PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Model atau bentuk pendidikan Islam yang dikembangkan bagi Jemaat Ahmadiyah di Desa Bagik Manis ini khususnya untuk orang dewasa. Bagaimana model atau bentuk pendidikan Islam yang berkembang di Tanah Air pada Jamaah Ahmadiyah di Desa Bagik Manis. Bagaimana kronologi penyerangan dan pengusiran komunitas Ahmediah di desa Bagik Manis dan apa masalahnya.
Bagaimana model atau bentuk pendidikan Islam yang dikembangkan di Jemaat Ahmadiyah di desa Bagik Manis.
Identifikasi, Batasan, dan Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Mendeskripsikan model atau bentuk pendidikan Islam yang dikembangkan Jemaat Ahmadiyah Sambelia Lombok Timur di kalangan masyarakatnya dan tanggapan masyarakat sekitar yang tidak terkait dengan kegiatan pendidikan Islam yang dilakukan Jemaat Ahmadiyah Sambelia Lombok Timur. Mendeskripsikan faktor penghambat pelaksanaan pendidikan Islam dan upaya yang dilakukan Jemaat Ahmadiyah Sambelia di Lombok Timur.
Signifikansi dan Manfaat Penelitian
Penelitian Terdahulu yang Relevan
Penelitian pertama berupa disertasi berjudul “Pengertian Mahdi Syi’ah dan Ahmadiyah dalam Perspektif” oleh Muslih Fatoni, mahasiswa pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tahun 1994 dengan jurusan Aqidah dan Filsafat. Jakarta: Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah). faktor penghambat pelaksanaan pendidikan Islam, serta respon masyarakat sekitar non-Ahmadiyah terhadap kegiatan pendidikan tersebut .
Kerangka Teoretik
- Model atau Pola Pendidikan
- Pendidikan Islam
- Ormas Ahmadiyah di Dunia Islam dan Indonesia
Pendidikan dasar berbentuk Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat, serta Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) atau bentuk lain yang sederajat. b) Pendidikan menengah. Pendidikan merupakan kegiatan yang mengiringi kehidupan seseorang sejak kecil hingga akhir hayatnya.Seorang yang baru lahir harus memperoleh potensi yang ada pada dirinya.Pendidikan.
Metode Penelitian
- Jenis dan Pendekatan Penelitian
- Kehadiran Peneliti
- Latar Penelitian
- Sumber Data Penelitian
- Teknik Pengumpulan Data
- Teknik Analisis Data
- Pengecekan atau Uji Keabsahan Data
Sumber data diperoleh dari manusia yang bertindak sebagai subyek penelitian atau sebagai key informan. Dalam penelitian kualitatif, dimana peneliti sebagai instrumen utama, ketika memperoleh sumber data, peneliti melakukan berbagai kegiatan pengumpulan data.46 Pengumpulan dan pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini berasal dari dua jenis sumber, yaitu primer dan sekunder. Sumber utama penelitian ini berasal dari observasi dan wawancara dengan para tokoh Jemaat Ahmadiyah.
Ketua Jemaat Ahmadiyah di Desa Bagik Manis, Wilayah Administratif Kecamatan Sambelia, Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Tokoh agama dan tokoh masyarakat Jemaat Ahmadiyah di Desa Bagik Manis Kecamatan Sambelia Kabupaten Lombok Timur. Untuk menghasilkan temuan penelitian yang objektif dan terukur, dalam penelitian ini pengumpulan data dilakukan secara langsung di lapangan dengan teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi partisipan, wawancara dan dokumentasi.
