BAB II TINJAUN PUSTAKA
E. Fokus Penelitian
Pada penelitian ini telah mengfokuskan masalah terlebih dahulu agar supaya tidak akan terjadi perluasan masalah. oleh karena itu, penelitian ini
Stategi Pengawasan Pemilu
Pencegahan
Penindakan
Praktik Politik Uang
Pendukung Penghambat
Terwujudnya Pemilu Luber jurdil
Strategi Badan Pengawas Pemilu Dalam Pengawasan Politik Uang Pada Pemilihan serentak di kabupaten
Mamuju 2019
mengfokuskan untuk meneliti “Strategi Badan Pengawas Pemilu Dalam Pengawasan Politik Uang Pada Pemilihan Serentak 2019 di Kabupaten Mamuju”.
F. Deskripsi Fokus Penelitian 1. Strategi Pengawasan
a. Strategi Pencegahan merupakan upaya untuk menyampaikan peringatan dini, sosialisasi dan partisipasi kepada peserta pemilu, masyarakat, pemangku kepentingan dan penyelenggara pemilu
b. Strategi Penindakan merupakan upaya penegakkan dan penanganan hukum terhadap peserta pemilu yang diduga telah melanggar atauran tahapan pemilu, fokus utama pada penanganan pelanggaran yang dilakukan oleh Bawaslu adalah pelanggaran kode etik, administrasi dan pidana.
2. Pola Politik Uang Dalam Pemilu
a. Berbentuk Uang merupakan kebutuhan utama yang dibutuhkan oleh masayarakat dalam melakukan transaksi berupa barang dan jasa, serta menjadi acaun bagi masyrakat dalam melakukan menuver penukarang barang dan jasa. Uang menjadi alat yang urjen yang berguna bagi setiap invidual dalam mengangkat status sosialnya, sekaligus digunakan dalam mengadilikan wacana strategis yang menyangkut dengan kekuasaan dan kepentingan politik.
b. Fasilitas umum Gerakan pencitran dan mengambil daya Tarik masayarakat merupakan hal yang tidak membawa manfaat bagi masayarakat secara proporsional. Pada masa kampanye di mana lumbung suara harus dikumpulakan untuk dapat duduk di kursi parlement ataupun di pemerintahan daerah.
4. Prinsip Pemilihan Umum
a. Langsung, pemilih memberikan suaranya secara lengsung b. Umum, pemilihan umum diakui seluruh warga negara c. Bebas, pemiliha bebas dalam menentukan pilihannya.
d. Rahasia, suara pemilih bersifat rahasia
e. Jujur, pemilihan umum dilaksanakan sesuai dengan atauran.
33 BAB III
METODE PENELITIAN
A. Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan selama dua bulan yang berlokasi di kantor Badan Pengawas Pemilu di kabupaten Mamuju Provinsi Sulawesi Barat. Lokasi ini pilih karena tersebut sangat berpotensi terjadi praktik politik uang dalam pemilihan serentak di banding dengan daerah lainya. Kabupaten Mamuju dimasukan sebagai daerah rawan terjadinya praktik politik uang sebab masayarkatnya cenderung phimistis terhadap politik uang.
B. Jenis dan Tipe Penelitian
1. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif, yang artinya data yang dikumpulkan berasal dari hasil wawancara, obervasi secara langsung, catatan lapangan, dokumen pribadi, catatan memo dan dokumen resmi dari pihak kantor bawaslu.
2. Tipe penelitian yang digunakan adalah tipe penelitian deskriptif kualitatif yaitu merupakan penelitian yang mengambarkan dengan jelas tentang upaya yang dilakukan oleh Badan Pengawas Pemilu dalam pengawasan Politik Uang.
C. Sumber Data
1. Data primer merupakan data yang diperoleh dengan cara melakukan pengamatan yang secara langsung di kantor bawaslu dan juga melakukan wawancara langsung dengan pimpinan dan staf kantor yang berkaitan dengan data yang dibutuhkan dalam penelitian ini.
2. Data sekunder merupakan data yang diperoleh dari kantor bawaslu yang berupa dokumen-dokumen dan buku literature serta laporan tertulis dari pihak kantor yang memiliki hubungan dengan penulisan penelitian ini.
