CONTROLLED COPY
LANGKAH 7: FORM REKOMENDASI DAN RENCANA TINDAKAN Faktor
kontributo r
Tindaka n
Tingkat rekomendas
i
Penanggun g jawab
wakt u
Sumber daya yang dibutuhka
n
Bukti penyelesaia
n
Para f
Manajemen Risiko
Manajemen risiko merupakan disiplin ilmu yang luas. Seluruh bidang pekerjaan pasti menerapkannya sebagai sesuatu yang sangat penting. Makin besar risiko suatu pekerjaan, maka makin besar perhatian pada aspek manajemen risiko ini. Rumah sakit sebagai sebuah institusi dimana aktifitasnya penuh dengan berbagai risiko keselamatan, sudah selayaknya menerapkan hal ini. Manajemen risiko dapat dapat memotong mata rantai terjadinya kerugian sehingga efek dominonya tidak akan terjadi. Pada dasarnya manajemen risiko bersifat pencegahan terhadap terjadinya kerugian maupun kecelakaan. Komponen program manajemen risiko terdiri dari : 1. Identifikasi risiko
2. Prioritas risiko 3. Pelaporan risiko 4. Manajemen risiko
5. Investigasi kejadian tidak diharapkan (KTD) 6. Manajemen klaim terkait
56 Pelaksanaan manajemen risiko haruslah menjadi bagian integral dari pelaksanaan sistem manajemen perusahaan/organisasi. Proses manajemen risiko ini merupakan salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk terciptanya perbaikan berkelanjutan (continuous improvement).
Manajemen risiko adalah metode yang tersusun secara logis dan sistematis dari suatu rangkaian kegiatan. Proses ini dapat diterapkan di semua tingkatan kegiatan, jabatan, proyek, produk ataupun asset. Manajemen risiko dapat memberikan manfaat optimal jika diterapkan sejak awal kegiatan. Walaupun demikian manajemen risiko seringkali dilakukan pada tahap pelaksanaan ataupu operasional berjalan.
Rumah sakit Awal Bros Pekanbaru adalah rumah sakit yang baru berdiri dan proses manajemen risiko belum terdokumentasi dengan baik. Dengan penerapan manajemen risiko di RS Awal Bros Pekanbaru diharapkan dapat mengurangi risiko yang kemungkinan dapat terjadi dikemudian hari yang akan berdampak pada keselamatan pasien dan kerugian lainnya.
Pelaksanaan sistem manajemen risiko meliputi:
1. Identifikasi risiko
Identifikasi risiko adalah proses mengidentifikasi apa yang biasa terjadi, mengapa dan bagaimana hal tersebut bisa terjadi. Hal pertama yang perlu dilakukan untuk mengelola risiko adalah mengidentifikasinya. Jika kita tidak dapat mengidentifikasi/ mengenal/
mengetahui, tentu saja kita tidak dapat berbuat apapun terhadapnya. Identifikasi risiko ini terbagi menjadi dua, yaitu identifikasi risiko proaktif dan identifikasi risiko reaktif.
Identifikasi risiko proaktif adalah kegiatan identifikasi yang dilakukan dengan cara proaktif mencari risiko yang berpotensi menghalangi rumah sakit mencapai tujuan.
Disebut mencari karena risikonya belum muncul dan bermanifestasi secara nyata.
Metode yang dapat dilakukan diantaranya: audit, inspeksi, brainstorming, pendapat ahli, belajar dari pengalaman rumah sakit lain, FMEA, analisis SWOT, survei, dan lain-lain.
Identifikasi risiko reaktif adalah kegiatan identifikasi yang dilakukan setelah risiko muncul dan bermanifestasi dalam bentuk insiden/gangguan. Metode yang dipakai biasanya adalah melalui pelaporan insiden.
Instrumen identifikasi:
- Laporan insiden - Complain dan litigasi - Risk profilling
- Survey
Hasil identifikasi risiko dimasukkan dalam risk register rumah sakit.
CONTROLLED COPY
57 2. Analisis dan prioritas risiko
Analisis risiko adalah proses untuk memahami sifat risiko dan menentukan peringkat risiko.
