatwan dengan bentuk hal-hal yang mendukung syariah, sehingga dapat tetap menjadi tempat pariwisata yang nyaman dan aman.
Halal Tourism merupakan cara tercepat untuk mening- katkan pertumbuhan ekonomi. Dalam hal ini halal tourism adalah sebuah konsep yang dapat diterapkan diberbagai daya tarik wisata baik itu alam, budaya, ataupun buatan dan juga dapat menstimulasi berbagai jenis destinasi pariwisata yang disesuaikan dengan konsep syariah. Realitas meningkatnya jumlah wisatawan muslim memberikan segmentasi baru untuk sektor pariwisata dan mempengaruhi industri pariwisata di seluruh dunia. Berdasarkan laporan Komite Tetap untuk Kerjasama Ekonomi dan Komersial Organisasi Kerjasama Islam (COMCEC, 2016) Organisasi Kerjasama Islam dan non-OKI diperkirakan mencapai 116 juta pada tahun 2014 dan diproyeksikan akan tumbuh hingga 178 juta pada tahun 2020.
Data dari Negara Ekonomi Islam Global 2014-2015 menyatakan bahwa indikator tren bisnis halal terlihat di lima sektor industri terus menunjukkan kemajuan. Hal ini termasuk layanan keuangan Islam, makanan halal, busana Muslim, media halal dan rekreasi, serta obat-obatan dan kosmetik halal. Laporan akhir dari Studi Pengembangan Data Syariah Kementerian Pariwisata pada tahun 2016 menunjukkan bahwa ekonomi Islam adalah bagian penting dari ekonomi global saat ini.
Ada tujuh sektor ekonomi Islam yang mengalami peningkatan signifikan, yaitu kuliner, keuangan Islam, industri asuransi, fashion, kosmetik, farmasi, hiburan, dan pariwisata. Di mana seluruh sektor mengusung konsep halal di setiap produknya.
Maraknya produk dengan label halal menciptakan ekosistem baru berbasis halal. Di Indonesia, pariwisata halal dikembangkan menjadi program nasional oleh Kementerian Pariwisata. Untuk mempercepat pariwisata halal, Kementerian Pariwisata telah menetapkan 15 provinsi yang menjadi fokus pengembangan destinasi wisata Muslim terkemuka. Ke 15 provinsi diberikan otonomi oleh kementerian pariwisata untuk mengelola potensi wisata di daerah masing-masing.
Dengan memberikan otonomi oleh kementerian pariwisata diharapkan masing-masing provinsi, termasuk Jawa Timur dan
salah satunya Kota Malang yang ditunjuk dapat mengembangkan potensi wisata halal mereka sendiri untuk menjadi unggul dan menjadi tujuan favorit untuk pariwisata halal. Dalam imple- mentasinya, Kementerian Pariwisata dibantu dan didukung oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata tingkat Provinsi dan Kota/
Kabupaten. Tentu saja, untuk menarik wisatawan muslim, diperlukan strategi komunikasi, seperti menciptakan segmen pasar baru. Pariwisata halal adalah program baru dan sangat potensial untuk dikembangkan di Indonesia. Maka dari itu, segmen baru tersebut tentu perlu disiapkan dan disesuaikan dengan baik melalui tahap pengembangan yang memperhatikan standar global dan juga melalui pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk menstimulasi dan mengakselerasi per- cepatan pembangunan pariwisata halal di Indonesia.
b. Adanya Dukungan Masyarakat Kota Malang
Hadirnya wisata halal di Kota Malang, faktanya juga didukung oleh masyarakat Kota Malang itu sendiri. Hal ini dijelaskan oleh informan sebagai berikut:
…saya sangat senang ya dengan adanya konsep halal dalam bazar dapat menambah tingkat penjualan saya dan tentunya saya mendapat keuntungan yang lebih tinggi dari hari-hari biasanya, saya sangat mendukung konsep ini” (Pelaku usaha UMKM Bazar)
Berdasarkan pernyataan di atas, dapat dilihat apabila adanya dampak pengembangan wisata halal terhadap ekonomi dapat secara umum, yakni dapat menjadi sumber penghasilan masya- rakat, pendapatan bagi pemerintah, tercipta lapangan kerja, pengaruh terhadap harga dan tarif, pengaruh pada distribusi keuntungan maupun manfaat, pengaruh terhadap pengelolaan maupun kepemilikan, dan tentunya dapat memengaruhi pem- bangunan.
Ada beberapa hal yang dapat memengaruhi penghasilan terkait wisata halal, diantaranya tingkat konsumsi atau penge- luaran, jarak dari tempat wisata, masa kerja dan jumlah wisatawan yang berkunjung. Menurut Dian Dinta Herlambang, setidaknya ada empat hal yang dapat dipengaruhi oleh pari- wisata terhadap kondisi ekonomi di tempat wisata, yakni: a)
“
jenis pekerjaan; masyarakat menjadi memiliki pekerjaan, seperti pedagang asongan, lalu menjadi pegawai di tempat wisata (penjual tiket masuk, pengawas keamanan, pengelola sampah dan lain-lain, b) pendapatan masyarakat juga tentunya akan merasakan dampak dari pembangunan pariwisata; c) tum- buhnya sektor lain di sekitar tempat wisata, berdirinya warung- warung, ada penginapan yang dimiliki dan dikelola oleh masyarakat sekitar; d) di tempat wisata juga makanan maupun minuman akan mengalami perubahan harga yang dapat menjadi keuntungan bagi para pedagang. (Herlambang, 2016:
14-15).
4.5.3.2 Faktor Penghambat