• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

F. Kerangka Teoretik

3. Ormas Ahmadiyah di Dunia Islam dan Indonesia

3) Pendidikan Nonformal

Pendidikan non formal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan non formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang.28 Pendidikan non formal merupakan pendidikan yang dilakukan secara sadar tetapi tidak terpacu pada peraturan- peraturan yang ketat. Pendidikan non formal merupakan pendidikan yang berada diantara pendidikan informal dan pendidikan formal. Pendidikan non formal dapat diselenggarakan dalam gedung sekolah dan pada umumnya tidak dibagi atas jenjang. Waktu penyampaian di program lebih pendek dan usia siswa tidak sama atau tidak terbatas.

sinilah reaksi terhadap perlakuan kepada Dunia Islam mulai bermunculan.30

Dalam konstelasi Islam, Ahmadiyah memang unik. Di beberapa negara, seperti di Arab dan Pakistan, pengikut Ahmadiyah dimusuhi secara terangterangan. Bahkan, di Pakistan, Ahmadiyah harus "keluar" dari Islam dan membentuk agama baru yang bernama Ahmadi. Dengan demikian, jika kalangan Ahmadiyah di Pakistan hendak menunaikan ibadah haji, mereka harus keluar dulu dari negara tersebut lantaran pemerintah setempat hanya memberi izin naik haji kepada yang beragama Islam sesuai yang tercantum di paspor.

Namun, lantaran "dimusuhi" itulah, Ahmadiyah justru kerap menjadi perbincangan dan nama kelompok ini pun salah satu mashab yang paling dikenal di dunia selain Suni di Irak dan Syiah di Iran. Kenapa umat Islam marah kepada Ahmadiyah? Menurut mereka yang anti-Ahmadiyah, faham Ahmadiyah telah menyimpang dari ajaran pokok Islam.

Peristiwa besar yang menimpa dunia Islam ini juga menghidupkan kembali gerakan Mahdiis yang sudah tidak aktif lagi selama lebih dari satu abad sejak adanya gelombang pertemuan atau interaksi intensif antara dunia Islam dengan dunia modern. Gerakan Mahdiisme muncul karena anggapan Islam berada dibawah dominasi ekonomi dan kebudayaan kekuatan-kekuatan non-Islam, rusaknya nilai Islam yang disebabkan oleh dominasi industrialisasi, dan krisis ekologi

30Sayyed Hossein Nasr, Islam Tradisi di Tengah Kancah Dunia Modern (Bandung:

telah mengembalikan perasaan akan kedatangan kembali Mahdi. Mahdi adalah orang yang akan membangun kembali pemerintahan tuhan di muka bumi ini. Kekuatan destruktif yang meningkat dan sistem alamiah yang semakin terdesak dengan beban teknologi, serta gerakan yang bergerak atas nama Islam gagal menciptakan tatanan Islam ideal adalah hal-hal yang mendorong munculnya kelompok yang mengharapkan kedatangan Mahdi. Kekuatan ini menurut Sayyed Hossein Nasr adalah realitas di kalangan Muslim dan dapat menjadi kekuatan besar di masa depan.31

Berdasarkan landasan atau kerangka teori di atas, penulis melihat bahwa komunitas Jama’ah Ahmadiyah yang hidup dengan penuh intimidasi, pengucilan dan diskriminasi dari kelompok lainnya khususnya yang berada di wilayah Desa Bagik Manis Kecamatan Sambelia Lombok Timur dapat dikategorikan dalam kelompok Mahdiis karena mereka menjunjung tinggi sosok Mirza Ghulam Ahmad sebagai seseorang yang memiliki konsep dasar membangun kembali ajaran Islam di muka bumi ini dalam berbagai segi aktivitas atau gerakan yang dibangunnya salah satunya di bidang pendidikan Islam sehingga memudahkan penulis untuk menggali data serta menganalisis dan mendeskripsikan segala bentuk kegiatan pendidikan keagaman yang berlangsung di kalangan atau komunitas mereka.

Kalangan mainstream di dunia Islam sebagian besar berpegang pada sebuah tafsir yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad saw adalah

31Nasr, Islam Tradisi, 90.

penutup para Nabi (khatam al-anbiya’). Siapapun dari kalangan umat Islam yang menyatakan dan meyakini bahwa ada Nabi sesudahnya, maka dia menjadi murtad (keluar) dari ajaran Islam karena dia telah mendustakan ayat-ayat al-Qur’an dan juga sunnah (hadits) shahih yang sangat jelas sekali secara qath’i menerangkan bahwa Nabi Muhammad sawmerupakan penutup para nabi.

