• Tidak ada hasil yang ditemukan

Seminar Nasional & Call Papers Islam di Era Disrupsi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "Seminar Nasional & Call Papers Islam di Era Disrupsi"

Copied!
392
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

PROSIDING SEMINAR NASIONAL

“Islam di Era Disrupsi: Peluang dan Tantangan”

Semarang, 9-10 Oktober 2019

ISBN 978-623-7097-50-1

Penerbit

UNISSULA PRESS

Universitas Islam Sultan Agung Semarang Jl. Raya Kaligawe Km. 4 Semarang 50112 Tlp. 024-6583584

(3)

Penyelenggara:

Fakultas Agama Islam, Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) Semarang

Dewan Pengarah:

Drs. Muhammad Muhtar Arifin Sholeh, M.Lib.

H. Khoirul Anwar, S.Ag., M.Pd.

H. Choeroni, S.H.I., M.Ag.

H. Tali Tulab, S.Ag., M.S.I.

Pimpinan Redaksi:

Muna Madrah Yastuti, M.A.

Reviewer:

H. Anis Malik Toha, Lc., M.A., Ph.D.

Dr. H. Abdullah Arief Cholil, S.H., M.Ag.

Dr. H. Rozihan, S.H., M.Ag.

Dr. H. Ghofar Shidiq, S.Ag., M.Ag.

Dr. Supian Sauri, Lc.

Dewan Editor:

Mohammad Noviani Ardi, S.Fil.I., MIRKH.

Dr. Susianto, SE., M.Ag.

Ahmad Muflihin, S.Pd.I., M.Pd.

Desain Cover & Layout:

Mohammad Noviani Ardi, S.Fil.I., MIRKH.

Muhammad Azlan Syah

PANITIA

(4)

Saat ini kita hidup di era kemajuan teknologi yang sangat masif. Kemajuan yang masif ini tidak selalu diiringi dengan kesiapan masyarakat baik dalam hal menggunakannya maupun menghadapi dampak kemajuan teknologi.

Ketidaksiapan masyarakat ini seringkali menimbulkan kekacauann dalam segala aspek kehidupan. “Kekacauan” ini sering disebut dengan istilah

“disrupsi”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata disrupsi didefinisikan dengan frasa “tercerabut dari akarnya”, sementara itu makna kontekstual dari era disrupsi adalah goncangan atau kekacauan yang terjadi seiring dengan perubahan yang sangat mendasar dari semua aspek kehidupan akibat revolusi teknologi yang terjadi saat ini.

Perubahan merupakan keniscayaan yang dapat terjadi kapanpun dan dimanapun. Seseorang dituntut mengikuti perubahan dan perkembangan zaman, dapat memanfaatkannya menjadi peluang. Begitupun sebaliknya, siapa yang tidak mampu mengikutinya, maka akan tertinggal dan ditinggalkan.

Fakultas Agama Islam, FAI-UNISSULA meyakini bahwasanya, Islam sebagai pedoman hidup, haruslah juga mampu “hidup” dalam setiap kondisi. Hadits nabi, “Al-Islamu shalihun li kulli zaman wa al-makan” telah memberikan gambaran bahwa Islam sebagai agama yang sempurna dengan sendirinya menuntut bahwa Islam dengan beragam ajarannya, mestilah dapat

“menembus” luasnya ruang dan “berjalan” bersama aliran waktu. Artinya tiap jengkal ajaran yang ditawarkan mestilah sanggup untuk senantiasa shalih dan berjalan selaras di setiap zaman dan pada ruang-ruang yang berbeda. Tidak terkecuali di era disrupsi seperti saat ini. Sebagai salah satu bentuk kepedulian FAI-UNISSULA menyikapi fenomena ini, maka kami mengundang para peneliti, pemikir dan praktisi untuk berdiskusi dan menyampaikan pandangan-pandangan terkait era disrupsi ini sesuai dengan bidang masing- masing.

Pemikiran dan pandangan mereka telah di sampaikan dalam Seminar Nasional bertajuk “Islam di era disrupsi : peluang dan tantangan” pada tanggal 9-10 Oktober 2019 dengan pembicara utama Prof. Dr. Arskal Salim, GP, M.Ag, Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam ,Dirjen Pendidikan Islam, Kementrian Agama Republik Indonesia.

Selanjutnya setelah melalui tahap penyuntingan, makalah yang telah disampaikan oleh para pemakalah disusun dalam prosiding yang kami beri judul “Prosiding Seminar Nasional Islam di Era Disrupsi, Peluang dan Tantangan, 2019”. Hadirnya prosiding Seminar Nasional Islam di Era Disrupsi, Peluang dan Tantangan di penghujung tahun 2019 ini kiranya dapat

(5)

Atas terbitnya prosiding ini tim editorial dan publikasi mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah mendukung kegiatan seminar sekaligus kegiatan paska seminar yang memungkinkan prosiding ini hadir ke hadapan anda sekalian.

Semarang, 12 Desember 2019

Editorial Board

(6)

Halaman Cover Halaman Cover Dalam Panitia Penyelenggara Kata Pengantar Daftar Isi

Ekonomi Digital: Peluang dan Tantangan Masa Depan Terhadap Ekonomi Syariah di Indonesia

Shinta Maharani & Miftahul Ulum

Analysis of The Role of Mudharabah Principle in Developing Islamic Financial Instrument

Dina Yustisi Yurista & Mohammad Noviani Ardi

Al-Wasatiyya pada Budaya Banjar: Relevansi Penerapan Metode Dakwah Arsyad Al-Banjari di Era Disrupsi

Noor Hasanah

Pembelajaran Fiqih Kebinekaan Sebagai Prevensi Masifikasi Sistem Khilafah di Perguruan Tinggi

Abdul Wahid, Sunardi, Dwi Ari Kurniawati

Meretas Etos Digital Preneur melalui Dropship Online Business Berbasis e-Commerce

Bayu Tri Cahya, Fatmawati & Supriyadi

Objektifikasi Hukum Ibnu Hazm dan Pemabaharuan Hukum Islam di Indonesia Ahmad Zaini & Ainun Najib

Keberlangsungan Rumah Tangga Tenaga Kerja Wanita (TKW) dalam Tinjauan KHI

Anshori Akmal, Muchamad Coirun Nizar & Rozihan Fikih dan Legislasi Hukum Islam di Era Disrupsi Abdullah Arief Cholil

Penguatan Nilai Moderasi dan Kultural Beragama Bagi Umat Islam dalam Kehidupan Berbangsa

Anis Tyas Kuncoro

Konsep Al-Milk Al-Yamin: Sebuah Kajian Hadis tentang Kedudukan Milk Al- Yamin Dalam Islam

Supian Sauri

I II III IV VI 1-11

13-21

23-37

39-51

53-67

69-75 77-86

87-101 103-113

115-126

(7)

Implikasi Revolusi Industri Terhadap Lintas Generasi dalam Perspektif Pendidikan Islam

Binti Nurhayati

Desain Kurikulum Berbasis Kearifan Lokal di MI Ma’arif Kenalan Borobudur Antoro & Suliswiyadi

Telaah Kritis Konten Kurikulum PAI Madrasah Ibtidaiyah di Mi Ma’arif Bumiharjo Borobudur Magelang

Titik Handayani & Suliswiyadi

Telaah Kritis Konten Kurikulum Pendidikan Agama Islam di SD Islam Al Firdaus Mertoyudan

Ahmad Husin & Suliswiyadi

Pengembangan Pendidikan Agama Islam Pada Perguruan Tinggi Umum Swasta Berbasis Agama

A. Jauhar Fuad

Strategi Internasionalisasi Perguruan Tinggi Islam Melalui Program Student Mobility

Muna Yastuti Madrah, Riana Permatasari, Ida Musofiana & Ika Agus Setiawan

Tantangan Lembaga Pendidikan Pesantren di Era Disrupsi Samsudin

Digitalisasi Layanan Kesehatan dalam Perspektif Islam Amin Rahmawati Purwaningrum & Muna Yastuti Madrah Inovasi Pengelolaan Pembelajaran PAI di Era Disrupsi Khoirul Anwar

