• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kolaborasi Stakeholder

Dalam dokumen WISATA HALAL, (Halaman 66-82)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.5 Analisis Stakeholder dalam Pengembangan Wisata Halal

4.5.2 Kolaborasi Stakeholder

Perguruan Tinggi Fasilitator

1. Seminar dan bimbingan teknis penyusunan permohonan sertifikasi halal bagi UMKM di Halal Center yang terletak di 5 (lima) Perguruan Tinggi yang berada di Malang

2. Penunjukan 5 tempat yang dijadikan sebagai Pilot Project Halal

LPPOM MUI Fasilitator

Memberikan sertifikasi halal pada hotel dan restoran yang berada di Kota Malang yang telah melakukan pengajuan

sekunder terdiri dari perguruan tinggi, LPPOM MUI, dan sektor UMKM, dan stakeholder primer terdiri dari masyarakat/pengunjung wisata.

Salah satu informan menyatakan pernyataan sebagai berikut:

Kolaborasi untuk pengembangan wisata halal kota Malang sendiri dilakukan bersama-sama, ada stakeholder kunci ya, sampai dengan masyarakat atau pengunjung wisata. Semua orang berpartisipasi dalam pengembangan ini, tanpa pengunjung juga wisata akan gagal dilakukan.” (Kepala Disbudpar Kota Malang Ida Ayu Made Wahyuni).

Berikut disajikan gambar stakeholder dari pengembangan wisata halal di Kota Malang.

Berikut adalah dimensi kolaborasi yang menjadi fokus dalam pe- ngembangan wisata halal (halal tourism) di Kota Malang:

1. Administrasi Stakeholder dalam Pengembangan Pariwisata Halal Administrasi dalam hal ini diartikan sebagai manajemen dalam kolaborasi, yaitu mengatur apa saja yang dibutuhkan untuk mencapai suatu tujuan melalui sistem yang efektif. Komponen- komponen administrasi dalam penelitian ini berkaitan dengan kejelasan peran dan tanggung jawab setiap pihak dalam kolaborasi stakeholder pengembangan Wisata Halal Kota Malang.

PENGEMBANGAN WISATA HALAL DI KOTA MALANG

STAKEHOLDER KUNCI (PEMERINTAH)

STAKEHOLDER PRIMER (MASYARAKAT)

STAKEHOLDER SEKUNDER (UMKM, PT, MUI) GAMBAR 4.6: Stakeholders dalam Pengembangan Wisata Halal

Sumber: Diolah Penulis (2020)

Stakeholder Kunci Peran Tanggung Jawab

Walikota Malang Koordinator

1. Pembentukan regulasi terkait wisata halal Malang

2. Pengalokasian dana guna sertifikasi halal dan standardisasi

3. Sistem informasi digital berupa video promosi wisata halal

Kepala Disbudpar Kota

Malang Koordinator

1. Pemahaman wisata halal

2. Pengalokasian dana guna sertifikasi dan standardisasi

3. Pembuatan video promosi wisata halal

Stakeholder Sekunder Peran Tanggung Jawab

Sektor UMKM Implementor

1. Ikut serta dalam kegiatan pemahaman wisata halal

2. Bertanggung jawab atas pengalokasian dana yang telah diberikan oleh Peme- rintah Kota Malang

Perguruan Tinggi Fasilitator

1. Penelitian dan pengembangan wisata halal

2. Penyedia sarana dan prasarana guna pemahaman wisata halal

LPPOM MUI Fasilitator Pemberian sertifikasi legalitas halal

Stakeholder Primer Peran Tanggung Jawab

Masyarakat/

Pengunjung Wisata Pelaksana Penunjang dalam proses keberhasilan kolaborasi pengembangan wisata halal

Peran dan tanggung jawab yang diemban oleh setiap stake- holder perlu diadakannya pertemuan kerja sama yang efektif dan konsisten. Pemkot Malang selaku stakeholder kunci perlu untuk membangun MoU dan berkolaborasi dengan bebagai pihak, hal itu bertujuan untuk pengembangan wisata halal di Kota Malang yang selaras dengan Visi Misi Kota Malang yaitu Malang Halal. Hal ini dibuktikan dari hasil wawancara stakeholder kunci sebagai berikut:

TABEL 4.2: Peran dan Tanggung Jawab Stakeholders

Sumber: Diolah Penulis (2020)

…dalam mengembangkan wisata halal di Kota Malang ini kami selalu melakukan pertemuan kerja sama yang membahas tentang pengembangan wisata halal, sebagai salah satu contohnya kerja sama kami dengan LPPOM MUI yang memberikan legalitas serti-fikasi halal pada restoran dan hotel yang berada di Kota Malang” (Walikota Malang, Sutiaji).