Peneliti menggunakan metode dokumentasi ini untuk mencari data berupa dokumen tertulis seperti buku-buku agama yang menjadi referensi atau bahan kajian jamaah Ahmadiyah, foto-foto kegiatan pengajian yang berlangsung di komunitasnya, dan sumber lain yang relevan terkait dengan model tersebut. pendidikan Islam yang dilakukan oleh Jemaat Ahmadiyah di Desa Bagik Manis, Kecamatan Sambelia, Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Jamaah Ahmadiyah di Desa Bagik Manis, Kecamatan Sambelia, Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Sedangkan triangulasi teknik atau metode digunakan jika informasi atau data yang diperoleh dari hasil wawancara akan diuji.
Sistematika Pembahasan
Dengan demikian dapat dikatakan triangulasi digunakan karena keinginan peneliti untuk berhati-hati dengan data yang disampaikan informan, dengan membuktikan data hasil observasi dan data dokumentasi, sehingga data yang diperoleh benar-benar valid dan reliabel.
PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN
Deskripsi Lokasi Penelitian
- Peta Wilayah Desa Bagik Manis
- Batas-batas Desa Bagik Manis
- Sejarah Munculnya Ahmadiyah di Desa Bagik Manis
- Jumlah Jama’ah Ahmadiyah di Desa Bagik Manis dan
- Struktur Organisasi Jama’ah Ahmadiyah Desa Bagik Manis
- Jama’ah Ahmadiyah Desa Bagik Manis Berafiliasi Dengan
Desa Bagik Manis merupakan salah satu wilayah desa yang secara administratif terletak di Kecamatan Sambelia, Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Desa Bagik Manis merupakan satu dari tiga desa di wilayah Kecamatan Sambelia yang tidak memiliki akses ke wilayah pesisir dan air laut. Desa Bagik Manis merupakan salah satu dari tiga wilayah desa di Kecamatan Sambelia Kabupaten Lombok Timur yang tidak memiliki kekayaan laut dan terkurung daratan sebagai berikut dan berbatasan langsung dengan lima desa tetangga terdekat.
Kondisi sosial keagamaan masyarakat di Desa Bagik Manis Kecamatan Sambelia Kabupaten Lombok Timur berjalan harmonis meskipun masyarakat menganut ajaran dan aliran yang berbeda seperti sekolah Aswaja dan Ahmadiyah serta tidak ada keresahan atau persoalan yang menentukan. Sejarah berdirinya Jemaat Ahmadiyah di Desa Bagik Manis ini awalnya berasal dari desa tetangga yaitu Desa Madayin Kecamatan Sambelia Kabupaten Lombok Timur. Respon masyarakat sekitar terhadap kegiatan pendidikan Islam yang dilakukan Jemaat Ahmadiyah menurut tokoh masyarakat dan aparatur pemerintah Desa Bagik Manis tidak ada masalah dan berjalan normal seperti biasa.
Seorang informan yang merupakan tokoh masyarakat setempat mengungkapkan bahwa warga Ahmadiyah di Desa Bagik Manis memiliki kesadaran sosial yang sangat tinggi dan selalu berpartisipasi. Saat ini seluruh warga Desa Bagik Manis Kecamatan Sambelia Kabupaten Lombok Timur beragama Islam dengan jumlah penduduk 844 KK dan 15 diantaranya berafiliasi dengan ormas atau aliran Ahmadiyah khususnya yang berada di salah satu dusun yaitu Dusun Bagik Dalam . Dari hasil wawancara peneliti dengan tokoh Ahmadiyah bernama Amaq Nando, disebutkan bahwa struktur organisasi cabang Ahmadiyah adalah Bagik Manis Sambelia di Kabupaten Lombok Timur.
Paparan Data Penelitian
- Model Pendidikan Keislaman Integratif yang Dikembangkan
- Faktor Penghambat Pelaksanaan Pendidikan Keislaman serta
Model Pendidikan Islam Integratif di Lingkar Luar Model pendidikan luar dalam komunitas Ahmadiyah disebut tabligh. Jami’ah Ahmadiyah Indonesia” (JAMAI) sebenarnya merupakan wadah kader atau kawah candradimuk tempat setiap calon. Perkembangan jamaah dan organisasi Ahmadiyah di desa Bagik Manis dari awal berdirinya pada tahun 1980 hingga tahun 2018 dapat dikatakan menjadi sangat lambat dan stagnan.