Perpustakaan dalam Pembelajaran PAI di SMK se-Kecamatan Karangawen Sholeh

Shalat Sebagai Sumber Etika Politik dalam Berbangsa Yang Beradab Muhammad Muhtar Arifin Sholeh

Keterampilan Guru PAI dalam Mengembangkan RPP Ukhti Filia, Sarjuni & Ghofar Shidiq

Polarisasi Peran Kyai dan Ustadz dalam Manajemen Rumah Tahfizh Choeroni, Nur’l Yakin Mch & Supian Sauri

137-144

145-162 163-180

181-199

201-212

213-227

229-238 239-252 253-262 263-288 289-299 301-319 321-330

(8)

Pemanfaatan Internet Sebagai Sumber Belajar Pendidikan Agama Islam Ulyn Ni’mah, Ali Bowo Tjahjono & Ghofar Shidiq

Pengembangan Religiusitas dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Studi Kasus Di SMP N 20 Semarang

Laelatul Rhohmah

Internalisasi Nilai-Nilai Islam dalam Budaya Sekolah Jazilatun Nafisah

Pengaruh Hukum Islam di Indonesia Rozihan

337-351 353-367

369-383 385-399

(9)

EKONOMI DIGITAL: PELUANG DAN TANTANGAN MASA DEPAN TERHADAP EKONOMI SYARIAH DI

INDONESIA Shinta Maharani

Institut Agama Islam Negeri Ponorogo

Miftahul Ulum

Institut Agama Islam Negeri Ponorogo

Email: [email protected] Abstract

The emergence of technological innovation and economic digitalization through social media or shopping applications affects the economic and social activities of the community. The economic system has changed from conventional manual to modern one. A simple conception of a digital economy is part of economic output that incorporates internet-based multipurpose technology applied in a varied digital business model of goods or services. Islamic economy support for the growth of financing through the digital economy and empowerment by the Islamic economy, it needs to be encouraged and maximized its role in e-commerce. Principle based regulation can be one of the roles that can be taken in developing halal product innovations that are trending through the digital economy platform. With this technology, it is expected to be able to improve the sector of Islamic economy growth in Indonesian society.

The Islamic economy is expected to be a bridge in the direction of financial inclusion in the digital economy, such as; (a) platform affordability in the unbanked segment, (b) strong collaboration between Islamic financial service providers through the digital economy, (c) widespread digitalized sharia banking practices, and (d) media for regulators of Islamic economy development, and (e) ladder to no longer be at the level of Small Enterprise but through startup. This study uses quantitative approach with Muslim Indonesian as populations, samples are taken randomly using questionnaire as research instrument, then tested by statistical methods. Finding of this paper show that efforts to foster entrepreneurship, innovation, and economic growth, can be an opportunity to expand access, especially to Islamic economy inclusion. In addition, the digital economy is also expected to be a vehicle for sharing information in improving public services, funds or social services and new technologies that are expected to have an opportunity to provide prime, fast and affordable Islamic economy services to all levels of society and makes economy activity efficiency and effectiveness.

Keywords: islamic economy, digital economy, economic growth.

Abstrak

Munculnya inovasi teknologi dan digitalisasi ekonomi melalui media sosial ataupun shopping application mempengaruhi aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat. Sistem ekonomi berubah dari manual konvensional menjadi lebih modern. Konsepsi sederhana tentang perekonomian digital, meskipun belum baku adalah merupakan bagian dari output ekonomi yang menggabungkan teknologi multiguna berbasis internet yang diterapkan dalam model bisnis barang atau jasa digital yang variatif. Dukungan ekonomi syariah terhadap pertumbuhan pembiayaan melalui ekonomi digital serta pemberdayaaan ekonomi nasional oleh ekonomi syari’ah perlu didorong dan dimaksimalkan perannya dalam perdagangan berbasis elektronik (e-commerce). Principle based regulation dapat menjadi salah satu peran yang dapat diambil

(10)

dalam mengembangkan inovasi produk syari’ah yang sedang trend melalui platform ekonomi digital. Dengan teknologi tersebut diharapkan mampu meningkatkan sektor pertumbuhan ekonomi syariah pada masyarakat Indonesia, yang dengannya, ekonomi syariah diharapkan sebagai jembatan sarana guna menuju inklusi keuangan dalam ekonomi digital, seperti;

(a) keterjangkauan platform dalam segmen unbanked, (b) kuatnya kolaborasi antara penyedia jasa keuangan syariah melalui ekonomi digital, (c) meluasnya praktik perbankan syariah yang digitalize, dan (d) media bagi para regulator pengembangan ekonomi syariah, serta (e) tangga untuk tidak lagi pada tataran UMKM melainkan melalui startup. Upaya menumbuhkan entrepreneurship, inovasi dan pertumbuhan ekonomi, dapat menjadi peluang guna memperluas akses terutama pada inklusi ekonomi syariah. Selain itu ekonomi digital juga diharapkan sebagai wahana sharing informasi dalam meningkatkan layanan public dan atau layanan sosial serta teknologi baru yang diharapkan kehadirannya dapat kesempatan guna memberikan pelayanan ekonomi syariah prima, cepat dan terjangkau oleh semua lapisan masyarakat.

Kata Kunci: ekonomi digital, ekonomi syariah, pertumbuhan ekonomi.

I. PENDAHULUAN

Munculnya inovasi teknologi dan digitalisasi ekonomi melalui media sosial ataupun shopping application mempengaruhi aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat. Sistem ekonomi berubah dari manual konvensional menjadi lebih modern. Konsepsi sederhana tentang perekonomian digital, meskipun belum baku adalah merupakan bagian dari output ekonomi yang menggabungkan teknologi multiguna berbasis internet yang diterapkan dalam model bisnis barang atau jasa digital yang variatif. Dukungan ekonomi syariah terhadap pertumbuhan pembiayaan melalui ekonomi digital serta pemberdayaaan ekonomi nasional oleh ekonomi syari’ah perlu didorong dan dimaksimalkan perannya dalam perdagangan berbasis elektronik (e-commerce). Principle based regulation dapat menjadi salah satu peran yang dapat diambil dalam mengembangkan inovasi produk syari’ah yang sedang trend melalui platform ekonomi digital. Dengan teknologi tersebut diharapkan mampu meningkatkan sektor pertumbuhan ekonomi syariah pada masyarakat Indonesia, yang dengannya, ekonomi syariah diharapkan sebagai jembatan sarana guna menuju inklusi keuangan dalam ekonomi digital, seperti;

(a) keterjangkauan platform dalam segmen unbanked, (b) kuatnya kolaborasi antara penyedia jasa keuangan syariah melalui ekonomi digital, (c) meluasnya praktik perbankan syariah yang digitalize, dan (d) media bagi para regulator pengembangan ekonomi syariah, serta (e) tangga untuk tidak lagi pada tataran UMKM melainkan melalui startup. Upaya menumbuhkan entrepreneurship, inovasi, dan pertumbuhan ekonomi, dapat menjadi peluang guna memperluas akses terutama pada inklusi ekonomi syariah. Selain itu ekonomi digital juga diharapkan sebagai wahana sharing informasi dalam meningkatkan layanan publik dana atau layanan sosial serta teknologi baru yang diharapkan kehadirannya dapat kesempatan guna memberikan pelayanan ekonomi syariah prima, cepat dan terjangkau oleh semua lapisan masyarakat. Belanja produk dengan cara pemanfaatan pasar e-commerce merupakan salah satu contoh bentuk kemudahan aktifitas masyarakat di bidang ekonomi digital. Aktifitas ini menjadikan efesiensi dan efektifitas waktu di sela-sela aktivitas pekerjaan yang menyita perhatian dan ekstra tenaga, meskipun demikian, realitasnya, tidak seluruh masyarakat merasakan kemudahan dan terbantu dengan menggunakan aplikasi ekonomi digital ataupun

(11)

promosi produk melalui media sosial, hal ini dikarenakan keterjangkauan teknologi ekonomi digital yang belum dimanfaatkan oleh seluruh lapisan masyarakat. Guna mengetahui serta menganalisis fenomena tersebut, maka dipandang pentingnya penelitian lanjut terkait hal ini, terutama kebijakan ekonomi syariah berdasarkan klasifikasi standar serta penerapannya.