Kriteria usaha pariwisata halal dalam panduan ini bersifat panduan bagi usaha yang ingin mengembangkan dirinya sebagai usaha pariwisata halal. Penggolongan usaha pariwisata halal di- tetapkan melalui sertifikasi usaha pariwisata halal berdasarkan hasil penilaian atas pemenuhan kriteria usaha pariwisata halal yang meliputi aspek produk, aspek pelayanan dan aspek penge- lolaan. Usaha pariwisata dapat melakukan sertifikasi usaha pariwisata halal apabila telah memenuhi standar usaha pariwisata sebagaimana diatur dalam ketentuan peraturan perundang- undangan. Biaya sertikasi usaha pariwisata halal harus memper- hatikan atau mempertimbangkan kondisi usaha dan harga pasar untuk sertifikasi yang sejenis agar tidak memberatkan pelaku usaha pariwisata. Dalam pelaksanaannya, Pemerintah Daerah melaku- kan pemantauan dan pembinaan terhadap sertifikasi usaha pariwisata halal.

…pada pertemuan dengan LPPOM MUI salah satunya kami membahas tentang perkembangan legalitas sertifikasi halal di Kota Malang, kendala apa sajakah yang yang dihadapi para sektor UMKM dalam mendapatkan sertifikasi halal ini…” (Kepala Disbudpar Kota Malang Ida Ayu Made Wahyuni)

…setelah kami adakan pertemuan kerja sama, lalu kami meng- evaluasi apa saja yang harus diperbaiki, jadi ketika kami tahu apabila terdapat hambatan kami langsung mencari solusinya…

(Walikota Malang, Sutiaji)

Berdasarkan wawancara di atas, dapat diartikan bahwa dalam pengembangan wisata halal di Kota Malang salah satu kolaborasi yang dilakukan dalam pertemuan kerja sama adalah membahas tentang pengembangan wisata halal, sebagai salah satu contoh- nya kerja sama dengan LPPOM MUI yang memberikan legalitas sertifikasi halal pada restoran dan hotel yang berada di Kota Malang.

Peran dan tanggung jawab dari setiap stakeholder, kejelasan tujuan dari stakeholder, adanya komunikasi yang formal, serta pemantauan dalam setiap pelaksanaan kolaborasi dari stake- holder telah terkoordinasi dengan baik. Hal ini dibuktikan dari hasil wawancara sebagai berikut:

…dari para stakeholder kan memiliki peran dan tanggung jawab sendiri-sendiri namun tugas-tugas dari setiap stake- holder telah terkoordinasi dengan baik, jadi tidak ada yang terbengkalai, dan kalaupun ada yang terbengkalai maka dari setiap stakeholder berupaya menyelesaikan kendala ter- sebut…” (Ketua Persatuan Hotel Restoran Indonesia (PHRI) Malang, Dwi Cahyono).

Selaras dengan pernyataan di atas, berikut hasil wawancara stakeholder sekunder:

…dalam setiap pertemuan, kami membahas tugas-tugas dan tanggung jawab kami, dan dari setiap tugas-tugas yang di- limpahkan kepada para aktor, telah disesuaikan dengan kemampuan dan bidang dari masing-masing aktor…” (LPPOM MUI).

…sama seperti halnya ketika ada seminar dan bimtek terkait sertfikasi halal untuk sektor UMKM, maka tugas tersebut dilimpahkan kepada pihak akademisi, lalu pihak akademisi yang mengkoordinasi dan membangun kerja sama untuk menyelenggarakan seminar dan bimtek tersebut…” (Pihak dari Universitas).

Berikut salah satu hasil wawancara dari stakeholder sekunder terkait dengan adanya komunikasi yang formal:

…selain itu komunikasi kami dengan para stakeholder yang lainnya guna transparansi terkait pengembangan wisata halal di Kota Malang ini selalu terjaga dengan baik, tidak ada miss com-munication diantara para aktor stakeholder…” (LPPOM MUI).