Setelah diidentifikasi, risiko dianalisis. Analisis risiko dilakukan dengan cara menilai seberapa sering peluang risiko itu muncul; serta berat riangannya dampak yang ditimbulkan. Analisis peluang dan dampak ini dilakukan dengan cara kuantitatif.
Caranya adalah dengan member skor satu sampai lima masing-masing pada peluang dan dampak. Makin besar angka, peluang makin sering atau dampak makin berat.
Setelah skor peluang dan dampak/konsekuensi kita dapatkan, kedua angka itu kemudian dikalikan. Tujuannya adalah untuk mendapatkan peringkat untuk mendapatkan prioritas penanganannya. Makin tinggi angkanya, makin tinggi peringkatnya dan prioritasnya.
Instrument yang diperlukan dalam analisis risiko:
1. Risk grading matrix 2. Root cause analysis (RCA)
3. Failure modes effect analysis (FMEA)
3. Evaluasi risiko
Evaluasi risiko adalah proses membandingkan antara hasil analisis risiko dengan criteria risiko untuk menentukan apakah risiko dan/atau besarnya dapat diterima atau ditoleransi. Dengan evaluasi risiko ini, setiap risiko dikelola oleh orang yang bertanggung jawab sesuai dengan peringkatnya. Dengan demikian, tidak ada risiko yang terlewati, dan terjadi pendelegasian tugas yang jelas sesuai dengan berat ringannya risiko.
4. Penanganan risiko
Penanganan risiko adalah proses untuk memodifikasi risiko. Bentuk penanganan risiko diantaranya:
- Menghindari risiko dengan memutuskan untuk tidak memulai atau melanjutkan aktivitas yang menimbulkan risiko;
- Mengambil atau meningkatkan risiko untuk mendapat peluang (lebih baik, lebih menguntungkan);
- Menghilangkan sumber risiko;
- Mengubah kemungkinan;
- Mengubah konsekuensi;
58 - Berbagi risiko dengan pihak lain (termasuk kontrak dan pembiayaan risiko);
- Mempertahankan risiko dengan informasi pilihan.
Kegiatan di atas dapat digambarkan dalam skema proses manajemen risiko.
Adapun cara untuk mendapatkan prioritas masalah, dapat dilihat di penentuan RCA sebelumnya. Seluruh risiko yang sudah teridentifikasi dimasukkan ke dalam risk register rumah sakit.
Analisis Modus Kegagalan/Failure Modes Effect Analysis (FMEA)
FMEA merupakan metode perbaikan kinerja dengan mengidentifikasi dan mencegah potensi kegagalan sebelum terjadi. Hal tersebut didesain untuk meningkatkan keselamatan pasien.
Proses ini merupakan proses proaktif dimana kesalahan dapat dicegah dan diprediksi, mengantisipasi kesalahan dan akan meminimalkan dampak buruk.
Langkah-langkah FMEA:
a. Tentukan topik proses FMEA b. Bentuk tim
c. Gambarkan alur proses d. Analisis hazard score
e. Tatalaksana dan pengukuran outcome f. Standarisasi/ redesign proses/ design control
g. Analisis dan melakukan uji coba pada proses yang baru h. Implementasi dan monitoring proses yang baru
59
Langkah 1 dan 2
- Pilih proses yang berisiko tinggi terhadap keselamatan pasien dan bentuk tim - Tim menyesuaikan proses yang dipilih
- Pilih proses yang akan dianalisis
- Tentukan salah satu proses/ sub proses bila prosesnya kompleks
Langkah 3A
Jelaskan tahapan-tahapan proses kegiatan sesuai kebijakan dan prosesur yang berlaku di rumah sakit. Tahapan proses isikan ke dalam kotak 1,2,3,4,5,6 dst.
Pada tahapan proses dijelaskan proses setiap kegiatan sesuai kebijakan dan prosedur yang berlaku dan jika proses terlalu kompleks, dapat memilih satu proses atau sub proses untuk ditindaklanjuti
Kemudian masing-masing proses uraikan subprosesnya pada tahapan sub proses pada baris a,b,c,d,e. dst.
Langkah 3B (gambarkan alur sub proses)
Jelaskan sub proses kegiatan yang dipilih untuk ditindaklanjuti, isikan pada kotak a,b,c,d,e.
masing-masing sub proses dicari modus kegagalannya, isikan pada baris 1,2,3,4,5.