II. RUMUSAN MASALAH

Rumusan masalah pada paper ini diuraikan berikut ini:

1. Bagaimana pengaruh ekonomi digital terhadap peluang masa depan ekonomi syariah?

2. Bagaimana pengaruh ekonomi digital terhadap tantangan masa depan ekonomi syariah?

3. Bagaimana pengaruh ekonomi digital terhadap tantangan dan peluang masa depan ekonomi syariah secara simultan?

III. TUJUAN PENELITIAN

Tujuan dari paper ini diuraikan berikut ini:

1. Untuk menganalisis pengaruh ekonomi digital terhadap peluang masa depan ekonomi syariah

2. Untuk menganalisis pengaruh ekonomi digital terhadap tantangan masa depan ekonomi syariah

3. Untuk menganalisis pengaruh ekonomi digital terhadap peluang dan tantangan masa depan ekonomi syariah?

IV. TINJAUAN PUSTAKA

Kotler berpendapat bahwa terdapat hal yang mempengaruhi volume penjualan yaitu dengan adanya aplikasi online yang terhubung melalui jaringan internet dimana konsumen dan pelaku bisnis dapat dengan mudah berinteraksi antara secara langsung, (Philip Kotler: 2005; 2). Sementara itu, menurut Basu Swastha, terdapat tiga hal yaitu: jenis barang, harga, distribusi dan promosi merupakan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi volume penjualan, (Basu Swastha: 2001; 127-128). Adapun menurut Daryanto, promosi yaitu satu arah arus informasi yang mengarahkan organisasi atau seseorang dengan tujuan mempengaruhi penjualan, (Ayu Sri Rahayu: 2018; 6). Sedangkan menurut Danang Sunyoto, promosi merupakan kombinasi atas periklanan, publisitas, tatap muka dalam penjualan, hubungan masyarakat dan promosi penjualan, dengan tujuan volume penjualan suatu perusahaan dapat meningkat. (Danang Sunyoto: 2015;

152). Hal ini mengindikasikan bahwa ekonomi digital membuat media promosi memiliki jangkauan yang lebih luas. Hal yang sama juga dikemukakan oleh Basu Swastha bahwa volume penjualan dipengaruhi oleh pemberian hadiah, promosi, kampanye, dan peragaan, (Basu Swastha: 2001; 131). Berdasarkan teori-teori yang telah diuraikan maka dapat ditarik kesimpulan bahwa bila masyarakat memanfaatkan aplikasi digital baik melalui media sosial maupun aplikasi belanja maka aktivitas ekonomi meningkat. Riset global Bloomberg menyampaikan bahwa pada tahun 2020 terdapat lebih dari setengah masyarakat Indonesia kemungkinan melibatkan diri pada aktivitas e-commerce. (Liputan6.com: 2019 jam 09.35). Hal

(12)

ini sejalan dengan analisis Ernst & Young, dalam penelitiannya mengemukakan bahwa di Indonesia setiap tahunnya, pertumbuhan nilai penjualan ekonomi digital meningkat sekitar 40 persen. Pada tahun 2020 akan meningkatkan Pendapatan Domestik Bruto senilai 22 persen, melalui revolusi bisnis online Indonesia.

(Kominfo.go.id:2019). Berdasarkan pemaparan data tersebut maka diperlukan penelitian guna menjelaskan kesenjangan yang sesungguhnya dirasakan masyarakat dalam aktivitas ekonomi digital, mengingat potensi perkembangan aplikasi digital baik melalui media sosial maupun aplikasi belanja besar peluangnya untuk menunjang perkembangan industri ekonomi digital online di Indonesia melalui ekonomi syariah. Dari hal tersebut, penulis mengajukan paper dengan mengambil judul “Ekonomi Digital: Peluang Dan Tantangan Masa Depan Terhadap Ekonomi Syariah di Indonesia”

Instrumen baku guna penilaian ekonomi digital ini adalah website quality, melalui beberapa indikator-indikator yang digunakan: (Ni Made Savitri dan Ni Nyoman Kerti: 2012; 332)

1. Web information quality. Konsep ini diartikan sebagai kualitas informasi yang disajikan dalam website yang kemudian dinilai oleh pelanggan.

2. Web interaction quality. yaitu sifat interaktif dan kemudahan penggunaan website yang akan dinilai oleh pelanggan.

3. Site design quality adalah interface website yang dinilai oleh pelanggan terhadap visualisasi dalam bentuk tampilan website.

4. Reliability (Keandalan). Dapat diartikan menjadi keandalan layanan aplikasi online dalam memberikan layanan seperti yang dijanjikan, dengan ini kemudian pelanggan akan memberikan penilaian.

5. Responsiveness (Daya Tanggap), yaitu layanan aplikasi yang efektif dalam merespon online dan secara tanggap mampu menangani masalah yang dihadapi oleh pelanggan terkait dengan ekonomi digital.

6. Assurance (Jaminan) adalah segala proses transaksi layanan aplikasi online dengan jaminan keamanan terhadap data pelanggan, kemudian user melakukan penilaian terhadap hal ini.

7. Emphaty (Perhatian) diartikan sebagai layanan aplikasi online dalam penyediaan perhatian secara individual lalu dengannya dilakukan penilaian pelanggan

(13)

V. KERANGKA BERPIKIR

Dari kerangka berpikir diatas, maka diperoleh hipotesis sebagaimana diuraikan dibawah ini:

1. H0 = Ekonomi digital tidak berpengaruh terhadap peluang masa depan ekonomi syariah

2. Ha = Terdapat pengaruh ekonomi digital terhadap peluang masa depan ekonomi syariah

3. H0 = Tidak ada pengaruh ekonomi digital terhadap tantangan masa depan ekonomi syariah

4. Ha = Ada pengaruh ekonomi digital terhadap tantangan masa depan ekonomi syariah

5. H0 = Tidak ada pengaruh ekonomi digital terhadap tantangan dan peluang masa depan ekonomi syariah secara simultan

6. Ha =Ada pengaruh ekonomi digital terhadap tantangan dan peluang masa depan ekonomi syariah secara simultan

VI. METODOLOGI

Penelitian ini memakai pendekatan kuantitatif, dengan jumlah populasi tanpa batas, sampel diambil secara acak memakai angket kuisioner sebagai instrumen penelitian. Sampel kemudian diuji dengan metode statistik. (Andhita Dessy Wulandari: 2017;10-11). Dalam penelitian ini, digunakan tiga variabel penelitian yang diklasifikasikan menjadi dua yaitu:

1. Variabel dependen pada penelitian ini (Y1) yaitu Peluang Ekonomi Syariah dan (Y2) Tantangan Masa Depan Ekonomi Syariah

2. Variabel independen dalam penelitian ini X1 Ekonomi Digital

Dalam penelitian ini penyusunan instrumen variabel independen dan dependen, diuraikan sebagai berikut: (V Wiratna Sujarweni: 2015; 80).

Tabel 1 Definisi Operasional

Variabel Indikator Butir Soal Sumber

Ekonomi Digital/

Shopping online application

(X1)

1. Web

information quality

Bentuk ekonomi digital/ aplikasi belanja online didesainnya mudah dimengerti dan jelas.

Anggrae ni, Ni Made Savitri dan Ni Yasa, Nyoman 2. Web interaction

quality

Tampilan ekonomi digital/

aplikasi belanja online menarik dan informatif sehingga mudah digunakan

Ekonomi Digital

Tantangan Ekonomi Syariah

Peluang Ekonomi Syariah

(14)

3. Site design quality

Informasi desain transaksi ekonomi digital/ aplikasi online mudah diunduh dan dipahami

Kerti, 2012.