Kronologis Penyerangan dan Pengusiran Jemaat Ahmadiyah di Desa Bagik Manis ini berawal dari pendapat sebagian masyarakat di luar Desa Bagik Manis yang merasa bahwa akidah Jemaat Ahmadiyah dianggap menyimpang dari ajaran Syariat Islam saat ini. , padahal ajaran ini (Ahmediyah) benar-benar meneruskan ajaran nabi Muhammad. Seperti diungkapkan Lurah Bagik Manis, penyerangan terhadap warga Ahmadiyah di Desa Bagik Manis diawali dengan shalat tarawiya yang dilakukan di rumah salah satu pengurus Jemaat Ahmadiyah bernama Amaq Nando (Munginsidi), sementara masyarakat melakukannya. mereka tidak menginginkan doa. Menurut Jumardi, salah seorang tokoh Ahmadiyah di kampung Bagik Manis, Jemaat Ahmadiyah di kampung Bagik Manis merasa tidak ada masalah karena apa yang mereka yakini selama ini terasa benar dan benar kecuali kami mencuri dan tidak pernah merasa kami mengganggu orang. .
Peran Pemerintah Desa dalam menjawab permasalahan Jemaat Ahmadiyah adalah berusaha mengayomi masyarakat agar suasana tetap terkendali, tenteram, aman dan tenteram. Kondisi jemaah Ahmadiyah di Desa Bagik Manis pasca penyerangan saat ini berjalan seperti biasa dan mereka tidak pernah meminta dakwah ajaran Ahmadiyah, apalagi mengajak orang lain untuk bergabung. Kondisi Jemaat Ahmadiyah saat ini terus membaur dengan seluruh warga masyarakat Desa Bagik Manis.
ANALISIS BAHASAN HASIL PENELITIAN
Model Pendidikan Keislaman yang Dikembangkan pada
- Model Pendidikan Keislaman Integratif di Kalangan
- Model Pendidikan Keislaman Integratif di Kalangan
- Nilai-Nilai Dasar Ajaran Ahmadiyah
- Doktrin-Doktrin Dasar Ajaran Ahmadiyah
Kegiatan penerbitan dan penerjemahan karya-karya Ahmadiyah terkait dengan misi penyebaran ajaran Ahmadiyah, terutama untuk menjelaskan misi Mahdi oleh Mirza Ghulam Ahmad, pendiri gerakan Ahmadiyah. Menurut pandangan Ahmadiyah baik sekte Lahore maupun Qadian, sosok Mirza Ghulam Ahmad adalah perwujudan dari Isa al-Masih dan al-Mahdi. Ahmadiyah sebagai gerakan Mahdi berkeyakinan bahwa Mirza Ghulam Ahmad sebagai al-Mahdi memiliki tugas untuk menyatukan kembali perpecahan umat Islam dalam bidang akidah dan syariah agar mereka
Hal ini didasarkan pada inti ajaran Ahmadiyah tentang pengakuan Mirza Ghulam Ahmad sebagai juru selamat. Mirza Ghulam Ahmad menggunakan kata 'nabi' dalam berbagai tulisannya dalam konteks terminologi bahasa (lughawi) belaka, bukan dalam arti sebenarnya atau terminologi syar'i. Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa doktrin kenabian di Ahmadiyah merupakan bentuk pengakuan terhadap Mirza Ghulam Ahmad yang telah mendapatkan ilham untuk mendakwahkan ajarannya.
