• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor Penghambat Pelaksanaan Pendidikan Keislaman serta

BAB III ANALISIS BAHASAN HASIL PENELITIAN

B. Faktor Penghambat Pelaksanaan Pendidikan Keislaman serta

Adapun beberapa faktor penghambat dalam pelaksanaan pendidikan keagamaan dan penyebaran paham Ahmadiyah khususnya di wilayah Desa Bagik Manis Kecamatan Sambelia Kabupaten Lombok Timur dipicu oleh hal- hal mendasar berikut ini.

1. Perbedaan di Bidang Teologi dengan Aliran Islam Lainnya

Pandangan Ahmadiyah dalam bidang teologi yang juga menjadi doktrinnya ternyata sulit diterima oleh mayoritas umat Islam di Indonesia termasuk juga di Pulau Lombok bahkan hingga saat ini, seperti masalah kenabian, wahyu, kematian Nabi Isa a.s., dan terutama doktrin tentang al- Mahdi dan al-Masih yang merupakan ajaran pokok dalam pembaruan (tajdid) agama Islam menurut Ahmadiyah. Bahkan hal itu selalu memunculkan perdebatan-perdebatan yang tidak pernah selesai. Dalam pandangan Ahmadiyah, al-Masih yang dijanjikan kedatangannya bukanlah pribadi Nabi Isa a.s., yang diutus kepada Bani Israel, melainkan salah seorang umat Nabi Muhammad Saw., yang mempunyai persamaan dengan Isa al-Masih a.s. dengan demikian, tokoh itu pulalah yang disebut al- Mahdi. Jadi al-Masih dan al-Masih itu satu pribadi, dan tidak seperti yang dipahami oleh mayoritas dan mainstream umat Islam pada umumnya.121

118

Lebih lanjut, Ahmadiyah Lahore berpendapat bahwa seandainya Nabi Isa a.s. benar-benar akan dibangkitkan kembali maka hal itu berarti membongkar segel penutup kenabian. Hal ini merusak dasar akidah Islamiyah bahwa Nabi Muhammad Saw., sebagai penutup para nabi.

Sementara jika kedatangan al-Masih bukan sebagai nabi, melainkan sebagai umat, maka hal itu berarti menurunkan derajat Nabi Isa a.s. dari derajat nabi menjadi umat biasa. Oleh karena itu, mereka berpendapat bahwa al-Masih Isa Ibnu Maryam yang diutus kepada Bani Israel telah wafat secara wajar dalam usia lanjut.122

Untuk menguatka pendapatnya, para tokoh Ahmadiyah juga membenarkkan dinaikkannya Nabi Isa a.s. ke atas tiang salib, tetapi menyangkat dengan tegas kematian Isa di atas tiang salib. Menurut mereka ketika akan diturunkan dari atas tiang salib, Nabi Isa belum mati dan hanya pingsan belaka. Bukti lain bahwa Nabi Isa a.s. diselamatkan dari kematian pada tiang salib adalah Kitab Injil yang menyatakan bahwa Nabi Isa a.s., hanya disalib untuk beberapa jam saja (Markus 15: 25 dan Yohanes 19: 14). Kematian karena disalib memakan waktu agak lama (Yohanes 19: 32-33).123 Setelah itu, masih menurut pandangan Ahmadiyah, Nabi Isa a.s. pindah ke Kashmir (India) dan meninggal secara wajar dalam usia 120 tahun.124 Keyakinan bahwa Nabi Isa a.s. telah mati dan tidak mungkin turun kembali ke dunia membuat Ahmadiyah berpandangna bahwa yang turun ke dunia bukanlah Nabi Isa a.s. putera

122Iskandar Zulkarnain, Gerakan Ahmadiyah ..., 86.

123Iskandar Zulkarnain, Gerakan Ahmadiyah ..., 88

124Muslih Fathoni, Paham Mahdi Syiah..., 94.