D. Teknik Pengumpulan Data
1. Teknik pengumpulan data primer merupakan data yang diperoleh melalui terjung langsung kelokasi penelitian (Field Research) untuk mencari data yang lengkap dan sangat berkaitan dengan masalah yang akan diteliti. Hal ini akan dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a. Metode Observasi Lapangan
Melakuakan pencatatan dan pengamatan yang sistematis terhadap gejala-gejala yang akan diteliti. Kegiatan pengamatan terhadap objek penelitian ini untuk memperoleh keterangan data yang akurat mengenai hal-hal yang diteliti beserta untuk menegtahui apakah ada relevansi antara jawaban reponden dengan kenyataan yang terjadi dilapangan. Observasi ini akan dilakukan di Kantor Bawaslu dan lingkungan kehidupan sosial masyarakat di Kabupaten Mamuju
b. Metode Wawancara
Teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara Tanya- jawab secara langsung. Wawancara dilakukanuntuk memperoleh data yang berguna untuk kelengkapan data-data yang diperoleh sebelumnya.
Wawancara akan dilaksanakan oleh peneliti dengan ketua Bawaslu dan Masyarakat di Kabupaten Mamuju. Pihak informan tersebut telah dianggap mengerti mengenai permasalahan yang diteliti.
c. Metode Dokumentasi
Metode ini dilakukan dengan cara mendatangi Kantor Bawaslu provinsi di mamuju untuk memperoleh data tentang strategi Bawaslu dalam pengawasan politik uang pemilihan serentak 2019 di Kab.
Mamuju E. Informan Penelitian
Penentuan informan dalam peneliti ini dilakukan dengan tekhnik purposive samling, dimana penentuan atau pemilihan dilakukan dengan sengaja yang berdasarkan pada kriteria yang telah ditetapkan merujuk pada tujuan penelitian.
Berdasarkan kriteria dan ketentuan diatas maka peneliti menentukan informan penelitian sebagai berikut:
Tabel. 1.1 informan penelitian
No Nama Jabatan Inisial Jumlah
1 Rusdi, SE Ketua bawaslu dan kordiv.
Sumber daya manusia dan informasi
RS 1
2 Faisal Jamalan. SH. MM Kordiv. Hukum Penaganan Dan Pelanggaran
FJ 1
3 Sitti Mustika, SE Kordiv, Pengawasan, Humas Dan Hubal
MK 1
5 Fitriani Masyarakat FT 1
6 Safaria Masyarakat SF 1
7 Syamsir Masyarkat SY 1
Jumlah 7
Sumber: dikembangkan dalam sumber informan penelitian, 2019
F. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis kualitatif yaitu menguraikan serta menginterpretasikan data yang diperoleh dari lapangan dari observer lapangan dan dari para informan.
Ada tiga unsur utama dalam proses analisis data penelitian kualitatif, menurut (Miles dan Huberman dalam Sugiyono: 2013)
1. Reduksi kata (data reduction) adalah kata adalah proses analisis yang membaut sebuah tulisan menjadi lebih tegas dan lebih pendek dengan membuang hal-hal yang tidak dibutuhkan sehingga kesimpulan penelitian dapat diuraikan dengan mudah. Oleh karena itu laporan lapangan sebagai instrument singkat dan tersusun rapi harus lebih sistematis sehingga mudah dikendalikan. Data yang direduksi memberikan sebuah gambaran yang lebih jelas mengenai hasil dari sebuah pengamatan, dan juga memberikan kemudahan peneliti untuk mencari kembali data yang diperoleh apabila diperlukan.
2. Penyajian data (data display) adalah struktur informasi yang menekankan dibautnya suatu kesimpulan penelitian. Data disajikan dalam bentuk bagan, gambar dan tabel yang berguna untuk memudahkan penulis dalam menyusun kesimpulan penelitian. Pada dasarnya, data tersebut memang dirancang untuk memberikan gambaran informasi yang sistematis dan mudah untuk dipahami.