Di sisi yang sama, kumpulan Ahmadiyah Lahore dan Ahmadiyah Qadian juga mempunyai persepsi yang berbeza mengenai kenabian Mirza Ghulam Ahmad. Menurut pandangan Ahmadiyah, pemilihan Ghulam Ahmad sebagai nabi bayangan adalah kerana pilihan Allah kerana baginda seorang yang bertakwa. Di mana mujahid akan menjadi penerus perjuangan nabi dalam merealisasikan ajaran Islam, salah satu mujahid yang dipercayai oleh masyarakat Ahmadiyah ialah Mirza Ghulam Ahmadi.
Menurut Ahmadiyah, kehadiran Mirza Ghulam Ahmad di dunia dengan tujuan menghapuskan gagasan perlunya kekerasan atas nama agama. Ahmadiyah, Ghulam Ahmad adalah sosok tokoh kenabian yang dijanjikan untuk menjadi Imam.
Faktor Penghambat Pelaksanaan Pendidikan Keislaman serta
- Perbedaan di Bidang Teologi dengan Aliran Islam Lainya
- Sikap Kritis dari Muhammadiyah
Faktor-Faktor Penghambat Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam dan Upaya Jemaat Jama'ah Ahmadiyah di Desa Bagik Manis. Jemaat Ahmadiyah, khususnya yang berada di Desa Bagik Manis, diharapkan tidak melanggar nota kesepahaman yang telah disepakati bersama untuk menjaga amenitas lingkungan setempat. Kami berharap agar para pimpinan Jemaat Ahmadiyah Desa Bagik Manis dapat selalu memberikan pemahaman kepada anggotanya untuk memenuhi nota kesepahaman untuk tidak menyebarkan ajaran Ahmadiyah kepada masyarakat lain.
Wawancara peneliti (kiri) dengan tokoh masyarakat (tengah) dan tokoh Ahmadiyah (kanan) di desa Bagik Manis. Wawancara peneliti (kiri) dengan anggota Jemaat Ahmadiyah Desa Bagik Manis yang bekerja sebagai tukang ojek. Bagaimana kondisi sosial keagamaan masyarakat (baik yang tergabung dalam ormas maupun tidak) di desa Bagik Manis.
Bagaimana perkembangan Jemaat dan Organisasi Ahmadiyah di Desa Bagik Manis dari awal berdirinya hingga sebelum pengusiran Jemaat Ahmadiyah di Desa Bagik Manis pada tahun 2015. Peran apa yang dilakukan pemerintah desa dalam mendorong kerukunan masyarakat di Desa Bagik Manis. Apa harapan Jemaat Ahmadiyah di desa Bagik Manis bagi masyarakat sekitar dan pemerintah.
PENUTUP
Kesimpulan
Model atau bentuk pendidikan Islam yang dikembangkan bagi Jemaat Ahmadiyah di Desa Bagik Manis terdiri dari dua model atau pola, yaitu model pendidikan agama internal (tarbiyat) dan eksternal (taligh) dengan menanamkan nilai-nilai dasar keagamaan seperti: ) pendekatan rasionalisme dalam mempelajari ajaran Islam yang terkandung dalam al-Qur'an dan hadits, b) mengasah kemampuan literasi dalam membaca buku-buku Ahmadiyah; Beberapa faktor penghambat pelaksanaan pendidikan agama dan penyebaran ajaran Ahmadiyah khususnya di wilayah Desa Bagik Manis Kecamatan Sambelia Kabupaten Lombok Timur dipicu oleh hal-hal mendasar sebagai berikut, yaitu: teologi dengan arus Islam lainnya; dan b) oposisi dan sikap kritis Muhammadiyah.
Saran
Bagaimana tanggapan masyarakat sekitar yang tidak terkait dengan mereka terhadap kegiatan pendidikan Islam yang dilakukan secara internal oleh Jemaat Ahmadiyah. Bagaimana tanggapan masyarakat sekitar terhadap kegiatan pendidikan Islam yang dilakukan oleh Jemaat Ahmadiyah. Apa faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan pendidikan Islam dan upaya Jemaat Ahmadiyah.