Abdullah Arief Cholil
1. Fikih, Hukum Islam dan Paradigma Disrupsi
Berbicara masalah pluralitas, sebenarnya sampai sekarang, masih ada problem kejiwaan di kalangan umat Islam dalam memahami apa yang disebut sebagai Hukum Nasional yang berbentuk Undang-undang resmi. Undang-undang No. 1/1974, misalnya -betapapun kelahirannya sendiri mencerminkan perjuangan umat Islam dan isinya juga untuk sebagian merupakan cermin ketentuan hukum fikih, tetap saja masih sulit untuk diterima dan dianggap sebagai “Hukum Islam”.
Pertama, karena hukum perkawinan dalam undang-undang ini tidak disebut sebagai Hukum Perkawinan Islam; Kedua, ada bagian-bagian tertentu dari ketentuan undang-undang ini yang berbeda atau bertentangan dengan Hukum Fikih Tradisional. Karena itu, terdapat buku-buku hukum, terutama yang ditulis oleh penulis Islam sendiri yang mempertentangkan undang-undang perkawinan ini dengan hukum Islam. Hal ini menunjukkan hukum perkawinan nasional itu tidak atau belum dianggap sebagai hukum perkawinan Islam (Jimli, 1990 : 13-14).
Ketika terjadi kontroversi sehubungan dengan pembahasan menjelang diundangkannya UU tentang Peradilan Agama tahun 1988-1989 yang lalu, ada salah satu ormas Islam yang menulis surat resmi kepada Tim Pengkajian RUUPA MUI untuk merekomendasikan sebuah usul yang berkenaan kewenangan PA untuk menetapkan “putusnya perkawinan”. Kewenangan PA, menurut bunyi surat itu, harus terbatas hanya pada pengadministrasiannya saja, sedangkan jatuhnya talak tidak harus dilakukan di hadapan hakim. Alasannya karena demikianlah yang ada dalam hukum Islam (fikih). Keputusan jatuhnya talak, menurut surat itu, harus tetap. Padahal dalam pasal 39 UU No. 1/1974 atau pasal 115 Inpres No. 1/1991 secara tegas dinyatakan bahwa perceraian hanya dapat dilakukan di depan sidang pengadilan dan dalam pasal 18 PP No. 9/1975 & pasal 123 Inpres No. 1/1991 juga
ditegaskan bahwa perceraian itu terhitung pada saat perceraian itu dinyatakan di depan sidang pengadilan (Anderson, 1991 : 18).
Diserahkan kepada kewenangan “hukum Islam”, bukan ke PA; dalam kasus ini jelas bahwa: pertama, sebagian umat Islam bahkan ulama dan pemimpin- pemimpin Islam cenderung berasumsi bahwa hukum Islam itu sudah final dan mandeg, tidak dapat berkembang lagi. Jadi kalau dulu orang kawin tidak perlu persyaratan administratif, maka sekarang pun tidak. Kalaupun diadakan, maka unsur administrasi itu nilainya hanya tambahan yang tidak terlalu penting dan menentukan. Kedua, hukum perkawinan yang dirumuskan dalam UU No, 1/1974 dan kemudian disusul dengan Inpres No. 1/1991, bahkan lembaga PA itu sendiri, bukanlah bagian dari sistim hukum Islam. Undang-undang resmi, termasuk undang- undang tentang PA, tetap saja dipandang sebagai hukum nasional dan bukan hukum Islam. Nampaknya pendekatan legislasi dalam usaha pengembangan hukum Islam di Indonesia tidak sederhana dan mudah, karena itu diperlukan pemikiran dan pendekatan-pendekatan yang dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat secara luas.
Dalam banyak kesempatan melakukan penyuluhan Inpres No. 1/1991 di beberapa daerah wilayah Jawa Tengah, penulis sering menghadapi pertanyaan- pertanyaan yang pada intinya tidak dapat menerima Inpres tersebut sebagai sistem hukum Islam dan mereka menyatakan Inpres tersebut bertentangan dengan fikih.
Sebenarnya ketika membicarakan bahwa mayoritas penduduk Indonesia adalah Muslim, maka itu berarti bahwa mereka berhak, kalau tidak boleh dikatakan berkewajiban, untuk menjalankan syari’atnya secara kaffah akan tetapi di sisi lain terbentur kepada diskursus tata hukum dan peraturan perundang-undangan yang ada. Dalam konteks ini tepat bila didekati dengan adagium Ubi sosiate ubi ius, di mana ada masyarakat (dapat dipastikan) di situ ada hukum. Adagium ini meniscayakan bahwa hukum merupakan wujud dari kemauan dan kehendak masyarakat itu sendiri. Kaitan dengan ini tepat ketika Anderson menyatakan tesisnya bahwa (institusi) hukum adalah merupakan inti peradaban suatu bangsa dalam artinya yang paling murni dan esensial yang sekaligus mencerminkan jiwa bangsa tersebut secara jelas dibanding institusi-institusi apapun juga (Anderson, 1991: 18).