3. Kesimpulan (conclution drawing) adalah hasil akhir dari reduksi data serta penyajian data. Kesimpulan penelitian perlu diverivikasi agar
mantap dan sunguh benar-benar dapat untuk dipertanggung jawabkan dari kebenaranya
G. Keabsahan Data
Penelitian metodologi kualitatif dalam pengabsahan data mengunakan metode trigulasi, dimana metode ini adalah pengecekan akan kebenaran data dengan mengunakan teknik pengumpulan data lainya serta pengecekan pada waktu yang berbeda. Trigulasi terdiri dari tiga macam bagain yaitu antara lain:
1. Trigulasi sumber data Trigulasi sumber digunakan untuk menguji kredibilitas data dengan cara mengecek data yang diperoleh dari berbagai sumber.
2. Trigulasi metode Dilakukan untuk menguji sumber data, memiliki tujuan untuk mencari kesamaan data dengan metode yang berbeda.
3. Trigulasi waktu Trigulasi waktu berkenaan dengan waktu pengambilan data peneliti melakukan wawancara dengan informan dalam kondisi wakru yang berbeda untuk dalam menetukan kredibilitas data.
38
BAB 1V PEMBAHASAN A. Gambaran umum lokasi penelitian
1. Sejarah Singkat Kabupaten Mamuju
Kabupaten Mamuju merupakan kabupaten yang terletak ditengah- tengah Provinsi Sulawesi Barat serta daerah tersebut menjadi ibukota provinsi. Meskipun dikategorikan sebagai ibukota provinsi dan kabupaten tapi sampai saat ini, Mamuju bukanlah daerah yang memiliki otonom sendiri dengan sistem pemerintahan wali kota, serta memiliki dewan perwakilan kota sendiri tetapi masih menjadi bagian dari Kabupaten Mamuju.
Terlepas dari itu sebelum ditetapkannya Mamuju sebagai ibu kota pemerintahan Provinsi Sulawesi Barat pada tahun 2005, hendaknya perluh ditelisik sejarah Mamuju sebelumnya. Mamuju telah memiliki sejarah historis sendiri yang patut untuk diketahui oleh semua pihak kalangan masyarakat tentang hari penetapan Mamuju sebagai kabupaten di Sulawesi Selatan telah memakan waktu yang begitu panjang dan telah melibatkan beberpa tokoh didaerah tersebut. Tujuan dilakukannya adalah untuk mengkaji tentang hari yang lebih tepat lahirnya Kabupaten Mamuju. Hasil kajian tersebut telah menghasilkan beberapa versi tentang yang tepat lahirnya Kabupaten Mamuju sebagai kabupaten.
Dari permasalahan diatas diperlukanya titik temu argument tentang hari jadi mamuju yang tepat. Oleh sebab itu, selaku pemerintah daerah kabupaten kota berkerja sama dengan aliansi mahasiswa hipermaju dan
persukma untuk mengadakan seminar untuk menyatukan pendapat. Hasil rapat tersebut telah membuahkan hasil kesepakatan tentang hari jadi Mamuju, hasil kesepakatan dari seminar memiliki hasil yaitu hari jadi Mamuju ditetapkan pada tahun 1540. Hasil kesepakatan trersebut kemudian ditindak lanjuti oleh bupati dalam penyusunan rancangan peraturan daerah tentang hari jadi Mamuju.
Setelah terlaksananya pemilu pada tahun 1999 dewan perwakilan rakyat daerah Kabupaten Mamuju telah menerima raperda. Hasil raperda tersebut tentunya telah melalui jalan pajang dengan dikumpulkanya para budayawan, tokoh intelektual dan tokoh sejarah ini. Yang kemudian dihadirkan kedalam sidang paripurna pada tanggal 9 agustus 1999 dengan secara resmi raperda tentang hari Mamuju disahkan berubah menjadi peraturan daerah Kabupaten Mamuju. Raperda tersebut merupakan no. 19 Agustus 1999 yang kemudian dituangkan kedalam undang-undang pada tanggal 10 agustus 1999. Inti dari raperda tersebut telah menetapkan pada Tanggal 14 Juli 1450 Sebagai Hari Jadi Mamuju.
Oleh karena itu, hasil dari raperda akan menghasilkan makna yang lebih komprehensif serta menjadi simbol yang lebih bermoral tidak hanya sebagai formalitas belaka akan tetapi bisa memberi makna yang bersimbol tentang hakekat, harkat, citra baik dan serta mejadi jati diri yang kemudian selanjutnya dijadikan sebagai wahana motivasi untuk masyarakat dalam melestarikan nilai budaya dan sejarah Mamuju.