4. Reliability Kesesuaian antara kebutuhan riil masyarakat dibandingkan menu- menu yang terdapat transaksi ekonomi digital/ aplikasi online 5. Responsiveness Ekonomi digital/ aplikasi online dengan cepat dapat diakses kapanpun dan dimanapun 6. Assurance Ketenangan dalam melakukan

transaksi Ekonomi digital/

Aplikasi online memiliki tingkat keamanan yang baik sehingga tidak ada kekhawatiran

Jaminan dalam kerahasiaan informasi personal pada Ekonomi digital/ Aplikasi online ataupun kegiatan transaksi yang dilakukan oleh masyarakat 7. Emphaty Open akses 24 jam pada

Ekonomi digital/ Aplikasi belanja online

Ekonomi digital/ Aplikasi belanja online tidak pernah error ketika dimanfaatkan masyarakat

Melalui data primer berupa wawancara dan angket kuesioner, diharapkan data dapat diperoleh dalam penelitian ini. Wawancara dilakukan guna mencari informasi1 terkait kemungkinan peluang dan kendala yang dihadapi oleh masyarakat dalam mengjadapi tantangan dan peluang ekonomi digital. Kuesioner digunakan untuk mengetahui tanggapan responden mengenai variabel dalam penelitian.

VII. TEKNIK ANALISIS DATA

Beberapa langkah dijalani guna menganalisis data kuantitatif, sebagai berikut:

1. Uji Instrumen.

Korelasi Pearson Product Moment, digunakan dalam pengujian validitas dalam penelitian ini. Untuk pengukuran reliabilitas pada paper ini, penulis mengambil Cronbach Alpha, karena variabel yang dikatakan reliabel bila nilai Cronbach Alpha lebih besar dari 0,6.

2. Uji Asumsi Klasik.

(15)

Bila kriteria BLUE (Best Linear Unbiased Estimator), dalam model regresi linier berganda tercapai maka model tersebut dapat dikatakan baik dan asumsi klasik dapat terpenuhi. Terdapat syarat-syarat dalam uji asumsi klasik antara lain: uji autokorelasi, uji multikolinieritas, uji heteroskedastisitas dan uji linieritas, uji normalitas. (Wulandari: 2017; 55).

3. Analisis Korelasi Ganda

Analisa korelasi Pearson Product Moment digunakan sebagai uji korelasi ganda dalam penelitian ini, korelasi bersifat positif bila pearson correlations serta r hitung nilainya positif.

4. Koefisien Determinasi

Guna mengetahui persentase pengaruh e secara simultan terhadap variabel dependen maka uji koefisien determinasi dipakai dalam penelitian ini. Nilai koefisien determinasi pada paper ini dilihat dari nilai R square dan Adjust R Square pada tabel model summary.2

5. Uji Hipotesis

Uji t pada penelitian ini dipakai guna menjelaskan apakah variabel (X1) Ekonomi Digital secara individual mempengaruhi variabel dependen pada paper ini yaitu:

(Y1) Peluang Ekonomi Syariah dan apakah variabel (X1) Ekonomi Digital secara individual mempengaruhi variabel dependen yang lain pada paper ini (Y2) Tantangan Masa Depan Ekonomi Syariah. Uji F dalam paper ini digunakan untuk menjelaskan apakah variabel (X1) Ekonomi Digital mempengaruhi variabel dependen dalam paper ini (Y1) Peluang Ekonomi Syariah dan (Y2) Tantangan Masa Depan Ekonomi Syariah secara simultan (bersama-sama).

VIII. HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Pengaruh Ekonomi Digital terhadap Peluang Masa Depan Ekonomi Syariah.

Dewasa ini perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah menjadikan berbagai pembaharuan pada berbagai lini kehidupan, perbankan syariah dan atau wirausaha syariah termasuk didalamnya. Ekonomi syariah diharapkan mampu menjawab peluang tersebut pada tataran praktis dalam merintis dan mengelola usaha wirausaha syariah sebagai antisipasi terhadap terbatasnya lapangan pekerjaan. Digital ekonomi saat ini memberi peluang ekonomi Syariah agar mampu berkiprah secara maksimal, terutama pada wilayah perbankan Syariah yang mulai menunjukan geliatnya. Kemudahan, kenyamanan, kecepatan, efisiensi, keamanan dan fleksibilitas transaksi ekonomi diharapkan mampu didapatkan dari penggunaan ekonomi digital sehingga, masyarakat luas tetap mampu menjalankan usahanya meskipun mereka memiliki mobilitas tinggi. Aktivitas ekonomi seperti transaksi payment online selain mudah karena dapat dilakukan sendiri oleh penjual/produsen maupun dari pembeli/konsumen yang semuanya termasuk dalam wirausahawan syariah, juga dapat melibatkan pihak perbankan syariah, artinya kedua belah pihak memiliki kemudahan akses guna melakukan transaksi dengan tujuan kegiatan perekonomian syariah meningkat secara berkala.

(16)

Sesuai hasil pengujian sebelumnya maka diperoleh nilai signifikansi variabel sebesar 0,00 < 0,05 serta didapat nilai t hitung > t tabel yaitu 3.756 > 1,6595 sehingga, 𝐻0 ditolak dan 𝐻1 diterima. Hal ini berarti bahwa variabel ekonomi digital berpengaruh secara parsial terhadap peluang ekonomi Syariah guna memperlebar dan mengepakkan sayapnya.

Sementara itu ekonomi digital memiliki akses selama 24 jam, hal ini dapat dilakukan kapanpun dan dimanapun artinya, ruang pemakaian aplikasi ekonomi digital fleksibel dan sangat luas sehingga siapapun yang menghendaki transaksi dapat dengan segera melakukannya serta saat itu juga bisa membayar. Dalam sistem penjualan konvensional peluang seperti ini sulit kita temukan karena kosumen wajib pergi ke pasar ataupun toko dan bila sistem transfer yang dikehendaki dalam pembayaran maka pembeli wajib datang ke bank dan atau melalui ATM. Pada umumnya pembeli/konsumen merasa enggan, apalagi bila mereka mempunyai aktivitas penting yang sulit untuk ditinggalkan sehingga kemungkinan kegagalan transaksi pembelian semakin meningkat.

Ekonomi digital ini secara bertahap mengantisipasi hal tersebut berupaya menjaga kepercayaan konsumen/pembeli dengan memberikan kesan yang baik guna membentuk kepercayaan antara kedua belah pihak sehingga transaksi dan aktivitas ekonomi syariah dapat meningkat serta peluangnya dapat dimanfaatkan secara optimal.

2. Pengaruh ekonomi digital terhadap tantangan masa depan ekonomi syariah.

Perkembangan teknologi dalam bidang komunikasi salah satu hasilnya adalah media sosial. Salah satu bagian dari komukasi diantaranya adalah penjualan sehingga pengaruh media social juga berdampak pada transaksi ekonomi. Aktivitas ekonomi tersebut diantaranya adalah promosi melalui media social, dan ini juga merupakan salah satu tantangan masa depan ekonomi syariah yaitu bagaimana memanfaatkan media sosial secara maksimal karena memiliki sangat luas jaringannya serta akses penggunaannya hampir setiap saat. Berdasarkan hasil pengujian sebelumnya menyatakan bahwa diperoleh nilai signifikansi variabel sebesar 0,00 < 0.05 diperoleh nilai t hitung > t tabel yaitu 6.069 > 1,6595 sehingga, 𝐻0 ditolak dan 𝐻1diterima. Hasil ini berarti bahwa variabel digital ekonomi berpengaruh secara parsial terhadap variabel tantangan ekonomi Syariah.