…apakah terdapat hambatan, ataukah terjadi ketidak selarasan pendapat antar pemangku kepentingan sehingga menjadi peng- hambat proses pengembangan wisata halal di Kota Malang…”

(Pihak dari Universitas).

…dari setiap aktor ini kan memiliki peran dan tanggung jawab masing-masing kemudian berkolaborasi, tapi kami selalu me- mantau dari peran tanggung jawab yang dilakukan termasuk kendala-kendala yang dihadapi…” (Kepala Disbudpar Kota Malang Ida Ayu Made Wahyuni)

Berdasarkan pernyataan di atas, dapat disimpulkan bahwa administrasi stakeholder terkait dengan peran dan tanggung jawab masing-masing, sehingga pelaksanaan pengembangan wisata halal dapat diwujudkan. Kolaborasi administrasi terkait dengan kesadaran masing-masing, yang mana terkait dengan kejelasan tujuan dari stakeholder, adanya komunikasi yang formal, serta pemantauan dalam setiap pelaksanaan kolaborasi dari stakeholder telah terkoordinasi dengan baik.

Pada panduan destinasi pariwisata halal yang dikeluarkan oleh Kementerian Pariwisata, mengemukakan bahwa Destinasi dapat melakukan pengembangan pariwisata halal mulai dari menyediakan amenitas dan layanan yang dapat memenuhi kebutuhan dasar wisatawan muslim yaitu ketersediaan air untuk bersuci, makanan halal, fasilitas ibadah yang memadai, paket wisata, dan visitor guide; hingga mengembangkan pariwisata halal secara lebih luas dan membranding sebagai destinasi pariwisata halal.

Pemerintah Provinsi atau Kabupaten/Kota yang telah me- netapkan pariwisata halal sebagai salah satu ikon utama pengembangan destinasi didorong untuk:

a) Menyusun kebijakan tentang pariwisata halal. Pemerintah provinsi atau kabupaten/kota dalam proses penyusunan kebijakan tentang pariwisata halal, terlebih dahulu meng- konsultasikan konsep kebijakan tersebut dengan kemen- terian pariwisata;

b) Membuat basis data untuk mendukung sertifikasi produk dan usaha pariwisata halal serta pengembangan pariwisata halal, yang dapat di akses oleh pelaku pariwisata halal.

Destinasi yang berkomitmen mengembangkan pariwisata halal didorong menyampaikan laporan perkembangan dan informasi penting lainnya terkait pariwisata halal kepada Kementerian Pariwisata secara periodik, sekurang-kurangnya per semester.

Dalam standarisasi laporan, Kementerian Pariwisata memberikan format pelaporan kepada destinasi pariwisata halal, hal ini yang kemudian akan dilakukan oleh seluruh stakeholder dalam menjaga peran dan tanggung jawab dalam pengembangan pari- wisata halal di Kota Malang, yaitu terkait dengan pelaporan per- kembangan dan informasi penting lainnya terkait pariwisata halal kepada Kementerian Pariwisata. Penyelenggaraan destinasi pariwisata halal dilaksanakan berdasarkan atas kriteria, meliputi:

(i) perwilayahan, (ii) daya tarik wisata, (iii) fasilitas umum, (iv) fasilitas pariwisata, (v) aksesibilitas, (vi) investasi, serta (vi) dukungan pemerintah.

Berdasarkan penjabaran di atas, kolaborasi secara adminis- trasi pengembangan pariwisata halal yaitu memperhatikan peran dan tanggung jawab masing-masing stakeholder, sehingga mewujudkan penyelenggaraan pariwisata halal sesuai pedoman Kementerian Pariwisata. Adapun langkah-langkah yang dilakukan untuk memperkuat peran dan tanggung jawab seluruh stakeholder, yaitu:

a) Mendorong seluruh stakeholders terkait pariwisata halal untuk memahami panduan penyelenggaran pariwisata halal dan berperan aktif dalam penyelenggaraan pariwisata halal;

dan

b) Mendorong seluruh stakeholders, khususnya Pemerintah Daerah yang memposisikan daerahnya atau salah satu kawasan pengembangan pariwisata (KPP) provinsi/

kabupaten/kota sebagai destinasi pariwisata halal, untuk memfasilitasi penyelenggaraan pariwisata halal, antara lain dalam hal:

1) Menyelenggarakan sosialisasi pariwisata halal;

2) Melakukan pertemuan secara berkala yang membahas peluang dan permasalahan terkait pariwisata halal;

3) Mendorong peran aktif pusat kajian halal perguruan tinggi dalam penyelenggaraan pariwisata halal.