Terdapat sebuah uintaian kata nasehat yang memiliki nilai budaya dan tradisi yang tinggi dalam masyarakat Mamuju yang berbunyi “Todiari Teppo Dolu, Parallu Nikalai Sule Waktu Ia Te’e Laiyalai Mendiari Peppondoganna Katuoatta’illan Era Laittingayoaianna”. Kata ini yang mejadi cikal bakal berdirinya Mamuju serta menjadi sumber inspirasi yang diwariskan dalam memajukan daerah Mamuju yang tentunya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Ketika kita telisik kutipan yang di bahas di atas dengan sangat eksplisit mengambarkan pokok pemikiran sehubungan dengan penetapan waktu yang telah ditetapkan hari jadi Mamuju berserta dengan peristiwa sejarah Kerajaan Mamuju yang telah ditetapkan bahwasanya kerajaan Mamuju berasal dari tiga perpaduan kuri-kuri, managallang dan laggamoar.
2. Keadaan Geografis
Kabupaten Mamuju yang terletak pada garis lintang bujur selatan 10 39‟110-20 s5‟ 522” dan pada garis lintang bujur timur berada pada posisi 110 54‟ 47‟‟-130 5‟ 35‟‟. Ibukota Kabupaten Mamuju terletak di kecematan Mamuju denga diapit tiga kabupaten. Disebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Majene, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Mamasa, sebelah selatang berbatasan dengan Kabuapten Mamuju Tengah dan disebelah barat berbatasan dengan selat Makassar Sulawesi Selatan.
Kabupaten mamuju memilik luas wilayah 5.056,20 km2. Wilayah kabupaten mamuju 10 kecematan. Mayoritas kecematan dikabupaten mamuju memiliki bentuk topografi pengunungan dan lintasi oleh sungai
besar. Kecematan kalumpang adalah kecematan yang terletak dibelah timur kabupaten mamuju yang memiliki luas wilayah paling luas dengan luas wilayah mencapai 1.731,33 Km2 atau 35,30 persent dari total luas wilayh kabupaten mamuju. Sedangkan kecematan yang memiliki luas wilayah yang sempit adalah kecematan babalakang yang disebelah timur tenggara kabupaten mamuju dengan luas wilayah hanya mencapai 21,85 km2 atau 045 persen dari total luas wilayah Kabupaten Mamuju.
Mengenai intensitas curah hujan tercatat rata-rata kecepatan hujan pertahun mencapai 363,4 mm3 atau dikategorikan tinggi yang terjadi bulan November sampai april sedangkan curah hujan dengan intesitas rendah terjadi pada bulan agustus sampai September dengan rata-rata 81,3 mm3.
3. Visi-Misi Kabupaten Mamuju
Kabupaten Mamuju memilki lima visi-misi yang dituangkan kedalam pada peercepatan pembangunan daerah.
a. Membangun sumber daya manusia yang berdaya saing, berkualitas, berkepribadian baik dan berbudaya baik diwujudkan dengan beberapa program unggulan yaitu, pemberian berupa bantuan beasiswa untuk pelajar, perbaikan sarana dan prasarana penunjang pendidikan, kesehatan dan menciptakan sekolah berdaya saing (unggulan).
b. Mewujudkan pemerintahan yang bersih, modern dan terpercayah (trusted) dengan prioritas program zero korupsi serta zero penyalahgunaan kewenangan (abuse authority)
c. Menguatkan konektivitas antar wilayah yang berbasis keunggulan dengan program prioritas membangun sarana dan prasarana yang baik.
d. Meningkatkan pertumbuhan ekonomi kreatif yang berdaya saing tinggi dengan program prioritas adalah membanguan pusat pertumbuhan ekonomi dengan kawasan khusus.
e. Mengembangkan perbaikan di bindang lingkungan hidup untuk pembangunan berkelanjutan melalui penataan ruang terbuka hijau.
B. Gambaran umum Badang Pengawas Pemilu (Bawaslu) 1. Sejarah singkat Badang Pengawas Pemilu (Bawaslu)
Pada awalnya indonesia tidak memiliki lembaga yang khusus bertugas mengawasi proses tahapan penyelenggaraan pemilu. Pemilu yang pertama kali dilakukan di tahun 1955 belum dikenal lembaga pengawas pemilu.