Mayoritas konsumen Muslim saat ini melakukan aktivitas perekonomian Syariah melalui ekonomi digital. Ekonomi digital telah membentuk ruang pemasaran baru yang jangkauannya sangat akurat, cepat dan luas. Jaringan pemasaran secara personal dapat dibentuk oleh Produsen/penjual dengan konsumen Muslim selain itu juga penjual/produsen dapat langsung membangun maupun mengenalkan produk mereka kepada “dunia” dengan “jari” melalui ekonomi digital. Salah satu kegiatan ekonomi Syariah adalah promosi melalui media digital, hal ini dikategorikan sebagai aktivitas yang relatif terjangkau dan besar sekali efeek yang ditimbulkan bila mampu dikelola dengan baik, hal ini yang menjadi salah satu penyebab promosi melalui media digital dapat memberikan pengaruh signifikan terhadap tantangan masa depan ekonomi Syariah. Salah satu tantangan promosi adalah konten-konten yang menarik guna memperoleh perhatian

(17)

pembeli/konsumen. Hal inilah yang merupakan salah satu tantangan bagi ekonomi Syariah, bagaimana membuat konsumen/ masyarakat tertarik untuk melakukan aktivitas perekonomian syariah, baik itu wirausaha syariah maupun melalui perbankan Syariah. Tantangan ekonomi Syariah yang lain adalah perbankan Syariah dan atau wirausaha Syariah harus mampu membuktikan bahwa kegiatan perekonomian yang dilakukan senilai dengan transaksi yang telah dilakukan karenanya kualitas barang menjadi urgent sehingga konsumen Muslim tidak merasa dibohongi ataupun kecewa. Hal ini sangat penting sebab dalam sistem ekonomi digital ini bentuk fisik produk secara langsung dan nyata, pembeli/ konsumen tidak bisa melihat dan mengetahuinya.

3. Pengaruh ekonomi digital terhadap tantangan dan peluang masa depan ekonomi Syariah secara simultan.

Sebagaimana yang telah dijelaskan pada uraian sebelumnya bahwa secara individu ekonomi digital terhadap tantangan dan peluang masa depan ekonomi Syariah memberikan pengaruh yang cukup besar. Menurut Basu Swastha, faktor- faktor lain seperti periklanan, peragaan, kampanye, dan pemberian hadiah, merupakan hal yang mempengaruhi penjualan, karena diharapkan dengan faktor- faktor tersebut konsumen akan melakukan aktivitas pembelian lagi pada barang yang sama, sehingga wirausaha Syariah dan atau perbankan Syariah mampu memanfaatkan peluang dengan baik dan menjawab tantangan dan akhirnya roda pertumbuhan perekonomian Syariah semakin melaju kencang. Berdasarkan hasil pengujian sebelumnya, maka diperoleh nilai signifikansi 0,00 < 0,05 dan diperoleh nilai F hitung > F tabel yaitu 63,446 > 3,93. Hal ini menunjukkan bahwa 𝐻0 ditolak dan 𝐻1diterima. Berarti, ekonomi digital berpengaruh secara simultan (bersama- sama) terhadap tantangan dan peluang ekonomi Syariah.

Para pelaku ekonomi syariah harus mampu nenerjemahkan dengan baik mengenai perkembangan ekonomi digital yang juga memberikan peluang-peluang baru serta tantanga yang tidak mudah. Kemampuan beradaptasi akan dapat menjadikan wirausaha Syariah dan atau perbankan Syariah berkembang pesat, karena kunci utama transaksi ekonomi baik itu secara online maupun konvensional adalah kejujuran dan kepercayaan antara produsen/penjual dengan konsumen/

pembeli maka seyogyanya mengedepankan dan mempertahankan nilai-nilai dan prinsip ekonomi syariah yang baik.

Terdapat beberapa hal penting dalam paper ini sebagai bahan evaluasi dan bahan perbaikan dalam perumusan metode yang lebih baik pada wirausaha syariah dan atau perbankan syariah selanjutnya. Hal-hal yang dapat dilakukan diantaranya:

a. Guna meningkatkan aktivitas perekonomian Syariah maka pegiat dan para ekonom Syariah seharusnya memanfaatkan peluang ekonomi digital sebaik mungkin serta seoptimal mungkin.

b. Potensi yang sangat besar yang dimiliki oleh ekonomi digital dalam hal ini media sosial diharapkan mampu memaksimalkan produktifitas dan nilai manfaat yang dapat diambil bagi para ekonom Syariah melalui wirausaha syariah dan atau perbankan Syariah.

c. Salah satu tantangan bagi ekonomi Syariah yang diharapkan mampu beradaptasi dengan baik adalah dengan perkembangan ekonomi digital

(18)

dewasa ini. Pada berbagai lini kehidupan dan bidang-bidang usaha ekonomi Syariah berkembang dengan pesat seiring dengan masuknya teknologi informasi dan komunikasi yang menawarkan akses kemudahan pada pelbagai lini kehidupan. Sektor usaha syariah baru yang begitu banyak bermunculan, terlebih bidang usaha yang memanfaatkan sistem online, membutuhkan strategi usaha yang baru agar perekonomian Syariah dapat terus berkembang, dinamisnya persaingan juga memerlukan kemampuan beradaptasi yang tinggi sehingga kegiatan ekonomi Syariah dapat terus belajar dan tidak tertinggal dalam persaingan, karena sejatinya penggunaan ekonomi digital hanyalah simulasi kecil tentang bagaimana besarnya perubahan aktivitas ekonomi diluar sana.

Berdasarkan pemaparan tersebut di atas evaluasi secara mendalam sangat diperlukan, hal ini terkait kendala yang dihadapi dalam menerapkan ekonomi digital. Lebih jauh lagi wirausaha Syariah dan atau perbankan Syariah diharapkan senantiasa mengevaluasi strategi secara bertahap guna membaca peluang dan menjawab tantangan dari ekonomi digital. Paper ini memiliki keterbatasan karena paper ini merupakan adopsi dari penelitian dengan tema analisis faktor-faktor yang mempengaruhi volume penjualan yang terdiri atas dua variabel, yaitu penggunaan aplikasi BRIS online dan promosi melalui media sosial.

IX. KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan tersebut diatas, maka terdapat hal penting yang perlu digaris bawahi sebagai berikut:

1. Pengembangan fitur-fitur layanan ekonomi digital diharapkan bisa mendukung kegiatan perekonomian syariah guna meningkatkan transaksi ekonomi Syariah.

2. Besarnya potensi ekonomi digital yang mendukung aktivitas ekonomi dalam wirausaha Syariah dan atau perbankan Syariah, diharapkan mampu menjadi solusi atas permasalahan- permasalahan umum yang dihadapi pada tataran teknis praktis.

3. Kreatifitas dalam melakukan promosi, sangat dibutuhkan yaitu dengan memanfaatkan optimaliasasi media social guna meningkatkan transaksi ekonomi Syariah.

4. Ekonomi Syariah diharapkan mampu menjawab tantangan dengan cara pengelolaan yang baik melalui penggunaan aplikasi ekonomi digital dengan kredibilitas sistem pembayaran melalui promosi guna meningkatnya transaksi Syariah.

5. Ekonomi Syariah juga diharapkan mampu membaca peluang dan juga menjawab tantangan dalam penggunaan jaringan internet, media social maupun aplikasinya serta perangkat dalam ekonomi digital lainnya, mengingat besarnya manfaat dalam penggunaan internet, aplikasi dan media sosial lainnya jika dikelola dengan baik khususnya dalam bidang wirausaha Syariah dan atau perbankan Syariah.

6. Pengguna ekonomi digital hendaknya mengedepankan prinsip kepercayaan dan kejujuran terutama dalam hal pembayaran yang menggunakan sistem online, kepada lembaga yang sudah dipercaya seperti perbankan Syariah sehingga jaminam keamanan data user dapat teraih.

(19)

X. DAFTAR PUSTAKA

Anggraeni, Ni Made Savitri dan Yasa, Ni Nyoman Kerti, 2012, “E-Service Quality terhadap Kepuasan dan Loyalitas Pelanggan dalam Penggunaan Internet Banking,” Jurnal Keuangan dan Perbankan Vol.16, Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Udayana.

Kominfo.go.id, 2019, “Indonesia Akan Jadi Pemain Ekonomi Digital Terbesar di Asia Tenggara” dalam https://kominfo.go.id/index.php/content/

detail/6441/Indonesia+Akan+Jadi+Pemain+Ekonomi+Digital+Terbesar+d i+Asia+Tenggara/0/berita_satker, diakses pada tanggal 25 Mei 2019 jam 09.37.

Kotler, Philip, 2005 Manajemen Pemasaran Ed. 11, Jilid 1, Jakarta: PT. Indeks.