Salah satu ayat al-Qur’an dimaksud yang berperan menjadi inti persoalan ketegangan tersebut tersurat dalam QS: al-Ahzab [33]: 40 berbunyi:

ِّ ِ ﱠﻨﻟٱ َﻢ َﺗﺎَﺧَو ِﮫﱠﻠﻟٱ َلﻮ ُﺳﱠر ﻦِﻜَٰﻟَو ۡﻢُﻜِﻟﺎَﺟِّر ﻦِّﻣٖﺪَﺣَأ ٓﺎَﺑَأ ٌﺪﱠﻤَﺤُﻣ َنﺎَ ﺎ ﱠﻣ

َنﺎَ َو َۗن ۧ◌

﴿ ﺎٗ ﻤﻴِﻠَﻋ ٍءۡ َ ِّﻞ ُ

ِﺑ ُﮫﱠﻠﻟٱ ٤٠ ﴾

Sebagian besar kalangan umat Islam mainstream menerjemahkan ayat tersebut: “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kalian, tetapi dialah Rasullullah dan penutup para Nabi. Dan, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. Sedangkan aliran Ahmadiyah sedikit berbeda menerjemahkannya, yaitu: “Muhammad bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kalia, tetapi ia adalah seorang Rasul danKhatam an-nabiyyin”. Lafal kata “khatam an- nabiyyin” di kalangan pengikut Ahmadiyah diterjemahkan menjadi “Nabi termulia” dan “Nabi penutup pembawa syariat”.

Terdapat dua kelompok besar aliran Ahmadiyah di dunia Islam, yakni Ahmadiyah Qadian dan Lahore. Keduanya percaya bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah Isa al-Masih yang dijanjikan Nabi Muhammad

yang cukup prinsipil sebagaimana diungkapkan oleh hasil penelitian Adnan Buyung Nasution berikut ini:

a. Untuk Ahmadiyah aliran Qadian, dikenal dengan istilah “Jemaat Ahmadiyah Indonesia” atau disingkat JAI. Kelompok ini berpusat di Kota Bogor, Jawa Barat. Kelompok ini percaya bahwa Mirza Ghulam Ahmad merupakan seorang mujaddid (pembaru) dan seorang nabi, namun berperan sebagai seorang nabi yang tidak membawa syariat baru.

b. Untuk aliran Lahore, dikenal dengan nama “Gerakan Ahmadiyah Indonesia” atau disingkat GAI yang berpusat di Kota Yogyakarta.

Kelompok ini secara umum tidak beranggapan bahwa Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi, melainkan hanya sekadar seorang mujaddidatau pembaru dari ajaran Islam.32

Lebih detail lagi disebutkan bahwa Ahmadiyah aliran Lahore memiliki beberapa keyakinan mendasar sebagai berikut:

a. Secara umum, segala hal yang terkait dengan akidah ataupun kandungan hukum yang termuat dalam al-Qur’an maupun hadits shahih yang telah disepakati oleh para ulama salaf ash-shalih serta di kalangan ahlussunnah wal jama’ah dipercayai oleh mereka dan juga berkeyakinan bahwa Nabi Muhammad saw merupakan nabi terakhir (khatam an-nabiyyin) dan tidak ada seorang nabi pun setelahnya.

b. Setelah diutusnya Nabi Muhammad saw ke dunia, malaikat Jibril as tidak akan membawa wahyu kenabian (nubuwwat) kepada siapa pun juga.

c. Jika malaikat Jibril membawa wahyu nubuwwat atau wahyu risalat, meskipun hanya satu kata saja yang disampaikan kepada seseorang, maka hal ini akan bertentangan dengan salah satu ayat al-Qur’an pada surat al-Ahzab [33]: 40 yang berbunyi: ن ﻴ ﻨﻟا ﻢﺗﺎﺧو ﷲلﻮﺳر ﻦﻜﻟو, berarti ia membuka peluangkhatamun-nubuwwat.

d. Setelah diutusnya Nabi Muhammad saw, maka silsilah wahyu nubuwwat telah tertutup, akan tetapi silsilah wahyu walayat tetap terbuka agar iman dan akhlak umat Islam tetap tercerahkan dan segar.

e. Sesuai dengan sabda Nabi Muhammad saw, bahwa tetap akan datang para waliyullah, mujaddid, tetapi tidak untuk nabi.

f. Mirza Ghulam Ahmad hanyalah seorang mujaddidatau pembaru abad 14 H dan mengemban misi Nabi Muhammad saw.

g. Percaya kepada Mirza Ghulam

32Lihat: Adnan Buyung Nasution, dkk, Ahmadiyah di Mata Cendekiawan: Kumpulan Tulisan Cendekiawan tentang Fenomena Ahmadiyah di Media Masa Tahun 2010-2011, (Yogyakarta: Koleksi Pustaka Perpustakaan Arif Rahman Hakim, t.th), hlm. 102-103.

h. Ahmad bukanlah sebagai salah satu bagian Rukun Islam maupun Rukun Iman. Konsekuensinya, orang yang tidak percaya kepada Mirza Ghulam Ahmad tidak bisa disebut kafir.

i. Jika seorang muslim mengucap kalimah thayyibah, maka dia tidak boleh secara gampang disebut sebagai seorang kafir, namun dia bisa saja dicap salah. Perbuatan salah dan maksiat yang dilakukan tersebut, tidak bisa menyebabkannya disebut kafir.33