119

Maryam, yang menjadi nabi bagi bangsa Israel, melainkan orang lain yang dapat melaksaakan kewajiban Nabi Isa a.s. orang yang dimaksud adalah Mirza Ghulam Ahmad, mujaddidabad ke-14 H.125

Adapun mengenai kenabian dan wahyu, Ahmadiyah Lahore senada dengan umat Islam pada umumnya yang mengakui bahwa Nabi Muhammad Saw., adalah nabi dan rasul penutup, dan setelah beliau tidak akan datang baik nabi baru ataupun nabi lama karena risalah Allah Swt., telah sempurna dan akan berlaku sepanjang masa (agama Islam). Namun demikian dalam pandangan Ahmadiyah Lahore, kebutuhan akan nikmat ruhani yang berupa wahyu Ilahi, dengan mengecualikan wahyu mathluw (wahyu tertinggi atau wahyu kenabian, yaitu dengan mengutus Malaikat Jibril sebagai perantara), tetap diperlukan bagi manusia karena sifat Kalam (Maha Berfirman) Allah terus berlangsung hingga saat ini dan seterusnya.126 Wahyu atau ilham ini turun kepada orang-orang tulus, misalnya para wali atau mujaddid.

Mengenai pandangan Ahmadiyah tentang jihad dan sikap taat terhadap pemerintah walaupun itu adalah pemerintah jajahan, bagi sebagian besar orang Indonesia yang saat itu tengah dilanda oleh semangat nasionalisme dan berjuang untuk meraih kemerdekaan, pandangan serta sikap Ahmadiyah ini tidak dapat diterima dan dihargai.127 Suatu sikap yang dicela sebagai bentuk penghambaan masyarakat dan melempangkan

125Iskandar Zulkarnain, Gerakan Ahmadiyah ..., 263.

126Mulyono, Bunga Rampai Paham Keagamaan Gerakan Ahmadiyah Indonesia (Jakarta: Darul Kutubil Islamiyah, 2003), 26.

127G.F. Pijpers (terj), Penelitian tentang Agama Islam di Indonesia 1930 – 1950

120

jalan bagi kolonialisme dan imperialisme, terutama bagi kaum Muslim, kepada pemerintah yang menjajah tanah airnya.

Oleh karena itu, sikap dan juga penafsiran Ahmadiyah ini menjadi salah satu faktor penghambat bagi perkembangan GAI (Gerakan Ahmadiyah Indonesia). Selain itu, pelaksanaan dakwah dari gerakan ini (GAI) masih tetap saja konvensional bahkan hingga saat ini. Yang mereka serang biasanya adalah alam pikiran melalui penyebaran brosur-brosur atau melayani debat. Sedangkan banyak orang misalnya tertarik kepada Muhammadiyah justru oleh amal sosialnya, seperti pembangunan dan pengelolaan sekolah-sekolah dan rumah sakit-rumah sakit.128

2. Sikap Kritis dari Muhammadiyah

Meskipun dalam beberapa tahun pertama hubungan antara Muhammadiyah dengan Ahmadiyah tampak sangat ramah dan akrab, namun dalam perkembangannya, terutama sejak tahun 1926, Muhammadiyah mulai menjaga jarak dengan Ahmadiyah. Hal ini karena Muhammadiyah pada akhirnya menyadari begitu banyak perbedaan- perbedaan doktrin tertentu dengan Ahmadiyah Lahore, terutama penafsiran-penafsiran Ahmadiyah Lahore mengenai Nabi Isa a.s., mengenai Nabi Adam a.s., pengertian mukjizat, pengertian wahyu, kejadian Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad Saw., dan beberapa hal tentang surga dan neraka.

128G.F. Pijpers (terj), Penelitian tentang Agama Islam... 43.

121

Sikap Muhammadiyah terhadap Ahmadiyah ini semakin mengkristal pada tangagl 5 Juli 1928 dimana Pengurus Besar (PB) Muhammadiyah mengeluarkan maklumat kepada cabang-cabangnya yang berisi larangan untuk mengajarkan ilmu dan paham Ahmadiyah di lingkungan Muhammadiyah. Sejak itulah secara resmi berakhir hubungan baik dan persahabatan yang terjalin antara Ahmadiyah Lahore dengan Muhammadiyah. Bahkan dalam Kongres Muhammadiyah tahun 1929 di Solo dikeluarkan pernyataan yang lebih tegas lagi, bahwa orang yang percaya akan nabi sesudah Muhammad adalah kafir.129 Hal inilah yang menjadi salah satu sebab dari kepindahan Wali Ahmad Baig ke Purwokerto pada 1930 untuk mengembangkan dan menyebarluaskan paham Ahmadiyah di kota ini jika dibandingkan dengan di Yogyakarta.130

129A. Yogaswara, Heboh Ahmadiyah: Mengapa Ahmadiyah Tidak Langsung Dibubarkan? (Jakarta: Narasi, 2008), 58.

