• Tidak ada hasil yang ditemukan

Politik Uang

Dalam dokumen Bagan Kerangka Pikir (Halaman 35-44)

BAB II TINJAUN PUSTAKA

C. Politik Uang

1. Pengertian Politik Uang

Dalam kontestasi politik di indonesia dua hal yang tidak dipisahkan yaitu antara politik dan uang kedua hal tersebut sangat berperan penting dalam pencapaian kekuasaan dikursi legislatif dan eksekutif melalui

pemilihan umum. Dalam logika kajian ilmu ekonomi uang dimakanai sebagai suatu alat tukar menukar yang diperuntukan atas barang dan jasa dalam berbagai macam-macam perdagangan.

Makna dari uang merupakan sebagai suatu alat mengukur sumber daya kekayaan yang dimiliki seorang. (komaruddin dalam Lukmajati, 2016).

Maka dari itu, uang hanya dipahami sebagai bentuk sumber daya menempel pada diri individun. Uang tersebut nantinya akan digunakan dalam berbagai tujuan tertentu yang berhubungan transaksi jual beli.

Dalam pandangan politik, makna uang memiliki kesamaan dalam pandangan ekonomi bahwa uang merupakan suatu sumber daya yang menempel disetiap individu yang memilikinya dan memilki kekuatan untuk memberikan manfaat untuk mendapatkan kewenagan dan kekuasaan bagi setiap pemegannya. Sehingga kita dapat simpulkan bahwa perbedaan antara politik dan ekonomi (uang) hanya terletak pada pengunaanya. Dalam presfektif ekonomi, uang digunakan sebagai media barter barang dan jasa.

Sedangkan dalam presfektif politik, kegunaan uang adalah sebagai media untuk merebut, menjalangkan dan mempertahankan kekuasaan (lukmajati, 2016).

Dalam pandangan politik yang lebih spesifik sebagaimana yang dikemukakan oleh (Alexander dalam lukmajati, 2016) bahwa uang adalah salah satu alat dalam hal tukar-menukar barang dan jasa. Oleh karena itu, jika dipadukan antara politik dan uang menjadi politik uang (money politic).

Politik uang merupakan langkah yang ditempuh oleh peserta pemilu dengan

maksud dan bertujuan untuk bisa mempengaruhi pemilih dengan uang sebagai bentuk imbalangnya. Imbalan dalam terdapat dua bentuk yaitu barang dan jasa tertentu.

Sama halnya yang di kemukakan oleh (Johny Lomulus dalam Ananingsih, 2016) bahwa politik uang merupakan tindakan kebijaksanaan untuk memberikan sejumlah tunia uang kepada pemilih atau kepada pimpinan partai politik yang bertujuan untuk agar dimasukkannya sebagai daftar peserta pemilu secara defenitif serta masyarakat sebagai pemilih dapat memberikan hak suaranya kepada peserta pemilu bersangkutan yang memberikan berupa uang atau bantuan.

Begitupun yang dikemukakan oleh (Ismawan dalam Irwan, 2015) bahwa politik uang merupakan langkah yang singkat yang ditempuh oleh peserta pemilu untuk merubah pilihan pemilih dengan mengunakan imbalan berupa barang dan jasa. Ada yang mangartikan bahwa politik uang merupakan tindakan transaksi antara penjual dan pembeli untuk mencapai kekuasaan politk. Tindakan ini dapat terjadi dalam jangkauan yang luas.

Mulai dari pemilihan tingkat, daerah dan desa atau dari pusat sampai desa.

Banyaknya politisi atau calon kepala daerah yang menjadikan kaum papa sebagai target utama dalam operasi jual beli suara (vote buying) dengan menawarkan uang atau yang berbentuk hadiah sebagai alat tukar utama dalam pemilihan. hal Sudah menjadi rahasia umum bahwa banyaknya politisi yang melakukan kampanye hitam dalam pemilu yang bersifat memobilisasi melalui pendekatan transaksional. Faktor sosial ekonomi seperti tingkat pendidikan

dan pendapatan mempengaruhi maraknya praktik jual beli suara dalam pemilu. Selain itu, dalam dalam studi yang terkait dengan jual beli suara juga sangat erat kaitanya dengan sikap toleran rakyat terhapadap praktik politik uang (Muhtadi, 2013).

Dalam rangka memperoleh kekuasaan melalui pemilu, kampanye merupakan salah satu cara yang digunakan untuk mendulang suara masyarakat sebanyak-banyaknya. Akan tetapi banyak faktor yang mempengaruhi kampanye, seperti yang telah diungkapkan (Badoh dan Husodo, 2009) terdapat empat faktor yang mempengaruhi kampanye dalam pemilu, yakni kandidat, program kerja, isu kandidat, organisasi kampanye (mesin politik) dan sumber daya (uang). Namun demikian, aspek penentu berjalanya aktivitas politik. Tanpa uang aktivitas politik tidak akan berjalan dan tidak akan bekerja, dengan kata lain uang merupakan modal penggerak berjalanya aktivitas politik.

