• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran Stakeholder

Dalam dokumen WISATA HALAL, (Halaman 59-66)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.5 Analisis Stakeholder dalam Pengembangan Wisata Halal

4.5.1 Peran Stakeholder

4.5.1.1 Peran Stakeholder Kunci

Stakeholder kunci merupakan pemangku kepentingan yang memiliki kewenangan secara legal dalam hal pengambilan keputusan.

Stakeholder kunci yang dimaksud adalah unsur eksekutif sesuai levelnya, legislatif dan instansi. Stakeholder kunci pembuat keputusan untuk suatu proyek level daerah kabupaten. Adapun beberapa yang termasuk dalam stakeholder kunci yaitu:

a. Walikota Malang, Drs. H Sutiaji b. Kepala Disbudpar, Ida Ayu Made

Pemerintah kota yaitu Walikota Malang dan kepala Disbudpar Kota Malang selaku stakeholder kunci pengembangan wisata halal di Kota Malang memiliki tingkat kepentingan serta pengaruh yang tinggi.

Hal ini disampaikan oleh informan sebagai berikut:

Pemerintah Kota Malang selain sebagai stakeholder kunci juga berperan sebagai koordinator yang berupaya untuk melakukan pengembangan wisata halal di Kota Malang. Pengembangan tersebut meliputi menggelar bazar kuliner Malang di Balaikota Malang, Seminar dan bimbingan teknis penyusunan permohonan sertifikasi halal bagi UMKM guna meningkatkan kesadaran akan sertfikasi halal di Halal Center yang terletak di 5 (lima) Perguruan Tinggi yang berada di Kota Malang, serta Penunjukan 5 tempat yang dijadikan sebagai Pilot Project Halal.”

Dalam wawancara dengan stakeholder kunci, ia memaparkan:

…dalam bazar kali ini sekaligus menerangkan bahwasanya konteks halal tidak hanya dalam tampilan tempat, dan busana, namun juga bagaimana makanan ini benar-benar tersajikan dengan memenuhi standar halal, seperti cara menyembelih hewan dengan baik dan benar…”

Selain itu pemerintah Kota Malang juga berperan sebagai katalisator, yakni pemerintah kota harus memperhitungkan seluruh faktor yang berpengaruh dalam pengembangan wisata halal.

Mengendalikan faktor negatif yang cenderung menjadi penghambat sehingga dampaknya dapat diminimalisir, dan dapat mengenali faktor- faktor yang sifatnya mendorong laju pengembangan wisata halal sehingga mampu menarik manfaat yang besar. Kemudian Pemerintah Kota Malang juga berperan sebagai dinamisator. Pada indikator ini Pemerintah Kota Malang selaku koordinator memberikan arahan kepada stakeholder yang bersangkutan dengan pengembangan wisata halal di Kota Malang.

4.5.1.2 Peran Stakeholder Pendukung

Stakeholder pendukung (sekunder) adalah stakeholder yang tidak memiliki kaitan kepentingan secara langsung terhadap suatu kebijakan, program, dan proyek, tetapi memiliki kepedulian (concern) dan keprihatinan sehingga mereka turut bersuara dan berpengaruh terhadap sikap masyarakat dan keputusan legal pemerintah. Beberapa yang termasuk dalam stakeholders pendukung (sekunder) dalam penelitian ini yaitu:

a) LPPOM MUI (Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia)

b) Perguruan Tinggi Universitas Brawijaya, UIN Maulana Malik Ibrahim, Universitas Islam Negeri, Universitas Negeri Malang, dan Universitas Muhammadiyah Malang.

c) Sektor UMKM.

Stakeholder pendukung dalam tabel 2.1 dapat disimpulkan bahwa stakeholder pendukung (sekunder) memiliki pengaruh yang tinggi terhadap pengembangan wisata halal di Kota Malang dan kepentingan yang lebih rendah apabila dibandingkan dengan stakeholder kunci.