Lembaga yang khusus melakukan Pengawasan Pemilu baru muncul di indonensia pada pemilu 1982, yang disebut panitia pengawas pelaksanaan pemilu (Panwaslak Pemilu). Selama pemilu era orde baru sejak tahun 1982 sampai pemilu 1997 Panwaslak selalu dibentuk untuk mengawal pemilu sekaligus menjadi legitimasi orde baru bahwa pemilu yang dilaksanakan merupakan Pemilu yang demokratis di bawah pengawasan Panwaslak.
Runtuhnya rezim orde baru tidak serta merta menunjukkan niat untuk membubarkan Panwaslak, namun Panwaslak bertransformasi menjadi Panwaslu pada tahun 1999. Dan kemudian, pada Pemilu 2004, 2009 dan 2014 berubah menjadi Bawaslu.
2. Bawaslu 2017
Perdebatan apakah Bawaslu harus diperkuat atau di bentuk sebagai lembaga adhoc yang terjadi pada saat menjelang pemilu 2009 kembali terulang pada saat menjelang pemilu 2014. Perdebatan tersebut tidak terlepas dari kinerja bawaslu yang tidak efektif pada pemilu 2009. Sehingga upaya penguatan yang dilakukan pada pemilu 2009, sekali lagi berujung pada kegagalan. Menjelang Pemilu 2014, DPR membahas RUU penyelenggara pemilu. Pada pembahasan tersebut lagi-lagi memunculkan dua kutub wacana perihal status Bawaslu. Perdebatan yang terjadi dalam pansus RUU penyelenggara pemilu mengerucut pada dua alternative yakni, Pertama:
kedudukan Bawaslu bukan subordinasi dari KPU, kedudukannya setara dengan KPU. Kedudukan Bawaslu harus bersifat “permanen”. Kedudukan bawaslu dianggap penting untuk diperkuat eksistensinya, karena dengan menguatnya Bawaslu maka akan tercipta pengawasan yang melekat pada penyelenggaraan pemilu.
Alternatif kedua: berpijak pada argumentasi bahwa kedudukan Bawaslu adalah bagian dari KPU dan struktur Bawaslu tidak bersifat
“permanen” melainkan “ad hoc”. Pendapat tersebut merujuk pada UUD 1945 yang memang mengatur KPU sebagai penyelenggara pemilu, sedangkan bawaslu adalah bagian yang integral dari penyelenggara pemilu, oleh sebab itu tidak mugkin bagi bawaslu setara atau bahkan melampaui kewenangan KPU yang pembentukannya telah diamanatkan oleh UUD 1945. Berikutnya pansus yang mendukung 43ublic43e43na ini, juga menganggap membuat Bawaslu menjadi lembaga permanen adalah yang tidak realistis karena
memiliki konsekuensi anggaran yang besar, di sisi lain kinerjanya terbukti tidak maksimal dari Pemilu ke Pemilu.
Setelah perdebatan yang panjang dalam pansus RUU penyelenggara pemilu, keputusan politik yang dihasilkan oleh pansus cukup mengejutkan.
Keputusan politik tersebut tidak saja telah berhasil mempertahankan bentuk bawaslu yang permanen, lebih dari itu pansus RUU penyelenggara pemlu semakin memperkuat kelembagaan Bawaslu. Upaya untuk memperkuat bawaslu masuk pada babak selanjutnya, yakni setelah berhasil mejadi lembaga yang bersifat permanen dan mandiri di tingkat nasional, pada pemilu 2014 Bawalu menjadi semakin kuat dengan diperkuatnya panwaslu provinsi dan Panwalu Kabupaten yang pada awalnya bersifat ad hoc menjadi permanen. Sehinga kedua Panwaslu tersebut berubah nama menjadi Bawaslu Provinsi dan Kabupaten.
Dinamika kelembagaan pembentukan pengawas pemilu tingkat Kabupaten/Kota telah menuai titik teran, dengan diterbitkanya undang- undang nomor 7 tahun 2017 tentang pemilihan umum, dalam penjabaranya telah mengutkan lembaga pengawasan pemilu dengan dibekali kewenangan untuk menangani kasus sengketa pemilu serta telah menguatkan pengawasan pemilu di tingkat kecematan bersifat ad hoc menjadi lembaga permanen untuk melakukan fungsi pengawasan dan penindakan pelanggaran pemilu.