Uang merupakan modal dalam setiap masa kampanye pemilu dan menjadi pendanaan bagi para kandidat untuk belanja kampanye atau campaign finance. Dalam kampannye uang digunakan sebagai alat untuk mendulang suara rakyat yang sebanyak-banyaknya dalam pemilu/pilkada, (Lukmajati, 2016). Menurut (Ari Dwipayana, 2010) terdapat Sembilan jenis pengeluaran dalam kampanye untuk memenangkan proses electoral yang diantaranya:

a. Biaya tim sukses (tim kampanye) b. Biaya survey dan konsultan politik

c. Biaya pengadaan atribut kampanye

d. Biaya untuk menyelenggarakan kampanye terbuka-terbuka termaksuk memobilisasi massa

e. Biaya kampanye di media cetak dan elektronik

f. Biaya memberikan sumbangan ke kantong-kantong pemilih g. Biaya untuk memberi suara (vote buying)

h. Biaya untuk membayar saksi dalam proses pemugutan suara i. Biaya kampanye lain-lain.

Menurut (Gary Goodpaster dalam Anningsih: 2016) bahwa politik uang merupakan bagain dari tindakan korupsi yang terjadi dalam proses pemilihan umum. Pada dasarnya politik uang merupakan tindakan suap- menyuap yang diperbuat oleh peserta pemilu yang bertujuan untuk meraut keuntungan suara dalam pemilihan umum. Terdapat tiga faktor yang mempengaruhi hadirnya politik uang yaitu (Nugroho dan Rohmah, 2018).

a. Ekonomi masyarakat masih rendah

Keadaan sosial ekonomi masyarakat yang cendrung masih rendah dan belum dapat memenuhi kebutuhan sehari-harinya. mereka akan berkerja keras untuk memenuhinya demi kebahagaian hidup. Politik uang akan tumbuh subur jika penghasilan masyarakat notabenya masih dibawah rata-rata dari tingkat ukuran sejahtera yang dikeluarkan oleh badan statistic nasional atau dikategorikan miskin.

Tidak dapat dipungkiri bahwa uang akan datang sekan menjadi raja yang mengatur tingkat sosiologis dan psikologis masyarakat untuk

taat dan patuh pada puan yang memberi uang untuk kehidupan ekonomi mereka dalam beberapa periode perhari tanpa memikirkan akibat dari politik uang tersebut.

b. Rendahnya pengetahuan masyarakat tentang politik.

Pengetahuan merupakan hal yang krusial di sisi demokrasi dalam penerapan sistemnya. Pengetahuan yang baik akan memberikan petunjuk menuju pencapian kejayaan demokrasi. Pemilihan umum adalah salah satu sarana untuk mencapai demokrasi yang sebenarnya.

Tapi jika pengetahuan rendah dimiliki masih dimiliki masyarakat akan menjadi awal kabar buruk sebab politik uang akan tumbuh subur di pemilihan umum karena umunya masyarakat akan menganggap bahwa politik uang adalah hal yang wajar saja untuk dilakukan.

c. Kebudayaan primitive

Budaya indonesia yang notabenya masih beranggapan bahwa saling membantu dan memberi merupakan suatu perkara yang harus diterima dengan baik. uang dalam pandangan budaya merupakan sarana untuk saling membantu sama lain. Oleh karena itu, politik dijadikan sebagai alat pemulus oleh caleg untuk mendapatkan suara banyak di tempat pemungutan suara. Dalam pandangan budaya apabila seorang memberikan sesuatu sudah menjadi kewajiban seorang yang diberi untuk membalas jasa dari pemberi.

Money politic berkembang subur didukung oleh kecenderungan masayarakat yang permisif, yang mengangap bahwa money politic

merupakan biaya ganti rugi karena pada saat hari pemilihan, mereka tidak dapat pergi bekerja. Ataupun money politic dianggap sebuah kesempatan untuk mendapatkan rejeki, ini berasal dari pemikiran bahwa siapapun nanti yang terpilih tidak akan berpengaruh terhadap dirinya dan kelompoknya.

Jadi dapat disimpulkan bahwa politik uang merupakan poses pembelian suara politik yang dilakukan oleh pihak kepentingan tententu dalam mencapai tujuan kekuasaan politiknya, serta perilaku ini telah melawan atau bertentangan dengan peraturang perundang-undang yang berlaku.