GAMBAR 4.4: Bazar Kuliner Halal, Malang

Sumber: malang.go.id

Selain itu, stakeholder dari Perguruan Tinggi dan LPPOM MUI juga berperan sebagai fasilitator, yang menjalankan peranannya dalam bentuk fisik berupa penyedia sarana dan prasarana serta pemberian sertifikasi halal. Hal tersebut dibuktikan dengan hasil wawancara sebagai berikut:

…yang memiliki kewenangan paling tinggi disini pemerintah kota karena pemerintah kota yang membuat setiap kebijakan dalam mengembangkan wisata halal ini, selain dari perguruan tinggi seperti UNISMA, UB, UMM, UM, dan UIN menyediakan labora- torium untuk kegiatan seminar dan bimtek sertfikasi halal dengan sebutan halal center…”

Untuk sertifikasi halal itu dikeluarkan dari LPPOM MUI, namun untuk mendapatkan sertifikasi tersebut juga tidaklah mudah, untuk restoran dan hotel yang belum memenuhi persyaratan MUI hanya mengeluarkan memo saja, namun juga semua persyaratan telah selesai maka MUI akan mengeluarkan sertifikasi halal.

…usaha wisata halal dapat melakukan sertifikasi halal apabila telah memenuhi standar usaha wisata halal sesuai dengan apa yang telah diatur oleh peraturan perundang-undangan…”

Sedangkan dari sektor UMKM berperan sebagai implementator berupaya untuk berkontribusi dalam setiap kegiatan yang diselenggarakan oleh stakeholder yang berperan sebagai koordinator, seperti ikut serta dalam kegiatan pergelaran bazar kuliner halal di Balaikota Malang kemudian mengikuti kegiatan seminar dan bimbingan teknis penyusunan permohonan sertifikasi halal bagi UMKM di Halal Center yang terletak di 5 (lima) Perguruan Tinggi yang berada di Malang.

Hal ini dibuktikan dari adanya hasil wawancara sebagai berikut:

...kami akan terus berupaya dalam mensosialisasikan dan mengajak para pelaku usaha, seperti pengusaha kuliner dan penginapan untuk memulai wisata halal karena kedepannya sektor wisata di Kota Malang ini akan menjadi sektor wisata halal…”

…sejak tanggal 17 Oktober 2019 mewajibkan adanya sertifikasi halal pada semua produk, jadi kami mengikuti segala kegiatan yang telah diselenggarakan oleh Walikota, dan itu upaya Walikota guna memfasilitasi adanya peraturan tersebut yang selaras dengan visi kota malang sebagai sebagai kota wisata halal…”

4.5.1.3 Peran Stakeholder Utama (Primer)

Stakeholder utama merupakan stakeholder yang memiliki kaitan kepentingan secara langsung dengan suatu kebijakan, program, dan proyek. Mereka harus ditempatkan sebagai penentu utama dalam proses pengambilan keputusan. Dalam penelitian ini stakeholder utama yaitu masyarakat/pengunjung wisatawa.

Dari tabel 2.1 stakeholder utama yaitu masyarakat atau pengunjung wisata yang mendukung adanya pengembangan wisata halal di Kota Malang memiliki tingkat kepentingan yang tinggi dan pengaruh yang rendah. Selain adanya dukungan dari masyarakat juga terdapat adanya penolakan dari masyarakat atau pengunjung wisata halal, dalam tabel 2.1 masyarakat atau pengunjung wisata yang menolak adanya pengembangan wisata halal di Kota Malang memiliki tingkat kepentingan dan pengaruh yang rendah. Adanya penolakan tersebut dikarenakan adanya pemikiran bahwa wisata halal terlalu eksklusif.

Pengunjung yang menolak adanya wisata halal memiliki kepentingan yang rendah dan pengaruh yang rendah. Hal ini dibuktikan dari hasil wawancarara sebagai berikut:

…selain dari banyaknya yang mendukung adanya wisata halal namun juga ada penolakan dari pihak budayawan dan seniman, karena wisata halal dianggap terlaluu eksklusif…”

Masyarakat atau pengunjung wisata juga berperan sebagai pelaksana, dengan berkontribusi dalam mendatangi kegiatan yang telah diadakan oleh Pemerintah Kota Malang.

Peran merupakan suatu kompleks pengharapan manusia ter- hadap caranya individu harus bersikap dan berbuat dalam situasi tertentu yang berdasarkan status dan fungsi sosialnya (Ahmadi 1982).

Sedangkan menurut Soekanto (2002) Peran merupakan suatu aspek yang dinamis dari kedudukan apabila seseorang melakukan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya, berarti dirinya telah menjalankan suatu peran. Pengembangan wisata halal di Kota Malang dipengaruhi oleh adanya stakeholder internal (stakeholder utama dan stakeholder kunci) serta stakeholder eksternal (stakeholder sekunder).