Berangkat dari tesis di atas, ketika dipotretkan dalam perikehidupan hukum di Indonesia, maka muncul “dilema” mengapa masyarakat Muslim Indonesia, yang nota bene merupakan mayoritas dan pasti punya kehendak hukum, sangat problematis ketika berhadapan dengan pelembagaan hukumnya sendiri dalam konstelasi kelembagaan hukum nasioanal. Nampaknya titik inilah yang selama ini masih saja selalu debatable. Artinya, format (bentuk) dan upaya formasi (pembentukan) hukum Islam dalam konteks keindonesiaan masih saja bernuansa dualistis. Aspek hukum perdata (muamalat tertentu) memang bisa applicable, sementara aspek hukum pidana (jinayat)-nya belum, bahkan bila mencoba untuk melaksanakannya justru akan dicap sebagai tindakan kejahatan atau bahkan subversif. (contoh kasusnya adalah ketika komandan/panglima Laskar Jihad Ja’far Umar Thalib medio 2002, melakukan hukuman rajam kepada seorang pezina di Ambon) (Yasin, 2001 : 108 dan Marzuki, 2001 : iii). Bagaimana menghadapi masalah ini, padahal upaya formasi dalam arti konseptual dan pragmatis sekaligus
nampaknya juga belum tuntas. Inilah tentu sebagai dorongan agar upaya-upaya dalam rangka eksistensi hukum Islam di Indonesia, saatnya digarap kembali.
Usaha melakukan penetapan hukum melalui perundang-undangan ini menghadapi kendala internal maupun eksternal yang besar sekali. Secara eksternal, setelah pengalaman UU tentang Peradilan Agama yang lalu, struktur dan kekuatan- kekuatan politik yang ada tidak mudah atau bahkan tidak mungkin lagi dimobilisasikan lebih lanjut dalam rangka mendukung proses legislasi hukum Islam itu. Sedangkan secara internal, para pendukung Sistem Hukum Islam sendiri ada dua kelompok. Pertama, belum tentu beranggapan bahwa Hukum Islam itu sudah merupakan sistem hukum yang memang memerlukan kerangka dalam konteks hukum nasional. Kedua, masih beranggapan bahwa hukum Islam itu sudah merupakan sistem hukum yang final dan karenanya tidak perlu dikembangkan lagi dengan memasukkan kondisi-kondisi dan persyaratan-persyaratan baru sebagai bahan pertimbangan dalam mengidentifikasikan mengenai sistem hukum Islam itu (Jimli, 1990: 14). Di masa dulu, perkawinan dianggap telah sah dengan dipenuhinya syarat-syarat material dengan melaksanakan ijab-qabul sesuai dengan
“sunnah”. Tetapi tuntutan persyaratan formal berupa pencatatan perkawinan yang sudah menjadi kelaziman di zaman modern sekarang ini juga harus diterima sebagai persyaratan dalam konteks pengertian hukum Islam. Sehingga jika ada ketentuan yang mengharuskan dipenuhinya syarat formal itu disamping syarat material, hendaklah kedua-duanya difahami sebagai Hukum Islam. Beberapa permasalahan yang sering menjadi ganjalan baik pihak Kantor Urusan Agama (KUA) ataupun Pengadilan Agama (PA) adalah di antaranya masalah-masalah yang berkaitan dengan: 1). Usia kawin, 2). Poligami, 3). Jatuhnya talak.
Dalam kasus usia kawin misalnya, banyak terjadi penyimpangan dalam pembuatan surat keterangan kelahiran atau ketika mengajukan permohonan rekomendasi (dispensasi) kepada PA, serta merta waktu yang ada sangat mendesak dengan rencana pelaksanaan perkawinan; belum lagi jika persoalannya dihadapkan pada adanya fatwa ulama yang menyatakan bahwa standard perkawinan bukan
“usia” tetapi “baligh”, sesuai dengan ketentuan dalam kitab-kitab fikih. Kasus semacam ini masih saja terjadi pada sebagian masyarakat disekitar kita.3
Ada catatan menarik bahwa pada 12 September 2019 yang lalu, DPR akhirnya setuju dengan usulan pemerintah untuk menaikkan batas usia minimal perkawinan untuk perempuan dari 16 tahun menjadi 19 tahun. Hal ini berarti batas usia minimal perkawinan untuk perempuan menjadi sama dengan laki-laki. Selain untuk mencegah praktik perkawinan anak, keputusan menaikkan batas usia perkawinan diharapkan akan menciptakan generasi emas berkualitas sesuai cita-cita pembangunan nasional.
Keputusan tersebut disepakati dalam Rapat Kerja Badan Legislasi (Baleg) dan Panitia Kerja (Panja) DPR untuk pembahasan Rancangan Undang-Undang tentang perubahan atas UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan, dengan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Susan Yembise. Selain itu, juga dengan perwakilan dari Kementerian Agama,
3 Berdasarkan pengamatan di desa-desa di daerah penulis, Demak Jawa Tengah.
Kementerian Kesehatan, Kementerian Hukum dan HAM, serta Kantor Staf Presiden. Panja berpendapat, RUU tentang Perubahan atas UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan dapat dilanjutkan pembahasannya dalam pembicaraan tingkat dua, yakni tahapan pengambilan keputusan agar RUU ini ditetapkan sebagai UU tentang Perubahan atas UU Nomor 1 Tahun 1974 tentag Perkawinan.
Perubahan atas UU Perkawinan merupakan amanat putusan Mahkamah Konstitusi pada 13 Desember 2018 yang menyatakan, Pasal 7 ayat 1 sepanjang frase
“usia 16 (enam belas) tahun” UU No. 1/1974 tentang Perkawinan bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. MK memerintahkan pembentuk UU melakukan perubahan atas UU No. 1/1974 khususnya batas minimum usia perkawinan bagi perempuan.