2. Komitmen Stakeholder dalam Pengembangan Pariwisata Halal Komitmen merupakan komponen yang sangat penting dalam berkelanjutannya sebuah kolaborasi. Komitmen dalam kolaborasi

dapat dipengaruhi oleh kepercayaan, mutualitas, dan pemahaman bersama. Komitmen dalam penelitian ini berkaitan dengan kon- sistensi para pihak dalam menjalankan peran dang tanggung jawabnya.

Komitmen dalam kolaborasi dapat dipengaruhi oleh adanya kepercayaan, mutualitas, dan pemahaman bersama. Dalam men- jalankan setiap perannya pada pengembangan wisata halal di Kota Malang dibutuhkan adanya komitmen dari para stakeholder serta konsistensi dalam menjalankan peran dan tanggung jawabnya. Hal ini dibuktikan dari hasil wawancara salah satu stakeholder sebagai berikut:

saya selalu menekankan pada stakeholder yang lain bahwa- sanya dalam mengembangkan wisata halal di Kota Malang ini haruslah dengan komitmen dan konsistensi, karena jika tidak ada komitmen dan konsistensi saya yakin ketika terdapat hambatan tugas dan tanggung jawab yang dijalankan langsung selelsai begitu saja...” (Kepala Disbudpar Kota Malang, Ida Ayu Made Wahyuni)

Berdasarkan wawancara di atas, dapat diartikan bahwa adanya penekanan dalam mengembangkan wisata halal di Kota Malang ini harus dilakukan dengan komitmen dan konsistensi yang kuat, karena jika tidak ada komitmen dan konsistensi tersebut akan menimbulkan hambatan tugas dan tanggung jawab yang dijalan- kan. Hal selaras juga disampaikan oleh stakeholder sekunder sebagai berikut:

…beliau selalu menyampaikan kepada kami bahwa kami harus selalu berkomitmen dan konsisten dalam rangka mengem- bangkan wisata halal di Kota Malang…” (Halal Center Universitas).

…kegiatan seminar dan bimtek terus dilakukan bagi kami yang ingin mendapatkan legalitas sertifikasi halal, saya rasa Peme- rintah Kota Malang konsisten dalam mengembangkan wisata halal ini…” (Pelaku usaha UMKM Bazar)

…selain itu Pemkot Malang juga telah berkomitmen untuk terus menggelar agenda bazar kuliner maupun wisata halal, sama halnya dengan Pemkot Malang yang selalu mewadahi para sektor UMKM untuk terus mengembangkan usahanya menuju halal…” (LPPOM MUI).

Faktor yang dianggap memengaruhi sikap individual terhadap perubahan adalah keterlibatan dalam pekerjaan serta komitmen pada organisasi. Randall dan Cote (1991) dalam buku Arifudin dkk (2002), mengemukakan bahwa mereka yang memiliki tingkat etika kerja yang tinggi akan lebih terlibat dengan pekerjaannya dari pada orang-orang dengan tingkat etika kerja yang lebih rendah. Sedangkan Yousef (2000), mengemukakan bahwa mereka yang lebih berkomitmen pada organisasinya lebih mungkin untuk merangkul perubahan dari pada mereka yang kurang berkomitmen pada organisasi.