Keberhasilan dalam pengembangan wisata halal di Kota Malang terletak pada kolaborasi sumber daya pelaksana yang baik serta ketepatan dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya masing-

masing. Selain itu juga diperlukan adanya komunikasi dan koordinasi yang baik antar pelaksana meskipun tugas pokok dan fungsinya yang berbeda-beda. Terlebih lagi apabila pengembangan wisata tersebut tidak hanya melibatkan pemerintah saja.

Pada saat ini dalam wisata halal di Kota Malang yang telah mendapatkan legalitas sertifikasi halal yaitu hotel Swiss-Belinn.

Namun dengan adanya bazar wisata halal telah didapatkan potensi amenitas dan destinasi wisata halal di Kota Malang seperti, 1) Hotel Regent, Guest House UB, Hotel Ubud, Hotel Atria, dan Hotel Savana, 2) Restoran Inggil, Restoran Taman Indise, Wansho Restoran China Halal, Food Court Halal Toyib UB, 3) Travel Tombo Ati, Travel As-Salam, Transstudio Mini, Jatim Park Group, Hawai Group (Museum Ganesya, dan Malang Night Paradise), 5) Pusat Perbelanjaan Mall Dinoyo, Pasar Klojen, Pasar Oro-oro Dowo, Pasar Bunulrejo, 6) Oleh-oleh Malang Strudel, Lapis Malang, Bolu Singosari, dan Aneka Oleh-oleh Halal Produk Binaan Halal Center.

GAMBAR 4.5:

Sertifikat Halal Swiss Bel-Inn,

Malang

Sumber:

LPPOM MUI

Berdasarkan pemetaan stakeholders maka dapat diidentifikasi peran stakeholders yang telah dilakukan dalam pengembangan objek wisata halal di Kota Malang. Menurut Nugroho (2014) memaparkan bahwasanya peran stakeholder dalam program pengembangan pariwisata berupa, 1) Policy creator, 2) Koordinator, 3) Fasilitator, 4) Implementer, 5) Akselerator, yang disajikan dalam tabel di bawah ini:

Stakeholder Primer

(Kunci) Peranan/Posisi Kegiatan Terkait Peran

Walikota Malang

(Drs. Sutiaji) Koordinator

1. Menggelar bazar kuliner halal di Balaikota Malang

2. Seminar dan bimbingan teknis penyu- sunan permohonan sertifikasi halal bagi UMKM di Halal Center yang terletak di 5 (lima) Perguruan Tinggi yang berada di Malang

3. Penunjukan 5 (lima) tempat yang dijadikan sebagai Pilot Project Halal.

Kepala Disbudpar Kota Malang (Ida Ayu Made)

Koordinator

1. Melakukan Desain Strategi Rencana Aksi (DSRA) dan pada tahun 2019 akan diimplementasikan

2. Melakukan sosialisasi guna mengajak para sektor UMKM untuk diarahkan menuju wisata halal.

Stakeholder Utama Peranan / Posisi Kegiatan Terkait Peran Masyarakat/Pengunjung

Wisata Pelaksana

Berkontribusi dalam antusiasme yang dilakukan pada agenda/event yang digelar oleh Pemerintah Kota

Stakeholder Pendukung

(Sekunder) Peranan / Posisi Kegiatan Terkait Peran

Sektor UMKM Implementor

1. Menggelar bazar kuliner halal di Balaikota Malang

2. Seminar dan bimbingan teknis penyusunan permohonan sertifikasi halal bagi UMKM di Halal Center yang terletak di 5 (lima) Perguruan Tinggi yang berada di Malang 3. Penunjukan 5 tempat yang dijadikan

sebagai Pilot Project Halal TABEL 4.1: Hasil Identifikasi dan Peran Stakeholders

Perguruan Tinggi Fasilitator

1. Seminar dan bimbingan teknis penyusunan permohonan sertifikasi halal bagi UMKM di Halal Center yang terletak di 5 (lima) Perguruan Tinggi yang berada di Malang

2. Penunjukan 5 tempat yang dijadikan sebagai Pilot Project Halal

LPPOM MUI Fasilitator

Memberikan sertifikasi halal pada hotel dan restoran yang berada di Kota Malang yang telah melakukan pengajuan

Dalam dokumen WISATA HALAL, (Halaman 59-66)

Dokumen terkait