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari berbagai uraian pada bab-bab sebelumnya, maka dalam penelitian ini dihasilkan beberapa kesimpulan pokok sebagai berikut:

1. Model atau bentuk pendidikan Islam yang dikembangkan pada jama’ah Ahmadiyah Desa Bagik Manis dengan dua model atau pola yaitu model pendidikan keagamaan di kalangan internal (tarbiyat) dan eksternal (tabligh) dengan menanamkan nilai-nilai dasar keagamaan seperti: a) pendekatan rasionalisme dalam mengkaji ajaran-ajaran Islam yang tertuang dalam al-Qur’an maupun hadits, b) mengasah literasi pembacaan kitab-kitab Ahmadiyah; c) menanamkan sikap kritis terhadap ajaran Kristen dan Katolik; dan d) menyebar pesan perdamaian dan menghindar adanya kontak fisik atau konflik khususnya dalam menerapkan dan mengaplikasikan konsep jihad serta melakukan pendalam kajian terhadap ajaran-ajaran pokok ke-Ahmadiyah-an meliputi doktrin kenabian, khilafat, jihad, konsep wahyu dan konsep al-Masih dan al-Mahdi.

2. Beberapa faktor penghambat dalam pelaksanaan pendidikan keagamaan dan penyebaran paham Ahmadiyah khususnya di wilayah Desa Bagik Manis Kecamatan Sambelia Kabupaten Lombok Timur dipicu oleh hal-hal mendasar berikut ini yaitu: a) perbedaan di bidang teologi dengan aliran Islam lainnya; dan b) penentangan dan sikap kritis dari Muhammadiyah.

123

B. Saran

1. Warga Ahmadiyah

Diharapkan bagi para anggota jama’ah Ahmadiyah khususnya di Desa Bagik Manis agar sejauh ini tidak menyalahi Mou yang telah disepakati bersama demi menjaga kondusifitas lingkungan setempat.

2. Pimpinan Ahmadiyah

Diharapkan bagi para pimpinan jama’ah Ahmadiyah di Desa Bagik Manis agar senantiasa mampu memberikan pemahaman kepada para anggotanya untuk menjalankan Mou kesepakatan untuk tidak menyebarkan ajaran Ahmadiyah kepada masyarakat lainnya.

3. Kementerian Agama

Diharapkan kepada Kemenag Kab. Lombok Timur khususnya seksi Binmas Islam senantiasa mampu menjalankan tugasnya untuk memberikan bimbingan keislaman kepada warga Ahmadiyah.

4. Pemerintah Kabupaten

Diharapkan bagi Pemkab Lombok Timur untuk memberikan jaminan keamanan bagi para jama’ah Ahmadiyah dimanapun berada sehingga tidak lagi mendapatkan diskriminasi dan diskredit di tengah kehidupan bermasyarakat.

5. Peneliti Lainnya

Kepada para peneliti lainnya yang hendak melakukan kajian tentang eksistensi Ahmadiyah di wilayah Lombok Timur untuk mencari tema-tema lainnya di luar tema kependidikan.

DAFTAR PUSTAKA

Aly, Hery Noer.Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Logos, 1999.

Amir, Aminuddin. Pengantar Studi Sejarah Pergerakan Nasional. Jakarta:

Pembimbing Masa, 1967.

Arifin, Tatang M. Menyusun Rencana Penelitian.Jakarta: Rajawali Press, 1992.

Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Cet. ke-3, Jakarta: Rineka Cipta, 2006.

Daulay, Hamdan. Pasang Surut Pendidikan dalam Dinamika Budaya, Politik dan Keluarga.Jakarta: YPY, 2009.

H.A. Kadir Djaelani, Konsepsi Pendidikan Islam dalam Era Globalisasi, (Jakarta:

Putra Harapan, 2001), hlm. 15.