Berdasarkan penjabaran di atas, kolaborasi dalam meningkatkan komitmen dilakukan untuk meningkatkan angka keberhasilan pengembangan pariwisata halal. Adapun langkah-langkah yang dilakukan untuk memperkuat komitmen seluruh stakeholder, yaitu:

a) Menyusun kebijakan pariwisata halal sebagai panduan dalam menyelenggarakan pariwisata halal;

b) Membentuk struktur dan fungsi organisasi bidang pariwisata halal di tingkat Kota yang memiliki kewenangan penye- lenggaraan pariwisata halal;

c) Dalam kondisi belum dapat membentuk struktur yang memiliki kewenangan penyelenggaraan pariwisata halal, dapat membentuk tim pariwisata halal dengan tugas meng- implementasikan penyelenggaraan pariwisata halal dan mengintegrasikan program dan kegiatan pariwisata halal dengan melibatkan unsur pentahelix.

d) Menguatkan organisasi kepariwisataan pemerintah, baik di pusat maupun daerah di bidang pengembangan destinasi, pengembangan pemasaran, pengembangan industri dan kelembagaan pariwisata, guna melakukan koordinasi dan menyelaraskan/menyinergikan langkah dalam mengem- bangkan pariwisata halal;

e) Mendorong industri pariwisata menggunakan produk dan usaha tersertifikasi halal dalam upaya mengembangkan produk pariwisata halal.

3. Mutualitas Stakeholder dalam Pengembangan Pariwisata Halal Mutualitas merupakan hubungan timbal balik yang saling menguntungkan satu sama lain. Mutualitas dapat dipengaruhi oleh kepercayaan berbagai pihak dan mempengaruhi komitmen para pihak dalam suatu kolaborasi. Dalam penelitian ini, mutualitas berkaitan dengan hubungan timbal balik dan ketergantungan antar stakeholder pengembangan Wisata Halal Kota Malang.

Mutualitas merupakan hubungan timbal balik yang saling menguntungkan satu sama lain. Mutualitas akan terjadi apabila masing-masing aktor memberikan kontribusi sumber daya, sehingga aktor yang lainnya memperoleh manfaat. Seperti contohnya Walikota Malang selaku stakeholder kunci menggelar seminar dan Bimtek guna penyusunan sertifikasi halal bagi hotel dan restoran yang berada di Kota Malang kemudian stakeholder sekunder yaitu dari pihak akademisi yang disebut dengan halal center menyediakan laboratorium guna pendampingan legalitas sertifikasi halal. Hal ini dibuktikan dari hasil wawancara stake- holder sekunder sebagai berikut:

guna memfalisitasi para sektor UMKM untuk legalitas sertifikasi halal, kami dari pihak akademisi memberikan laboratorium untuk pendampingan, kami saling bahu membahu untuk proses pegembangan wisata halal…” (LPPOM MUI).

Pemkot dengan pihak akademisi kan bekerja sama untuk memfasilitasi sektor UMKM guna mendapatkan legalitas sertifikasi halal, dan ketika sektor UMKM telah mendapatkan sertifikasi halal maka Pemkot telah mendapatkan salah saatu aset untuk kepentingan pengembangan wisata halal, jadi sektor UMKM mendapatkan keuntungan karna difasilitasi, dan pemkot mendapatkan keuntungan dari sertifikasi halal yang didapatkan oleh sektor UMKM, dan masyarakat atau pengunjung wisata pun juga ikut senang karena tidak perlu khawatir lagi akan kehalalan produk yang dibeli.

Walikota Malang melalui Kepala Disbudpar Kota Malang telah mengalokasikan dana untuk legalitas sertifikasi halal kepada hotel dan restoran yang merupakan dari sektor UMKM. Kolaborasi antar stakeholder didasari atas kesamaan visi misi yaitu

menjadikan Kota Malang menjadi Malang halal. Hal ini dibuktikan dari hasil wawancara stakeholder kunci sebagai berikut:

…di tahun 2019, melalui Kepala Disbudpar saya meng- alokasikan dana untuk legalitas sertifikasi halal bagi dapur hotel dan restoran yang telah memenuhi syarat dan telah mendapatkan bimtek yang didampingi oleh halal center…”

(Walikota Malang, Sutiaji)

Kemudian sertifikasi halalnya dikeluarkan oleh LPPOM MUI dengan pembiayaan melalui metode cost sharing, metode itu berupa biaya dasar akan menjadi beban pemkot namun untuk selebihnya menjadi beban hotel dan restoran dengan dasar pemerataan dan keadilan, dikarenakan adanya keterbatasan biaya. Selaras dengan pernyataan di atas, berikut hasil wawan- cara dari stakeholder sekunder:

…saya salah satu dari sektor UMKM yang berada di Kota Malang ini telah mendapatkan dana pembiayaan dari pemkot untuk sertifikasi halal bagi dapur hotel dan restoran, selain kami difasilitasi dengan pemberian seminar dan bimtek kami juga diberikan dana dan hal itu sangat membantu …” (Pelaku usaha UMKM Bazar)

4. Pemahaman Bersama/Tujuan Bersama Stakeholder dalam Pengem- bangan Pariwisata Halal

Pemahaman bersama merupakan penyelarasan pemikiran dan penyatuan tujuan para pihak. Adanya pemahaman bersama atau tujuan bersama menjadi kunci kolaborasi yang akan membawa para pihak mencapai tujuan tersebut. Tujuan bersama dalam penelitian ini berkaitan dengan kesamaan tujuan setiap stakeholder, serta cara mencapai konsensus dalam kolaborasi antar stakeholder dalam pengembangan Wisata Halal Kota Malang.

Pemahaman bersama diidentifikasikan sebagai upaya dari nilai yang ingin dicapai melalui kesepakatan tentang definisi masalah secara umum yang terjadi dalam proses kolaborasi.

Pembentukan pemahaman bersama antar aktor terkait dalam pengembangan wisata halal di Kota Malang telah dilakukan oleh masing-masing aktor. WaliKota Drs. Sutiaji pada akhir tahun

2018 dalam visi misi program kerjanya mencanangkan terdapat future of Malang yang di dalamnya memuat Malang Halal. Setiap stakeholder kunci, stakeholder primer, dan stakeholder sekunder berkolaborasi dalam pengembangan wisata halal yang ada di Kota Malang yang selaras dengan visi misi Kota Malang yaitu Malang Halal. Hal ini dibuktikan dari hasil wawancara oleh stakeholder kunci dan stakeholder sekunder sebagai berikut:

…jadi dari berbagai stakeholder ini seperti perguruan tinggi, kemudian sektor UMKM, masyarakat, dan lembaga-lembaga lainnya kan memiliki berbagai macam peran dan tanggung jawab dan disitu tujuannya hanyalah satu menjadikan Kota Malang sebagai Malang Halal…” (Walikota Malang, Sutiaji) Selaras dengan pernyataan di atas, berikut hasil wawancara stakeholder sekunder sebagai berikut:

Kami disini dari pihak akademisi kan memiliki banyak laboratorium, jadi kontribusinya kami yaitu menyediakan sarana dan prasarana dalam meberikan bimtek dan lain sebagainya, jadi sebenarnya tujuannya kami yaitu selaras dengan visi misi Kota Malang yang menjadikan Malang sebagai Malang Halal.” (Halal Center Universitas).

…tugas dari pihak akademisi membantu Pemkot Malang untuk memberikan seminar dan bimtek legalitas sertifikasi halal, kemudian selain dengan pihak akademisi Pemkot juga ber- kolaborasi dengan LPPOM MUI untuk memberikan legalitas sertifikasi halal…” (Halal Center Universitas).

…jadi sektor UMKM itu diwadahi dan difasilitasi untuk legalitas sertifikasi halal, karna sertifikasi halal itu tidak hanya serta merta sebuah kertas, tapi untuk mendapatkan legalitas sertifikasi halal juga terdapat ketentuan-ketentuannya…”

(Pelaku usaha UMKM Bazar).

Selaras dengan pernyataan di atas, berikut hasil wawancara stakeholder primer sebagai berikut:

…ketika kami makan makanan yang kami beli, sekarang jadi tidak ada rasa ragu akan kehalalan produk yang kami makan, karena Pemkot telah mewadahi dan memfasilitasi para sektor UMKM untuk legalitas sertifikasi halal…” (Mirna, Pengunjung Pariwisata Bazar).

…harapan kedepannya semoga semua sektor UMKM yang berada di Kota Malang dapat memastikan kehalalan produk- nya dengan adanya legalitas sertifikasi halal…” (Mirna, Pengunjung Pariwisata Bazar).