2. Bentuk Praktik Politik Uang Dalam Pemilu

Menurut (Schffert dan Schelder dalam Lukmajati: 2016) bahwa politik uang sangat melibatkan dukungan dari pasar politik (electoral market) disertai dengan si pembeli suara (vote buyer) dengan memberikan uang ataupun barang dan jasa yang merupakan sebagai imblan tergantung apa yang telah diinginkan oleh penjual suara (vote seller), serta penjual suara telah menyerahkan suara politiknya sebagai balasan atas uang atau barang yang telah diterimanya.

Menurut (Wahyudi Kumorotomo dalam Irwan, 2017) Politik Uang merupakan sautu langkah strategis untuk berusaha mempengaruhi prilaku pilihan mansyarakt dengan mengunakan imbalang berupa barang dan jasa.

Pada dasarnya terjadinya transaksi antara masyarakat dan peserta pemilu bertujuan untuk agar peserta pemilu mendapatkan perolehan suara yang tinggi

sehingga dapat memenangkan kompetisi dalam pemilihan umum. Untuk itu dapat diberikan penalaran bahwa bentuk politik uang terdapat dua bagaian utama yaitu:

a. Berbentuk Uang

Uang merupakan kebutuhan utama yang dibutuhkan oleh masayarakat dalam melakukan transaksi berupa barang dan jasa, serta menjadi acaun bagi masyrakat dalam melalkukan menuver penukarang barang dan jasa. Uang menjadi alat yang urjen yang berguna bagi setiap invidual dalam mengangkat status sosialnya, sekaligus digunakan dalam mengadilikan wacana strategis yang menyangkut dengan kekuasaan dan kepentingan politik. Karena pada dasarnya, politik adalah sebuah seni, dimana seseorang dengan dapat mempengaruhi dan memaksakan kehendak individu ataupun kelompok berpaling pihak pemberi saran, termasuk uang (Nugraha dalam Irwan, 2015)

b. Berbentuk Fasilitas Umum

Gerakan pencitran dan mengambil daya Tarik masayarakat merupakan hal yang tidak membawa manfaat bagi masayarakat secara proporsional. Pada masa kampanye di mana lumbung suara harus dikumpulakan untuk dapat duduk di kursi parlement ataupun di pemerintahan daerah. Maka hal yang sudah tidak menjadi aneh ketika banyaknya para kandidat saling berlomba-lomba untuk menyumbang fasilitas umum yang berupa semen, pasir, besi, dan sebagainya yang menunjang pembangunan. Para kandidat telah berusaha memanfaatkan

kesempatan untuk dapat menyelesaikan pembanguan yang belum terselesaikan dari pemerintahan yang demisioner.

3. Strategi Politik Uang

Sterategi merupakan agenda yang disatukan, luas dan saling berintraksi yang telah menyambung keunggulan strategis dengan hambatan oleh lingkungan, yang disusun dengansebuah rancangan hanya untuk memastikan bahwa tujuan utama itu dapat, dicapai dengan pelaksanaan yang tetap oleh organisasi (Gluneck dan Jauch dalam Irawan, 2015)

a. Serangan Fajar

Serangan fajar merupakan sebutan yang digunakan dalam bungkusan politik uang dengan tujuan memberi suara rakyat yang dilakukan oleh satu ataupun beberapa orang dalam memenangkan pesta demokrasi untuk dapat duduk di kursi sebagai pimpinan politik. Serangan fajar umumnya hanya untuk ditujukan kepada kelompok masyarakat miskin atau menegah kebawah dan hal ini terjadi menjelang pelaksanaan pemilu umum/pemilukada. Bentuk politik uang yang telah dilakukan adalah dengan cara membagi-bagikan uang menjelang hari pemugutan suara akan dilaksanakan dengan harapan dan tujuan masyarakat dapat memilih candidat calon kepala daerah tertentu.

b. Mobilisasi Massa

Mobilisasi massa merupakan salah satu bentuk barter ekonomi yang relative sederhana. Peserta pemilu akan memberikan uang sebagai barang untuk ditukarkan dengan hak suara. Pembelian suara juga

dikategorikan memberikan sesuatu pemilik hak suara berupa barang dan jasa yang berujuan untuk peserta pemilu mendapatkan suara dukungan dari masyarakat. Transaksi jual beli suara sering terjadi antara peserta pemilu kepada pihak penyelenggara pemilu. Transaksi tersebut dimasudkan sebagai bentuk balas budi atau intensif, yang kemudian nantinya penyelenggara pemilu bisa memanipulasi hasil suara dari pemilihan umum.

Dalam dokumen Bagan Kerangka Pikir (Halaman 35-44)

Dokumen terkait