Hadi, Sutrisno.Metodologi Research II.Yogyakarta: Andi Offset, 1994.

Hasan, Fuad.Dasar-Dasar Kependidikan.Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2005.

Moleong, Lexy J. Metodologi Penelitian Kualitatif, Edisi Revisi. Bandung:

Remaja Rosdakarya, 2014.

Muhajir, Noeng. Metodologi Penelitian Kualitatif. Cet. IV, Yogyakarta: Rake Sarusin, 2000.

Mulyana, Deddy. Metodologi Penelitian Kualitatif: Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Lainnya.Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2004.

Nasr, Sayyed Hossein.Islam Tradisi di Tengah Kancah Dunia Modern.Bandung:

Pustaka, 1994.

Nasution, Adnan Buyung, dkk. Ahmadiyah di Mata Cendekiawan; Kumpulan Tulisan Cendekiawan Terkait Fenomena Ahmadiyah di Media Massa Tahun 2010-2011. Yogyakarta: Koleksi Pustaka Perpustakaan Arif Rahman Hakim, t.th.

Nasution, S. Metode Research.Jakarta: Bumi Aksara, 1996.

Nasution, S. Metodologi Penelitian Naturalistik Kualitatif. Bandung: Tarsito, 1996.

Pusat Bahasa Depdiknas, Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa Depdiknas, 2008.

Putra, Nusa & Lisnawati, Santi. Penelitian Kualitatif Pendidikan Agama Islam.

Bandung: Remaja Rosdakarya, 2012.

Sofan, Moh. Pendidikan Berparadigma Profetik.Yogyakarta: IRCiSoD, 2004.

Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Bandung: Fokusmedia, 2004.

LAMPIRAN

Gambar 01.

Wawancara Peneliti dengan Kepala Desa Bagik Manis

Gambar 02.

Kunjungan Peneliti di Kantor Desa Bagik Manis

Gambar 03.

Wawancara Peneliti (kiri) dengan Seorang Tokoh Masyarakat (tengah) dan Tokoh Ahmadiyah (kanan) Di Desa Bagik Manis

Gambar 04.

Wawancara Peneliti (kiri) dengan Anggota Jama’ah Ahmadiyah Desa Bagik Manis

Gambar 05.

Wawancara Peneliti (kiri) dengan Salah Seorang Anggota Jama’ah Ahmadiyah YDesa Bagik Manis yang Berprofesi sebagai Pengojek

Gambar 06.

Wawancara Peneliti (kanan) dengan Salah Seorang Anggota Muda

INSTRUMEN DOKUMENTASI DESA BAGIK MANIS KEC. SAMBELIA

Data dokumentasi yang dibutuhkan dari Desa Bagik Manis antara lain :

1. Profil Desa Bagik Manis selengkapnya 2. Peta Desa

3. Program/Kegiatan Kemasyarakatan Desa 4. Struktur Organisasi Desa

5. Foto Dokumentasi Kegiatan Wawancara Peneliti dengan Informan 6. Dan lain-lain yang terkait

INSTRUMEN WAWANCARA

BERSAMA TOKOH AGAMA/TOKOH MASYARAKAT DESA BAGIK MANIS

Hari/Tanggal : ...

Waktu : ...

Nama Informan : ...

Jabatan : ...

Lokasi Wawancara : ...

Daftar Pertanyaan tentang Keberadaan Jama’ah Ahmadiyah di Desa Bagik Manis

1. Bagaimana kondisi sosial keagamaan masyarakat (baik yang berafiliasi dengan ormas maupun tidak) di Desa Bagik Manis?

2. Bagaimana sejarah masuknya jama’ah dan organisasi Ahmadiyah di Desa Bagik Manis?

3. Bagaimana perkembangan jama’ah dan organisasi Ahmadiyah di Desa Bagik Manis sejak munculnya sampai sebelum terjadinya pengusiran jama’ah Ahmadiyah di Desa Bagik Manis pada tahun 2015?