Dalam mencapai tujuan bersama yaitu Malang Halal maka diperlukan adanya kolaborasi stakeholder, Walikota Malang dan Kepala Disbudpar Kota Malang selaku stakeholder kunci meng- gelar bazar kuliner halal di Balaikota Malang, mengadakan seminar dan bimbingan teknis penyusunan permohonan sertifikasi halal bagi UMKM di Halal Center yang terletak di 5 (lima) Perguruan Tinggi yang berada di Malang, penunjukan 5 tempat yang dijadikan sebagai Pilot Project Halal, melakukan Desain Strategi Rencana Aksi (DSRA) dan pada tahun 2019 yang akan diimplementasikan, serta melakukan sosialisasi guna mengajak para sektor UMKM untuk diarahkan menuju wisata halal. Selain dari stakeholder kunci, stakeholder sekunder dan stakeholder primer berkontribusi atas apa yang telah dilakukan oleh stakeholder kunci seperti menyediakan sarana dan prasarana, serta pemberian sertifikasi. Hal ini dibuktikan dari hasil wawancara oleh stakeholder kunci sebagai berikut:

…saat ini kami sedang gencar-gencarnya mempersiapkan semua yang terkait dengan pengembangan wisata halal di Kota Malang, sebagai salah satunya yaitu mempersiapkan DSRA, dan pada tahun 2019 sudah mulai diimplementasikan…”

(Kepala Disbudpar Kota Malang Ida Ayu Made Wahyuni)

…selain itu kami dengan pihak akademisi juga bekerja sama mengemban visi misi dari Malang Halal dengan menyedikan sarana dan prasarana laboratorium untuk kegiatan seminar dan bimtek dalam permohonan legalitas sertifikasi halal…”

(Halal Center Universitas).

…sekarang kan sudah zamannya teknologi, semua orang juga telah menggunakan media sosial, jadi disitu kamu gunakan untuk kepentingan publikasi video promosi tentang wisata halal, selain lewat media sosial kami juga mempublikasikan lewat media-media yang lainnya…" (Halal Center Universitas).

Berdasarkan pernyataan di atas, maka dapat diketahui bahwa untuk meningkatkan pemahaman maupun tujuan bersama maka

dilakukan berbagai kegiatan seperti bazar, sementara akademisi melakukan berbagai kegiatan seminar, penelitian maupun bimtek mengenai prosedural dan pelaksanaan pariwisata halal di Kota Malang. Adapun langkah-langkah dalam penyelenggaraan pene- litian dan pengembangan pariwisata halal meliputi:

a) Meningkatkan penelitian berorientasi pada pengembangan destinasi pariwisata halal;

b) Meningkatkan penelitian berorientasi pada pengembangan pasar dan pemasaran pariwisata halal;

c) Meningkatkan penelitian berorientasi pada pengembangan industri pariwisata halal; dan

d) Meningkatkan penelitian berorientasi pada pengembangan kelembagaan dan SDM pariwisata halal; dan

e) Mendorong akademisi dan perguruan tinggi untuk melakukan penelitian terkait penyelenggaraan pariwisata halal serta profil, kebutuhan dan kepuasan wisatawan muslim atas pariwisata halal.

5. Kepercayaan Stakeholder dalam Pengembangan Pariwisata Halal Kepercayaan merupakan komponen yang sangat penting dalam kolaborasi. Kepercayaan dapat diartikan sebagai keyakinan individu terhadap individu lain. Kepercayaan dapat memengaruhi mutualitas antar pihak dalam kolaborasi, Karena para pihak akan bersedia bekerjasama dengan pihak yang dipercayainya tanpa ada unsur keterpaksaan. Kepercayaan dalam penelitian ini ber- kaitan dengan keyakinan para pihak pada diri sendiri dan pihak yang lain untuk dapat menjalankan peran dan tanggung jawabnya.

Hal ini dibuktikan dari hasil wawancara sebagai berikut:

…menurut saya berjalannya kolaborasi antar stakeholder ini berlandaskan rasa kepercayaan, dan sekiranya tidak ada rasa percaya saya yakin bahwasannya kolaborasi ini tidak akan berjalan dengan baik…” (Ketua Persatuan Hotel Restoran Indonesia (PHRI) Malang Dwi Cahyono).

…seperti contohnya ketika saya menaruh rasa percaya kepada Kepala Disbudpar Kota Malang untuk mengalokasikan dana

Dalam dokumen WISATA HALAL, (Halaman 66-82)

Dokumen terkait