Liputan6.com, 2019, “Pertumbuhan e-Commerce Indonesia Tertinggi di Dunia”

dalam https://www.liputan6.com/tekno/read/2957050/pertumbuhan-e- commerce-indonesia-tertinggi-di-dunia, diakses pada tanggal 25 Mei 2019 jam 09.35.

Rahayu, Ayu Sri Rahayu, 2018 “Pengaruh Biaya Iklan dan Biaya Promosi terhadap Volume Penjualan Mobil Avanza pada PT. Hadji Kalla Cabang Alauddin di Kota Makassar,” Jurnal Ekonomi, Makassar: Universitas Negeri Makassar.

Sunyoto, Danang, 2015, Perilaku Konsumen dan Pemasaran: Panduan Riset Sederhana untuk Mengenali Konsumen, Yogyakarta: Center of Academic Publishing Service.

Swastha, Basu, 2001 Manajemen Penjualan, Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta.

Wulandari, Andhita Dessy, 2017, Aplikasi Statistika Parametrik dalam Penelitian, Yogyakarta: Pustaka Felicha.

(20)

ANALYSIS OF THE ROLE OF MUDHARABAH PRINCIPLE IN DEVELOPING ISLAMIC FINANCIAL INSTRUMENT

Mohammad Noviani Ardi

Universitas Islam Sultan Agung Semarang

Dina Yustisi Yurista

Universitas Wahid Hasyim Semarang

Email: [email protected] Abstract

Most Islamic financial institutions offered a variety of financial products and services that utilised mudharabah principle which based on profit and loss sharing concept. Mudharabah principle is a permissible commercial contract in Islam and it contributes many advantages for socio economic. However, in contemporary Islamic banking industry, Mudharabah principle is mostly used to finance short term commercial purposes rather than long term venture to yield in socio economic benefits for Ummah. Thus, the paper aims to observe the application of mudharabah principle in the Islamic banking products and to find the shariah issues that emerge in the Islamic finance products related to the application of mudharabah principle. The paper presents observation and document review from secondary data in the role of mudharabah to develop Islamic financial instrument. The paper finds the differences between mudharabah principle theoretical and practical that applied in the current bank industry and the weakness of mudharabah contract in Islamic bank. In terms of contributing the optimalization of application through mudharabah principle by exploring the issues that appear to the Islamic financial products.

Keywords: Mudharabah, Islamic Banking, Islamic Financial Instrument.

Abstrak

Sebagian besar lembaga keuangan Islam menawarkan berbagai produk dan layanan keuangan yang menggunakan prinsip mudharabah yang didasarkan pada konsep pembagian laba dan rugi. Prinsip mudharabah adalah kontrak komersial yang diperbolehkan dalam Islam dan memberikan banyak keuntungan bagi sosial ekonomi. Namun, dalam industri perbankan Islam kontemporer, prinsip mudharabah lebih banyak digunakan untuk membiayai tujuan komersial jangka pendek daripada usaha jangka panjang untuk menghasilkan manfaat sosial ekonomi bagi umat. Dengan demikian, makalah ini bertujuan untuk mengamati penerapan prinsip mudharabah dalam produk perbankan syariah dan untuk menemukan masalah syariah yang muncul dalam produk keuangan Islam terkait dengan penerapan prinsip mudharabah. Makalah ini menyajikan pengamatan dan review dokumen dari data sekunder dalam peran mudharabah untuk mengembangkan instrumen keuangan Islam. Makalah ini menemukan perbedaan antara prinsip mudharabah teoretis dan praktis yang diterapkan dalam industri bank saat ini dan kelemahan kontrak mudharabah di bank syariah. Dalam hal berkontribusi optimalisasi aplikasi melalui prinsip mudharabah dengan mengeksplorasi isu-isu yang muncul pada produk keuangan syariah.

Kata Kunci: Mudharabah, Bank Islam, Instrumen Keuangan Islam.

(21)

I. INTRODUCTION

Islamic finance is Islamic concept of socio-economic development of the muslim community. In this sense, the function of Islamic finance is not only to render financial instruments that are permitted under Islam, but also to take over social responsibility and to participate directly in the process of economic growth and development.

Islamic economic theorists and the fuqaha argued that the investment operations of Islamic banks would have to be based on profit loss sharing (PLS), such as mudarabah. These theorists said that the Islamic bank would provide its financial resources to the borrowers on a risk-sharing basis for long term infrastructural and industrial ventures for the benefit of the Ummah, unlike in the interests based financial system in which the borrower assumes all risks and where the lending decision is based on the issue of creditworthiness solely.

Two important issues will be dealt with regarding this financial instrument. First, there is a huge divergence between the Shariah verdicts of the Fuqaha and the contemporary finance practices in Islamic banks. Second, the conditions imposed by the Fuqaha on finance on a PLS-basis have been mostly too idealistic and probably were not considered thoroughly enough. PLS- instruments have been utilized on a small scale so far and it would be difficult to attractiveness of this financial instruments without easing certain restrictions or at least reconsidering relevant issues from a rational and realistic point of view.

II. LITERATURE REVIEW

Hussain G Rammal on his paper agreed that mudarabah is an agreement between two parties, where one provides finance to another for utilization in an agreed manner (Rammal, 2005). The finances for the ventures are the responsibility of one party known as the Rabb-ul-mal (financier), whereas the management and execution of the project in the sole responsibility of the other party known as the Mudarib (entrepreneur). In addition, the economist states that the advantage of Mudaraba is that emphasizes the sharing of responsibily by the users of the money and thus helps make the free market system more than oben and democratic.

Islamic banks have introduced the concept of Mudaraba in home financing and investment accounts. In home financing, the bank provides the capital for the purchases of the property and the borrower makes repayment based on the rental value of the property. Then in investment accounts, the profit sharing ratio and the maturity period vary from bank to bank, depending on supply and demand condition. Theoretically, the rate of return on these investment accounts could be positive or negative, but in reality the returns have mostly been positive and quite comparable to rates that conventional banks offer on their term deposits.

In addition, Shinsuke Nagaoka wrote that mudarabah contract is a form of contract in which one party provides capital with which another party undertakes some business (Nagaoka, 2010). Any profit from the venture is distributed between the parties in a ratio agreed before hand, while any loss entirely borne by rabb-ul-mal unless mudarib has a defect.

(22)

Experience through the growth of Islamic finance in the 1970s showed that, in practice, partnership based instruments are not necessarily suitable for most aspects of Islamic finance, particularly its asset side. The Middle East and Malaysia did not adopt partnership based instruments as core financial product, preferring mostly mudarabah contract, which are not partnership based.

The essential feature of profit loss sharing contract is that contracted parties share in the outcome of the venture. In terms of economics, any risk involved in partnership based instruments is shared by the contracted parties. As many Islamic economists and practitioners working at Shariah divisions of Islamic banks emphasizes, this sort of risk sharing is said to be highly consistent with one of fundamental notions of Islamic teachings. Therefore, risk sharing has been considered as the economic wisdom of partnership contracts in existing literatures by thinking back to the partnership contracts in pre modern times and clarifying the substantial wisdom in them. Thus, it will help to improve partnership based instruments in present Islamic financial practice.

The classical partnership contracts, which did not sufficiently develop the concept of corporate entity, have a discriminative economic features that restrains risk scattering. This reformulated economic wisdom derived from partnership contract can be called as risk sharing without risk scattering.

On the other hand, in Erna Rachmawati and Ekki Syamsulhakim’s article found the using counteraction test indicates that the number of Islamic bank’s branch offices and profit sharing rate are significantly affects the volume of mudaraba deposits in Indonesia in the long run, while GDP and interest rate are not (Rachmawati & Syamsulhakim, 2004). Nevertheless, the increasing number of Islamic commercial banks and Islamic banking unit in Indonesia has consequently been followed by an increase in the nominal volume of both mudaraba saving deposit and mudaraba investment deposit in the banks. Thus, the volume of mudaraba deposits in Indonesia does not depend on income or interest rate, but depend on profit sharing rate and the number of branch offices of the Islamic commercial banks. This finding supported the view that depositors are attracted to put their money in Indonesian Islamic banks partly due to welfare maximization reasons and accessibility of the Islamic commercial banks, not only because of their religious considerations.