4. Bagaimana kronologi terjadinya penyerangan dan pengusiran jama’ah Ahmadiyah di Desa Bagik Manis?

5. Apa dampak yang dirasakan oleh jama’ah Ahmadiyah Desa Bagik Manis pasca penyerangan?

6. Bagaimana kondisi jama’ah Ahmadiyah Desa Bagik Manis saat ini?

7. Berapa jumlah jama’ah Ahmadiyah saat ini di Desa Bagik Manis?

8. Bagaimana peran tokoh agama/tokoh masyarakat dalam menanggapi permasalahan jama’ah Ahmadiyah?

9. Bagaimana model atau bentuk pendidikan Islam yang dikembangkan secara internal pada komunitas jama’ah Ahmadiyah Desa Bagik Manis?

10. Bagaimana respon masyarakat sekitar yang tidak berafiliasi dengannya terhadap kegiatan pendidikan Islam yang dijalankan secara internal oleh komunitas jama’ah Ahmadiyah?

INSTRUMEN WAWANCARA BERSAMA KEPALA DESA BAGIK MANIS Hari/Tanggal : ...

Waktu : ...

Nama Informan : ...

Jabatan : ...

Lokasi Wawancara : ...

Daftar Pertanyaan tentang Keberadaan Jama’ah Ahmadiyah di Desa Bagik Manis

1. Bagaimana kondisi sosial keagamaan masyarakat (baik yang berafiliasi dengan ormas maupun tidak) di Desa Bagik Manis?

2. Bagaimana sejarah masuknya jama’ah dan organisasi Ahmadiyah di Desa Bagik Manis?

3. Bagaimana perkembangan jama’ah dan organisasi Ahmadiyah di Desa Bagik Manis sejak munculnya sampai sebelum terjadinya pengusiran jama’ah Ahmadiyah di Desa Bagik Manis pada tahun 2015?

4. Bagaimana kronologi terjadinya penyerangan dan pengusiran jama’ah Ahmadiyah di Desa Bagik Manis?

5. Apa dampak yang dirasakan oleh jama’ah Ahmadiyah Desa Bagik Manis pasca penyerangan?

6. Bagaimana kondisi jama’ah Ahmadiyah Desa Bagik Manis saat ini?

7. Bagaimana peran pemerintah Desa dalam menanggapi permasalahan jama’ah Ahmadiyah?

INSTRUMEN WAWANCARA

BERSAMA TOKOH/ANGGOTA JAMA’AH AHMADIYAH DESA BAGIK MANIS Hari/Tanggal : ...

Waktu : ...

Nama Informan : ...

Jabatan : ...

Lokasi Wawancara : ...

Daftar Pertanyaan tentang Keberadaan Jama’ah Ahmadiyah di Desa Bagik Manis 1. Bagaimana kondisi sosial keagamaan masyarakat seara umum di Desa Bagik Manis?

2. Bagaimana sejarah masuknya jama’ah dan organisasi Ahmadiyah di Desa Bagik Manis?

3. Bagaimana perkembangan jama’ah dan organisasi Ahmadiyah di Desa Bagik Manis sejak munculnya sampai sebelum terjadinya pengusiran jama’ah Ahmadiyah di Desa Bagik Manis pada tahun 2015?

4. Bagaimana kronologi terjadinya penyerangan dan pengusiran jama’ah Ahmadiyah di Desa Bagik Manis dan apa permasalahannya?

5. Apa dampak yang dirasakan oleh jama’ah Ahmadiyah Desa Bagik Manis pasca penyerangan?

6. Bagaimana kondisi jama’ah Ahmadiyah Desa Bagik Manis saat ini?

7. Bagaimana model atau bentuk pendidikan Islam yang dikembangkan pada komunitas jama’ah Ahmadiyah Desa Bagik Manis?

8. Bagaimana respon masyarakat sekitar terhadap kegiatan pendidikan Islam yang dijalankan oleh komunitas jama’ah Ahmadiyah?

9. Apa saja faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan pendidikan Islam serta upaya yang dilakukan oleh komunitas jama’ah Ahmadiyah?

10. Bagaimana peran yang dijalankan oleh Pemerintah Desa dalam membina kerukunan masyarakat di Desa Bagik Manis?

11. Apa harapan komunitas jama’ah Ahmadiyah di Desa Bagik Manis baik terhadap masyarakat sekitar maupun terhadap pemerintah?