3. Visi-misi Bawaslu a. Visi
Terwujudnya Bawaslu sebagai lembaga pengawal terpercaya dalam penyelenggaraan pemilu yang demokratis, bermartabat dan berkualitas.
b. Misi
1. Membangun aparatur dan kelembagaan pengawas pemilu yang kuat, mandiri dan solid.
2. Mengembangkan pola metode pengawasan yang efektif dan efisien.
3. Memperkuat sistem 45ublic45 nasional dalam satu manajemen pengawasan yang terstruktur, sistematis dan integratife berbasis teknologi.
4. Meningkatkan keterlibatan masyarakat dan peserta pemilu, serta meningkatkan sinergi kelembagaan dalam pengawasan pemilu partisipatif.
5. Meningkatkan kepercayaan 45ublic atas kualitas kinerja pengawasan berupa pencegahan dan penindakan, serta penyelesaian sengketa secara tepat, akurat dan transparan.
6. Membangun Bawaslu sebagai pusat pembelajaran pengawasan pemilu baik bagi pihak dari dalam negeri maupun dari luar negeri.
4. Tujuan Bawaslu
Berdasarkan visi-misi yang telah diuraikan diatas maka tujuan bawaslu yaitu:
a. Meningkatkan solidaritas kerja sama structural organisasi, kualitas sumber daya manusia yang baik. dan untuk meningkatkan budaya manajemen efektifitas dan kualitas kelembagaan pengawasan pemilu.
b. Meningkatkan dan mengembangkan terhadap kualitas dan efektivitas pada penyelenggaran pengawasan pemilu.
c. Mengefesiensi pencegahan untuk menguranggi terjadinya pelanggaran dalam proses penyelenggaraan pemilu.
d. Meningkatkan sistem 46ublic46 nasional dalam satu kinerja manajemen penyelenggaraan pengawasan yang sistematis, terstruktur, dan integrative yang berbasis teknologi.
e. Meningkatkan pemahaman masyarakat, peserta pemilu dan pengawas /penyelenggara pemilu tentang pelanggaran pemilu serta meningkatkan partisipasi masyarkat dalam pengawasan pemilu.
f. Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengawasan pemilu.
g. Meningkatkan koordinasi dengan pihak yang terkait dalam pengawasan pemilu.
h. Mengefektifkan pencegahan dan penindakan pelanggaran penyelenggaraan pemilu.
i. Melaksankan penyelesaian sengketa pemilu dengan prinsip jujur dan adil.
j. Meningkatkan kepercayaan peserta pemilu terhadap pengawasan pemilu oleh pengawas pemilu.
k. Meningkatkan kualitas penanganan pelanggaran pemilu dengan penuh prinsip professional.
l. Melakukan penyederhanaan terhadap prosedur penanganan pelanggaran pemilu.
m. Meningkatkan dan mengembangkan mutu data informasi pengawasan pemilu yang meliput: Pencegahan, penindakan dan penyelesaian sengketa pemilu.
n. Meningkatkan mutu pengetahuan serta keterampilan dalam pengawasan partisipatif oleh masyarakat.
5. Bawaslu kabupaten/kota bertugas
a. Melakukan pencegahan dan penindakan di wilayah kabupaten/kota terhadap:
1. Pelanggaran pemilu 2. Sengketa proses pemilu.
b. Mengawasi pelaksanaan tahapan penyelenggaraan pemilu di wilayah kabupaten kota, yang terdiri atas:
1. Pemuktahiran data pemilih, penetapan daftar pemilih sementara dan daftar pemilih tetap.
2. Pencalonan yang berkaitan dengan persyaratan dan tata cara pencalonan anggota DPRD kabupaten/kota.
3. Penetapan calon anggota DPRD kabupaten/kota.
4. Pelaksanaan kampanye dan dana kampanye.
5. Pengadaan logstik pemilu dan pendistribusiannya.
6. Pelaksanaan pemungutan dan perhitungan suara di wilayah kerjanya.
7. Pengawasan seluruh proses perhitungan suara di wilayah kerjanya.
8. Pergerakan surat suara, berita acara perhitungan suara, da sertifikasi hasil perhitungan suara dari tingkat TPS sampai ke PKK.