The volume of fund that depositors entrust in banks plays an important role as a source of funds to be utilized by investors. In Islamic banks, there are several types of deposits that a depositor can obtain, but the types are not identical

Rabb al-mal

Mudarib

capital

labour

BUSINESS

profit

loss

distrubuted in a pre-determined

ratio borne by Rabb

al-mal

(23)

in different countries. But in Indonesia, there are three types of deposits fund that are offered: wadiah currency account, mudaraba saving account, and mudharaba investment account.

The authors use an adaptive expectation model to investigate factors that affects mudharaba deposits in Indonesia, but slightly modifies the model by adding one more variable, which is the number of branch offices of Islamic commercial bank in Indonesia.

On the contrary, Mansor Jusoh and Norlin Khalid present the analyzing of demand for goods to be purchased by deferred payment. Thus, the demand will then be used to derive the demand for Islamic debt and they also investigate theoretically, factors that may have an impact on the demand for Islamic debt (Jusoh & Khalid, 2013).

There are two main types of contracts that define financing operation of the Islamic banking: the contract of PLS (ukud al-isytirak) and the contract of exchange (ukud al-mu’awadhat). Under the PLS contract bank provides mudharabah financing to its client for a share of profits (or losses), or musyarakah financing when the bank also becomes a partner in any venture or project. The contract of exchange requires bank to use its fund to facilitate economic transaction, usually involving a purchase of goods or assets from a third party and resell them its client on a different basis. In addition, mudharabah based models help facilitate understanding of the working of significantly to Islamic finance. However, the facts that mudharabah financing through PLS principle is the most sparingly used tools of financing in Islamic banking and it is on a declining trend.

The writers use the model which modified a classical model to be consistent with the principles of Islam that prohibit interest rate. In terms of analysis, they use micro foundation for macroeconomic analysis that links various sectors of an economy together. In addition, under the classical economy, wages and rental rate of capital are predetermined for firms. This implies the claim on capital and labor must be satisfied before knowing the actual profits of the firms.

In contrast, under the Islamic economy, only wage for labor is predetermined while the capital is only rewarded if firm yields an economic profit. Both the entrepreneur and external financier will decide their agree profit sharing ratios before starting the business under mudharabah system.

Islamic financing techniques may have different effects on decision making of economic agents as well as on the macroeconomic framework of the economy. Although there have been a substantial amount of research studying the Islamic financing, most of the existing literatures only focus on a profit loss sharing system which based on mudharabah and musyarakah system. The practice in reality however, is over overwhelmingly dependent on the use of Islamic debt-based financing instrument while profit loss sharing is the least demanded as model of financing in most of the Islamic banks in the world.

Moreover, Muhammad Anwar begins with a distinction between riba (usury) and profit on his journal. The current practice is to issue currency-enfaced mudharabah instruments but treat them as asset-enfaced mudarabah instruments.

(24)

This position is analyzed and policy implications are drawn for future development of mudharabah instruments (Anwar, 2001).

Islamic finance introduces complications in order to incorporate recommendations of the Shariah advisors into, otherwise, simpler transactions.

These cosmetic changes make “Islamic” transactions more expensive to the customers than similar deals through their conventional counterparts. Sooner or later the customers will realize that there is no real difference between the so- called Islamic financial products and the comparable conventional products. If this happens, then the customers may refuse to bear the extra cost on the pretense of superficial Shariah compliance.

In contrast, current trends and strategies of providing copious products would be self-destructive because, on the one hand, realization of truth by the customers regarding Islam city of their transactions would curtail demand for such financing products and, on the other hand, higher costs resulting from unnecessary compliance with superficial Shariah requirements render these products more expensive compared to similar conventional products. These factors may disappoint the customers of the Islamic banks. Therefore, it is a must for Islamic finance to improve their products by concentrating on Islamic techniques that do not contradict the injunctions of the Qur’an and Sunnah in order to benefit from the niche market.

III. RESULT AND ANALYSIS 3.1. Mudarabah Contract in Theory

Mudharabah was a pre-Islamic custom used in order to finance a significant amount of the caravan trade in Arabia. Orientalists believe that it was adopted from the Islamic commercial practice that was in operation in the sixth century (Tamer, 2005). It is the earliest examples of a commercial arrangement and is identical with the commercial and legal institution which became known in Europe as the Command (Udovitch, 1970). Although there is no direct references to mudharabah in the Qur’an, those verses containing words of the same linguistic root imply a meaning of “traveling for the purpose of trade”.

Under mudarabah, one party, the rabb al-mal (beneficial owner), entrusts money to the other party (mudarib) to manage trustee, who is to utilize it in an agreed manner. After the operation is concluded, the rabb al-mal receives the principal and the pre-agreed share of the profit (Warde, 2000). Thus, if there any losses, it will be covered by rabb al-mal and in case of loss the mudarib loses only the remuneration of his efforts and his expected share in profits. There are two types of mudharabah, namely:

1. Mudharabah al-Muqayyadah (restricted mudharabah). Under this scheme the rabb al-mal may specify a particular choices of business or a particular place of business for the mudarib, I which case he must invest the money in that particular business or place.

2. Mudharabah al-Mutlaqah (unrestricted mudharabah). Under this scheme tha rabb al-mal gives full freedom to the mudarib to undertake whatever business he deems fit (Kettel, 2010).

(25)

Therefore, mudharabah is regarded as a contribution to the Islamic concept of a just economic transaction. However, the characteristics of the contract vary from one law school to another. The Malikis and Shafi’is insist that mudharabah is a purely commercial instrument. They would reject a mudharabah which required any manufacturing activity on the part of the agent. To avoid any disputes, The mudharabah contract should specify the amount of the capital involved. This capital should not be a debt owed by the mudarib so that the investor cannot use the mudharabah to recover the debt and derive a benefit from it (Saeed, 1996). In order to avoid the possible resulting exploitation (riba) the Fuqaha have closed this back door for investor. The mudarib manages the mudharabah and should have the necessary freedom in the making decisions.

According to the Malikis and Shafi’is the contract would be void if the investor, for instance, demands that the mudarib should not buy except from a particular person. With a profit. Furthermore, the investor cannot demand any guarantee from the mudarib to return the capital or the capital with a profit. Since the relationship between the investor and the mudarib is a fiduciary one and the mudarib a trustworthy person, such a guarantee would be void (Saleh, 1986).

Every party to the mudharabah contract must know his share in the expected profit, provided the share is a percentage and not a lump sum. Before arriving at a profit figure, the venture should be liquidated and the mudarib is entitled to deduct all business related expenses from the mudharabah capital.

3.2. Mudharabah Contract in Islamic Banking Practice

Mudharabah is considered to be the essential mode accredited by the Islamic banks in their relationship with the depositors who tender their moneys to the bank as capital owners to be invested by the bank as mudarib (Kettel, 2010).

After entering the contract, the mudarib usually purchase a certain quantity of closely specified goods and sells the, to a third party at a profit. Prior to the approval of finance, the mudarib provides the bank with all detailed related to the good such as the source from which they are purchased and all associated costs.

Thus, it can be argued that the freedom of management has been limited sharply in Islamic Banking practice. The contract specifies in details how to manage the mudharabah. The mudarib has to ensure that correct descriptions of the goods are provided in the application for finance (Saeed, 1996). He is responsible for any losses or expenses resulting from any mistakes in the specifications since the bank does not bear such losses. He should keep the goods insured against all risks and should store the appropriately. In short, the mudarib must comply with the detailed terms of the contract with regard to the management of the venture and it is the bank which dictates these terms.

Furthermore, the Islamic bank takes many steps to ensure that its capital and the expected return is given to the bank on time, which is normally achieved with guarantees from the mudarib. Although the Shariah does not allow the investor to demand any guarantees from the mudarib, Islamic bank in fact seek various forms of guarantees. This guarantee serves to secure the return of funds in case of mismanagement or a lack of protection of the goods by the mudarib. In case that the mudarib is liable for a loss, he is required to compensate the bank. If

(26)

the guarantees provided are an sufficient, the muudarib should provide additional guarantees within a specified period.