9. Proses rekapitulasi suara yang dilakukan oleh KPU kabupaten/kota dari seluruh kecematan.
10. Pelaksanaan perhitungan dan pemungutan suara ulang, pemilu lanjutan dan pemilu susulan.
11. Proses penetapan hasil pemilu anggota DPRD kabupaten/kota.
c. Mencegah terjadinya praktik politik uang di wilayah kabupaten/kota.
d. Mengawasi netralitas semua pihak yang dilarang ikut serta dalam kegiatan kampanye sebagaimana yang diatur dalam undang-undang.
e. Mengawasi pelaksanaan putusan/keputusan di wilayah kabupaten/kota, yang terdiri atas.
1. Putusan DKPP.
2. Putusan pengadilan mengenai pelanggaran dan sengketa pemilu.
3. Putusan/keputusan bawaslu, bawaslu provinsi dan bawaslu kabupaten/kota.
4. Keputusan KPU, KPU provinsi dan KPU Kabupaten/Kota.
5. Keputusan pejabat yang berwenang atas pelanggaran netralitas semua pihak yang dilarang ikut serta dalam kegiatan kampanye.
f. Mengelola, memilihara dan merawat arsip serta melaksanakan penyusutannya berdasarkan jadwal retensi arsip sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
g. Mengawasi pelaksanaan sosialisasi penyelenggaraan pemilu di wilayah kabupaten/kota.
h. Mengevaluasi pengawasan pemilu di wilayah kabupaten/kota.
i. Melaksanakan tugas lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan.
6. kewenangan Bawaslu Kabupaten/Kota
a. Menerima dan menindak lanjuti laporan yang berkaitan dengan dugaan pelanggaran terhadap pelaksanaan peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang pemilu.
b. Memeriksa dan mengkaji pelanggaran pemilu di wilayah kabupaten/kota serta merekomendasikan hasil pemeriksaan dan pengkajian kepada pihak-pihak yang diatur didalam undang-undang.
c. Menerima, memeriksa, memediasi atau mengadjudikasi, memutus penyelesaian sengketa proses pemilu di wilayah kabupaten/kota.
d. Merekomendasikan kepada pihak instansi yang bersangkutan mengenai hasil pengawasan di wilayah kabupaten/kota terhadap netralitas semua pihak yang dilarang ikut serta dalam kegiatan kampanye sebagimana diatur dalam undang-undang.
e. Mengambil alih sementara tugas, wewenang, dan kewajiban Panwaslu Kecematan setelah mendapatkan pertimbangan Bawaslu Provinsi apabila Panwaslu Kecematan berhalangan sementara akibat dikenai sanksi atau akibat lainya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan.
f. Meminta bahan keterangan yang dibutuhkan kepada pihak terkait dalam rangka pencegahan dan penindakan pelanggaran pemilu dan sengketa proses pemilu di wilayah kabupaten/kota.
g. Membentuk Panwaslu Kecematan dan mengangkat serta memberhentikan anggota Panwaslu Kecematan dengan memperhatikan masukan Bawaslu Provinsi.
h. Melaksanakan wewenang lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
7. Kewajiban Bawaslu Kabupaten/Kota
a. Bersikap adil dalam menjalankan tugas dan wewenangnya.
b. Melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan tugas pengawas pemilu pada tingkatan bawahnya.
c. Menyampaikan laporan hasil pengawasan kepada bawaslu provinsi sesuai dengan tahapan pemilu secara periodik berdasarkan kebutuhan.
d. Menyampaikan temuan dan laporan kepada bawaslu provinsi berkaitan dengan dugaan pelanggaran yang dilakukan oleh KPU kabupaten/Kota yang mengakibatkan terganggunya penyelenggaraan tahapan pemilu di kabupaten/kota.
e. Mengawasi pemuktahiran dan pemiliharaan data pemilih secara berkelanjutan yang dilakukan oleh KPU Kabupaten/Kota dengan memperhatikan data kependudukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
f. Mengembangkan pengawasan pemilu partisipatif.
g. Melaksanakan kewajiban lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.