In addition to the guarantees, the mudarib is required to submit periodic progress reports on the venture on both the general performance and the cash flow. Any delay in submitting these reports would lead to a decrease in the profit share of the mudarib. If he fails to achieve the projected cash flow, the bank itself may assume the management of the venture or can demand the liquidation of the contract without any prior warning. This means that Islamic banks almost eliminate all uncertainties involved in a mudharabah venture, where such a risk exists it is quantifiable and insurable. Therefore, the injunction is the bank has to bear any losses should not be taken at face value. In fact, the outcomes of mudharabah as practiced by Islamic banks can be considered as almost certain.

This is in contrast to how the venture is envisaged by the law schools or by the Islamic economic theorist.

3.3. The Weakness of Mudharabah Contract in Islamic Banking

Although mudarabah be regarded as ideal contract for Islamic banking, and has many advantages and "better" than the other system, but in fact, mudaraba is not one of the main financing schemes in Islamic banks. Based on data from the International Association of Islamic Banks (1996), mudaraba is only used by 20% on average in Islamic banks worldwide and also Islamic Development Bank only apply mudaraba contract on small projects.

Some of the problems faced by mudaraba contract as follows:

1. Profit-loss sharing contract associated with agency problems when an employer has no incentive to provide businesses but he has an incentive to report lower profits compared to the private financing of the manager. This argument is based on the idea that the parties to a business transaction will be neglected. If they are compensated less than the marginal contribution to the production process, and when this occurs in the case of profit-loss sharing, the capitalists hesitant to invest on the basis of profit-loss sharing.

For instance, A borrow money in Islamic banks, so later he reported the profits on the income statement of business is low. Thus, the level of profit-loss sharing given to the bank is lower than the real profit.

2. Profit-loss sharing contract requires collateral in order to function efficiently. At least security of property rights on profit-loss sharing contract led to the adoption of failure because there is no standard rules.

3. Islamic banks offer lower risks of financing compared with conventional banking. It is based on the concept of mudharabah contract that was followed. But, the implementation of asset management profit in mudharabah contract is mismatch with the applicable regulations.

4. Limitation the role of investors in the management and financial structure dichotomy of profit-loss sharing contract raises uncertainty. They do not share the contract based on the participation of decision-making. In another sides, it looks that the management who manage funds while investors enjoy the results.

(27)

5. Equity financing is not appropriate for short-term project financing when exposed to a high risk level (a diversification effect on equity).

3.4. The Solution of Mudharabah Contract in Developing Islamic Financial Instrument

The Potential problems that arise in the implementation of mudharabah in order to overcome its weakness can be done in several ways, namely (Muljawan, 2001):

First, Improving the quality of mudharib in receiving the mandate from rabb al- mal. Individual preferences in mudharabah contract will improve the quality of the transaction and it caused optimization of mudharabah contract among others, such as:

1. Transparency in the contract

2. The concept of respect for time, hard work and productivity 3. Trust in managing capital are given

In mudharabah, if the above conditions can be run by an individual, it can be said that the mudharabah contract produce the best quality. In addition, the increasing of individual preferences in the concept of utility would result a change of decision making and the quality of individual preferences in Islam should be a good thing. The concept of moral ethics in Islam is the concept to manage an individual to do as good as possible and can bring serious benefits as much as possible. Hence, improving the quality of preferences can be done by doing a strategic alliance with all parties that may play a role in maintaining moral values, they are, the institution of Islamic economics, as a supplier of economic actors who have a good preference, the scholars and religious leaders, religious educational institutions, and community organizations that play a role in improving public morals. As a result, the purpose of this concept is to improve individual preferences along interrelated concepts, not just the task of the bank, but it is the duty of the entire Muslim community that cares.

Second, Improving the quality of transparency in the contract such as the preparation of more detailed contracts and the using of benchmarking. To elaborate, access to impartial information can reduce the intensity of moral hazard and adverse selection in determination of optimal transaction. Also, making a detailed contract encourage transparency of information can be a solution and another important thing is the existence of benchmarking in all business sectors.

For that, benchmark is easier for all parties to agree to a fair contract, for example, if talah provide the benchmark of book sales efforts, such as the average profit margin of 20%, then this benchmark can be a reference to both contracting parties, as a reference expected return.

Third, the application of adequate accounting standards. One sufficient condition determines the success of the application of the concept of mudharabah in society is the accounting system in accordance with this concept and also it should be able to determine the level of risk of the transaction. In short, accounting and financial system and improving of shariah concept will be one of the mechanisms to control mudharabah contract.

(28)

IV. CONCLUSION

Mudharabah contract is one contract that allowed in Islam which has great benefits in improving the welfare individuals and economic empowerment in accordance with the economic principles of Shariah. The role of the economic empowerment of Shari'ah mudharabaha visible from characteristics of a fair, balanced, and emphasis on good achievement such work and the risks covered.

The higher performance mudharib and the higher the risk borne rabb al-mal result a huge gain to be obtained. Then, the mudharabah encourage people to fastabiqul Khairaat (competing in achievement).

To optimize the role of mudharabah in human’s life especially Shari'ah financial institutions by anticipation the obstacles which contained in this contract. As a result, the solution to cover the weakness of mudharabah contract is education and socialization to the public about the benefits of mudharabah refinement continuous regulation by the authorities, and participation from related parties, such as Islamic financial institutions, academics, community leaders in improving the application of mudharabah in muamalat.

V. REFERENCES

Anwar, M. (2001). Development of Mudarabah Instrument: Understanding of their profitability, Securitization, and Negotiability Aspects. IIUM Journal of Economics and Management, 165-186.

Jusoh, M., & Khalid, N. (2013). A model of the Demand for Islamic Banks Debt- based Financing Instrument. 20th National Symposium on Mathematical Science (pp. 1079-1086). Malaysia: AIP Publishing.

Kettel, B. (2010). Islamic Finance in a Nutshell. United Kingdom: Willey Publication.

Muljawan, D. (2001). Bank Syariah, Filososfi dan Operasi. Jakarta: Biro Perbankan Syariah Bank Indonesia.

Nagaoka, S. (2010). Reconsidering Mudarabah Contracts in Islamic Finance:

What is the Economic Wisdom of Partnership-based Instruments. Review of Islamic Economics, 65-76.

Rachmawati, E., & Syamsulhakim, E. (2004). Factors Affecting Mudarabah Deposit in Indonesia. 2nd International Islamic Banking and Finance.

Bandung: Departement of economics, Padjajaran University.

Rammal, H. G. (2005). Mudarabah in Islamic Finance: Principles and Application. 100-104.

Saeed, A. (1996). Islamic Banking and Interest: A study of the prohibition of Riba and its Contemporary Interpretation. Leiden (Netherlands): E.J. Brill.

Saleh, N. (1986). Unlawful Gain and Legitimate Profit in Islamic Law: Riba, Gharar, and Islamic Banking. Cambridge: Cambridge University Press.

Tamer, S. (2005). The Islamic Financial System: A Critical Analysis and Suggestions for Improving its Efficiency. Germany: Peter Lang.

Udovitch, A. L. (1970). Partnership and Profit in Madieval Islam in Princeton Studies on the Near East. Princeton: Princeton University Press.

Warde, I. (2000). Islamic finance in the Global Economy. Edinburgh: Edinburgh University Press.

(29)

AL-WASATIYYA PADA BUDAYA BANJAR: RELEVANSI PENERAPAN METODE DAKWAH ARSYAD AL-BANJARI

DI ERA DISRUPSI Noor Hasanah

Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari Banjarmasin

Email: [email protected] Abstract

Arsyad Al-Banjari is a Banjarese theologian who lived in 1710-1812 M. He played an important role to spread the cemprehension of Islam in South Kalimantan until now. He began the da’wah after 30 years of learning about Islam the Middle East.

Gambar

Tabel 1 Definisi Operasional
Gambar 1  Kerangka Konseptual
Tabel 2. Pencapain Tujuan Perkawinan
Tabel 1. Faktor Pendorong TKW
+3

Referensi

Dokumen terkait